herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Diskusi Moralitas Sekedar Katarsis

SECARA sosial, setiap orang ingin dianggap baik oleh orang lainnya. Semakin kuat ikatan sosial, tuntutan untuk bertingkah laku dan bertindak sesuai harapan sosial makin kuat. Kerekatan sosial mempersulit orang untuk bertingkah laku menyimpang dari moral-moral sosialnya. Keterikatan individu pada sosialnya juga makin tinggi.

Hubungan sosial yang bersifat kekerabatan mengandalkan keterikatan sosial ini sebagai alat yang bisa memonitor pelaksanaan moral di lapangan. Hukum-hukum positif kadang kurang dipandang sesuatu yang penting pada masyarakat yang punya kekerabatan sosial tinggi.

Malah hukum positif kadang bertentangan dengan hukum-hukum yang mengandalkan kekerabatan sosial. Sanksi dari hukum positif tidaklah seberat hukum kekerabatan sosial. Maka orang-orang yang punya kekerabatan sosial tinggi lebih mengandalkan hukum-hukum yang ada di masyarakatnya sebagai sanksi sosial daripada hukum positif.

Masalahnya, hukum kekerabatan sosial tersebut tidak tertulis secara detail. Hukum-hukum yang sosial berlaku secara informal menurut persetujuan bersama yang biasanya berlaku turun-temurun atau atas pimpinan tertinggi pemimpin sosialnya. Interpretasi hukum sosial bagi individu amat dibatasi. Jika sudah berhadapan dengan sanksi sosial, individu tidak diberi hak untuk membela diri dan mengemukakan alibi personalnya. Individu tak bisa mengalahkan sosialnya.

Dalam pergeseran budaya saat ini, ikatan kekerabatan sosial makin melonggar. Kontrol sosial tidak lagi seketat dulu. Pergeseran budaya ke modern lebih menitik-beratkan sensor moral pada pelaku individunya. Sementara di negara kita, semua lagi berada pada masa transisi. Berada di tengah-tengah. Sosial tidak, individuil pun tidak.

Maka yang diambil adalah jalan tengah. Jika ada penyelewengan moral, masyarakat mencoba menularkan secara sosial pada pihak-pihak yang masih mencoba bertahan pada kekerabatan sosialnya. Penularan secara sosial jenis ini tidak berhasil menentukan sanksi sosial secara efektif, namun cukup membuat orang terlepas dari beban moralnya.

Yang penting mereka telah mencoba untuk mengkonfirmasikan secara sosial tindak penyelewengan moral tersebut. Perkara apakah sanksi akan dikenakan pada pelaku, sudah bukan lagi urusan mereka. Oleh sebab itulah, konfirmasi sosial banyak dilakukan di masyarakat namun tidak ada tindakan nyata untuk melahirkan sanksi yang bisa dibuat acuan bersama. Konfirmasi sosial tersebut semacam katarsis dan pencucian jiwa bersama. Bahwa moral yang mereka yakini secara sosial masih berlaku dan disetujui bersama.

Mereka mencoba mencari pegangan dalam kebingungan acuan moral bersama lewat katarsis bersama karena hukum positif tidak berfungsi secara baik, tidak dipercayai efektivitasnya dan tidak berlaku secara tegas. Kebingungan mencari acuan moral yang disetujui bersama ini bisa dilihat dari pro dan kontra sikap masyarakat dalam menanggapi isu-isu sosial terutama yang berkaitan dengan kehidupan moral. Pro dan kontra tersebut sedemikian rumitnya sehingga apapun yang diisukan bakal mengundang debat panjang tanpa diketemukan titik temu bersama. Interpretasi moralitas begitu luas sudut pandangnya.

Untuk mengedepankan keunggulan kepercayaan isu moralnya, orang sibuk mencari kelompok dan group pendukung. Mereka mengandalkan fenomena mayoritas atas minoritas. Semakin banyak pendukung berarti semakin sahihlah acuan moral mereka dan pantas diikuti bersama. Tapi karena masih dalam taraf mencari konformasi, maka jangan diharap solusi penyelesaian atas isu sosial tersebut gampang didapat. Sodoran solusi akan melahirkan debat isu sosial baru. Dan mereka tak berharap hingga ke taraf itu. Mereka tak berharap kebingunan mereka dijebloskan ke dalam kebingungan baru berikutnya yang tak mereka inginkan.

Moralitas Dasar Segalanya

Paling tidak ada empat isu sosial yang saat ini memicu kontroversi dan menunjukkan bahwa masyarakat saat ini lagi kebingungan dalam mencari acuan moral yang bisa disetujui bersama. Isu tersebut adalah masalah korupsi, prostitusi, kehidupan pancasila dan kehidupan beragama. Keempat isu sosial tersebut amat sarat dengan kandungan isu moralnya.

Diskusi tentang keempat masalah isu sosial tersebut bisa amat berkepanjangan, melahirkan pro dan kontra, namun tidak pernah ditemukan titik temunya secara moral disetujui bersama. Apa yang mereka temukan hanyalah potongan-potongan kesimpulan sementara yang bisa dibawa pulang untuk hiburan. Mereka tak sadar bahwa potongan-potongan konformasi sosial sementara itu mudah mencair kembali.

Esoknya, kembali mereka mencari konformasi sosial moralnya. Debat-debat moralitas tak akan pernah habis. Seolah semua orang setuju, bahwa moralitas adalah dasar dari segalanya. Masalah ekonomi, politik, budaya, teknologi dan sebagainya tidak ada manfaatnya tanpa menyelesaikan dulu masalah moralitasnya. Masalah moralitas yang disetujui bersama dan terselesaikan seolah akan memberi jaminan bahwa masalah-masalah lainnya akan mudah diselesaikan bahkan akan membaik dengan sendirinya.

Kritik dulu, larang dulu, bubarkan dulu, kecam dulu itulah sebagian sikap masyarakat kita saat ini terhadap isu-isu yang menyimpang dari moralitas khalayak umum. Solusi? Solusi akan ketemu sendiri bila moralnya sudah dibenahi. Solusi apapun tidak akan efektif jika moralnya tidak dibenahi secara tuntas. Benahi moralnya dulu yang lainnya akan menyusul secara alamiah. Jika moralnya sudah baik, lainnya akan jadi baik dengan sendirinya. Tidak mungkin tidak! Solusi tanpa membenahi moral sama saja meracuni moral itu sendiri.

Salah satu solusi penanganan HIV dengan pembagian kondom dianggap menyuburkan seks bebas. Solusi pencegahan penyakit menular lewat seks dengan pelegalan (diatur secara hukum) prostitusi dianggap mendorong orang untuk bermoral bejad. Solusi kerukunan agama dengan mengakui kebenaran agama bagi masing-masing pemeluknya dianggap perancuan agama. Kehidupan bernegara yang multi suku, multi agama, multi budaya dengan memakai asas pancasila dianggap mendorong tindakan sekuler dan sebagainya. Pada saat Indonesia telah merdeka sekian puluh tahun, pancasila sebagai ideologi negara masih diperdebatkan. Hingga Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil sampai bilang, “Kalau mau hidup di Indonesia, pakai Pancasila. Kalau tidak suka Pancasila, jangan tinggal di Indonesia, sederhana,” tegasnya.

1388292890959655431

“Kalau Tidak Suka Pancasila, Jangan Tinggal di Indonesia!”. Sumber foto: http://img.okeinfo.net/content/2013/12/26/526/917483/sWo31O0ch7.jpg

Untuk menyelesaikan isu-isu tersebut hanya satu jalannya, yakni pendidikan moral. Bukan sembarang moral, tapi moralitas yang didukung oleh agama mayoritas. Padahal kita semua sudah setuju bahwa negara Indonesia tidak mungkin dibangun di atas moral satu agama. Indonesia adalah negara sekuler plus ketuhanan yang maha esa.

Masalah kehidupan dalam realitasnya tidak bisa semuanya diatasi hanya dengan senjata moral. Moralitas yang “baik” tidak dengan sendirinya menciptakan keadaan yang baik. Mendidik dulu orangnya agar kenal agama baru mendirikan tempat ibadahnya atau mendirikan tempat ibadahnya dulu baru mendidik orang untuk kenal agama? Memperbaiki sistem hukum, birokrasi, fasilitas fisik lainnya baru moral dibenahi atau moral dulu dibenahi baru perbaikan sistem hukum, birokrasi dan penyediaan fasilitas fisiknya? Mana yang lebih pas?

Masalah moral adalah masalah yang amat cair. Pencapaian tingkat moralitas yang dikehendaki bersama amat susah diukur. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai tingkat moralitas yang dikehendaki juga tak terukur? Sementara pembenahan sistem, penyediaan sarana, dan lain-lain yang sifatnya teknis bisa lebih mudah diukur. Dan waktu yang diperlukan bisa dibatasi tenggangnya. Pendidikan moralitas tidak menjamin orang akan hidup kesehariannya di dunia idealisme moral. Moralitas tak bisa disekat-sekat. Moralitas tidak mengenal tuan. Moralitas tidak bisa diklaim hanya milik golongan tertentu. Moralitas adalah milik manusia secara universal.*** (HBS)

Artikel menarik lainnya:


Leave a comment

Arti Lain Pesta Kembang Api di Sydney

ORANG memang beda-beda dalam memperingati hari yang dianggap penting baginya. Di negara sekuler macam Australia, perayaan agama memang tak begitu terasa nuansa sentuhan jiwanya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri tertangkap suasana meriahnya. Bahkan sejak sekitar sebulan lalu, nuansa kemeriahan hari Natal itu sudah dipersiapkan dan terasa. Rumah-rumah dihiasi dengan lampu dan banyak orang mendirikan pohon natal lengkap dengan lampu warna-warninya di dalam rumah.

Orang sibuk belanja menjelang Natal. Kebiasaan orang Australia memang senang tukar menukar hadiah pada hari Natal dan tahun baru. Uang yang dibelanjakan untuk hari Natal dan tahun baru diperkirakan sebesar AUD$1,9 bilyun atau naik 5,5% dibanding tahun kemarin.

Hari Natal libur dua hari yakni tanggal 25 dan 26 Desember. Jadi cukup waktu bagi keluarga untuk kumpul bersama dan tukar-menukar hadiah. Pada malam hari Natal jalanan terlihat bukan main lengangnya. Tingkat hunian hotel di sekitar Sydney amat rendah. Rata-rata di bawah 50%. Itupun karena adanya turis dari luar negara yang datang lebih awal untuk menyaksikan pesta kembang api di Sydney di akhir tahun 2013 nanti.

Kumpul bersama itu lebih meriah lagi pada pergantian tahun baru. Karena tahun baru dirayakan oleh banyak orang. Pada malam tahun baru, jalanan ramai dan tingkat hunian hotel hampir mendekati 100% dengan rate kamarnya melambung selangit mahalnya.

Lima tahun lalu, pada hari Natal tidak pernah terdengar orang menyulut kembang api secara pribadi. Kembang api hanya disulut oleh pemerintah pada malam menjelang tahun baru. Karena petasan kembang api dikategorikan ilegal.

Tapi entah bagaimana kembang api itu kini bisa dibeli oleh banyak orang, karena dimana-mana terdengar letusan kembang api di udara. Bahkan di sekitar tempat tinggal penulis, kembang api itu dinyalakan cukup lama untuk beberapa menit. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli petasan berdurasi sepanjang itu. Pasti tidak sedikit.

Menurut informasi dari beberapa teman, kembang api itu bisa dibeli lewat internet. Mereka tidak membelinya sekaligus dalam jumlah besar, tapi sedikit demi sedikit selama beberapa bulan atau setahun menjelang Natal dan tahun baru. Penulis kurang tahu, apakah keterangan teman tersebut benar apa tidak.

Anehnya, penyalaan kembang api di dekat rumah penulis terjadi tidak hanya pada hari-hari Natal atau tahun baru, tapi sesekali juga di hari-hari biasa. Kembang api itu dinyalakan cukup lama. Sekitar lima menit. Tapi cukup meriah dan terkesan mewah. Ledakan-ledakan di udara membuat terang pekatnya udara malam. Kami bertanya-tanya, dalam rangka apa kembang api itu dinyalakan? Benar-benar bikin penulis penasaran.

Beberapa teman ketika penulis tanya malah bergurau mengatakan, “Itu sebagai sinyal bahwa kiriman telah tiba,” kata teman itu asal menjawab.

“Sinyal kiriman apa?” tanya penulis lagi karena benar-benar tidak mengerti dengan penjelasan yang diberikan sambil cengengesan itu. Kembang api kok berfungsi seperti komunikasi asap yang dilakukan oleh suku asli Amerika, Indian.

“Ha..ha.. kiriman pengapalan narkoba dari Columbia,” jawab teman tersebut terbahak-bahak.

Dalam hati, penulis mengumpat juga.

Meski bergurau, tapi keterangan itu boleh juga. Mungkin saja ada benarnya. Di Sydney, orang yang suka menghambur-hamburkan uang memang cenderung dianggap punya pekerjaan ilegal. Gaya hidup penjual obat terlarang terkenal dengan penghamburan uangnya. Termasuk membakar lewat penyalaan kembang api itu. Masyarakat biasa mungkin akan mikir dua kali untuk membeli petasan kembang api macam itu. Dan lagi, orang Australia tidak suka berisik. Orang membunyikan klakson mobil saja sudah dianggap tidak sopan dan melanggar peraturan. Apalagi membunyikan petasan pada malam hari selama bermenit-menit sambung menyambung begitu.

Pengedar obat terlarang biasanya disterotypekan dari negara Timur Tengah dan Vietnam. Kriminalitas yang berkaitan dengan obat terlarang lebih banyak melibatkan imigran dari Timur Tengah. Dan budaya dari negara ini suka sekali pamer. Kadang kaum prianya memakai perhiasan kalung dengan ukuran super besar melingkari lehernya. Begitulah stereotype yang umum beredar di kalangan tertentu masyarakat. Dan itu tentu saja tidak selalu benar.

Keterangan teman yang dilontarkan sambil bergurau tersebut, kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Setiap kali penulis melihat kembang api dinyalakan pada hari bukan hari istimewa yang tercantum di kalender umum, langsung tersenyum. Pikiran jadi ngelantur dan ikutan jadi dag dig dug membayangkan apa yang bakal terjadi setelah kembang api itu selesai?

Bakal ada orang yang tiba-tiba dicerahkan semangatnya dan senyum-senyum malam itu. Barang dagangan mereka telah datang. Siap-siap bersibuk ria untuk bekerja dan panen uang. The goodies have arrived, mate!*** (HBS)


Leave a comment

Ternyata Aku Itu Masih Ada di Tahun 2014 Ini

LEWAT tengah malam, lalu lalang orang di jalan depan rumah makin berkurang. Beberapa berteriak dan berkejaran. Beberapa berjalan tanpa suara. Beberapa lagi beriring dan bergandengan tangan. Saling susul. Seperti gerombolan semut ke luar dan masuk liang mencari makan. Lalu lalang orang yang seperti dikenalnya.

Puluhan tahun lalu, ia melihat hal sama. Orang lalu lalang. Entah dimana. Kemana orang-orang yang dilihatnya waktu itu. Siapa orang-orang yang kini dilihatnya? Mereka sama-sama manusia. Tapi mereka sama-sama tak dikenalnya. Masih seperti semut yang keluar masuk liang cari makan.

Ia terkejut, puluhan tahun lalu ia hanya bisa membayangkan, bagaimana kira-kira dirinya 20 tahun mendatang. Dan duapuluh tahun mendatang itu telah dilewatinya. Dua puluh tahun mendatang itu telah menjadi saat ini. Kini. Ada di depan hidungnya. Tahun 2013 sebentar lagi usai dan tahun 2014 bergulir dengan pelan tapi pasti. Sepasti matahari bakal terbit dari arah timur besuk.

Ia tak ingat hidupnya setahun lalu. Apalagi lima, 10, 20 tahun lalu? Tidak ia sangka, ia telah menghabiskan 20 tahun untuk sampai ke saat ini. Dua puluh tahun lalu itu seperti kemarin. Begitu dekat namun jauh. Dua puluh tahun lalu ia mendengar nafas yang sama seperti nafas yang dikeluarkan dari hidungnya saat ini. Dua puluh tahun lalu, ia masih merasakan basahnya tanah dengan tapak kakinya yang sama seperti saat ini, detik ini. Rasa tanah basah itu tetap sama. Ia masih merasakan rasa nasi yang sama 2o tahun lalu dengan lidahnya saat ini setelah 20 kemudian.

Orang bilang, indahnya masa depan itu karena datangnya dicicil. Detik demi detik. Lalu jam demi jam. Kemudian hari demi hari. Orang tak menyadari bahwa ia telah menerima masa depannya yang dicicil secara teratur dan tak pernah telat. Kredit masa depan tanpa bunga dan tanpa beaya administrasi. Semua orang dicicil dengan cara, jumlah, ketetapan, keajegan sama.

Dengan dicicil dikit demi dikit menghindari orang untuk terkejut. Ada yang menyadari cicilan itu dan memanfaatkan sebaik-baiknya dan bahagia dengan apapun yang diterima. Tapi ada juga yang tak ambil pusing karena saking kecilnya dan tak merasa bedanya.

Dan cicilan itu sudah ia terima selama 20 tahun! Kemana perginya cicilan yang diterima selama itu? Ia tak bisa menengok ke belakang. Karena ketika ia menengok ke belakang yang ada hanya ruang kosong. Ruang yang memisahkan dirinya dengan lainnya. Dirinya yang selalu dibawa kemanapun pergi. Dua puluh tahun itu, ada dalam dirinya. Tapi entah dimana letaknya. Ia masih merasakan semuanya sama dalam tubuhya 20 tahun lalu.

Ia membayangkan 20 tahun mendatang. Apakah ia akan tetap bisa mendengarkan nafas sama yang keluar dari hidungnya saat ini? Apakah ia akan melihat orang lalu lalang bagai deretan semut keluar masuk liang cari makan seperti saat ini? Lalu untuk apa sebenarnya 20 tahun ke depan jika nantinya ia akan berada pada titik sama seperti saat ini. Mendengarkan nafas sama dan ruang-ruang kosong di belakangnya?*** (HBS)


Leave a comment

Tanpa Sikap Egalitarian Omong Kosong Bisa Menghargai Perbedaan

PADA saat ramai-ramainya pertandingan sepak bola dunia, penggemar sepak bola yang ada di Australia tidak kalah semangatnya dalam memberi dukungan pada tim sepakbola mereka. Mereka berkumpul di bar dan menonton TV siaran langsung di situ beramai-ramai.

Hal seperti itu merupakan pemandangan biasa di bar-bar Australia. Sebab dalam setiap bisnis yang menjual produk beralkohol biasanya secara hukum diwajibkan untuk menyediakan media hiburan dan minuman air putih untuk menghindari orang minum alkohol berlebihan dan mabuk. Jadi mereka tidak datang ke bar hanya melulu untuk menegak minuman keras tapi juga tempat untuk bersantai dan bersosial.

Yang menjadi tidak biasa adalah Australia terdiri dari imigran dari berbagai bangsa. Beberapa kelompok masyarakat datang ke bar di lokasi tertentu karena banyak orang-orang sebangsa datang ke bar tersebut. Ada bar Itali, Polandia, Jerman, Inggris dan sebagainya. Kadang begitu semangatnya mereka sehingga perlu membawa bendera bangsa mereka atau kaos favorit bangsa mereka dan lain-lain aksesoris untuk menambah semaraknya suasana.

Paginya, bisa ditemui beberapa mobil bersliweran mengibarkan bendera berbagai dari aneka bangsa. Kadang dari dalam mobil, mereka berteriak-teriak di jalan dan yel-yel mendukung kesebalasan masing-masing. Semua itu berlangsung biasa saja. Tidak ada yang komplain. Paling yang dikomplaini masalah berisik. Tidak pada tindakan pengibaran bendera itu sendiri.

Meskipun mereka tinggal di Australia, ternyata tidak masalah bagi mereka untuk mengibarkan bendera asal negara mereka. Bahkan wartawan TV memancarai kelompok-kelompok kesebalasan itu. Jika kesebelasan Jerman menang, reporter itu mewancarai orang-orang Jerman yang ada di Australia. Kalau yang memang Brazil, maka reporter akan bertindak sama. Mewawancari mereka. Tidak terungkap sedikitpun sentimen rasa kebangsaan. Apalagi merendahkan rasa nasionalisme mereka pada Australia.

Ketika Australia mengadu kepiawaiannya di medan laga lapangan bola, sikap mereka sama dalam hal dukungan kepada tim. Seolah mereka punya dua warga negara. Mereka bangga ketika Australia menang dan juga bangga ketika negara asal mereka menang. Mereka merayakan kedua kemenangan tanpa terbebani. Kehidupan sehari-hari berlangsung biasa. Yang gelar sepakbola gegap gempita mengekspresikan keriangannya. Yang gemar kerja, tetap bangun pagi-pagi dan berangkat kerja.

Menyaksikan semua itu, penulis heran. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi. Tinggal dan hidup di Australia masih juga mengibarkan bendera asalnya? Bagaimana rasa nasionalisme mereka? Kalau saja status mereka masih penduduk tetap dan bukan warga negara Australia, maka tindakan mereka lumayan masih bisa penulis mengerti. Tapi kalau mereka sudah menjadi warga negara Australia, bagaimana hal seperti itu bisa dimengerti?

Setiap Hari Kemerdekaan RI, Konjen RI di Sydney juga mengadakan upacara bendera untuk memperingatinya. Dan perhimpunan masyarakat Indonesia yang ada Sydney mengadakan acara meriah dalam memperingati hari kemerdekaan Indonesia tersebut. Dan semua itu dilakukan terang-terangan dan terbuka untuk umum. Bahkan pemerintah Australia membantu kegiatan itu sebagai salah satu sponsor pendukung.

Adanya puluhan jumlah negara asal penduduk Australia ternyata tidak membuat mereka saling sentimen. Orang India menyelenggaraan hari khusus mereka secara terbuka dengan pentas seni atau bazar makanan. Orang China punya tempat khusus pecinan atau “Chinatown”. Orang Vietnam punya tempat khusus untuk belanja membeli produk-produk Asia semacam Chinatown juga. Belum lagi jumlah surat kabar komunitas yang menyebar dengan berbagai bahasa. Semua surat kabar komunitas tersebut juga disebarkan secara terbuka, siapapun bisa memperolehnya kalau tahu bahasanya. Bahkan pemerintah Australia secara rutin membantu keberadaan surat kabar komunitas tersebut dengan memasang iklan di situ.

Masyarakat Australia menghargai kemajemukan itu tanpa tanya. Seolah sebagai sesuatu yang wajar dan memang seharusnya begitu. Setiap kegiatan komunitas tidak menutup diri secara eksklusive. Siapapun boleh datang. Semakin banyak yang datang makin meriah. Mereka mencoba memperkenalkan budaya mereka ke masyarakat lain. Setiap komunitas merasa bebas untuk mengekspresikan perbedaan mereka dan mengundang orang lain untuk melihat dan mengenalnya. Media massa membantu menyebarkan keberadaan mereka dan menyiarkan ke khalayak luas.

Ketika bangsa Singapura mengadakan kegiatan komunitasnya dan ada seorang warga Australia ditolak masuk ke lokasi karena alasan bukan bangsa Singapura. Media massa demikian ramai membicarakan sikap eksklusive bangsa Singapura tersebut. Banyak kalangan merasa tersinggung dengan sikap bangsa Singapura. Debat pun ramai di media massa terutama di radio dan surat kabar. Sampai akhirnya ditemukan sebab larangan tersebut, bahwa semua orang boleh masuk tapi harus mendaftar sebelumnya. Salah pengertian berhasil ditemukan titik temunya.

Debat merembet ke komunitas lainnya yang memisahkan antara pengunjung wanita dan pria dalam sebuah kegiatan mereka karena faktor agama. Pemilahan tersebut tidak pantas dilakukan di Australia yang berbudaya egaliter. Kedudukan wanita dan pria sama dan tidak perlu dibedakan. Meski terdengar suara keras di sana-sini, namun pada akhirnya persoalan dikembalikan pada masing-masing komunitas. Sikap pemerintah Australia adalah menghargai setiap komunitas yang ada. Keberagaman budaya, agama, kepercayaan masing-masing komunitas harus dihargai.

Kasus menarik lain terjadi di pengadilan yang mempersoalkan sikap pemuda warga Australia yang tidak mau berdiri ketika hakim masuk ruang pengadilan karena kepercayaannya. Di setiap pengadilan, jika hakim masuk ruang, para hadirin diwajibkan untuk berdiri. Dan kembali duduk setelah hakim mempersilahkan untuk duduk kembali sebagai simbol rasa hormat pada hakim dan proses keadilan.

Pemuda tersebut menolak berdiri dengan alasan bahwa agamanya tidak mengijinkan dia untuk tunduk dan hormat pada penguasa manapun kecuali tuhannya. Oleh hakim diperingatkan, jika ia tak mau berdiri bisa dijerat hukum dengan dakwaan menghina pengadilan. Pemuda tersebut tetap pada pendiriannya dan tidak bersedia berdiri. Oleh hakim, pemuda tersebut diperintahkan di bawa keluar ruangan. Ketika pemuda tersebut telah berada di luar ruangan, hakim itu duduk di kursi mimbarnya. Kemudian memerintahkan petugas agar pemuda tersebut dibawa masuk kembali ke ruangan. Kemudian hakim barulah mempersilahkan semua hadirin untuk duduk. Pemuda itu akhirnya kembali ke tempat duduknya.

Sikap hakim mengundang kontroversi cukup ramai di media massa. Bahwa hukum Australia dituduh telah tunduk dengan kepercayaan orang lain. Pendapat dari komunitas pun ramai. Suara mayoritas malah menyalahkan pemuda dengan kepercayaan yang dianggapnya telah diterjemahkan secara sempit. Pada akhirnya pemuda tersebut minta maaf dan mengakui bahwa apa yang dipercayai adalah sesuatu yang kurang tepat. Masalahpun mengendap karena berhasil ditemukan titik temunya. Proses pengadilan selanjutnya berjalan lancar hingga dicapainya keputusan hakim bahwa pemuda tersebut dinyatakan bersalah telah melanggar hukum Australia. Keputusan itu diterima oleh terdakwa.

Sikap hakim yang menghargai keyakinan pemuda tersebut membuat penulis terkagum-kagum. Tidak terkesan sewenang-wenang terhadap warga negara yang berani mengekspresikan kepercayaan dan sikap bedanya.

Penghormatan terhadap perbedaan hanya mungkin bila setiap orang dianggap punya hak dan kedudukan sejajar, sama dan sederajat. Tanpa pengakuan atas kesamaan hak dan kedudukan tersebut, amat mustahil orang bisa menghargai perbedaan. Yang ada adalah kesewenang-wenangan, rekayasa kebenaran dan pembodohan. Karena tanpa adanya pengakuan atas kesamaan hak dan kedudukan, kebenaran rentan untuk dimanipulasi. Karena tanpa kesamaan hak dan kedudukan, akses untuk mencari kebenaran bersama secara fair bisa dihalangi, ditutupi dan dibatasi. Kekuasaan akan memelintir dan merekayasa kebohongan-kebohongan untuk kemudian dimunculkan sebagai kebenaran baru.*** (HBS)


Leave a comment

Debat Pendapat Mencari Kebenaran Sejati

SEORANG kenalan asal Indonesia yang tinggal di Sydney bercerita tentang kehidupan keluarganya selama berada di negara Australia. Puluhan tahun lalu, waktu itu ia baru setahun tinggal di Australia, bergabung dengan ketiga adik-adiknya dan orangtuanya yang telah duluan tinggal di Australia. Adiknya yang paling bungsu, seorang gadis lahir di Sydney. Satu-satunya anggota keluarga yang sejak lahir dan dibesarkan di Australia. Sedang adik-adiknya yang lain, meski mereka juga dibesarkan di Australia, tapi sempat dibesarkan di Indonesia hingga umur 6 tahun. Adik yang satunya lagi, pindah ke Australia waktu SMP.

Menurutnya, ketiga adiknya tersebut punya cara pikir yang cukup berbeda dalam hal-hal tertentu. Terutama sikap mereka pada orangtuanya. Kedua adiknya masih punya sifat-sifat anak Indonesia pada umumnya. Sedang adiknya yang paling bungsu, yang cewek pribadinya cukup berbeda. Sifatnya keras dan suka ngomong ceplas-ceplos. Senang sekali mendebat apapun yang diomongkan kepadanya. Yang mengagumkan adalah kepandaian dia mengutarakan apa yang dipikirkan. Argumentasi yang dikeluarkan kadang mencengangkan. Demikian logis, sistematis dan masuk akal. Kenalan tersebut senang sekali mendengarkan adiknya yang paling bungsu itu ngomong dan mendebat omongan orangtuanya, terutama dari bapak yang terkenal dengan sikap disiplinnya.

Adiknya yang bungsu itulah satu-satunya anggota keluarga yang sepertinya benar-benar telah mengadopsi budaya Australia. Cara pikir dan kepribadiannya sudah benar-benar kayak bule Australia. Sementara kedua adiknya yang lain masih menyisakan kepribadian budaya Indonesia.

Mereka bersaudara empat, tiga laki-laki dan satu perempuan paling bontot. Kenalan tersebut anak paling sulung tapi paling akhir bergabung dengan keluarga di Australia. Anak paling sulung tersebut praktis menjalani masa kecil hingga remaja berada di Indonesia. Karena itulah bahasa Inggrisnya terdengar paling medok di antara ke empat bersaudara itu.

Kedua adiknya yang laki-laki punya sifat agak pemalu. Sifat pemalunya ini akan nampak sekali bila bertamu ke rumah orang lain. Mereka amat sopan dan tak banyak tingkah. Kalau dikasih jajanan kadang menolak dengan halus. Tapi setelah diperbolehkan oleh kedua orangtua, keduanya baru mau menerima pemberian jajanan itu dan sambil malu bilang terimakasih. Orang yang didatangi sering memuji sifat kedua adik kenalan tersebut atas kesopanannya. Sementara adik perempuannya malah kadang minta terus terang, apakah boleh ia mengambil jajanan yang ada di meja. Kadang bikin malu juga. Tapi itulah sifatnya sejak kecil. Selalu mengutarakan apa yang dipikirkan. Dan sifatnya itu diterima dengan baik oleh orang Australia.

Bapak dari kenalan tersebut lulusan teknik. Sedang ibunya lulusan sekolah bahasa. Dua kombinasi yang cukup kontras. Kenalan tersebut terus terang mengakui bahwa kedua orangtuanya memang kadang nampak tak serasi. Ayahnya sangat disiplin, sementara ibunya amat santai dalam masalah kedisiplinan. Maka ke empat putra mereka tidak heran jika sedikit banyak ada kontrasnya. Anak pertama lebih dominan kayak ibunya. Meski kadang rada berpikir teknis. Anak kedua malah persih seperti ibunya. Suka nyantai dan seenaknya dalam menyikapi hidup. Anak ketiga gabungan orang teknik dan orang bahasa secara seimbang. Kadang keras kadang nyantai. Kalau sudah keras, minta ampun. Kalau sudah nyantai, janjian sama orang pun bisa datang sesukanya. Tapi anehnya, anak yang ketiga inilah yang punya teman paling banyak. Sedang anak ke empat, lebih banyak seperti sifat bapaknya yang teknis dan hanya sedikit meniru sifat ibunya.

Tapi itu cuma analisa selintas tentang kepribadian mereka. Mungkin banyak tidak cocoknya. Karena anak ke empat yang lebih teknis itu ternyata justru yang paling sering mendebat bapaknya. Kalau sudah didebat, kadang bapaknya bisa kehabisan omongan. Jadi entah kenapa anak keempat paling bontot itu dan perempuan satu-satunya itu demikian beda. Bisa saja karena pengaruh lingkungan yang membesarkannya. Sejak umur setahun ia sering dititipkan di penitipan anak (childcare) berhubung kedua orangtuanya bekerja. Di childcare milik orang orang Australia itulah ia bergaul dengan anak-anak dari bangsa berbeda yang dititipkan.

Sifatnya yang pemberani dan ceplas-ceplos itu kadang amat berguna bagi keluarga. Bapak dan ibu serta adik-adiknya yang masih membawa budaya Indonesia kadang amat susah untuk bilang “tidak” pada orang yang mengetuk rumah tanpa diundang menawarkan produk sebuah dagangan. Adik perempuan itulah yang paling berani menemui orang itu di depan pintu rumah dan bilang “tidak”. Meskipun salesman itu membujuk dan menguraikan berguna dagangan, adiknya perempuan itu begitu pandai bersilat lidah dan menggiring salesman itu untuk pergi. Mereka memang demikian teguh dalam menawarkan dagangannya. Selain salesman ada juga orang yang menyebarkan agama lewat kunjungan langsung ke rumah dengan ketok pintu. Penginjil dari Jehowa Witness itu bisa dibalikkan oleh adik perempuan dengan baik. Berdiskusi dengan adik perempuan itu bagai melawan tembok yang berlapis-lapis.

Disiplin Orangtua

Bapak dari kenalan tersebut bekerja sebagai teknisi pesawat. Ia memperbaiki mesin pesawat militer dan juga sipil. Mungkin karena jenis pekerjaannya itulah memaksanya harus bersikap disiplin. Selain itu ia juga pernah dididik secara militer. Dalam banyak hal dalam rumahtangga, bapak dari kenalan tersebut seperti pegang komando. Ia yang menentukan bagaimana dan apa yang perlu dikerjakan hingga pada hal-hal yang paling kecil.

Memakai peralatan bila sudah selesai harus dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya semula. Kalau makan, habiskan dulu makanan lama yang tersisa baru makan masakan yang baru saja dimasak. Sehabis bersepedaan, sepeda harus dilap dan dikasih sedikit pelumas agar tidak karatan. Menutup pintu mobil tak perlu dibanting. Menjemur handuk, lipatan handuk sebaiknya yang dijepit tak lebih sepanjang 15 cm agar cepat kering. Sehabis memakai komputer, harus ditutup plastik agar tak kena debu dan seterusnya. Banyak hal yang kelihatan sepele ternyata ada aturannya di situ. Membuka arloji tangan harus dilakukan di atas meja untuk menghindari bila arloji itu secara tak sengaja terlepas, sehingga tidak jatuh membentur permukaan lantai yang keras dan rusak. Demikian juga ketika membaca buku. Harus di atas meja dan melipat buku adalah larangan besar.

“Jika kau tidak disiplin, bisa-bisa orang lain yang celaka. Kadang jadi masalah pilihan antara mati atau hidup,” begitu nasihat bapak pada anak-anaknya.

“Tapi dalam hidup tidak semuanya menyangkut masalah mati atau hidup. Kadang malah harus flexible kalau mau hidup,” begitu bantah sang ibu.

Setiap hendak melakukan sesuatu, hampir pasti didahului dengan debat dulu. Memperdebatkan aturan yang dibuat oleh sang bapak. Jika diketemukan kesepakatan, barulah pekerjaan bisa dilakukan. Membersihkan jendela rumah misalnya, ketika di SD kadang anak-anak oleh guru kelas secara gotong royong disuruh membersihkan kelas. Anak-anak dalam membersihkan jendela kaca pakai kertas koran yang dibasahi air kemudian disaputkan ke jendela. Maka cara serupa dilakukan dalam membersihkan jendela rumah pada suatu pagi di hari Minggu itu.

Ternyata sang bapak menyarankan, agar jendela kaca itu disiram air dulu agar debu-debu yang menempel terhapus dulu. Setelah itu bisa digosok dengan kertas koran basah atau kain basah. Alasanya, bila debu tak disiram air dulu dan langsung digosok dengan koran atau kain basah, debu itu bisa bikin kaca terbarut-barut. Mereka pun menurut perintah sang bapak. Karena masuk akal juga alasan yang dikemukakan.

“Kalau debu yang melekat di kaca mobil mungkin bikin barut karena debunya kasar dari cipratan mobil lain. Kalau debu di jendela debunya lembut. Debu yang bisa diterbangkan angin. Apalagi digosok pakai kertas koran basah yang empuk. Masak bisa bikin barut, bapak?” begitu debat adiknya yang perempuan.

Mendengar celotehnya yang ringan itu kami tersenyum dalam hati. Sang bapak diam saja. Perkara debu di jendela saja kok bikin aturan, demikian kata hati kenalan tersebut. Hidup kok dibuat susah banget. Tapi anak-anak yang dibesarkan di Indonesia itu tidak berani membantah perintah bapak mereka. Sambil nggrundel mereka sirami juga jendela kaca itu sebelum menyaputnya dengan kain basah.

Mencari Kebenaran Sejati

Hal lain yang sering jadi ajang perdebatan adalah masalah lemari pendingin. Lemari pendingin untuk menyimpan makanan amat vital fungsinya di Australia. Karena biasanya keluarga hanya bisa belanja seminggu sekali pada hari libur kerja. Maka ketika belanja, barang yang dibeli diperkirakan cukup untuk seminggu. Termasuk sayuran, susu dan daging yang mudah busuk itu. Hasil belanja untuk keperluan seminggu itu semuanya dimasukkan ke lemari pendingin biar awet.

Sang bapak selalu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak membuka tutup lemari pendingin terlalu lama karena bisa menurunkan suhu di lemari es sehingga mengurangi keawetan makanan di dalamnya. Begitu dibuka, ambil apa yang diperlukan lalu tutup kembali secepatnya. Untuk bisa melakukan itu, sebelum membuka lemari pendingin perlu dipikir dulu apa yang hendak diambil. Bila sudah diputuskan, barulah lemari pendingin dibuka lalu mengambil makanan yang diperlukan. Dengan demikian lemari pendingin itu bisa ditutup secepatnya, sehingga tak banyak suhu dinginnya keluar.

Aturan dari sang bapak itu masuk akal sekali. Kadang kita membuka lemari pendingin terlalu lama dan tanpa sadar telah melepaskan suhu dingin dalam lemari ke udara terbuka. Bila hal ini sering dilakukan, pada saat cuaca panas, tidak mustahil makanan dalam lemari es bisa lebih cepat membusuk karena suhu dalam lemari es tidak sedingin yang diperlukan untuk mengawetkan makanan.

Mereka pun menuruti perintah sang bapak tanpa perdebatan berarti. Apa yang diutarakan sang bapak masuk akal dan logis. Malah anak-anak berlomba untuk memecahkan record kecepatan dalam mengambil makanan. Membuka tutup lemari, mengambil makanan yang dibutuhkan dan menutupnya kembali dengan cepat. Anak-anak begitu bangga bila berhasil melakukan dengan cepat. Makin cepat makin puas.

Sampai kemudian adik perempuan bungsu itu datang dari habis bermain-main bersama temannya pada hari minggu siang yang cukup panas. Masih dengan pakaian musim panas memakai t-shirt, celana pendek dan sepatu ketsnya ia berjalan ke dapur. Bintik-bintik keringatnya nampak bercucuran di keningnya. Sambil berdendang-dendang kecil ia membuka lemari es itu di hadapan kami. Selama ini kami semua tidak pernah memperhatikan adik perempuan itu membuka dan menutup lemari. Anak perempuan satu-satunya itu sepertinya terlalu diistimewakan dan tak dipedulikan urusannya dengan lemari es itu. Ia membuka pintu lemari es dan menahan dengan tangan kanannya sambil matanya celingukan mencari sesuatu dalam lemari. Kami mulai cemas ketika melihat bapak juga memperhatikan tingkah laku adik perempuan itu.

“Wulan, jangan terlalu lama membuka lemarinya. Nanti lemarinya nggak dingin lagi. Makanannya cepat busuk,” kata sang bapak memperingatkan akhirnya.

“Masih cari-cari enaknya makan apa, bapak,” jawab adik perempuan itu santai.

“Lain kali dipikir dulu apa yang hendak diambil, baru buka lemari dan tutup lagi,” kata sang bapak.

“Bagaimana saya bisa mikir kalau nggak tahu apa yang ada di dalamnya, bapak?” jawab adik perempuan itu ringan.

Mendengar jawabannya itu, kami tertegun dan tersadar. Betapa benarnya alasan yang dikemukakan anak perempuan yang masih duduk di setingkat SD itu. Selama ini kami demikian yakin bahwa apa yang kami cari pasti ada di tempatnya. Kami cuma butuh minuman buah dalam botol plastik yang gampang dicapai. Keperluan kami sangat sederhana sehingga tak perlu meneliti lebih jauh keadaan dalam lemari es. Karena memang tak menarik. Kami bisa buka dan tutup kembali dengan cepat.

Gadis cilik itu punya sudut pandang beda. Ia seperti lebih punya banyak pilihan. Maka waktu yang diperlukan juga lebih lama. Dan tentu saja karena ia tak akan bisa mengingat semuanya. Bahkan mungkin saja ia merasa tak perlu mengingatnya. Toh, ia bisa membuka dan melihat kandungannya? Kenapa mesti diingat dan ditandai? Dan lagi, keadaan dalam lemari es selalu berubah tiap minggu bahkan tiap hari karena selalu berkurang isinya. Untuk mengingatnya memang sebuah tindakan yang sia-sia. Peraturan yang dibuat dalam membuka dan menutup pintu lemari es dengan segala kebenaran logikanya itu ternyata sebuah usaha mengada-ada.

Kulihat ibu yang sejak tadi diam membaca buku nampak mendongakkan wajahnya mendengarkan percakapan antara anak perempuan dan bapaknya. Keningnya berkerut seolah ikut terpana dengan ucapan anak gadisnya. Dan menurutnya, seisi rumah lagi belajar tentang perbedaan pendapat dari gadis cilik itu.

Diam-diam aku amati ibuku dengan seksama. Ibuku yang lembut dan santai itu, sepertinya lagi menikmati kemenangannya dengan diam-diam. Semua anaknya secara pelan-pelan mengikuti jejak dirinya dalam menghadapi hidup. Untuk selalu flexible dalam bersikap dan menghadapi masalah hidup. Bersitegang dalam masalah-masalah sederhana hanya akan membuat diri stress yang tidak perlu. Dunia tak akan runtuh karena lemari es yang dibuka terlalu lama. Kehidupan akan berlangsung sebagaimana biasa. Semua akan rusak pada waktunya tanpa peduli usaha sekeras apapun yang kita lakukan untuk mencegahnya.

Perbedaan pendapat dan pikiran adalah sesuatu yang wajar. Tapi jangan sampai kita terlalu tersita dengan masalah perbedaan itu. Yang penting, apa mau kita dengan perbedaan itu. Menajamkan perbedaan dan mendebatnya atau berkonsentrasi tentang tujuan akhirnya kenapa terjadi perbedaan itu? Kalau tujuannya sama, kenapa mempertajam perdebatan tentang jalan yang hendak ditempuh untuk mencapai tujuannya? Bahkan dengan sengit saling mencari benarnya sendiri? Padahal tujuannya sama. Cuma jalannya saja yang dipilih berbeda. Betapa seringnya kita terjebak pada keputusan dan pemikiran jangka pendek dan lupa memperhitungkan tujuan jangka panjangnya. Bukankah setiap manusia mendambakan kebahagiaan di ujung jalan betapapun panjangnya yang akan ditempuh?

Jika alasannya untuk mencari kebenaran, maka perlu dipertanyakan kebenaran untuk siapa? Untuk sesama manusia? Kebenaran sejati hanya bisa ditemukan oleh manusia ketika manusia itu sudah mati. Itulah kebenaran sejati manusia yang tak terbantahkan.*** (HBS)