herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Memberi Kesempatan Orang Lain untuk Melakukan yang Terbaik

KETIKA masuk salon, aku celingukan mencari si Emma tukang potong rambut langgananku yang paling cocok dengan seleraku. Susah sekali mencari tukang cukur di seputar Sydney yang cocok dengan selera.

Seorang cewek muda berbaju putih, bercelana panjang hitam menyambutku dengan ramah. Aku tanya, dimana Emma?  Katanya si Emma lagi keluar sebentar. Aku memang datang terlalu pagi ke salon ini untuk menghindari antrian.  Salon masih sepi pengunjung.

Cewek itu mempersilahkan aku untuk duduk di kursi buat motong. Menutupiku dengan pelindung potongan rambut, siap untuk dipangkas. Katanya si Emma cuma sebentar perginya.

Aku nunggu sambil mengamati rambutku sing modal-madil di cermin dan membetulkan letak pelindung rambut.

Beberapa menit kemudian cewek itu ngomong, “Kalau nggak keberatan saya juga bisa motong.  Atau bapak lebih suka dipotong si Emma?” katanya.

Sebenarnya aku agak ragu-ragu. Melihat caranya ia memasang pelindung rambut, ia belum punya pengalaman. Letak salah dan di bagian leher masih terbuka sehingga potongan rambut pendek bisa masuk ke dalam.  Tapi tak pikir, daripada menunggu terlalu lama saya putuskan untuk mengijinkan cewek tersebut untuk memotong rambutku.

“Emma pasti tahu selera potongan rambut setiap pelanggan,” kata cewek itu. Nampak ia senang sekali. Ia mengambil hair clipper dan hampir saja menjatuhkan botol air karena tersangkut kabel hair clipper.

“Bapak orang Filipina ya?” tanyanya. Salon ini memang langganannya banyak orang Filipina. Si Emma orang Filipina. Juga si cewek ini. Aku jawab bahwa aku bukan orang Filipina.

“Bapak orang Asia?” tanyanya lagi. Lha, apa aku ini kayak orang bule, batinku.

“Saya dari Indonesia,” jawabku. Cewek itu tersenyum malu. “Maksud saya gitu. Indonesia,” jawabnya.

Saya cuma tersenyum mendengar penjelasannya.  Saya tahu dia cuma berusaha membuka percakapan agar suasana tidak kaku atau paling tidak akan menenangkan dirinya sendiri agar tidak begitu grogi menjalankan pekerjaannya.

Melihat tingkah lakunya dengan gampang aku simpulkan bahwa cewek itu baru belajar memotong rambut.  Apalagi dengan warna dan potongan baju yang dipakai, seragam khas bagi pekerja saat menjalani masa training.  Mungkin baru saja mendapat ijasah ketrampilan motong rambut dan kini menjalankan praktek kerja.  Sebuah langkah yang amat penting bagi pemula dalam merintis karier yang dipilih.

Aku teringat saat aku baru pertama kali datang di Australia.  Mencari pekerjaan yang kita inginkan amat sulit didapat karena selalu ditanya tentang pengalaman lokal.  Saya baru datang di Australia bagaimana mungkin saya punya pengalaman lokal kalau tidak ada yang memberi pekerjaan?

Ijasah yang didapat dari negara asal juga tidak diakui (ijasah dari negara persemakmuran commonwealth lebih mudah diakui atau disamakan).  Ijasah dari negara asal harus diterjemahkan dan dijelaskan perbandingannya dengan ijasah lokal.  Karena alasan itulah, maka amat sulit menggunakan ijasah dari negara asal untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang studynya.  Tentu saja masalah budaya, bahasa dan budaya kerja juga perlu dipertimbangkan.

Mendapat ijasah dari lembaga pendidikan lokal pun bukan jaminan akan mudah dapat pekerjaan yang sesuai bidang studynya.  Karena masalah berikutnya adalah selalu ditanya pengalaman lokal kerjanya bagi para lulusan baru tersebut. Jadi cukup pelik juga masalahnya.  Begitu lulus dan punya ijasah lokal, saat mencari pekerjaan ditanya pengalaman lokal. Padahal saat melamar kerjaan itu justru untuk memperoleh pengalaman lokal.  Bagaimana bisa mendapat pengalaman lokal jika setiap lowongan kerja selalu mensyaratkan pengalaman lokal? Jarang yang bersedia memberi kesempatan pada lulusan baru tersebut untuk memperoleh pengalaman lokal.

Strategi yang dilakukan biasanya mencari pekerjaan di bawah kwalifikasi di bidang industri yang diminati. Jika sudah masuk di industri, langkah berikutnya adalah mencoba merangkak ke atas atau mencalonkan diri secara internal jika ada lowongan kerja yang sesuai. Atau selama bekerja di luar bidang akademiknya lalu mengajukan training tanpa gaji di bidang yang sesuai bidang akademik diinginkan.

Cewek yang motong rambutku termasuk beruntung karena ia mendapat tempat untuk bisa melakukan kerja praktek sesuai bidang yang disenangi.

“Bapak kerja di sekitar sini ya?” tanya cewek itu.

“Tidak, tapi saya tinggal di sekitar sini,” jawabku.

Cewek itu dengan hati-hati memegang kepalaku dan memotong rambut pelan-pelan dan mulai mengerjakan apa yang perlu dikerjakan. Semua seperti berjalan baik sampai kemudian kulihat dari cermin di depanku seorang pelanggan masuk ruang. Cewek itu mempersilahkan duduk. Sebentar kemudian si Emma datang dan mempersilahkan pelanggan itu di kursi sebelah saya. Emma menyalamiku dan saling kasih salam apa kabar.  Sempat juga mau bilang agar Emma motong dulu rambutku sebelum pelanggan yang baru datang itu.  Tapi kuurungkan demi menghargai cewek itu.  Kehadiran Emma membuat semua jadi berubah.

Beberapa kali sisir yang dipegang cewek pemotong rambutku itu menabrak telingaku sehingga terlepas dari tangannya lalu jatuh ke lantai.  Saya tidak tahu pasti kenapa sisir itu sering jatuh. Kuhitung sudah tiga kali jatuh.  Saya tak bereaksi seolah tidak tahu.  Kuatir akan membuatnya malu.  Mungkin ia sedikit nervous dengan pengalaman pertamanya atau karena adanya Emma di sampingnya.  Mungkin ia merasa diamati oleh bos-nya.

Kulihat cara kerjanya cukup sistematis dalam memotong. Hasilnya cukup baik kalau saja cewek itu sedikit bersikap tenang sehingga bisa lebih fokus dan konsentrasi dengan apa yang dilakukan.  Ia sering mengulang apa yang sudah dilakukan kukira karena kurang konsentrasi.  Karena sering diulang, akhirnya hasilnya malah sebaliknya.

Tapi hasil akhirnya tidaklah mengecewakan. Cewek itu bertanya apakah ada yang kurang dan perlu diperbaiki? Ia mengambil cermin dan mempersilahkan aku melihat potongan rambut bagian belakang kepalaku.  Aku senang dengan sentuhan service ini. Meyakinkan bahwa pelanggan telah merasa puas.  Hal ini tidak pernah dilakukan oleh si Emma. Secara jujur aku malah lebih senang dengan hasil potongannya daripada hasil potongan Emma langgananku. Tapi hal itu tidak aku ucapkan, takut menyinggung Emma.

Saat membayar ongkos, cewek itu bilang terimakasih dan aku jawab, bahwa hasil kerjanya lumayan bagus.  Cewek itu tersenyum manis, matanya seperti berbinar.

Sampai di rumah, kulihat potongan rambutku kembali di depan cermin sebelum keramas. Aku merasa bangga dengan apa yang aku lakukan hari ini.  Sebagai pelanggan telah menyediakan diri sebagai kelinci percobaan. Apalah artinya potongan rambut yang nampak tidak rata ini dibanding kepuasan yang diterima oleh cewek itu.  Rambut toh akan tumbuh kembali dan nantinya bisa dipotong lagi dengan baik. Tapi bagi cewek itu kupikir artinya pasti amat besar.  Siapa tahu kesediaanku menjadi kelinci percobaan telah menambah rasa percaya dirinya dalam mengarungi kariernya di depan dengan lebih baik dan penuh percaya diri.  Semoga saja.*** (HBS)


2 Comments

Tidak Gampang Cari Tukang Cukur Sekelas Orang Madura di Sydney

SELAMA puluhan tahun tinggal di Sydney, setiap potong rambut selalu kesulitan.  Tempat potong rambut banyak, tapi tidak ada yang cocok dengan selera. Cara motongnya tidak bisa rapi seperti tukang potong rambut di Indonesia.

Di tanah air langgananku potong rambut orang Madura.  Potongannya rapi. Sejak SMP hingga kuliah lebih sering aku potong di situ. Setiap pulang kampung selalu potong rambut di tempat “Panti Paras Madura” langgananku itu. Selalu merasa puas.

Di Sydney, setiap habis potong, selalu saja ada yang bikin tidak puas. Padahal untuk jadi tukang potong harus punya ijasah. Tidak sembarang orang bisa buka panti paras atau salon dan potong rambut.  Maka jangan heran jika di tempat tukang potong rambut pasti dipasang ijasah ketrampilannya di dinding. Bahkan tidak cuma satu. Selain ijasah potong rambut juga terpasang deretan ijasah-ijasah lain yang berhubungan dengan rambut dan perawatan kecantikan.

Saya berkelana cari tukang potong mencoba satu demi satu mencari yang cocok. Tukang cukur orang Itali sudah aku coba, orang Yugoslavia aku coba, orang Lebanon aku coba, orang Turki aku coba, orang Portugis aku coba, orang Korea juga pernah, dan tukang potong lainnya. Tapi tidak ada yang cocok.

Dulunya saya hanya mendatangi barber shop. Tukang cukur yang langgannya banyak laki-laki khusus hanya potong rambut dan cukur jenggot atau brengos. Tapi setelah kehabisan pilihan, terpaksa harus mulai mendatangi salon. Di salon selain menerima pangkas rambut juga jasa lain-lainnya.

Di salon, langganannya campur pria dan wanita. Biasanya waktu tunggunya lama. Pelanggan wanita kadang perlu berjam-jam selesainya. Kramaslah, blowlah, nyemirlah, maskeran-lah dan lain-lain yang bikin pantat panas saat nunggu. Harus sabar untuk mencari tukang cukur yang cocok.

Dari deretan berbagai bangsa tukang cukur yang pernah aku datangi lebih dua kali adalah tukang cukur orang Yugoslavia dan orang Korea. Lainnya cuma sekali dan tidak pernah aku ulangi lagi karena saking jeleknya hasil pangkasannya.

Orang Yugoslavia dan Korea aku pilih karena faktor kebersihannya. Orang Yugoslavia yang motong umurnya sekitar 60 tahunan. Penampilannya amat profesional. Bajunya rapi. Setiap pelanggan bila potong dikalungi handuk bersih untuk menghalangi rambut agar tidak masuk ke baju. Sisirnya dimasukkan ke cairan pembunuh bakteri.  Silet untuk mengerik selalu diganti baru, tidak dipakai untuk orang lain.  Handuk bersih tersebut sehabis rambut dipotong, dibasahi air hangat untuk mengusap leher, tengkuk, pelipis dari sisa-sisa potongan rambut. Terasa sangat nyaman dibasuh air hangat begitu sehabis cukur. Kulit jadi tidak terasa gatal.

Ruang cukurnya rapi dan terawat. Sepertinya ia menekuni benar profesinya. Ia bekerja sendirian. Kadang isterinya keluar membersihkan potongan rambut di lantai. Orangnya juga ramah. Cara motongnya sopan. Tidak ditarik sana sini. Dijambaki sana sini. Dan selalu tanya atas hasil potongannya. Meski saya bilang, “Bagus. Bagus,” tapi tetap nggrundel di hati. Masih tidak sebagus tukang cukur Madura.

Lokasi tukang cukur Yugoslavia tersebut cukup jauh dari tempat tinggal saya. Perlu waktu sekitar 10 menit naik mobil untuk ke situ. Yang membuat saya memutuskan untuktidak datang lagi dan mencari tukang cukur lain adalah karena ia kadang nggrundel kalau rambutku sudah kepanjangan untuk dipotong. Maunya sebelum rambut menyentuh pangkal telinga, rambut harus dipotong cepak. Lha, kadang saya nggak punya waktu yang pas untuk potong rambut. Saat ada waktu, kadang malas untuk pergi. Sampai akhirnya nampak tidak rapi dan kepanjangan.

Setelah mutar-mutar cari tukang cukur lain, akhirnya ketemu tukang cukur Korea itu. Lokasinya berlawanan arah dengan tukang cukur Yugoslavia. Tukang cukur Korea ini ada di selatan tempat tinggal dan tukang cukur Yugoslavia ada di utara dengan jarak sama.

Tempat tukang cukur Korea itu letaknya agak susah. Masuk jalan semacam lorong. Mobil harus diparkir di supermarket terdekat lalu jalan kaki.  Kutemukan secara kebetulan saat membeli daging bebek yang cukup terkenal lezat di daerah situ menurut informasi seorang teman. Eh, lihat tukang cukur itu.

Begitu waktunya tiba, saat rambut sudah kelihatan tidak rapi, bergegas aku datangi barber shop Korea itu. Ternyata ada tiga tukang cukur di dalam. Wah, lumayan juga nih.  Aku jadi banyak pilihan. Kalau yang satunya jelek motongnya, lain kali minta dipotong oleh lainnya.

Penjagaan kebersihan hampir sama persis orang Yugoslavia. Pakai handuk bersih bagi setiap pelanggan.  Tukang cukur lain kadang hanya pakai toilet paper untuk penghalang rambut tersebut.

Cukurannya lumayan rapi. Habis dicukur, handuk juga dicelupkan ke air hangat buat mengusap leher, tengkuk, pipi untuk menghilangkan potongan rambut. Habis itu diusapkan ke rambut untuk membasahi rambut dan mengambil ceceran rambut yang ada di kepala. Rasanya enak, kayak dipijitin kepala ini. Bikin terkantuk-kantuk.

Bedak pewangi dipupurkan di sekitar leher agar tidak gatal. Kemudian dibersihkan kwas lebar. setelah alat pelindung dilepas, rambut diolesi pewangi sebelum disisir rapi. Terlihat rapi dan bersih siap meneruskan perjalanan. Aku datangi berkali-kali barber shop Korea ini.

Karena pindah tempat tinggal yang jaraknya cukup jauh, akhirnya barber shop Korea ini tidak lagi sering aku datangi. Tapi masih sempat beberapa kali potong juga di sini setelah tidak juga menemukan tukang cukur yang cocok di sekitar tempat tinggal yang baru.  Jaraknya sekarang 20 menit naik mobil.  Itupun kalau lalu lintas tidak ramai. Bisa lebih kalau lagi ramai.  Terutama kalau banyak orang lagi belanja di supermarket. Tidak logis kalau setiap potong saya harus datang ke tempat begitu jauh.

Saat ini saya masih mencari-cari tukang cukur yang cocok di dekat tempat tinggal. Sudah hampir sepuluh tahun di tempat baru ini belum juga menemukan tukang cukur yang cocok. Sudah mencoba beberapa tempat, termasuk tempat potong rambut yang ada di dalam supermarket. Tidak ada yang memuaskan.

Akhirnya kutemukan salon orang Filipina yang hasil potongannya lumayan rapi. Tapi tidak konsisten hasilnya. Kadang jelek, kadang lumayan rapi. Paling baik dari yang terjelek. Ruangan salonnya tidak sebersih orang Korea atau Yugoslavia. Sisirnya mungkin sudah bulanan tidak pernah dicuci. Pelindung rambut yang dikalungkan ke leher memakai toilet paper.  Meski bersih tapi kok kesannya murahan.

Hingga saat ini masih sebagai pelanggan setia salon Filipina itu karena belum menemukan tukang potong sekelas orang Korea. Apalagi sekelas orang Madura. Belum ketemu!*** (HBS)


Leave a comment

Jokowi Menggalang Ikatan Primordial?

Menurut budaya Jawa, kekuasaan seorang pangreh praja hanya bisa diperoleh melalui semedi, tapa atau laku prihatin dengan segala macam puasa sehingga mendapat “wahyu” kekuasaan. Wahyu diperoleh atas anugerah dunia kosmos.  Tidak semua orang bisa menerima wahyu.  Ada kualitas pribadi tertentu yang membuat orang bisa menerima wahyu. Kalau seseorang menjadi penguasa dan tidak berumur panjang masa kekuasaannya, pertanda ia telah ditinggalkan wahyu atau tidak karena menerima wahyu.

Untuk memperoleh wahyu tidak tergantung dari kekayaan, pengaruh, hubungan, kekuatan militer. Hanya ada satu jalan untuk memperoleh kekuasaan yakni lewat dunia kosmos atau kekuatan alam. Seorang harus menerima wahyu untuk bisa menjadi pemimpin. Wahyu tidak harus diterima oleh orang itu sendiri tapi bisa lewat orang-orang yang dekat dengannya. Seseorang bisa menerima wahyu dengan cara semedi, puasa, pergi ke tempat keramat dan lain-lain yang sifatnya mistis dan tidak didapat dari interaksi sosial sebagaimana kekuasaan di dunia barat.

Pada saat presiden Soeharto jatuh dari kekuasaannya, banyak kalangan orang Jawa berpendapat bahwa kejatuhan presiden Soeharto disebabkan oleh hilangnya wahyu yang ada padanya setelah ibu Tien Soeharto meninggal dunia.  Menurut kepercayaan orang Jawa, wahyu tersebut tidak melekat pada Soeharto tapi ke Ibu Tien Soeharto. Ketika Ibu Tien meninggal dunia, Soeharto tidak akan bisa mempertahankan kekuasaannya. (Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President, An Authorised Biography, Retnowati Abdulgani-KNAPP, Marshall Cavendish International (Asia) Pty Ltd, 2007, hal.31)

Presiden Soeharto menjalankan pemerintahannya dengan ketat lewat kontrol media, sosial, politik dan birokrasi.  Pemerintahan dalam era Soeharto bisa diasosiasikan sebagai pemerintahan diktator militer. Hubungan antara pemerintah dan ABRI sangat dekat sehingga muncul doktrin Dwi Fungsi ABRI, di mana ABRI dikaryakan dan difungsikan dalam hal-hal non militer.

Birokrasi pemerintah dari Gubernur hingga RT di seluruh Indonesia diduduki oleh militer atau purnawirawan militer.  Sistem birokrasi ala militer tersebut diakui atau tidak ternyata berlangsung amat efektif.  Sebab hanya organisasi dengan disiplin militer bisa berjalan dengan baik. Militer juga punya orientasi ke dunia internasional lebih baik daripada birokrasi oleh kaum sipil.  Orientasi ke dunia internasional lebih menyediakan ruang untuk penyesuaian perkembangan di luar negeri.

Pada pemerintahan Soeharto, kerjasama birokrasi antar pemerintah bisa berjalan relatif lebih baik karena penggunaan disiplin ala militer ini.  Dan Jenderal Soeharto adalah pemegang tunggal tongkat komando pemerintahan selama 34 tahun.

Kaum Sipil Tidak Bisa Dipercaya

Pada era reformasi, peranan militer telah dicoba untuk dikurangi. Beberapa presiden dipilih dari kaum sipil.  Presiden SBY meski dari militer, namun para pemegang birokrasi banyak dari kaum sipil.  Birokrasi pemerintahan kaum sipil tersebut hingga kini kita rasakan perbedaannya dibanding dengan birokrasi “militer” di bawah presiden Soeharto.

Komunikasi birokrasi kini sering macet, korupsi di dalam birokrasi meraja rela bahkan berlangsung secara sistematis, birokrasi telah mengasingkan dirinya sendiri dari rakyat. Birokrasi telah kehilangan peran utamanya sebagai pelayan masyarakat. Birokrasi seolah berjalan tanpa koordinasi.  Kontrol terhadap birokrasi tidak terpadu sehingga memudahkan penyelewengan kekuasaan.  Ditambah lagi dengan adanya sistem otonomi daerah, maka makin sewrawutlah kontrol birokrasi di Indonesia.

Kerjasama antar birokrasi tidak lagi terjadi sebagaimana dulu yang patuh pada satu perintah komando di bawah presiden Soeharto.  Hubungan antar birokrasi kini berjalan seenaknya sendiri.  Tanpa ada figur komando yang punya wibawa dan ketegasan, maka birokrasi seperti berjalan tanpa arah tujuan jelas.  Kaum sipil ternyata belum bisa diberi tanggung-jawab untuk memegang sebuah kekuasaan. Kaum sipil jadi salah tingkah. Kekuasaan sering diselewengkan.  Birokrasi menjadi alat untuk mencari kesenangan. Birokrasi untuk memenuhi hedonisme.

Kewenangan kini tergantung selera pemimpinnya atau kedekatan dengan orang-orang atau pemimpin partai di atasnya tidak pada pemegang komando tertinggi. Pemegang komando tertinggi pun sepertinya tidak menjalankan fungsi kontrol dan fungsi komando.  Pemegang komando lebih sibuk dengan partainya. Terjadi kerancuan peranan sehingga peran komando tenggelam.  Kehidupan kepartaian pun teranomali dan tidak ada kerjasama nyata. Yang ada cuma perjuangan kekuasaan dan kepentingan politik masing-masing partai.

Hubungan birokrasi tanpa komando itu mengakibatkan keregangan antar birokrasi.  Kerjasama birokrasi yang dulu taat pada satu komando, kini telah digantikan oleh komando dalam bentuk lain, yakni adanya uang. Wani piro?  Makin meregangnya ikatan sosial, pelumas hubungan komunikasi diganti dengan uang.  Sudah tidak banyak lagi kaum birokrat dan masyarakat umum percaya bahwa kentalnya hubungan sosial bisa membantu mereka dalam menghadapi masalah keseharian. Masing-masing sudah tidak lagi percaya bahwa hubungan sosial menjadi tanggungan kerjasama. Kepercayaan diukur dan berdasar pada ketersediaan uang dan keperluan sesaat yang mudah dicairkan. Tidak ada lagi hubungan yang melulu berdasar pada kepercayaan atau demi kepentingan dan kebaikan bersama.

Ikatan Primordial

Menghadapi kehidupan birokrasi pemerintah yang sibuk dengan dirinya sendiri, rakyat kini sering lari ke alam kehidupan metafisik.  Moralitas jadi sarapan tiap hari agar gejolak sosial bisa diredam. Kohesi sosial makin mencair. Sementara panutan rohani dan pemimpin yang bisa dijadikan panutan hampir tidak ada. Maka moralitaslah satu-satunya yang bisa menjadi perekat sosial.

Sifat moralitas yang subyektif, multi-dimensi dan multi-interpretasi memungkinkan untuk menjadi sebuah instrumen yang bisa mengontrol diri sendiri.  Pemerintah tidak perlu sibuk-sibuk membenahi birokrasi, ekonomi atau silang sengkarutnya masalah sosial karena adanya instrumen yang berjalan dan bekerja secara otomatis mengontrol diri sendiri itu.

Namun kini instrumen moralitas itu sudah di titik kejenuhan.  Moralitas tidak mempan pada golongan yang berada di lingkaran kekuasaan. Diskusi moralitas sudah sampai titik nadir dan membosankan. Silang sengkarutnya diskusi moralitas ternyata tidak membawa perbaikan.  Partai-partai politik yang diharapkan membawa angin segar nilai moralitas ternyata pada akhirnya lebih mementingkan uang daripada kesejahteraan rakyat banyak. Rakyat makin terpuruk secara pelan-pelan. Karena masalah-masalah sosial tidak terbenahi dengan baik.  Pemerintah telah lengah karena keenakan dengan hedonisme.

Instrumen moralitas yang mereka sodorkan kini mulai ditolak oleh masyarakat.  Masalah sosial, ekonomi, politik, pendidikan, budaya tidak selamanya bisa diredam dan diselesaikan dengan isu-isu moralitas. Masyarakat telah bosan dan kehidupan nyata dengan berbagai masalah yang mulai menghimpit menyadarkan akal sehat mereka.

Sedikit banyak Jokowi – Ahok ikut berperanan menyadarkan masyarakat tentang isu-isu moralitas yang tidak jalan tersebut. Yakni lewat kerja keras, diskusi logis dan birokrasi yang transparan, lugas dan terukur.  Gaya kepemimpinan Jokowi – Ahok menjadi alternatif menggebrak kemacetan-kemacetan. Jokowi – Ahok secara pelan-pelan pegang tongkat komando pemerintahan sebagaimana diharapkan oleh masyarakat yang selama ini sibuk dengan isu-isu moralitas dan tertidur karena ketidak-pedulian.

Bagaimana Jokowi yang punya elektabilitas tinggi sebagai presiden bisa mengontrol masyarakat tanpa instrumen moralitas? Ini pertanyaan menarik. Jika Soeharto lewat jalur kemiliteran, maka Jokowi harus mencari jalan alternatif.  Karena kontrol sosial lewat gaya militer tidak akan efektif dan tidak populer lagi di lapisan masyarakat yang baru saja berangkat dari sistem militer dan sudah mengenyam alam reformasi.

Jalan alternatif tersebut adalah lewat ikatan primordial yang selama ini terbengkalai. Bahkan pada jaman pemerintah militer Soeharto ikatan primordial tersebut berusaha disumbat pengaruhnya.  Demikian juga pada masa reformasi peranan ikatan primordial tersebut berusaha ditekan dengan menyoalkan status pemerintahan DI Yogyakarta.

Penggalangan kekuatan lewat ikatan primordial tersebut mungkin hanya sebagai wacana alternatif.  Namun tidak bisa dipungkiri bahwa wacana tersebut punya kekuatan yang layak diperhitungkan.  Mengingat saat ini Indonesia punya puluhan pemegang kekuasaan berdasar ikatan primordial ini. Kekuasaan berdasar wahyu masih dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.  Fakta ini tentunya tidak bisa dihiraukan begitu saja kekuatannya.

Menurut praktisi hukum Suhardi menyatakan, di balik pemerintahan demokrasi Indonesia saat ini ternyata masih ada 186 kerajaan yang masih eksis di tanah air (Sindonews.com, 26 Desember 2012).

Menurut penelitian yang dilakukan Suhardi dan bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), meski negara kita bersifat demokratis namun roh kerajaan masih lekat di kalangan masyarakat.

“Negara kita ada yang salah, karena ruh kerajaan masih ada di Indonesia. Dari hasil penelitian dengan Kemendagri ada 186 kerajaan masih eksis di Indonesia,” jelas Suhardi dalam Seminar Nasional bertema Merajut Peradaban Melayu Masa Depan dan Perspektif Baru di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat (Sindonews.com, 26/12/2012).

Benarkah Jokowi berusaha menggalang kekuatan para sultan, raja, pemimpin adat yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut untuk mengatasi kemacetan sistem pemerintahan kita selama ini?  Sistem pemerintahan yang dekat dengan rakyat memang diperlukan pada saat arah reformasi seolah berjalan di tempat dan porak-poranda saat ini.

Dan tidak berlebihan jika sistem pemerintahan dekat dengan rakyat tersebut bisa diperoleh lewat peranan sultan, raja atau pemimpin-pemimpin adat yang oleh masyarakat sekitarnya masih dipandang punya wibawa dan pengaruh. Tinggal Jokowi memberi mereka peranan non formal sebagaimana di negara-negara yang bersifat federal yang masih menempatkan seorang raja atau ratu sebagai kekuatan non formal yang bisa efektif saat berfungsi sebagai perekat sosial.

Barangkali tujuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang akan menyelenggarakan Pagelaran Agung Keraton Sedunia pada 5-8 Desember mendatang di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta (Republika.co.id, 12 Juni 2013) adalah salah satu usaha untuk menjajaki kemungkin tersebut . Acara yang akan dihadiri oleh raja-raja seluruh nusantara dan dunia selain berfungsi sebagai unjuk budaya Indonesia secara internasional namun juga amat potensial untuk menggalang kesepakatan bersama.

Menurut Jokowi sendiri, selain sebagai ajang pertemuan para raja-raja nusantara dan dunia itu, kegiatan ini juga merupakan kesempatan untuk memperkenalkan Jakarta ke dunia internasional. Dan ini bisa dijadikan sebagai ajang dalam rangka membangun brand Jakarta sebagai pusat Meeting Incentive, Convention, Exhibition (MICE), demikian ditulis dalam Republika, 12 Juni 2013.

Terlepas dari apapun tujuannya, Pagelaran Agung Keraton Sedunia memang pantas untuk disambut dengan baik. Indonesia termasuk negara yang paling kaya di dunia dalam hal kebhinekaan adat dan budaya. Namun sayangnya selama ini masih terbengkalai peranan dan potensinya.  Pagelaran tersebut tidak saja bisa membangun brand Jakarta tapi juga brand Indonesia sebagai negara tujuan wisata, seni dan kebudayaan.  Asal saja tidak terjebak pada primordialisme atau etnocentrisme yang sempit.*** (HBS)


Leave a comment

Sumbangan Dedikasi Alumni Buat SMA-nya

13714367621569435705

Sarasehan pendidikan dengan mengundang para alumnus SMA dan dihadiri oleh pelajar SMA. Sarasehan memberi masukan bidang pendidikan baik di universitas dalam negeri maupun luar negeri. Foto: Dokumentasi pribadi.

Tidak semua pelajar SMA yang masuk perguruan tinggi terinformasi dengan baik atas pilihan bidang akademis yang akan ditempuhnya. Kadang pemilihan bidang akademis hanya berdasar informasi sepotong atau informasi-informasi yang bersifat umum, tidak lengkap dan tidak spesifik. Informasi bidang akademik pilihan sebenarnya amat penting dalam menentukan kesuksesan akademik seseorang.  Pilihan akademis tanpa kelengkapan informasi bisa berakhir dengan kekecewaan dan selanjutnya mempengaruhi prestasi akademiknya.

Kadang pilihan bidang akademik menempati urutan kedua setelah faktor-faktor pertimbangan lain yang lebih mendesak.  Misalnya menyangkut masalah ekonomi dan dukungan beaya pendidikan, lokasi perguruan tinggi, idealisme dan harapan masa depan, desakan keluarga atau teman dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit yang mendasarkan pilihan bidang akademik karena ragu dengan kemampuan diri sehingga memilih jurusan atau bidang akademik yang punya ranking syarat masuk lebih rendah. Pokoknya bisa masuk ke perguruan tinggi idaman.  Ketatnya persaingan untuk menikmati bangku perguruan tinggi bisa membuat seorang pelajar membuat keputusan tanpa pertimbangan macam-macam.

Sebenarnya tidaklah berlebihan jika pilihan-pilihan akademik yang dilakukan oleh seorang pelajar setelah lulus SMA adalah pilihan terpenting untuk menapaki masa depannya. Mengingat masa depan banyak ditentukan pada masa kritis ini maka ketersediaan informasi tentang langkah-langkah yang akan diambil amat penting dan punya peranan amat signifikan.

Pilihan masa depan tersebut tidak hanya terbatas pada mereka yang meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun juga bagi mereka yang menempuh jalur lain.  Misalnya belajar ketrampilan praktis atau membuka bidang usaha sendiri atau mendaftar pada instansi dengan ikatan dinas. Apapun keputusan para remaja lulusan SMA tersebut, mereka memerlukan ketersediaan informasi sebanyak mungkin. Di sinilah peranan para guru, alumni, role model, tenaga konseling, orang tua dan pihak-pihak lainnya yang punya kompetensi dan kepedulian amat diperlukan untuk memberi mereka bekal informasi yang diperlukan.

13714369851532013245
Sarasehan pendidikan juga dihadiri oleh para alumni SMA dari berbagai angkatan untuk membicarakan dan menampung usulan tentang peningkatan mutu pendidikan serta dukungan moral pada pelajar SMA. Foto: Dokumentasi pribadi.

Sukses Akademik

Sukses secara akademik ditentukan oleh banyak faktor. Selain perlu adanya motivasi dan informasi yang dibutuhkan juga masalah-masalah lain yang secara khusus mempengaruhi stamina belajar para pelajar SMA yang duduk di perguruan tinggi.  Misalnya masalah beaya pendidikan, pengaturan waktu untuk belajar dan bersosial, disiplin, tanggung-jawab terhadap keluarga, metode belajar dan lain-lainnya.

Namun faktor terpenting dan mendapat urutan pertama yang menjadi halangan utama seorang mahasiswa untuk sukses adalah keterbatasan informasi untuk memperolah nasehat (advising) dan petunjuk (guidance) yang diperlukan.  Demikian menurut penelitian di Amerika yang dilakukan oleh American Federation of Teachers: Higher Education;  Exploring Student Attitudes, Aspirations & Barriers to Success; Six focus groups among higher-risk first-and second-year community college and technical college students, and four-year university students; Lake Research Partners, 2011.

Hasil penelitian tersebut sempat mengejutkan beberapa kalangan. Banyak kalangan mengira bahwa halangan para mahasiswa untuk meraih sukses akademis tergantung dari sikap para mahasiswa itu sendiri dalam mensiasati kehidupan perguruan tinggi. Mahasiswa dianggap sebagai individu yang telah matang dan bisa membuat keputusan sendiri. Kehidupan di perguruan tinggi amat beda dengan di SMA. Orang berharap bahwa mentalitas pelajar harus segera dirubah untuk menyesuaikan kehidupan di perguruan tinggi.  Mereka membiarkan para mahasiswa baru tersebut berkutat dengan masalahnya sendiri. Nasehat dan petunjuk harus dicari sendiri.

Para mahasiswa baru tersebut dalam mencari informasi mengandalkan pada handbook perguruan tinggi, websites, atau informasi dari teman-teman mereka yang kadang tidak spesifik bahkan tidak up to date lagi. Sementara tenaga konseling di perguruan tinggi terbatas tenaga dan waktunya sehingga untuk menemui mereka pun tidak gampang. Keluhan keterbatasan informasi untuk memperoleh advising dan guidance ini dialami oleh seluruh mahasiswa yang menjadi responden penelitian.

1371437182781873156
Para alumni lintas angkatan, lintas profesi, lintas pengalaman hidup saat berfoto bersama di depan sekolah SMA kebanggaan mereka. Peranan mereka sebagai sosok role model amat diperlukan oleh pelajar SMA yang masih berusia belia. Foto: Dokumentasi pribadi.

Peranan Alumni SMA

Peranan para alumni SMA bersangkutan tidak bisa dianggap remeh dalam membantu para pelajar yang baru lulus dari SMA tersebut untuk menapaki masa depannya. Potensi para alumni dalam memberikan gambaran kehidupan perguruan tinggi amat besar mengingat adanya hubungan khusus yang bersifat emosionil.  Adanya kedekatan personal dan sosial dari para alumni membuat para pelajar tersebut merasa leluasa untuk bertanya dan bisa menerima informasi yang diperlukan dengan baik.  Reliabilitas dan kredibilitas informasi dari para alumni sangat tinggi di hadapan para pelajar SMA tersebut.

Para alumni tidak saja memberi bimbingan dan menyediakan informasi secara akademis tapi juga memberi pandangan tentang kesuksesan hidup lebih luas. Mengingat para alumni tidak semuanya menempuh pendidikan di perguruan tinggi.  Banyak juga para alumni yang langsung menekuni bidang usaha mandiri dan sukses secara finansial.  Kesuksesan tidak hanya datang dari perguruan tinggi tapi bisa diperoleh dari segala bidang kehidupan.

Apa yang diperlukan oleh pelajar SMA yang baru lulus tersebut adalah adanya seorang role model dari kakak-kakak senior yang telah lulus dari SMA-nya. Banyak kalangan kurang menyadari betapa pentingnya peranan role model bagi para pelajar tersebut dalam persiapan menempuh kehidupan masa depannya. Dengan adanya role model, para pelajar yang masih berusia muda tersebut bisa mendapat bantuan dalam melakukan pilihan-pilihan hidup yang lebih berimbang, sehingga memberinya kesempatan lebih besar untuk sukses dalam hidup.

Selain berfungsi sebagai tenaga advising dan guidance serta role model, para alumni SMA yang bersangkutan juga berperanan dalam memberi informasi penting lain yang amat  dibutuhkan oleh para pelajar.  Para alumni bisa memberi dorongan, motivasi, mendengarkan pendapat pelajar, memberi jawab atas pertanyaan yang dibutuhkan, memberi informasi tentang kehidupan kampus, pilihan-pilihan karier setelah lulus dari SMA, teknik dan ketrampilan sosial dan lain-lain. Dan yang paling utama adalah memberi ketegasan pada para pelajar tersebut bahwa mereka tidak sendirian dalam mengarungi hidup dan merintis masa depannya. Para pelajar tersebut memerlukan orang-orang yang punya perhatian dan peduli dengan masa depan mereka.  Dan hal ini salah satunya bisa diperoleh dari para alumni SMA yang bersangkutan.

Para alumni SMA dari berbagai sisi kehidupan bisa berperanan besar bagi para pelajar yang masih berusia amat belia tersebut. Para alumni telah menempuh berbagai liku perjalanan hidup dan punya pengalaman hidup sebagai manusia dewasa.  Pengalaman hidup dari manapun datangnya amat membantu para generasi muda tersebut untuk dipakai sebagai sumber inspirasi dalam melangkah menyongsong masa depannya. Mungkin saja para alumni tersebut merasa tidak bisa memberi banyak buat generasi muda, tapi meskipun sedikit bukan berarti tidak berarti. Sedikit bagi para alumni mungkin bagi para pelajar adalah seluruh dunianya.*** (HBS)

1371437465672925990
Gedung SMA dimana penulis menuntut ilmu adalah termasuk gedung bangunan tua yang dilindungi oleh Dinas Kebudayaan. Foto: Koleksi pribadi.


2 Comments

Masa SMA Paling Mengesankan

1371249991980265193
Seorang alumnus SMA di Canberra, Terry Snow menyumbangkan dana sebesar AUD$8 juta untuk sekolah SMA-nya, Canberra Grammar School untuk membangun gedung pusat study Asia (Asian Century Centre). Terry dan saudaranya, anaknya dan kini cucu-cucunya sekolah di SMA tersebut. SMA memang paling mengesankan. Sumber foto: The Sydney Morning Herald, 30 Mei 2013

Tidaklah mengejutkan bila banyak orang mengatakan bahwa masa yang paling mengesankan saat menjalani pendidikan adalah pada masa SMA. Kenangan masa SMA memang susah dilupakan karena pada masa itulah kejiwaan seseorang dalam perkembangan menuju kedewasaan.

Masa remaja yang masih demikian polos dan mungkin pertama kali mengalami jatuh cinta. Masa pencarian jati diri.  Masa SMA adalah masa paling penting dalam hal penentuan masa depan. Pilihan-pilihan hidup di masa depan sadar atau tidak sadar banyak diputuskan pada masa-masa kritis ini. Maka tidak berlebihan bila masa SMA adalah masa paling mengesankan dalam perjalanan hidup seseorang.

Pada era tahun 80an banyak film-film berthemakan remaja laris. Puspa Indah Taman Hati, Galih dan Ratna, Gita Cinta dari SMA dan lain-lainnya untuk menyebut sebagian saja. Juga lagu-lagu Chrisye yang sentimentil, tarian populer arahan Guruh Soekarno Putra amat terkenal di kalangan pelajar SMA waktu itu.

Kenangan pada SMA mungkin paling sulit dilupakan. Persahabatan pada masa SMA bisa berlangsung hingga tua. Bahkan tidak sedikit pula yang menikah dengan high school sweet heart atau teman satu SMA. Sisi romantisme di masa SMA bisa jauh tertanam dalam hati.

Penulis sendiri sudah puluhan lalu lulus SMA dan hingga kini masih menjalin silaturahmi dengan teman-teman se SMA lewat Facebook. Kami punya group khusus untuk alumni seangkatan di SMA.

Setelah lulus SMA, komunikasi antar teman SMA tetap terbina lewat undangan reuni bersama secara getok tular atau informasi dari mulut ke mulut atau lewat land line atau jaringan kawat telpon. Sebelum ada Facebook, banyak teman SMA melakukan kontak hubungan melalui group mailing list.  Pada waktu itu, internet masih dengan kecepatan 64kbs. Tapi sudah merupakan sebuah kemewahan bisa terkonek ke Internet. Tidak semua orang bisa terkoneksi dengan Internet. Komputer saja masih langka.

Kini dengan adanya media sosial Facebook usaha untuk membina silaturahmi makin gampang, nyaman dan up to date.  Entah bagaimana pada waktu itu dengan keadaan teknologi belum maju seperti sekarang, teman-teman SMA tetap bisa menjalin hubungan silaturahmi. Jangankan komputer, telpon saja tidak semua orang punya salurannya. Sekarang hampir setiap orang punya hp dan terkoneksi dengan internet. Komunikasi bisa dilangsungkan begitu instant.

Para alumni SMA masing-masing punya group mailing list berdasar angkatan kelulusannya. Demikian juga di group-group alumni yang ada di Facebook. Satu angkatan alumni bisa bercengkrama dengan akrabnya di group masing-masing. Hingga setelah puluhan tahun lulus dari SMA, guyonan mereka masih saja sekitar kenangan saat SMA.  Setiap anggota baru kadang tidak dikenal, karena memang mustahil bisa kenal dengan semua teman se SMA yang jumlahnya bisa ratusan per angkatan.

Dengan tujuan lebih mengakrabkan silaturahmi se alumni, banyak kegiatan diadakan secara rutin.  Misalnya arisan tiap bulan atau reuni tiap tahun.  Kadang dengan jadwal yang disetujui bersama beberapa teman seangkatan piknik bareng-bareng ke tempat wisata.  Suasananya memang amat akrab dan menggembirakan.

Kegiatan arisan kadang diselipi dengan rapat-rapat rencana kegiatan atau berita-berita yang menyangkut teman seangkatan.  Jika ada yang sakit, bisa sama-sama mengatur waktu untuk menjenguk bersama. Atau ada guru yang sakit, sama-sama menjenguk dan membantu secara finansial dengan urunan bersama. Kadang ada teman satu angkatan yang kurang beruntung secara finansial, secara bersama-sama menyumbang dan membantu teman tersebut. Kadang para alumni juga memberi santunan atau beasiswa bagi pelajar se SMA yang berprestasi. Dan banyak kegiatan positif lain yang bermanfaat berkat adanya forum silaturahmi yang terbina dengan baik.

Selain cerita-cerita yang positif dan menyenangkan, ada juga terbersit cerita-cerita negatif. Kumpul-kumpul teman SMA membuka peluang untuk selingkuh. CLBK atau singkatan populer di kota kami – Cerita Lama Berlanjut Kembali. Artinya pada masa SMA mereka hanya saling tertarik, maka pada saat sudah lulus, kuliah, bekerja dan berkeluarga, cinta masa SMA dilanjutkan kembali.

Cerita miring itu memang wajar bisa terjadi karena seringnya ketemu dan terlanjur akrab. Sebenarnya masalah selingkuh adalah masalah pribadi masing-masing. Ketika seorang sudah saling dewasa, kehidupan pribadi mereka seharusnya kita serahkan pada masing-masing individu.  Mereka sudah tahu batas-batasnya. Media selingkuh tidak terbatas pada kumpul alumni. Orang selingkuh bisa melalui media apa saja.  Bila memang berkeinginan selingkuh, tidak ada yang bisa menghalangi kemauan itu. Apalagi masing-masing sudah punya penghasilan dan mandiri. Forum silaturahmi tetap lebih memberi kebaikan daripada kejelekannya.

Sikap Mental

Beberapa alumni seangkatan di SMA itu ada yang membentuk organisasi seangkatan sebagai organisasi yang tercatat secara resmi berbadan hukum. Organisasi mereka ada AD/ART yang mengatur sepak terjang keorganisasiannya. Mereka berharap dengan berbentuk badan resmi, masalah keuangan, administrasi, program kegiatan dan sebagainya bisa lebih jelas dan terarah.  Terutama masalah keuangan yang didapat dari hasil sumbangan-sumbangan pribadi para alumnus bisa diaudit lebih baik dan dilaporkan secara terbuka dan transparan.  Pentingnya transparansi ini perlu disadari agar para penyumbang dana tidak berpikiran negatif dalam hal penggunaan dana. Transparansi menciptakan iklim kondusif untuk lebih besar bisa menarik sumbangan dana tidak saja dari para alumnus tapi juga dari pihak-pihak lain yang berminat.

Setelah puluhan tahun lulus SMA, banyak para alumni yang sukses secara finansial. Sumbangan para alumnus yang sukses secara finansial tersebut kadang bisa demikian besar jumlahnya sehingga pelaporan keuangan secara resmi amat diperlukan. Beberapa alumni satu angkatan bahkan punya kantor resmi lengkap dengan papan namanya di pinggir jalan sehingga para alumni bisa dengan gampang menemukannya.  Kantor tersebut dipergunakan untuk rapat pertemuan atau mencarin informasi yang berurusan kealumnian mereka. Dinding kantor tersebut terpampang berbagai foto kegiatan para alumni angkatan mereka.  Sebuah kantor dengan suasana penuh keakraban.

Namun perlu disadari juga bahwa, tidak semua teman se SMA punya nasib baik. Kesuksesan finansial tidak terjadi pada setiap orang. Beberapa teman se SMA hidup secara bersahaja. Mereka tidak punya koneksi dengan internet atau hp. Teman-teman yang kurang berhasil secara finansial tersebut hanya mungkin dikontak dengan bertandang ke rumahnya lewat temu muka.  Teman-teman yang kurang beruntung inilah yang kadang secara tidak perlu merasa malu untuk kumpul dengan teman se alumni SMA. Kunjungan teman se SMA ke rumah mereka adalah salah satu jalan untuk melenyapkan gap dan rasa malu yang tidak perlu itu.

Memang seharusnya perlu dibedakan antara persahabatan dan kealumnian. Dibentuknya organisasi kealumnian tujuan utamanya adalah membina silaturahmi dan persahabatan. Sebuah persahabatan seharusnya memang tidak pandang status ekonomi dan sosialnya. Persahabatan tersebut adalah persahatan pada masa SMA.  Pada masa saat semuanya belum punya kedudukan atau status sosial ekonomi. Acara-acara kumpul alumni adalah mengenang masa-masa dimana semua orang masih berstatus pelajar.

Maka sepantasnya setiap orang dituntut kerelaannya untuk melepas segala status atau atribut sosial ekonominya saat kumpul dalam acara kealumnian se SMA. Meskipun seseorang telah punya jabatan tinggi atau presiden sekalipun, pada saat menghadiri acara kealumnian se SMA harus bersedia untuk menanggalkan status dan atributnya.

Bukan berarti lalu teman-teman se SMA-nya bisa berbuat seenaknya. Sikap tenggang rasa, tahu diri dan saling hormat adalah inti sukses pertemuan atau organisasi kealumnian.  Keakraban semasa SMA adalah berbeda dengan keakraban pada saat masing-masing telah menjadi tua. Keakraban yang telah berkembang ke arah ke kedewasaan. Keakraban yang lebih punya batas-batas sesuai dengan perkembangan kepribadian dan kesadaran masing-masing individu yang telah berkembang.  Keakraban yang berorientasi ke depan.

Masalah keakraban inilah yang sering salah disikapi dan disalah-pahami oleh para alumnus se SMA. Tidak semua orang bisa kembali ke masa keakraban saat SMA pada saat mereka masih muda dan belum tahu banyak dan masih belajar tentang hidup.  Keakraban yang masih polos.

Namun ada juga yang bersikap sebaliknya yakni dengan mengembalikan dan memperlakukan semuanya seperti saat di SMA tanpa menyesuaikan dengan perkembangan.  Ketika SMA menjadi Ketua OSIS atau Ketua Kelas, pada saat reuni mereka bersikap sama sebagai Ketua OSIS atau Ketua Kelas pada teman-teman lain.  Melepaskan attribut atau status sosial ekonomi saat sekarang dan kembali sebagai sesama pelajar bukan berarti lalu memakai attribut Ketua OSIS atau Ketua Kelas atau attribut lainnya yang membuat mereka terkenal pada saat SMA. Keakraban antar teman dekat atau satu genk semasa SMA tidak bisa diterapkan pada semua orang seluruh alumni meski satu angkatan. Pecundang di masa SMA bukan berarti tetap sebagai pecundang di masa tua.

Ukuran kesuksesan bersifat multidimensi. Setiap orang mendefinisikan beda-beda arti sebuah kesuksesan. Tidak ada ukuran berlaku umum dan pasti dalam memandang sebuah kesuksesan. Kesuksesan materi, status, karier, pendidikan bukan satu-satunya tolok ukur. Karena tidak adanya ukuran baku untuk mengukur kesuksesan seseorang, maka sebaiknya saling menghargai bagaimana pun keadaan orang lain. Rasa hormat tidak bisa didapat dari atribut-atribut yang melekat pada individu. Rasa hormat bisa diperoleh jika kita juga menghormati orang lain.

Hari raya lebaran tahun 2013 tinggal beberapa bulan lagi. Hari yang baik dipergunakan untuk melaksanakan kumpul alumni dalam acara reuni karena bisa dipastikan banyak teman SMA pulang kampung di tempat mereka sekolah SMA dulu untuk merayakan lebaran bersama keluarga mereka. Pulang kampung sudah menjadi tradisi bagi kita semua pada saat lebaran. Menjalin silaturahmi adalah makna terpenting dari lebaran. Selamat bereuni dan semoga sukses bagi yang kini sedang mempersiapkan acara reuni SMA-nya.*** (HBS)