herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Jokowi Jadi Sasaran Empuk Bulan-bulanan

MASYARAKAT Indonesia itu terkenal dengan masyarakat yang murah senyum, ramah dan bersahabat. Itulah sebabnya, Jokowi sering menjadi bulan-bulanan dari orang-orang yang punya sifat seperti itu.

Orang-orang yang suka senyum, ramah dan bersahabat itu sebenarnya mencari pelampiasan karena tak puas dengan dirinya sendiri, tak puas dengan hidupnya sendiri, tak puas dengan keadaan sekitarnya dan ketidak-puasan lainnya. Ketidak puasan itu menghalangi mereka untuk murah senyum, ramah dan bersahabat. Ketidak-puasan yang bertumpuk-tumpuk itu bisa salah sasaran dalam pelampiasannya. Sedikit saja ada yang salah dan ada orang yang bisa jadi sasaran empuk, jadilah ia bulan-bulanan kesalahan.

Lihat saja kerusuhan-kerusuhan atau protes-protes sosial di Indonesia. Protes sosial itu kadang tidak realistis. Sepertinya rekayasa karena hasutan orang-orang yang punya kepentingan. Karena sudah nggak bisa senyum, tidak bisa lagi dengan kepenak jadi orang peramah dan bersahabat, makanya mereka gampang dihasut. Karena rasa pegelnya yang selama ini ditahan saja hingga sampai ke ubun-ubun.

Keinginan pingin murah senyum dan peramah itu sering terhalang, jadinya serba mangkel melulu. Pinginnya ngumpat-ngumpat. Mereka tidak bisa mengumpat ke udara. Harus ada sasaran empuknya. Dan Jokowi enak sekali dijadikan sasaran empuk. Karena apa? Karena Jokowi telah dianggap sebagai orang dekat mereka. Sudah dianggap sebagai orang yang baik hati dan tak akan marah kalau diumpatin. Mereka tahu jika Jokowi dimarahi, Jokowi akan merajuk mereka. Dan ini membuat mereka senang. Puas. Merasa berada di atas angin. Merasa terhibur. Merasa benar. Merasa dihargai. Merasa penting.

Masyarakat kita itu sering kalau dikasih hati suka minta rempelo. Kadang mereka marah-marah bukan pada masalah atau orang lain yang menciptakan masalah, tapi pada orang yang justru dekat di hati. Lihat saja contohnya, kita beraninya memarahi suami atau isteri tapi nggak berani memarahi saudara sendiri yang sebenarnya sumber penyakitnya. Apalagi memarahi mertua!

Di kantor juga gitu. Yang bikin mangkel itu bos yang suka merintah, tapi marahnya sama anak buah yang rajin dan selalu membantunya. Orang-orang yang dekat itu justru jadi korban pelampiasan kejengkelan mereka. Karena mereka tahu, orang yang dekat itu nggak mungkin akan balik menyakiti. Orang dekat itu tahu tabiat mereka. Mereka berasumsi bahwa orang dekat tersebutlah yang bisa mengerti kejengkelannya. Jadi jengkelnya itu tidak perlu semua diomongkan. Yang penting-penting saja. Tidak mulai semuanya dari nol, karena orang yang dekat sudah tahu. Mana berani marah sama bos? Orang dekat itulah sasarannya.

Mereka beraninya memarahi orang-orang terdekat karena yakin setelah marah-marah hubungan baik itu bisa dibina kembali tanpa susah. Memarahi orang dekat itu resikonya kecil. Kalau memarahi orang jauh dan tidak kenal, bisa-bisa salah paham dan kena bogem mentah.

Jokowi belum tahu kebiasaan masyarakat kita yang suka membully orang-orang yang tulus dan jujur? Karena orang yang tulus dan jujur adalah sosok aneh. Mereka dianggap sebagai sampah masyarakat. Nlyeneh. Tidak ngikuti pakem.

Kenapa masalah banjir nggak selesai-selesai dan bisanya menyalahkan? Alasannya sama saja. Karena kita suka senyum, ramah dan bersahabat. Lihat saja siaran TV. Pembaca beritanya tetap saja pasang senyum di kulum saat membacakan berita bencana, kecelakaan, kesengsaraan, penderitaan dan lain-lain nasib sial yang menimpa manusia lain. Apapun keadaannya, masyarakat kita selalu mencoba untuk tersenyum, tetap ramah dan bersahabat.

Terkena banjir juga begitu. Masyarakat masih saja suka tersenyum dan bersahabat. Mencoba bersikap sabar. Banjir dianggap bukan bencana tapi cobaan hidup. Kesabaran mereka dalam menerima bencana dan kesengsaraan sudah tidak realistis lagi. Kepasrahan pada nasib sudah menjadi fatalisme.

Semua diserahkan pada yang bikin hidup dan mereka merasa tinggal menjalani saja ujian cobaan itu dengan tabah. Dan tetap dijalani dengan senyuman, keramahan dan jangan sampai kehilangan tali silaturahmi dan lupa diri. Cobaan dari yang kuasa ada batasnya. Pasti nanti bakal mereda sendiri. Badai pasti berlalu. Cobaan jangan sampai membuat orang menjadi kafir. Justru harus lebih mendekatkan diri pada yang Kuasa.

Namun akan beda jika banjir itu dipandang sebagai bencana yang tidak perlu. Banjir adalah bencana alam yang bisa diatasi. Mereka akan ramai-ramai berusaha menyelesaikan masalah itu bersama-sama. Bencana harus dihentikan dan bukan dipelihara untuk media hiburan. Bencana bukan alat untuk mendekatkan diri pada yang bikin hidup.

Bencana itu harus dihentikan agar bisa mendekatkan diri ke hadapan yang kuasa dengan lebih tenang. Ini bukan pemikiran orang yang benar keimanannya. Bencana itu kehendak alam, kok dilawan. Berarti melawan sang alam. Melawan yang bikin hidup. Melawan takdir. Orang begini harus banyak berdoa dan berintrospeksi. Orang yang sudah lupa dengan tuhannya. Orang yang sudah keblinger kehilangan ketaqwaannya. Orang yang kurang tawakal dan prihatin. Lemah iman.

Karena bencana dianggap cobaan hidup, masyarakat tidak pernah belajar mengatasi bencana. Yang mereka pelajari adalah orang harus selalu sabar, tawakal dan berserah diri pada tuhannya. Harus tabah menerima bencana agar dikasihi oleh sang kuasa. Itulah manusia yang beriman.

Bencana tidak ada hubungannya dengan kali yang tersumbat. Tidak ada hubungannya dengan buang sampah sembarangan. Tidak ada hubungannya dengan design arsitektur yang njlimet dan canggih untuk menangkal bencana. Apapun usaha manusia tidak akan bisa melawan sebuah bencana yang ditimpakan oleh sang kuasa. Bendungan dari beton berlapis-lapis akan jebol juga kalau sang kuasa menghendaki.

Kalau memang Jokowi sebagai manusia hebat melebihi kemampuan sang kuasa, pasti banjir itu bisa cepat diatasi. Tidak bertele-tele ngomong teori macam-macam. Apalagi ngomong managemen penanggulangan bencana segala. Apa itu?

Apapun kemampuan dan usaha Jokowi tidak akan bisa menghentikan sebuah bencana yang memang ditimpakan pada masyarakat yang sudah banyak dosanya. Para pemimpin harus bertobat dan minta ampunan pada yang kuasa. Kalau perlu bikin kenduri untuk seluruh penduduk Jakarta. Kasih sesaji pada leluhur. Bencana pasti tidak akan ditimpakan pada orang-orang yang tawakal.

Yang kuasa tak akan memberi ujian berat pada orang-orang yang selalu tersenyum, ramah dan bersahabat. Kesombongan manusialah yang membuat sang kuasa memberikan cobaan hidup bertubi-tubi. Sebagai pelajaran agar lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa.

Masyarakat kita memang masih perlu dididik untuk lebih bisa berpikir secara realistik, logis dan rasionil. Barangkali inilah kunci untuk menyelesaikan segala persoalan-persoalan yang ada di Indonesia saat ini. Mengajak masyarakat untuk berpikir rasionil memang banyak tantangannya. Perlu political will pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat. Tidak malah menghiburnya dengan retorika-retorika kosong untuk menumpulkan logika sehat.

Usulan buat pak Jokowi, jika masyarakat enggan untuk bertindak dan berpartisipasi mengatasi banjir karena pikiran-pikiran yang tidak realistis, kasih saja setiap tempat pembuangan sampah sesaji kembang setaman. Undang para dukun untuk pasang sesaji di tempat-tempat strategis penyebab banjir. Masyarakat pasti takut menyinggung para leluhur di mana sesaji itu ada. Mereka tak akan buang sampah sembarangan di situ. Mereka takut kualat. Mereka takut kesambet. Mohon pak Jokowi coba usulan ini. Lihat saja nanti hasilnya. Sungai-sungai akan jadi bening dan keramat. Ikan yang ada di situ matanya bisa berkedip-kedip.*** (HBS)


Leave a comment

Intervensi Nilai-nilai Supernatural dan Harga Nyawa Manusia

1390370346418910687

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

DI SEBUAH jalan di kota kecil dekat Sydney nampak orang keluar terhuyung-huyung dari sebuah flat. Di bagian perut orang itu terdapat beberapa lubang tusukan. Darah mengalir pelan dari situ. Ia tak bisa bicara karena mulutnya masih terbalut dengan plester. Tangannya terikat ke belakang. Ia jalan di atas trotoir sempoyongan berusaha menjauhi flat darimana ia keluar.

Seorang yang kebetulan lewat, tergopoh-gopoh menanyai orang tersebut apa yang terjadi. Ia menghentikannya dan membantunya untuk berbaring di lantai trotoir yang dingin. Lalu melepas plester di mulut dan mengurai tali yang mengikat tangannya. Ternyata korban tusukan itu berhasil keluar dari flat setelah ia disandera beberapa jam sebelumnya. Untunglah orang yang ditemui di jalan itu punya sertifikat first aid (P3K). Ia segera melepas kaosnya dan menekan lubang di perut untuk menghentikan pendarahan. Lalu ia panggil ambulance dan polisi sekaligus dengan hp.

Selama menunggu datangnya ambulance, penolong itu menanyai nama korban. Mencoba membuatnya untuk tetap terjaga. Ia tanyai kapan terakhir liburan? Apa saja yang dilakukan saat liburan? Ia mencoba menenangkan korban dengan ingatan-ingatan yang menyenangkan. Ia juga meyakinkan untuk tidak terlalu kuatir karena pertolongan segera datang. Semua akan baik-baik saja. Sesekali ia dengar orang tersebut kentut dan seperti ada angin yang keluar dari lubang di perutnya. Kondisi korban makin lemah. Mulutnya mengeluarkan darah segar.

Dalam kursus-kursus first aid, penolong penderita kecelakaan memang disarankan untuk membuat korban jadi setenang mungkin. Terutama pada korban kecelakaan yang mengalami shock. Dengan membuatnya tenang dengan sendirinya denyut nadinya akan lebih stabil sehingga tidak membuat pendarahan makin parah. Pertama dan yang paling penting ialah dengan meyakinkan korban bahwa keadaan akan segera membaik. Bahwa petugas ambulance akan segera datang secepatnya untuk menolongnya.

Ketika penulis melihat kecelakaan di Indonesia (Malaysia?) lewat youtube, masyarakat yang berusaha menolong korban juga berbuat sama (Sumber). Mencoba menenangkan si korban kecelakaan namun beda caranya. Korban yang mengalami pendarahan cukup berat di kepalanya tersebut nampak tidak sadarkan diri. Kondisinya amat lemah. Korban seperti tidak merespon omongan para penolong. Ia seperti kesulitan bernafas. Penolong tersebut membaringkan korban dalam posisi terlentang di pinggir jalan dan mulai membacakan kalimat-kalimat agama. Sesekali membisikkan kalimat agama itu di telinga korban dan keras-keras menyebut kebesaran nama Tuhannya.

Pertama yang dilakukan untuk menolong korban kecelakaan adalah dengan memastikan bahwa tidak ada benda atau darah yang menyumpal di mulut dan tenggorokan penderita sehingga menghambat jalan pernafasannya. Dengan membaringkan korban dalam posisi terlentang, korban akan lebih sulit untuk bernafas. Seharusnya korban dibaringkan dalam posisi miring (recovery position) sehingga memperlancar jalannya udara dan mempermudah korban untuk bernafas karena posisi lidah tidak masuk ke dalam tapi ke samping.

Untunglah petugas ambulance segera datang dan membawa korban ke rumah sakit. Tidak diketahui akhir dari keduanya. Apakah jiwanya tertolong apa tidak.

Nyawa Hak Milik Pribadi Paling Berharga Manusia

Nyawa adalah milik pribadi yang paling berharga. Hanya si pemberi nyawa dan pemilik nyawa sendirilah yang berhak mencabut nyawa dari badan wadagnya. Sebenarnya, memakai dasar apapun atau dengan dalih apapun, orang tidak berhak untuk mengambil nyawa milik orang lain. Namun dalam dunia yang serba tidak sempurna ini, nyawa manusia kadang tidak ada harganya. Nyawa dikorbankan untuk kepentingan-kepentingan politik atau kepentingan lain yang dianggap demi menegakkan peraturan dan rasa keadilan kemanusiaan.

Pelaku bunuh diri adalah tindakan ekstrim seorang individu dalam hal kepemilikan sebuah nyawa. Sebagai individu, memang paling berhak untuk melakukannya. Orang lain tidak mempunyai kewenangan menghalanginya. Karena rasa kemanusiaan tindakan euthanasia tidak setiap negara mendukungnya. Namun bila seorang individu telah memutuskan untuk mengambil nyawanya sendiri, ia bisa melakukan dengan seribu cara. Tak akan ada yang bisa menghalangi begitu tekad sudah dibulatkan. Bagaimanapun barharganya sebuah nyawa, jika seseorang sudah memutuskan bahwa ia hendak mengambil nyawanya sendiri, tak ada kekuatan manapun yang bisa menghalanginya.

Sebuah suku terasing di Amazon, Suruwaha, umur harapan hidup suku tersebut rata-rata di bawah 35 tahun (bandingkan dengan data statistik dunia). Bukan karena kurang gizi dan nutrisi yang miskin atau wabah penyakit, tapi karena suku tersebut punya kebiasaan yang mendirikan bulu kuduk.

Secara turun temurun, suku terasing tersebut punya kebiasaan untuk melakukan bunuh diri (euthanasia) bahkan sebelum menginjak dewasa dan menikah. Kematian dianggap sebagai hidup di alam lain. Mereka punya ramuan khusus yang terbuat dari akar pohon-pohonan amat mematikan bila diminum. Jika orang sudah membulatkan tekad untuk mati, masyarakat sekitar membantunya mempersiapkan tindakan bunuh diri itu.

Alasan mereka bunuh diri adalah karena tak tahan menanggung rasa rindu dengan adik, kakak atau orangtua mereka yang lebih dulu melakukan bunuh diri. Bunuh diri di kalangan suku tersebut dianggap bukan sebagai tindakan tercela. Bunuh diri dipandang sebagai bagian dari proses hidup menuju hidup berikutnya. Merupakan hak seseorang ketika memutuskan untuk pergi menemui saudara yang dicintainya di alam kehidupan lain. Anggota suku lain secara sosial membantu individu tersebut untuk melakukan perjalanannya melalui ritual-ritual adat sukunya.

Ketika kita tilik masalah nyawa ini dengan sudut pandang agama, maka nyawa bukan lagi melulu milik pribadi perseorangan dengan hak kuasa mutlak. Bunuh diri dilarang dalam agama disertai sanksi-sanksi yang menakutkan bagi arwah pelaku bunuh diri. Namun jika bunuh diri dilakukan karena alasan membela agama maka akan lain persoalannya. Menghilangkan nyawa orang lain dalam banyak agama juga dilarang. Namun menghilangkan nyawa orang lain demi membela agama, maka juga lain persoalannya.

Agama punya peranan menentukan dalam memperlakukan nyawa manusia. Baik nyawa individu atau nyawa orang lain disertai sanksi atau ganjaran yang setimpal. Sanksi dan ganjaran tersebut dalam agama dikenal dengan neraka dan surga. Setiap agama punya kriteria sendiri dalam masalah surga dan neraka ini. Dalam agama tertentu, sanksi bisa sedemikian menakutkan sehingga membuat manusia berpikir duapuluh kali lipat untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agamanya. Dan di sisi lain yang berlawanan, ganjaran yang diberikan sedemikian menggiurkan bagi manusia untuk melakukan apapun agar bisa memperoleh ganjaran sesuai agama tersebut. Termasuk dalam urusan nyawa ini, sanksi dan ganjaran menduduki sisi kutub relatif ekstrim yang berlawanan.

Di youtube banyak dijumpai video rekaman orang membunuh orang lain atas nama Tuhannya. Si pembunuh maupun yang dibunuh sama-sama meneriakkan nama Tuhan masing-masing. Di youtube pula bisa dijumpai orang melakukan tindakan bunuh diri karena masalah hidup dengan menyebut kebesaran nama Tuhannya (sumber). Dalam sekte agama tertentu bahkan kita dapati berita tindakan bunuh diri masal atas nama agamanya (Sumber). Entah di mana Tuhan berpihak dalam hal ini. Lebih-lebih bagi pemeluk agama sama tapi beda pemahaman.

Nyawa bukan lagi milik pribadi manusia sebagai diri atau urusan nyawa manusia lain sesama manusia, tapi ada pihak ketiga yang mencampuri urusan nyawa manusia ini, yakni agama. Agama menempatkan urusan nyawa manusia ke tingkat berikutnya. Urusan nyawa menjadi lebih rumit. Doktrin agama bisa saja diterjemahkan secara sempit oleh manusia yang terbatas akal, pikiran dan hatinya. Ketakutan berlebihan pada Tuhan atau fanatisme sempit terhadap agama kadang bisa membuat manusia berpikir di luar batas-batas realita kemanusiaannya sendiri.

Keberadaan dan peranan Tuhan bisa diartikan secara berbeda oleh tiap individu. Karena kehidupan yang beragam, desakan hidup bisa membuat manusia kehilangan pegangan agamanya. Tuhan bisa ditempatkan pada posisi yang subjektif karena pemahaman manusia yang sempit dan terbatas ini. Tuhan telah direduksi menjadi obyek pembenaran atas tindakannya.

Keterpihakan Pilihan Pribadi

Dalam dua kasus tersebut di atas di awal tulisan, dua orang manusia terancam kehilangan nyawanya, namum bagaimana keduanya ditangani amat berbeda. Kedua kasus tersebut hanya sebagai ilustrasi dalam artikel ini. Karena tidak semua kecelakaan akan diperlakukan seperti itu. Contoh kasus tersebut hanya sebagai gambaran bagaimana kebudayaan membedakan dalam memperlakukan nyawa seseorang.

Dalam negara sekuler, semacam Australia, peranan Tuhan dalam penyelamatan nyawa manusia ditempatkan pada ruang pribadi masing-masing individu. Penyelamat lebih menitik beratkan pada keadaan individu secara realistik. Urusan kematian adalah urusan rasionil yang bisa dicegah lewat teknologi dan medis. Maka ketika penderita dalam keadaan kritis, oleh penolong diciptakan suasana agar penderita membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan kepastian bahwa pertolongan medis dengan ketrampilan dan teknologi memadai yang diperlukan akan segera datang.

Penolong tidak mengkhawatirkan jika korbannya meninggal nanti masuk surga atau neraka. Si penolong tidak berusaha menghibur korban dengan kalimat-kalimat berkaitan dengan agama meski korban diasumsikan sudah dalam keadaan kritis dengan harapan hidup minim. Agama dan ketuhanan demikian jauh dari benak si penolong. Dan bahkan mungkin juga di benak korban. Pikiran rasionil mereka menghentikan pikiran di luar kenyataan riil. Masalah surga atau neraka adalah masalah pribadi individu masing-masing setelah meninggal. Sebuah masalah yang berada di luar kekuasaannya untuk mempengaruhinya. Selama ada di dunia, maka hukum-hukum duniawilah yang bicara. Mereka akan tetap berusaha menyelamatkan nyawa korban hingga korban dinyatakan meninggal.

Sementara itu, bagi masyarakat Indonesia yang religius dan beragama, tidak berarti tanpa usaha riil dalam menolong korban kecelakaan. Mereka merasa tahu di “batas” mana mereka harus berhenti berusaha untuk menolong dan saatnya nasib dipercayakan pada Sang Kuasa.

Ketika “batas” itu dirasa telah dilewati, maka nyawa sudah berada di luar jangkauan tangannya. Nyawa sudah jadi urusan di luar kekuasaannya. Maka tidak ada usaha lainnya yang dirasa lebih baik selain mengumandangkan kalimat-kalimat kitab suci untuk membantu korban menemui penciptanya. Dengan ketulusannya dalam menolong korban, mereka berasumsi bahwa agama si korban sama dengan agamanya. Maka kalimat-kalimat suci dari agamanya didengungkan pada korban.

Karena agama bagi individu adalah agama paling benar yang diyakininya, maka jika orang lain meski beda agama, jika dibacakan kalimat-kalimat suci agamanya akan punya nasib sama. Yakni mendapat pengampunan dari Tuhan dan mendapat keringanan atas dosa-dosanya.

Masalah yang bisa diperdebatkan adalah tentang definisi “batas” yang diketahui dalam usahanya menyelamatkan nyawa korban. Batas di mana si penolong merasa tidak lagi kuasa untuk menyelamatkan nyawa si korban. Karena pengetahuan medis yang terbatas, mungkin saja “batas” itu tidak tepat. Namun sudah keburu menyerahkan pada kekuatan di luar kemampuan dirinya. Pada titik inilah yang membedakan antara pemikiran rasionil dan sekuler dengan pemikiran religius agama dalam usaha menyelamatkan nyawa seorang manusia.

Jika kedua korban di atas ternyata keduanya meninggal, maka kebenaran menjadi urusan masing-masing individu. Penolong di negara sekuler merasa benar dan demikian juga penolong di dunia religius beragama. Bedanya, penolong sekuler usahanya dalam menolong tersebut berhenti di dunia. Mereka merasa gagal dalam usahanya menolong korban. Sementara penolong religius beragama merasa bahwa pertolongan mereka berlanjut meski korban meninggal. Mereka merasa berhasil dalam menolong korban untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhannya. Gagal menolong di dunia namun masih punya harapan sukses menolong korban di alam kubur. Meski hal ini amat sulit dibuktikan karena hanya berdasar keyakinan agama.

Betapa “agama” atau kepercayaan tentang kekuatan supernatural telah menggeser sikap kita tentang arti sebuah nyawa. Kepercayaan adanya sebuah kekuatan di luar kekuatan manusia melahirkan konsep dan pandangan baru dalam menilai sebuah nyawa. Bahkan dalam kasus tertentu kekuasaan “Tuhan” jauh melebihi harga sebuah nyawa.

Dalam peradaban-peradaban kuno, persembahan nyawa manusia kepada kekuasaan di luar kekuasaan manusia dilakukan oleh kelompok manusia pengikutnya. Nyawa manusia dijadikan tumbal bagi kesejahteraan manusia lainnya. Tumbal nyawa manusia seolah bisa membahagiakan kekuatan supernatural yang dipercayai akan memihak kepada pengikutnya. Seolah tindakan menghilangkan nyawa manusia lain mengalami pembenaran karena adanya kekuatan supernatural yang “diyakini” memihak padanya.

Manusia tidak akan pernah bisa menghilangkan instingnya sebagai mahluk yang lebih rendah. Menghilangkan nyawa orang lain tak cukup hanya mematikannya, tapi harus disertai kesakitan demi alasan pembelajaran, balas dendam atau keadilan.

Hukuman mati adalah bentuk penghilangan nyawa manusia demi pembelajaran secara terlembaga. Hukuman mati dengan memakai gas nitrogen tanpa menimbulkan rasa sakit bahkan pesakitan menghalami euphoria beberapa detik sebelum meregang nyawa dianggap tidak cocok dengan tujuan hukuman mati itu sendiri (Sumber). Si pesakitan harus menderita sakit sebelum mati. Hutang nyawa dibayar nyawa. Itulah pembelajaran yang didapat dari hukuman mati. Hukuman adalah hukuman. Hukuman harus menyakitkan. Tidak ada hukuman yang sifatnya menyenangkan.*** (HBS)


1 Comment

Dosa Harus Diselesaikan Urusannya

HIDUP harus dinikmati. Dosa jangan sampai membelenggu kita untuk menikmati hidup. Dosa harus diselesaikan urusannya. Mengeluh tak akan menyelesaikan masalah. Apalagi mengeluh pada yang Kuasa. Itu hanya cara menghibur diri sendiri karena malas atau tinggi hati untuk bertindak.

Banyak orang pada saat berada di titik tertentu yang menohok rasa manusianya sering sambat, “Duh, Gusti ampuni dosa hambamu.”

Sebenarnya kenapa sih kita merasa berdosa? Dosa itu apa?

Guilty (bersalah) dan sin (berdosa) memang konsepnya berbeda. Tapi implikasi secara emosi hampir sama. Ada titik temunya. Bedanya, ketika orang merasa berdosa, ia mengarahkan emosinya ke yang ada di Atas. Kalau bersalah, ia mengarahkan emosinya pada diri sendiri.

Ketidak-pasan tindakan sosial disanksikan dengan ukuran salah atau tidaknya dan bukan berdosa atau tidak. Bersalah lebih gampang diukur secara hukum sosial daripada berdosa yang lebih subjektif menurut keyakinannya.

Rasa dosa itu sebenarnya cerminan rasa bersalah. Bersalah pada diri sendiri atau pada orang lain. Orang merasa berdosa pasti sedikit banyak ada kaitannya dengan tindakan sosialnya yang salah. Inilah titik temunya. Lebih baik merasa bersalah daripada merasa berdosa jika berkonteks sosial.

Kalau merasa bersalah pada diri sendiri, ya jangan diulangi perbuatan yang bikin rasa bersalah itu. Yang sudah lalu biarkan berlalu.

Kalau merasa bersalah pada orang lain, tidak perlu sambat minta maaf pada yang Kuasa. Lebih baik langsung saja minta maaf pada orangnya. Masalah lebih terselesaikan dengan tuntas. Sehingga tidak ada lagi menyisakan rasa berdosa?

Yang Kuasa itu bukan tempat mengeluh yang kita tidak tahu arah jluntrungnya. Lebih baik bertindak dan selesaikan masalahnya.

Daripada bilang, “Duh, Gusti ampuni dosa hambamu,” lebih baik bilang, “Duh, Gusti I love you sooooo much…..”*** (HBS)


Leave a comment

Hidup Tak Lebih dari Sekedar Menunda Mati

MAU apa tidak, siap apa tidak, sadar atau tidak, hidup itu sebenarnya cuma menunda kematian. Kita semua bakal mati. Tidak ada seorangpun nggak bakal mati. Semua mati. Mati, dikubur dan jadi tiada. Tidak berbekas. Dunia tetap berputar tanpa atau dengan keberadaan kita. Hidup bergulir dari detik ke detik. Menggelinding tanpa bisa dihentikan sepersekian detik sekalipun.

Saat ini, mungkin kita masih menganggap kematian bukan urusan kita. Bila kita melihat orang mati, itu urusannya yang mati dan keluarganya. Mati seolah jauh dari kita. Seolah kita bakal tak mengalami kematian. Kita ucapkan ikut berbelasungkawa, urusan jadi beres. Kematian dilupakan dan kita kembali ke liang kehidupan masing-masing. Disibukkan oleh urusan-urusan yang dekat dengan diri sendiri. Kita lupa bahwa untuk memutus benang hidup hanya perlu waktu sepersekian detik. Mati sedekat udara yang mengalir di hidung sendiri. Namun kita lalai mendengarnya karena mati seolah bukan urusan diri.

Kita lahir sendiri. Kita tidak bisa mengingat bahwa dunia peduli saat kelahiran kita. Kita merasa telah memasuki dunia kehidupan tanpa orang lain peduli selain orangtua dan keluarga dekat kita sendiri. Merekalah orang-orang yang kita kenal saat menapaki hidup dari hari ke hari. Keluarga kita mengenalkan kita bahwa ada orang-orang lain di sekitar kita. Kita mengenal kehidupan lain selain keluarga. Manusia hidup ada di mana-mana.

Ketika kecil kita menerima hidup sebagaimana adanya. Hidup orang lain adalah bagian dari hidup kita sendiri. Hidup sebagaimana hidup kita sendiri. Kita terima kehidupan lain tanpa melihat asesorinya. Hitam, kuning, putih, atau coklat kita terima hidupnya. Keanekaragaman hidup kita terima sebagaimana keanekaragaman yang ada dalam hidup diri pribadi. Keindahan masa kecil saat kita bisa berteman dengan siapapun tanpa peduli.

Begitu kita dewasa, kesibukan dengan kebutuhan diri menjauhkan kita dari hidup orang lain. Hidup orang lain bukan dipandang lagi sebagai bagian dari hidup sendiri tapi sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Bahkan sebagai ancaman hidup diri. Hidup orang lain adalah bencana yang setiap saat bisa mengancam kehidupan diri. Kehidupan diri kita kedepankan. Kita merasa paling tahu dengan hidup diri. Kita bedakan hidup diri dengan hidup diri orang lain.

Kelahiran baru di keluarga lain kita anggap tak lebih dari hasil dari kegiatan esek-esek. Kehidupan baru orang lain adalah tanggungjawab orang yang telah beresek-esek dan bukan tanggungjawab kita. Kehidupan baru manusia lain adalah milik orang lain.

Kita lupa dengan kemanusiaan diri kita sendiri. Kita lupa bahwa kita lahir lewat proses sama. Kita juga mati lewat proses yang persis sama sebagaimana dengan hidup-hidup lainnya. Kita terbatasi oleh lapisan kulit kita sendiri. Kita terpenjara oleh kulit kita sendiri dalam memahami hidup di luar diri. Kita merasa bahwa hidup diri lain dengan hidup di luar diri. Kita merasa dilahirkan beda. Kita dilahirkan dengan cara suci dan cinta sejati. Sementara lainnya dari air mani yang dimuntahkan dari nafsu kekotoran duniawi.

Jika kita jalani hidup kini dengan memungkiri hidup di luar diri, sebenarnya kita hidup hanya untuk menunda mati. Kita berilusi bahwa kita bisa hidup sendiri dan beda dengan hidup lain yang kita benci. Kita berilusi bahwa orang yang kita cintai hanya bagian dari hidup sendiri. Kita berilusi bahwa cinta membuat hidup kita tidak sendiri. Kebencian kita puji dan syukuri sekedar untuk menghibur diri. Seolah hanya kitalah yang berarti dan orang lain hanya asesori.

Kematian datang pada diri tak dapat dihindari dan kita bakal menemukan kebenaran sejati. Bahwa kita tak beda dengan manusia lain yang lahir kemudian mati. Apa yang kita punyai dan dapati saat ini tak lebih dari sekedar asesori. Kita tak mengerti bahwa hidup akan lebih berarti jika kita bisa menghargai hidup lain di luar diri. Karena hidup selalu memberi, cintailah hidup maka hidup akan balik mencintai. Bahkan berlipat kali tanpa peduli. Pinginnya hidup seribu tahun lagi.*** (HBS)


Leave a comment

Jangan Remehkan Kebodohan, Logika Sederhana

MOBIL itu tiba-tiba saja ganti lajur sehingga membuat pengendara yang dipotong lajurnya sempat terkejut. Tidak ada pilihan lain selain harus memperlambat laju mobilnya secara mendadak jika tak ingin menabrak mobil itu. Dalam hatinya mengumpat pengendara mobil di depannya yang belok seenaknya itu. Nyetir mobil kok kayak nyetir sepeda saja. Belak-belok sesukanya. Untung mobil di belakangnya jaraknya cukup jauh sehingga tidak menabraknya saat menghentikan laju kendaraannya secara mendadak itu.

Dalam peraturan berlalulintas di Australia, jika pengendara ganti lajur atau membelok diwajibkan menyalakan lampu signal (reting). Juga disarankan agar lampu signal itu dinyalakan cukup lama untuk lebih meyakinkan bahwa pengendara lain melihat signal tersebut. Memberi kesempatan pengendara lain untuk berpikir dan melakukan tindakan yang diperlukan. Misalnya, memperpelan laju mobilnya dan memberi kesempatan pengendara lain untuk masuk lajur atau membelok.

Sebenarnya logikanya amat sederhana. Menyalakan lampu signal lalu ganti lajur atau membelok. Semua manusia waras tentu bisa paham dengan logika sederhana ini. Logika sepele dan bukan logika rocket science. Nyalakan lampu lalu ganti lajur atau belok. Signal dulu baru belok atau ganti lajur.

Tapi ternyata logika sesederhana ini tidak gampang dipraktekkan oleh semua orang. Bahkan ada yang tidak menyalakan signal sama sekali. Logika itu ditiadakan dan dianggap tidak ada. Atau menyalakan lampu signal terlalu lama jauh sebelum belok atau ganti lajur, sehingga pengendara lain bingung menterjemahkan maunya apa.

Dan ada juga yang menyalakan lampu signal dan belok secara bersamaan sebagaimana dilakukan oleh pengendara mobil di atas.

“Lho, saya kan sudah menyalakan lampu signal. Kamu yang salah. Nyetir nggak lihat-lihat,” kata pengendara yang ganti lajur mendadak di atas.

Logika Sederhana Keseharian

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak logika sederhana yang salah dipahami sehingga mengakibatkan terciptanya keadaan lebih rumit yang tidak perlu. Tidak jarang juga menyebabkan terjadinya konflik dan sakit hati.

Jika kita bicara pada orang lain dan orang tersebut tidak paham apa yang kita omongkan, secara logika sederhana, kita akan berhenti bicara. Kemudian meneliti dan berpikir mencari sebab dan alasan kenapa orang tersebut tidak paham. Sebab-sebab terjadi macetnya komunikasi banyak faktornya.

Dalam satu kasus ekstrim, banyak terjadi di industri pariwisata. Turis yang berkunjung ke suatu negara yang lain bahasa ternyata tidak semua sadar bahwa negara yang dikunjungi berbeda bahasa dan tidak semua masyarakat akan mengerti mereka. Turis-turis ini bertanya atau komplain dengan orang lokal dengan memakai bahasa mereka.

“Sorry, English please,” begitu kata seorang resepsionis sebuah hotel di Sydney.

Tapi turis itu tetap saja menyambung pembicaraannya dengan bahasanya sendiri. Kembali resepsionis itu mengulangi perkataannya sambil menggerak-gerakan tangannya mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti apa yang diomongkan. Turis itu nampak kecewa dan bersungut-sungut sambil tetap ngomong memakai bahasanya. Sebelum akhirnya ia sadar sendiri setelah tahu apa yang diomongkan tidak memberi respon yang diharapkan.

Kalau salah, ngaku salah lalu minta maaf. Bereslah urusannya. Itulah logika umum. Tapi logika sederhana ini juga tidak bisa begitu saja bisa diterapkan oleh semua orang. Mengaku salah tapi enggan minta maaf. Sudah salah tapi merasa tak bersalah. Merasa salah tapi enggan mengakui salah. Merasa selalu disalahkan dan lalu gengsi mengaku salah. Bahkan dalam kutub ekstrim langka, ada orang yang merasa tak pernah salah. Kebenaran diciptakannya sendiri menurut kehendaknya dan bukan kebenaran berlaku umum. Kebenaran pilih kasih.

Mengakui kesalahan memang perlu pemikiran sehat dan berani menilai diri sendiri secara obyektif. Hanya orang dewasa dan sehat mental-lah yang bisa melakukan instrospeksi demikian. Seorang Schizophrenik tak mungkin bisa melakukan instrospeksi. Orang egois tak mungkin bisa berinstrospeksi menilai tabiatnya. Orang yang selalu mencari benarnya sendiri tak mungkin bisa melakukan instrospeksi.

Setiap hari Sabtu, acara rutin bersama pasangan suami isteri pada hari libur kerja adalah jalan-jalan pagi hari lalu diteruskan dengan belanja keperluan rumah tangga. Karena acara itu sudah rutin dilakukan tahunan, sehingga sudah menjadi aturan tak resmi bagi keduanya. Si suami selalu menolak ajakan teman-temannya untuk pergi bersama. Juga ketika malam Sabtu itu teman kerjanya mengajak pergi mancing esok hari.

Betapa kecewanya ketika pagi itu isterinya pamitan hendak pergi kerja karena perusahaan tempat kerjanya amat sibuk sehingga harus kerja lembur. Tidak biasanya isterinya dipanggil perusahaan untuk kerja pada hari Sabtu.

“Aku cuma libur hari Minggu. Sabtu harus kerja karena perusahaan sibuk,” begitu kata isterinya ketika ditanya kok kerja pagi itu.

“Kok nggak bilang kemarin. Tahu gitu aku pergi mancing hari ini,” kata si suami.

Logikanya cukup sederhana. Perubahan terhadap sesuatu yang rutin, sebaiknya memang dikomunikasikan sedini mungkin. Sehingga memberi kesempatan pihak lain untuk menyesuaikan jadwalnya. Kadang logika yang nampak sederhana jika tidak dipahami dengan bijaksana, bisa menciptakan keadaan tak bisa diduga.

Si suami bisa saja punya pikiran bahwa isterinya punya pria idaman lain di perusahaan. Masuk kerja adalah alasan dibuat-buat. Tidak mungkin mengorbankan acara rutin bersama tiap hari Sabtu, selain untuk sesuatu yang lebih penting. Kalau tidak perusahaan, ya pria idaman lain (pil). Atau keduanya? Bos perusahaan itu jadi “pil” isterinya. Mungkin cuma kerja sejam di pabrik, 7 jam berikutnya di hotel bersama bosnya. Dan pulang pada waktu jam kerja sebagaimana biasanya.

Si suami akhirnya tanpa sadar punya pikiran akan melakukan hal sama suatu saat. Memancing sebuah pemikiran yang tak pernah terlintas di benak sebelumnya.

Good Intention Wrong Execution

Sebuah kesalahan harus dibetulkan. Itu logika sederhananya. Seseorang yang telah berbuat salah harus diingatkan dengan baik-baik agar tahu kesalahannya dan memperbaiki kesalahan itu agar lebih baik. Sebuah tujuan pelaksanaan logika yang amat baik. Tapi tujuan baik jika tidak dilaksanakan dengan baik belum tentu punya dampak baik pula.

Seorang tenaga finansial kontroler sebuah perusahaan menemukan kesalahan prosedur yang dilakukan oleh pegawai departemen lain. Perusahaan tidak mengalami kerugian karena kesalahan prosedur tersebut. Kesalahan melulu hanya pada prosedur yang tidak menaati kebijaksanaan teknis perusahaan.

Finansial kontroler tersebut menegur langsung pegawai departmen lain yang salah prosedur tersebut. Tujuan dari finansial kontroler itu bagus tapi pelaksanaan dari dari tujuan itu salah. Ia juga tidak melewati prosedur selayaknya. Seharusnya ia menyampaikan kesalahan pegawai itu pada pimpinannya. Kemudian pimpinan langsung dari pegawai tersebutlah yang akan menegur bawahannya. Jalur komando seharusnya mengikuti struktur organisasi.

Seorang ibu hendak memberikan sebuah hp baru yang lebih canggih pada anaknya. Hp yang dipunyai anaknya dianggap sudah ketinggalan jaman. Anaknya sudah lama pingin hp yang lebih baik. Pasti akan senang sekali menerima pemberian hp baru dari ibunya itu. Maka, begitu anaknya datang dari sekolah, ia berikan hp baru itu. Dan benar anak itu senang bukan main. Ia peluk ibunya sambil mengucapkan terimakasih.

Sepintas tidak ada yang salah dalam peristiwa itu. Tujuannya baik dan disambut dengan baik pula. Tapi alangkah bijaksananya jika si ibu tersebut menunggu kesempatan yang lebih baik untuk memberikan hp baru itu. Misalnya sehabis anak ujian dan mendapat nilai bagus. Atau sehabis anak membersihkan kamarnya dan sebagainya. Sehingga anak bisa belajar menghargai bahwa sesuatu yang bernilai tidak datang begitu saja tanpa usaha.

Jika pelaksanaan dari tujuan baik itu diterapkan dengan benar, si anak akan memperoleh manfaat lebih dari sekedar hp baru. Ada nilai lebihnya. Tujuan baik saja tidak cukup. Tujuan baik harus disertai pula dengan sebuah tanggung jawab.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa tidak setiap orang punya kemampuan berpikir logis sama. Logika yang nampak sederhana belum pasti diterima sama oleh semua orang. Kejadian dan fakta sama belum tentu dicerap sama maknanya oleh semua orang. Tergantung dari pengalaman hidup, pendidikan, budaya dan keluasan lapangan berpikirnya.

Jangan remehkan logika-logika sederhana di sekitar kita. Kejeniusan ada batasnya, sementara kebodohan tak terbatas lantai dasarnya. Orang bisa melakukan tindakan sebodoh-bodohnya orang bodoh dan merugikan orang-orang di sekitarnya melebihi dari yang bisa dibayangkan. Hanya karena sesuatu yang dipikir secara logika nampak sepele.

Manusia memang mahluk yang super kompleks. Kadang bisa melakukan suatu tindakan yang tak bisa diduga lewat nalar.*** (HBS)