herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Benarkah Indonesia Terlalu Obsessive dengan Stabilitas?

1374805639237852654
Ilustrasi/Admin (Shuttertock)

INDONESIA dianggap sebagai negara ancaman dari utara.  Itulah pendapat masyarakat Australia terhadap Indonesia hingga saat ini.  Indonesia dengan penduduk sekitar 243 juta jiwa dibanding dengan Australia cuma sebesar 22,3 juta jiwa, maka tidak berlebihan jika Indonesia dianggap ancaman.

Dalam kasus Timor Timur, Australia dan Amerika pernah kuatir jika masalah Timtim tidak segera diselesaikan akan mengganggu stabilitas Asia. Timtim bagai Cuba di mata Amerika.

Masalah kapal imigran yang hangat dibicarakan dalam debat politik Australia, Partai Liberal mengusulkan agar para imigran gelap yang masuk ke perairan Australia dengan kapal tersebut sebaiknya dikembalikan lagi ke perairan Indonesia.  Ada beberapa pembaca surat kabar yang menuliskan pendapatnya bahwa, mengembalikan kapal itu wilayah Indonesia dikuatirkan akan membuat marah Indonesia.  Kemarahan dari Indonesia seolah menakutkan bagi penulis itu.

Dalam sejarahnya, kita bisa bertanya, “Pernahkah Indonesia benar-benar marah pada negara tetangga?”.  Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik untuk diteliti.  Kalau tidak salah, Indonesia pernah marah pada Malaysia jamannya Soekarno dengan teriakan heroiknya, “Ganyang Malaysia”.  Mungkin Indonesia juga marah pada Australia dalam kasus Timor-timur, tapi tidak menyuarakan slogan “Ganyang Australia”.

Pada jaman revolusi, tentu saja Indonesia marah pada penjajah. Perang dengan Belanda, Inggris dan Jepang. Tapi pemberontakan terhadap penjajah itu tidak bersifat nasional. Indonesia tidak  mengirimkan tank, kapal selam, rudal, pembom ke negara penjajah.

Kemarahan Indonesia berikutnya adalah pemberontakan PKI yang menelan ratusan jiwa.  Inipun bukan termasuk marah pada negara lain.  Tapi bersifat domesik, politik dalam negeri.

Bila bisa disimpulkan, secara garis besar Indonesia tidak pernah menyerang negara lain dalam sejarahnya.  Apalagi sampai mengorbankan ratusan jiwa. Indonesia pernah dikirim ke medan perang di Kongo lewat PBB.  Itu mungkin pengalaman Indonesia perang dengan negara lain.

Indonesia bukan termasuk negara imperialis.  Indonesia tidak kekurangan apapun sehingga perlu melakukan imperialisme terhadap negara lain.

Gejolak-gejolak tersebut di atas mungkin bisa dikategorikan mengganggu kestabilan nasional Indonesia. Tapi bisa disangsikan punya dampak menuju perpecahan Indonesia.  Gejolak-gejolak tersebut lebih banyak berkisar pada masalah politik dalam negeri yang dilakukan oleh penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Mereka menempuh berbagai cara demi kelanggengan kekuasaannya.  Indonesia seolah diciptakan nampak terpecah demi menciptakan legitimasi alasan politik kekuasaannya dengan menekankan pentingnya stabilitas nasional.

Warisan Belanda

Pada jaman Belanda, kestabilan Indonesia berhasil dipertahankan selama kurang lebih 350 tahun.  Belanda yang jumlahnya cuma ratusan ribu jiwa di Indonesia bagaimana bisa menguasai seluruh Indonesia dengan penduduk ratusan juta jiwa?

Itulah pandainya Belanda dalam menciptakan kestabilan dalam negeri sehingga ia bisa menjajah tanpa gangguan berarti hingga selama itu.  Jika ada pemberotakan sifatnya adalah kedaerahan karena sengketa yang berkaitan dengan kedudukan raja.

Metode yang mereka pakai adalah divide et impera, pecah-pecah dan kuasai.   Belanda memecah-mecah kerajaan dan memberi keterbatasan hak-hak ekonomi dan politiknya.  Dengan memecah-mecah kekuasaan kerajaan, Belanda dengan mudah menguasai dan mengadu domba sehingga tidak pernah terjadi persekutuan antar kerajaan di Indonesia yang amat potensial bisa melawan Belanda.

Masyarakat keturunan etnis Cina yang bergelut dalam perdagangan diberi label sebagai kelas khusus sebagai pedagang.  Ekonomi dan jalur perdagangan lebih banyak dilakukan dan dikuasi oleh etnis Cina. Untuk mengontrol kekuatan ekonomi etnis Cina mereka dibatasi gerak politiknya. Etnis Cina pada hakekatnya hanya boleh berdagang, tidak berpolitik. Sementara para raja-raja punya kekuasaan politik memerintah di daerah kuasanya, dibatasi kegiatan ekonomi dan perdagangannya.  Politik tanpa dukungan ekonomi tidak bisa bergerak banyak.  Demikian juga kekuatan ekonomi tanpa didukung kekuatan politik hanya menjadi sebatas pedagang.Pada jaman pemerintahan Orde Baru, teknik Belanda tersebut diteruskan. Etnis Cina dibatasi kegiatan politiknya.  Salah satunya adalah terbatasnya tempat untuk sekolah di sekolah milik pemerintah dan tidak boleh menjadi pegawai negeri.  Etnis Cina hanya boleh sekolah di swasta dan jadi pedagang.

Jika terjadi ketidak-stabilan ekonomi, maka etnis Cina bisa dijadikan kambing hitam.  Kerusuhan-kerusuhan sosial lebih banyak selalu merugikan kaum etnis Cina. Karena meruncingnya perang dingin antara kapitalis dan komunis, pada tahun sekitar 1967an, banyak etnis Cina merasa diusir dari Indonesia ketika disuruh memilih warga negara RRT yang komunis atau Indonesia.

Kestabilan kehidupan politik dan sosial dalam masa Orde Baru mengalami titik puncaknya.  Kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan sepenuhnya dikontrol oleh pemerintah. Karena kestabilan itulah Indonesia mendapat gelar “Macan Asia” karena pertumbuhan ekonominya yang luar biasa pesat.

Masa Reformasi

Nampaknya masalah stabilitas nasional di Indonesia masih menjadi tujuan utama pemerintah reformasi.  Meski jalan yang ditempuh berbeda.  Kestabilan nasional dijaga lewat pengerahan moral. Masyarakat dianjurkan untuk memahami moral-moral agamanya masing-masing.  Pada jaman Orde Baru orang yang berpakaian muslim jarang-jarang.  Hanya sekolah-sekolah agama yang memakai pakaian keagamaan. Masyarakat yang pergi haji bisa dihitung jari dalam satu desa.

Pada masa reformasi hampir setiap jengkal tanah yang dilewati hampir bisa dipastikan akan berpapasan dengan orang berbusana keagamaan.  Di daerah tertentu malah bisa ditangkap oleh hansip jika tidak berpakaian keagamaan.  Dihakimi moralnya. Ketakutan ditanamkan lewat moralitas.

Media massa banyak mengekspose pesan-pesan moral. Ada selebritis yang membawa simbol keagamaan. Pemimpin agama menjadi kaya.  Jika tidak lewat agama, masyarakat juga digiring untuk mendalami klenik.  Moralitas yang lebih didukung oleh moralitas tradisional tanpa kelembagaan. Diciptakan ormas penanding untuk mengantisipasi agama bergaris keras. Peredaran narkoba tiba-tiba ada dimana-mana.

Masalah ekonomi dan politik diselesaikan dengan keputusan yang menyangkut moralitas. Semua itu hanya punya satu tujuan sama yakni menjaga kestabilan nasional. Kestabilan nasional telah menjadi tujuan dan bukan alat untuk mencapai kemajuan Indonesia.  Oleh karena itulah kestabilan nasional lewat penekanan moralitas di Indonesia mendapat penghargaan internasional dan dianggap telah berhasil menjamin kerukunan umat beragama.

Stabilitas dalam banyak hal memang menjadi tujuan hampir semua negara di dunia. Karena dengan stabilitas bisa menjamin negara untuk berkembang secara ekonomi dan kehidupan masyarakat yang bebas cari gejolak sosial dan politik.  Stabilitas adalah tujuan utama dari pemegang kekuasaan agar dapat legitimasi dari rakyat dan pendukungnya.

Jika Indonesia demikian terobsesi dengan masalah kestabilan nasional, dalam jangka panjang perlu dipikirkan ongkos untuk itu dan kemajuan bangsa Indonesia secara umum.  Karena demi kestabilan pembodohan rakyat akan terus berlangsung. Kestabilan nasional hendaknya jangan sampai menghambat kreativitas masyarakat.  Perlindungan pada masyarakat untuk bergerak dan mengekspresikan dirinya secara rasionil, bernalar dan logis saat ini sepertinya mengalami penekanan karena tekanan-tekanan moralitas negara. Orientasi stabilitas nasional meski perlu dijaga, tapi aplikasinya dalam masyarakat seharusnya dicari cara-cara yang lebih fleksibel dan mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Jika kita lihat sejarah, Pancasila berhasil dirumuskan oleh Soekarno. Darimana Pancasila itu dirumuskan? Tentu saja dari budaya masyarakat Indonesia, dari dasar falsafah bangsa Indonesia yang memang sejak dulu sudah hidup rukun dan tidak pernah menjadi negara imperialis.  Soekarno hanya perumus. Tokoh intelektual, negarawan dan berkarisma yang berhasil menyarikan intisari falsafah bangsa Indonesia.

Bagaimana falsafah Indonesia tersebut bisa disarikan dalam Pancasila?  Peranan kerajaan Majapahit dalam memperkenalkan bahasa Melayu sebagai lingua franca ke seluruh wilayah kekuasaannya barangkali perlu diperdalam dan ditengok. Majapahitlah sebenarnya yang berhasil menyatukan rakyat Indonesia.  Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya. Jadi bangsa Indonesia sebenarnya sudah menjadi sebuah kebangsaan pada jaman sebelum Belanda datang. Karena kepentingan Belandalah Indonesia menjadi tercerai berai. Hal itu memang diciptakan Belanda untuk menguasai Indonesia hingga 350 tahun.

Masyarakat Indonesia secara turun temurun sudah menyadari kesatuan antar etnis.  Masyarakat Indonesia secara tradisi sudah terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai etnis.  Jika presiden Indonesia dijabat oleh orang Madura, Irian, Batak, Sunda, Jawa, Minang hampir bisa dipastikan tidak ada yang keberatan.

Jika saat ini Ahok sebagai pegawai negeri dan menjabat Wakil Gubernur dikaitkan dengan keturunan etnis Cinanya, hal itu hanya dilakukan oleh segelintir orang yang berdekatan dengan kekuasaan dan bukan oleh masyarakat Indonesia secara umum. Diskriminasi pada etnis Cina adalah bagian sejarah bangsa kita yang berhasil ditanamkan oleh Belanda dan dilanjutkan oleh Orde Baru demi tujuan praktis yakni kekuasaan politik. Anehlah jika pada saat negara kita sudah merdeka dan berkemauan untuk menuju reformasi masih memakai pendekatan Belanda dalam memperjuangkan kepentingan politik.

Sejarah Indonesia terpenting adalah perang pengaruh agama pada jaman kerajaan Hindu berjaya. Dari animisme, Hindu, Budha dan Islam. Meski menimbulkan konflik, namun sifatnya terisolasi dalam satu wilayah.  Tidak ke seluruh Indonesia.  Setelah kerajaan Hindu tersingkir, toh masyarakat kita masih merasakan kesatuan Indonesia. Naluri merasa dalam satu kesatuan bangsa itu sepertinya sudah tertanam dalam darah kita sejak jaman Majapahit. Bila tidak, maka dengan pecahnya kerajaan-kerajaan lokal, Indonesia tidak eksis lagi. Bahkan dengan penjajahan Belanda yang 350 tahun itu Indonesia masih bernafas dan survive.

Dalam sejarahnya, Indonesia sudah mengalami perubahan-perubahan mendasar. Indonesia telah menempuh perjalanan turun naik kebudayaan dan eksistensinya hingga kini.  Mulai perang antar kerajaan, perang pengaruh agama, penjajahan Belanda, perang revolusi dan hingga kini perang melawan budaya global.  Dan nyatanya Indonesia masih eksis hingga saat ini!

Stabilitas nasional Indonesia mana lagi yang hendak dicari jika sejarah ratusan tahun itu telah membuktikan bahwa Indonesia berhasil lolos dari perpecahan? Stabilitas yang didekte oleh kekuasan  asingkah sebagaimana Belanda dulu?  Stabilitas yang didektekan untuk menjaga kestabilan hegemoni internasionalnya?

Kestabilan nasional Indonesia hendaknya tidak mengorbankan rakyat Indonesia sendiri. Kestabilan nasional seharusnya memberi ruang gerak masyarakat Indonesia untuk tumbuh bangun dan memperdayakan kemampuannya hingga titik tertinggi. Negara harus mengutamakan kepentingan bangsanya sendiri sebelum bangsa lain karena alasan-alasan praktis.  Dalam jangka panjang, jika pemerintah tetap membodohi masyarakat demi alasan untuk menjaga kestabilan nasional, maka bisa dipastikan bahwa negara kita selamanya tidak akan bisa mandiri.  Selamanya akan didekte oleh bangsa lain. Persis pada jaman Belanda. Bangsa Indonesia tetap akan survive tapi tidak ada kemajuan berarti bisa dicapai.*** (HBS)


Leave a comment

Puasa Pri Kunthing Tidak Pernah Bergeming

 

 

PRIYADI di kampung kami lebih dikenal dengan nama sebutan Pri Kunthing. Dalam bahasa Jawa Kunthing berarti pendek, kecil atau  kerdil. Perawakan Priyadi memang kecil. Dadanya lebar, otot-otot lengannya menonjol, meski kakinya berukuran pendek tapi nampak otot-otot kekarnya dengan kokoh menopang tubuhnya. Entah apa sebabnya ia punya tubuh pendek. Padahal kakak-kakaknya punya tubuh normal. Malah adiknya tubuhnya tambur dan besar.

Kata teman-teman sepermainan, Pri punya tumbuh pendek karena ia sunat pada saat belum cukup umur. Pri disunat pada umur 3 tahun. Kata teman, kalau anak disunat pada saat masih kecil badannya akan jadi kuthet atau tidak bisa berkembang dengan baik. Karena desas-desas model anak kecil itu, maka teman-teman sepermainan belum ada yang sunat. Kami seolah sepakat merencanakan sunat nanti setelah lulus dari SD, sebelum lulus dari SMP. Tak ada yang bilang bila sudah SMA. Karena takut jadi kunthet.

Kata teman, Pri disunat ketika masih kecil karena kecelakaan. Kulit alat kemaluannya kejepit resleting celana dan sobek. Ia menangis terus-menerus dan ketika di bawa ke rumah sakit, dokter menyarankan agar ia disunat sekalian. Keputusan dokter ini sepertinya disetujui oleh orangtua Pri Kunting. Disunatlah Pri.

Kadang saat pas bermain bersama dan pingin pipis, kami buang air kecil begitu saja. Kalau lagi main di lapangan, minggir ke tepi lapangan dan kencing.  Kalau pas main betengan, cari pagar orang dan kecing di situ.  Kami kadang minta Pri memperlihatkan burungnya. Kami penasaran pingin tahu dan membuktikan apakah benar Pri sudah sunat?

Pri tanpa malu memperlihatkan punyanya yang memang sudah disunat. Bentuknya aneh bagi kami. Kami lihat dengan seksama. Dalam hati, kami memuji keberanian Pri.  Kami juga iri. Sudah kecil kok sudah sunat. Pri sudah aman. Sementara kami masih ketakutan membayangkan saatnya tiba disunat. Beruntung sekali si Pri.  Sudah bebas dari beban. Tinggal main-main. Tidak lagi memikirkan burung yang masih bergelambir seperti lain-lainnya.

Meski tanpa beban, Pri sebenarnya punya tanggung-jawab banyak. Tubuhnya yang kecil itu ternyata mentes (kuat dan tangguh).  Kami kadang mikir, apakah karena sudah sunat sehingga tubuhnya begitu kuat.

Betapa tidak, Pri setiap hari begitu sepulang sekolah langsung cari kayu bakar. Lalu memotong-motongnya kecil-kecil agar bisa masuk ke tempat pembakaran masak di dapurnya. Mengatur rapi kayu potongan-potongan itu di terik matahari agar kering. Mengambil yang sudah kering dan menaruhnya di dapur belakang rumah dekat kandang ayam dan kambing.  Kadang kalau sore, Pri akan berjalan ke tempat penggergajian kayu yang berjarak sekitar lima kilometer untuk menukar sebotol minyak tanah dengan sekarung grajen (serbuk kayu hasil penggergajian). Menjelang matahari terbenam, Pri memanggul sekarung grajen itu pulang ke rumah. Badannya mengkilat karena keringat yang bercucuran.

Kerja keras itu dilakukan Pri setiap hari secara rutin tanpa mengeluh. Pri bagai jam otomatis.  Berputar tanpa pandang cuaca bersumber energi baterai matahari.  Ia nampak tak pernah merasa kelelahan. Ia masih sempat ikut main-main saat petang hingga malam. Kadang ia juga sempat main-main saat siang karena kayu bakar yang dicari sehari sebelumnya cukup banyak.  Bila kebutuhan grajen masih mencukupi.

Meski begitu, Pri kadang mendapat dampratan dari simboknya kalau kedapatan ikut main-main bersama kami.

“Ayo pulang.  Kerjaan masih banyak kok bisanya main-main,” damprat simboknya suatu siang saat kami main kelereng di halaman rumah Yudi. Kulihat simboknya membawa batangan kayu panjang di tangannya.

Pri langsung meletakkan kelerengnya dan ngeloyor pergi begitu saja. Kami sejenak menghentikan permainan. Hati kecil kami marah juga terganggu permainan kami. Wajah Pri nampak marah, tidak terima tapi ia tetap beringsut meninggalkan kami yang melongo.

Begitu melewati simboknya, batang kayu di tangannya diarahkan ke tubuh Pri. Pri dengan gesit menghindar.  Batang kayu yang diayunkan keras sempat menyenggol punggungnya. Kulihat Pri lari menuju rumahnya langsung ke belakang rumah. Tempat sebagian waktunya dilalui dalam keseharian. Ia langsung mengambil keranjang, tali dan sabit. Pergi cari rumput makanan kambingnya. Langkahnya menghilang di balik pohon-pohon johar di jalanan setapak menuju sawah.

Bapak Pri, pak Marto adalah seorang tukang kayu. Posisinya mandor.  Umurnya sekitar 50 tahunan. Ibu Pri, Yu Kasiyem, 40 tahunan, berjualan barang-barang keperluan sehari-hari di ruang depan rumah berdampingan dengan ruang tamu.

Kedua pasangan ini terkenal di kampung kami. Terkenal suka adu mulut. Hampir setiap Sabtu, mereka berdua bertengkar tentang segala macam. Karena mereka berjualan dan rumahnya di pinggir jalan kampung, pertengkaran mereka selalu terdengar oleh orang lewat dan orang yang hendak membeli barang keperluan. Pertengkaran selalu berlangsung setelah magrib hingga selesai isya.  Kadang juga terjadi pada sore hari.

Yu Kasiyem sepertinya seorang wanita pencemburu. Hal ini bisa ditangkap karena selalu menyindir  nama seorang wanita atau profesi seorang wanita. Menuduh pak Marto telah memberikan sebagian gajinya pada wanita-wanita itu tanpa sepengetahuannya.

Jeritan-jeritan Yu Kasiyem tanpa henti seolah sumber energi kemarahannya itu bagai air sumur bor. Pak Marto hanya sesekali menjawab. Mungkin ia bosan mendengarkan dan menjawab sekenanya. Tetangga yang lewat juga sudah bosan mendengarkan. Mereka berlalu lalang tanpa ada yang nengok. Kadang noleh sebentar dan melihat pak Marto duduk di kursi dan Yu Kasiyem berdiri di warung.  Mereka seperti mendengar tetangga itu lagi membunyikan siaran radio lagu dangdut. Semua orang tahu bahwa pak Marto dapat gaji dari profesi mandornya setiap hari Sabtu. Sehabis gajian selalu terdengar petengkaran.

Pertengkaran itu kadang terlihat sangat serius.  Kadang benda-benda sampai bertebaran di halaman depan rumah mereka karena dilempar ke luar entah oleh siapa. Pisau dapur yang sudah dibengkokan, ember, timbangan, toples tempat krupuk, kursi plastik dan benda-benda lainnya.  Namun tidak ada seorangpun datang berusaha memisah.

Setelah pertengkaran mereda, kulihat Pri mengambil barang-barang hasil pertengkaran itu memasukkan kembali ke dalam rumah. Paginya, Darto – teman main depan rumah, melihat Pri memboncengkan timbangan entah kemana.

“Memperbaiki timbangan patah ke tukang las,” jawab Pri ketika disapa Darto dari seberang jalan. melihatnya.

Pada bulan puasa, pada saat anak-anak SD liburan sebulan dan bisa sepuas-puasnya bermain, tidak berlaku buat Pri. Ia masih menjalani rutinitas kesehariannya. Cari rumput, kayu bakar, tukar minyak tanah dan pekerjaan lainnya.

“Nggak percaya kalau kamu kuat puasa,” kata Yudi saat mereka bermain gepok lele di halaman rumahnya.

“Nggak percaya ya sudah,” jawab Pri singkat.

Kami memang meragukan Pri masih kuat puasa dengan pekerjaannya. Menjelang dhuhur perut kami sudah keroncongan, bagaimana mungkin Pri masih bisa mengangkut sekarung grajen dan berjalan sekitar lima kilometer dengan keringat bercucuran tanpa kehausan? Bagaimana mungkin Pri punya tenaga sebesar itu, bila kami sudah merasa lemas karena menahan lapar? Jangankan mengangkut sekarung grajen, ngomong saja kami sudah nggak punya nafsu.

Kami tak menghiraukan Pri lagi. Ia seolah diluar batas pemahaman kami. Kami juga tak mempersoalkan apakah Pri puasa beneran atau bohong. Apa yang dilakukan Pri seolah tidak tergantung dari isi perutnya. Semua dilakukan sebagaimana biasa. Sebagaimana biasa pada saat-saat tidak berpuasa. Tidak nampak beda. Puasa yang dilakukan Pri seolah tidak bergeming dengan apa yang dilakukan oleh orang lain atau keadaan sekitarnya.

Malah Darto curiga dengan perkataan Yudi bahwa ia juga berpuasa.

“Bohong kamu kalau puasa. Wong mulutmu tadi bau ayam goreng,” kata Darto dengan penuh selidik saat kami main gambar, duduk di buk depan rumah Darto.

Sebagai anak SD, kami berpuasa karena ikut teman-teman lain. Konsep dosa dan pahala kami tangkap samar-samar. Kami lebih merasa malu kalau tidak berpuasa. Merasa tidak masuk kelompok main. Jadi manusia asing. Tidak ikut arus. Teman-teman seusia dan sepermainan selalu mengejek anak yang tidak kuat puasa penuh. Kadang kami sepelekan karena tidak ikut puasa. Menganggapnya sebagai anak yang lebih kecil.  Memperlakukan Seolah tidak punya rasa kesetia-kawanan.  Tidak mau bergabung dengan teman senasib dan sepermainan. Bukan termasuk bagian dari “kami”.

“Sumpah aku puasa,” ingkar Yudi sengit.

“Coba aku baui mulutmu,” tantang Darto.

“Paling puasa beduk,” sambung Parno dari seberang duduk Yudi.

“Sama bapakku disuruh puasa beduk saja kalau nggak kuat,” kata Yudi akhirnya.

Kami langsung ketawa kebahak-bahak.

“Dasar anak bayi. Tadi ngakunya puasa,” kata Darto lagi. “Ternyata puasa ngebleng (sehari penuh) nggak kuat,” sambungnya.

Selama ini kami memang memperlakukan Yudi sebagai anak pupuk bawang karena sikapnya yang angin-anginan. Dalam setiap permainan sebisa mungkin menempatkan Yudi ikut di pihak lawan. Tak ingin menjadikannya satu kelompok karena ketidak-percayaannya dalam memegang permainan. Yudi selalu bermain setengah-setengah.

Bila main sepak bola, Yudi tak pernah berlari mengejar bola.  Tapi menunggu bola di dekat gawang lawan. Ia hanya menendang bola bila mendekati gawang lawan. Seolah ia ingin bikin gol sendiri.  Dan lagi, setiap waktu Yudi bisa berhenti bermain dan pulang begitu saja sehingga mengganggu mood dan irama permainan.

“Tadi oleh bapakku disuruh pulang kalau sudah jam tiga,” kata Yudi enteng.

“Begitu tadi nggak ngomong,” kata Budi sengit, anak seorang guru SD ini.

Budi pantas kecewa karena permainan baru saja berjalan seperempatnya. Masih hangat-hangatnya.

Tapi Yudi tanpa peduli mengambil sandalnya dan ngeloyor pulang. Meski kesal, kami segera membenahi personel pemain, lukir (tukar) pemain menggantikan Yudi agar tetap seimbang. Permainan dilanjutkan kembali. Yudi makin meninggalkan rasa tidak percaya pada hati kami masing-masing.

Yudi adalah anak baru di kampung kami. Orangtuanya pindahan dari kota besar. Orang kaya sekampung. Saudara Yudi ada empat. Semua sekolah di SD teladan di kota. Yudi jarang ke luar rumah untuk main pada petang hari. Kami tak pernah mengharap Yudi untuk bisa diajak main pada petang hari, apalagi sampai malam.  Entah apa yang dilakukan di dalam rumahnya. Mungkin belajar. Karena kakak-kakaknya selalu jadi juara kelas.

Karena hari liburan puasa, Yudi sering bisa bermain hingga sore bersama anak kampung. Dari teman sepermainan, Yudilah yang nampak selalu segar. Tidak nampak lemas kelaparan sebagaimana lainnya. Kami makin yakin bahwa Yudi hanya kuat puasa beduk. Tapi kami tidak pernah melihatnya makan di sekeliling kami. Tidak pernah menangkapnya memasukkan makanan secuilpun ke mulutnya di depan kami. Mungkin Yudi dipesan oleh bapaknya agar menghargai teman-temannya yang lagi menjalani puasa.

Hingga kami menginjak SMA, Yudi tetap kami perlakukan sebagai anak beda. Meski begitu kami masih bersahabat dengan baik. Tanpa diomongkan, kami masing-masing dalam hati tahu bagaimana Yudi itu.

Kami bersahabat tapi tidak bisa akrab. Beda dengan persahabatan kami dengan Darto, Budi, Andik, Kiran dan lain-lainya, atau dengan Pri Kunthing. Meski Pri Kunthing juga terbatas waktu bermainnya, tapi kami merasa perbedaan di antara keduanya. Kekraban yang seolah ada garis pemisah tak kelihatan.

Mungkin hanya seorang yang tidak peduli dengan semua itu. Pri Kunthing. Pri Kunthing tetap asyik dengan apa yang dikerjakan. Tubuhnya yang pendek itu seolah selalu terhindar dari kasak-kusuk, desas-desus, slentingan atau masalah-masalah keseharian lainnya. Atau sebenarnya ia pandai berkelit?

Pri Kunthing tetap latihan tinju dengan rutin. Beberapa kali ikut pertandingan antar sasana tinju se kabupaten. Pri Kunthing hanya adu jotos di ring.  Ia ingin kayak Thomas Americo. Menjadi juara tinju nasional. Meninggalkan sekolahnya hanya sampai tingkat ST.*** (HBS)


Leave a comment

Anu itu Sebaiknya Dianukan

 

ENTAH kenapa orang suka memakai kata itu bila bicara. Anu adalah sebuah kata bahasa Jawa yang sebenarnya tidak punya arti apa-apa. Kalau punya arti, itu tergantung pada orang itu sendiri yang mengartikannya.  Kata itu hanya berfungsi sebagai kata untuk menyebut sesuatu yang tidak diketahui istilah atau namanya.

Kadang kata anu dipakai untuk menggantikan kata-kata panjang dan lawan bicara dianggap tahu obyek pembicaraan. Tapi tidak sedikit pula orang memakai kata anu karena kemalasan berpikir.

Kata anu bisa sebagai pengganti sesuatu yang mengganjal di ujung lidah untuk diucapkan. Anu adalah hasil pikiran bebas. Anu meski secara resmi tidak ada dalam bahasa dan kamus tapi punya peranan penting dalam keseharian.  Anu seolah bisul yang bisa datang dan menghilang pada siapa saja tanpa diundang dan tanpa meninggalkan bekas yang mengganggu.  Kata anu adalah kata yang berkeliaran dengan bebas di udara dan siap dijemput oleh siapa saja.

Karena banyaknya tersedia dan gampang untuk dipakai, maka tidak sedikit jumlah orang yang menyukainya.  Ia bebas diperoleh bagi siapa saja. Sumbernya tidak terbatas. Tinggal petik di depan kepala. Seolah semua orang pernah pakai kata anu.

Anu yang sebenarnya netral, tidak kentara, tidak berbau, tidak kelihatan, tidak nyata, tidak resmi ternyata bisa meninggalkan jejak pengaruhnya jika digunakan tidak semestinya.  Anu dipakai dengan sengaja untuk hal-hal yang jelas dan sebenarnya bisa tanpa memamakai kata anu.

Kata anu telah diselewengkan menurut kepentingan. Ketidak pedulian orang lain dengan kata anu telah dimanfaatkan golongan masyarakat tertentu demi kepentingan diri.  Memperlakukan sesuatu yang penting dan menyembunyikan dari orang lain sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya dengan menyebutnya sebagai anu. Sesuatu yang digantikan oleh anu tidak lagi akan mengundang pertanyaan, apalagi diutak-atik secara serius.  Paling cuma diganti dengan kata anu lagi yang baru.

Banyak orang memperlakukan anu sebagai anugerah. Orang hanya memicingkan sebelah mata pada kata anu. Kata anu tidak dianggap penting karena demikian gampangnya diperoleh dan keberadaannya ada di mana-mana. Orang merasa tidak akan kekurangan, maka tak ada gunanya bertengkar karena masalah anu.

Banyak orang membutakan diri dengan eksistensi kata anu. Kata anu dianggap tidak penting dan tidak punya peranan meski kata anu selalu dan pasti ada. Tidak mungkin menghilang apapun perlakukan kita terhadap kata anu.  Ia tak akan pergi kemana-mana.  Anu akan tetap di situ dan tergantung pada keberadaannya. Jadi, kita merasa tidak perlu bersyukur atau berterimakasih pada siapapun atas keberadaan anu.

Di tangan orang-orang pemegang kekuasaan, banyak orang tidak tahu bahwa kata anu ternyata bisa menguntungkan. Kata anu bisa menjadi wakil sesuatu yang sebenarnya penting. Pemegang kekuasaan menyebutnya sebagai anu agar terkesan tidak penting.

Seorang pejabat bilang, “Pokoknya kalau ada anunya pasti bereslah…”, katanya sambil bergurau.

Kata-kata yang diucapkan dengan seloroh itu ternyata mengejutkan dampaknya.  Beberapa hari kemudian, ia dapati rekening bank miliknya bertambah ratusan juta rupiah.

Anu yang di kalangan rakyat biasa tidak memberikan apa-apa selain kemudahan berpikir itu ternyata bisa berubah jadi sesuatu yang secara nyata menguntungkan di kalangan pejabat.  Mendapati cara mudah untuk mendapat keuntungan ini, maka berita bagus ini pun menyebar di kalangan orang-orang yang dekat dengannya dengan diam-diam.

Makin populerlah kata anu ini dipakai di kalangan pejabat.  Kata anu selain mudah diucapkan dan menghasilkan keuntungan, tapi ternyata juga amat luwes.  Kata anu tidak kehilangan sifat dasar keluwesannya sejak semula dimanapun dan kapanpun dipakai.

Kata anu bisa dipakai untuk menjelmakan berbagai hal menjadi berbagai macam bentuk. Tergantung bagaimana cara mengucapkan dan konteksnya.

“Sebenarnya mereka tidak mau. Tapi setelah saya sebut beberapa anu, dia kasih lebih besar,” kata seorang pejabat lainnya cerita pengalamannya saat berada di luar negeri membicarakan bantuan keuangan dengan donatur dari luar negeri sambil cengengesan.

“Kalau ada masalah, bilang saja kamu lagi anu,” kata pejabat lain.

“Yang penting dicantumkan saja anunya.  Yang sekian persen untuk anggaran kesehatan rakyat dan sisanya tulis saja buat anu.  Tidak ada yang bertanya kok. Beres semua.  Sudah aku anu,” nasehat pemimpin partai pada sekretarisnya.

“Saya tidak tahu kalau hal itu sebenarnya anu,” kata pejabat lainnya lagi berkelak saat menghadapi tuduhan miring padanya.

“Kemarin aku lihat anunya si anu lagi dianu sama anunya anu.  Kelihatannya kok anu sekali. Anunya juga cuma sebesar anu.  Tidak anu kok,” kata pejabat lain tak mau kalah dalam bicara anu. Anu sering diborongnya sekaligus.

Karena seringnya dipakai dan dalam waktu lama, akhirnya kata anu itu jadi liar dan ada dimana-mana. Para pejabat saling tanya maksud anu dalam waktu tertentu.  Pejabat minta penjelasan maksud anu pada pengusaha karena beda dengan apa yang dikehendakinya. Pejabat tanya pada sesama pejabat lewat rapat internal maksudnya anu.  Tapi di waktu lain, ketemu anu lainnya.

Anu ada di anggaran keuangan, di rancangan hukum, APBN, rakernas, rapat proyek, sidang tahunan, majalah dinding, di WC, di kantin dan lain-lain tempat.  Anu ada di mana-mana.  Anu kadang juga ditulis sebagai **** kalau menyebut kata yang tidak ingin dibaca orang lain atau mengganti kata-kata yang tidak sopan. Di majalah dinding ada kalimat, “Dasar orang ********an!”.

Kata anu bahkan menjelma jadi kata jorok, seperti yang terdapat di pintu WC. “Anunya minta dientot”.  Banyak orang menjadi bingung dengan beribu jelmaan wajah anu. Anu bagai bakteri wabah, macam virus dengan cepat menyebar dan sulit terdeteksi. Bedanya dengan virus atau bakteri beneran, efek samping anu tidak terasa dan tidak kelihatan. Efeknya pelan dan jangka panjang. Kalau tidak teliti orang bakal tidak tahu kalau sebenarnya ia sudah terjangkit bakteri atau virus akibat dari anu.

Pemimpin yang jujur dianggap sebagai munafik. Yang tidak sepaham disebut kafir.  Yang suka ceplas-ceplos dianggap tidak tahu adat. Yang mengajarkan kesamaan hak dianggap antek kapitalis.  Orang tegas menegakkan aturan dibilang kejam kayak Fir’aun.  Mengkritik demi kebaikan dianggap provokator. Orang rendah hati dibilang loyo. Atau kadang sebaliknya. Korupsi dianggap sedekah.  Menghujat dianggap pemberani.  Dan lain-lain kesimpang-siuran akibat anu.

Negara yang sebenarnya sudah gonjang-ganjing tidak dirasakan oleh rakyatnya. Semua berjalan sebagaimana biasa.  Fenomena anu sudah menjangkiti semua segmen kehidupan. Rakyat masih saja suka dengan kata anu. Bahkan mereka setuju saja ketika anu dipakai dalam hukum, politik, pendidikan, birokrasi, media cetak, TV, kebijakan ekonomi.  Orang dengan enteng saja menjawab kebingungannya dengan kata-kata, “Tanya saja pada anu.”

Negara akhirnya hukumnya berdasar hukum anu, moralnya moral anu, budayanya budaya anu, sistem pendidikannya pendidikan anu, cara kerja birokrasi cara kerja anu, ekonominya dikelola dengan cara anu, riset dan teknologi dengan dana anu, kehidupan rakyat diserahkan pada anu, kesejahteraan rakyat adalah masalah anu.

Kesilang-sengkarutan yang kasat mata.  Kekacauan dalam keteraturan. Keamburadulan dalam ketentraman. Kebohongan dalam kejujuran, kemunafikan dalam kemuliaan. Anu berada dalam banyak aspek.  Mondar-mandir tanpa orang ketahui.  Lalu-lalang tanpa orang sadari.  Masa depan bangsa adalah masa depan anu.

Bagaimana mungkin sesuatu yang nampak kecil bisa mempengaruhi yang demikian besar?  Karena banyak orang lupa bahwa dari sesuatu yang kecil itulah kita menemukan kekuatan diri. Kalau tidak percaya pada hal-hal yang kecil, lama kelamaan negara pun akhirnya bisa menjadi negara anu.*** (HBS)


Leave a comment

Hingga Bulan Puasa Kini, Kami Biarkan Anjar dengan Nasib dan Dunianya

SUDAH lama Antok tahu bahwa teman kecilnya sekampung hingga usia 40 tahunan lebih belum juga bekerja. Anjar, nama teman karibnya sejak kecil itu, tidak pernah mengalami bagaimana rasanya dunia kerja dan menerima gaji. Antok tidak tahu apa yang menghalangi Anjar untuk mendapatkan pekerjaan. Secara fisik dan kejiwaan Anjar termasuk orang yang sehat tanpa cacat.

Pekerjaan sehari-harinya duduk-duduk di depan rumah bertelanjang dada.  Badannya yang kurus dan tipis seolah tersembunyi dari pandangan mata. Kadang ia duduk-duduk di tepi jalan desa dan ngobrol sama orang kampung. Ada beberapa pemuda kampung yang juga telah menganggur tahunan. Begitu lulus SMA tidak ada kejelasan apa yang mereka lakukan. Keluar masuk rumah tanpa diketahui dengan jelas tujuannya.

Beberapa di antara mereka jadi tukang ojek di terminal bis di kota. Beberapa jadi penjaga sepeda, jualan makanan bungkus di dalam bis, makelar sepeda motor dan lain-lain pekerjaan tidak tetap lainnya.  Mereka tidak terlihat putus asa atau sedih. Bahkan bila mau mengumpuli mereka, sebagian obrolan mereka amat lucu.  Cerita-cerita keseharian mereka bisa bikin kaku perut. Hampir setiap malam mereka bertemu dan ngobrol. Seolah saling menghibur. Efek yang tidak disadari mereka adalah kecenderungan untuk keenakan. Sehingga makin tahun makin kecil kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan.

Sewaktu kecil, Anjar anaknya periang. Suka bergaul dan lucu.  Jika tiba waktunya untuk bermain kalau tidak ada Anjar tidak bakal ramai. Malah jika ada Anjar, masa sehabis bermain adalah waktu yang menyenangkan.  Saat kami semua istirahat habis main betengan atau cece-an, kami nongkrong di buk di bawah lampu neon di pertigaan jalan desa mendengarkan cerita masing-masing.

Dua orang yang selalu menguasai pembicaraan adalah si Anjar dan Antok. Kedua anak kelas empat dan lima SD itu saling olok, saling hina, saling ejek dan perang mulut lainnya. Perang mulut mereka meskipun amat seru, namun jarang mereka berbaku hantam. Hanya baku ucapan mulut saja, tidak fisik. Semakin seru makin baik. Semakin pedas makin bukan main lucunya. Makin alot makin konyol sekali kelucuan mereka berdua.

 

“Tuh, lihat! Lihat! Otot lehernya sampai sebesar jari,” kata Antok mengacungkan satu jarinya dan mendekatkan ke leher si Anjar seolah teman-teman lain disuruhnya mengukur dan membandingkan sendiri.  Tentu saja Anjar menghindar.

“Daripada kamu, Tok. Lihat saja betismu. Betis kok kayak pematang sawah,” balas Anjar tanpa ekspresi.

Kami terpingkal-pingkal.  Memang, betis si Anton ukurannya lumayan besar. Kok ya bisa-bisa mereka berdua mencari pembanding.

Anjar dan Antok keduanya dari orangtua tak mampu. Sekolah mereka di SD yang jauh dari populer.  Sekolah Dasar yang seolah mau menerima siapa saja sebagai murid.  Waktu itu belum ada SD Inpres.  Mereka berdua boleh sekolah tidak pakai seragam atau pakai sepatu. Sekolah yang menampung anak-anak dari keluarga tak mampu.  Letak sekolahnya di dekat sawah desa. Hanya terdiri beberapa kelas. Kami sering lewat sekolah itu saat main bola atau cari jangkrik malam hari. Lantai kelasnya jauh dari rata. Banyak lobang sana-sini karena semen yang mengelupas.

Orangtua Anjar adalah bekas pekerja pabrik gula. Tapi kemudian menjadi tukang cukur di alun-alun kota setelah pensiun. Ibu Anjar tinggal di rumah. Putranya ada lima. Dari kelima putranya tersebut hanya yang sulung bekerja sebagai polisi. Anjar anak paling kecil. Dua kakak perempuannya menikah dengan pemuda sekampung dan tinggal bersama dengan orangtua si suami.  Kakaknya yang sulung jarang pulang. Bahkan didengar kabar bahwa ia masuk penjara karena pelanggaran hukum.

Sama seperti Anjar, orangtua Antok bekerja sebagai buruh tani dan kerjaan serabutan lainnya. Si Antok punya dua kakak laki-laki. Kedua kakaknya juga tidak jelas pekerjaannya.  Setiap malam keluyuran. Kata beberapa tetangga, mereka jualan toge di kota. Kakak Antok satunya terkenal amat nakal. Suka berkelahi dengan penduduk kampung sebelah. Punya binatang peliharaan di dekat kakaknya Antok yang satu ini bakal tidak aman. Bila tidak terawasi bakal disembelih dan dijadikan makanan nyamilan sambil minum arak jowo (minuman beralkohol dari ketan).

Anjar dan Antok tidak pernah menyebut atau bercerita tentang kakak-kakak mereka. Meski kadang kami menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya kakak Antok saat ia menempeleng Antok di depan kami teman sepermainan karena entah urusan apa.

Antok tidak melawan. Menerima tempelengan dan pukulan dari kakaknya mendarat di tubuh dan kepalanya. Ia hanya berguling-guling di tanah sambil mendekap perut dan kadang kepalanya. Suara tangisnya tidak digubris oleh kakaknya.  Begitu puas menempeleng, ia langsung ngeloyor pergi dan meninggalkan Antok yang terduduk menangis masih kesakitan di pinggir jalan. Mukanya hitam merah menahan terjangan aliran darah yang mengalir ke kepalanya.

Si Anjar lebih beruntung.  Kakak perempuannya yang kadang mencarinya.  Paling Anjar dibentak-bentak atau paling banter dicubit lengannya. Tapi hasil akhirnya sama. Anjar meringis dan menangis di tempat. Beberapa cubitan mendarat di lengan, dada dan perutnya.

Bila sudah berhenti menangis, kadang kami ingin tahu bekas cubitan atau pukulan itu. Cubitan dan pukulan itu meninggalkan lebam-lebam di kulit mereka berdua. Kejadian seperti ini tidak cuma sekali kami lihat. Anjar atau Antok dikerjain secara fisik oleh kakak-kakak mereka beberapa kali dengan tingkat kekerasan beda-beda.  Tergantung mood dari penyiksanya.  Kadang kami merasa ngeri dengan peristiwa itu.  Tapi sebentar kemudian terlupakan begitu saja karena Anjar dan Antok beberapa menit setelah reda tangisnya, kembali bikin komentar saling ejek yang amat menggelikan. Kadang mereka berdua saling menunjukkan lebam kulit mereka.

“Seperti dicupangi oleh Tumini,” ejek Antok mengomentari lebam-lebam di tubuh Anjar bekas cubitan kakak perempuannya.

Ejekan Antok lalu dibalas umpatan oleh Anjar.  Tumini adalah gadis seusia mereka, putri mbok Sinem yang menderita sakit di telinganya. Tumini memang kurang populer di antara anak-anak kampung karena sakit di telinganya itu kadang mengeluarkan bau tidak sedap.

“Untung kakakmu tidak pakai sepatu sotik (sothick, model sepatu populer tahun 70an dengan sole  tebal). Kalau ditendang pakai sotik, kau bakalan mencelat sampai alun-alun,” balas Anjar ngejek.

Anak-anak kampung senang sekali mendengar pertengkaran Anjar dan Antok. Mereka main-main dan ngobrol hingga jauh malam. Tidak ada yang peduli dengan kegiatan belajar. Mereka pulang ke rumah masing-masing menjelang tengah malam.

Paling menyenangkan adalah saat bulan puasa tiba. Mereka bisa ngobrol jauh lebih lama dan dilanjut setelah sahur. Tempat kumpul selalu di langgar (masjid kecil) kampung. Sering segerombolan anak-anak kampung tidur di langgar karena berebut ingin menabuh tambur (beduk).   Anak-anak kecil begitu semangat dan riuh minta gantian nabuh.

Tambur itu ditabuh saat menjelang sahur hingga subuh baru berhenti.  Bunyi tambur diganti dengan pengeras suara dari atas langgar mengalunkan pengajian. Sebelum imsak anak-anak yang tidur di langgar pulang untuk makan sahur diganti oleh anak-anak lain yang baru datang. Tambur itu tidak pernah sepi dan sela dengan kehadiran anak-anak selama bulan puasa.  Tidak sebagaimana hari-hari biasa.  Tambur itu hanya ditabuh menjelang waktunya sholat.  Kadang hanya ditabuh saat shalat duhur. Selebihnya pakai pengeras suara di langgar.

Selama bulan puasa anak-anak SD libur selama sebulan penuh hingga hari raya. Mereka punya waktu bermain amat panjang. Sehabis sembahyang subuh biasanya mereka pulang dan tidur.  Siangnya disambung main-main lagi hingga menjelang buka puasa. Karena kelaparan dan tidak punya tenaga, mereka main-main yang tidak keluar tenaga. Main kartu di kuburan desa.  Atau main layangan.  Kadang sibuk mencari pecahan-pecahan gelas untuk benang main layangan.  Pecahan-pecahan gelas itu dilembutkan, dikasih perekat dan pewarna lalu dioleskan pada benang.

Pada bulan puasa, anak-anak kampung seolah menemukan kemerdekaannya.  Kebebasan untuk bermain pada puncak kepuasan mereka. Entah kenapa, si Anjar dan Antok pada saat bulan puasa jarang menerima dampratan dari kakak-kakaknya.  Tidak ada main cubit, tendang atau pukul.  Kakak-kakak mereka seolah menghilang begitu saja. Hilang ditelan bumi.

“Kalau tidur jangan dekat Anjar. Ngorok kayak sepur grung,” kata Antok siang itu saat main kartu di kuburan desa.

“Bohong itu. Jangan percaya. Lha, kamu ngiler kayak sapinya mbah Wo,” balas si Anjar yang lagi mikir pegang kartu tidak mau kalah.

“Kalau tidak percaya tanya sama si Darmaji,” sahut Antok. Si Anjar tidak menyahuti karena lagi kerut dahi mikir kartu yang akan dibuang.

Percekcokan itu tidak berlanjut lama. Kami masing-masing sudah kelaparan dan kelelahan akhirnya tiduran di kuburan. Udara di kuburan terasa sejuk karena rindangnya pepohonan yang tumbuh di sekitar kuburan. Makam yang sekelingnya dikasih batu tekel terasa dingin buat tiduran. Kami tempelkan perut ke permukaannya untuk mengurangi rasa lapar.

Ternyata percekcokan itu tidak berhenti di situ sebagaimana kami duga.  Malamnya ketika anak-anak tidur di langgar, kami sengaja mengamati si Anjar. Terutama si Antok. Dia menanti si Anjar tertidur. Anak-anak lain pura-pura pejamkan mata dan tidur. Begitu Anjar tertidur, benar juga kata Antok bahwa si Anjar tidurnya ngorok. Cukup keras. Mereka selama ini tidak memperhatikan itu karena terlelap tidur.

Tanpa disangka, Antok menghidupkan pengeras suara langgar, lalu mengambil corong dan mendekatkan ke mulut si Anjar. Suara pengeras suara di atas langgar pun mengalunkan suara dengkur Anjar dengan keras. Kami tertawa terbahak-bahak dan berebut segera merebut corong.  Kuatir dimarahi oleh sesepuh langgar.  Dan benar, beberapa menit kemudian pak Wir, salah satu sesepuh langgar datang dan memarahi anak-anak. Kami diam tidak bersuara.  Setelah pak Wir pergi, kami lanjutkan untuk tidur.  Masih terdengar dengkuran si Anjar dari pojok ruang.

Setelah sama-sama dewasa dan punya keluarga masing-masing, Antok dan teman-teman lain kadang tidak mempercayai bahwa Anjar punya nasib demikian malang. Anak yang periang dan menjadi penghibur kami semua tidak pernah bekerja hingga usia hampir tengah baya. Si Anjar belum menikah. Pacaran saja tidak pernah, begitu kami saling kasih informasi. Tubuhnya yang tipis seolah telah kehabisan sumber canda yang selama ini telah terkuras buat kami semua.

Teman-teman sekampung banyak yang merantau ke kota besar, demikian juga Antok.  Hanya pulang sesekali. Terutama menjelang hari raya. Acara mudik tidak lagi diisi acara ketemu teman-teman masa kecil, tapi lebih banyak dibuat untuk kumpul dengan keluarga masing-masing.

Kadang kami lewat di jalan depan rumah Anjar.  Anjar selalu kami dapati duduk-duduk di depan rumahnya sendirian. Entah apa yang dipikirkan. Kadang kami berhenti dan membuka jendela mobil. Ngobrol sebentar. Anjar selalu menyapa kami dengan cerah. Masih seperti dulu. Omongnya nerocos tanpa henti. Gigi-giginya sudah beberapa hilang.  Setelah ngobrol biasanya kami tinggalkan beberapa ribu rupiah buat dia. Kadang beberapa bungkus rokok.

Bulan puasa datang dan berganti dengan bulan puasa berikutnya. Anjar masih sering Antok dapati duduk-duduk di depan rumahnya yang makin nampak gelap, tua dan tak terurus. Selalu bercelana pendek dan bertelanjang dada. Badannya makin kering. Entah sampai kapan pemandangan ini akan berakhir.

Kami merasa tidak kuasa menolongnya. Kami biarkan Anjar dengan nasib dan dunianya. Kami hanya berharap suatu saat Anjar bisa menolong dirinya sendiri. Tiba-tiba tidak kami dapati lagi ia berada di tempat biasanya duduk.  Entah pergi ke mana. Mungkin tak ada yang mencarinya.  Atau kami mungkin akan terlambat mencarinya, karena tidak mungkin akan ketemu.*** (HBS)


Leave a comment

Dibyo Ingin Bunuh Diri Pada Bulan Puasa Ini

DIBYO tidak takut mati. Sudah lama ia ingin mati. Ia tidak tahu alasannya kenapa hingga detik ini ia belum juga memutuskan untuk mati. Sudah ia pelajari cara-cara untuk mati. Sampai ia berkesimpulan bahwa cara untuk mati itu ribuan. Tinggal pilih satu. Pasti mati.

Cara boleh ribuan tapi hasil cuma satu. Mati. Kalau sudah mati, apapun pembelaan atau sebabnya menggiringnya pada hasil sama, kesimpulan sama, fakta sama, keadaan sama yakni mati. Mati dibunuh dengan sadis, mati sakit, mati perang, mati kecelakaan, mati karena nasib, mati dalam tidur dan mati-mati lain. Semua berakhir pada keadaan sama. Mati. Jasad yang tidak lagi berfungsi.  Jasad yang jadi beku. Jasad bagai benda mati. Dipotong, dicaci, dibakar, dikubur, diotopsi, disemen, dibuang ke kali, diapa-apakan tidak bisa bela diri.  Itulah jasad mati.

Banyak orang melakukan cobaan bunuh diri. Perempuan lebih banyak daripada lelaki. Usaha untuk bunuh diri yang dilakukan oleh lelaki angka suksesnya lebih tinggi. Perempuan banyak yang mencoba tapi angka suksesnya lebih kecil dari laki-laki. Perempuan sebelum bunuh diri suka koar-koar. Tidak kayak lelaki.  Diam-diam ambil tali langsung gantung diri dan mati.

Dibyo tidak takut mati. Ia rela mati. Ia sudah kenyang hidup. Ia sudah bosan hidup. Ia sudah berada pada titik, bahwa hidup itu tak lebih dari usaha menunda untuk mati.  Kita semua digiring untuk mati. Pada titik yang tidak bisa seorangpun mengelak. Kita semua bakal mati. Satu-satu dan sendiri-sendiri. Fisik boleh berada dalam satu lokasi, tapi kematian adalah proses diri sendiri dan sangat pribadi.

Dibyo takut menderita sakit.  Ia ingin mati tapi tak ingin ia berada di situ saat ia mati. Ia ingin pergi entah ke mana pada saat ia mati. Ia tak ingin menjadi saksi, apalagi mengalami sendiri. Tahunya mati.

Dibyo kagum dengan kekuatan semangat orang bunuh diri untuk tidak ngeri menahan rasa sakit. Orang Jepang melakukan harakiri dengan merobek perutnya sendiri, menusuk jantungnya sendiri, membelah lehernya sendiri.

Sebuah suku terpencil di hutan Amazon punya harapan hidup rata-rata dibawah umur 40 tahun.  Bukan karena kurang gizi atau penyakit, tapi banyak anggota suku itu melakukan bunuh diri. Mereka minum racun yang diolah dari batang-batang pohon di hutan. Alasan bunuh diri karena mereka rindu pada kakaknya, bapaknya, ibunya, adiknya yang sebelumnya juga melakukan bunuh diri. Kematian bukanlah sebuah peristiwa yang mesti ditakuti. Kematian adalah sarana untuk bertemu dengan orang-orang yang dikasihi. Anggota suku lain mengerti dan membantu mempersiapkan acara minum racun bunuh diri itu.

Urusan mati adalah urusan akhir yang tidak bakal disadari.  Karena sudah mati. Proses menuju mati dengan bunuh diri adalah menahan sakit pada detik-detik akhir sebelum mati. Bayangan itu membuat Dibyo ngeri. Dibyo tidak kuasa menahan bayangan rasa nyeri yang dialami sebelum mati. Melewati penggalan waktu beberapa detik sebelum mati itulah yang menghentikan Dibyo untuk melakukan bunuh diri.

Proses menghilangkan nyawa sendiri tidak mungkin tanpa rasa nyeri.  Hidup tidak gampang dibuat mati.  Jantung tetap berdetak jika tidak dihentikan dengan paksa untuk berfungsi. Dan ini harus lewat rasa nyeri.  Tidak mungkin jantung diminta untuk berhenti begitu saja. Naluri hidup menolak untuk itu. Hidup dipersiapkan untuk melawan mati. Berpikir mati tanpa rasa nyeri adalah omong kosong tanpa tepi. Dibyo harus menerima rasa nyeri bila ingin mati. Nyeri dan mati adalah satu paket. Menerima keduanya atau memungkiri keduanya. Tidak bisa dipilih satu darinya. Itu kesimpulannya.  Apakah benar orang mati tanpa bunuh diri akan juga mengalami rasa nyeri? Dibyo tidak tahu. Tidak ada yang bisa ditanyai pendapatnya. Karena sudah mati.

Kini semuanya tergantung pada Dibyo untuk memutuskan. Ia lelah berpikir dan meraba-raba kemungkinan bunuh diri dan mati. Apa yang dipikirkan seolah selalu berakhir pada kesimpulan sama, yakni apakah berani ia melakukan bunuh diri? Keberanian itulah jawabnya. Berpikir mutar-mutar tanpa henti akan percuma jika ia tidak punya nyali. Semua berakhir hanya pada dunia komtemplasi.

Jika Dibyo nekad dan berani melakukan bunuh diri, bagaimana melakukan bunuh diri agar tetap punya arti? Pertanyaan itu sering menyelinap dalam hati Dibyo. Ia tidak ingin asal mati. Kematiannya harus punya arti. Adakah itu? Seperti orang ngomong, ngebutlah asal hati-hati. Atau berzinahlah asal halal. Korupsi tidak apa asal dibagi-bagi.

Mungkin ia akan merampok bank. Jika ia mati, itu resiko yang dia cari. Jika ia tidak mati, berarti ia punya banyak uang yang bisa dipakai untuk memperpanjang rasa nikmat diri sebelum mati. Inikah jalan bunuh diri yang punya arti? Tapi untuk ini ia harus punya bekal persenjataan diri. Darimana ia bisa beli?

Atau ia akan bakar diri di depan kantor presiden RI, menuntut turunnya harga BBM.  Jika presiden  tidak memenuhi permintaannya, ia bisa bunuh diri dengan lebih punya arti dengan membakar diri. Dibyo akan dielu-elukan tindakan bakar dirinya.  Ia bakal jadi martyr bagi banyak orang. Tapi semua itu untuk apa kalau dia sudah mati? Ia tidak bisa menikmati sanjungan banyak orang itu. Itu kalau disanjung, bagaimana kalau malah dikecam sebagai tindakan konyol dan bodoh? Ah, ia sudah mati. Mana peduli dengan ruwet rentengnya tindakan diri.

Paling gampang adalah membunuh orang paling dibenci sebelum mati. Jadi ada rasa kepuasan diri yang berarti. Siapakah yang paling ia benci? Dibyo mutar otak. Memutar kembali jarum perjalanan hidupnya. Flash back terngiang-ngiang di kepalanya.

Ia ingat dosennya yang suka main bentak saat dia mengajukan skripsi.  Ia ingin mencari dosen itu dan menghabisinya sebelum mati. Tapi dosen itu telah meluluskannya dan memberinya nilai berarti. Bentakannya memang menyakitkan hati, tapi ia merasakan manfaat dari rasa sakit hati itu. Membuatnya tidak sembarangan berasumsi dan berteori.

Dibyo lalu ingat penjaja makanan kecil yang meladeninya dengan umpatan-umpatan kecil di dekat kostnya dulu semasa mahasiswa.

“Beli gorengan sedikit minta tas kresek,” kata penjaja makan kecil itu. Dibyo pingin sekali menyumpal mulut perempuan tua penjaja makanan kecil itu dengan sandal. Dibyo ingin menyiram mukanya dengan minyak panas yang dipakai menggoreng makanan kecil di depannya. Tapi Dibyo melihat penjaja itu mengumpat pada siapa saja tanpa pandang bulu. Tidak pada Dibyo seorang. Itulah gaya penjaja itu. Penjaja yang terkenal dengan sembutan “mbok Galak” di sekitar antar teman kostnya.

Dibyo ingat seorang pengemis yang membuang nasi pemberiannya. Pengemis itu mintanya uang. Jaman sekarang tidak banyak orang butuh nasi. Mereka butuh uang. Pengemis tidak lagi butuh sumbangan makanan. Mereka butuh uang untuk ngisi pulsa hp-nya. Dibyo marah sekali dengan pengemis itu. Ia ingin cari dan menghabisinya. Tapi, sebenarnya itu urusan pengemis dalam memperlakukan pemberian yang ia terima. Ia sudah diberi.  Berarti sudah menjadi miliknya. Ia berhak melakukan apa saja atas harta benda miliknya sendiri.

Dibyo celingukan. Ia tidak juga bisa menemukan orang yang pantas untuk ia benci dan perlu dihabisi. Semua punya alasan sendiri-sendiri. Dibyo akhirnya kesal sendiri. Ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan kekuatan untuk menyangga keputusannya sendiri.

Betul. Orang yang pantas untuk dibenci adalah diri sendiri. Dibyo terperanjat dengan penemuan ini. Dibyo membenci dirinya sendiri. Itulah awal mula kenapa ia ingin menghabisi nyawanya sendiri. Tidak ada alasan lain yang cukup kuat mendorong ia ingin bunuh diri selain karena rasa benci pada diri sendiri.

“Baiklah kalau begitu,” gumam Dibyo penuh dendam.  Ia akan cari dirinya sendiri dan menghabisinya. Ia putuskan untuk menghabisinya bulan puasa ini. Bulan yang tepat untuk menghabisi diri sendiri. Menurut sesepuh kampungnya, setan lagi dikebiri pada bulan puasa. Dibyo yakin ia bisa melakukan keputusannya sendiri tanpa bisikan setan. Ia akan bunuh diri atas kemauan sendiri dan bukan karena pengaruh setan. Bunuh diri murni atas kehendak sendiri.

Dibyo tidak peduli lagi. Rasa sakit, rasa iri, rasa dengki tidak ada artinya bila toh ia bisa menghabisi diri sendiri dan mati. Apalah artinya rasa lapar di perut ini dibanding kepuasan bisa menemukan diri sendiri. Tidak ada gunanya orangtuanya memberinya nama Sudibyo yang punya arti “Unggul” atau “Sakti” kalau ia tidak bisa menemukan diri sendiri dan menghabisinya. Pada bulan puasa ini.*** (HBS)