herrybsancoko

Kumpulan tulisan


1 Comment

Bencana Kebakaran Hutan Paling Buruk di Australia

1382998299535256129

Mobil-mobil pemadam kebakaran di sebuah hotel. Petugasnya bergantian beristirahat. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

SETIAP akhir tahun hampir bisa dipastikan pasti ada kebakaran hutan di Australia. Pada saat pergantian musim, terasa sekali di perbedaan cuacanya. Akhir tahun selalu terasa kering dan panas. Saat menjelang musim semi, udara masih terasa sejuk. Tapi mendekati pergantian ke musim panas pada akhir tahun, cuaca tambah kering. Panasnya kadang mencapai 41 derajat celcius. Kadang ditambah angin.

Hutan-hutan di Australia memang rentan terhadap kebakaran. Tanahnya yang kering dan jenis tumbuhannya sepertinya memang mudah terbakar. Banyak tumbuhan perdu yang kering karena kepanasan. Maka titik api kecil pun sudah bisa menyulut kebakaran lebih besar.

Akhir tahun 2013 ini, kebakaran di Australia merupakan kebakaran paling buruk selama 45 tahun belakangan. Sehingga pemerintah Australia pun perlu mendeklarasikan bahwa negara dalam keadaan darurat. Baru kali ini penulis menyaksikan kebakaran yang terjadi di Australia demikian menyebar melanda di berbagai daerah. Terutama di negara bagian New South Wales.

Meski rumah penulis jauh dari titik-titik rentan terjadinya kebakaran, namun setiap akhir tahun ikut merasa cemas. Ikut merasa prihatin dengan hutan-hutan yang hijau itu menjadi hitam arang. Dan satwa-satwa liar terancam kehidupan mereka. Asapnya juga sampai ke tempat di mana penulis tinggal meski jaraknya puluhan kilometer. Kadang tercium bau kebakaran cukup menyengat. Teringat masa kecil di tanah air ketika tetangga ada yang membakar sampah di halaman mereka.

13829989241554309358

Seekor koala yang mendapat bantuan minum dari petugas pemadam kebakaran negara bagian Victoria, CFA (Country Fire Authority). Sumber foto: http://advocacy.britannica.com/blog/advocacy/wp-content/uploads/bush-fire1.jpg

Bau asap itu kadang sampai masuk ke dalam rumah. Tamu-tamu hotel di kota ada juga yang mengeluh karena bau asap ternyata juga bisa masuk lewat saluran udara di AC. Tamu yang menderita ashma paling merasakan dampaknya. Kualitas udara bisa demikian buruk. Langit terlihat keruh. Kota Sydney dan sekitarnya seolah diselemuti awan pekat dan menyesakkan.

Kebakaran hutan di Australia memang sudah terjadi puluhan tahun silam secara alamiah. Jenis tumbuhan dan hewan tertentu sepertinya sudah menyesuaikan dengan kebakaran hutan. Sebab kebakaran ilmiah itu terjadi karena gesekan-gesekan ranting kering di pohon saat angin menerpa. Gesekan yang terjadi terus menerus menciptakan bara kecil. Bara kecil itu jika jatuh ke permukaan rumput atau ilalang yang kering, maka dengan mudah sekali tersulut menjadi kobaran api. Kebakaran juga bisa disebabkan oleh aliran listrik. Namun ada juga yang dengan sengaja membakarnya. Entah apa dorongan orang untuk melakukan pembakaran hutan. Ada penyakit jiwa yang memberi kepuasan jika melihat api. Tapi apapun alasannya, tindakan sengaja membakar hutan adalah tindakan tidak bertanggung jawab. Suku Aborigin secara tradional kadang dengan sengaja membakar hutan, tapi dengan tujuan berbeda dan mereka tahu bagaimana mengontrolnya.

Mengunjungi tempat-tempat wisata yang hutannya terbakar, sungguh terasa menyedihkan. Tumbuh-tumbuhan sekitar tempat wisata yang biasanya hijau dan menyegarkan, terlihat hangus terbakar rata. Pohon-pohon besar terlihat hangus menghitam tanpa daun hijaunya lagi. Sebuah keadaan yang amat mengganggu pemandangan mata dan kenyamanan berpiknik.

Larangan untuk menyalakan api (fire banned) sering diumumkan lewat media dan peringatan-peringatan tertulis di tempat-tempat wisata. Mencegah orang untuk menyalakan api saat piknik. Orang Australia senang sekali piknik dan bikin bbq. Sosis dan daging sapi sering menjadi menu utama saat piknik. Biasanya jika ada larangan menyalakan api, masyarakat Australia amat patuh dan jarang tercium bau bbq. Menu piknik diganti salad atau sandwich yang sudah dipersiapkan dari rumah.

Yang paling mengesankan penulis adalah semangat kemanusiaan masyarakat Australia dalam membantu sesama. Kantong-kantong bantuan sukarela banyak dibuka dan mendapat sambutan baik dari masyarakat yang lebih beruntung. Bantuan bisa disalurkan dengan mudah lewat berbagai cara. Lewat transfer dana langsung atau bisa juga lewat bank terdekat. Bantuan mengalir dengan lancar dan tidak ada informasi bahwa bantuan bencana itu diselewengkan atau dikorupsi. Bantuan sukarela tersebut jika melebihi jumlah tertentu bisa diklaim balik saat menghitung pajak penghasilan di akhir tahun. Pemerintah akan mengembalikan jumlah bantuan tersebut lewat pemotongan pajak penghasilan.

Pihak-pihak asuransi juga terlihat sibuk mengurus klaim-klaim asuransi dari masyarakat yang rumahnya terbakar. Petugasnya ikut terjung ke lapangan. Meneliti keadaan langsung di lapangan dengan cepat. Mereka bergumul dengan petugas kebakaran di lapangan. Pada saat kebakaran, tidak saja petugas kebakaran yang sibuk bekerja tapi juga pihak-pihak lain yang terkait juga ikutan sibuk. Sistem yang memonitor kebakaran seluruh Australia lewat satelit Geoscience Australia, Sentinel (http://sentinel.ga.gov.au/acres/sentinel/index.shtml) yang bisa diakses lewat internet sempat berhenti karena kebanyakan beban. Sistem yang kelebihan beban itu sempat dibantu dan diambil alih fungsinya oleh satelit Amerika.

1382998506247683010

Mobil pemadam kebakaran di NSW. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Tenaga-tenaga sukarela pemadam kebakaran datang dari seluruh negara bagian Australia. Mereka diterbangkan ke New South Wales dan dikerahkan ke pusat-pusat kebakaran secara serentak. Pihak pemadam kebakaran di bagian negara NSW yakni NSW Rural Fire Service melakukan kerjasama dengan hotel dalam menyediakan tempat penginapan para sukarelawan tersebut dengan cepat dan terorganisasi baik. Kamar-kamar hotel tiba-tiba banyak dihuni oleh para sukarelawan yang datang dari segala penjuru tersebut. Jumlahnya kadang puluhan tiap hari. Secara bergantian para sukarelawan tersebut datang dan menghuni kamar. Rombongan yang datang duluan pergi ke lapangan, kemudian disusul oleh rombongan yang datang berikutnya.

Beberapa hotel membantu mereka dengan memberi beberapa botol air minuman dengan gratis yang bisa dibawa ke lapangan. Mereka senang sekali mendapat bantuan minuman air yang nilainya tak seberapa itu. Meski nilainya tak seberapa, namun semangat kerjasama itu terasa sekali. Para sukarelawan yang terdiri dari berbagai golongan umur dan jenis kelamin tersebut merasa dihargai jerih payahnya. Masyarakat umum merasa berterimakasih atas jasa mereka.

13829985921505677182

Tipikal hutan Australia di tempat wisata di Royal National Park, NSW. Foto: Dokumentasi pribadi.

Tenaga sukarela pemadam kebakaran di Australia sudah disiapkan sejak dini. Peminatnya selalu bertambah tiap tahunnya. Syarat untuk menjadi tenaga sukarela tidak mudah. Harus melalui berbagai seleksi yang cukup ketat. Mereka harus berusia di atas 18 tahun dan tidak punya latar belakang kriminal. Jika umur di bawah 18 tahun, mereka bisa gabung dengan group-group pemadam kebakaran di sekolah masing-masing. Kebakaran hutan di Australia yang sifatnya alamiah terjadi tiap tahun tersebut memang diperlukan sebuah sistem perekrutan yang bisa berjalan efisien dan sistematis.

Mengikuti sepak terjang para sukarelawan dalam peran sertanya memadamkan kebakaran sering menarik simpati banyak orang. Mereka mempertaruhkan nyawa mereka menolong orang lain. Bahkan mereka melupakan keadaan dirinya sendiri dan keluarganya. Pantaslah masyarakat Australia berterimakasih pada mereka. Mereka bahkan menganggapnya sebagai pahlawan.*** (HBS)


Leave a comment

BBM untuk Android, iOS dan Kesabaran

1st-iphone-5s-buyer-worldwide-given-to-Jimmy-Gunawan

Jimmy Gunawan dari Indonesia yang ngantri di Sydney dimuat di media masa Australia sebagai pemilik pertama iphone 5s. Sumber foto: http://www.indoboom.com/wp-content/uploads/2013/09/1st-iphone-5s-buyer-worldwide-given-to-Jimmy-Gunawan.png

KETIKA iPhone 5s diluncurkan ke pasar pada bulan September 2013 lalu, berduyun-duyun orang ngantri di tempat di mana telpon genggam itu dijual.  Di Sydney, tidak tanggung-tanggung antrian itu sudah dimulai sejak dini hari sebelum toko resmi penjual produk Apple dibuka. Jumlah orang yang tidak sabar untuk segera mendapatkan telepon genggam terbaru tersebut sepertinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ingin memiliki secepatnya.

Beberapa hari sebelum peluncuran, anak-anak muda di Sydney sudah saling tukar informasi masalah peluncuran telpon genggam tersebut.  Dan makin menghangat ketika hari peluncuruan itu tiba.  Obrolan itu membuat mereka makin tidak sabar untuk segera memilikinya.

Barangkali tingkah laku penggemar telpon genggam iPhone buat sementara orang cukup aneh. Apa yang menyebabkan orang-orang itu untuk segera memilikinya?  Pastilah bukan karena faktor harga.  Karena harganya akan relatif sama untuk beberapa bulan mendatang. Dan juga bukan karena telponnya rusak dan ingin menggantinya dengan yang baru. Telpon genggam iPhone versi sebelumnya yang dimiliki masih bekerja dengan baik.  Bahkan masih nampak baru.  Lalu kenapa orang mau-maunya bersusah payah ngantri berjam-jam?

Ketika BlackBerry merelease versi BBM (BlackBerry Messenger) untuk Android dan iOS, orang juga tidak sabar untuk mendapatkannya secepat mungkin. Rencana pelepasan aplikasi BBM resmi yang direncanakan pada hari Sabtu, 14 September 2013 lalu terpaksa ditunda karena pada hari Jumat, 13 September 2013 telah beredar aplikasi tidak resmi secara gelap di dunia maya karena banyak orang tidak sabar menanti.  Aplikasi tidak resmi tersebut ternyata amat mengganggu jaringan BlackBerry karena melonjaknya lalu lintas datanya.

Perusahaan BlackBerry akan meluncurkan versi resmi BBM Android dan iOS setelah membenahi sistemnya dan memblokir aplikasi tidak resmi yang sempat beredar tersebut. Akhirnya aplikasi BBM resmi untuk Android berhasil diluncurkan pada tanggal 21 September dan tanggal 22 September untuk iOS. Pada 24 jam pertama sejak diluncurkan, aplikasi tersebut sudah didownload oleh lebih dari 10 juta orang dari 75 negara. Di antaranya dari negara pendownload terbesar adalah Amerika, Canada, Inggris, Indonesia dan negara-negara di Timur Tengah (Sumber).

Sepertinya makin hari orang makin tidak sabar untuk menunggu memperoleh apa yang diinginkan.  Sepertinya ingin menjadi orang pertama yang memiliki.  Nilai kesabaran seperti sudah tidak penting lagi.  Budaya siapa cepat dia dapat makin kita kedepankan dalam banyak bidang. Waktu berleha-leha dan menunggu giliran sudah bagai barang usang yang tempatnya di gudang.  Nilai kepuasan dalam hal mengumpulkan uang bukan lagi penting.  Kepuasan membeli sesuatu dengan keringat sendiri bukan lagi penentu faktor kepuasan. Karena mengumpulkan uang, jumlah uang, daya beli bukan lagi hal eksklusive. Semua orang dianggapnya punya uang dan mampu membeli. Masyarakat kini berlomba siapa paling cepat untuk memiliki bendanya. Mengejar kesan “terbaru” sebagai reward sosial dan kepuasan diri.

Kesabaran dan Waktu

Budaya yang serba cepat dan instant mendorong kita untuk bergerak dengan cepat dalam banyak hal.  Rencana tidak bisa menunggu lebih lama untuk diperhitungkan.  Target kerja segera ditindak-lanjuti untuk memperoleh hasil secepatnya.  Target keuntungan, kepemilikan, posisi, perkembangan perusahaan dan sebagainya diusahakan bisa dicapai secepat mungkin.  Perkembangan teknologi juga mengakomodasikan keinginan manusia untuk memperoleh segalanya dengan cepat, praktis dan efisien.  Orang makin tidak sabar dengan segala sesuatu yang harus menunggu.

Yang membedakan kesabaran dalam mengantri telpon genggam dan kesabaran dalam hidup adalah dalam hal titik beratnya. Memang untuk mendapatkan telpon genggam tersebut ada yang dengan “sabar” menanti selama delapan jam (sumber).  Tapi jenis kesabaran ini adalah kesabaran yang kalah nilai dibanding dengan nilai yang didapat saat menerima telpon genggam itu secepatnya.  Kesabaran adalah hanya sebagai bagian kecil dari proses mendapatkan telpon genggam itu sendiri. Jadi tidak sebagai kesabaran sebagai proses yang disadari dan berdiri sendiri. Penantian itu bukan kesabaran tapi lebih tepat disebut sebagai prestasi ketahanan diri untuk mendapatkan paling cepat. Ngongso, istilah basa Jawanya. Mereka dengan sadar menghabiskan waktu untuk menanti sehingga bisa mendapatkan apa yang dimaui secepatnya.

tech-iphone-5s-queues-11

Antrian di Australia untuk membeli iPhone 5s. Sumber foto: http://i2.cdnds.net/13/38/618×467/tech-iphone-5s-queues-11.jpg

Waktu bagi manusia seolah makin sempit dan terbatas.  Terutama di masyarakat modern, waktu diukur demikian ketat hingga per detiknya.  Mereka tidak terbiasa untuk menunggu, apalagi melihat pekerjaan dilakukan dengan pelan dan seirama dengan kepenaknya hati.  Mereka menghargai ketepatan waktu, kecepatan respon, kecepatan proses pengambilan keputusan, dan perencanaan waktu ke depan.

Karena mengejar segalanya supaya cepat, kita sering kehilangan waktu untuk diri sendiri.  Kehilangan waktu untuk memupuk rasa kemanusiaan yang seharusnya dituntut untuk menguasai waktu dan tidak sebaliknya, diperbudak oleh waktu.  Kita kehilangan kontak dengan kemanusiaan kita sendiri dan orang lain karena dikejar waktu atau merasa tidak punya waktu.  Karena dikejar waktu, kita kehilangan kedalaman.

Karena menginginkan semuanya serba cepat, kita bisa salah terka terhadap orang lain. Kita tergesa-gesa menyimpulkan tindakan orang karena tidak adanya kedalaman. Lahirlah salah paham karena pandangan kita yang bias atau gebyah uyah.  Kita lupa bahwa tindakan atau tingkah laku orang hanyalah bagian sedikit saja yang bisa kita tangkap alasannya.  Kita hanya menangkap sedikit saja dari yang kelihatan dan kita rasakan.  Padahal di balik itu banyak alasan dan latar belakang kenapa seseorang itu bertindak atau bertingkah laku tertentu karena tergantung pada budaya dan kepribadiannya.

Budaya untuk memperoleh semuanya dengan cepat tidak saja terjadi di negara Barat, tapi juga di negara kita sendiri.  Meski dengan latar belakang berbeda. Orang tidak sabar menunggu proses, pinginnya melihat hasil jadi secepatnya. Kasus-kasus menagih janji pada Jokowi dalam pembenahan Jakarta adalah satu satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada.

Kita bukan lagi seorang pendengar yang baik untuk memberi kesempatan orang lain menjelaskan tindakannya.  Kita bahkan sudah merasa enggan untuk mau mengerti lebih jauh maksud atau tindakan orang lain. Kita enggan untuk menyempatkan diri untuk berpikir lebih dalam tentang alasan-alasan kenapa orang berbuat, bertindak, bertingkah laku dan berusaha untuk mengerti. Kita senang berasumsi dan berpriori dan mengedepankan kepentingan diri. Berharap segalanya berlangsung secepatnya.

Kita enggan untuk memperlambat kecepatan bergerak kita dan menyesuaikan dengan kecepatan bergerak orang lain.  Kita lupa bahwa kebiasaan orang beda-beda dalam memperlakukan, memperkerjakan atau cara menangani  sesuatu.  Kecepatan orang untuk menyelesaikan atau bereaksi terhadap sesuatu beda-beda tiap orang.

Dalam keadaan yang menuntut segalanya serba cepat, kita lupa bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipercepat prosesnya. Misalnya kepercayaan, pengalaman, rasa hormat, kualitas persahabatan atau hubungan, kedewasaan dan sebagainya.  Semua ini tidak bisa dipercepat atau dipaksa untuk bekerja dengan cepat. Kadang bisa perlu waktu panjang untuk mendapatkannya. semua perlu melalui sebuah proses panjang dan alokasi waktu.

Kecepatan bertindak, melakukan sesuatu, merespon, memutuskan, menyingkirkan rintangan dan sebagainya bukanlah satu-satunya jalan untuk mendapat apa yang kita inginkan dengan sukses. Bahkan dengan memperlambatkannya kita bisa memperoleh hasil yang lebih baik dan berkualitas. Kesabaran adalah kuncinya.  Kesabaran memberi kita waktu untuk menoleh pada kedalaman masalah dan kemudian menyesuaikan kecepatan yang kita kehendaki.  Kecepatan yang menyesuaikan dengan kecepatan orang lain. Selama kita punya prisip dan integritas, kecepatan dalam bertindak bukan salah satu tolok ukur sebuah kesuksesan meraih apa yang kita inginkan.  Konsisten, persisten dan bersabar untuk tetap berpegangan pada prinsip adalah faktor utama penentu bagaimana kita bisa meraih apa yang kita inginkan.

Kita sering terjebak pada kesabaran yang sebenarnya bukan lagi kesabaran tapi pemborosan waktu karena menunda sesuatu yang sebenarnya bisa diperoleh lebih cepat. Atau bisa dihindari lebih dini sehingga kita tidak terjebak pada kesabaran yang tidak ada artinya itu. Kesabaran yang tidak berpegang pada nilai-nilai prinsip bukan lagi kesabaran tapi kelemahan bahkan keniscayaan.

Kesabaran adalah kemauan untuk mengorbankan waktu karena hal-hal terjadi di luar rencana dan keinginan kita. Kita cepat sekali marah bila harus menunggu dan terasa buang-buang waktu itu untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kecepatan waktunya tidak sesuai dengan konsep waktu yang kita maui.

Kita cepat sekali marah bila melihat orang lain mengerjakan sesuatu yang menurut kita telah dilakukan dengan pelan. Kita cepat marah bila melihat orang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Padahal kalau kita bersedia sedikit sabar dan meluangkan waktu untuk menilai latar belakangnya, kita akan temukan nilai-nilai yang punya kedalaman yang memberi kita masukan untuk lebih mengerti.

Pelankan langkah dan keinginan, lihat sekeliling dan nilailah keadaan agar kesabaran yang kita lakukan membawa manfaat.  Selalu ada hal-hal yang bisa dikerjakan untuk memupuk kesabaran. Misalnya selama menunggu bukankah bisa sambil membaca buku, merenung, menulis ide, atau berusaha mengerti kenapa harus bersabar dan hal lainnya yang bermanfaat? Bukankah sesuatu yang diperoleh lewat jerih payah penantian dengan sabar akan lebih terasa manis, melegakan dan menorehkan kesan lebih dalam?

Buat apa tergesa-gesa memiliki sesuatu yang baru bila kita masih punya yang lama dan berfungsi baik?  Buat apa tergesa-gesa memiliki sesuatu bila kita yakin kita akan memperolehnya jua nantinya tanpa kurang nilainya? Buat apa bernafsu segera memiliki bila setelah kita miliki toh pada akhirnya akan tetap turun nilainya cepat atau lambat dan menjadi bukan baru lagi? Bukankah apa yang lama, dulunya juga melalui proses sebagai sesuatu yang baru pula?*** (HBS)


Leave a comment

Sumbangkan Buku “Jokowi (Bukan) Untuk Presiden” Buat Perpustakaan SMA Negeri I Madiun

1382059477333403424

Buku disumbangkan untuk perpustakaan pelajar SMAN 1 Madiun. Foto: dokumentasi pribadi.

SEBENARNYA ragu-ragu juga menyumbangkan buku itu untuk perpustakaan SMA di mana dulu penulis pernah mengenyam pendidikan tingkat atas. Bukannya kikir untuk menyumbang, tapi rasa malu untuk melakukannya. Karena di dalam buku tersebut hanya ada tiga artikel hasil karya penulis. Jadi, tidak ada apa-apanya jika dibanding buku terbitan solo, atau terbitan karya kita sendiri.

Namun buku yang berisi kumpulan tulisan warga Kompasiana tentang Jokowi tersebut punya kesan tersendiri bagi penulis. Baru kali inilah tulisan penulis diterbitkan sebagai sebuah buku. Jadi buku tersebut merupakan buku perdana bagi penulis. Punya arti cukup penting, meski hanya tiga artikel hasil tulisan penulis. Amat membanggakan bisa dideretkan dengan penulis-penulis lain warga Kompasiana.

Ketika penulis update status di Facebook tentang buku tersebut, ada seorang teman alumni SMA mengusulkan untuk menyumbangkan buku tersebut buat perpustakaan SMA. Sebuah usul yang bagus, pikir penulis. Maka penulis mengontak teman tersebut dan minta tolong dibelikan bukunya berhubung penulis saat ini tinggal di Australia. Penulis berjanji nanti semua ongkosnya akan diganti.

Ternyata teman tersebut tidak keberatan. Tidak berapa lama, ia belikan buku tersebut dan diserahkan pada pengurus perpustakaan SMA. Penulis minta agar penyerahan itu diabadikan, karena penulis ingin juga menyebarkan informasi tersebut di Facebook dan Kompasiana.

13820596322082598233

Para alumni berfoto bersama di depan sekolah almamaternya. Foto: dokumentasi pribadi.

Ketika tadi pagi mendapat kiriman di inbox berisi foto penyerahan buku tersebut, langsung saja di-upload di Facebook dan Kompasiana. Menyenangkan sekali bisa sedikit menyumbangkan sebuah karya buat almamater SMA penulis. Kebahagiaan akan lebih punya arti jika di-share-kan ke orang lain juga.

SMA Negeri I Madiun termasuk SMA cukup beken. SMA dengan bangunan yang dikategorikan sebagai bangunan bersejarah itu memang cukup unik. Ada sekitar lima bangunan dengan model arsitektur sama di Indonesia. Yakni di Yogyakarta, Magelang, Madiun, Kediri dan Blitar.

SMA Negeri I Madiun atau sering disingkat SMASA oleh para alumninya tersebut punya ikatan alumni induk yang berdiri pada tahun 2010 lalu. Alumni induk tersebut meski masih muda usianya, tapi kiprahnya luar biasa. (Untuk lengkapnya bisa dilihat di sini).

Didukung oleh alumni-alumni per-angkatan, alumni induk SMASA berhasil menggalang kegiatan bersama yang amat bermanfaat secara akademis dan membantu siswa SMA dalam mempersiapkan masa depan mereka menghadapi persaingan masuk ke perguruan tinggi.

Alumni SMASA kini jumlahnya ribuan dan hidup menyebar di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang profesi. Keaneka-ragaman profesi amat membantu kemajuan siswa SMASA. Secara teratur alumni SMASA menyelenggarakan bimbingan belajar atau menggalang motivasi para siswa untuk bergerak maju dalam menyongsong masa depannya.

13820600921713207051

Para pelajar SMAN I Madiun di depan sekolah mereka. Foto: dokumentasi pribadi.

Alumni induk Ikatan Keluarga Besar Alumni SMA Negeri I Madiun atau disingkat SMASA IKBA, kini diketuai oleh Pranawa Martosuwigno, seorang ahli ginjal dan pengajar di Universitas Airlangga, Surabaya. Pranawa sendiri adalah alumni SMASA lulusan tahun 1968. *** (HBS)


Leave a comment

Mobile Phone Tidak Hanya Untuk Chat atau Kirim SMS Pribadi

HP yang berguna untuk nyawa orang lain. Sumber foto: The Telegraph, 16 October 2013

HP yang berguna untuk nyawa orang lain. Sumber foto: The Telegraph, 16 October 2013

MOBILE phone tidak hanya berfungsi untuk keperluan pribadi, tapi juga berfungsi secara sosial.  Sebuah cara yang amat efektif dalam usaha menolong orang lain pada saat kritis dan perlu pertolongan.  Siapa tahu, tindakan cepat seseorang bisa menyelamatkan nyawa orang lain?

Dalam keadaan kritis, waktu begitu penting dan amat menentukan keselamatan nyawa orang lain. Setiap detik waktu yang lewat amat berharga sekali.  Bahkan amat vital sehingga menentukan apakah nyawa seseorang bisa diselamatkan apa tidak. Menyangkut nyawa.

Begitulah idenya kira-kira. Jika orang yang sedang berada di sekitar bencana kejadian mendapat kiriman sms, ada kemungkinan besar orang tersebut bisa bertindak cepat dan menyelamatkan nyawa orang lain. Menyelamatkan nyawa orang lain adalah tanggung jawab kita semua sebagai anggota masyarakat dan sesama mahluk hidup, sesama manusia.

Tidak mengira, di masyarakat Barat yang individualistik ternyata begitu perhatian dengan kesejahteraan orang lain.  Pemerintah punya peranan penting, agar masyarakat yang materialistik dan individualistik tidak kehilangan rasa kemanusiaannya. Upaya pemerintah Australia dalam hal ini patut diacungi jempol.

Hal-hal yang sederhana ternyata bisa membawa kebaikan bersama masyarakat. Pemerintah tidak hanya ngomong yang besar-besar tentang pembangunan ekonomi atau kemajuan bangsa, tapi juga memikirkan hal-hal sederhana tapi penting dalam menjaga keselamatan dan kedekatan sosial masyarakatnya.  Untuk saling care satu sama lain. *** (HBS)


Leave a comment

Ayam pun Bisa Jadi Sahabat

heroic chook

Ayam pun bisa jadi sahabat. sumber foto: The Telegraph, 16 October 2013

PENULIS juga pernah menolong seekor burung perkutut yang terperosok ke kolam renang. Tapi gagal.  Mungkin ia sudah lama terendam dalam air, sehingga tidak mungkin lagi nyawanya diselamatkan. 

Di sekitar rumah penulis banyak sekali burung perkutut. Karena pagar rumah selain terbuat dari besi, juga penulis tanam pagar hidup. Di tempat itulah banyak burung perkutut punya sarang.  Beranak-pinak.  Kalau pagi rame sekali. Siangnya mereka mandi matahari.  Seolah begitu saja kerjaan mereka tiap hari. Kadang nampak rukun dan mesra sekali.

Beberapa kali penulis dapati anak burung yang jatuh dari sarangnya.  Kadang telur. Ceroboh sekali induknya.  Mungkin karena pagar hidup itu tidak terlalu tinggi dan tidak begitu lebat, maka gampang sekali burung kecil itu terpeleset dari sarangnya dan jatuh.  Atau mungkin karena seleksi alam.  Anak burung lainnya, menendangnya keluar dari sarang karena terbatasnya makanan.  Beberapa burung kecil yang jatuh berusaha penulis rawat.  Sengaja tidak dikembalikan ke sarangnya.  Barangkali induknya tak bisa memberi makan cukup bagi mereka.  Dengan kata lain, burung kecil yang jatuh itu memang tidak dikehendaki untuk berada dalam sarang. Dia anak yang tak diinginkan barangkali.

telur

Telur burung perkutut yang penulis temukan terjatuh dari sarangnya. Foto: dokumentasi pribadi.

Tapi dasar tangan penulis yang tidak dingin, anak burung itu akhirnya mati dua hari kemudian.  Entah karena terluka dalam ketika jatuh atau memang penulis tidak becus merawat anak burung.

Burung perkutut yang masuk kolam renang, punya nasib sama. Penulis tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Bantuan CPR (Cardiopulmonary resuscitation) yang penulis lakukan tidak membawa hasil. Meski penulis punya sertifikat First Aid terakreditasi di Australia. Memang tidak diketahui sejak kapan burung itu terapung di kolam. Badannya belum dingin benar.  Tapi memang sudah lemas. Dari mulutnya keluar air.  Setelah memberi CPR beberapa menit tak ada reaksi, maka penulis simpulkan burung itu sudah mati. Ya, sudah.  Yang penting sudah berusaha menolongnya.

Lain dengan berita di atas, ayam itu berhasil diselamatkan lewat CPR. Kagum sekali.  Chooky Wooky belum waktunya mati. Masih punya kewajiban menemani si empunya yang menderita austistic.  Mungkin rasa cinta si empunya membuatnya bertahan dan punya kemauan hidup yang kuat.  Beruntunglah Rayna – pemilik ayam yang mencintai Chooky Wooky sebagai sahabat baiknya.  Beruntunglah Chooky Wooky punya sahabat yang mempedulikan dirinya.  Beruntunglah mereka berdua punya ikatan rasa saling kasih itu.  Rasa saling membutuhkan antar sesama mahluk hidup. Beruntunglah mereka berdua hidup di Australia yang masyarakatnya menilai tinggi arti sebuah nyawa. Tidak peduli apakah nyawa itu hanya nyawa seekor ayam sekalipun. Buta lagi. *** (HBS)