herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Hidup Itu Untuk Apa?

Manusia tidak artinya dibanding kebesaran alam semesta. Sumber foto: https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/1744_559673787391165_571671988_n.jpg

Pertanyaan tentang tujuan hidup barangkali dialami oleh semua manusia dari semua kebudayaan dan peradaban sepanjang jaman. Ada yang dijawab dengan sederhana dan ada juga yang menjawabnya lewat bangunan-bangunan berukuran dan berbentuk spektakuler.

Hidup memang sangat absurd. Betapa tidak. Kita lahir tanpa kehendak kita.  Sebab kenapa kita lahir juga berdasar seribu alasan. Kenapa kita yang lahir? Padahal jumlah spermanya jutaan.  Kenapa kok kita yang terpilih dan hidup?

Alam semesta demikian luas berukuran jutaan tahun cahaya. Ukuran kita tak lebih dari setitik. Debu saja lebih besar dari kita. Umur alam semesta juga sudah jutaan tahun.  Dibanding umur alam semesta, umur kita tak lebih hanya sekejab. Kita hanya hidup untuk menuju ketiadaan. Apa arti hidup yang hanya sepenggalan waktu itu?

Namun meski hidup hanya sejengkal waktu dibanding usia alam semesta, toh kita sering juga merasa capek. Merasa bosan. Waktu serasa jalan di tempat.  Peristiwa dari peristiwa berlalu tanpa makna. Dari itu ke itu juga.  Tidak ada yang istimewa. Hambar dan menyesakkan.

Absurditas kehidupan digambarkan bagai menunggu sesuatu yang tidak pasti. Menunggu keniscayaan.  Menunggu kematian? Absurditas hidup dengan baik digambarkan dalam drama Menunggu Godot oleh Samuel Beckett. “The essential doesn’t change,” katanya. Esensi dasar tentang hidup memang tidak pernah berubah. “Nothing happens. Nobody comes, nobody goes. It’s awful.”

Hidup tak lebih dari deretan-deretan usaha untuk menemukan suatu kesan untuk meyakinkan bahwa kita memang hidup dan ada.  Atau lebih singkat dikatakan oleh Rene Descartes, “Cogito ergo sum”, saya berpikir oleh karena itu saya ada (French: “Je pense donc je suis”; English: “I think, therefore I am”).

Hidup adalah pikiran kita sendiri. Jutaan manusia mengisi bumi dan dengan pikiran masing-masing mereka mencoba untuk memahami dan menjalani hidup. Mereka bersama-sama menikmati seolah hanya manusialah yang punya hak hidup.  Manusia punya arogansi tentang hidup di alam semesta yang luasnya tak terhingga ini.  Manusia mendewakan pikirannya sendiri hanya untuk meyakinkan bahwa hidup mereka paling berarti.

Di mata alam semesta, kumpulan manusia itu tak lebih dari gerombolan bakteri yang hidup dalam alam dimensi terendah.  Demikian kecil dan hidupnya hanya dalam penggalan detik.  Mereka berkumpul dan saling meyakinkan bahwa hidup mereka adalah istimewa. Hidup diberi aturan, norma, lembaga, negara, hukum, uang, materi, dogma dan ribuan aksioma untuk menekankan bahwa hidup itu ada artinya. Dan kita bermain di dalamnya dengan keasyikan masing-masing. Seolah semuanya demikian nyata dan hidup hanya punya arti jika menurut aturan-aturan bikinan manusia itu sendiri. Manusia menemukan arti hidup hanya dengan mencari aksioma-aksioma yang manusia bikin sendiri.

Manusia memaksakan aksioma kebenarannya pada manusia lain. Manusia saling mengedepankan kecongkakan pikiran dan keyakinannya pada manusia lain.  Seolah merekalah yang paling benar dan paling berhak untuk hidup di alam semesta.  Manusia lain yang tidak menuruti aksioma kebenaran kelompoknya adalah salah dan dianggap tidak tahu tentang arti hidup. Manusia rela membunuh sesama manusia lain karena aksioma-aksioma bikinan manusia sendiri. Manusia terkotak-kotak karena aksioma-aksioma relatif tentang hidup yang lahir karena kecongkakan daya pikirnya.

Arogansi manusia tentang hidup membuatnya takut untuk mati.  Kematian adalah sesuatu yang melawan arogansi pikiran manusia. Umur alam semesta yang sudah milyardan tahun tidak menempati relung pemikiran manusia yang rata-rata cuma berumur tak lebih dari 80 tahun.

Jutaan manusia lahir dan jutaan manusia mati. Silih berganti dalam sebuah ritme relatif konstan. Kita yang hidup terselip di ritme konstan itu tanpa merasa bahwa kita juga bakal tiada. Pertanyaan tentang ketiadaan adalah sebuah pertanyaan yang meniscayaan arti hidup itu sendiri.  Ketiadaan bagi manusia adalah hal yang menakutkan. Padahal ketiadaan telah berjalan jutaan tahun sejak kehidupan ada.  Kehidupan adalah kematian.  Untuk hidup berarti juga untuk mati.

Di mata alam semesta, manusia mati tak lebih dari sebuah bakteri yang mati. Tidak ada artinya dan tidak memberi arti apapun pada alam semesta yang sudah milyardan tahun menyaksikan ritme hidup dan mati.  Mahluk biologis hanyalah setitik debu diujung jarum. Alam semesta telah menyaksikan sebuah planet yang mati. Maka kehidupan dan kematian manusia adalah keniscayaan tanpa arti bagi alam semesta.

Dalam Perspektif Diri

Hidup akan berarti jika berarti bagi hidup orang lain.  Jika kita punya arti bagi orang lain seolah memperpanjang nilai hidup diri.  Punya arti bagi hidup orang lain seolah meninggalkan kesan tentang kehidupan diri. Manusia hidup karena adanya pikiran. Sesuatu yang ada dalam pikiran adalah hidup. Kita mati meninggalkan kesan dalam pikiran manusia lain. Kita hidup dalam pikiran mereka meski kita sudah mati. Fisik tiada tapi kesan tetap tertinggal.

Kita merasa hidup karena adanya hidup orang lain. Manusia lain yang ada dengan kedekatan pada kita bisa lebih memberikan makna tentang hidup kita sendiri. Kesan tentang hidup hanya akan tertanam pada manusia lain yang punya kedekatan dengan hidup kita. Hidup manusia lain yang tidak kita kenal tidak akan menanamkan kesan pada keterbatasan daya pikir manusia.

Berterimakasih pada manusia lain yang membuat jiwa kita berkembang dan memahami arti hidup. Foto: Dokumentasi pribadi.

Berterimakasih pada manusia lain yang membuat jiwa kita berkembang dan memahami arti hidup. Foto: Dokumentasi pribadi.

Manusia sukses dalam hidup adalah manusia yang berhasil memberi arti hidup pada banyak orang. Menghargai arti hidup orang lain.  Menghargai arti hidup orang lain sama berartinya dengan menghargai hidup diri sendiri. Menghargai hidup diri dan hidup orang lain sama artinya dengan menghargai hidup manusia di alam semesta yang cuma sebatas penggalan waktu itu.

Esensi hidup tidak akan berubah. Tinggal usaha kita bagaimana membuat esensi itu berarti bagi diri sendiri dan manusia lain.  Hanya dengan begitulah hidup akan punya arti.  Sebuah debu di ujung jarum akan berarti jika bisa saling menghargai debu-debu lain bahwa mereka ada.

Materi, norma, dogma, asesoris dan aksioma tentang hidup tidak ada artinya bagi manusia seukuran debu di alam semesta. Sebuah debu hanya akan berarti jika ada debu-debu lain yang saling menghargai masing-masing eksistensinya. Berterimakasihlah pada debu-debu lain yang membuat kita merasa punya eksistensi tentang hidup.  Tanpa itu kita hidup hanya menuju keniscayaan.*** (HBS)


2 Comments

Wisata Beli Buah Metik Sendiri di NSW, Australia

 Turisme PYO (Pick Your Own) atau Petik Buah Sendiri sepertinya lagi mode di Australia.  Beberapa turis bahkan datang berombongan dengan bus ke daerah-daerah perkebunan buah untuk membeli buah segar dipetik sendiri langsung dari pohon.

Tentu saja buah yang dipetik tergantung musimnya. Karena buah-buahan tidak diproduksi sepanjang musim.  Sebelum merencanakan wisata petik buah harus tahu tempat-tempat yang akan dikunjungi termasuk musim buah yang ada.

Pada saat liburan panjang hari libur umum atau hari weekend biasanya tempat-tempat wisata buah tersebut ramai dikunjungi orang dari berbagai tempat baik secara berombongan atau secara individu bersama keluarga.

Perjalan ke tempat perkebunan yang jauh dari hiruk pikuk kota mendatangkan kesan tersendiri. Tidak seperti di Indonesia, penduduk Australia dibanding dengan luas benuanya relatif amat jarang. Jadi tidak heran jika begitu keluar dari kota besar meski hanya beberapa puluh kilometer sudah jarang terdapat rumah hunian. Tanah terbentang luas dan jarang terlihat rumah.

Pada hari libur Paskah, liburan umum di Australia mulai dari Jumat, 29 Maret hingga Senin, 1 April 2013, orang Australia menyebutnya sebagai long weekend karena hari libur Sabtu dan Minggu ditambah Jumat dan Senin.  Jadi total bisa liburan selama 4 hari.  Liburan panjang tersebut sering tidak dilewatkan begitu saja oleh penduduk Australia.

Musim Buah di NSW

Tergantung dari musimnya tempat perkebunan buah berada di tempat berbeda-beda. Informasi tentang musim petik buah ini bisa didapat di internet atau menghubungi travel agent setempat. Termasuk juga tempat-tempat di mana bisa didapatkan akomodasi selama wisata ke kebun buah tersebut.  Karena letak perkebunan buah tersebut biasanya jauh dari pusat kota, banyak bangunan tua yang bersejarah.  Dari bangunan-bangunan lokal bisa ditarik gambaran selintas tentang sejarah Australia.  Tidak jarang bahkan penyedia akomodasi malah bangga dengan bangunan akonomodasinya yang mengandung nilai sejarah dan digunakan sebagai penarik wisata.

Memetik sendiri buah jeruh keprok (jeruk mandarin). Foto: Dokumentasi keluarga.

Memetik sendiri buah jeruh keprok (jeruk mandarin). Foto: Dokumentasi keluarga.

 Para penyedia akonomodasi tersebut menawarkan berbagai fasilitas.  Mulai sarapan pagi hingga wisata keliling ke tempat-tempat yang dinilai menarik secara budaya atau menyangkut sejarah tempo dulu penduduk Australia pada saat para tawanan dari Inggris mulai menetap di Australia. Misalnya penginapan 1836, the Settlers Arm Inn yang dibangun pada tahun 1836 pada masa Australia masih mengandalkan tenaga kerja dari bekas tawanan.  Atau bisa juga sekedar ingin jalan-jalan di alam bebas. Misalnya di Bilpin Resort yang punya tanah seluas 43 acres. Jarak yang cukup bisa bikin pegel kaki untuk dikelilingi.

Pada bulan Januari hingga Mei, pohon yang lagi berbuah adalah apel.  Salah satu tempat di negara bagian NSW dimana terdapat perkebunan apel adalah di daerah Bilpin yang berjarak sekitar 98 km dari Sydney.  Kalau naik mobil bisa ditempuh selama sekitar 1,5 jam. Tempat tersebut di antaranya adalah di Pine Crest Orchard yang selain menanam apel juga terdapat buah peaches, plums dan pears.  Tempat lainnya adalah di Shields Orchard yang menanam lebih dari 10 jenis buah apel. Atau di Bilpin Springs Orchard yang juga menanan berbagai jenis buah apel. Beberapa perkebunan apel ini bisa dilihat sepanjang jalan yang dilalui menuju arah ke Blue Mountain, salah satu tempat wisata populer yang bersalju di NSW.

Bilpin Resort yang luas tanahnya 43 acres atau 17.4 hectare = 174000 m2. Foto: Dokumentasi keluarga.

Bilpin Resort yang luas tanahnya 43 acres atau 17.4 hectare = 174000 m2. Foto: Dokumentasi keluarga.

Selama bulan Maret hingga April, beberapa tempat wisata buah ini bisa dipetik buah walnut dan chestnut. Tempatnya bisa Kookootonga Walnut and Chestnut Farm atau di Nutwood Farm, Mount Irvine NSW.

Bulan berikutnya adalah musim jeruk. Musim buah jeruk biasanya jatuh pada bulan Juni hingga Oktober.  Tempat-tempat wisata petik buah jeruk yang banyak dikunjungi biasanya di Fords Farm di daerah  Wisemans Ferry NSW. Watkins Orchard, Lower Hawkesbury NSW atau di Penrith Valley Orange Orchard untuk buah jeruk peras navel dan jeruk keprok mandarins, letaknya di Castlereagh NSW.

Hampir sepanjang tahun terdapat musim buah yang berbeda-beda.  Untuk musim panen buah blueberries, raspberries, loganberries, dan black blackcurrants biasanya terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun.  Tempat untuk metik sendiri buah tersebut biasanya terdapat di bagian NSW bagian selatan yang bercuaca agak dingin.

Harga Buah

Memetik sendiri buah dari pohonnya selain harganya lebih murah juga amat mengasyikkan.  Luas kebun buah tersebut bisa berhektar-hektar.  Diperlukan waktu cukup lama untuk memetik buah agar didapat buah yang benar-benar baik mutunya.  Memilih buah dari ribuan pohon tidaklah mudah.  Apalagi bagi orang yang suka sok pilih-pilih.

Karena alasan itulah beberapa penyedia kebuh buah menginformasikan pada pengunjungnya untuk datang satu setengah jam sebelum kebun tersebut ditutup. Boleh saja datang satu jam sebelum tutup, tapi jangan diharap bisa menikmati suasananya atau mendapat hasil buah yang dikehendaki bila dilakukan dengan tergesa-gesa. Misalnya ada ulat di dalamnya atau busuk sebagian dalamnya.  Karena panen buah memang semua tidak bisa dipakai.  Harus disortir dan diambil yang punya mutu bagus.

Jika cuacanya bagus, yield panen bisa bagus juga sehingga hanya sedikit yang harus dibuang. Jika cuacanya bagus yield panen bisa mencapai 70-80%.  Kalau cuacanya buruk bahkan bisa gagal panen karena banyak buah yang busuk atau terserang hama.

Di tempat masuk biasanya terdapat semacam gubuk tempat dimana buah akan ditimbang dan dibayar.  Di tempat tersebut juga bisa didapat buah yang telah dipetik dan siap dibawa.  Jadi tidak perlu repot-repot jalan untuk metik sendiri.  Gubug (shed) itu biasanya dijaga oleh pemiliknya.  Pemilik tidak tinggal di kebunnya.  Tapi ada juga pemilik yang tinggal di perkebunannya.

Beberapa kebun buah menarik tiket masuk.  Tiket masuk itu sebenarnya bukan harga percuma, karena dengan membayar tiket masuk pengunjung boleh makan sekenyang-kenyangnya buah yang dipetik di tempat itu.  Membayar tiket masuk ini mungkin untuk menutup kecurangan para pengunjung.  Karena mereka hanya membayar apa yang dipetik tapi tidak membayar apa sudah dicicipi yang jumlahnya bisa lebih dari sekilo.

Harga buah per kilogramnya tentu saja lebih murah dari harga yang ditawarkan di supermarket atau pasar umum. Misalnya satu ember buah jeruk seharga $10. Seember isinya sekitar 6kg. Jadi harga perkilonya sekitar $1,6. Sementara kalau beli di supermarket atau di pasar buah bisa $3 – $4 per kilogramnya.  Buah cherry jika mutunya bagus bisa seharga $9 per kilo. Jika metik sendiri harganya sekitar $7 perkilogramnya. Selisih harga yang lumayan. Namun suatu hal yang tidak dapat diukur dengan uang adalah pengalaman metik sendiri di kebun buah yang jumlahnya ribuan pohon.

Beberapa pengunjung terlihat kesetanan begitu melihat demikian banyaknya buah di pohon. Mereka tidak kuasa menahan dirinya untuk terus menerus memetik. Menurut cerita pemilik kebun cherry, ada pasangan dari Rusia yang memetik buah cherry hingga 100kg! Alasannya kenapa memetik begitu banyak adalah hendak dibagi-bagikan pada teman-temannya sesampainya di rumah nanti.

Memang godaan untuk memetik buah dari yang diperlukan amat kuat. Selama hidup di Australia tidak pernah membeli buah sebanyak sebagaimana dilakukan saat berada di kebun buah bisa berkilo-kilo. Sesampainya di rumah, buah itu harus dibagi-bagikan ke teman yang dikenal karena saking banyaknya kalau nggak ingin jadi busuk dan akhirnya hanya dibuang.

Sumur pompa kuno buatan London yang ada di halaman rumah petani. Foto: Dokumentasi keluarga.

Sumur pompa kuno buatan London yang ada di halaman rumah petani. Foto: Dokumentasi keluarga.

Asli buatan London. Foto: Dokumentasi keluarga.

Melongok sedikit sejarah peradaban Australia pada jaman tawanan dari Inggris memulai hidup baru di Australia. Peralatan yang digunakan masih sederhana dan serba manual. Sangat kontras dengan keadaan Australia saat ini. Salah satu pompa kuno asli buatan London. Foto: Dokumentasi keluarga.

Kepuasan membeli buah dan memetik sendiri dari kebun buah memang tidak terbandingkan. Belum lagi rasa buah yang dipetik langsung dari pohon tersebut terasa lain dari buah yang dibeli supermarket atau pasar buah.  Terasa jauh lebih segar.  Melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan pedesaan di Australia juga membawa petualangan intelektual tersendiri yang amat mengasyikkan.*** (HBS)


Leave a comment

ONLY HAPPEN IN INDONESIA

Reog

It’s not kind of head protection gear or helm  that the motorbike rider put on.  It’s a mask for traditional Indonesian dance called “Reog” (http://en.wikipedia.org/wiki/Reog).

The mask around 30 – 40 kg in weight. The boy could be around 40kg. The total weight will be around 70kg and supported only by the strength of his teeth! Don’t forget about the wind blow and air traction caused by moving forward with such wide surface.

Foto source: https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/601766_352612614846757_261327163_n.jpg


Leave a comment

Negara Pupuk Bawang?

Bukan generasi pupuk bawang. Senyum anak-anak Indonesia. (Sumber foto: https://herrybsancoko.files.wordpress.com/2013/03/4716_102042538048_688008048_1876782_6482508_n.jpg)
Bukan generasi pupuk bawang. Senyum anak-anak Indonesia. (Sumber foto: https://herrybsancoko.files.wordpress.com/2013/03/4716_102042538048_688008048_1876782_6482508_n.jpg)

Membaca berita yang terjadi di Indonesia akhir-akhir membuat saya geleng-geleng tak habis mengerti. Berita yang saya maksud adalah tentang kenaikan harga bawang, study banding tentang santet, isu kudeta, penyerbuan di penjara Cebongan, kalahnya PSSI lawan Arab dan yang terakhir adalah berita putusan hakim tentang Rasyid Rajasa.

Kenapa tak mengerti?

Pertama, memang nalar saya sudah macet untuk bisa memahami apa yang terjadi.  Apalagi mau kasih saran penyelesaiannya, banyak tidak mungkinnya. Nalar saya benar-benar sudah aus karena terlalu lama muter-muter berusaha untuk memahaminya.  Begitu banyak kejadian tapi tidak ada garis merah yang disetujui bersama penyelesaiannya. Selalu ribut di depan.  Tapi kemudian mengendap dan lalu hilang tanpa kesan. Tidak ada atau tidak berani tampil ke depan untuk menggiring masyarakat agar konsisten mencari penyelesaian masalah.

Kedua, sepertinya masyarakat Indonesia bisanya juga cuma geleng-geleng kepala. Sama seperti saya sendiri.  Lebihnya adalah, ada yang dengan serius mencoba memahami beritanya dan bahkan mencoba memberi jalan keluar penyelesaian.  Ada juga yang cuma mengumpat-umpat menyalahkan semuanya. Ada juga yang menyadari bahwa apapun yang dilakukan tidak akan merubah keadaaan. Seperti menggarami air laut. Lalu mereka menyerahkan pada yang kuasa.  Berdoa. Semoga yang salah dapat hukuman setimpal di akherat.

Ketiga, banyak adu silat lidah dan saling melempar tanggung-jawab.  Seolah memang bertujuan untuk mengambangkan permasalahan.  Mengangkatnya ke udara karena dengan begitu mereka yakin masalah itu akan cepat menguap. Membuat banyak orang jadi bingung sehingga mengaburkan masalah sebenarnya.  Kalau masalah sudah kabur, masyarakat akan capek sendiri untuk menaruh perhatian terlalu lama. Sebagaimana yang sudah-sudah, attention span masyarakat Indonesia itu pendek-pendek. Mengolor-olor waktu dalam banyak hal terutama waktu pencarian bukti.  Semakin bisa diolor semakin baik. Diolor sampai pada titik batas attention span masyarakat. Setelah itu pasti tidak ada yang usil lagi. Berarti selamat. Semua kembali normal.

Pupuk Bawang

Saya jadi teringat masa kecil saat bermain-main dengan teman sebaya di kampung halaman. Kadang ada teman yang tidak diikutkan dalam permainan karena tidak mengerti aturan main atau terlalu kecil. Kalau diikutkan juga, teman kecil itu hanya akan bikin permainan kurang mengasyikkan karena pasti banyak salah dan buang-buang waktu untuk membenarkan.

Tapi karena alasan “kasihan” teman junior tersebut akhirnya diperbolehkan ikut dalam permainan.  Syarat yang harus disetujui bersama adalah mensyahkan bersama bahwa pemain junior tersebut pemain pupuk bawang. Pemain pupuk bawang kadang diperlakukan seperti pemain beneran tapi secara sambil lalu.

Karena apapun yang dilakukan terhadap pemain pupuk bawang tidak akan memberi manfaat apa-apa pada kelompok pemain utama.  Manfaat hanya dirasakan oleh pemain pupuk bawang itu sendiri. Bahwa ia diperbolehkan ikut bermain.  Menikmati rasanya bagaimana ikut bermain. Meski ia tahu bahwa dirinya tidak menentukan nilai perolehan permainan.

Pemain pupuk bawang adalah pemain yang tidak diperhitungkan atau tidak termasuk dalam hitungan atau pemain asal ngikut (Definisi pupuk bawang: http://id.wiktionary.org/wiki/pupuk_bawang)

Gejala pemain pupuk bawang ini makin hari makin terasa suasananya di Indonesia. Sepertinya sudah melanda di hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat, bahkan kehidupan kenegaraan.

Lihat saja contoh di atas tentang lembaga negara yang seolah pupuk bawang. DPR study banding tentang santet. Presiden dengan isu kudeta. Bahwa apa yang mereka lakukan tidak memberi nilai kemajuan atau perbaikan apa-apa di Indonesia. Apa yang dilontarkan atau diperbuat adalah sekelas dengan pemain pupuk bawang.  Karena tidak memberi arti apa-apa.

Dan masyarakat membiarkan saja karena beranggapan mereka adalah pemain pupuk bawang? Atau masyarakat sendiri sebenarnya juga pemain pupuk bawang? Pemain sebenarnya tidak ada.  Semua pupuk bawang.  Atau boleh juga dibilang, permainan itu pada dasarnya tidak ada.  Yang ada cuma berpura-pura bahwa lagi ada permainan. Atau pemain utamanya adalah dunia internasional?

Itulah yang lebih celaka lagi jika negara kita di kancah dunia internasional juga dianggap pemain pupuk bawang.  Negara kita tidak pernah bertindak tegas dalam menyuarakan aspirasi masyarakat Indonesia.  Kasus TKI yang yang diterlantarkan atau dianiaya di Arab dan Malaysia, negara kita juga tidak bertindak tegas.  Berkali-kali Malaysia “menghina” bahkan menyeberangi perbatasan atau mencaplok pulau Indonesia, kita diam saja.  Penyerangan Malaysia atau operasi militer terhadap tetangga di perbatasan Borneo juga tak terdengar suara vokal Indonesia dalam masalah itu.

Saya yakin tidak semua orang dengan senang hati mau diperlakukan sebagai pemain pupuk bawang.  Dengan alasan bahwa mereka merasa cukup umur dan tahu aturan permainan. Tapi sayangnya mereka-mereka ini tidak punya nyali untuk menyuarakan dengan lantang atau melakukan terobosan-terobosan secara sistematis. Bahkan masing-masing malah curiga dan menganggap orang lainnya adalah pupuk bawang.  Terjadilah kemandegan, stagnan, kosong, amburadul, cuek bebek. Akhirnya mereka asyik dengan dirinya sendiri.

Masak sih orang se-Indonesia yang bukan pemain pupuk bawang itu cuma Jokowi dan Ahok? Saya yakin masih banyak pemain sungguhan yang tahu aturan permainan. Kalau saja mereka bisa saling kerjasama dan mau menganggap orang lain setara dan tidak pupuk bawang, pastilah terobosan-terobosan pengentasan masalah bisa dicari bersama.

Atau mungkin kita sudah terlanjur senang dengan status sebagai pemain pupuk bawang?  Tidak ada ikatan, bebas, tidak memberi arti dan tidak ingin punya arti, tapi ikut menikmati permainan? Asal bisa cuap-cuap, cari makan, bisa tidur nyenyak, keluarga tidak kelaparan, pupuk bawang atau tidak bukan suatu perkara besar. Emangnya gue pikirin? *** (HBS)


Leave a comment

Tak… Dung… Tak.. Dung… Sarimin Dadi Tentara

P1040435a

Pertunjukan Ledek Kethek di jalan. (Foto: Koleksi pribadi kiriman mas Pranawa Martosuwignjo)

Bagi masyarakat yang tinggal di Jawa, penjaja miniatur sirkus keliling ini pasti tidak asing lagi. Meski keberadaan mereka kembang kempis tapi sepertinya beberapa masih bisa bertahan hidup. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan di jaman yang media hiburan marak di mana-mana saat ini. Sanggupkah mereka bersaing?

“Sarimin nyolong tela”, “Sarimin nggolek kayu”, “Sarimin lunga neng pasar”, demikian sedikit gambaran perintah-perintah sederhana yang dilontarkan oleh pelatihnya pada artis kera dalam pertunjukan sirkus mini ala Jawa yang dikenal dengan berbagai nama: Ledek Kethek, Tandak Bedhes atau Kethek Ogleng, Ledek Munyuk, Topeng Monyet dan lain-lain.

Perintah “Sarimin nyolong tela”, artinya Sarimin (nama keranya) mencuri ketela.  Kera itu pun lalu menyahut mainan gerobak dan menariknya ke sana ke mari. Perintah-perintah yang akrab dengan hidup keseharian rakyat pedesaan.

Karena lehernya terikat tali atau rantai, kera jawa itu tidak bisa berjalan jauh. Hanya sekitar dua meter dari sutradaranya. Sementara anak-anak kecil mengelilingi panggung sirkus terbuka itu dalam jarak aman dari jangkauan kera.

P1040414a

Atraksi si kera dalam pertunjukan Ledek Kethek di jalan. (Foto: Koleksi pribadi kiriman mas Pranawa Martosuwignjo)

Jangan bandingkan sirkus rakyat ini dengan circus berkelas internasional semacam Cirque du Soleil (English: Circus of the Sun) yang berasal dari Kanada.  Sirkus Jawa ini meski juga berfungsi sebagai media hiburan bagi anak-anak kecil di pedesaan, perlengkapan yang dipakai ala kadarnya. Memang ada yang lebih kreatif dalam memberi kostum si kera.  Namun peragaan yang dilakukan tidaklah serumit dalam pertunjukan sirkus profesional.  Perintah-perintah dan atraksinya boleh dibilang tidak banyak variasinya.

Pertunjukan sirkus mini ini bisa dilakukan di sembarang tempat. Bisa di halaman rumah, di pinggir jalan bahkan di teras rumah. Tidak makan banyak tempat. Asesoris yang dipakai juga tidak banyak. Kereta dorong, payung, topeng, kursi, kadang  senjata laras panjang dari kayu (memainkan tentara)  dan lain-lain tergantung kreativitas penyedia jasa sirkus mini ini. Musik pengiring juga ala kadarnya. Kadang ketipung atau kendang kecil. Beberapa pengusaha sirkus mini ini kadang juga melengkapi dirinya dengan loud speaker dan musik pengiring dari kaset.

Binatang lain yang disertakan dalam sirkus mini ini juga tidak selalu ada. Biasanya hanya melibatkan seekor kera sebagai pemain tunggal. Namun ada juga yang membuat pertunjukan lebih menarik dengan mempekerjakan seekor anjing yang akan dinaiki si kera atau atraksi lain menurut perintah majikannya.

Untuk lebih seram lagi, kadang seekor ular phyton juga diikut-sertakan. Ular phyton tersebut besarnya bervariasi dan dimasukkan dalam kotak kayu yang dipikul bersama perlengkapan lainnya. Namun ular tersebut tidak diikutkan dalam atraksi bersama si kera.  Cukup dikalungkan di leher pemiliknya dan ditunjukkan pada penonton.  Kadang beberapa anak kecil diperbolehkan memegangnya, meski banyak yang ketakutan berlari menjauh. Meski tanpa atraksi, ular ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak kecil. Jeritan ketakutan mereka menambah suasana makin meriah.

Pertunjukan yang disukai oleh anak-anak. (Foto: Koleksi pribadi kiriman mas Pranawa Martosuwignjo)

Pertunjukan yang disukai oleh anak-anak. (Foto: Koleksi pribadi kiriman mas Pranawa Martosuwignjo)

Tidak diketahui dengan pasti asal usul atau mulai adanya pertunjukan sirkus keliling rakyat ini di Indonesia. Foto yang ada tentang pertunjukan ini diambil pada tahun 1947.  Foto yang menggambarkan pertunjukan ledhek kethek yang disaksikan oleh anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia diabadikan oleh fotografer Belanda bernama Charles Breijer, seorang fotografer Belanda yang tergabung dalam organisasi fotografer Belanda bernama “de Ondergedoken Camera”.

Pertunjukan ledhek kethek yang disaksikan oleh anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia pada tahun 1947. (Sumber foto: http://resources21.kb.nl/gvn/NFA02/NFA02_chb-5164-6_U.JPG)

Pertunjukan ledhek kethek yang disaksikan oleh anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia pada tahun 1947. (Sumber foto: http://resources21.kb.nl/gvn/NFA02/NFA02_chb-5164-6_U.JPG)

Menurut Matthew Isaac Cohen, “Multiculturalism and Performance in Colonial Cirebon” pertunjukan sirkus mini ini telah populer di kalangan rakyat pedesaan sejak awal tahun 1890an.

Tidak penulis ketahui apakah sirkus mini ini ada hubungannya situs makam keramat Ledek Kethek di Sinoman, Salatiga, Jawa Tengah.  Tempat di mana orang mencari wangsit atau mencari kode nomer togel yang tepat.  Makam tersebut adalah tempat disemayamkannya Nyai Ledek atau nama aslinya Nyai Anom yang dipercaya punya kekuatan mistis dalam budaya Jawa.

Pertunjukan sirkus mini ini masih bisa ditemui di berbagai tempat.  Memang sudah mulai jarang dan susah untuk mencarinya.  Namun pada hari-hari besar, terutama menjelang hari raya, banyak penyedia jasa sirkus mini tiba-tiba muncul. Tarif yang dipatok relatif tidak mahal. Tahun kemarin ongkosnya sekitar Rp10 ribu. Itupun hasil dari tawar menawar.  Biasanya penyedia jasa ini tidak banyak menawar.  Mereka senang diberi kesempatan untuk memainkan trik-trik mereka dan mendapat penghasilan ala kadarnya.

Karena pertunjukan lebih banyak disukai oleh anak kecil, jangan beranggapan bahwa penyedia jasa sirkus ini punya mental ramah terhadap anak-anak kecil.  Meski rata-rata terlihat senang menghibur anak-anak, namun ada juga yang bersifat kethus pada anak-anak.  Bahkan melarang penonton untuk memotret pertunjukannya. Entah apa alasanya. Yang jelas, mereka masih perlu ditraining dalam bidang customer service dan pengetahuan tentang psikologi anak. Tapi resikonya, beaya untuk pertunjukan bisa mahal. Karena mungkin si penyedia jasa perlu pakai dasi segala.

Pertunjukan tradisi kerakyatan memang berangkat dari kesederhanaan. Masih beruntunglah kita bila berkesempatan menikmati kehadiran mereka di jaman digital ini.  Hanya dengan uang beberapa lembar ribuan telah membantu kehidupan penyedia jasa miniatur sirkus ini. *** (HBS)

Untuk melihat pertunjukan Ledek Kethek bisa dilihat di Youtube: