herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Jika Ada Cinta Tak Perlu Bekerja

Image

Pilih sukses atau gagal. Sumber foto: http://ashleybolivar.com/1647/why-am-i-a-failure/


Saya pernah nonton film puluhan tahun lalu, lupa judulnya.  Dalam film itu ada seorang penjual dagangan eceran dan bilang, “Semua orang sukses dan kaya di dunia ini adalah penjual…

Kata-kata itu begitu melekat dalam benak saya.  Sebuah kalimat sederhana yang diucapkan oleh seorang tokoh yang mewakili masyarakat pinggiran namun begitu mengena.  Saya berpendapat, apa yang diucapkan itu ada benarnya.

Penjual dalam hal ini tentu saja bermakna luas. Bisa barang, jasa atau ketrampilan.  Mereka itu tidak bekerja pada orang lain dalam memperoleh penghasilan.  Mereka adalah pengusaha dan penjual.

Jika bekerja untuk orang lain, gaji yang akan diperoleh secara relatif pastinya dalam jumlah konstan.  Kalau beruntung bisa bekerja dengan gaji besar, hidup akan kecukupan bahkan bisa lebih dari cukup.  Tergantung pola hidup dan budaya menabungnya.  Seseorang yang bekerja untuk orang lain kekayaannya terbatas pada jumlah gajinya.  Tidak mungkin lebih dari itu, sekeras bagaimanapun ia bekerja dan menabung tetap ada keterbatasan. Kecuali sambil korupsi.

Lain halnya dengan seorang penjual, kekayaannya bisa tidak terbatas.  Semakin ia pintar dalam menjual semakin kaya. Contoh-contoh orang kaya karena pintar dalam berjualan itu bisa kita ambil dari orang-orang sekitar kita.  Banyak jumlah mereka sehingga sangat mudah untuk dicomot. Kalau kita lihat orang kaya, kita hampir secara pasti tahu bahwa orang itu pastilah kebanyakan seorang pengusaha, penjual sesuatu yang sukses.

Jika kita lihat orang kaya di dunia memang rata-rata adalah seorang yang piawai dalam hal jual menjual. Carlos Slim Helú, orang terkaya sedunia dari Mexico adalah seorang pengusaha telekomunikasi.  Bill Gate dari Amerika adalah seorang pengusaha software komputer yang memulai usaha dari gudang di rumahnya.  Amancio Ortega dari Spanyol adalah orang terkaya di Eropa yang punya 59% saham di Inditex pengecer baju terbesar di dunia dan pemilik konglomerasi Zara. Warren Buffett dari Amerika adalah pemilik minuman coca cola dan deretan bisnis lainnya.  Keempat orang terkaya di dunia itu semuanya pengusaha yang berjualan sesuatu. (Lihat 100 daftar orang terkaya di dunia menurut Bloomberg di:  http://topics.bloomberg.com/bloomberg-billionaires-index/)

Kalau ditanya, siapakah yang benar-benar pingin kaya raya? Pasti banyak dari kita pingin kaya.  Tapi kalau ditanya kembali, seberapa kaya?  Saya kira pasti akan banyak yang bilang, “Asal kebutuhan hidup kecukupan.” Kita mencoba bersikap realistis dengan keadaan.

Saya kira pendapat tentang kekayaan yang asal cukup itu ciri khas budaya kita, terutama budaya Jawa yang menyarankan pola-pola hidup sederhana dan selalu mencari jalan tengah.   Jangan terlalu kaya dan jangan terlalu miskin.  Cukup saja. Oleh karena itulah, cita-cita untuk jadi pengusaha tidak begitu diminati. Paling senang kalau bisa jadi pegawai, terutama pegawai negeri.  Jadi pegawai negeri itu semacam makan gathot, makanan dari ketela. Digigit-gigit alot.  Artinya gajinya relatif tidak banyak tapi rutin, aman dan dapat pensiun.

Namun bukan berarti bahwa kita tidak bisa memulai buka usaha setelah kita dewasa, bahkan setelah pensiun sekalipun.  Memulai usaha bisa dilakukan kapan saja.  Sambil berjalan, bisa belajar bagaimana agar punya mentalitas pengusaha yang tangguh.  Pengalaman bisa menempa kita untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Bersedia belajar dari kegagalan-kegagalan.

Cita-cita untuk menjadi pengusaha memang perlu dipupuk sejak usia dini. Karena untuk menjadi seorang pengusaha diperlukan mental tersendiri. Mental untuk mau bekerja keras, selalu melihat keadaan dan kesempatan, pinter mengkalkulasi untung rugi, tidak gampang menyerah dan tentu saja tidak malu untuk bekerja banting tulang dari bawah untuk berjualan.

Kadang terjadi kerancuan berpikir pada banyak orang.  Mereka berniat membuka usaha kalau sudah punya modal cukup. Atau ingin menjadi pengusaha modal besar sementara modal yang dipunyai cupet.  Dua kutub pemikiran dilematis yang menghambat seseorang untuk memulai usaha baru.  Orang enggan memulai bidang usaha dari kecil karena malu dan gengsi.  Maunya langsung jadi pengusaha yang bonafide.  Padahal kalau dipikir, sebuah bidang usaha akan punya kemungkinan sukses dan bisa memposisikan secara mantap di pangsa pasar jika bidang usaha itu dimulai dari kecil.  Menjadi besar dari keadaan di lapangan.  Jadi tidak karbitan.

Keperluan akan modal kadang orang cenderung mencari jalan pintas yakni dengan pinjam ke bank atau menawarkan partnership.  Dalam mencari modal kadang punya pikiran terbalik, “Beri saya modal, pasti bisnisnya akan sukses.  Saya punya segudang pengalaman.” Ini sebuah cara pikir yang salah.  Seharusnya memulai usaha bisnis dulu dan membuktikan bahwa usaha tersebut berjalan dengan baik. Baru kemudian diputuskan untuk mencari bantuan permodalan jika memang usahanya ada tanda-tanda berkembang.  Pihak bank tidak akan tertarik dengan teori, mereka lebih tertarik untuk menanam modalnya jika sudah ada bentuk konkrit usaha bisnis itu meski kecil.  Pihak bank akan menilai dengan lebih obyektif dan realistis jika usaha bisnis itu sudah ada dan sudah berjalan. Bahkan pihak bank bisa memberi masukan berharga dalam hal pengembangan usaha baru itu.

Membuka sebuah bidang usaha diperlukan persiapan matang. Bisa diumpamakan bagai menyambut kelahiran bayi.  Jadi harus direncanakan, merawatnya hingga besar dan mempersiapkan masa depannya.  Perlu komitmen yang berkesinambungan.  Jika tidak ada perencanaan dan komitmen, bisnis usaha biasanya hidup tidak lebih dari dua tahun.

Banyak buku-buku yang membahas bagaimana memulai sebuah bidang usaha baru di pasar.  Demikian banyaknya kadang malah bisa membingungkan.  Namun garis besarnya yang penting dan perlu dipersiapkan secara mental oleh seorang pengusaha diataranya adalah:

1. Siapkah kita menerima kegagalan
Banyak pengusaha bilang, kalau belum pernah gagal bukan pengusaha namanya. Bagi seorang pengusaha kegagalan adalah cara dalam mencari kesuksesan, cara dalam usaha mencari peluang pangsa pasar. Modal penunjang untuk keadaan darurat bila bisnis usaha itu gagal perlu dipikirkan. Sukses atau tidaknya bidang usaha ditentukan banyak faktor.  Namun yang jelas bahwa kesuksesan itu tidak bisa datang seketika. Perlu proses dan ketlatenan dalam merintisnya. Perlu ketenangan berpikir dan selalu mencoba bersikap realistis dengan keadaan pasar.

2. Komitmen
Memulai bidang usaha baru diperlukan komitmen sepenuhnya. Perlu investasi waktu, tenaga, pikiran untuk mengembangkan bidang usaha yang baru dirintis, saat berjalan dan saat berkembang. Jadi komitmen tidak akan pernah berhenti sebelum bisa menggaji orang lain yang punya kompetensi sebagaimana kita kehendaki. Kadang situasi pasar dan keadaan ekonomi makro bisa membuat bisnis usaha berjalan pelan untuk berkembang.  Hal ini bisa memicu stress dan kadang disusul oleh keputusan untuk menyerah dan meninggalkan komitmen pada usahanya. Bila itu dilakukan maka keadaan tidak akan makin baik tapi malah bisa tersungkur.

3. Kerja keras
Menjadi pengusaha tidak ada tanggalan merah atau cuti tahunan sebagaimana kerja di kantor atau punya bos lain.  Jika kita membuka bidang usaha baru, kita sendirilah yang menjadi bos. Keputusan tindakan tergantung dari kita sendiri.  Jika kita tidak bertindak secepatnya tanpa menggantungkan pada orang lain jangan harap bisnis bisa jalan.  Jika anda berhenti, uang pun akan berhenti berputar.

4. Pembeli adalah raja
Jenis karakter seorang pemimpin bisa direntangkan dalam dua kutub.  Satu kutub adalah seorang pemimpin yang tidak pandai pidato tapi pandai dalam managemen. Dan satu kutub lagi adalah pemimpin yang pinter pidato tapi amburadul skill managerialnya. Jika anda membuka bidang usaha, maka jenis kepemimpinan yang diperlukan adalah pinter pidato dan sekaligus pinter dalam bidang managemen. Yang saya maksud dengan pandai berpidato adalah kemampuan membina relasi baik dengan para pelanggan.  Uang tidak jatuh dari langit. Uang datang karena dibawa manusia.  Semakin pandai membina relasi maka kemungkinan uang yang akan datang makin besar. Networking amat perlu agar bisa membina relasi secara luas.

5.  Minat
Jika kamu mencintai apa yang kamu lakukan, kau tidak perlu lagi bekerja,” demikian kata pepatah. Membuka usaha baru alangkah baiknya jika kita mencintai dengan apa yang kita lakukan sepenuh hati. Melakukan apa yang kita cintai membuat kita selalu punya pikiran positif.  Pikiran positif ini amat mendorong kemampuan kita untuk meraih sukses.  Tidak gampang merasa lelah dan stress dengan masalah-masalah keseharian dalam mengelola bisnis usaha baru. Tidak gampang dilanda pemikiran tentang kegagalan.

Itulah kira-kira hal hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membuka bidang usaha baru.  Mungkin bisa ditambahkan bilamana perlu. Semakin banyak faktor yang ditinjau dan diperhitungkan maka makin siaplah kita menghadapi permasalahan di depan. Dan jangan lupa bahwa peranan bidang usaha menengah dan kecil amat penting bagi kehidupan ekonomi negara.  Bidang usaha menengah dan kecil tahan dengan guncangan permainan pasar saham internasional.  Merekalah penyelamat ekonomi negara saat mengalami krisis. Bahkan dalam keadaan perang pun, usaha menengah dan kecil ini tetap bernafas dan menggeliat.*** (HBS)


Leave a comment

Sidang Kasus Mengangkang

Pihak asuransi tidak bersedia mencairkan tunjangannya untuk menanggung sepenuhnya beaya rawat inap si Ponirah di rumah sakit, karena menganggap bahwa cara duduk menyamping itu secara logika tidak menjamin keselamatan pembonceng. Tidak ada di dunia ini seorang pembonceng sepeda motor duduknya menyamping.  Karena jelas akan gampang kehilangan keseimbangan bila ada gerakan mendadak si pengemudi sepeda motor.  Si Ponirin sebagai pengemudi sepeda motor termasuk pihak yang ikut bertanggung-jawab dengan terjadinya musibah itu karena membiarkan pembonceng duduk menyamping.  Wong duduk mekangkang tapi menghadap ke belakang saja gampang kehilangan keseimbangan kok malah duduk menyamping.  Jadi bea rawat inap harus ditanggung separo-separo.

Karena sama-sama ngotot dan nggak mau kalah, maka masalahnya dibawa ke pengadilan negeri.

“Saya nggak salah pak hakim.  Si Ponirin itu mau nyalip mobil saya, tapi kemudian ragu-ragu karena tiba-tiba ada mobil lain dari depan bersimpangan. Ponirin memepetkan sepeda motornya ke mobil saya untuk memberi ruang pada mobil dari depan. Karena pembonceng duduknya menyamping, dengkulnya menyentuh badan mobil saya.  Si Ponirin jadi hilang keseimbangan nyetirnya dan mbanting setir sepeda motornya ke kanan dengan mendadak.  Tapi justru tindakannya itu membuat pembonceng makin kehilangan keseimbangan.  Secara reflek pembonceng malah mengangkat kakinya untuk menahan keseimbangan badannya dan menendang badan mobil tanpa sengaja.  Akibatnya sepeda motor makin oleng terdorong ke kanan. Si pembonceng ngggeblak jatuh ke aspal. Untung mobil dari depan jalannya pelan sehingga sempat mengerem.  Ponirin cuma luka ringan. Tapi si pembonceng luka cukup parah karena tidak duduk mekangkang supaya tidak gampang kehilangan keseimbangan.” Begitu bela si Kasiyem pengemudi mobil Toyota Avanza itu.

“Lha duduk mekangkang dilarang oleh agama dan tradisi. Karena tidak pantas wanita membonceng duduk mekangkang, tapi harus menyamping sesuai peraturan. Saya sudah menurut aturan yang ditentukan kok disalahkan,” bantah si Ponirin tak mau kalah.

“Itu aturan yang tidak masuk logika.  Coba jika anda saya goyang ke kanan atau ke kiri, kalau anda duduk menyamping pasti akan lebih mudah terjatuh daripada duduk mekangkang,” kata Kasiyem dan disetujui oleh pihak asuransi.

Hakim pun memanggil saksi ahli dari kepolisian.

“Tidak masalah apakah pembonceng duduk mekangkang apa menyamping.  Yang penting si pengemudi punya SIM yang berlaku dan keduanya memakai helm. Kecelakaan itu karena faktor manusianya. Apakah ia taat pada aturan lalu lintas apa tidak,” kata saksi ahli dari polisi itu.

Karena tidak juga ditemukan kata sepakat terutama dalam masalah hukum lalu lintas yang berkaitan dengan agama, maka diusulkan oleh hakim negeri untuk membawa kasus ini ke pengadilan agama.

“Peraturan ini tidak boleh dilogikakan. Peraturan ini sesuai adat dan nilai agama yang ada.  Peraturan itu dibuat atas usulan dan persetujuan kaum ulama,” kata hakim di pengadilan agama.

Ponirin dan pihak asuransi tidak bisa menerima alasan hakim pengadilan agama itu yang sepihak dan seolah sekenanya itu.  Maka mereka memanggil saksi ahli dari organisasi ulama yang terkenal secara nasional.

“Sebenarnya duduk mekangkang atau menyamping itu tidak ada dalam aturan agama, tapi hanya masalah tradisi masyarakat setempat,” begitu kata ahli dari organisasi ulama itu.

“Baiklah kalau begitu kita menghadap ketua adat biar masalah ini segera bisa diputuskan,” kata Ponirin.  Kasiyem serta pihak asuransi sepakat. Menghadaplah mereka semua ke depan ketua adat setempat.

Ketua adat nampaknya susah ditemui.  Pada hari yang dijanjikan, beliau lagi ada di desa lain menghadiri sunatan.  Di hari lain, beliau lagi sibuk mengawinkan pasangan di desa tetangga sebelah.  Di hari lainnya lagi masih ada di hutan mendoakan saat panenan.

Salah satu jalan untuk menemui ketua adat adalah harus menyusul masuk hutan.  Tapi jalannya cuma jalan setapak yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Akhirnya mereka sepakat untuk menyusul ketua adat ke hutan naik sepeda motor.  Pihak asuransi memboncengkan Kasiyem.  Ponirin memboncengkan ketua RT setempat sebagai penunjuk jalan. Tapi begitu Kasiyem mau mbonceng, ia sempat berpikir sejenak. Apakah dia harus duduk mekangkang atau menyamping. Enaknya duduk mekangkang karena jalur yang akan dilalui cukup terjal dan berbatu. Kedua kakinya bisa berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.  Selain itu juga berfungsi semacam shock breaker untuk menahan goncangan dan hempasan tubuhnya.  Tapi kalau duduk mekangkang pasti nanti bakal kalah kasusnya di depan ketua adat. Karena jelas ketua adat bakal pro dengan yang duduk menyamping. Di lain pihak, kalau mau duduk menyamping, kok sepertinya melawan ucapannya sendiri, ibaratnya menelan air liur sendiri.

Sementara Kasiyem masih mikir untuk mengambil keputusan, si Ponirah di rumah sakit menahan ngilu di pantatnya.  Kecelakaan itu membuat pantatnya lebam dan memar karena telah mendarat dengan keras di permukaan aspal yang panas dan kasar.  Gedebum!!!  *** (HBS)


Leave a comment

Jatuh Cinta Itu Indah

Bicara soal cinta sepertinya tidak akan ada habisnya.  Ribuan musik dicipta, ribuan film dibuat, ribuan puisi dituangkan, ribuan novel ditulis tapi cerita tentang cinta tak akan pernah habis dan selalu menarik.  Bagaimana mungkin hanya dengan 26 abjad dan tak lebih dari 21 not tangga nada itu bisa melahirkan ribuan bahkan jutaan karya yang mengekspresikan tentang cinta?

Belum lagi bila karya orang per orang.  Bila seseorang jatuh cinta, tiba-tiba saja ia jadi penulis puisi, pengarang cerpen dan corat-coret menuangkan isi hati.  Kalau dikumpulkan, bisa diterbitkan jadi buku berjuta-juta jilid dan tak akan pernah berhenti kehabisan sumber bahan tulisan.

Semua orang pasti mengalami dan merasakan bagaimana jatuh cinta. Tidak ada yang bisa sembunyi atau lari dari cinta.  Cinta akan mengejar meski sampai ke liang semut sekalipun.

Cinta itu sepertinya sudah built in di dalam diri kita masing-masing. Orientasi seksual orang bisa beda, tapi dasar tentang cinta itu tetap sama.  Tanda-tanda psikologis dan fisik pada orang yang jatuh cinta akan sama.

Perasaan jatuh cinta itu begitu indah.  Kata psikologis, orang jatuh cinta itu gejalanya hampir sama dengan orang gila.  Keadaan kimiawi syaraf di otak orang yang lagi jatuh cinta hampir sama dengan orang yang punya penyakit mental. Dan orang yang jatuh cinta juga menunjukkan gejala-gejala yang bisa dikategorikan sebagai penyakit mental. Misalnya suka mengumpulkan benda-benda yang sebenarnya tidak ada artinya.  Tulisan kekasih di robekan kertas terasa begitu indah dan jadi wajib diabadikan. Tiba-tiba jadi OCD (obsessive-compulsive disorder) suka melihat kaca berkali-kali.  Senyum sendiri tanpa sebab.  Makan angin pun katanya sudah serasa kenyang. Kalau disuruh kerja, hasilnya amburadul.  Bertingkah laku aneh-aneh.  Disuruh nulis laporan kerja, di akhir laporan ada gambar kartun smiley face atau gambar hati tertusuk panah.

Cinta juga tidak pandang usia.  Seperti air hujan yang jatuh dari langit. Tua muda bisa kena percikannya.  Mengguyur tanpa pandang bulu.  Perkara cantik atau gantheng tergantung si empunya mata. Cinta tetap cinta.  Definisinya sama bagi setiap orang. Yakni rasa yang bikin dada terasa dag-dig-dug berbunga-bunga. Jantung yang berdegub-degub bila ketemu.  Kaki serasa tak menginjak tanah bila diajak ngomong.

Namun tidak semua cinta diakhiri dengan saling memiliki.  Tidak semua cinta saling berbalas.  Tidak semua cinta, pada akhirnya memberi kebahagiaan.  Cinta yang tak terbalas bisa amat menyakitkan.  Cinta yang tak tergapai bisa amat mengecewakan.  Cinta yang terkhianati bisa menusuk hati dan membuat orang pingin mati.  Tidak semua cinta murni sepenuh hati.

Cinta memang tidak bisa berdiri sendiri.  Harus ada eksistensi lain di luar diri kita sendiri yang melengkapi rasa cinta.  Itulah sebabnya jika seseorang jatuh cinta, orang itu akan rajin kontemplasi, melamun, membayangkan, merindukan adanya sosok eksistensi orang lain di luar dirinya.  Sosok eksistensi orang lain yang seolah membawa hati dan jiwanya. Hati dan jiwanya kini tinggal separo.  Yang separo dibawa kekasih hatinya. Karena alasan cinta, orang rela mengorbankan nyawanya yang katanya tinggal separo ini.

Ekspresi Cinta

Cinta tidak bisa berhenti di dalam angan. Cinta perlu diekspresikan.  Perlu dikomunikasikan. Cinta yang tidak diekspresikan sama saja perabotan cantik dibalik etalase. Kering dan tak bernyawa.  Indah tapi terasa steril.

Ekspresi cinta bisa saja berupa perhatian.  Atau kasih hadiah yang kadang tanpa mikir harganya.  Kalau perlu apa yang dimiliki boleh diminta semuanya.  Cara mengekspresikan cinta tergantung pada diri masing-masing orang dan budaya di mana orang itu hidup. Jaman nenek kita, tersenyum buat kekasih dari balik jendela pun sudah cukup. Bahkan mempertanyakan dosakah bila memimpikan sang kekasih?

Ekspresi cinta berkembang dari jaman ke jaman.  Masing-masing tempat berbeda kecepatan berkembangnya dalam hal ekspresi cinta. Boleh saja saling pegang tangan di suatu tempat, tapi mungkin terlarang di tempat lainnya.  Sentuhan adalah ekspresi kasih sayang yang amat kita kenal.  Sejak kecil kita dibelai dengan kasih oleh orangtua atau anggota keluarga lain sebagai ekspresi kasih sayang.  Tidak heran jika meski kita sudah berangkat dewasa, merasa senang jika mendapat sentuhan dari ekspresi rasa sayang. Apapun jamannya, cinta menuntut diekspresikan agar dua hati makin bertaut dan mengerti.

Dan ekspresi cinta yang paling dalam dan bersifat amat pribadi adalah lewat seks. Lewat seks cinta seolah menjadi menyatu.  Rasa cinta diekspresikan dengan total dan telanjang.  Dua orang manusia yang polos saling menyerahkan diri.  Seks sebagai ekspresi cinta paling dalam dan personal akan terasa begitu indah dan membahagiakan.  Memberi rasa utuh sebagai manusia.  Itulah indahnya cinta. Dua orang manusia bersedia saling menyatukan eksistensi diri. Sehidup semati.  Seia sekata. Melebur.  Menyatu.

Bagi orang-orang yang mengalami cinta dengan kejujuran dan totalitas jiwa akan tahu dan bisa memahami makna orang yang lagi jatuh cinta.  Ia punya referensi pengalaman tentang itu. Ia bisa menghargai dan mengerti apa artinya bagi seseorang jika sedang cinta dan bagaimana cinta itu butuh diekspresikan.

Namun ada juga orang yang gagal menikmati indahnya cinta. Mengenyamnya tanpa totalitas dan kejujuran.  Cinta berkembang karena berdasar pada status, rupa fisik, harta, kekayaan, popularitas, gengsi dan sebagainya.  Rasa cinta tidak bisa sepenuhnya berkembang dari semua itu selain jika cinta itu sendiri bersemi dari dalam hati. Cinta itu bekerja seolah bagai insting.  Cinta datang tidak bisa direncanakan.  Bagaimanapun seseorang punya rencana tentang masa depan cintanya, bagaimanapun kuatnya, bila cinta datang tidak akan bisa ditolaknya.  Logika seolah menolak untuk ngomong bila cinta telah bicara. Ia akan jadi gila jika memaksa logikanya untuk bekerja mengatasi kekuatan cinta.

Cinta juga tidak bisa datang berkali-kali.  Dalam seumur hidup mungkin bisa dihitung dengan hanya satu jari tangan.  Jika lebih dari itu, bukan cinta lagi namanya. Mungkin sekedar tertarik atau sekedar nafsu.  Apapun namanya, pasti bukan cinta.  Orang berusaha mencari cinta sering berakhir dengan kekecewaan.

Maka nikmatilah selagi jatuh cinta.  Dunia bagai milik kita berdua, ungkapan ini terasa tidak berlebihan. Beruntunglah orang yang bisa jatuh cinta.  Cinta itu anugerah. Bagi yang mengerti akan cinta, melihat orang saling mengekspresikan rasa cintanya terlihat begitu indah.

Melihat sepasang manusia bergandengan tangan dengan mesra pun cukup bisa membuat ikut hangat di hati oleh aliran cinta yang menggeliat.  Perkara apa yang ada di hati mereka, apakah cinta beneran atau cinta gadungan bukanlah masalah kita.   Biarkanlah hal itu kita serahkan pada individu masing-masing untuk mengurusnya. Merekalah yang paling tahu isi hatinya.  Kita tidak berhak menghakiminya.

Lain bagi orang yang tidak mau mengerti arti cinta, puritan, munafik atau sekedar iri hati. Orang berboncengan dengan mesra pun sudah dicap sebagai tidak bermoral, tidak berahlak. Apalagi sampai berdua-duaan memadu cinta, bakal digerebek oleh polisi moral.  Karena bagi mereka, menghargai dan menilai orang lain secara dewasa membuatnya merasa tidak punya arti dan kesepian? *** (HBS)


Leave a comment

Satu Hari dan Termahal

Image

Merayakan hari kebersamaan. Sumber foto: http://pixabay.com/id/tahun-2013-selamat-datang-salju-68146/

Betapa tidak, hampir seluruh manusia di bumi merayakan dan menyambutnya dengan gegap gempita dan kemerdekaan suka cita. Dan masing-masing negara dimana individu tinggal memanjakan mereka tanpa pikir panjang kecuali ingin membuat para anggota masyarakatnya bisa benar-benar merasa gembira.  Tidak ada hari lain sepanjang tahun yang membuat pemerintah begitu murah hati pada warganya.  Tidak ada hari lain sepanjang tahun, pemerintah hanya punya tujuan satu dalam membelanjakan uangnya, yakni membuat gembira warganya.  Itulah yang terjadi pada malam menyambut permulaan tahun baru, tanggal 1 Januari.

Hampir negara di seluruh dunia, membelanjakan dana yang berjumlah jutaan dolar hanya untuk menggembirakan warga negaranya sehari itu semeriah mungkin.  Tidak peduli apakah negara itu kaya atau miskin, banyak koruptor atau tidak, punya masalah ketimpangan sosial ekonomi atau tidak. Dan lain-lain masalah yang seolah pada hari itu dikesampingkan. Masyarakat tumpah ruah, tumplek bleg menghadiri pesta kembang api dan acara-acara lainnya yang diselenggarakan pemerintah.

Tentu saja, ada beberapa negara berpandangan bahwa perayaan tahun baru yang berlangsung cuma sehari dalam setahun  itu dinilai sebagai pestanya kaum hedonistik yang tidak punya toleransi sosial, materialistik, perayaan yang memuja setan dan sebagainya. Kemudian melarang warganya untuk ikut serta merayakan dan terlibat di dalamnya.  Lebih baik waktunya digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain untuk lebih memperkaya diri dan memperkuat keimanan. Uang yang dipakai pemerintah untuk pesta perayaan tahun baru itu sebaiknya digunakan untuk kepentingan yang bermanfaat bagi masyarakat, misalnya membangun rumah sakit, sekolah atau membantu kaum miskin.

Terlepas dari pro dan kontra tentang perayaan menyambut tanggal 1 Januari itu, toh tidak bisa pungkiri bahwa hari itu memang hari yang istimewa, khusus dan punya kesan tersendiri menurut diri kita masing-masing.  Kita merayakannya dengan cara diri kita masing-masing pula. Ada yang merayakannya seolah tidak ada hari lagi esok, ada yang khusuk merenung, ada yang mencoba evaluasi diri, ada yang merefleksi kehidupannya sepanjang tahun lalu, dan ada juga yang tidak berbuat apa-apa kecuali nonton TV di rumah bersama keluarga. Perayaan menyambut tahun baru memang diliput dan disiarkan secara luas oleh media massa dari berbagai penjuru dunia. Kalau kurang puas nonton dari TV, ada juga yang langsung pergi ke tempat di mana negara bersangkutan dan ikut merayakan tahun baru di tempat itu. Di Australia, perayaan menyambut tahun baru adalah perayaan paling meriah setara dengan perayaan Australia Day, dibanding dengan perayaan-perayaan lain yang jumlahnya ratusan di sepanjang tahun.

Setelah setahun bekerja keras mengisi hari-harinya, kita merasa berhak untuk melepas kepenatan hidup di hari terakhir tahun itu dan menyambut hari pertama tahun baru dengan semangat dan harapan segar bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya.  Kemudian selanjutnya kita mengisi hari-harinya kembali dengan kerja keras dan siap menghadapi permasalahan hidup yang bermacam-macam di tahun baru yang akan kita jalani. Begitulah proses berulang melingkar tak tak ada akhirnya sebelum kita berhenti hidup dan menghilang dari peredaran dunia.

Perayaan bersama secara global itu punya arti yang signifikan lain bila kita lihat dari sisi sosial.  Manusia sebagai mahluk sosial selalu mencari ketenangan hidup dalam keselarasan sosial.  Perayaan tahun baru itu mengingatkan kita kembali tentang pentingnya akan adanya kohesivitas sosial yang kita perlukan agar bisa hidup secara berdampingan mengatasi konflik dan mengentalkan konsensus bersama secara sosial. Kohesi sosial adalah proses yang berkelanjutan dan berkesinambungan yang harus kita usahakan bersama. Kita perlu menanamkan sikap saling menghormati dalam hal aspirasi, pandangan hidup dan persetujuan akan adanya nilai-nilai baik yang berlaku secara universal terlepas dari mana dan di mana kita berasal. Hal tersebut adalah beberapa faktor penting yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah kohesivitas sosial.

Itukah salah satu arti pentingnya peristiwa menyambut tahun baru yang dirayakan oleh hampir semua negara di dunia itu bagi kita? Yakni merayakan kerinduan kita akan bentuk kohesivitas sosial bersama agar bisa hidup secara harmonis bersama-sama secara berdampingan?  Mudah-mudahan saja begitu. Karena semua itu kita kembalikan pada diri kita masing-masing, tergantung bagaimana kita mencerap dan meresapinya.

Selamat tahun baru 2013.*** (HBS)