herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Mencari Kedamaian Lewat Keseragaman adalah Impian Bolong Siang Hari

DUA orang manusia satu agama saja bisa nggak cocok, bisa berantem, bisa saling maki, saling eksploitasi bahkan bisa saling bunuh. Bagaimana bisa yakin bahwa memilih pemimpin satu agama bisa baik? Obyektifitasnya dimana? Apakah realitis? Apa bukan hanya harapan dan angan-angan kosong belaka?

Pada saat dua orang manusia bersinggungan dalam ranah sosial, pada saat itulah sebenarnya seorang individu dipaksa untuk melakukan kompromi diri dengan kenyataan. Karena hanya dengan begitulah bisa tercipta hubungan sosial. Tanpa kompromi diri dengan manusia lain, diri itu bisa mati. Melawan kodratnya sendiri sebagai mahluk sosial.

Persinggungan antar dua orang manusia hanya mungkin jika ada kemauan melihat kepribadian orang lain dan menerimanya sebagai bagian dari kepribadian diri. Tanpa itu, orang lain akan dilakukan sebagai obyek. Manusia diperlakukan bukan manusia lagi, tapi lebih sebagai benda. Pada saat orang lain dilakukan sebagai benda, pada saat itu pula diri sendiri kehilangan pribadi sebagai manusia. Manusia yang kehilangan kepribadian sama saja dengan benda yang sekedar hidup.

Apakah agama bisa mendukung hidup? Dalam kerjasama antar manusia, jika agama dijadikan pegangan utama untuk keberlangsungan kerjasama, apakah agama bisa menjadikan orang tidak butuh uang, makan, seks, penghargaan diri, aktualisasi diri?

Dua orang manusia bersahabat karib dan satu agama pun, tidak akan bisa melulu hanya mendasarkan persahabatan mereka karena alasan kesamaan agama. Agama hanya memberi pandangan luar atas manusia lain. Kalau bahasa Jawa agama dianalogikan sebagai ageman (pakaian). Karena memang begitulah agama. Orang hanya bisa menilainya dari luar dan tidak bisa menukik ke kedalaman pribadi orang lain.

Kedalaman pribadi manusia yang punya dorongan biologis dan kejiwaan yang unik bagi seorang individu. Apa yang ada dalam diri pribadi individu kadang terlepas dari nilai-nilai agamanya. Karena tidak mungkin seseorang hingga dalam kehidupan privacynya selalu ingat tuhannya. Jika manusia bisa selalu ingat akan tuhannya, maka tidak ada lagi manusia yang merasa sengsara, menderita, terpuruk dan sebagainya. Semua manusia akan bahagia, selalu penuh senyum.

Dua orang manusia bersahabat kental dan satu agama pun tidak akan mempercayakan uangnya terhadap satu sama lain begitu saja dengan alasan kesamaan agama. Tidak akan membuka rahasia-rahasia hidupnya begitu saja karena alasan kesamaan agamanya. Ada bagian-bagian tertentu yang gelap yang tidak bisa diketahui masing-masing individu, meski sikap agama keduanya begitu sempurna. Karena pada hakekatnya masing-masing individu adalah entity berbeda, berdiri sendiri dan unik. Tidak ada dua manusia yang sama persis di dunia manapun. Beda kepala pasti beda identitas dirinya, meski pada manusia kembar siam yang beragama sama sekali pun.

Agama sendiri tidak bisa mendukung hidup. Tapi agama bisa membuat orang untuk bersemangat hidup. Agama bisa memberi pedoman orang agar hidup dengan baik dalam melakukan kerjasama dengan manusia lain. Agama memberi pedoman moral yang digariskan oleh “Tuhan” masing-masing agama. Agama adalah salah satu dari sekian banyak jalan dalam membantu manusia untuk lebih mengerti tentang arti hidupnya. Agama adalah salah satu dari sekian banyak jalan yang memberi penerangan diri pada saat manusia terpuruk dalam keheningan kesendiriannya.

Moralitas tidak selalu dari agama. Moralitas bisa lahir akibat adanya kerjasama antar manusia yang disetujui bersama. Moralitas bisa lahir dari pengalaman bersama antara sesama manusia. Moralitas bisa diwujudkan lewat peraturan-peraturan, perundangan, hukum-hukum bikinan manusia. Moralitas yang lahir karena adanya kontrak sosial. Moralitas yang lahir dari adat turun temurun menusianya.

Moralitas yang lahir karena adanya ketersinggungan dengan manusia lain terlahir tanpa bisa dibendung karena keterbatasan daya pikir manusia sendiri. Moralitas yang lahir tanpa peranan agama bahkan tanpa “tuhan”. Manusia yang super genius pun tidak mungkin bisa berpikir di luar batas-batas pemikirannya sendiri. Manusia selalu mengalami kesulitan untuk memahami diri sendiri.

Karena keterbatasan daya pikir manusia itulah, maka manusia tidak akan mungkin bisa mengerti dengan pas pedoman-pedoman yang digariskan oleh masing-masing tuhannya. Manusia tidak akan mungkin bisa berpikir seperti Tuhan. Dibanding Tuhan, manusia itu bagai sebutir debu pasir di pinggir pantai lautan yang luas. Tidak layak dibandingkan dengan kebesaran tuhannya. Demikian kecil nilainya. Karena demikian kecil nilainya itulah justru jadi berharga sebagai manusia. Karena itulah eksistensi dan jati diri sebagai manusia sebenar-benarnya.

Setiap manusia adalah sebuah entity yang terpisah dan unik. Setiap manusia terpenjara oleh kulitnya sendiri. Mencari keseragaman berdasar paham, ide, agama, ras, keturunan, antar golongan adalah pemenuhan mimpi manusia karena keadaan dirinya yang lemah dan secara entity terpisah sebagai pribadi. Mengidamkan kesamaan dalam banyak hal di segi kehidupan adalah impian siang hari yang bolong.

Manusia untuk bisa hidup sejahtera dan damai bukan karena keseragaman yang mustahil dicapai, tapi keselarasan dari berbagai perbedaan unik sebagai pribadi. Keselarasan yang mengorbankan sebagian kepentingan pribadinya dan mengakui pribadi orang lain sebagai bagian dari pribadinya sendiri. Begitulah seharusnya hidup sesama manusia agar setiap pribadi menemukan arti hidup bagi dirinya sendiri. *** (HBS)


Leave a comment

Debat Mayoritas dan Minoritas Berkepanjangan Melantur Tanpa Arah

PERDEBATAN antara mayotitas dan minoritas akhir-akhir ini mencuat karena kasus didemonya seorang lurah yang beragama minoritas memimpin penduduk yang mayoritas. Perdebatan tersebut merambat ke mana-mana dan sepertinya tidak berkesudahan. Masing-masing menyodorkan argumennya dan bersitegang dengan pendapatnya masing-masing.

Persoalan mayoritas dan minoritas sepertinya memang sejak lama jadi perdebatan terhangat di Indonesia. Semasa pemerintahan Soeharto debat suku mayoritas dan minoritas sempat menghangat dengan adanya program transmigrasi. Transmigrasi dicurigai sebagai jawanisasi Indonesia. Orang Jawa yang mayoritas dianggap berusaha menguasai suku-suku minoritas di Indonesia.

Pemerintahan Soeharto juga dianggap banyak diwakili oleh dari golongan mayoritas, yakni suku Jawa. Daerah-daerah di luar Jawa, pemimpinnya banyak dari suku Jawa.

Hasil sumber alam Indonesia yang didapat dari luar pulau Jawa hanya diperuntukkan bagi penduduk Jawa. Penduduk di luar Jawa tidak kecipratan hasil kekayaan alam mereka. Kecemburuan sosial antara penduduk luar Jawa dan Jawa berangsur-angsur meninggi, terutama di Aceh dan Irian Jaya. Pembangunan di Jawa meningkat pesat. Sementara di luar Jawa pembangunan seperti berjalan di tempat. Pemerintah dianggap pilih kasih.

Pemerintah yang mayoritas orang Jawa dianggap tidak peduli dengan pulau lain di luar Jawa. Ketidak-puasan terjadi di mana-mana. Hingga sampai ke titik ekstrim, yakni pemberontakan atas nama daerah. Mereka menuntut kemerdekaan, memisahkan dari Indonesia. Mereka menganggap telah dijadikan sapi perah orang Jawa. Kekayaan alam mereka dikuras, tanpa mendapat porsi pembagian hasil sepantasnya.

Isu-isu kesukuan secara sosiologi sosial menarik perhatian para ahli. TVRI salah satu media pemerintah yang pancaran siarannya bisa diterima hampir di seluruh Indonesia mengambil langkah-langkah bijaksana dengan menempatkan suku bukan Jawa sebagai pembaca berita. TVRI berusaha mengetengahkan kesetaraan suku, berusaha mewakilkan suku-suku lain dalam program-programnya agar tak terkesan didominasi orang Jawa. Agar terkesan suku lain selain Jawa juga terwakili dalam pemberitaan.

Lalu kerusuhan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 menyalahkan kaum minoritas keturunan Cina sebagai biang keladi kemerosotan ekonomi. Warga negara Indonesia keturunan Cina menjadi kambing hitam dan menjadi sasaran empuk penganiayaan.

Isu-isu minoritas dan mayoritas di Indonesia mengambil rentang sejarah panjang. Perdebatan terus berlangsung dengan obyek sama meski obyek perdebatannya bergeser ke thema lain. Sepertinya hampir setiap bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya tidak luput diperdebatkan relevansinya dengan terminologi mayoritas dan minoritas.

Kini setelah 15 tahun sejak reformasi dicanangkan tahun 1998 yang diharapkan kita semua bisa belajar demokrasi, ternyata masalah mayoritas dan minoritas ini makin mencuat dengan tajam. Perdebatan tajam tersebut memasuki area baru, yakni berdasar agama dengan pola-pola yang sebelumnya kurang kita kenal.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, memperbicangkan masalah agama ditinjau dari terminologi mayoritas dan minoritas cukup tabu dengan digalakannya pemasyarakatan falsafah Pancasila di hampir jenjang dan lapis sosial masyarakat. Setiap warga negara diarahkan untuk hidup berlandaskan Pancasila tanpa memandang agamanya. Slogan-slogan pembangunan dan Pancasila gencar dilakukan tanpa pandang bulu sehingga sempat menunai protes dari kalangan masyarakat.

Thema Pembangunan dan Pancasila disosialisasikan menggunakan segala macam cara dan memanfaatkan pemimpin desa, pemimpin primordial dan kesenian-kesenian rakyat termasuk seni adiluhung dunia pewayangan. Pancasila dianggap sebagai pengganti agama. Nilai-nilai Pancasila seperti dipaksakan agar diterima oleh masyarakat, sehingga menjadi senjata ampuh sebagai kontrol sosial. Nampaknya diskusi agama tersumbat pada masa Orde Baru.

Pada era reformasi sumbat itu sepertinya terkuak sedikit demi sedikit. Kini membicarakan agama dilakukan lebih terang-terangan. Masalah SARA dilontarkan secara terbuka tanpa reserve atau memperhatikan kelayakan kehidupan bersama yang multietnis di Indonesia. Gelombang SARA makin mengalir tanpa halangan dari pemerintah. Pembiaran-pembiaran masalah menyinggung isu SARA makin memperlihatkan taringnya dan siap mencabik-cabik korbannya.

Kalau kita pikir, masalah mayoritas dan minoritas yang kita debatkan akhir-akhir ini seperti tanpa arah dan cenderung dipakai alasan praktis, kepentingan diri, golongan atau kepentingan politik. Masalah utamanya adalah kesadaran politik masyarakat kita masih lemah, termasuk juga dalam pemahaman tentang demokrasi. Budaya demokrasi juga belum bisa diterima masyarakat karena mereka masih lengket dengan budaya primordial.

Rakyat belum terlatih untuk secara penuh melaksanakan hak-hak demokrasinya. Bahkan bisa juga rakyat sebenarnya tidak tahu apa yang diinginkan. Mereka sudah terlanjur patah arang karena pengalaman sejarah politik bangsa Indonesia. Politik tidak melulu melibatkan diskusi rasionil, tapi juga menyangkut masalah nyawa dan moral. Keterlibatan masyarakat pada politik cenderung hanya ikut-ikutan untuk cari selamat. Masyarakat kita yang lemah secara sosial dan ekonomi tidak punya banyak pilihan jika didesak oleh ikatan primordial atau sosialnya.

Tapi sebenarnya masalah mayoritas dan minoritas adalah masalah yang amat cair. Bisa diinterpretasikan sesuai keinginan. Pernyataan bahwa di Indonesia kaum minoritas menjajah kaum mayoritas. Tapi ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa kaum majoritas semena-mena pada kaum minoritas. Kebenaran tergantung daripada sudut pandang yang dipakai atau kepentingan yang jadi tujuannya.

Terminologi mayoritas dan minoritas menurut penulis sebenarnya mengacu pada paham demokrasi bahwa syah atau tidaknya suatu keputusan atau kemenangan politik ditentukan oleh banyaknya suara yang masuk lewat pemungutan suara. Jadi mayoritas atau minoritas berhubungan dengan jumlah suara terlepas siapa pemenang dan pemberi suaranya. Tidak bisa asal comot dan mengatas-namakan mayoritas atau minoritasnya.

Paham mayoritas dan minoritas terkesan menyimpang ketika dikaitkan dengan agama, suku, jumlah penduduk, status sosial, jenis kelamin dan lain-lain. Jika dipakai, sebenarnya hanya mengacu pada jumlahnya. Pada hal-hal yang sifatnya kuantitatif dan bukan sebagai ukuran bagaimana seharusnya suatu sistem bekerja. Mayoritas dan minoritas menentukan sistem apa yang dipakai dan bukan bagaimana sistem itu bekerja. Tidak berhubungan dengan proses demokrasi.

Maka menjadi aneh jika sebuah sistem dipertanyakan keefektifan kerjanya karena faktor mayoritas dan minoritas elemennya. Seperti mengada-ada dan tidak praktis. Sebuah bangunan rumah terdiri atas berbagai bahan. Bahan mayoritasnya mungkin batu bata. Minoritasnya mungkin pasir, gentheng, kayu, marmer, paku, kunci gembok dan sebagainya. Rumah yang sudah berbentuk tidak bisa dipilah-pilah lagi mana mayoritas dan minoritasnya agar bisa dikatakan rumah yang baik dan aman. Hanya bisa dibuktikan lewat waktu. Berapa lama bisa berdiri tegak, tahan gempa, tahan hujan, tahan badai, tahan pencuri dan sebagainya. Hanya lewat pengaturan komposisi pas bisa didapatkan mutu rumah yang baik. Mayoritas dan minoritas saling mendukung dan menjalankan fungsinya dengan baik agar rumah bisa aman atau tahan lama dan tegak berdiri dihadapan badai yang menerjangnya.

Mempersoalkan mayoritas dan minoritas tanpa memandang masalah dasarnya hanya akan memperburuk kerja sistem. Mayoritas atau minoritas tidak selalu berhubungan langsung dengan bagaimana sistem itu bekerja. Mayoritas tidak mesti sistemnya bekerja dengan baik dan sebaliknya minoritas tidak selalu jelek hasil kerjanya. Produk akhirlah yang perlu dipertimbangkan.

Sebab jika melulu mempersoalkan masalah mayoritas dan minoritas tidak akan ada hentinya. Bisa menyangkut banyak hal. Nanti bisa timbul masalah minoritas atau mayoritas orang cedal yang pegang kekuasaan, laki atau perempuan, gemuk atau kurus, hidung mancung atau pesek, kaki panjang atau pendek, pemarah atau penyabar, berjenggot atau klimis, botak atau tidak, keren atau memble dan sebagainya bisa dideretkan sepanjang kita mau. Tapi apakah hal tersebut yang sebenarnya kita cari? Hasil akhirnya untuk apa? *** (HBS)


Leave a comment

Belajar dari Kemenangan Timnas U-19, Pujian Tidak Hanya jika Menang

PUJIAN datang dari segala penjuru ketika kemenangan didapat. Tiba-tiba semua orang begitu baik dan penuh pengertian. Membela mati-matian bila ada yang mencaci atau tidak memberi dukungan. Bahkan menyindir pihak-pihak yang dicurigai memuji karena punya maksud cari muka.

Namun sebaliknya, jika mengalami kekalahan, tidak ada yang melirik. Semua mencemooh. Jarang ada yang menerima kekalahan dengan lapang dada. Jarang ada yang memberi pujian atas jerih payah usahanya meski pada akhirnya mengalami kekalahan. Jarang ada yang menerima kekalahan dan mencoba belajar darinya. Menilai mana yang kurang dan mana yang lebih untuk dipersiapkan pada masa datang sehingga lebih punya kesempatan besar untuk menang.

Padahal di mana pun, setiap orang itu pingin dipuji. Apa pun hasil yang dicapai. Meski kalah, pasti ada hal-hal yang bisa dipuji. Tergantung dari kemauan kita untuk mencarinya. Kelapangan hati untuk menemukan hal-hal yang luput dari perhatian. Meski setitik, pujian di antara umpatan kekalahan itu akan punya peranan amat penting untuk memberikan dukungan yang membesarkan hati. Tetap memberikan kebanggaan atas usaha dan jerih payahnya sehingga tidak merasa tidak berguna. Tidak merasa sudah kalah dicampakkan pula.

Saya baca banyak komentar tentang olahragawan kita yang sering berat sebelah dan terasa kurang adil ini. Membuat saya teringat peristiwa yang menimpa atlet junior kita saat bertanding di Sydney tahun 2000 lalu.

Kadang kita memikulkan beban tanggung jawab terlalu berat pada para atlet kita. Entah kenapa begitu. Mungkin kita itu lagi menderita sindrom yang kurang sehat di hadapan bangsa lain.

Waktu itu saya sempat ngobrol dengan atlet-atlet Indonesia yang berusia muda saat berlaga itu di lapangan pertandingan tempat Olympiade 2000 dilangsungkan. Ada sekitar lima orang jumlahnya. Masih sekolah di tingkat SLTA semua.

Para atlet junior itu mengeluh bahwa mereka tidak bisa makan dengan baik. Mereka terbiasa makan nasi, sementara amat susah untuk menemukan restaurant yang jualan nasi. Mereka masih muda dan tidak begitu kenal dengan area di mana mereka tinggal. Belum lagi masalah kendala bahasa asing yang tidak mereka kuasai. Belum lagi jumlah uang saku yang mereka terima yang mungkin saja kurang memadai. Kesejahteraan mereka sebagai atlet yang mewakili Tanah Air sepertinya kok terabaikan?

Dari hal yang sederhana itu saja sudah jadi kendala untuk memperoleh stamina fisik dan mental yang cukup buat bertanding. Saya lihat beberapa di antara mereka makan buah-buahan, roti, dan air minum yang dibawa sendiri di dalam tas mereka. Tidak adakah orang yang ngurusi perihal konsumsi? Sepertinya mereka bertanding atas kemauan sendiri.

Mereka tinggal di hotel berkelas biasa tapi manager yang membawa mereka tinggal di hotel bintang lima. Bukannya tinggal sehotel sebagai tanda bahwa mereka mendukung para atlet tersebut. Senasib sepenanggungan demi kebaikan dan prestasi bersama.

Saya kasihan sekali melihat mereka saat bertanding di lapangan. Koyo bocah ilang. Mental dan fisik mereka terlihat tidak pada puncaknya. Tidak berlebihan jika saya nilai bahwa mereka sepertinya kok rada minder.

Dan saat bertanding – lari marathon waktu itu, tentunya hasil yang didapat bisa ditebak. Berada di urutan nomor bontot.

Pelatihnya di samping lapangan teriak-teriak marah. Yang diucapkan terasa kurang pantas juga. Membuat para atlet muda itu nampak ketakutan dan malu.

Ketika saya sempat temui managernya, terasa sekali kemarahannya atas hasil prestasi yang didapat dari para atlet. Saya teruskan masalah yang dihadapi para atlet junior tersebut. Saya usulkan, kenapa kok tidak melakukan kerja sama masalah konsumsi para atlet dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di Sydney? Saya yakin banyak yang bersedia menyediakan masakan Indonesia yang enak dan punya nilai gizi cukup. Jawaban yang saya peroleh justru malah membuat saya terkejut. Manager itu menyinggung jiwa nasionalisme para atlet. Secara tidak langsung ia menilai bahwa rasa nasionalisme para atlet itu kurang.

Kalau sudah memakai gada besar untuk menilai suatu masalah, kita jadi susah untuk melanjutkan sebuah diskusi. Karena terasa tidak realistis dan terkesan nggolek menange dewe. Jangan-jangan saya malah dianggap tidak punya nasionalisme juga karena usulan atau pertanyaan yang saya lontarkan? Jadinya serbarepot. Penggada besar itu telah menutup celah untuk melakukan sebuah diskusi yang baik dan berkepala dingin. Diskusi untuk mencari jalan keluar masalah sebenarnya demi perbaikan di masa depan.

Kita yang nonton pinginnya bersorak melihat kemenangan para atlet kita. Mengelu-elukan mereka sebagai wakil bangsa. Padahal saat di lapangan, mereka itu manusia biasa. Butuh sebuah support yang positif dan sikap profesionalisme yang cukup. Apalagi lawan mereka dari berbagai bangsa. Kalau mereka kita anggap mewakili bangsa kita, seharusnya pula negara bisa menjamin kesejahteraan mereka secara sepadan.

Banyak hal yang masih perlu kita benahi dan memerlukan pemikiran kita bersama tentang silang sengkarutnya dunia keolahragaan Tanah Air kita saat ini.*** ( HBS)


Leave a comment

Jokowi Pantas Menerima Anugerah Peci Penuh Bobot Nilai Itu dari Gus Dur

Ketika membaca berita bahwa Jokowi menerima anugerah peci milik Gus Dur, betapa tergetarnya hati penulis. Jokowi memang sedikit banyak punya karakter mirip Gus Dur yakni, kesederhaan dan pola pikirnya yang mengarah pada kebaikan masyarakat luas. Jokowi tidak saja pantas menerima anugerah itu, tapi sepertinya sudah sewajarnya ia menerima simbol yang penuh bobot itu. Sebuah simbol yang mewakili pribadi Gus Dur.

Jokowi dengan simbol itu akan memikat hati pengagum Gus Dur. Seolah simbol itu bagai benang merah yang menghubungkan arah gelombang yang sebelumnya berusaha diperjuangkan Gus Dur. Gelombang yang dibawa Gus Dur menemukan momentum kelanjutannya untuk diteruskan pada masyarakat dan kehidupan bernegara.

Sebagai salah seorang pengagum pribadi Gus Dur, penulis terpancing untuk menurunkan kembali tulisan yang lama tersimpan di blog pribadi ini:

Barangkali tidak berlebihan bila Gus Dur adalah orang yang punya moralitas yang mengacu pada nilai-nilai yang universal. Ini pendapat pribadi saya. Karena alasan inilah saya sangat menaruh respek terhadap beliau. Dialah satu-satunya seorang pemimpin yang punya pikiran menukik ke depan. Melewati masa puluhan tahun ke depan. Kalau orang Jawa mungkin akan bilang ia itu orang yang “waskita”, “ngerti sak durunge winarah”. Kira-kira begitu.

Pikirannya melampaui batas pemikiran orang kebanyakan dalam menatap masa depan Indonesia. Termasuk saya sendiri. Saya hanya menyimpulkan dari buah perenungan dan pemikiran pribadi yang berdasar hanya pada cukilan-cukilan omongan dan tindakan Gus Dur. Dan mungkin saja saya telah menarik kesimpulan yang tidak representative.

Betapa tidak, melalui tindakan yang menurut kebanyakan orang sebagai tindakan kontroversial, beliau hadir di perayaan Natal umat Katholik. Ini hanya satu contoh. Gus Dur tokoh NU sebuah organisasi berbasis Islam tradisionil kok mau-maunya datang di situ? Tindakan Gus Dur ini menyulut perdebatan pro dan kontra kadang bernada negatif.

Saya yang awam ini hanya bisa menyimpulkan, betapa moralitas sebenarnya tidak tergantung dari satu sisi. Ia multidimensi. Moralitas bagai udara segar. Tidak bisa disekap dalam satu tabung. Tidak bisa diterjemahkan lewat sesuatu yang mengacu hanya pada kecenderungan umum. Moralitas adalah sesuatu yang subtil. Perlu pemahaman lewat sebuah perenungan dan keterbukaan hati.

Moralitas bergandengan erat dengan relativitas. Kalau tidak teliti orang akan salah mengambil kesimpulan penilaian. Terjebak dalam ukuran yang sebenarnya hanya mengacu dari satu titik pandang.

Moralitas yang punya dimensi relatif itu akan menemukan kedekatan titik temu bila dikaitkan dengan nilai-nilai moral yang sifatnya universal. Dan ini susah. Karena amat subjektif dan tergantung wawasan masing-masing individu. Tergantung ketersediaan individu tersebut untuk menerima sesuatu di luar ukuran moralitasnya sendiri. Yang kadang tidak mustahil ditemukan sangat berlawanan dengan moralitas yang secara subjektif diyakini kebenarannya.

Dan Gus Dur menurutku telah mencoba untuk mengatakan ini lewat tindakan-tindakan beliau yang kelihatannya sederhana tapi sebenarnya dibelakangnya menyeret gulungan ombak filosofis yang diharapkan bisa membawa perubahan terhadap pandangan moralitas yang kini nampak makin menyempit.

Saya telah kehilangan seorang pemimpin besar dengan pemikiran yang “down to earth”.*** (HBS)