herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Kesetaraan Menakutkan Banyak Orang

KITA semua senang pertandingan. Kita senang bisa mengalahkan orang lain.  Kita senang meninggikan diri kita di atas orang lain yang kalah. Semua meruncing pada pertandingan kalah atau menang. Kesetaraan membosankan.  Kita lestarikan pertandingan psikologis itu lewat event-event fisik internasional untuk memenuhi naluri pertandingan kita.

Kita hambat orang yang berjuang menginginkan kesetaraan.  Harus ada pihak yang kalah dan menang. Dalam sejarah, banyak kita jumpai orang megnorbankan nyawa memperjuangkan kesetaraan.

Kesetaraan yang dimaksud di sini adalah perlakukan sama rata dalam bersosial tanpa memandang atribut yang melekat pada orangnya. Ada egalitas dalam perlakuan satu sama lain. Kesetaraan dalam memperoleh kesempatan. Siapapun boleh berdagang, duduk di posisi tertentu.  Tentara, polisi, mahasiswa, umum kalau naik bus harus bayar. Tidak memperoleh keuntungan karena atribut yang dipakai. Tentu saja bayarnya bisa beda-beda.  Polisi dan tentara mungkin punya kartu discount.  Kesetaraan masing-masing menurut persetujuan umum dan hukum.

Orang takut dengan kesetaraan karena akan merampas keistimewaan-keistimewaan yang diterima. Informasi dikuasai agar orang lain tidak mendapatkan pencerahan yang mendukung mereka jadi setara. Orang miskin dipertahankan agar tetap miskin. Kita menikmati adanya orang miskin ini. Mereka akan memperlakukan kita macam bos hanya karena mereka kita upah seadanya.  Kita menikmati keistimewaan atas manusia lain.  Kita merasa di atas orang lain. Kita tinggikan posisi di atas orang lain karena kemiskinannya. Kita buat mereka buta informasi agar tidak menyadari hak-hak yang mereka punyai. Kita bungkam mereka sebelum bisa bicara.

Kesetaraan memang hanya ada di dunia demit. Tidak ada kekuatan di manapun yang bisa menjadikan kesetaraan itu menjelma di dunia dan jadi fakta.  Kemanapun kita pergi di seluruh dunia, di bawah kolong langit, tidak ada kesetaraan itu.  Kesetaraan adalah impian manusia karena kelemahan dirinya sendiri dalam memandang kehidupan sekitarnya.  Kesetaraan hanya ilusi manusia tentang dirinya sendiri dan membandingkan dengan manusia lain.  Kesetaraan adalah kehausan manusia untuk keluar dari kulit yang memenjarakan dirinya sendiri seumur hidup.

Kesetaraan yang pasti antar manusia hanya kematian. Semua manusia hidup pasti mati. Kesetaraan yang tak terhindarkan.  Kesetaraan yang pasti dan tak terpungkiri.

Kesetaraan Fasilitas

Ketiadaan kesetaraan fasilitas makin menenggelamkan manusia pada dunia ketidak-setaraannya.  Membuatnya makin terkukung dalam dunia struktur sosialnya.  Jepitan struktur sosial membuat manusia terkukung dalam kemiskinan, kebodohan, ketidak-tahuan, kegelapan, kemandegan di dunianya.  Manusia berhenti untuk bergerak secara sosial.  Ia bagai manjalani hidup pada garis datar. Ia hidup hanya untuk mati.  Hanya karena adanya perlindungan hukum, ia tidak mati.

Kesetaraan fasilitas hanya bisa diciptakan oleh pemerintah. Pemerintahan yang korup mempertahankan ketiadaan fasilitas.  Atau ketidak-setaraan fasilitas diciptakan agar mobilitas sosial masyarakat terkendali demi mempertahankan kepentingan kekuasaannya.

RT, RK, Desa, Camat adalah lembaga dasar di masyarakat paling bawah untuk mengontrol mobilitas sosial. Masyarakat berada dalam sekat-sekat dan terkotak-kotak.  Menempati kotak yang lain perlu dikontrol karena akan menciptakan kesetaraan dan mengguncangkan kestabilan serta kemapanan sosial. Yang miskin tetap miskin. Yang punya fasilitas tetap mengenyam keistimewaannya tanpa kuatir direbut orang lain. Kelangkaan diciptakan agar prestige tetap terjamin mutunya.

Orang yang berada di posisi paling bawahlah yang menghendaki perlunya perubahan perbaikan kehidupan.  Dan jumlah mereka terbanyak sebagai sumber hisapan pajak terbesar bagi pemerintah.  Mereka juga penyumbang suara terbanyak dalam pemilihan umum.  Yang terbanyak inilah perlu dikontrol dan diawasi. Mereka adalah sasaran empuk pengeruk suara dalam pemilu. Kadang juga sebagai sasaran empuk buat sapi perahan para penguasa formal maupun informal. Dana gardu siskamling, dana kebersihan, dana pengaspalan jalan, dana bikin keranda dan potongan-potongan dana lain.

Di tingkat kampung selain KTP ada RT, siskamling, hansip dan kartu keluarga.  Kontrol pemerintah benar-benar sudah sampai pada kehidupan terdekat masyarakat.  Hampir-hampir memasuki dunia privacy masing-masing orang. Kebebasan orang untuk bergerak makin tersendat.  Alasan keamanan adalah alasan yang cari enaknya sendiri.  Keamanan yang ditawarkan tidak sebanding dengan harga kebebasan individu untuk bergerak menembus struktur sosial dan memperbaiki hidupnya.  Keamanan dikedepankan hanya demi menjamin berlangsungnya kekuasaan.  Hanya penjajah yang bisa demikian takut dengan mobilitas masyarakatnya dan dianggap akan mempengaruhi kelangsungan kekuasaannya. Alasan keamanan hanya menguntungkan secara sepihak.

Fasilitas dan kesempatan diciptakan tidak bagi semua orang untuk membenarkan kontrol sosial.  Fasilitas pemerintah hanya untuk orang ber-KTP yang disetujui.  Fasilitas pemerintah hanya dinikmati oleh masyarakat yang melek hukum dan huruf.

Bagi masyarakat bawah, KTP sebagai harga mati.  Tanpa KTP, kesempatan itu mati.  Bagai perhiasan di balik etalase.  Terlihat indah, mewah dan menggiurkan namun tak teraih. Hanya karena sepotong KTP, mobilitas sosial jadi mandek.  Tersekat pada secarik kertas. Seolah kelahiran dan tempat tinggal adalah harga mati. Nasib dan keberuntungan menggantung padanya, pada secarik kertas bernama KTP.

KTP tidak hanya berfungsi hanya sebagai kartu identitas diri tapi juga sebagai kartu identitas sosial, kelompok, perkawinan, ras, suku dan keturunan.  Membawa KTP seperti membawa orang sekampung.  KTP bagai tanda keanggotaan sebuah sekte-sekte dan kelas-kelas sosial.  Pelayanan sosial, kesehatan, kerja dan lain-lain tergantung KTP-nya.

Keterbatasan masyarakat bawah dalam ekonomi dan pendidikan makin memenjarakannya.  Struktur sosial menekannya untuk berada di keterbatasan itu.  KTP bagai gelang borgol.  Membelenggunya kemanapun ia pergi.  Bagai pesakitan. Kesetaraan makin menjadi impian dalam impian.  Makin tak terjangkau. Pindah tempat dan pindah KTP adalah urusan tak terbayangkan.  Njlimet bagai mengurai kembali kelahiran dan sejarah hidup. Pak RT cemburu karena mengendus kesempatan tetangganya mengalami perubahan nasib. Surat RT tidak semudah dikira.  Perubahan nasib sudah terganjal pada tingkat dasar pada saat langkah baru setapak dimulai. Janin perubahan sosial sudah mengalami keguguran kandungan. Enggan untuk lahir dan hidup yang sudah digariskan manusia lewat lapis-lapis struktur sosial penguasa.*** (HBS)


Leave a comment

Melahirkan Nasionalisme Lewat Budaya Pemahaman Substansi

 ENTAH apa yang dilakukan Belanda selama 350 tahun menjajah Indonesia. Pasti banyak sekali pengaruhnya. Kalau dihitung, empat sampai lima keturunan bangsa Indonesia berarti tidak pernah mengenal budaya asli selain budaya yang ditanamkan oleh Belanda, sang penjajah.  Budaya yang tentu saja menguntungkan dari sudut penjajah. Tidak mungkin Belanda menanamkan kebudayaan yang membuat bangga dan punya harga diri pada bangsa Indonesia. Rekayasa budaya produk penjajah itu pasti efeknya benar-benar mengakar pada budaya Indonesia hingga kini.

Sebuah kebudayaan akan tenggelam jika sumber referensi yang mengacu budaya asli dipotong. Peradaban kuno Maya, Mycenaeans, Aksumite, Khmer dan lain-lain menghilang tanpa bekas tanpa diketahui  sebabnya.  Bangsa Portugis merusak peninggalan budaya Maya, menyebabkan budaya besar itu tidak sempat diwariskan ke generasi berikutnya.  Sehingga bangsa kehilangan sejarah kebesaran bangsanya.

Demikian juga tindakan yang dilakukan Belanda. Memboyong prasasti-prasasti, tulisan-tulisan hasil karya kebesaran bangsa kita ke negaranya.  Membakar buku-buku yang wewariskan kebesaran nenek moyang kita agar kita kehilangan akar sejarah kebesaran bangsa kita. Borubudur dipertahankan tapi referensinya dipotong. Borubudur hanya jadi warisan fisik. Kita kehilangan jejak untuk menelusuri peradaban sebenarnya. Kita terpenggal dari semangat peradaban nenek moyang kita. Apa yang kita punya adalah cangkokan budaya yang ditanamkan Belanda.

Budaya Cangkokan Belanda

Kebesaran budaya asli Indonesia bisa saja dipotong oleh Belanda demi mempertahankan penjajahannya. Mendidik masyarakat Indonesia agar punya mental nurut dan tidak melawan Belanda.  Menghilangkan kebanggaan harga diri bangsa Indonesia, bahwa bangsa ini pernah menjadi bangsa besar. Mengikis rasa bangga sebagai bangsa yang besar agar mudah diatur, dikuasai dan dikontrol.

Sisa-sisa kebudayaan peninggalan Belanda itu tidak terlihat secara nyata. Karena budaya warisan Belanda itu diinternalisasikan secara kejiwaan dan memakai kontrol sosial untuk melanggengkannya.  Jadilah kita seperti saat ini.

Birokrasi yang mengontrol dan mengadu domba masyarakat demi kelangsungan kekuasaan. Rasa takut pada pangreh raja, pamong desa, walikota, gubernur dan seterusnya.  Mereka adalah keturunan para ningrat yang mendapat wahyu untuk memimpin. Apa yang diomongkan adalah wakil omongan dari para dewa atau sesuatu yang menguasai hidup kita.  Alam ghaib dan supernatural. Rakyat wajib tunduk dan nurut.  Asal mereka bisa hidup tenang dan tentram.  Para dewa melindungi mereka selama mereka menghormati dewa dan jelmaannya di dunia itu.

Masyarakat diarahkan untuk tidak bertanya tentang substansi sebuah kekuasaan. Dilarang mempertanyakan substansi ucapan dan tindakan pemerintah.  Substansi ucapan seorang dewa itu tidak penting. Yang penting harus nurut dan dipikir sendiri apa makna tersiratnya.

Budaya kita termasuk budaya high context.  Budaya komunikasi yang tidak perlu semua dijelaskan langsung. Makna harus ditelusuri sendiri. Warisan Belanda telah menabukan sikap yang mempertanyakan sebuah substansi tindakan. Kita pandai pakai isyarat-isyarat, simbol-simbol, pandai menyiratkan apa yang tersurat atau menyuratkan apa-apa yang tersirat.

Hingga setelah bangsa kita merdeka, kita masih belum mampu melakukan tindakan dan pikiran yang mempertanyakan sebuah substansi. Kita sibuk memoles-moles apa yang tersurat dan gagal mempertanyakan apa yang tersirat. Bahkan enggan mempertanyakan substansi apa yang tersirat karena kontrol sosial yang tertanam dalam masyarakat menghentikan itu. Mempertanyakan substansi yang tersirat sama saja melawan kepentingan umum. Tidak lazim dan nyleneh.  Tanda kurang dewasa.  Sesuatu yang asing.

Konformasi sosial kita lakukan. Kita hiraukan pertanyaan yang punya substansi.  Kita acuh demi amannya.  Kita tenggelam dalam budaya massal. Keterikatan sosial senantiasa ditekankan. Digiring agar tidak keluar kandang sosial dengan berbagai cara.  Tekanan moral, indoktrinasi, teror, provokasi adu domba dan lain-lain.

Maka tekanan yang kita lakukan sebagai bangsa adalah hal-hal yang nampak mata dan tidak mementingkan substansinya.  Gedung MPR harus bernilai milyaran rupiah.  Wakil rakyat harus berkilau rumah dan mobilnya.  Apa-apa yang besar, banyak, mewah pasti menang dan yang benar.

Kurikulum pendidikan ganti setiap menteri ganti tanpa memperbaikinya secara substansial dengan kemajuan manusia seutuhnya. Maka pelajaran kimia pun dimasuki dengan interpretasi dari sudut agama. Keilmuan terdistorsi oleh tambal sulam hal-hal yang tidak substansial mengukuhkan keilmuan itu sendiri. Presiden kita sendiri dikritik karena pidato memakai bahasa Inggris. Substansi isi pidato menjadi nomer dua.

Sebagai bangsa, kita gagal menggalang semangat kerjasama. Masyarakat kita terpecah-pecah. Tipis ethos rasa kerjasamanya.  Kerjasama tidak dinilai substansinya tapi guyubnya.  Tidak aneh jika tidak ada satu organisasi yang bisa kuat berdiri dan didukung bersama karena dilihat substansinya.  Pasti pecah menjadi lebih dari satu meskipun substansi yang diperjuangkan adalah sama.

PSSI misalnya, dalam satu organisasi sibuk bikin intrik dengan mengobok-ngobok masalah yang tidak menyentuh substansinya. Atau organisasi HAM yang sibuk bertengkar jatah mobil, perumahan, tunjangan rumah, tunjangan jabatan, kehormatan sosial dan lainnya. Pengurusnya bertengkar dan organisasi teracam buyar.  Substansi organisasi tidak penting lagi.  Lebih sibuk dengan konco-koncoan dan kroni-kronian.

Belajar Budaya Substansi

Budaya Jawa sebagai budaya mayoritas di Indonesia sudah demikian terpolusi dengan budaya cangkokan warisan feodal Belanda.  Mungkin satu-satunya varian budaya Jawa masih mencerminkan atau mendekati budaya asli Jawa adalah budaya Samin yang dengan gigih menentang Belanda lewat protes kebudayaan. Budaya Samin menghargai ethos kerja sama, kejujuran, kepercayaan, persamaan dan persaudaraan lewat terminologi budaya Sedulur Sikep.

Budaya kaum Sedulur Sikep tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa level terendah yang dipakai rakyat jelata atau ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan, substansinya.

Paham ajaran Samin Surosentiko ini tidak membeda-bedakan agama.  Agama adalah senjata atau pegangan hidup.   Orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.  Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang.  Bersikap sabar dan jangan sombong.  Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati.

Budaya Samin menunjukkan pada telaah yang mementingkan substansinya daripada lapisan luar yang serba gemerlap dan bias dalam interpretasi.  Sementara substansi hanya mengacu dan menghasilkan satu sudut interpretasi.  Sebuah sudut interpretasi yang mudah dipahami dan dianut secara mendasar oleh orang yang terlibat.  Memungkinkan untuk secara bersama-sama berputar pada poros sama. Putaran bisa makin cepat jika memakai poros yang sama dan bisa mengarah pada tujuan sama pula. Sementara ini kita gagal memahami poros bersama itu. Bahkan kita buta dan tidak mengakui pentingnya adanya poros tempat putaran kita bersama.

Barangkali kita perlu belajar budaya pada masyarakat Sedulur Sikep itu. Kebudayaan yang menjauhkan diri dari pengaruh Belanda.  Kita juga bisa belajar dari budaya Minang, Batak dan lain-lain kebudayaan yang jauh dari pengaruh pemerintahan Belanda pada jaman dulu.  Karena budaya yang jauh dari pusaran kekuasaan Belanda sepertinya telah membuktikan semangat kerjasama masyarakatnya.

Bahkan kita bisa belajar dari masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa.  Mereka tidak terpolusi dengan parah oleh cuci otak budaya Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda, mereka hanya dibatasi peranan politiknya, selebihnya bebas untuk berdagang.  Mereka tidak menjadi obyek kekuasan Belanda.

Tidak heran saudara kita keturunan Tionghoa piawai dalam berdagang.  Mereka punya orientasi budaya lebih baik.  Lebih terbuka untuk menyesuaikan kemajuan budaya luar. Orientasi mereka internasional.  Mereka sangat adaptif dengan lingkungan multi budaya. Jangan-jangan merekalah yang masih mewarisi semangat nenek moyang kita dalam menjelahi dunia?  Indonesia pernah menjadi negara maritim yang besar pada jaman Majapahit hingga menjelajahi belahan dunia lain juga lewat perdagangan.

Kita memang bisa belajar pada siapa saja yang menularkan budaya untuk melihat segala sesuatu secara substansial.  Jokowi yang suka blusukan.  Substansi kekuasaan adalah membimbing masyarakat untuk maju dan sejahtera dengan tindakan riil di lapangan dan tidak lewat simbol-simbol dan retorika kosong.  Menjadikan masyarakat subyek dan bukan obyek dalam memacu kemajuan kepentingan bersama dan bangsa.

Jokowi telah membuka diri dan menunjukkan bahwa ia bukan manusia istimewa meski sebagai pangreh praja.  Jokowi adalah juga manusia biasa, rakyat biasa yang suka bakso, nasi campur atau tempe goreng yang dijual di sudut pasar. Itulah substansi kepemimpinan yang hendak disebarkan pada masyarakat kita. Kepemimpinan yang jauh dari basa-basi. Kepemimpinan yang mengajak masyarakat untuk berproses ke depan bersama-sama.

Atau Ahok yang suka bicara ceplas-ceplos menukik pada substansinya.  Ahok telah membuka jalan agar kita secara budaya bisa melek dan melihat pentingnya substansi daripada etika, aturan bahasa, sopan santun, kehormatan, suku, ras, agama dan sebagainya yang tidak secara substansial punya arti penting dan bahkan multi tafsir.

Selama kita sibuk dengan tafsiran-tafsiran yang tidak berkontekstual dengan substansinya, kita bakal berjalan di tempat. Kita tidak bakal menemukan poros yang bisa membuat kita berputar bersama dan menggelinding pada tujuan searah sebagai bangsa.

Kita menjadi bangsa pelupa karena berjibunnya tafsiran.  Kita sibuk mempertengkarkan tafsiran-tafsiran yang menggantung dan pada akhirnya menguap di udara.  Kita malu dan enggan  mengedepankan diri memperjuangkan kesubstansialan karena takut tafsiran-tafsiran sosial yang tidak kita ketahui dasar kebenaran dan kepatutannya. Kita sibuk melakukan pekerjaan rumah menerjemahkan tafsiran-tafsiran sosial dan lupa untuk bertindak secara substansial.  Kita telah terbelenggu dengan saratnya butir tafsiran di udara yang mengelilingi sumber nafas hidup kita. Tafsiran-tafsiran yang selamanya tidak akan pernah melekat pada substansinya.*** (HBS)


2 Comments

Fans Berat Jokowi?

ITU pertanyaan dari seorang teman yang mengomentari tulisan saya yang berjudul “Jika Saja Negeri Ini Menghargai Orang Jujur dan Berintegritas“.  Pertanyaan atau mungkin juga pernyataan teman tersebut sempat membuat saya tercenung.  Dan bertanya pada diri sendiri, apakah selama ini saya ngefans berat sama Jokowi?  Betulkah? Kalau tidak, kenapa tulisan saya ditanggapi sebagai pengefans Jokowi? Saya berterimakasih sekali dengan pertanyaan itu. Karena pertanyaan itulah saya merenung dan menuliskannya dalam artikel ini.

Komentar lengkapnya begini: “menyimak pak… btw fans berat Jokowi ya Pak Hery….“.  Sebuah pertanyaan yang sangat netral dan wajar yang diajukan oleh seorang teman kompasianer, mas Teguh Hariawan – yang tulisan-tulisan pariwisatanya mengiming-imingi saya untuk segera kembali ke Indonesia itu. Tapi bagi saya pertanyaan itu menggiring saya untuk berpikir lebih jauh. Pengertian ngefans bagi saya bernada sarat dengan kandungan emosi dan melihat dari sudut pandang yang kurang lebar.  Tidak beda jauh seperti kita ngefans bintang film atau penyanyi populer.

Mungkin ada benarnya, kalau saya ngefans Jokowi. Siapa yang tidak?  Berita tentang sepak terjang Jokowi dalam memimpin Surakarta dan DKI Jakarta ada di mana-mana. Pola kepemimpinannya banyak yang tertarik dan memujinya.  Media menyiarkan keberadaan Jokowi dan juga Ahok secara terus menerus tanpa hampir putus.

Bagaimana mungkin seorang tidak terpengaruh oleh berita yang secara beruntun memborbardir pikiran tiap hari? Pasti sedikit demi sedikit akan goyah dan terpengaruh oleh persuasi yang gencar datangnya itu. Dan  kemudian jadi fans berat Jokowi.  Jokowi menjadi tokoh yang diideolakan.  Terpaan media massa dan sumber informasi lain pasti punya dampak pada seseorang meski dengan tingkat beda-beda. Apalagi jika dilakukan secara terus menerus dan oleh banyak media massa ditambah informasi dari lingkungan terdekat yang kita akrabi.  Dampak pengaruh dari terpaan informasi tersebut bisa dari sekedar kepuasaan mendapat informasi hingga mempengaruhi perilaku dan cara berpikirnya.

Persuasi yang dilakukan secara masal dan terus-terus memang bisa menciptakan sebuah kebenaran baru karena setiap individu cenderung melakukan konformasi sosialnya agar merasa bisa diterima secara sosial. Tidak peduli apakah informasi dasar dari persuasi tersebut benar, rekayasa atau tidak benar sama sekali.  Jika banyak orang menerimanya sebagai kebenaran, maka tidak ada waktu lagi bagi individu untuk secara kritis mempertanyakan kebenaran informasinya.  Mereka akan menerimanya secara berangsur-angsur lewat alam bawah sadarnya dan akhirnya tanpa disadarinya telah merubah cara berpikir, sikap dan opininya untuk menyesuaikan keadaan sosialnya.

Saya tinggal di luar negeri.  Berita-berita tentang Jokowi jarang saya dapat kecuali dengan sengaja saya mencarinya lewat internet. Satu-satunya media informasi yang saya andalkan.  Lingkungan sosial dimana saya hidup juga tidak membicarakan tentang Jokowi. Media massa Australia tidak pernah menyiarkan tentang Jokowi. Jangankan Jokowi, penyiaran tentang presiden kita saja jarang-jarang.  Bahkan berita tentang Indonesia juga jarang.

Yang ramai diliput di media massa Australia saat ini dan berkaitan dengan Indonesia adalah masalah “boat people” atau para imigran yang mencoba masuk Australia secara gelap dengan kapal lewat Indonesia.  Pembicaraan tentang boat people ramai di media karena merupakan isu empuk buat kampanye politik yang sebentar lagi diadakan.  Orang Australia merasa was-was dengan para pendatang gelap tersebut karena berbagai alasan. Nah, ini jadi nilai jual tersendiri untuk kepentingan politik.


Dengan Kesadaran

Saya secara mandiri dan sadar mencari informasi tentang Jokowi. Itu saya lakukan di sela-sela kesibukan saya sehari-hari. Secara selektif saya pilih informasi yang saya kehendaki. Hanya yang berkaitan dengan isu tertentu saja yang saya baca atau tonton lewat youtube. Selebihnya, tidak mungkin saya baca atau tonton semuanya. Bagaimana saya bisa sampai jadi fans Jokowi?

Sejak Indonesia menjalankan Reformasi, berita tentang Indonesia jarang saya ikuti. Karena isinya itu-itu saja dan malah bikin stress kalau mengikutinya. Banyak berita yang tidak masuk akal.  Banyak berita yang isinya menyinggung, melecehkan dan merendahkan rasa keintelektualan seorang individu yang bernalar sehat.  Maka saya putuskan untuk membutakan diri berita tentang Indonesia.  Hanya kalau benar-benar penting saja saya baru buka internet dan membacanya.  Sampai berita tentang Jokowi yang diikutkan dalam bursa walikota terbaik dunia itu muncul.  Dari situ saya mulai tertarik kembali mengikuti berita tentang Indonesia. Siapa sih Jokowi?  Kok bisa-bisanya nama itu muncul mendunia? Namanya saja kedengaran ndeso. Kemudian saya baca isu tentang mobil dinas buatan SMK di Solo yang hangat diberitakan di media masa awal tahun 2012.

Kemudian secara pelan-pelan saya mulai menyadari siapa orang yang punya nama kedengaran ndeso ini.  Sepak terjangnya dan kerendah-hatiannya. Cara menyelesaikan masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan masyarakat kecil.  Lama-lama saya terkesima, ternyata masih ada pejabat yang punya sikap kayak manusia normal di Indonesia.

Lalu saya baca biografi Jokowi.  Ternyata ia lulusan UGM, sealumni dengan saya.  Dan ini mengingatkan saya bahwa mungkin saja saya pernah melihat Jokowi saat baru masuk UGM di koperasi Kagama saat ia beli tas. Anaknya kurus dan hitam berambut panjang.  Kemudian saya dapat informasi dari teman, bahwa Jokowi pernah dia training tentang wirausaha di tempat lembaga trainingnya di Semarang.

Saya tertarik dan mengikuti berita Jokowi atas kesadaran sendiri dan tidak karena melakukan konformasi sosial.  Saya mungkin ngefans tapi jauh dari sekedar suka atau sebagai pemuja semacam pemuja penyanyi pop atau bintang film terkenal.  Saya ngefans karena didukung oleh informasi-informasi yang saya saring dan analisa sendiri.  Mungkin saja lebih obyektif rasa ngefans saya.

Karena Jokowi dan Ahok, kini bangkit kembali harapan saya tentang Indonesia yang lebih baik dan maju.  Harapan adalah satu-satunya sumber kekuatan hidup.  Jika orang sudah tidak punya harapan, ia sudah kehilangan separo dari hidupnya. Indonesia menjadi hidup kembali di mata saya.

Saya berpengharapan lebih pada karakter dan integritas pribadi Jokowi dan Ahok melebihi orangnya. Nama Jokowi atau Ahok bisa diganti oleh nama siapa saja.  Namun karakter dan pribadi itu susah diganti oleh sembarang orang. Kesadaran bahwa politik itu kotor dan kekuasaan cenderung korup membuat saya tidak menggantungkan harapan saya pada orangnya, tapi lebih ke fenomenanya.

Apa yang dilakukan Jokowi dan Ahok merupakan kecenderungan baru di arena perpolitikan dan birokrasi Indonesia.  Sebagai pemegang kekuasaan, Jokowi – Ahok tidak selamanya bisa lepas dari godaan untuk korupsi.  Fenomena Jokowi – Ahok inilah yang perlu dijaga, diruwat, dilestarikan dan diperpanjang umurnya.  Kalau perlu diadopsi secara budaya.  Agar meski Jokowi atau Ahok digulingkan dari kekuasaannya, fenomena itu tetap ada.  Atmosfir model kepemimpinan Jokowi dan Ahok tetap bersama kita untuk menyongsong Indonesia lebih baik. Agar muncul Jokowi-jokowi dan Ahok-ahok lainnya yang kini masih sembunyi menunggu saat tepat untuk berkiprah membangun Indonesia.

Saya kuatir, jika kita hanya menekankan pada Jokowi – Ahok sebagai pribadi dan memperlakukannya seperti bintang film atau pemusik pop, maka umurnya tak akan panjang. Ia akan tenggelam dan tak meninggalkan bekas jika kepopuleran itu meredup seiring berjalannya waktu. Dan Indonesia kembali akan terpuruk berputar kembali pada tempatnya semula.

Kita akan kembali ke bentuk pemerintahan yang penuh luka koreng dan kudis. Kita hanya sibuk menggaruk-garuk diri kenikmatan. Sementara lainnya sudah berlari begitu cepat dan bersliweran di depan kita. Selama koreng dan kudis kita tidak disembuhkan, maka kita akan tetap asyik dengan diri sendiri.  Sibuk menghibur diri bahwa suatu saat ditemukan obat kudis dan koreng yang mujarab. Sementara itu tidak sadar bahwa koreng dan kudis itu makin meluas dan membusuk. Tentu saja kita tidak ingin menjadi bangsa kudisan atau korengan.  Berjalan di tempat entah untuk berapa puluh tahun lagi ke depan.

Pada usia saya yang setengah abad ini, ingin sekali melihat Indonesia berubah. Sebelum mati ingin sekali merasakan bagaimana jika Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang dicintai rakyatnya. Pemimpin semacam Soekarno, Jendral Soedirman atau Gandhi.  Pemimpin yang membuat rakyat punya kepedulian dengan bangsa dan negaranya secara positif.

Pemimpin yang dicintai rakyat sedemikian besarnya sehingga mereka rela mengorbankan tenaga, pikiran, materi bahkan nyawa buat pemimpinnya. Pemimpin yang mampu menggerakkan rakyatnya untuk saling membantu, perhatian satu sama lain, toleransi, rukun, siap kerjasama tanpa pamrih demi kemajuan bersama dan bangsa. Pemimpin yang memberi rakyatnya harapan masa depan bangsa yang cerah. Pemimpin yang memikirkan dan menyiapkan generasi penerus bangsa supaya sehat, cerdas, mumpuni, trengginas, inovative, semangat bersaing tinggi, punya otot kawat balung wesi.

Dan saya menemukan harapan tentang sebuah pemimpin yang akan menyembuhkan bangsa ini dari penyakit kudis dan koreng pada fenomena kepemimpinan yang secara kebetulan saat ini dipunyai Jokowi dan Ahok. Fenomena kepemimpinan yang membawa angin segar dan kebaruan Indonesia.  Mudah-mudahan akan terjadi secepatnya sebelum saya mati. Agar saya bisa tersenyum puas dalam keranda.  Dan akan tetap tersenyum saat wajah saya ditimbuni tanah basah dan diinjak-injak.*** (HBS)


Leave a comment

Does Indonesia Suck as a Tourist Destination?

 SAMSUNG

THE answer is yes and no. It depends on how you look at it and from which angle you are referring to. It’s also depending how you manage your travel plan.

But, before I continue to write further please read these comments below. You will find these comments are common and typical tourist had experienced while visiting Indonesia for various reasons.

These comments mostly negative and I think were quite genuine. I just feel sorry that they had such bad experience during their visit to Indonesia. I quoted part of the comments below:

I just visited Indonesia some time ago, to visit my friend from the university. He’s an Indonesian, so during my vacation I decided to go to Indonesia for a vacation and visit him.

I must say that Indonesia is not a country worth visiting … sorry about this, Andy if you read my posting. For starter, Jakarta is very dirty, you’ll see trash and litter everywhere you go. I just can’t imagine a capital city with this poor level of cleanliness. I was fortunate to have Andy my friend to show me around Jakarta, in which rarely tourists are shown to. Areas that you may see quite clean and sophisticated are only in the downtown area. I only remembered the streets named Sudirman, Thamrin and Kuningan that are quite representative for a capital city. Any other areas you go, you’ll feel like that you’re in some third-world country with poor people and trash everywhere (I think Indonesia is still considered a third-world?)

I was lucky I have a friend in Jakarta, otherwise I wouldn’t dare going around in public transportation. I was told to be careful when selecting cabs. I remembered there is only one company considered safe, called Blue Bird or something, with their cars painted in blue. I was told not to take just any cab since it wouldn’t be safe. I was told there are so many crimes occurred involving taxi drivers. I certainly didn’t want to take the public busses. Wait until you see them yourselves, and I bet you wouldn’t want to ride in one either. The busses are so dirty, so packed with people and the vehicles themselves look as if they’re very poorly taken care of. I couldn’t even find a decent information of which bus should I take if I would want to go somewhere, and what is the fare. Those busses have someone (or sometimes two) called “conductor” hanging around in the door, collecting money from passengers. I was terrified to see them hanging like that in the door while the bus were driving quite fast. Well, yes they have now a network of public busses called TransJakarta if I’m not mistaken, but the network was not vast enough to cover the whole city.

Not to mention the streets from hell. The traffic in Jakarta beats the hell out of any traffic I’ve ever seen in the world. (source: http://theunspunblog.com/2010/04/05/does-indonesia-suck-as-a-tourist-destination/). See also: http://www.2fortravel.com/top-5-reasons-that-indonesia-sucks/

I don’t think that the traveler had learned enough about Indonesia prior their departure to Indonesia. They might have high expectation about Indonesia. The traveler probably learned about Indonesia briefly through pamphlet they got from their travel agent. Or from travel book that mostly write Indonesia as tourist promotion. Off course as promotion media, they will not tell the reality or anything else in specific except tourist destination. It’s not surprising that their expectation differed than what they experienced.

In real life, as in anywhere in the world, it will not always be the same as written in the book. Country habit, daily life, custom, human or social interaction and so on will not be explained in depth. This is the interesting part of traveling. Social or human interactions can be unpredictable, different, vast, tricky to understand. You need to know bits and piece about this. If you are experienced traveler, you might not surprise with these issues. If you are amateur traveler, or never travel to third world country, you might shock and find every thing is so different and not as expected.

Most tourists wrongly expected that the destination country will be at least same as the country where they come from. Transportation and accommodations are easy and clean, the people are friendly, the prices are fixed as in tag no need to bargain, and facilities are standard and so on.

If you come to other country, the first thing you have to do is switched off your standards or at least lower your expectations in lots of things once you step your feet on the ground of destination country. Many simple things will annoy you if you won’t. Collecting bags, finding trolley, immigration check and else. You will find the way were handled quite differently than your country. Anything that look normal in your country, become a struggle in Indonesia. Especially if you come from developed country and come to developing country. Be ready to accept the unexpected facts and gradually changed your attitude. Study the fact how the people are dealing with situation and learn from them. This will guarantee you to blend with locals easily and will provide new perspective in seeing things. Be ready for the real adventure.

Maintaining your high standard and expectation will only drag you down and eventually will reduce your enjoyment. If your expectations are simple, you will find that actually the situation is not that bad at all. Than you will realize they are lots of things can be enjoyed. Keep your mind simple and follow the flow. Disgruntle only make everything get worsen off. Indonesian people are very proud of their country. Your high standard of expectation might offend locals without your knowledge. Comparing their country with other country is not wise thing to do. The locals enjoy their life. They are relatively happy with what they have and see. So, there must be some way how to enjoy life in here even the fact is beyond standard of your expectation.

The moment you set your mind simpler, you will learn new way of life quicker and adjust yourself to new environment much easier. Just keep in mind that most of things will be different than in your original country where you come from. Even simply say hello to unknown people are common. Indonesian likes to know western. Mostly they want to practice English or just being helpful to foreigner. Don’t get offended. You might think that they are too nosy and try to interfere with your privacy. Whenever you go, it seems they never left you be alone.

Any information relating with your traveling can’t be found easily. Map will be hard to find but there always be tourist information around the corner. The hint is you have to ask lots. That the way to live in Indonesia. Be social and ready to talk to stranger. Just do not get too friendly. Maintain as casual and formal as you can. Friendly doesn’t mean you have to be close personally. Ask question more than one person to avoid being falsely given wrong information to trap you into troubles. Ask to group of people. In that way, you will get correct information.

One more thing, don’t eat food if see or suspect that was not processed hygienically. Try to eat fresh and hot food just been cooked. Don’t eat anything raw or cold food if you are not sure how the food was handled or processed. Pay bit more expensive food in proper restaurant otherwise you will get sick. If possible, drink only from sealed bottle or something is hot boiled water.

Anywhere you go always be patient. Time is slow in Indonesia. Give yourself plenty of time outside your time frame. Time is perceived as intangible and circular in Indonesia. Not like in western country where the time is linear and almost tangible.

Have safe journey and welcome to Indonesia.*** (HBS)

 gua tabuh


Leave a comment

Jika Saja Negeri Ini Menghargai Orang Jujur dan Berintegritas

SEANDAINYA bangsa Indonesia menghargai orang yang berlaku jujur dan punya integritas diri, pasti alangkah bedanya keadaan sekitar kita.  Tidak saja orang merasa tentram bisa tidur nyenyak setiap harinya, tapi juga kemajuan-kemajuan lain atas dasar kepentingan bersama akan cepat terwujudkan.

Jika semangat berbuat jujur tertanam pada setiap orang Indonesia, maka pada lebaran ini, pada saat banyak masyarakat mudik ke kampung halamannya masing-masing dan memberi sumbangan Rp10 ribu per orang pada daerahnya masing-masing bisa dibayangkan berapa uang terkumpul. Uang itu bisa dipergunakan untuk membangun daerah masing-masing atau membantu masyarakat lain yang kurang beruntung secara finansial.

Banyak uang digunakan untuk berbelanja pada saat berlebaran. Banyak pengeluaran tidak perlu dan menghabiskan ribuan rupiah.  Jika saja sedikit uang itu bisa dikumpulkan untuk kepentingan bersama, maka nilai manfaat yang akan diperoleh jauh lebih besar.

Jika budaya jujur tertanam pada setiap orang, maka masyarakat tidak ragu-ragu lagi menyumbangkan uangnya demi kepentingan bersama.  Tapi ini tidak terjadi. Mengeluarkan uang untuk sumbangan meski nilainya tak seberapa akan membuat enggan jika tidak diketahui dengan jelas mau dikemanakan uang sumbangan tersebut.  Seikhlas-ikhlasnya manusia, pasti suatu saat akan mempertanyakan sebuah tanggung-jawab. Paling tidak, ada keinginan untuk mengetahui apakah sistemnya bekerja dengan baik.

Kepercayaan pada sebuah sistem tergantung tingkat kejujuran pelakunya. Karena dari sinilah lahir rasa percaya dan terbina trust culture. Jika pelaku banyak yang korup, jangan harap ada kepercayaan pada sistem.  Uang seperser pun tak bakal mengalir jika sistem dinilai korup.

Menarik sekali dengan dilakukan oleh Presiden AS, Barrack Obama dalam kampanye pemilu 2008 lalu.  Obama menaruh kepercayaan besar pada pendukungnya hingga level bawah (grass root) dalam hal pembiayaan kampanye politik keprisidenannya.  Secara mengejutkan Obama berhasil mengumpulkan dana sebesar US$750 juta dari para pendukungnya.  Jumlah uang yang tidak sedikit untuk dana pemilu.  Sebanyak 53% dari dana tersebut berasal dari masyarakat yang menyumbangkan uang dibawah US$1000. Seorang pemimpin yang benar-benar dikehendaki oleh rakyat kecil.

Keberhasilan tersebut rupanya hendak ditiru oleh PM Australia, Kevin Rudd dalam melakukan kampanye pemilihan perdana menteri Australia tahun ini.  Pada tanggal 26 Juli lalu PM Kevin Rudd meluncurkan video penggalangan dana dan meminta pendukungnya untuk menyumbangkan $5 dengan target pengumpulan dana sebesar AUD$5 juta. (http://www.fpmagazine.com.au/rudd-mimics-obama-with-5-donation-call-334754/)

Usaha ini tidak tanggung-tanggung dengan menyewa orang-orang yang bertanggung jawab dalam strategi kesuksesan kampanye pencarian dana Obama yakni Tom McMahon dan Matthew McGregor.   Tom McMahon adalah Executive Director Democratic National Committee yang punya peranan ketika Obama terpilih kembali menjadi presiden tahun 2012.  Sedang Matthew McGregor adalah seorang ahli media sosial yang terkenal dengan julukannya sebagai “Digital Attack Dog”.

Menurut berita yang ditulis di harian The Telegraph, 06 Agustus 2013, permintaan dana yang diluncurkan oleh PM Kevin Rudd sehari setelah pengumuman pemilihan umum diperkirakan berhasil mengumpulkan dana sebesar sekitar AUD$12000 hingga AUD$24000.  Media ini mengabarkan bahwa ternyata masyarakat Australia merasa enggan untuk menyumbangkan AUD$10 uangnya pada Rudd. Jika dibandingkan dengan Obama yang dalam sehari bisa terkumpul $5juta.

Prestasi Kevin Rudd memang tidak secemerlang Obama.  Pemerintahan Kevin Rudd (Labor) dikabarkan banyak meninggalkan rasa ketidak-pastian tentang masa depan masyarakat Australia.  Partai Labor terkenal dengan partai yang suka belanja sehingga menciptakan utang negara dari AUD $58,28 juta pada tahun 2007 sejak Labor berkuasa menjadi AUD $233.98 juta pada tahun 2013 ini. Ditambah lagi dengan harga-harga kebutuhan pokok, listrik, bensin yang cenderung naik menambah rasa tidak percaya pada pemerintahan dibawah Kevin Rudd.  Masyarakat Australia yang terkenal amat dermawan ternyata tahu batas-batasnya.

Penggalangan dana masyarakat bersifat sukarela untuk tujuan politik sepertinya jarang terjadi di dunia perpolitikan.  Namun rasa pesimistik ini ternyata bisa dipatahkan oleh Barrack Obama – seorang tokoh presiden yang dikenal dekat dengan rakyat dan berhasil menggalang dana yang tidak sedikit bahkan berlanjut dengan penggalangan dana berikutnya lewat kampanye “Organizing for Action” (http://www.barackobama.com/?source=action-bar) untuk berbagai tujuan yang lebih sosial.

Hal serupa tapi tak sama terjadi dengan kasus kampanye Jokowi dan Ahok.  Mereka berdua dikabarkan tidak menggunakan money politik dalam melakukan kampanye.  Masyarakat yang biasanya disogok uang untuk memberikan suara pada partai tertentu ternyata rela memilih Jokowi dan Ahok tanpa menerima uang sepeser pun  dari mereka.  Maka jika uang serangan fajar, tabur bunga dan nama lainnya pengganti money politik, bila dikumpulkan tentunya jumlahnya tidak sedikit. Sebuah awal penggalangan dana sukarela Jokowi – Ahok yang tidak kentara yang berjalan sukses dengan terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI dan Ahok sebagai Wakil Gubernur. Sebuah fenomena terbaru yang langka terjadi di Indonesia, dimana pemimpin politik terpilih tanpa menggunakan uang pelicin.

Pertanyaan berikutnya adalah, bersediakah masyarakat seluruh Indonesia menyumbang dengan sukarela dana kampanye buat Jokowi untuk mencalonkan dirinya sebagai Presiden RI?  Bahkan mungkinkah Jokowi tanpa harus kampanye dan keluar uang banyak bisa mengeruk suara rakyat dan memenangkan kontes kepresidenan RI 2014?

Jika figur dan karakter Jokowi telah dikenal oleh seluruh masyarakat di Indonesia sebagai tokoh yang punya integritas, jujur, memihak pada rakyat dan memperjuangkan kepentingan bersama demi kemajuan bangsa, maka amat mungkin tanpa kampanye pun Jokowi bisa terpilih jadi Presiden RI. Masyarakat sudah haus perubahan. Reformasi yang dinantikan ingin direnggut secepatnya. Popularitas Jokowi – Ahok selama ini melahirkan pertanyaan mendasar pada benak kita, betulkah Indonesia sudah demikian sakitnya? Uang dan tenaga berapapun direlakan agar Indonesia bisa masuk UGD secepatnya dan bisa kembali sehat walafiat?

Jika Jokowi berhasil terpilih menjadi presiden tanpa keluar uang sepeser pun, maka kemampuannya benar-benar telah mengalahkan dengan telak Barrack Obama atau pemimpin di dunia manapun.*** (HBS)