herrybsancoko

Kumpulan tulisan


1 Comment

Bedhol Desa Piknik Transportasi Air

Boat-Ramp

Tempat menurunkan kapal ke sungai atau boat ramp. Foto: http://www.burdekin.qld.gov.au

DI INDONESIA begitu banyak sungai. Namun sayang sekali bahwa sungai-sungai tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Sebagian besar sungai dijadikan tempat pembuangan sampah. Bahkan berfungsi sebagai toilet umum bagi beberapa penduduk sekitar sungai. Sungai masih menempati benak di sebagian besar masyarakat di Jawa, bahwa sungai adalah tempat pembuangan kotoran. Sungai diperlakukan sebagai sesuatu yang terpisah dari hiruk pikuk kehidupan. Sungai masih diperlakukan tak lebih dari sebuah selokan.

Masih perlu waktu panjang untuk mengoptimalkan fungsi sungai di Indonesia. Padahal fungsi sungai amat beragam. Salah satunya bisa dipakai sebagai jalur alternatif transportasi. Bila jalan-jalan di darat makin padat oleh kendaraan, maka jalur lewat air adalah alternatif yang tidak bisa disepelekan.

Pemanfaatan sungai selain sebagai alternatif jalur transportasi juga bisa dipergunakan sebagai tempat industi perikanan yang memenuhi kebutuhan pangan penduduk sekitar sungai. Sungai juga merupakan sumber air untuk kehidupan. Pengoptimalan sungai diharapkan juga mengoptimalkan fungsi sungai sebagai sumber air kehidupan ini.

kapal besar

Wisata dengan kapal besar. Foto: Dokumentasi pribadi.

Sungai juga bisa menjadi tempat pariwisata menarik. Jika pemerintah Indonesia mau memperhatikan keberadaan sungai, maka bisa dipastikan rakyat banyak ikut menikmati manfaatnya. Sungai bisa difungsikan lebih baik dan tidak lebih dari sekedar tempat pembuangan sampah, limbah industri atau toilet umum.

Kapan pemerintah menyediakan dana untuk pembenahan sungai-sungai yang ada di Indonesia? Paling tidak bisa diawali dengan penyediaan fasilitas untuk tempat pariwisata atau tempat piknik keluarga atau pemancingan yang nyaman, tertata dan bisa diakses dengan mudah karena adanya jalan ke pinggir sungai.

Budaya naik perahu menelusuri sungai masih belum begitu dikenal di Indonesia. Jika pemerintah menyediakan tempat-tempat khusus untuk menurunkan dan menaikkan kapal dari sungai (boat ramp) barangkali akan merangsang masyarakat untuk memanfaatkan sungai lebih baik. Selanjutnya akan merangsang industri perkapalan untuk membangun kapal-kapal kecil untuk rekreasi keluarga.

Kita tidak bisa menandingi masyarakat Vietnam dalam memanfaatkan sungai sebagai jalur penting dalam kehidupan sehari-hari dan perdagangan mereka. Kita belum benar-benar memanfaatkan fungsi potensial sungai yang jumlahnya ribuan dan menembus berbagai kota di Indonesia. Sebuah jalur alami yang telah diciptakan alam tinggal kita benahi keadaannya sehingga bisa dilalui oleh kapal dengan mudah dan nyaman sebagai alternatif jalan darat. Sehingga kebutuhan untuk memiliki sebuah kapal menjadi setara dengan kebutuhan akan sebuah mobil. Rekreasi di sungai selanjutnya akan memupuk cinta lingkungan juga. Dan akhirnya cinta negara.

lobby

Lobby dalam kapal. Foto: Dokumentasi pribadi.

Transportasi Air di Australia

Tanah-tanah sekitar sungai amat mahal harganya di Australia. Apalagi sungai di sekitar perkotaan. Sungai memberi nilai tambah karena pemandangannya yang bagus. Orang Australia memang amat keranjingan dengan tanah pekarangan yang punya pemandangan bagus. Sebuah tanah yang sebenarnya tidak begitu bernilai, tapi jika punya pemandangan menakjubkan menghadap sungai atau kota, tiba-tiba saja bisa melambung harganya dibanding harga tanah sekitar. Kadang antar tentangga bisa tidak rukun gara-gara perluasan rumahnya merusak pemandangan sehingga menurunkan harga jual nilai tanah dan rumahnya.

Sangat kontras dengan keberadaan di Indonesia. Tepian sungai banyak dihuni oleh perkampungan kumuh, tak tertata, kotor, semrawut dan penuh limbah kotoran. Hunian tepian sungai di kota-kota pulau Jawa mengesankan kesemrawutan dan masyarakat dengan ekonomi kelas rendah. Maka harga tanah pun tidak ada yang melirik. Barangkali perkecualian di kota Yogyakarta. Atas peranan Romo Mangunwijaya rumah-rumah tepi sungai Code mendapat sentuhan artistik. Nampak apik dan nyeni. Namun belum juga bisa menjadi daya tarik pembeli tanah. Pemerintah juga belum sepenuhnya terjun membenahi hunian tepi sungai.

kamar di kapal

Keadaan kamar dalam kapal. Foto: Dokumentasi pribadi.

Di sekitar Sydney, tanah-tanah sekitar sungai biasanya dilengkapi dengan jalan yang bagus dan menunjang keadaan sebagai tempat rekreasi sehingga harga tanah menjadi lebih menarik. Di sekitar sungai juga diciptakan taman umum yang bisa dipakai untuk santai bersama keluarga. Di situlah banyak orang duduk-duduk melepas penat setelah lima hari bekerja. Di situlah mereka merasakan udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata. Di situlah mereka punya kesempatan menyambung hubungan keluarga yang mungkin makin mengering. Mereka mendapat suntikan tenaga penyegar tambahan dalam mengarungi hidup. Membuat mereka kembali bergairah menyongsong hari Senin sebagai awal hari kerja mereka.

Bagi mereka yang mampu, mereka bisa beli kapal kecil cukup untuk lima penumpang atau sekeluarga. Mereka tidak perlu tinggal di dekat sungai. Banyak keluarga pemilik kapal yang tinggal jauh dari sungai. Jangan heran jika saat di Australia mendapati sebuah rumah di depannya juga terparkir sebuah kapal. Kapal itu bisa ditarik dengan mobil jika saatnya butuh rekreasi menyusuri sungai. Boat ramp atau pelabuhan kecil untuk menurunkan kapal disediakan oleh pemerintah di sekitar sungai. Di dekatnya terdapat tempat parkir mobil dengan tarif parkir terjangkau.

penumpang pesta

Suasana santai penumpang kapal. Foto: Dokumentasi pribadi.

Menurut statistik Boating Industry Australia, industri perkapalan rekreasi ini menyumbangkan pendapatan Australia sebesar AUD$8 bilyun per tahunnya dan AUD$1 bilyun dari eksport. Pemerintah Australia dengan serius menggarap keperluan kapal untuk kebutuhan rekreasi ini karena faktor penting kegunaannya sebagai penunjang turisme, ekonomi lokal, ketenaga-kerjaan dan paling penting adalah fungsi sosialnya sebagai perekat masyarakat Australia yang multikultural. Di Australia saat ini terdapat 850.000 orang pemilik kapal yang terdaftar belum termasuk orang-orang yang punya kapal lebih kecil yang tidak perlu terdaftar pada negara. Sebanyak 1 juta orang punya SIM kapal dan sekitar 5 juta orang menyatakan pergi naik kapal untuk rekreasi setiap tahunnya. Rekreasi naik kapal ternyata menduduki peringkat pertama paling populer di Australia dalam masalah rekreasi keluarga..

brosur wisata air, transportasi air di australi, sungai di australia

Beberapa brosur-brosur menarik wisata air di seputar Sydney. Foto: Dokumentasi pribadi.

Jika ke Sydney, perjalanan selain bisa dilakukan dengan memakai bis atau kereta listrik, juga bisa disambung dengan ferry untuk tujuan daerah dekat sungai. Misalnya antara Sydney ke Parramatta selain bisa ditempuh dengan kereta atau bis juga bisa naik ferry. Bahkan penduduk yang berada di bagian utara Sydney yang kerja di pusat kota Sydney pulang pergi bisa naik ferry. Tiket perjalan yang dibeli bisa dipakai untuk naik bis, kereta dan ferry. Amat praktis, nyaman dan relatif terjangkau harganya. Jadwal pemberangkatan ferry inipun juga teratur. Jadi tidak ada halangan bagi mereka untuk tepat waktu tiba di kantor masing-masing.

Rekreasi naik ferry banyak ditawarkan di sekitar Sydney lengkap dengan paket-paket menarik. Rekreasi naik ferry relatif terkenal di berbagai perusahaan. Setiap ada acara perusahaan mereka menyewa ferry dan berlayar di sekitar Sydney sambil berpesta di atas ferry. Penyedia jasa rekreasi tersebut selain menyewakan ferry juga menyediakan keperluan paket pesta. Makanan, minuman dan juga tak lupa hiburannya. Tempat labuh ferry tersebut juga mudah dicapai. Jalan kaki pun tak masalah karena letaknya tak begitu jauh dari pemberhentian kereta atau bis. Dan lagi pemandangannya lumayan bagus dengan udara sangat menyegarkan.

orang indonesia

Rombongan penumpang dari Indonesia yang bermukim di Australia. Foto: Dokumentasi pribadi.

Rekreasi dengan ferry masih bisa diteruskan dengan rekreasi memakai kapal dengan ukuran super besar. Ada paket-paket menarik pariwisata dengan menggunakan kapal pesiar berukuruan besar ini. Mulai cuma beberapa hari hingga bulan dengan tujuan lokal, antar state bahkan melewati batas negara. Di dalam kapal tersedia lengkap berbagai hiburan dan tempat belanja. Layaknya bagai sebuah kota yang mengapung. Penumpang tidak merasa kesepian tinggal berhari-hari di dalam kamar kapalnya. Bahkan di antara mereka merasa ketagihan untuk mengulangi lagi dan lagi. Tidak tanggung-tanggung pada perjalanan berikutnya mereka mengajak seluruh keluarga dekat mereka hingga bisa mencapai 20an orang sekaligus. Jadi semacam bedol desa.*** (HBS)

Kembali ke atas

Bacaan lain terkait:


1 Comment

Dokter Profesi Arogan?

KASUS dakwaan malpraktek sebenarnya bukan masalah yang gampang untuk dibuktikan. Tuduhan telah melakukan malpraktek perlu pembuktian ahli-ahli terkait dalam satu profesi. Dan ini tidak bisa dilakukan oleh pihak polisi atau jaksa yang tidak punya latar belakang di bidang kedokteran.

Pembuktian bahwa seorang dokter telah melakukan tindak malpraktek perlu pendapat dari kalangan dokter itu sendiri. Masalahnya, apakah dokter bersedia menjadi saksi ahli dalam tuduhan malpraktek yang dilakukan oleh teman seprofesinya? Jika tidak ada saksi ahli dari profesi kedokteran dalam kasus malpraktek, seharusnya kasus tersebut tidak bisa diajukan ke meja hijau. Karena bukti yang diajukan tidak secara komprehensif benar-benar mendukung kasus malpraktek sebagaimana dituduhkan.

Seorang korban malpraktek perlu membuktikan bahwa tindakan dokter yang menanganinya berakibat dirinya menderita atau jadi cacat seumur hidup. Jika meninggal dunia maka yang menuntut dokter pelaku malpraktek menempuh jalur sama. Apakah sebab cacat, kesakitan lebih parah atau meninggal dunia tersebut benar-benar karena kecerobohan dokter yang menanganinya?

Karena perlu dipertimbangkan juga bahwa korban malpraktek tersebut sebelumnya memang sudah menderita sakit. Batas antara mulai sakit dan lebih sakit karena penanganan dokter amat sulit ditentukan. Apakah jika tidak ditangani oleh dokter yang bersangkutan, sakitnya akan lebih baik? Atau apakah jika seandainya dokter yang menangani tersebut telah memberikan perawatan yang benar dan sesuai prosedur akan menjamin bahwa penderitaan rasa sakitnya akan membaik?

Sebagai seorang dokter yang telah mengantongi segala macam sertifikat yang berkesesuaian dengan keahliannya tentunya tidak sembarangan memberikan diagnose. Kesalahan diagnose seorang tenaga profesional pasti ada latar belakang yang menyebabkannya. Ada alasan-alasan tertentu kenapa dokter tersebut memberikan diagnose yang ternyata salah. Kesalahan diagnose dari seorang tenaga profesional, pastilah juga kesalahan yang profesional dan perlu pembuktian secara profesional pula.

Kadang masalah malpraktek juga berkaitan erat dengan emosi penderita. Orang yang dalam putus asa karena sakit berkepanjangan secara emosional gampang sekali terperosok untuk menyalahkan orang lain. Demikian juga bagi keluarga penderita. Penilaian atas rasa sakit yang dialami oleh penderita tidak berdasar alasan medis. Lebih banyak hasil dari pengamatan fisik dari luar. Sebelum ditangani oleh dokter masih dalam keadaan baik. Bisa jalan, bisa ngomong, bisa menggerakkan anggota tubuhnya dan lain-lain. Tapi begitu ditangani oleh dokter, kok malah bertambah parah. Sudah tidak bisa ngomong dan sebagainya. Pendapat atau hasil pengamatan keluarga yang bukan ahli bisa saja menipu dan salah. Karena emosi, keluarga penderita tersebut menyalahkan dokter yang menangani dan mencurigai telah melakukan malpraktek.

Lebih parah lagi jika ternyata ketika dibawa ke dokter, penyakitnya sebenarnya sudah pada tingkat stadium akut. Kesadaran masyarakat dalam masalah kesehatan juga masih rendah. Lebih banyak yang menunggu hingga penyakitnya makin parah baru berkunjung ke dokter. Ditambah lagi bahwa beaya kunjungan ke dokter relatif cukup mahal sehingga masyarakat cenderung menghindari untuk ke dokter. Belum lagi urusan administrasi yang mbulet, makin menambah runyamnya keadaan.

Kunjungan dokter yang tidak teratur juga menyebabkan dokter bisa melakukan kesalahan diagnose karena miskin dengan informasi keadaan kesehatan pasiennya. Tidak ada record kesehatan pasien yang bisa dijadikan rujukan dasar atas diagnose yang diberikan. Komunikasi antara dokter dan rumah sakit bisa saja tidak sinkron karena keterbatasan record kesehatan si pasien. Belum lagi tersedianya alat penunjang yang amat terbatas. Mungkin saja karena alasan kecepatan demi menyelematkan nyawa si pasien, dokter mengambil langkah resiko yang terkalkulasi secara profesional. Jika ternyata keadaan makin buruk, maka resiko kalkulasinya dianggap tidak berpihak padanya.

Banyak latar belakangnya kenapa hitungan resiko terkalkulasi tersebut ternyata meleset. Faktor kesehatan penderita juga pegang peranan. Sikap dan kesadaran penderita dalam masalah kesehatan bisa juga menjadi faktor pencetus memburuknya keadaan. Adalah kewajiban bagi dokter untuk memberitahukan pada si pasien tentang resiko yang diambil. Dari penjelasan dokter tersebut diharapkan si pasien bisa mempertimbangkan resiko yang diambil demi kepentingannya. Di sinilah bisa terjadi ketidak-sinkronan antara pasien dan dokter. Keterbatasan pengetahuan si pasien tentang resiko kadang melalaikan faktor-faktor tertentu yang beresiko fatal atas keputusan yang diambil. Mereka mempercayakan semuanya pada dokternya.

Bagi dokter profesional, ia hanya bertindak atas alasan demi kebaikan si pasien. Tentu saja setelah mempertimbangkan segala kemungkinan berdasar keahlian profesi yang disandangnya. Sebab bisa saja si pasien tidak sadar dengan keadaannya atau tidak berdaya memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokternya.

Bolam Test

Dalam kasus-kasus malpraktek, mungkin kasus yang sering menjadi contoh di dunia profesi kedokteran adalah kasus yang terjadi Inggris. Kasus yang terjadi tahun 1954 di Inggris itu menimpa John Hector Bolam dan melibatkan pihak rumah sakit Friern. (Baca di sini)

Bolam menyalahkan pihak rumah sakit karena saat ia menjalani terapi ECT (electroconvulsive therapy) karena menderita depresi. Saat menjalani terapi, Bolam tidak diikat dengan sabuk pengaman dan diberi pelemas otot (muscle relaxant) sehingga mengakibatkan ia jatuh dan menderita patah tulang. Bolam menuduh pihak rumah sakit telah melakukan malpraktek (negligence).

Padahal menurut pihak rumah sakit, tindakan yang dilakukan sesuai dengan standard prosedur yang telah secara umum disetujui di dunia profesi kedokteran. Pemakaian sabuk pengaman dan obat pelemas otot tersebut tidak begitu relevan untuk kasus Bolam dan malah bisa makin menambah resiko untuk mengalami patah tulang di berbagai tempat.

Hakim pada akhirnya memenangkan pihak rumah sakit dengan pokok alasan terpentingnya adalah, jika dokter dalam berpraktek telah memenuhi standard yang ditetapkan oleh lembaga profesinya, maka dianggap bukan tindakan malpraktek.

Kasus yang menimpa Bolam telah demikian meluas diterapkan dalam kasus-kasus hukum karena dugaan malpraktek. Baik kasus yang menyangkut pengobatan, diagnose, perawatan, pemberian informasi dan masalah etika dalam pemberian obat-obatan. Kelemahan Bolam Test adalah kecenderungan untuk menggantungkan pendapat dari opini dunia profesi kedokteran itu sendiri yang kadang saja mengandung unsur subyektifitas dan terkesan arogan.

Apapun pertimbangan dan alasan hukumnya, dalam keadaan yang paling kritis, hal yang paling penting adalah pada kesadaran etika dan moralitas si dokter. Tanggung-jawabnya sebagai tenaga profesional yang berkewajiban menolong pasien agar keadaannya menjadi lebih baik. Jika seorang dokter melayani pasiennya sambil main BBM atau update status Facebooknya, lebih baik pergi saja ke dukun atau minta tolong mbah Google untuk mendiagnose penyakit sendiri.

Tapi langkah yang terbukti paling aman menghindari malpraktek adalah dengan semboyan kuno, “Pencegahan lebih baik dari pengobatan”. Jagalah kesehatan tubuh baik-baik. Tubuh bagai rumah buat diri. Nyawa kita bersemayam di rumah satu-satunya itu. Makanya rumah harus bersih, udara sehat bebas mengalir, dan banyak ventilasinya sehingga sinar matahari bebas masuk. Rumah yang sehat membuat nyawa kita kerasan untuk tinggal di dalamnya.*** (HBS)

Kembali ke atas

Bacaan menarik lain:

 


3 Comments

Profesi Dukun Lebih Terhormat Dari Dokter

dokter lo, dukun, profesi dokter

Dokter sosial di Solo.  Tanpa tarif dan menebus obat apotik pasien tak mampu. Sumber foto: http://solografi.com/2013/11/16/lo-siaw-ging-dokter-tanpa-tarif/

BEGITULAH kira-kira pendapat kakekku. Maka, kakekku tidak ingin anak dan cucu-cucunya ada yang jadi dokter. Mungkin apa yang dikatakan Kakek sebenarnya hanya candaan. Tapi hingga saat ini keluarga kami tidak ada yang jadi dokter. Kakakku yang sulung pernah diterima di fakultas kedokteran universitas negeri tapi karena beaya masuknya mahal, niat itu diurungkan.

Siapa yang tidak ingin jadi dokter? Setiap anak bila ditanya cita-cita ingin jadi apa jika sudah besar, hampir bisa dipastikan salah satu jawabannya adalah ingin jadi dokter. Profesi seorang dokter memang sangat terhormat di masyarakat. Terhormat karena ia dianggap pinter dan bisa mengobati orang sakit. Profesi seorang guru juga terhormat, tapi kalah hormat dibanding dokter. Profesi guru secara finansial tidak sesukses bila dibanding jadi dokter.

“Orang sakit kok dimintai uang,” begitu kata Kakek waktu itu. “Sudah sakit. Mau minta tolong kok malah dimintai uangnya,” lanjut Kakek lagi.

Kakek di kampungku dikenal oleh para tetangga sebagai orangtua yang bisa dimintai tolong bila mengalami masalah yang disebabkan terutama oleh dunia gaib. Kakekku yang nampak biasa saja dalam penampilan sehar-harinya ternyata juga terkenal di luar desa. Orang yang datang minta bantuan kakekku bisa dikatakan mayoritasnya datang dari lain desa. Berbagai hal dimintakan tolong pada kakek. Mulai urusan jodoh, kesurupan, anak sakit yang tak kunjung sembuh, kehilangan perhiasan, biar diterima test pegawai negeri, polisi, tentara dan lain-lain.

Kakek juga orang yang dipasrahi untuk memindah danyang desa yang bersemayam di pundung desa dan pohon beringin tua ke tempat lain karena di situ akan dibangun gedung serbaguna desa. Bahkan ketika masih muda, kakeklah yang melumpuhkan lampor dan begal yang terkenal di desa-desa sekitar dan ditakuti banyak orang.

Mungkin karena kemampuannya itulah kakek dipasrahi oleh desa untuk menjabat sebagai Jogoboyo dan sekaligus juru kunci makam desa.

Menurut cerita sesepuh desa, kakek memang sejak muda suka dengan olah kebatinan. Kakek juga senang puasa. Berbagai jenis puasa ia lalui. Tidak saja puasa pantang makan, tapi juga puasa-puasa lainnya. Misalnya puasa pendem selama 40 hari dikubur dalam tanah dan hanya kelihatan kepalanya, menurut cerita nenek. Dan lain-lain puasa yang mungkin kini tidak akan bisa dijalankan oleh banyak orang. Kakek amat rajin mempraktrekkan tradisi budaya Jawa.

Kakek tidak pernah minta balasan jika dimintai tolong oleh orang lain. Apapun masalahnya, kakek selalu berusaha menolongnya meskipun nampak tidak masuk akal. Kakek tidak pernah menolak tamu yang datang untuk minta tolong. Meski kakek lagi asyik di tegalan atau di sawah, selalu menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Kadang ada beberapa tamu yang menjemput kakek. Memboncengkan kakek ke rumah mereka, karena orang yang minta tolong tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.

“Mereka sudah repot-repot datang dari jauh. Kalau dimintai tolong, ya ditolong sebisanya,” kata Kakek ketika dikritik oleh kakakku ketika mendengar ada tamu yang minta tolong untuk mencari siapa pencuri barang berharga di rumahnya.

Entah apa yang dilakukan kakek dalam memberi pertolongan macam itu. Kakek bukan seorang polisi atau detektif, mana mungkin bisa tahu pencurinya? Apalagi tanpa datang ke TKP. Yang kutahu, kakek akan diam sebentar denga mata tertutup. Seperti sedang konsentrasi. Kadang saja ia menghilang ke kamarnya sebentar. Itu saja. Itupun kalau masalahnya serius. Kalau “ringan” biasanya kakek langsung saja ngomong. Atau langsung memegang kepala si anak dan meniup kepalanya, jika anak dilaporkan sering nangis atau orang kesurupan.

“Kakek mencari koreknya sendiri saja nggak bisa, kok kasih pertolongan orang lain yang kehilangan barang berharganya,” begitu ledek kakakku. Kakek hanya tersenyum seperti mengiyakan.

Cucu-cucu kakek semua punya pendidikan lumayan tinggi. Semua lulusan perguruan tinggi negeri. Apa yang dipraktekkan kakek sering bertentangan dengan cara pikir kami. Sejak kecil, cucu-cucu kakek sering mentertawakan dengan apa yang dilakukan kakek. Bahkan, tak jarang mengejeknya.

Waktu kami semua masih kecil, pernah kakek menasehati kakak-kakakku agar jangan menduduki kotak tempat keris kakekku yang disimpan di kamarnya. Tapi kakakku laki-laki yang nomer dua amat bandel. Ia tidak saja menduduki kotak itu, tapi malah berdiri di atasnya. Waktu itu kakaku baru kelas enam SD. Sambil tertawa-tawa ia bahkan meloncat-loncat di atas kotak itu.

Sorenya secara tiba-tiba kakakku jatuh sakit. Suhu badannya tinggi. Ia tidak berdaya di tempat tidur. Kadang terdengar igauannya. Kakek dilapori nenek tentang sakitnya kakakku. Kakek datang ke kamar dan cuma sebentar memegang kepala kakakku.

“Sudah aku nasehati, jangan duduk di atas kotak itu,” kata Kakek pelan dan beranjak meninggalkan kamar.

Ibuku sempat cemas karena igauan kakakku. Tapi sebelum ibu sempat membawa kakakku untuk diperiksakan ke dokter, kakakku sudah tertidur pulas sejak dipegang kepalanya oleh kakek. Dan paginya ia sudah sehat kembali. Siangnya sudah lari kesana kemari bermain-main dengan teman-teman sekampung. Ia tak lagi berani mendekati kotak yang terletak di dalam kamar kakek itu.

“Kek, kamu itu orang sakti ya?” tanya kakakku yang nomer dua suatu saat sambil bergurau. Ia teringat peristiwa saat kecil itu. Kini ia sudah lulus dari fakultas teknik.

“Orang sakti itu yang naik ke bulan itu lho,” jawab Kakek sekenanya.

Kakek memang tidak pernah membicarakan kemampuannya – yang oleh para tetangga dianggap luar biasa itu. Kakek dalam keseharian jauh dari dugaan banyak orang. Ia amat sederhana, santai, tidak pernah marah, humoris, suka cerita yang lucu-lucu pada cucu-cucunya. Kami kadang bergiliran memijiti badan kakek dengan berjalan-jalan di atas tubuhnya. Pada saat itulah kakek akan bercerita. Ceritanya amat lucu. Mulai kancil nyolong timun, kleting kuning, buto ijo dan lain-lain cerita karangannya sendiri. Meski beberapa cerita pernah kami dengar, tapi ketika diceritakan kembali oleh kakek terasa hidup dan jadi lucu bukan main.

Kakek sering mendapat bingkisan oleh-oleh dari orang lain. Terutama orang-orang yang pernah ditolongnya. Orang yang dulu minta tolong agar bisa diterima jadi tentara, beberapa bulan kemudian datang lagi dengan membawa berbagai macam oleh-oleh. Kopyah, sarung dan makanan kecil. Juga ibu yang membawa anaknya yang nangis dulu, ia datang kembali dengan membawa buah pisang setundun. Jarang ada yang memberi kakek uang. Kalau mau kasih uang biasanya diberikan pada cucu kakek yang saat itu lewat.

“Ini sangu buat jajan di sekolah ya..,” kata tamu itu sambil menyematkan beberapa lembar uang ribuan ke tangan kakakku yang nomer dua itu.

Apapun pemberian para tamu, kakek selalu menerimanya dengan senang hati. Kakek lalu meneruskan pemberian itu pada cucu-cucunya. Seolah ia tidak berhak menikmati pemberian itu. Ia hanya jadi perantara saja. Itulah sikap kakek dalam banyak hal. Hanya sebagai perantara.*** (HBS)

Kembali ke atas.

Bacaan lain terkait:


1 Comment

Budaya Penyediaan Air Minum Umum di Australia atau Piyaos di Indonesia

Minum air kendi

Cara minum air kendi dengan benar. Sumber foto: http://www.lensaindonesia.com

SETIAP pulang sekolah, banyak anak SD berhenti di depan warung menjual es dawet pinggir jalan besar untuk minta minum. Entah siapa yang memulainya, anak-anak itu dengan ceria meminum air dari kendi yang disediakan oleh pemilik warung.

Cara meminumnya tidak boleh menempelkan mulut di ujung kendi di mana air itu keluar. Bagi anak SD, meminum air kendi tanpa menyentuhkan mulut di ujung kendi bukanlah pekerjaan gampang, apalagi harus mengangkat kendi berisi air yang cukup berat itu hingga di atas mulutnya. Beberapa dari mereka tersedak dan air membasahi baju mereka. Namun ada juga yang lancar-lancar saja meminumnya. Air dalam kendi itu mengucur dengan teratur ke mulut dan menelannya tanpa mengatupkan mulutnya.

Di depan warung tersebut banyak abang becak mangkal menanti penumpang. Kendi air itu memang diperuntukkan bagi abang becak yang mangkal di situ atau siapapun yang membutuhkan. Biasanya selain abang becak juga para pedagang keliling yang jalan kaki memanfaatkan air kendi itu. Tapi anak-anak SD itu dibiarkan ikut mengambil minum oleh pemilik warung maupun abang becak yang menyaksikan ulah anak-anak SD itu.

Kendi air itu setelah diminum akan diisi kembali oleh pemilik warung. Diambilkan dari genthong sebuah penampung air yang lebih besar di dalam warung. Entah kenapa, air serasa segar jika disimpan dalam bejana dari tanah itu. Rasanya sejuk. Untuk itulah, anak-anak SD senang meminumnya. Kendi air itu senantiasa tersedia di depan warung penjual es dawet itu. Siapapun boleh minum tanpa dipungut beaya. Dan tidak harus masuk warung untuk membeli es dawetnya.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1970an. Warung itu kini sudah tidak ada. Sudah berganti dengan deretan toko. Warung yang dulu nampak rindang karena adanya pohon-pohon waru di depannya, kini gersang karena tanahnya tertutup aspal dan semen. Selokan kecil di depan warung juga sudah ditutup semen. Selokan itu dulunya sebagai penampung air hujan dari jalan untuk kemudian menuju sungai sudah hilang tanpa bekas. Meski tidak jernih benar, namun bisa didapati ikan-ikan kecil di situ.

Pada tahun-tahun itu, menyediakan minum bagi pejalan kaki sebagai hal lumrah. Rumah penduduk masih jarang dan orang lebih sering jalan kaki karena belum banyaknya angkutan umum. Biasanya warung-warung pinggir jalan menyediakan air minum tersebut dalam sebuah kendi. Rumah-rumah di kampung ada juga yang menyediakan kendi di depan rumahnya. Terutama bila rumahnya terletak di tempat-tempat strategis dimana banyak orang lalu lalang. Kadang orang tak dikenal tidak segan-segan mengetuk pintu minta segelas air minum. Penulis ingat waktu kecil ketika berkunjung ke rumah nenek di desa, ada orang lewat minta segelas air. Dan nenek biasa saja mengambilkan dari dapur. Kadang penulis sendiri mengambilkan segelas air untuk tamu tak diundang tersebut. Semua berlangsung cepat. Begitu menerima air langsung diminum dan meneruskan perjalanannya kembali setelah mengucapkan terimakasih.

Budaya penyediaan air minum secara gratis atau “piyaos” buat orang lewat adalah hal lumrah kala itu. Tapi entah sejak kapan budaya tersebut mulai ditinggalkan. Penduduk makin banyak dan orang lewat mulai jarang minta air minum. Piyaos dalam bahasa Jawa berarti “pemberian” atau jika ada kandungan sakralnya berarti “persembahan” atau bisa juga diartikan sebagai “sesaji”. Kendi air minum yang disediakan bagi orang tak dikenal yang lewat karena kehausan mengandung nilai sosial yang tinggi diwariskan oleh leluhur kita. Orang tak dikenal dan perlu bantuan itu posisinya ditinggikan. Jadi bukan diperlakukan sebagai seorang pengemis. Mereka minta air minum sumber hidup itu tanpa basa-basi atau bersalah.

Mungkin budaya piyaos ini masih bisa dijumpai di pelosok-pelosok desa di Jawa. Atau mungkinkah sudah benar-benar hilang dari kebudayaan kita? Orang tidak lagi peduli dengan keadaan orang lain lagi? Minta air minum tapi buntutnya malah bikin repot?

halte bus

Penyediaan air minum untuk umum di halte bis. Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Budaya Piyaos di Australia

Ternyata budaya penyediaan air buat orang lewat, pejalan kaki, atau pendatang dalam perjalanan juga dilakukan oleh masyarakat Australia. Bahkan penyediaan air minum tersebut terdata dengan baik dan dikelola oleh pemeritah kota setempat.

Tempat air minum atau drinking fountain atau juga disebut bubbler bisa dijumpai di banyak tempat di kota-kota Australia. Terutama di tempat-tempat umum di mana banyak orang lewat. Misalnya di taman, di stasiun, di tempat pemberhentian bis bahkan juga didapat di dekat tempat orang belanja. Beberapa toko penjual barang-barang bangunan biasanya juga menyediakan tempat air minum ini. Tempat air minum juga bisa didapati di sekolah, tempat-tempat kursus, lembaga pendidikan akademi dan universitas dalam berbagai bentuk dan model.

Air minum di taman

Di taman-taman umum hampir pasti disediakan tempat air minum untuk umum. Foto: dokumentasi pribadi.

Sebagaimana minum air kendi yang tidak boleh menempelkan mulutnya di ujung kendi, air minum dari bubbler ini juga mempertimbangkan alasan kesehatan. Orang tidak perlu menempelkan mulutnya di ujung kran. Air akan menyembur pelan dan bertekanan rendah karena sudah disesuaikan. Tekanan air ledeng dari pemerintah tersebut amat tinggi. Bila tidak disesuaikan bisa muncrat ke muka orangnya. Perlu diketahui air ledeng di Australia bisa langsung diminum tanpa harus dimasak. Maka jangan heran jika anda berkunjung ke orang rumah orang Australia dan minta air putih, langsung diambilkan dari air ledeng. Terasa aneh juga jika pertama kali kita mengalaminya. Karena terasa kurang sopan jika terjadi di tanah air.

Penyediaan air minum umum tidak saja buat manusia tapi juga buat binatang pengiringnya, biasanya kuda atau anjing. Pada tahun 1891 menurut catatan dewan kota Sydney, ada sekitar 42 tempat air minum buat binatang. Hingga pada tahun 1913 cuma bertambah menjadi 69 tempat. Namun tempat air minum buat kuda atau anjing ini berangsur-angsur dihilangkan karena perkembangan kota. Kini hampir tidak bisa ditemukan bekasnya lagi. Sementara tempat air minum buat manusia bertambah terus sepanjang tahun dan disesuaikan dengan perkembangan keadaan. Pada tahun 1913 tercatat terdapat 60 tempat air minum di kota Sydney. Perkembangan kota di luar Sydney masih mempertahankan keberadaan penyediaan air minum hingga kini. Untuk membaca sejarah tentang penyediaan air minum umum ini bisa dibaca di sini.

Meski sekilas tempat air minum umum jarang dipergunakan oleh masyarakat, namun sepertinya tidak dihilangkan begitu saja. Disediakan sebagai bagian dari sarana umum itu sendiri. Semacam sudah satu paket. Karena meski jarang dipergunakan bukan berarti tidak ada orang yang membutuhkan. Sesekali tempat air minum ini dibutuhkan juga oleh orang. Ibaratnya bagai fungsi lampu emergency di sebuah mobil. Meski jarang dipergunakan, bukan berarti tidak penting dan tidak dibutuhkan. Sesekali waktu, pasti lampu emergency itu dipergunakan juga.*** (HBS)

Back to top

Artikel menarik lain tentang Australia: Kebakaran di Australia.


Leave a comment

Wawancara Iseng dengan Orang di Australia tentang Panasnya Hubungan Diplomatik Australia-Indonesia

bakar bendera

Hangatnya berita hubungan Australia dan Indonesia menempati halaman depan koran The Sydney Morning Herald, 21 November 2013. Foto: jepretan pribadi koran The Sydney Morning Herald.

ISENG-ISENG penulis tanya beberapa teman tentang sikap orang Australia terhadap panasnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia saat ini. Ternyata reaksinya amat beragam. Dari tidak tahu, masa bodoh, menyalahkan Abbott dan bahkan hingga mentertawakan sikap Abbott.

Dua hari lalu, pada saat berita penarikan Duta Besar RI di Canberra dan juga berita yang mengatakan bahwa Menlu RI wajahnya seperti bintang film porno dari Philipina, rata-rata reaksi orang Australia masa bodoh. Tapi ada juga yang tertawa ketika ditanya tentang bintang porno Philipina yang mirip Menlu RI.

Seorang teman bercerita, ketika ia tanya teman sekantor tentang hubungan diplomatik Australia dan Indonesia dua hari lalu, rata-rata mereka belum sadar tentang memburuknya hubungan antarnegara.

“What do you think about Australia and Indonesia relationship now?”

“Why? What’s wrong?” jawab yang ditanya.

“Australia spying on Indonesia and Indonesian government doesn’t like that?”

“Really?” jawabnya lagi.

Pertanyaan ringan yang diajukan itu seperti pertanyaan biasa dan tidak penting. Seolah sekedar menyambung obrolan pagi hari. Tapi ternyata sikap mereka berubah. Ketika petang harinya, banyak dari mereka melihat berita di TV bagaimana sekelompok demonstran membakar bendera Australia.

Teman itu bercerita, ketika ia masuk kantor, banyak dari kerabat kerjanya tiba-tiba lebih pendiam. Lain dari biasanya. Begitu teman itu lewat, semua tiba-tiba menghentikan percakapan mereka. Teman itu merasa aneh. Ia bersikap biasa saja sebenarnya. Tidak ada yang mengganggu perasaannya. Hubungan diplomatik antar dua negara sudah jauh dari pikirannya ketika mulai memikirkan masalah kerjaan pagi itu. Suasana yang tiba-tiba senyap itu menggelitiknya.

“What’s wrong? Did anyone see a ghost?” tanyanya bergurau.

“Are you all right?” tanya seorang dari mereka.

“Yes, I am all right. Thank you. What’s wrong?” tanya temanku itu malah jadi bingung sendiri.

“You are not upset, are you?”

“No. Why?”

“I saw Australian flag was burnt by Indonesian last night.”

“Oh, that’s one. Yes, I saw it in the news,” jawab teman.

“What’s wrong with them?” tanya salah seorang karyawan.

Ternyata kerabat kerja teman tersebut mengira bahwa semua orang Indonesia lagi marah sama orang Australia. Atau mungkin saja mereka mencoba menghargai masalah negara orang lain. Para imigran yang datang ke Australia memang banyak yang punya masalah dengan negaranya. Mereka adalah pengungsi politik. Bahkan ada yang takut balik ke negaranya karena jika balik pasti mereka akan dibunuh. Dan lain-lain keadaan yang membuat mereka lari dari negaranya lalu masuk Australia dan tak punya rencana untuk balik sebelum ada perubahan di negaranya.

Seorang teman lain bercerita, ketika ia masuk kantor ada seorang teman kerjanya langsung tanya padanya tentang peristiwa pembakaran bendera Australia di Indonesia itu.

“What’s happening in Indonesia? I saw in the news, they burnt Australian flag?” tanya seorang kerabat kerja begitu melihat teman. Penanya itu orang Australia berumur 55an tahun. Ia kelahiran Inggris.

Teman tersebut tentu saja terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang bernada seperti interogasi itu. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu.

“I don’t know. I heard because Australia government spying on Indonesian president and refuse to apology,” teman itu menjawab dengan santai untuk menghindari debat yang lebih politis. Tidak pantas debat tentang politik di tempat kerja.

“Australia and Indonesia had been so long in good relationship. It supposed to be in friendly relationship,” kata kerabat kerja teman tersebut lebih lanjut seolah kurang puas dengan jawaban yang ia terima.

“Indonesia soon will declare war with Australia, mate,” kata temanku itu singkat.

Percakapan pada jam-jam awal masuk kantor itu kemudian dilupakan begitu saja ketika semua mulai membenamkan diri pada pekerjaan masing-masing. Semua kembali normal sebagaimana suasana kerja di hari-hari kemarin.

Kegiatan sadap menyadap atau spionase antar negara adalah hal lumrah dilakukan oleh semua negara. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga keamanan dalam negeri terhadap kemungkinan adanya ancaman dari luar negeri. Negara yang bagaimana pun akrab tingkat persahabatannya, tidak menutup kemungkinan tetap terjadi saling adu spionase.

Maka tindakan Australia dalam masalah spionase dianggapnya wajar saja. Karena pasti negara lain juga melakukan kegiatan spionase terhadap Australia. Tapi ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh Australia. Tindakan spionase juga dilakukan pada seorang isteri presiden yang sama sekali tidak terlibat dalam politik, pemerintahan atau keputusan-keputusan strategis masalah kenegaraan.

“Coba bayangkan, seandainya kamu membicarakan masalah kerjaanku dengan isteriku? Tentu saja aku bisa marah. Isteri kan tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku? Tidak berhaklah anda mengorek informasi masalah kerjaanku dari isteriku. Kalau memang ada masalah, ya tanya langsung padaku,” begitu ujar teman menjelaskan duduk masalahnya kenapa pemerintah Indonesia begitu marah pada Australia dengan penyadapan yang dilakukan.

Sepertinya mereka setuju dengan pendapat temanku itu, begitu ceritanya. Tony Abbott harus minta maaf pada pemerintah Indonesia. Jawabannya yang muter-muter di parlemen saat ditanya masalah penyadapan amat menjengkelkan.

Reaksi pemerintah Indonesia untuk memanggil pulang duta besarnya memang agak berlebihan. Selama ini telah dua kali terjadi pemanggilan Duta Besar RI untuk Australia. Pertama tahun 2006 saat pemerintahan John Howard karena memberi suaka politik pada pengungsi dari Irian Barat. Dan yang kedua tahun 2013 ini, saat Tony Abbott menolak minta maaf atas penyadapan yang dilakukan. Penarikan Duta Besar RI di Canberra tersebut keduanya terjadi pada masa kepresidenan SBY.

Sekitar tujuh bulan lagi Indonesia akan mengadakan pemilu untuk memilih presiden. Apakah masalah hubungan diplomatik yang angat-angat tahi ayam ini ada hubungannya dengan masa pemilu? Tidak banyak orang yang tahu. Hanya menduga-duga saja bahwa setiap datang pemilu pasti ada sesuatu yang bikin rame. Cari skenario jalan keluar dengan kepenak dan aman. Biarlah kedua pemerintah menyelesaikan masalah itu sendiri-sendiri. Yang penting rakyat tidak terkena imbas main-main politik tingkat tinggi ini.*** (HBS)