herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Sandwich Makanan Khas Sehari-hari Orang Australia

Leave a comment

BAGI orang Indonesia, nasi adalah makanan pokok sehari-hari. Mulai sarapan hingga makan malam hampir bisa dipastikan selalu makan nasi. Sejak kecil kita sudah terbiasa makan nasi. Bahkan lauk-pauk juga ada yang dibuat dari bahan dasar beras, misalnya rempeyek.  Nasi bubur ayam adalah makanan yang kita kenal sejak kita belum punya gigi disuapkan oleh orang tua kita.

Begitu tergantungnya kita pada nasi, hingga kalau belum makan nasi belum mantap rasanya di perut. Terasa masih lapar dan perih.  Bahkan bisa membuat lemes badan. Padahal kalau ditinjau dari segi nutrisi, apa yang dimakan tidak beda jauh kandungannya dengan nasi. Malah kadang lebih bagus kandungan nutrisinya.  Tapi tetap saja perut kita merasa aneh. Seperti masih ada ruangan kosong tak terisi. Terasa ada yang masih bergeronggang dalam perut kita.  Tempat geronggang yang setiap saat bisa kemasukan angin dan perlu kerokan untuk mengeluarkannya kalau nggak mau jatuh sakit.

Bagi orang Australia, makan nasi untuk sarapan terasa berat.  Sarapan model orang Australia biasanya ringan-ringan.  Cereal (makanan kering dari beras atau gandum kemudian diberi susu segar) atau toasted bread (roti bakar kadang dilapisi mentega) dan jelly sebagai makanan penutup. Roti bakar dimakan pakai telur goreng atau sosis. Ditemani teh, susu, kopi, coklat hangat atau sari buah.

Sama seperti orang Indonesia, orang Australia juga keranjingan roti. Roti mengisi menu meja makan dari sarapan hingga makan malam.  Pagi makan roti bakar.  Siang makan sandwich – roti dua lapis dan di tengahnya diisi berbagai sayuran dan daging.  Ketika malam, roti kadang juga mengiringi menu utama. Bread roll – roti yang berbentuk lonjong dan kerasnya minta ampun, dimakan sebagai teman makan sup.

Anak kecil (juga orang dewasa) suka sekali jelly cita rasa khas Australia bermerek “Aeroplane Jelly”. Bisa dikatakan inilah makanan khas Australia (jello kalau di Amerika). Iklan dagang Aeroplane Jelly begitu terkenal di Australia.  Iklan nyanyian (jingle) Aeroplane Jelly sejak pertama didengar lewat siaran radio pada tahun 1938 (http://alldownunder.com/australian-music-songs/aeroplane-jelly-song.htm) hingga kini masih populer di iklan TV Australia. Jelly adalah makanan semacam agar-agar yang dimakan sebagai pendamping makanan pokok (desserts).

Makanan khusus khas Australia lainnya adalah semacam mentega (butter) bermerek dagang vegemite (http://www.vegemite.com.au/Pages/dinner-recipes.aspx). Produk terbuat dari kedelai berwana coklat gelap dan dioleskan pada roti tawar langsung atau roti bakar.  Vegemite dipakai sebagai penyedap makanan baik untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Bagi lidah Indonesia, vegemite terasa aneh. Penulis tidak bisa mencari pembanding makanan Indonesia yang terasa mirip. Sepertinya produk ini hanya bisa didapat di Australia.

Makanan roti paling populer di Australia adalah sandwich (baca informasi tentang sandwich di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Sandwich). Roti gapit tersebut terutama dimakan saat makan siang.  Sandwich amat luwes dalam pengkonsumsiannya.  Gampang cara bikinnya, praktis, ringan, rapi dan memenuhi banyak selera orang. Keluwesan sandwich terutama disebabkan karena aneka variasi bahan makanan yang bisa diselipkan di antara roti menurut keperluan dan selera masing-masing. Bisa cuma sayuran atau ditambahi daging.

Karena luwes dan praktis, sandwich bisa dipakai sebagai bekal makan siang di sekolah, bekal piknik, bekal makan siang ke kantor dan sebagainya.  Anak-anak sekolah dan pekerja memasukkan sandwich yang mereka siapkan di rumah ke dalam kotak makan siang (lunch box).  Sandwich bisa dimakan sebagai makanan panas atau dingin.  Hamburger adalah salah satu jenis sandwich yang dihidangkan panas-panas.  Bila suka vegemite, roti juga bisa diolesi vegemite sebagai penambah rasa.

Sandwich bisa disamakan seperti nasi goreng bagi masyarakat Indonesia. Nasi goreng dimakan untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Adonan nasi goreng juga menurut selera.  Demikian juga dengan sandwich. Isinya bisa disesuaikan dengan selera masing-masing orang.  Namun paling standard adalah diisi dengan sayuran yang mudah dan hampir selalu tersedia di rumah yakni tomat, sledri, daun sawi (lettuce), timun dan olesan mayonnaise (http://en.wikipedia.org/wiki/Mayonnaise). Variasi isian tak terbatas. Bisa ditambah keju, capsicum, jagung, acar, daging ayam, brambang, mayonnaise dengan berbagai pilihan rasa, buah olive, irisan lombok dan lain-lain menurut selera masing-masing orang.

Sandwich amat mudah didapat. Banyak restaurant di Australia menyediakan sandwich.  Salah satu menu yang selalu bisa didapat di hotel (termasuk bintang lima) untuk makan malam setelah restoran tutup sekitar jam 11 malam (dinamakan After Hours Menu, Walkin Menu, Sleepwalker Menu atau nama lainnya) adalah club sandwich.

13755703181690457586
Club sandwich yang siap dipanggang. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Isi club sandwich terdiri dari daging ayam, telur goreng, tomat, keju, sayuran mentah, mayonnaise, dan ham (Irisan daging babi. Bisa minta dihilangkan bagi teman muslim. Australia punya toleransi dan hormat dengan larangan agama lain). Daging yang dipakai dalam club sandwich sebenarnya daging kalkun tapi diganti daging ayam dan sepertinya sudah jadi kesepakatan umum karena tidak ada yang protes. Bahan-bahan tersebut dijepit oleh tiga lapis roti tawar kemudian dipanggang (toast) hingga keju terlihat meleleh.  Club sandwich dihidangkan sudah dalam keadaan terpotong menjadi empat bagian.  Kadang diberi kentang goreng sebagai makanan samping.  Harganya lumayan mahal di hotel berbintang sekitar AUD$30an per porsi!

Karena begitu populernya makanan sandwich, beberapa restoran Asia juga menjual sandwich.  Sandwich bikinan restoran Asia biasanya memakai roti bulat panjang.  Meski isinya hampir sama dengan sandwich standard, tapi ada tambahan lain yakni lombok, kadang kecambah.  Bagi lidah penulis, sandwich bikinan orang Vietnam amat menyenangkan karena rasanya beda dengan sandwich orang Australia.  Benar-benar bisa bikin perut kenyang dan sedikit kepedesan. Sebagian besar masyarakat AUstralia tidak tahan rasa pedes. Rasa pedas yang mereka golongan “strong” atau “extreme” di lidah penulis tidak ada apa-apanya.  Seperti rasa pedes berasal dari merica dan bukan dari lombok.

Restoran yang jualan sandwich selain menawarkan sandwich dengan isian standard, juga bisa menurut selera pembeli.  Isian sandwich terpajang dengan jelas dan pembeli tinggal minta isian yang dikehendaki dalam sandwichnya. Pemesanan sandwich bisa dilayani dengan cepat karena sifat makanannya yang praktis dan sederhana. Tinggal masuk-masukan isian pada jepitan roti, dimasukkan dalam kertas pembungkus, beres.

Keluarga Australia sepertinya jarang masak besar. Dapur mereka kelihatan selalu bersih. Jarang ada percikan minyak goreng di tembok atau endapan asap minyak di atap dapur.  Bahkan design rumah, letak dapur kadang berada di tengah tanpa ventilasi jendela dan hanya dipasangi “rangehood” yang berfungsi sebagai cerobong asap dan penyaring minyak. Lain dengan rumah tangga orang Asia. Dapurnya nampak lebih kotor dan berminyak dindingnya.

Bila berkunjung ke Australia dan bingung menemukan menu makanan, sebaiknya cari jalan mudahnya yakni beli atau bikin saja sandwich. Makanan praktis, mudah dibawa-bawa dan luwes bisa dimakan kapan saja bahkan bisa sambil jalan.  Jangan merasa risih jika melihat ada orang makan sandwich sambil berjalan.  Makan sambil jalan tidak menggangu siapapun, meski terkesan kurang sopan bagi budaya Indonesia.  Sepertinya masyarakat Australia tidak bosan-bosannya makan sandwich.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s