herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Jokowi Menolak Mikir Suara Rakyat

13697832991660962999

Bekas tukang mebel memang nampak pantas berbaur dengan masyarakat. Sumber foto: http://assets.kompas.com/data/photo/2013/05/28/0914553-jokowi-bagikan-kjs-620X310.JPG

Survei CSIS menyebutkan bahwa elektabilitas Jokowi mengungguli tokoh lain yang sudah mendeklarasikan diri sebagai capres maupun disebut-sebut akan maju di pilpres. Dari survei itu, elektabilitas Jokowi tercatat sebesar 35,1 persen, Prabowo Subianto sebesar 16,3 persen, Aburizal Bakrie alias Ical 7,4 persen, Megawati Soekarnoputri 5,9 persen, Jusuf Kalla 4,8 persen, Hatta Rajasa 2,7 persen, dan Ani Yudhoyono 0,9 persen. (http://nasional.kompas.com/read/2013/05/26/18345950/CSIS.Mayoritas.Publik.Tak.Masalah.jika.Jokowi.Nyapres.)

Jokowi terbukti angkuh kalau tidak mencalonkan dirinya sebagai presiden. Jokowi tidak mendengarkan suara rakyat yang secara statistik banyak mengharapkan agar dia jadi presiden.  Jokowi selalu menolak setiap saat ditanya wartawan tentang keinginan rakyat tersebut. Sungguh suatu tindakan yang mencerminkan keangkuhan diri.

Malah dengan tegas, Jokowi bilang ia tidak mikir untuk jadi presiden.

“Ndak lah. Sampai detik ini, enggak mikir ke sana, enggak mikir, enggak mikir, enggak mikir, enggak mikir, enggak mikir, enggak mikir. Boleh dong saya enggak mikir,” kata Jokowi ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan dirinya untuk jadi presiden. (http://nasional.kompas.com/read/2013/05/27/13513540/Jokowi.Enggak.Mikir.Enggak.Mikir.Boleh.Dong.Saya.Enggak.Mikir?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Geliat Politik Jelang 2014)

Sebuah pernyataan yang mengabaikan suara rakyat bahkan terkesan menyepelekan. Jokowi  telah merasa berada di atas angin karena merasa dirinya telah populer dan dicintai rakyat banyak.  Barangkali kali karena alasan itulah Jokowi, merasa yakin bahwa dia bisa jadi presiden kapan pun dia mau. Sebuah rasa optimisme yang merendahkan peranan rakyat.

Beda dengan Ahok yang secara terus terang mengatakan bahwa dirinya ingin jadi presiden. Tapi sayangnya nama Ahok tidak diikutkan dalam survei yang dilakukan oleh CSIS.  Ahok yang ceplas-ceplos itu malah bicara jujur, apa adanya.

“Aku mau jadi presiden, bukan gubernur. Kamu tulis tuh, aku mau jadi presiden, bukan gubernur. Kamu tulis itu ya,” seloroh pria yang akrab disapa Ahok itu sambil tertawa.(http://nasional.kompas.com/read/2013/05/23/09534240/Basuki.Kamu.Tulis.Aku.Mau.Jadi.Presiden.Bukan.Gubernur)

Keterus-terangan Ahok patut dihargai.  Dan dia pantas untuk jadi presiden.  Karakter dan kapasitasnya Ahok sebagai pasangan Jokowi tidak diragukan.  Semangat kerja dan keterpihakannya pada rakyat kecil tidak kalah dengan Jokowi.  Ahok juga membudayakan komunikasi langsung, tidak basa-basi, to the point, dan mengundang diskusi logis. Budaya komunikasi institusi modern yang lugas tanpa ewuh pakewuh dan menfungsikan dengan baik customer service.

Alasan yang Dicari-cari

Jokowi selalu beralasan, dia menolak jadi presiden karena ingin membenahi DKI Jakarta. Sebuah alasan yang mengada-ada. Apakah jika jadi presiden, Jokowi aka cuek bebek tentang DKI Jakarta, halamannya sendiri? Cara pikir yang terkotak-kotak dan partial sekali. Jelas hal begini bukan model cara mikir Jokowi.

Menurut Ketua Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS Philips J Vermontes, jajak pendapat itu menanyakan apakah responden setuju atau tidak jika Jokowi maju sebagai capres meski masih menjabat Gubernur Jakarta. “Hasilnya, 53,9 persen responden setuju dan 27 persen tidak setuju,” kata dia saat jumpa pers di Jakarta, Minggu (26/5/2013). (http://nasional.kompas.com/read/2013/05/26/18345950/CSIS.Mayoritas.Publik.Tak.Masalah.jika.Jokowi.Nyapres.)

Keinginan rakyat sangat jelas dalam survei tersebut, bahwa mereka menginginkan Jokowi untuk jadi presiden dan meninggalkan posisinya sebagai Gubernur DKI. Terlihat sekali dalam survei tersebut kearifan rakyat.  Mereka tidak berpikir sempit tentang dirinya sendiri dan daerahnya.  Mereka berpikir demi kepentingan seluruh rakyat, tentang Indonesia.  Mereka tidak berpikir tentang daerahnya sendiri atau ingin menikmati hasil kepemimpinan Jokowi bagi diri sendiri dan golongannya. Rakyat yang sederhana tersebut ternyata masih menghargai nilai-nilai berbagi dan kebersamaan.  Mereka masih memikirkan tentang persatuan dan kesejahteraan bagi seluruh  rakyat Indonesia.  Mereka tidak ingin sejahtera sendirian sementara daerah lainnya menderita.

Jika Jokowi jadi presiden justru ia malah bisa membenahi DKI Jakarta jauh lebih baik. Tidak saja DKI Jakarta, bahkan Surakarta dan juga kota-kota lain. Jika alasan Jokowi hanya ingin membenahi DKI Jakarta dan menolak keinginan rakyat, maka Jokowi bukanlah seorang pemimpin yang punya wawasan lebar. Tidak punya visi ke depan. Jokowi bukan pemimpin visionaris. Jangan-jangan jika jadi presiden, Jokowi akan menolak untuk mengurusi TKI di luar negeri dengan alasan ingin membenahi keadaan dalam negeri dulu?

Ternyata Rhoma Irama lebih peka dalam mendengarkan suara rakyat. Meski ia merasa bukan seorang superman, jika rakyat menghendaki dia jadi presiden ia siap dan semangat menunaikan amah rakyat tersebut. Kita butuh pemimpin yang mau dan bersedia mendengarkan suara rakyat semacam Rhoma Irama. Jokowi ternyata sama sekali jauh beda dengan Rhoma Irama. Jokowi bagai seorang pengendara sepeda motor bebek tapi pakai helm balap formula one. Telinganya tersumbat rapat. Helmnya terlalu kedap terhadap desingan suara rakyat sekecil apapun.

Masalah Rasa

Apakah penolakan Jokowi jadi presiden itu sebenarnya hanya karena masalah sebuah rasa yang akrab dengan kebudayaan Jawa yang disebut rasa “sungkan” atau rasa tidak kepenak sama tokoh-tokoh di atasnya.

Karena rasa sungkan itukah Jokowi menolak secara harus permintaan rakyat untuk menjadi presiden? Seperti seorang tamu Jawa yang ditawari hidangan minuman atau minuman selalu menolak dengan halus, “Sampun. Mboten usah repot-repot. Wong nembe mawon kolo wau sarapan…” (Sudah. Jangan repot-repot. Tadi barusan saja sarapan kok). Dan biasanya si tuan rumah tahu basa-basi itu. Hidangan tetap disiapkan. Toh, akhirnya diminum atau dimakan juga oleh si tamu.

Sikap Jokowi yang sok merasa sungkan itu terjadi saat ia menghadapi Gubernur Jateng, Bibit Waluyo. Jokowi menyalami Bibit dan memperlakukan Bibit sebagai seorang senior yang pantas dihormati. Jokowi merasa sungkan karena dia telah menjadi Gubernur DKI Jakarta, sebuah posisi secara strategis berada di atas seniornya itu. Saat ini Jokowi juga merasa sungkan terhadap Megawati dan SBY.

Jadi Jokowi bukannya menolak, tapi tidak mau mendahului para seniornya. Jika Jokowi bilang bahwa dirinya tidak mau memikirkan posisi presiden bukan berarti ia tidak bersedia untuk dicalonkan. Ia menghindari polemik dan kebingungannya sendiri. Rasa bingung adalah sebuah rasa yang paling tidak enak bagi Jokowi sebagai manusia Jawa.

Peluang Jokowi untuk jadi presiden amat besar. Hal ini bukan tidak disadari oleh Jokowi atau tokoh-tokoh partainya.

Sekali lagi menurut hasil survei, dukungan Jokowi tidak saja dari partainya sendiri tapi juga dari partai lain.

Jokowi yang selama ini didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan juga mendapat dukungan dari responden yang memilih partai selain PDI Perjuangan. Contohnya, 25 persen kader atau simpatisan Golkar mengaku akan memilih Jokowi. Adapun pendukung dari Partai Demokrat sebesar 32,5 persen, Gerindra 12,6 persen, Hanura 34,3 persen, PAN 27,3 persen. Bahkan, sebesar 60,5 persen kader/simpatisan PKS akan memilih Jokowi.  (http://nasional.kompas.com/read/2013/05/26/18345950/CSIS.Mayoritas.Publik.Tak.Masalah.jika.Jokowi.Nyapres.)

Para pengurus PDI Perjuangan melihat fenomena dukungan terhadap Jokowi tersebut menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada Megawati terkait penetapan capres dan cawapres. Megawati akan memutuskan di waktu yang tepat, demikian menurut berita di media massa.

Jika Megawati masih menghargai bapaknya yang merakyat, pasti ia akan mencalonkan Jokowi sebagai presiden sebagaimana dikehendaki oleh rakyat banyak. Dengan menunjuk Jokowi, pamor Megawati secara simbolik akan terangkat di atas Jokowi, meskipun Jokowi telah menjadi presiden.  Megawati bagai Betara Guru yang dihormati. Bahkan Megawati bisa dianggap sebagai Semar sebagai pemomong “raja-raja” Jawa.

Jika Menolak

Kesempatan besar bagi Jokowi untuk menjadi presiden ada hanya pada masa putaran pemilihan presiden dalam waktu dekat ini. Kesempatan dalam putaran berikutnya amat tipis. Jika Jokowi menolak atau tidak dicalonkan partainya untuk menjadi presiden, maka tidak ada lagi kesempatan ke dua bagi Jokowi. Bahkan rakyat tidak akan memilihnya kelak.

Hasil survei terbaru jelas rakyat menghendaki Jokowi untuk jadi presiden. Penolakan Jokowi akan mengecewakan mereka. Rasa kecewa itu akan diekspresikan jika ternyata presiden terpilih tidak menunjukkan prestasinya. Apalagi jika keadaan bertambah buruk, maka Jokowi dianggap sebagai tokoh yang ikut bertanggung-jawab. Jokowi akan dituduh secara emosional oleh rakyat sebagai biang kesalahan atas kemerosotan itu.  Keadaan yang makin amburadul itu adalah kesalahan Jokowi karena menolak kemauan rakyat untuk menjadi presiden. Menolak mandat mereka.

Jokowi tidak akan lagi dipercaya jika ia mencalonkan jadi presiden di tahun 2019. Saat jadi Gubernur DKI saja sudah nggak mau beringsut, meski dikasih mandat oleh rakyat (sebagaimana menurut hasil survei).  Apalagi kalau sudah jadi presiden, jangan-jangan rakyat tidak akan didengarkan suaranya.  Apalagi bersedia beringsut dari kursi presiden yang jauh lebih empuk?  Maka untuk amannya tidak usah milih Jokowi.

Barangkali Jokowi tidak ingin berbuat sesuatu yang mengejutkan. Sesuatu yang terjadi tanpa sangka-sangka, tanpa peringatan adalah hal yang tidak baik bagi budaya Jawa. Jokowi berusaha bersikap rendah hati.  Pelan-pelan kulonuwun dan menggiring orang untuk membuka jalan dan memberi-tahukan keinginannya menjadi presiden agar bisa berperanan lebih luas demi rakyat. Jokowi tidak akan menunjukkan ambisinya secara terbuka.  Bukan saja tabu bagi budaya Jawa, tapi juga menghindari rasa malu jika ternyata tidak terpilih.

Kata-katanya bahwa ia “Ndak lah. Sampai detik ini, enggak mikir ke sana,..”, adalah hanya kiasan untuk merendahkan dirinya sendiri di hadapan seniornya. Jika ternyata kemudian ia dicalonkan sebagai presiden oleh partainya, berarti bukan karena kemauannya sendiri atau ambisi pribadinya.  Pencalonan tersebut adalah anugerah, kerelaan, kelegaan dari atasannya yang patut ia terima.  Menonjolkan ambisi pribadi termasuk tabu di lingkungan budaya Jawa. Mendahului kehendak orang-tua atau tokoh yang dihormati juga tabu bagi Jokowi. Adigung adiguna adalah perbuatan yang tidak menunjukkan kemuliaan budi pekerti.

Sikap Jokowi yang rendah hati dan selalu kulonuwun bila ingin bertindak itu kadang ditanggapi secara beda oleh orang lain. Pertanyaan berulang-ulang dilontarkan ke Jokowi tentang sikapnya untuk menduduki posisi nomer satu di Indonesia. Dan jawaban yang diperoleh selalu sama. Hal ini sepertinya membuat Ahok tidak sabar.

Ahok yang secara terus terang mengaku ingin menjadi presiden adalah jawaban secara tidak langsung tentang ambisi Jokowi untuk jadi presiden. Atau paling tidak, Jokowi saat ini sedang dipersiapkan, dilobby oleh partainya untuk diajukan sebagai presiden.

Ahok pasti menyadari bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjadi orang nomer satu. Bicaranya yang ceplas-ceplos bagai orang Singapore (demikian kata beberapa pembaca media on line) atau bergaya orang barat yang lugas, belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat luas yang masih senang bahasa basa-basi dan penuh tekukan kata.

Namun bukan berarti posisinya tidak penting. Justru karena sikap Ahok yang khas itulah yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia saat ini untuk menembus kebuntuan-kebuntuan. Daya dobrak Ahok amat diperlukan selama hal itu dibutuhkan. Masyarakat Indonesia lebih suka bicara pelan-pelan dulu, baru jika tidak mempan barulah didobrak.  Inilah peranan Ahok – sebagai alternatif pembuka jalan kebuntuan. Sebagai pendobrak.

Ahok secara tersirat mendukung Jokowi untuk jadi presiden lewat ucapannya yang berambisi jadi presiden. Ahok tidak ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk menggantikan posisi Jokowi, karena Ahok sadar bahwa dirinya secara budaya tidak akan bisa diterima sebagai orang nomer satu.  Nomer dua boleh dan bahkan amat diperlukan. Jika Ahok bilang bahwa dirinya ingin jadi presiden, maksudnya adalah Ahok ingin menjadi Wakil Presiden RI, wakilnya Jokowi.  Dan berita ini dilontarkannya dengan nada bergurau agar tidak membuat terkejut banyak orang atau sok mendahului kehendak pemimpin senior yang dihormati oleh Jokowi. Ahok ikutan merendah – sebagaimana Jokowi, tidak ingin menunjukkan ambisi pribadinya.

Bila Jokowi benar-benar ingin berbuat lebih banyak terhadap negara, maka inilah kesempatan baginya untuk membuktikan diri secara optimal yakni menjadi presiden 2014. Dukungan rakyat ada, dukungan partai lain ada, dukungan tentang model kepemimpinannya ada, keadaan sosial dan politik kondusif dengan karakter kepemimpinannya, pengakuan luar negeri juga ada. Momentum yang dipunyai Jokowi saat ini hampir semua sudah ada di puncak ketinggian, maka saatnya untuk dipakai sebagai pijakan menggapai bintang itu. Jika tidak sekarang, maka bintang itu mungkin tidak akan pernah tergapai lagi.

Monggo, pak Jokowi dados presiden. Sampun sungkan-sungkan. Saya pribadi lebih senang dipimpin oleh seorang tukang mebel daripada seorang pengacara, penyanyi, bintang film apalagi seorang dukun.***(HBS)


Leave a comment

Hati-hati dengan Tuduhan Terorisme

Garis antara terorisme dan tindakan kriminal berat amat susah karena tipisnya perbedaan keduanya jika tidak hati-hati. Menarik garis antara Muslim dan Islam juga sama peliknya meskipun nampaknya sederhana, namun bisa menjebak dan menggiring pada pandangan salah.

Kasus pembunuhan di Inggris bisa menjadi contoh di sini. Sebelum si pembunuh menyatakan motivasinya, beberapa media dengan gegabah telah mencap perbuatan sadis itu sebagai aksi terorisme. Padahal sebelum motivasi pembunuhan tersebut mendapat konfirmasi motivasinya, tidak seharusnya begitu saja disimpulkan sebagai aksi terorisme. Kadang kita dan terutama media massa secara gegabah menyimpulkan peristiwa macam ini.

Beda keduanya amat besar. Jika pembunuhan tidak disertai motivasi politik, maka dikatakan sebagai tindakan kriminal.  Tapi jika tindakan tersebut bermotivasi politik dan diarahkan untuk membuat keresahan masyarakat barulah bisa dikategorikan sebagai tindakan terorisme.

Demikian juga dalam pemisahan terminologi antara Muslim dan Islam. Muslim adalah pemeluk agama Islam. Sementara itu, Islam adalah agama yang dianut para kaum Muslim, tapi agama Islam terdiri atas banyak aliran dan sifat ajarannya. Jadi masing-masing Muslim bisa berbeda dalam memahami ajaran agama Islam. Tidak semua Muslim berpotensial sebagai teroris. Tidak semua pemeluk agama Islam adalah teroris dan suka kekerasan dalam menyampaikan dakwah-dakwah keislamannya. Tapi apa yang telah menjadi kecenderungan umum terutama di negara barat, Islam identik dengan kekerasan dan terorisme.

Beda Tipis

Kejadian di Woolwich, Ingris dan mungkin juga di negara-negara lain, tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang yang mengaku beragama Islam dan mengatas-namakan kekerasannya berdasar organisasi keislaman (Al-Shabaab) telah membuat kaum Muslimin yang cinta damai memperoleh dampak negatif yang merugikan. Istilahnya, tidak makan buahnya tapi ikut kena getahnya.

Akibat ulah beberapa kaum Muslim yang beraliran keras, dampak negatif diterima oleh hampir semua Muslim. Hal ini terjadi terutama di negara barat modern, sekuler, menghargai sikap  toleransi, kemerdekaan hak individu untuk memeluk agamanya dan kehidupan serasi secara multikultural. Apalagi jika kaum Muslimin di negara tersebut sebagai penduduk minoritas. Maka tindakan kekerasan individu yang mengatas-namakan agama Islam bisa berdampak luas pada seluruh komunitas dengan cepat. Tidak saja terhadap kaum Muslimin tapi juga terhadap komunitas lain yang beda agama karena akan melahirkan sikap curiga, ketegangan sosial karena rasa stereotype yang berlebihan. Jadinya, nila setitik rusak  susu sebelanga.

Pelaku tindak kekerasan dengan mengatas-namakan agama seharusnya juga perlu diperiksa secara detail latar belakang kejiwaan si pelaku. Apakah murni sebagai tindakan kekerasan yang mengatas-namakan agama, ataukah agama hanya dijadikan tempat menyembunyikan maksud kejahatan pribadinya karena tidak sehat secara psikologis. Dengan demikian pengkategorian pelaku tindak kekerasan sebagai teroris bisa lebih mengena dan proposionil. Alasannya adalah karena ada tindakan kekerasan individu dan meresahkan masyarakat banyak karena ada faktor psikologis si pelaku yang kurang sehat. Dan pelaku tersebut sama sekali tidak mengatas-namakan tindakannya berdasar alasan keagamaan.  Tapi efek yang ditimbulkan sama meresahkannya.

Jika kita ikuti sejarah hidup pelaku pembunuhan Lee Rigby, secara umum kita bisa menarik gambaran umum siapa pelaku pembunuhan tersebut sebenarnya. Lee Rigby dibunuh dengan sadis oleh Michael Adebolajo di hadapan puluhan orang di tempat terbuka dan umum. Menurut laporan beberapa media, Adebolajo semasa muda sebelum pindah ke agama Islam adalah remaja yang sudah punya kecenderungan untuk bertindak kriminal.

Adebolajo saat remaja sudah tergabung dengan kelompok remaja nakal, terlibat dalam narkoba, merampok dan menodong orang dengan pisau dilehernya untuk merampas uang dan mobile phonenya (The Sydney Morning Herald, 27 Mei 2013). Jadi garis antara terorisme yang mengatas-namakan Islam dan kejahatan kriminal karena latar belakang psikologis pribadi amatlah tipis. Apakah keduanya ada kaitannya apa tidak, perlu penelitian seksama terhadap si pelaku dan kronologi kasusnya.

Tapi apa boleh buat, sebelum pemeriksaan berjalan dengan baik, kerusuhan karena sentimen berdasar agama dan merembet ke etnis telah terjadi dan menimpa masyarakat yang tidak berdosa dan cinta damai. Kerusuhan anti Muslim meningkat dengan tajam dua hari setelah peristiwa pembunuhan yang dilakukan Adebolajo. Tercatat sebanyak 162 peristiwa anti Muslim. Angka yang biasanya hanya terjadi sehari rata-rata hanya empat hingga enam peristiwa saja (The Daily Telegraph, 27 Mei 2013).

Perlu digaris-bawahi pernyataan Perdana Menteri Inggris, David Cameron dalam menanggapi peristiwa pembunuhan tersebut, ia bilang bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Adebolajo tidak ada dalam ajaran Islam. Tindakan tersebut telah mencoreng agama Islam karena tidak mewakili agama Islam.  Tindakan tersebut merupakan pengkhianatan terhadap Islam (The Australian, 27 Mei 2013). Tapi beda dengan apa yang dikatakan oleh tokoh organisasi Islam Al-Shabaab, Omar Bakri yang mengatakan: “Bagi kaum Muslim di seluruh dunia, Adebolajo adalah seorang pahlawan, karena ia berani melawan balik.” (The Daily Telegraph, 27 Mei 2013)

Mudah-mudahan kasus tersebut di atas segera mendapat penanganan yang serius sehingga ditemukan titik jelas permasalahannya untuk menghindari jatuhnya korban-korban lain yang tidak berdosa akibat kerusuhan-kerusuhan bersifat antisosial yang melanda di berbagai tempat bahkan menjalar ke negara lainnya. *** (HBS)


1 Comment

Keputusan Untuk Hidup Single

Penilaian sosial terhadap wanita yang belum menikah setelah umur 40an tahun memang terkesan tidak menyenangkan. Secara tradisional, wanita diharapkan menikah pada usia sedini mungkin.  Kalau bisa dibawah umur 20 tahunan.  Umur di atas 30an tahun sudah melahirkan tanda-tanya bagi banyak orang.  Apalagi sampai di atas 40an tahun, pandangan-pandangan negatif makin bersliweran.

Kadang tradisi memang tidak punya rasa pilih kasih dan tidak pandang bulu siapa orangnya atau duduk permasalahannya. Pada masyarakat patriarchal nasib perempuan yang belum menikah hingga berumur di atas 40 tahun makin terpojokkan dan serba salah dalam lingkup sosial.

Meski nilai-nilai budaya modern secara pelan diterima tapi sepertinya penilaian masyarakat terhadap wanita yang mempertahankan hidup sendiri tidak banyak berubah.  Bahkan di negara maju atau budaya barat yang individualistik dan menghargai hak seseorang, wanita cukup umur tapi belum menikah juga mendapat sorotan negatif.

Pada saat ini banyak wanita makin berpendidikan serta berpenghasilan tinggi. Pilihan antara mengejar karier dan berumah-tangga ternyata merupakan pilihan dilematis bagai makan buah simalakama. Jika dimakan bapak mati, kalau tidak dimakan ibu mati.

Wanita menghendaki untuk bisa hidup secara mandiri dengan mengejar pendidikan tinggi sehingga punya penghasilan yang tinggi pula. Masalahnya adalah banyak kaum pria – terutama di lingkungan sistem sosial budaya patriarchal, merasa enggan untuk menikah dengan wanita yang punya pendidikan tinggi, apalagi punya penghasilan tinggi.

Hidup Sendiri dan Stigma Sosial

Kecenderungan bagi wanita untuk memilih hidup sendiri tanpa perkawinan makin meningkat angkanya di berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan alasan. Misalnya di Amerika, sekitar 40%  dari total manusia dewasa dinyatakan belum menikah, demikian menurut laporan statistik U.S. Census Bureau tahun 2009. Di United States (2007), 12,3% dari wanita umur 40an mempertahankan hidup lajang. Di Australia menurut sensus 2006, angka wanita yang hidup lajang tanpa menikah lebih besar lagi, yakni 13,5%. Masing-masing negara yang lebih 5% wanitanya tidak pernah menikah adalah: 5,1% di Morocco, 6,0% di Kuwait, 6,4% di Israel dan 8,2% di Palestina. (Baca di sini http://www.psychologytoday.com/blog/living-single/200811/living-single-longer-its-global-phenomenon)

Penilaian terhadap wanita lajang juga berbeda secara sosial dan budaya. Menurut penelitian University of Missouri, stigma sosial paling berat dirasakan pada saat wanita lajang tersebut berumur 25-35 tahun. Hidup lajang bagi wanita sebelum umur 25 tahun rupanya lebih bisa diterima secara sosial. Setelah itu, stigma tekanan sosial makin berat dan bisa datang dari berbagai sisi. Bisa dari teman, saudara, keluarga dekat atau orangtua sendiri yang mempertanyakan kenapa masih hidup melajang seusia itu?

Di Indonesia, julukan atas stigma sosial terhadap wanita lajang di atas umur 30an tahun macam-macam.  Misalnya perawan tua atau julukan lain yang kadang bersifat apriori karena merujuk pada kebiasaan tradisi yang menganjurkan bagi wanita untuk menikah pada umur di bawah 20an tahun.

Di Jepang, julukan itu lebih terkesan “nylekit”.  Kalau diterjemahkan istilah orang yang belum menikah pada usia di atas 30an tahun disebutnya sebagaai “loser dogs” (anjing pecundang).  Di China julukan yang diberikan tidak kalah nlyekitnya, “leftovers” (barang sisa).

Rata-rata orang menyalahkan para wanita lajang tersebut dengan keadaan yang menimpanya. Orang menuduh para wanita lajang tersebut telah berlaku jual mahal dan pilih-pilih tebu.  Menaruh harapan terlalu tinggi terhadap status calon pasangannya.

Menurut penelitian seorang sosiologis Dr Sandy To yang dilakukan di Cina, anggapan masyarakat yang menyalahkan para wanita yang punya pendidikan tinggi dan gaji tinggi tapi tidak menikah  tersebut ternyata tidak benar seluruhnya. Banyak alasan kenapa mereka kesulitan untuk mendapatkan pasangan. Terutama di masyarakat patrichal seperti di Cina. Para lelaki punya mentalitas tradisionil merasa punya kekuasaan lebih terhadap wanita.  Lelaki harus lebih dari wanita yang dinikahinya. Karena budaya patriarchal inilah menghalangi para pria untuk menikah dengan wanita yang punya posisi lebih baik dalam pendidikan atau penghasilan. (Baca di sini http://www.cam.ac.uk/research/news/chinas-leftovers-are-rejects-in-a-mans-world)

Di budaya masyarakat yang berstruktur patriarchal, secara tradisi banyak pria mengharap wanita pasangannya punya kedudukan lebih rendah dari si pria.  Bahkan mengharap wanita pasangannya untuk tidak bekerja setelah menikah.  Para pria tersebut juga kuatir jika wanita calon pasangannya susah diatur karena punya pendidikan lebih tinggi.  Mereka lebih suka wanita yang mudah diatur dan dikontrol sebagai pasangan hidupnya. Kadang pilihan para pria tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh kaum pria sendiri, namun mereka tak kuasa untuk melawan tekanan sosial dari struktur masyarakat tradisionil patriarchal yang melingkupinya.

Hidup Sendiri sebagai Pilihan

Tidak semua wanita memilih untuk hidup sendiri tanpa nikah selamanya. Di negara-negara dengan piramida tua, sejahtera dan stabil mungkin saja kecenderungan hidup sendiri sudah menjadi gaya hidup dan bukan hal baru lagi secara sosial. Tapi bagi Indonesia dan negara-negara Asia lain, kecenderungan untuk memilih hidup lajang selamanya belum menjadi trend sosial.  Banyak faktor mempengaruhi seorang wanita kenapa hidupnya masih lajang pada usia di atas 30an tahun atau lebih. Budaya barat modern yang mengejar gaya hidup individualistis bukan pilihan utama di masyarakat tradisionil.

Bagi kebanyakan wanita, karier yang sukses bisa dicapai jika mereka menunda perkawinannya. Karena perkawinan bagi wanita berarti mereka harus mendedikasikan sebagian besar waktunya buat keluarga. Bahkan bagi wanita yang sudah bekerja, tidak jarang mereka dengan terpaksa harus menunda dulu pergerakan kariernya karena menikah.  Dan memberi kesempatan pada suaminya untuk merintis karirnya.

Kebalikan dari dunia pria.  Pria cenderung lebih sukses jika kawin pada usia muda. Bagi pria yang menikah pada usia muda, mereka lebih punya dukungan moral positif dari keluarganya sehingga lebih termotivasi untuk bekerja keras mengejar karier. Pandangan bahwa karena tuntutan tanggung-jawab perkawinan dan kebutuhan ekonomi rumah-tangga telah membuat kaum pria bekerja lebih keras tidak seluruhnya benar.

Pilihan atara karier dan rumahtangga memang amat dilematis bagi kaum wanita. Mengejar karier agar bisa hidup mandiri atau menikah dulu dengan menunda kariernya? Belum lagi jika mempertimbangkan masalah fisik wanita yang tidak memberi banyak kesempatan untuk menunda masa subur untuk kehamilannya. Jika si wanita hidup di lingkungan masyarakat patriarchal tradisionil, maka pilihan itu makin sulit lagi. Semakin baik karier dan penghasilan seorang wanita justru ditolak untuk dinikahi oleh kaum pria.  Padahal wanita lajang tersebut pingin juga menikah sebagaimana wanita umumnya.

Pilihan untuk hidup sendiri tanpa nikah selamanya adalah pilihan pribadi seseorang, tidak saja wanita tapi juga para pria yang karena suatu alasan pribadi memilih untuk hidup tanpa nikah.

Pandangan bahwa seseorang harus menikah adalah nilai yang ditentukan oleh norma sosial di sekitar kita. Norma sosial memang tidak memandang kasus per kasus setiap individu. Siapa yang menentukan norma tersebut bisa diperdebatkan. Atau kenapa harus menuruti sebuah norma bila norma itu tidak lagi sesuai dengan keadaan pribadi? Sebagaimana norma lain, misalnya bahwa sebuah keluarga harus punya mobil, rumah, tanah luas dan sebagainya.  Siapa yang mewajibkan seseorang harus tunduk pada norma itu?

Menikah apa tidak, seseorang tetap bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada kemanusiaan atau kemuliaan dirinya. Mereka tetap bisa menikmati hidup dan berfungsi secara sosial. Jika alasan menikah karena menuruti norma, maka pilihan tersebut bisa memberi efek bumerang yang justru membuat seseorang tidak lagi bisa menikmati hidup sepenuhnya dengan bermakna. Menikah adalah pilihan penting dan harus bersedia untuk berkomitmen selamanya.

Godaan untuk menuruti norma sosial agar setiap orang menikah bisa membuat seseorang menyerah dan  berkompromi dengan idealismenya, mengorbankan hati dan prinsip hidupnya sambil membayangkan nikmat dan bahagianya bila bisa menikah. Bila menikah, tidur tidak harus sendiri, makan tidak harus sendiri, menikmati liburan tidak harus sendirian dan sebagainya. Menikah dengan orang yang tidak dicintai dan merasionalisasikan bahwa jika telah punya anak, maka mereka bisa mengalihkan cintanya pada anak-anaknya.

Tapi perlu juga dipertimbangkan bahwa pernikahan tidak selalu membahagiakan.  Pernikahan bisa berakhir dengan perceraian. Membesarkan anak juga bukan pekerjaan gampang. Cara mendidik anak kadang menjadi sumber pertikaian suami dan isteri.

Menikah dengan seseorang yang tidak dicintai adalah siksaan. Menikah dengan seseorang yang tidak saling tahu masing-masing pribadi adalah sebuah kesunyian.  Apalagi karena rasa tidak ada cinta itu tidak bisa dikatakan dan cuma dipendam di hati. Juga hati yang tidak bisa diajak kompromi untuk mencintai pasangan membawa dunia kesendirian yang mengeringkan jiwa dan hidup. Akhirnya depresi seolah berada dibalik pintu keluar masuk rumah perkawinan yang harus dilalui setiap mengawali sebuah hari dalam kediaman dan kesunyian.

Jika hidup tanpa nikah memang sudah jadi keputusan pribadi, maka nikmati saja yang menjadi keputusan. Diri pribadilah yang mengerti apa yang diinginkan dalam hidup dan membahagiakan. Hidup berdasar pada pilihan-pilihan pribadi yang disukai adalah sebuah kemerdekaan. Paling tidak, harus disyukuri bahwa diri sendiri tidak menjadi sebab dari hasil tindakan yang pada akhirnya ternyata tidak membahagiakan hanya karena harus menuruti norma yang ada.

Sebaiknya harus bisa menikmati hidup tanpa nikah dengan santai tanpa merasa bersalah karena tekanan sosial atau karena norma-norma yang tidak jelas asal usulnya.  Kadang sikap santai dan positif bisa memberi hasil yang lebih baik. Seseorang tertarik bukan karena kecantikan atau ketampanan lawan jenis.  Cantik atau tampan bila wajahnya terkesan tegang akan membuat orang enggan untuk mendekat. Ekspresi wajah yang santai seolah siap tertawa bila mendengar lelucon yang tidak lucu sekalipun bisa membuat orang ikut santai sehingga bisa mencairkan suasana yang kaku.

Jika selintas kita tengok sejarah, pada abad 18 di Amerika Latin pada masa kolonial, pada saat wanita yang hidup sendiri hingga usia dini diterima secara sosial, ternyata tidak lepas dari pandangan negatif masyarakat pada saat itu.

Penelitian yang dilakukan oleh Leavitt-Alcántara di Amerika Latin – mengambil rentang waktu 20 tahun pada masa kolonialisme tahun 1750-1770, menyimpulkan bahwa wanita yang hidup single (termasuk menjanda) mengalami kesulitan dalam hal ekonomi, sosial dan budaya karena sistem sosial patriarchal.  Wanita yang belum menikah atau menjanda akan dipertanyakan moralitasnya secara negatif.

Karena alasan itulah, para wanita itu harus hidup di lingkungan patriarchal dan kadang mempercayakan hal ini pada pendeta gereja sebagai wali hukumnya. Para wanita tersebut mendedikasikan dirinya melayani masyarakat untuk menghindari stigma negatif terhadap mereka agar kedudukan dan peranan mereka lebih terhormat secara sosial.

Para wanita yang tidak menikah tersebut oleh peneliti diasumsikan punya peranan penting dalam perubahan politik dan agama di Amerika Latin pada masa itu.  (Baca selengkapnya di sini: http://phys.org/news/2013-01-uncovers-widowed-women-religious-culture.html#jCp)

Pilihan tidak menikah selalu memberi jalan alternatif, plan A atau plan B. Ini tergantung pada pribadi masing-masing untuk menentukan rencana hidupnya agar hidup menjadi lebih berarti terutama bagi diri sendiri. Syukur bila bisa berarti bagi keluarga atau masyarakat secara luas bahkan menentukan arah sejarah bangsa sebagaimana wanita di Amerika Latin tersebut.*** (HBS)


1 Comment

Banyak Ahli Moral di Indonesia

Jika kita lihat dan baca kecenderungan saat ini, masalah moralitas bisa dikatakan merupakan isu paling dominan diminati masyarakat. Di media massa dan juga di media sosial, isu-isu yang berkaitan dengan moralitas hampir setiap hari bisa ditemui. Bahkan lengkap dengan kutipan-kutipan kitab suci sebagai referensi.

Isu-isu moralitas tersebut demikian membaur dengan isu-isu yang sifatnya umum.  Seperti tidak ada lagi pemilahan antara isu umum dan isu moral. Media juga tidak memilahkan mana-mana isu umum dan mana isu moralitas.  Debat moralitas bisa ditemui hampir di setiap debat isu sosial. Isu-isu umum selalu dibumbui dengan titipan pesan moral. Masalah sosial, politik, hukum, ekonomi yang sebenarnya bersifat rasionil dan logis banyak ditumpangi dan ditanggapi dengan isu-isu moral yang kadang terkesan amat dipaksakan.

Banyak kalangan membicarakan masalah moral tanpa mempertimbangkan jenis dan karekteristik  pemirsanya. Begitulah, maka tidak heran jika didapati banyak orang yang khotbah membawa misi keagamaan di tempat-tempat yang sebenarnya pemirsanya tidak secara spesifik adalah tujuan  yang tepat bagi isi khotbahnya.

Khotbah telah mengalami pergeseran fungsi. Tidak lagi sebagai monopoli kaum yang memang mendalami tentang isu moral keagamaan dan dilakukan di lingkungan terbatas dengan karekateristik pemirsa yang berkesesuaian.  Peranan para ahli khotbah moral tersebut kini juga bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan bisa dilakukan di mana saja dan dengan audience siapa saja. Masalah moralitas seolah menjadi masalah terpenting bagi siapa saja.  Tidak pandang bulu agama, pendidikan, pengalaman hidup, status sosial, status ekonomi dan sebagainya.  Moralitas seolah dianggap isu utama dan harus diikuti oleh siapa saja. Moralitas dari satu sudut agama seolah berlaku bagi siapa saja.

Benarkah mayoritas orang Indonesia adalah ahli moral? Atau benarkah bahwa mayoritas orang Indonesia itu merasa telah menjadi ahli dalam moralitas? Atau benarkah mayoritas orang Indonesia itu hanya punya satu keahlian, yakni ahli dalam hal moralitas? Atau benarkah bahwa isu-isu paling dominan di Indonesia banyak menyangkut moralitas sehingga perlu tanggapan moralitas pula. Dengan demikian mengesankan bahwa kita semua ahli dalam hal moralitas?

Bergesernya Peranan Pimpinan Tradisionil

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu ditanggapi dengan kesiapan mental budaya kita.  Budaya kita yang belum bisa sepenuhnya berangkat dari budaya tradisionil, menanggapi lajunya perkembangan budaya modern ternyata telah mengasingkan golongan-golongan sosial tertentu dan menggoyahkan sendi-sendi kekerabatan sosialnya.

Budaya modern yang individualistik menekankan pentingnya pencapaian nilai-nilai materi dalam hidup. Kebahagiaan atau kebanggaan sosial hanya bisa dicapai jika bisa menumpuk materi sebanyak-banyaknya. Pembangunan bangsa kemajuannya diukur dengan sejauh mana kebutuhan materinya dan tidak pernah diukur dengan kemajuan moralnya.  Kemajuan dan perkembangan ekonomi nasional dan global, telah menggoyahkan sendi-sendi hubungan sosial masyarakat yang tidak bisa dipahami oleh semua orang.  Kemajuan dan perkembangan hubungan antar institusi yang lebih mengedepankan hubungan segi-segi rasio telah mengasingkan masyarakat yang masih menganut sistem paternalistik dan primordial.

Dalam masyarakat urban perkembangan materi begitu cepat telah meninggalkan masyarakat yang berada di pinggiran.  Masyarakat pinggiran yang masih merindukan kekerabatan sosial akhirnya mengalami krisis psikologis, terisolasi dan terpuruk dalam kesendirian dalam memecahkan masalah-masalah hidup dan sosialnya.

Di masyarakat modern barat, kemajuan materi telah membuat masyarakat mulai percaya pada masalah-masalah supernatural dan tertarik untuk mempelajari hal-hal yang menggunakan term-term bersifat keagamaan. Mereka mulai mempertanyakan masalah spiritual sebagai jalan untuk meningkatkan kwalitas hidup mereka.

Term-term yang berhubungan dengan spiritual keagamaan menjadi faktor penting dalam politik dan pilihan ideologi.  Term-term yang berhubungan dengan spiritual keagamaan tersebut tidak mengacu pada satu agama, tapi lintas agama jika ingin diterima secara sosial. Karena perkembangan sosial budaya yang telah melewati abad pencerahan dan modern, tidak memungkinkan untuk menggunakan term-term spiritual keagamaan hanya dari satu sisi agama yang mayoritas beragama Nasrani. Sebuah hal yang umum dilakukan pada abad pertengahan, dimana setiap orang membicarakan masalah sosial dan moral dari satu sudut agama tertentu.

Untuk di Indonesia, budaya kita tidak melalui abad pencerahan yang mempertanyakan peranan agama dalam ranah sosial. Melihat dominannya isu moralitas dan tinjauan dari sudut keagamaan yang kini ada di masyarakat, benarkah budaya kita saat ini seperti yang terjadi di abad pertengahan budaya barat?  Setiap orang merasa bebas membicarakan masalah agama dan agamanya meski dalam ranah sosial umum? Meski menyangkut isu-isu umum, realistis dan tidak berkaitan dengan masalah keagamaan?

Ataukah kita saat ini sudah melewati tahap modern sebagaimana di budaya barat dan kini banyak orang mencari pegangan nilai-nilai religius spiritual keagamaan?  Perjuangan ideologi politik, jenjang karier sosial dan politik juga banyak yang mengacu pada nilai-nilai agama?  Benarkah kita mengalami krisis spiritual sebagaimana melanda di masyarakat barat?

Bedanya di dunia barat adalah mereka mengacu pada nilai-nilai religius bersumber dari agama tapi tanpa mengacu pada ajaran dogma atau institusi agamanya. Mereka secara sadar melakukan pilihan untuk lebih religius tanpa terikat pada lembaga agama tertentu sehingga mengesankan akan adanya sikap lebih toleran terhadap keberadaan agama lain. Kecenderungan ini bisa dilihat dari menurunnya angka umat yang datang untuk beribadah di tempat-tempat tradisi keagamaan dilangsungkan. Mereka lebih memilih belajar religiusitas pada group-group meditasi, group spiritual yang mempelajari nilai-nilai agama lebih universal.

Di Indonesia, peranan pemimpin rohani tradisionil meski masih ada tapi makin lemah atau terdistorsi. Komunikasi agama lewat tatap muka tetap terjadi tapi mulai berkurang atau terjadi tanpa kedalaman.  Para pemimpin rohani agama diperlakukan mungkin tak lebih dari jabatan formal dalam sebuah birokrasi modern. Para pemimpin rohani yang diharapkan untuk bisa menjadi pemimpin kehidupan religius ternyata tak memberinya rasa percaya. Apalagi jika kita lihat banyaknya kasus para tokoh yang dianggap sebagai pemimpin rohani ternyata telah menyelewengkan ajaran-ajaran agamanya. Atau ajaran agama dimanfaatkan demi kepentingan diri yang lebih profan dan materiil.


Varian Baru Pemeluk Agama

Dengan terkikisnya rasa percaya pada tokoh-tokoh rohani keagamaan dan juga krisis kepercayaan pada tingkat sosial secara umum, maka rasa keagamaan lebih mudah dan cenderung dikembalikan pada diri sendiri untuk mendalaminya. Dan hal ini tidaklah sulit bagi individu dengan tersedianya berbagai fasilitas hasil dari kemajuan teknologi dan informasi.

Alienasi sosial, ketidak-percayaan pada pemimpin rohani agama, ketidak-percayaan pada pimpinan bangsa, ketidak-percayaan pada lembaga, ketidak-percayaan pada sesama pada level sosial melahirkan melahirkan jenis varian pemeluk baru agama yang lebih praktis dalam bersikap. Mereka tidak melakukan konfrontasi secara terbuka dengan kelompok-kelompok mapan keagamaan tapi juga tidak bersekutu dengan mereka.  Mereka lebih luwes dalam menempatkan diri agar bisa diterima secara sosial yang saat ini didominasi oleh sudut pandang moralitas dari sudut agama.

Golongan varian pemeluk baru agama ini sepertinya menjadi mode di Indonesia. Mereka mengadopsi nilai-nilai agama tidak saja untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya tapi juga demi mempertahankan hidup secara sosial.  Mereka inilah yang memperlakukan agama kadang sebagai mode agar survive secara sosial. Jenis varian baru pemeluk agama ini dipandang lebih bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat urban atau masyarakat yang tidak menganut agamanya dengan ketat. Mereka tidak punya pengetahuan agama yang dalam, namun memenuhi konformasi secara sosial. Para varian baru pemeluk agama ini lebih banyak berpendidikan bukan dari sekolah khusus bidang agama tapi dari sekolah formal umum dan tinggal di wilayah urban.  Mereka menolak doktrin agama yang kaku dan tradisionil dan menyesuaikan dengan perkembangan kekinian ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka ini rata-rata golongan kelas menengah ke atas.

Karena agama diperlakukan sebagai mode mengikuti keadaan sosial masyarakat yang didominasi oleh isu-isu moralitas keagamaan, maka begitu trend mode populer menghilang hilang pula mode yang dipakai saat itu. Agama dikembalikan pada diri masing-masing dengan kebebasan pribadi untuk menunaikan kewajibannya. Para varian baru pemeluk agama ini lebih punya rasa toleransi antar agama dan bisa menyesuaikan dengan nilai-nilai moral universal.

Golongan varian baru dalam menyikapi dominasi moralitas keagamaan adalah orang-orang yang lari ke dunia klenik dan tahayul. Sebuah kepercayaan pada dunia supernatural dengan moralitasnya tersendiri.  Mereka ini terdiri dari kaum pinggiran yang tidak punya peranan dalam perubahan sosial atau dalam diskusi-diskusi moralitas secara sosial.  Mereka menolak mendiskusikan moralitasnya secara sosial karena moralitas dihayatinya sebagai suatu yang bersifat personal dan tidak terkait dengan lembaga moralitas atau kelembagaan agama tertentu.

Barangkali kerukunan toleransi agama inilah yang dinilai oleh lembaga luar negeri sehingga Presiden RI patut dihargai jasanya.  Kerukunan agama yang berlangsung secara sosial dan tidak dalam filosofis transenden secara individu. Karena mungkin saja penghayatan agamanya tidak dalam namun kaum urban dengan varian baru pemeluk agama punya toleransi terhadap isu keagamaan yang bersumber dari berbagai agama. Mereka lebih bisa memisahkan antara taat menjalankan ibadah beragama dan religiusitas berdasar agama.  Jika kerukunan dan toleransi agama berdasar penghayatan filosofis transenden mungkin angka korupsi tidak setinggi saat ini di Indonesia.*** (HBS)


Leave a comment

Baby Shower atau Tingkepan ala Sydney

1369183193356818994

Masyarakat Indonesia di Sydney kumpul bareng di Centennial Park, Sydney untuk acara “Baby Shower”. Foto: Dokumentasi pribadi.

Siapa bilang bahwa orang itu mudah melupakan adat dan tradisinya? Mungkin saja lupa beberapa bagian darinya, tapi tidak semuanya.  Paling tidak hal ini bisa dilihat dari kegiatan masyarakat Indonesia yang tinggal di Sydney yang beberapa hari lalu mengadakan kegiatan baby shower atau dalam tradisi Jawa disebut “Tingkepan”  atau “Mitoni”.

Tingkepan dilakukan saat ibu mengandung bayi pertamanya pada usia kandungan tujuh bulan. Karena baru akan melahirkan bayi pertama atau pertama kali mengandung, tentunya belum ada pengalaman pada si ibu. Dan fungsi tingkepan sepertinya memberi dukungan moral pada ibu muda untuk menyambut kelahiran anak pertamanya dengan suka cita, tenang dan untuk meyakinkan bahwa keluarga dekat senantiasa membantu. Sebuah dukungan yang akan memberikan ketenangan jiwa pada ibu muda yang sangat besar artinya dalam proses sebelum melahirkan (prenatal) dan setelah melahirkan nantinya (postnatal. http://en.wikipedia.org/wiki/Postpartum_depression).

Bagi masyarakat tradisionil, gejala psikologis yang berkaitan dengan kelahiran diterjemahkan secara sederhana dan melalui upacara tradisi yang membantu si ibu melewati masa krisis. Depresi psikologi akibat melahirkan anak kadang bisa sangat berbahaya bagi si ibu.  Sifat depresi bertingkat dari yang ringan, sedang dan berat. Dalam kasus depresi berat setelah melahirkan, si ibu bisa kehilangan mood bahkan tidak bisa berfungsi normal dalam kegiatan keseharian.  Mereka merasa tidak berguna, bersalah bahkan bisa mengarah pada keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Di masyarakat barat, bagi ibu muda yang baru melahirkan dan mengalami depresi akibat melahirkan dilakukan lewat temu muka dengan kelompok pendukung (support group) yang anggotanya punya masalah sama dan dipimpin para ahli di bidang postnatal depression. Di masyarakat barat yang sifatnya individualistik dukungan pada ibu muda yang baru melahirkan tidaklah segampang pada masyarakat tradisionil yang masih erat ikatan kekerabatan sosialnya.  Depresi yang berkaitan dengan melahirkan bila tidak ditangani secara serius bisa meningkat ke hal-hal yang merugikan bagi ibu dan anak. Dalam kasus tertentu seorang ibu bahkan tega membunuh bayinya akibat depresi yang akut sebagaimana di tulis di majalah Psychology Today. (http://www.psychologytoday.com/articles/200212/moms-who-kill)

13691836201921277903

Lomba pasang popok bayi oleh calon ayah. Foto: Dokumentasi pribadi.

Tingkepan Ala Sydney

Acara baby shower atau tingkepan yang dilakukan masyarakat Indonesia di Sydney adalah sebuah peristiwa yang amat menarik. Menarik karena selain mendapat dukungan secara profesional dari ahli kandungan hingga ahli psikologis tapi juga dari lingkutan terkecil masyarakat Indonesia sendiri.

Di Sydney, bagi ibu yang mengandung baru pertama kali dukungan dari ahli kandungan amat positif dan ketat. Hampir setiap minggu kandungan dimonitor dan meningkat seminggu dua atau tiga kali jika kandungan mulai mendekati kelahiran bayi.  Informasi tentang support group baik untuk kelas sebelum maupun setelah melahirkan disediakan dan dianjurkan untuk diikuti oleh para ibu muda tersebut.

Beruntunglah bagi masyarakat Indonesia yang masih mau berkumpul untuk mengadakan acara baby shower bersama-sama. Karena beberapa komunitas lain, tidak jarang mereka harus mengundang bapak atau ibunya yang berada di luar negeri untuk datang ke Australia demi dukungan moralnya.  Proses melahirkan adalah proses yang penting, berat dan perlu informasi dari orang-orang yang punya pengalaman.  Peranan ibu sangat penting bagi ibu muda yang akan melahirkan bayi pertamanya.

Meskipun acara baby shower atau tingkepan yang diadakan komunitas masyarakat Indonesia di Sydney tidak mengikuti dengan ketat aturan tradisi, namun tidaklah menghilangkan fungsi utamanya yakni dukungan moral dari semua pihak.

Acara baby shower juga dihadiri oleh ibu-ibu muda yang baru saja punya anak dan juga ibu-ibu muda yang lagi hamil bayi pertamanya. Baru pertama kali ini penulis melihat begitu banyak wanita hamil berkumpul dalam satu tempat. Sebuah pemandangan yang menentramkan hati dan penuh dengan rasa kekeluargaan.  Meski tidak saling kenal dengan baik satu sama lain, tapi manfaat adanya kumpul bersama menyelenggarakan acara baby shower tentu banyak diperoleh oleh para pasangan muda suami isteri tersebut.

Acara yang diselenggarakan cukup menarik dan meriah dengan melibatkan pihak-pihak yang mewakili figur penting dalam proses kelahiran. Acara mengganti popok bayi, memakaikan bajunya dilombakan dengan melibatkan para suami (calon ayah), ibu-ibu yang berpengalaman melahirkan dan juga para suami yang isterinya punya pengalaman melahirkan.

13691836871052695423

Lomba pasang popok bayi oleh para calon ibu. Foto: Dokumentasi pribadi.

Lomba cepat-cepatan mengganti popok bayi dan memakaikan bajunya paling ramai ketika para calon ayah berebut boneka, popok dan baju bayi. Mereka beradu cepat seolah tidak lagi memperhitungkan keselamatan si bayi. Untung dalam lomba ini tidak memakai bayi beneran.  Bisa owah dan harus dipanggilkan dukun pijat bayi.

“Done!” kata seorang peserta dan langsung meletakkan bonekanya.

“Itu salah. Tidak benar!” ralat beberapa wanita mengingatkan disambut gelak tawa lainnya. Terpaksalah diulang kembali cara ganti popok dan baju bayinya.

Acara berisi penuh sorak sorai, penuh rasa keluargaan dan gelak tawa. Ternyata mengganti popok dan mengganti baju bukanlah pekerjaan yang gampang kalau tidak biasa melakukannya.

Selain perlombaan mengganti popok juga ada kartu ucapan selamat yang harus diisi dengan dugaan bayinya laki-laki atau perempuan, tanggal berapa kira-kira lahir.

“Jika tepat menebak angka kelahirannya, maka bagi yang nebak wajib datang ke ulangtahun si bayi nantinya,” demikian kata seorang ibu muda yang hadir dengan geli.

Acara tingkepan ala masyarakat Indonesia di Sydney memang tidak seserius acara tingkepan yang dilakukan oleh masyarakat tradisionil Jawa.  Acara lebih berlangsung pada suasana kumpul bareng dan bisa bergembira bersama. Bahkan di satu pohon ditempelkan lomba nebak bayi. Di situ dipasang foto calon ayah dan calon ibu penyelenggara acara ketika masih bayi dan dideretkan dengan foto bayi-bayi para selebritis. Cukup susah juga menebaknya.

Si ibu muda juga tidak harus disiram oleh air berisi bunga dan janur. Dan tidak harus duduk beralas klosobongko.  Tidak ada acara brojolan atau ganti baju tujuh rupa yakni: kain wahyutumurun, kain sidomulyo, kain sidoasih, kain sidoluhur, kain satriowibowo, kain sidodrajat, kain tumbarpecah dan kemben liwatan. yang punya arti dan simbol khusus dalam tradisi budaya Jawa. Juga tidak ada pecah cengkir gading yang bergambar batara Kamajaya dan batari Kamaratih.

Makanan yang dihidangkan juga tidak menurut tradisi tingkepan Jawa yakni: jajan pasar yang terdiri dari pisang raja, makanan kecil, polo wijo dan polo kependem, tumpeng rombyong yang terdiri dari nasi putih dengan lauk pauknya dan sayuran mentah. Makanan dihidangkan lebih mengarah segi praktisnya yakni nasi putih, kentang gureng, sosis bakar, gule, telur bumbu bali, sambal goreng, sate ayam, sate sapi dan beberapa kue. Nikmat sekali makan masakan Indonesia secara bersama-sama dengan masyarakat setanah air dan di alam terbuka. Apalagi di udara musim gugur yang cukup dingin, meski matahari bersinar cukup cerah.*** (HBS)