herrybsancoko

Kumpulan tulisan


2 Comments

Hal Sederhana Malah Amat Bernilai

kemangi di luar negeri, hidup di luar negeri, kangen tanah air, kampung

Pohon kemangi untuk konsumsi

WAKTU pulang kampung tahun kemarin, aku sempat andhok di warung kecil pinggir jalan di depan pabrik gula Kanigoro. Setiap pulang kampung selalu aku sempatkan untuk sepeda montoran keliling desa. Cuci mata dan menikmati keadaan. Mencoba mereka-reka untuk hidup ala kadarnya, apa adanya, sederhana dan tidak menggantungkan diri pada arus deras budaya masa.

Aku pesen wedang kopi pada ibu penjaga warung. Perempuan sederhana yang siang itu ditemani oleh anak gadisnya yang masih duduk di SD. Anak gadis SD itu tersipu malu ketika kupuji, betapa baiknya ia telah membantu ibunya menjaga warung.

“Lha nggih mas.. teng griyo kalih mbahe nggih tukaran mawon kalih adine,” kata ibu penjaga warung itu tanpa aku tanyai.

Ibu itu segera memasak air. Sambil nunggu, aku bukai satu-satu penutup makanan. Aku ambil pisang goreng yang sudah dingin. Satu kunyahan sudah habis kutelan utuh-utuh. Lalu aku ambil tahu susur dan beberapa biji lombok. Segera aku sumpalkan ke mulutku. Dari samping bibirku, aku telusupkan biji lombok itu. Mak klethus, kugigit ujung lombok dengan gigi samping. Kucampur dengan tahu dalam kunyahan. Terasa segar sekali. Sempat mikir, kenapa hidup dibikin begitu susah jika begini saja sudah terasa nikmat? Nyapo lho aku ki kok adoh-adoh nggolek pangan neng luar negeri barang?

Beberapa menit kemudian, kopi itu terhidang. Di gelas kecil. Ada tumpahan kopi di pinggir gelas. Butir-butir kopi itu masih menempel. Belum kering benar. Dalam aroma kopi tercium bau jagung bakar.

“Suwun buk,” kataku menerima kopi itu. Beberapa airnya tumpah ke lepek.

Aku bawa kopi itu keluar warung, kuletakan di atas lincak di depan warung. Aku duduk hati-hati karena lincak yang bergoyang, menyampingi kopi sambil menikmati lalu lalang orang naik sepeda motor. Beberapa membawa kranjang di samping motornya berisi rumput dan hasil kebun lainnya. Entah sudah berapa tahun umur sepeda motor itu. Tinggal yang pokok-pokok saja kelihatan. Roda, mesin dan sadel. Selebihnya tidak ada.

Nafasku sempat berhenti sekejab ketika kulihat tumbuhan perdu di depan warung. Di selokan kecil depan warung itu tumbuh dengan suburnya pohon kemangi. Ya, pohon kemangi! Daun kemangi yang nampak hijau itu menekan dadaku. Daun pohon yang tumbuh liar itu sempat membuatku sedih, iri, jengkel dan perasaan lain. Campur aduk. Betapa tidak adilnya dunia ini.

Kemangi di Kebunku

Aku mengingat kembali pohon kemangiku di Ostralia yang aku tinggal untuk liburan. Begitu susahnya mendapatkan pohon kemangi itu. Setiap tahun di musim semi dan panas aku selalu was-was karena pohon kemangi itu. Kuatir biji-biji yang aku semai dari panenan tahun lalu tidak bersemi. Sudah berkali-kali aku gagal menyemaikan.

Pernah hampir setahun aku tidak makan daun kemangi dan puluhan tahun hidup di Ostralia tanpa bisa melihat tanaman kemangi. Rindu pingin makan daun kemangi kadang nggak ketulungan. Toko-toko penjual tanaman kebun sudah aku telusuri dan tidak menemukan pohon itu.

Di bagian biji-bijian juga tak pernah aku lihat biji pohon kemangi. Rupa dan bentuk daun dalam pembungkus biji-bijian seperti pohon kemangi, tapi ketika aku tanam dan kemudian tumbuh subur ternyata jauh dari bau daun kemangi. Ada satu biji yang mendekati bau daun kemangi yakni, lemon balm. Hampir sama tapi masih kalah baunya dibanding daun kemangi. Baunya lebih menyengat, demikian juga rasanya. Tapi sudah lumayanlah untuk mengurangi rasa kangen.

Lima tahun lalu secara tidak sengaja aku menemukan pohon kemangi itu. Di pasar orang Vietnam. Entah dari mana mereka bisa mendapatkan pohon kemangi itu. Sebatang pohon kemangi dalam pot itu dijualnya seharga $15.00. Harga yang tidak murah.

Membawa benih ke Australia adalah perbuatan melanggar hukum. Bisa kena denda. Hal yang paling dikuatirkan adalah bila biji itu membawa hama. Australia yang letak benuanya lumayan terisolasi amat dilindungi habitatnya. Bila hama masuk Ostralia, tamatlah kehidupan tanaman yang diserang. Ostralia tanahnya tidak sesubur Indonesia. Hanya 0.5% persen saja tanah di Ostralia yang mendapat irigasi secara tetap. Bayangkan jika yang 0.5% persen itu tanamannya terserang hama dari luar negeri yang tidak ada musuh alaminya.

Aku cium berkali-kali daun pohon dalam pot itu untuk meyakinkan bahwa ini pohon kemangi. Ketika yakin, aku langsung beli satu. Mau beli dua, tapi ragu. Ia kalau bisa tumbuh, kalau mati bisa jadi pemborosan. Kupikir aku beli satu saja, toh kalau bisa tumbuh subur bisa berbunga dan beranak pinak?

Pohon kemangi itu tumbuh subur dan berbunga. Senang sekali melihatnya. Cuaca Ostralia yang ekstrim kadang membuatku kuatir. Karena suhu udara kadang tiba-tiba bisa demikian panas mencapai 39 derajat di musim panas.

Aku petik beberapa daunnya untuk lalapan. Segar sekali rasanya. Apalagi kalau dibikinkan pecel dan bothok. Terasa lagi berada di surga. Sebuah pengalaman langka. Makan daun kemangi dari kebun sendiri di Ostralia!

Kekuatiranku bahwa tanaman itu tidak akan berumur panjang menjadi kenyataan. Mimpi buruk itu secara pelan dan pasti bergerak di depan mataku tanpa bisa berbuat banyak. Pohon kemangi itu secara pelan daunnya menguning dan batangnya mengering. Aku selamatkan bunga-bunga keringnya sambil berharap bisa aku semai nanti di musim semi berikutnya. Aku potong beberapa tangkainya dan aku tancapkan dalam pot semai. Pangkalnya aku kasih hormon penumbuh biar akar bisa tumbuh subur. Aku pindah tanaman itu di dalam ruang.

Tapi usahaku itu ternyata sia-sia belaka. Semua tanaman kemangi itu mati tanpa menyisakan anak turunnya. Punah sudah harapanku. Ditinggal selamanya oleh pohon kemangi yang cuma sebatang kara itu. Lalu ketika musim dingin tiba, ingatanku tentang pohon kemangi itu pupus. Tidak ada gunanya meratapi yang sudah tidak ada.

Bunga kering yang sempat aku selamatkan aku simpan rapi di gudang. Aku masukkan tempat yang aman biar nggak kemakan rengat atau tikus. Siapa tahu bisa aku semai dan mendapatkan kembali kemangi baru tahun depan nanti.

Pada musim semi tahun berikutnya dengan semangat aku beli media tanah khusus penyemai. Aku taruh dalam pot agar mudah aku pindah-pindah bila kepanasan. Lalu aku taburkan bunga kemangi hasil panenan tahun lalu. Aku siangi dengan rajin agar tanahnya selalu lembab. Aku tunggu dengan sabar satu minggu, dua minggu dan akhirnya sampai sebulan. Biji-biji kemangi itu tidak nampak batang hidungnya. Tidak ada yang tumbuh satu pun! Yang tumbuh subur malah tanaman lain sejenis rumput yang oleh orang Ostralia rajin banget dicabuti karena dianggap hama (weed).

hama tanaman, kemangi, berkebun di rumah, tanaman sayur

Kemangi untuk pembibitan digantung biar aman dari hama. Paling depan, kemangi Thailand.

Survival

Harapan yang tinggal secuil itu kini benar-benar musnah. Ya, sudah, hiburku. Nggak makan daun kemangi nggak patheken. Ora bakal mati. Aku buang tanah penyemai itu di tanah dekat tanaman lainnya di kebun. Bersama itu pula aku campakkan harapanku.

Lalu tiga bulan berikutnya, ketika musim semi beralih ke musim panas, ketika harapan itu menguap tak tahu kemana jluntrungnya, tiba-tiba di dekat pagar, di antara bebatuan aku lihat tanaman itu. Seperti tumbuh dengan kesepian di sela batu-batuan. Benarkah itu pohon kemangi? Aku bergegas berjongkok menghampiri dan memetik daun kecilnya. Aku remas-remas daun kecil itu dan aku ciumi. Bau aku kenal itu segara menyeruak mengisi rongga hidungku. Benar! Ini pohon kemangi. Bagaimana bisa tumbuh di sini? Bagaimana mungkin ia bisa hidup sementara semuanya menemui ajalnya?

Penemuan ini bagai berita gembira telah menemukan harta karun. Aku kabarkan pada seluruh keluarga. Mereka bergegas mendatangi dan melihat sendiri pohon kemangi itu. Merona wajah mereka ketika dengan hidungnya sendiri mencium daun pohon itu dan yakin itu pohon kemangi.

Aku pun cerita panjang lebar. Pohon kemangi itu pertamanya kupikir sejenis rumput. Hampir saja aku semprot dengan cairan pembasmi rumput. Untung aku sempat melihat perbedaannya. Terkena sedikit saja cairan pembasmi rumput itu, tamatlah riwayatnya.

“Kok untungnya kau sempat melihatnya. Wah…wah… untung sekali,” kata keluargaku.

“Cepat dipindah ke tempat yang aman. Taruh dalam pot biar tumbuh subur,” lanjutnya seperti main perintah.

Aku pindah batu-batuan sekitar tanaman itu. Aku gali tanah sekitarnya dengan hati-hati agar tak memotong akarnya. Aku pindah ke pot yang aku sediakan. Dalam hati aku berjanji akan merawat tanaman ini dengan baik hingga beranak pinak. Tak akan terulang pengalaman tahun lalu.

Kejadian tahun lalu itu kini masih menggores di pikiranku. Tanaman kemangi satu-satunya yang bisa survive itu ternyata punya daya juang hidup yang luar biasa gigih. Ia berkembang dengan subur dan berbunga luar biasa banyak. Begitu ada sebagian bunganya yang kering segera aku semaikan di tempat lain. Senang sekali ketika mendapati ada lebah yang berdua atau bertiga menggauli bunga-bunga kecilnya. Aku diamkan. Aku beri waktu untuk menikmati madunya. Biar benang sari itu jadi biji. Diam-diam aku ucapkan terimakasih pada lebah-lebah kecil itu. Lebah kok nggiantheng sekali, pujiku.

Kini aku punya cadangan biji lumayan banyak. Namun aku tak ingin mengulang pengalaman tahun-tahun lalu. Meski punya cadangan biji cukup banyak, aku tetap membiarkan beberapa pohon untuk bebas tumbuh, berkembang dan berbunga. Aku taruh dalam pot gantung agar aman dari bekicot dan ulat. Daunnya tidak aku ganggu. Aku bedakan mana tanaman yang bisa dipetik dan mana yang untuk pembibitan. Berjaga-jaga jangan sampai kehabisan benih. Karena pada musim dingin, pohon kemangi itu pasti jadi almarhum semua.

Beruntunglah kau, di sini ada orang yang memperhatikan kesejahteraanmu. Di tempat asalmu, kau bakal mengais-ngais makanan di dekat selokan. Tak ada yang peduli kau mati atau hidup ala kadarnya.*** (HBS)


Leave a comment

Jokowi Ternyata Diskriminatif dan Demokrasi Pilih Kasih

LELAKI mana yang tidak senang disambut dengan ramah oleh seorang gadis dan berwajah cantik lagi? Memang secara umum, gadis cantik lebih mendapat keuntungan karena penampilannya. Orang lebih punya sikap positif terhadap penampilan yang menawan atau apalagi cantik dan seksi. Seolah yang berwajah cantik itu yang pintar, tidak bersalah dan mendapat pandangan positif.

Sikap apriori tersebut nyatanya dipertahankan di banyak tempat tidak saja di Indonesia, tapi juga di negara maju. Bedanya di negara maju dilakukan secara terselubung karena hukum-hukum positif yang tegas. Jika tak hati-hati bisa terjerembab dalam jaring-jaring hukum dengan konsekwensi cukup berat. Sementara di Indonesia sikap diskriminatif tersebut dilakukan secara terang-terangan, terbuka bahkan lewat media massa.

kita semua tahu bahwa cewek cantik cenderung lebih dipermudah dalam perjalanan kariernya. Lebih dipercaya menduduki posisi empuk. Namun, jika dihubungkan dengan alam profesionalisme, sebenarnya bentuk dan rupa wajah tidak ada hubungannya.

Di Australia pernyataan yang menyinggung bentuk tubuh, rupa, dan ciri-ciri fisik lain dan dihubungkan dengan pekerjaan dianggap melawan hukum. Mendiskriminasi orang lain. Tidak melihat manusia sebagaimana manusia seutuhnya berdasar kemampuannya. Melihat manusia hanya berdasar selera pribadi yang dangkal.

Di Indonesia sering sekali kita baca iklan lowongan kerja dengan menyebutkan persyaratannya secara jelas melakukan tindak diskriminasi. Misalnya umur, jenis kelamin, penampilan, status perkawinan dan lain-lainnya. Jika ditengok dari segi profesionalisme, apa hubungan persyaratan tersebut dengan kemampuan orang? Tidak ada.

Sangat mengherankan, pada saat kita mendengung-dengungkan alam keterbukaan, reformasi dan demokrasi sementara hal-hal yang jelas-jelas menyatakan sikap diskriminatif tersebut dengan leluasa ada di depan mata tanpa ada pihak yang memprotesnya.

Bahkan tidak tanggung-tanggung sikap diskriminatif tersebut secara terbuka dilakukan oleh orang yang kini punya ranking tertinggi elektabilitasnya sebagai calon presiden RI, Jokowi.

Gubernur DKI Jakarta tersebut meminta petugas di garda depan kelurahan dipasang pegawai berwajah cantik dan ramah untuk menyapa tamu (sumber). Apa hubungannya wajah cantik dengan sikap ramah? Memangnya yang punya wajah tidak begitu cantik tidak bisa ramah? Mungkin definisi “ramah” yang diutarakan Jokowi beda dengan definisi ramah yang ada dalam kepala penulis.

Sungguh ironis juga, Jokowi yang ditiupkan membawa perubahan dalam alam reformasi birokrasi dan demokrasi justru mengisyaratkan sikap diskriminatif seperti itu. Jokowi memang tak bisa disalahkan, karena memang demikianlah pandangan umum masyarakat kita. Tapi kalau sikap diskriminatif tersebut tidak segera disadari, demokrasi akan bisa menjadi sekedar buah bibir yang enak diucapkan. Tidak mungkin ada demokrasi jika sikap diskriminatif tetap dipertahankan, sekecil apapun ukuran dan bentuknya. Karena melawan dasar dan nyawa dari demokrasi itu sendiri.

Nampaknya sikap Jokowi tersebut secara latah diikuti oleh Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil dalam merekrut Satpol PP di wilayah kerjanya.

Wajah garang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung bakal berubah tahun ini. Pasalnya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil telah meminta kepada Kepala Satpol PP Kota Bandung untuk merekrut gadis cantik sebagai anggota, demikian ditulis di Kompas.com (sumber).

Contoh berikutnya sikap diskriminatif cukup halus juga dilontarkan oleh kompasiana sendiri. Dalam lomba menulis cerpen dalam rangka hari Valentine, persyaratan yang dicantumkan terkesan aneh. Panitia menyaratkan agar cerpen ditulis secara kolaborasi (Lihat di sini). Apa hubungannya sebuah cerpen dengan kolaborasi? Bahkan kolaborasi tersebut harus dilakukan oleh pasangan lawan jenis, tidak sesama jenis. Sebuah persyaratan yang mendiskriminasi orientasi seksual seseorang. Apa hubungan antara sebuah cerpen dengan orientasi seksual penulisnya?

13921781101893428599

Syarat lomba nulis cerpen yang terkesan diskriminatif. Sumber screenshot kompasiana http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/02/07/valentinsiana-event-fiksi-valentine-di-kompasiana-630125.html

Mungkin bagi masyarakat Indonesia, hal-hal tersebut di atas belum menjadi permasalahan mendasar. Mungkin banyak dari kita belum merasakan tindakan tersebut di atas sebagai hal yang melawan sikap demokrasi karena diskriminatif.

Tapi siapa tahu bahwa ada orang-orang yang merasa dirugikan dengan persyaratan yang diskriminatif tersebut tapi tidak berani menyatakannya? Kadang orang-orang yang mengalami sikap dan sistem diskriminatif tidak menyadari bahwa dirinya telah dirugikan karena tingkat kesadaran tentang hukum dan haknya yang belum memadai. Atau sikap diskriminatif tersebut masih kita anggap sebagai obyek guyonan? Bagaimana mungkin kita bisa mencapai alam demokrasi sebenarnya bila sikap diskriminatif dipelihara? Demokrasi kok pilih kasih? Apa ada?*** (HBS)


Leave a comment

Gratisnya Pendidikan di Australia Belum Tentu Orang Mau Kuliah

1392159770743810882

Sumber: The Australian, May 15, 2013

KETIKA penulis tiba di Australia dekade tahun 1980an, untuk memperoleh pendidikan begitu mudah. Bagi pemegang visa permanent resident untuk kuliah di TAFE (akademi berbagai macam ketrampilan) tidak perlu beaya alias gratis. Demikian juga untuk kuliah di universivitas negeri. Bagi mahasiswa full time, pemerintah memberi tunjangan. Dulu namanya Austudy. Besarnya hampir sama dengan tunjangan pengangguran. Tergantung kondisi orangnya. Besar tunjangan belajar itu amat ngepres untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sambil belajar. Tidak bisa dipakai untuk hidup kepenak. Semua harus diirit.

Menempuh pendidikan amat menggiurkan sebenarnya. Ada beberapa teman yang mengambil kursus berbagai ketrampilan dan hidup seadanya dengan Austudy. Mereka bisa bertahan hidup mepet dan seadanya. Penampilan mereka hampir sama dengan penampilan mahasiswa lain yang mengandalkan hidup dari tunjangan belajar. Bajunya kisut, tak terawat dan seperti kurang gizi.

Pembayaran tunjangan belajar itu dibayarkan langsung lewat rekening tiap dua minggu sekali. Saya lupa besarnya berapa waktu itu. Yang jelas tidak bisa dibuat untuk hidup “nyaman”. Kalau nggak hati-hati, uang bisa habis sebelum dua minggu.

Memilih jadi pengangguran terasa lebih enak daripada kuliah. Tunjangan pengangguran sedikit lebih besar daripada tunjangan belajar. Para pengangguran diwajibkan mengisi formulir yang menyebutkan beberapa tempat yang pernah dicoba memasukkan lamaran pekerjaan. Kemudian ngantri di dinas sosial untuk menyerahkan formulir itu. Setelah itu tinggal nunggu transfer uang masuk rekening. Tidak begitu stress dibanding dengan kuliah yang penuh dengan tugas-tugas atau jadwal ujian. Jadi pengangguran memang bisa bikin stress, tapi jadi mahasiswa lebih stress lagi.

Kalau Austudy tidak perlu lapor dua mingguan itu. Cukup menyerahkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan menempuh pendidikan secara full time (diatas 20 jam seminggu). Uang tunjangan belajar akan masuk rekening tiap dua minggu secara rutin. Penulis waktu itu tidak menggantungkan siapapun. Meski ada keluarga di Sydney, penulis hidup mandiri dan tak ingin menyusahkan orangtua dan saudara. Sebab mereka pun kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Sudah menjadi budaya di Australia bahwa anak yang sudah berumur 18 tahun ke atas dianggap bisa hidup mandiri.

Karena keadaan hidup yang mepet kalau mengandalkan cuma dari tunjangan belajar, banyak orang tidak tahan. Lebih baik bekerja daripada kuliah. Uang tunjangan belajar hanya cukup untuk transportasi dan makan seadanya. Untuk beli buku baru jelas amat susah. Beli buku harus bekas. Inipun harus ngirit dulu. Fotokopi tidak diijinkan. Ada pembatasan berapa lembar sebuah buku bisa difoto kopi. Ada peringatan tentang pelanggaran hak cipta jika menfotokopi sebuah buku.

Biasanya orang lebih suka belajar part time dan kerja part time juga. Bila mau hidup lebih keras lagi, belajar fulltime dan kerja part time. Sehingga praktis hampir tidak punya waktu untuk istirahat menikmati hari akhir pekan. Untuk belajar pun terasa susah bila diselingi dengan bekerja karena fisik dan pikiran terasa capek. Biasanya mahasiswa minta untuk tidak dijadwal kerja menjelang minggu-minggu menghadapi ujian.

Setiap pelajar dan mahasiswa full time mendapat kartu diskon untuk transportasi. Juga untuk tiket nonton film atau makan di kantin kampus. Hal ini cukup meringankan. Terutama ongkos transportasi. Kalau nonton film atau makan di kantin kampus tidak setiap hari dilakukan demi pengiritan. Semurah-murahnya harga, masih juga terasa mahal.

Masih ingat sekali, jika ingin nonton film harus hari Selasa. Karena pada hari itulah tiket masuk gedung film bisa amat murah. Bisa turun hampir 60% dari harga hari biasa.

Karena tempat kuliah ada di kota Sydney, sementara penulis tinggal di sebuah suburb di Sydney bagian barat yang perlu sekitar 20 menit naik kereta, maka jika ada kuliah yang waktunya cuma selang beberapa jam, lebih baik menunggu di perpustakaan atau keluyuran jalan-jalan atau duduk-duduk di taman kota. Perpustakaan universitas koleksi bukunya ribuan. Seharian di perpustakaan juga betah. Atau mengunjungi toko buku-toko buku second hand yang banyak terdapat di sekitar kota Sydney. Biasanya mahasiswa menjual buku yang sudah tidak dipakainya di tempat semacam ini. Kalau beruntung bisa mendapatkan buku texbook yang lumayan masih baru dengan harga relatif murah.

Jika musim dingin, perut gampang sekali lapar. Beli kopi atau sop hangat lewat mesin di kampus yang harganya murah. Rasa sopnya tidak terlalu jelek, tapi kopinya memang kurang mantap. Kalau kepepet dan lapar pergi ke McDonald beli kentang goreng atau cheese burger yang harganya paling murah. Hampir tiap hari makan cheese burger. Kadang beli sandwich di restoran take away orang Vietnam yang ukuran rotinya lebih besar dan murah biar kenyang. Tapi namanya perutnya orang Indonesia, kalau belum makan nasi belum kenyang.

Penulis biasaya membawa bekal sendiri dari rumah. Sandwich bikinan sendiri dan beberapa buah. Botol minuman tidak lupa. Pada saat makan siang, sandwich dibuka. Buahnya untuk nanti menjelang sore karena pasti lapar lagi.

Ingat Saat Indekost

Untuk ngirit bea sewa akomodasi, penulis tinggal di sebuah rumah dan bayar sewa bareng-bareng. Kamar mandi dipakai bergiliran. Tidak setiap rumah sewa kala itu punya fasilitas mesin cuci. Kalau ada waktu, mencuci secara manual. Kalau nggak ada waktu, pergi ke tempat pencucian laundry yang dioperasikan pakai uang koin. Biasanya langsung dikeringkan juga dengan mesin pengering. Penulis tidak pernah menyeterika baju. Cukup dilipat yang rapi begitu dikeringkan sehingga kisutnya tidak begitu parah.

Dalam hal tertentu rasanya persis saat tinggal di kost ketika kuliah di Yogyakarta dulu. Harus pandai-pandai mengatur uang dan menekan keinginan. Kalau dulu makan indomie sudah menjadi kebiasaan, saat di Sydney penulis beli makanan kaleng. Makanan kaleng jenis biji-bijian/kacang-kacangan (baked bean) hampir jadi makanan pokok. Lauknya sering beli sosis terus digoreng sendiri. Kadang masak nasi kalau kepingin sekali. Harga beras cukup mahal juga bagi penulis. Dan lagi makan nasi harus perlu masak sayuran dan lauk pauknya. Terasa tidak praktis dan perlu waktu. Lebih enak makanan kaleng tinggal manasi dan siap hidang.

Namun bagaimanapun lebih enak kost di Yogyakarta dulu. Warung murah bertebaran di sepanjang pinggir jalan. Nasi, sayur dan lauk tersedia tinggal pilih. Di Sydney jarang restoran jualan nasi. Kalau ada nasi, cara masaknya beda sekali jika restoran tersebut bukan restoran Asia. Bisa bikin kembung perut. Nasinya seperti masih mentah.

Senangnya jika di akhir dua minggu uang tunjangan masih tersisa beberapa puluh dolar. Bisa menabung serba sedikit untuk keperluan mendadak atau buat beli buku baru nanti. Biasanya di pertengahan tahun di akhir semester banyak uang logam tak terpakai. Uang logam tak terasa bisa terkumpul banyak di dalam kaleng. Koin yang cukup berat itu bisa di bawa ke bank untuk dihitung dengan mesin penghitung uang logam dan disetorkan ke rekening. Lumayan untuk tambahan beli sop di kantin atau bea fotokopi.

Tunjangan belajar yang mepet itu memaksa mahasiswa untuk hidup super ngirit. Beaya paling mahal adalah sewa kamar. Karena mahal, maka tak heran jika mahasiswa menyewa flat bareng-bareng dan satu kamar diisi paling tidak dua orang. Jadi bisa ngirit banyak. Yang enak jika punya pacar. Bisa hidup sekamar, sambil ngirit bisa belajar hidup dan mengenal pribadi masing-masing.

Dalam menyewa tidak ada diskriminasi jenis kelamin. Tidak ada harus laki semua atau perempuan semua. Satu kamar bisa saja dihuni oleh dua orang berlainan jenis tanpa ada hubungan cinta. Tapi jarang yang mau nekad dengan hidup begitu, terutama dari masyarakat yang budayanya lebih individualistik di mana kebutuhan privacynya lebih tinggi.

Sistem Ngutang

Saat ini untuk belajar di universitas sudah tidak gratis lagi tapi lewat pembayaran tertunda. Kini mahasiswa bisa hutang dulu pada pemerintah untuk beaya kuliahnya dan mengembalikan lewat pajak penghasilan dengan mencicil setelah bekerja dan mendapat penghasilan dengan jumlah disyarakatkan.

Dulu pemegang permanent resident boleh ikut ambil hutang ini, tapi saat ini dibatasi hanya bagi warga negara Australia. Pendidikan makin mahal ini ternyata tidak menghalangi orang untuk menuntut ilmu perguruan tinggi. Prosentase kelulusan perguruan tinggi diperkirakan mungkin akan mengalami penurunan dengan adanya sistem ini. Tapi belum diketahui prosentase dan dampaknya.

Menurut penelitian, kelulusan perguruan tinggi di Australia selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 1980 prosentase lulus perguruan tinggi sebesar 6% dan tahun 1995 sebesar 21% (sumber).

Menurut statistik tahun 2010, di Australia terdapat sejumlah 5,5 juta lulusan SMA berumur 20-64 year-64 tahun, sebesar 59% punya ijasah sarjana muda ke atas. Sebanyak 23% lulus akademi (D3) dan 18% lulus kejuruan setingkat D2 dan D1 (sumber). Tingkat kelulusan perguruan tinggi dengan prosentase tinggi tersebut bisa diperdebatkan. Karena banyak imigran yang datang pada tahun-tahun 2000an sudah punya ijasah perguruan tinggi dari negaranya (sumber).

Berdasar pengamatan langsung selama kuliah, sebagian besar mahasiswa berlatar belakang imigran. Sepertinya para imigran memandang pendidikan tinggi masih penting sesuai budayanya. Lapangan kerja di Australia yang dulunya mengandalkan pengalaman kerja kini sudah mulai berkecenderungan menilai ijasah akademiknya.

Imigran tidak takut hutang banyak asal demi pendidikan. Mungkin bagi para imigran, hidup sengsara itu biasa demi meraih pendidikan. Sebagaimana budaya kita, warisan ilmu atau pendidikan jauh lebih berharga daripada warisan harta. Makan indomie setiap hari tak apa, asal bisa lulus sarjana meski badannya kurus kering saat diwisuda.*** (HBS)


Leave a comment

Rasa Hormat pada Pengadilan di Australia

SANGAT mengherankan melihat jalannya persidangan di Indonesia. Tidak tertangkap kesan keseriusan dalam persidangan. Tidak tertangkap adanya keheningan. Tidak tertangkap adanya rasa khusuk untuk mendengarkan. Seperti melihat keramaian orang menikahkan anaknya saja.

Begitu kira-kira pandangan penulis ketika melihat jalannya persidangan lewat berita TV dan youtube. Paling tidak, begitulah jika penulis bandingkan dengan pengalaman penulis saat mengikuti persidangan di Sydney.

Belum lagi adanya para wartawan yang berada di dalam ruangan sidang. Berjubel saling berebut mencari posisi strategis untuk ambil gambar.

Begitu palu diputuskan, saat pesakitan itu digelendeng masuk kembali ke tahanan, para wartawan bisa melontar pertanyaan dan bikin foto. Malah pesakitan kesulitan mencari jalannya.

Beda sekali ketika penulis melihat jalannya persidangan di Australia. Begitu masuk halaman pengadilan, orang dilarang memotret. Penulis pernah mengambil foto gedung bangunan dari halaman masuk bagian belakang – dimana pesakitan diturunkan dari mobil tahanan. Langsung saja polisi bergegas mendatangi dan mengusir penulis untuk keluar dari halaman. Sempat kepikiran polisi itu akan menggampar penulis atau merampas kamera. Padahal jaraknya cukup jauh. Benar-benar ketat aturannya.

Sebelum masuk ruangan pengadilan, petugas keamanan akan mencegat dan menggeledah. Dilarang membawa tas, mobile phone apalagi kamera. Begitu masuk ruangan, orang harus membungkukkan tubuhnya. Sebagai tanda menghormati ruang sidang.

Sidang berjalan khusuk. Tidak ada suara berisik sekalipun. Semua mendengarkan. Pesakitan didudukkan dalam kursi terpisah. Di sebelah kursi pesakitan ada tangga menuju ruangan di bawah, dari mana pesakitan itu ditransfer dari penjara.

Di koran-koran Australia tidak pernah penulis dapati foto pesakitan di pengadilan. Karena orang memang dilarang memotret di dalam ruangan pengadilan. Kalau menggambar diperbolehkan. Maka wajah para pesakitan di ruangan sidang biasanya di-skets oleh artis ahli gambar. Hak praduga tak bersalah atau “Innocent until Proven Guilty” benar-benar berusaha dihormati.

Rasa hormat pada hukum mungkin terefleksi dari ruangan pengadilan itu sendiri. Ruang pengadilan di Australia menurut penulis seperti masuk ruangan sakral. Atau mengingatkan ruang latihan karate waktu dulu – ketika setiap orang harus menghormat ketika masuk ruang latihan. Ruang pengadilan memang sepantasnya dihormati. Karena disitulah keadilan masyarakat diputuskan. Tidak untuk jak-jakan, bahasa Jawanya. Tidak untuk main-main tanpa aturan.

Bila ruang pengadilan tidak dihormati, bagaimana bisa disimpulkan bahwa orang menaruh rasa hormat pada sistem hukumnya? Apakah pengadilan dilakukan berdasar bukti-bukti pendukung sebenarnya atau hanya rekayasa? Apakah pengadilan telah memutuskan sesuatu secara benar-benar adil? Itu barangkali sebagian pertanyaan dari deretan pertanyaan lainnya.

Barangkali begitulah gambaran orang Autralia ketika melihat sistem hukum di Indonesia. Persidangan di Bali yang disorot besar-besaran lewat media Australia adalah kasus bom Bali (lihat youtube) dan kasus Corby (lihat contoh di sini). Persidangan berjalan begitu gaduh. Suara hakim hampir tenggelam di antara suara-suara orang yang hadir. Seolah persidangan tidak diperlukan. Dakwaan sudah bisa diputuskan sebelum disidangkan.

Mungkin tulisan ini terlalu gampangan mengambil kesimpulan. Mungkin saja pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Australia membela warga negaranya karena rasa kemanusiaan benar adanya. Terlepas apakah warga negaranya itu terbukti melakukan tindak pidana atau tidak. Sikap bangsa Australia memang tidak akan meninggalkan “mate”-nya yang lagi kesusahan. Karena bisa dianggap tidak mencerminkan sikapnya sebagai orang Australia. Kesetiakawanan atau mateship bagi orang Australia memang amat dijunjung tinggi.*** (HBS)


Leave a comment

Jokowi Ahok Saatnya Mendirikan Partai Liberal ala Indonesia

13912978191541188416

Sumber foto: situs resmi Partai Demokrat

DI AMERIKA dan di Australia ada partai politik Demokrat dan Liberal. Partai Liberal di Australia merupakan partai maistream bersaing dengan saingan utamanya Partai Buruh. Kedua partai inilah yang dominan di Australia. Di Australia ada sekitar 77 partai politik yang terdiri dari 54 partai politik gurem dan 23 partai politik utama (Sumber).

Partai Buruh di Australia, sebagaimana namanya, mereka lebih memihak pada kaum buruh atau rakyat pekerja. Partai Liberal kesannya lebih memihak pada perhitungan ekonomi rasionil. Kadang bersikap lebih memihak pada kaum pemilik modal jika menurut mereka pertumbuhan ekonomi rasional menguntungkan. Nasib kaum buruh bisa nomer dua.

Di Amerika ada 60 partai politik dengan lima partai dominan yakni Constitution, Libertarian, Democratic (Obama), Republican Party, Green Party. Di Inggris partai liberal merupakan partai ketiga terbesar. Partai politik dominan di Inggris ada Conservatives, Liberal Democrats, Labour dan Green Party.

Berapapun jumlah partai dan di manapun partai politik negara pada akhirnya cenderung terpilah menjadi dua kubu partai politik dominan. Di Amerika dua partai dominan itu dari kubu partai politik Demokrat dan satunya Republik. Partai politik Demokrat mewakili golongan masyarakat dengan aspirasi liberalis dan partai Republik mewakili golongan masyarakat yang lebih konservatif. Kalau diperas lebih lagi pada intinya merupakan kubu nasionalis dan agama.

Di Indonesia demikian juga keadaannya. Pada saat ini Indonesia punya 10 partai politik dominan dan 24 partai politik gurem. Namun secara garis besar bisa dipilah menjadi dua kubu partai politik dominan yakni partai politi yang menampung aspirasi nasionalis dan satunya yang menampung aspirasi agama. Meski kita dulu sempat juga mengenal kubu ketiga yakni komunis di bawah NASAKOM.

1391298297527171544

Partai politik di Australia.

Partai Demokrat yang menyatakan diri sebagai partai nasionalis religius ternyata dalam kiprahnya tidak begitu religius dan tidak juga nampak sebagai nasionalis. Dengan tersangkutnya pengurus inti partai Demokrat dalam korupsi barangkali bisa disimpulkan sebagai cermin kurangnya perjuangan nasionalis sebagaimana yang dicanangkan.

Bahkan dalam kasus tertentu presiden sebagai pemimpin partai Demokrat lebih mengistimewakan kehidupan partainya daripada kehidupan bernegara. Belum lagi sikap santun yang ditunjukkan oleh Indonesia menghadapi penghinaan-penghinaan dari negara lain. Sementara itu dalam kehidupan agama, partai Demokrat lebih membiarkan kekacauan atau teror-teror berdasar agama terjadi di berbagai tempat. Partai Demokrat yang duduk di pemerintahan ternyata kurang bersikap tegas dalam masalah kerusuhan agama.

Sikap partai Demokrat dalam urusan aspirasi agama ini nampaknya tidak jelas dan mendua. Di satu sisi membiarkan kehidupan agama sebebas-bebasnya hingga perlakuan tanpa sanksi tegas bagi pencipta kerusuhan berdasar agama tapi dalam satu sisi mencampuri agama serta mempolitisirnya untuk mempertahankan kekuasaan.

Suatu paling mencuat dalam pemeritahan partai Demokrat adalah terkuaknya kasus korupsi yang menimpa pengurus inti, kehidupan agama yang dipolitisir sehingga memberi kesempatan golongan agama bergaris keras untuk tumbuh. Kehidupan yang morat-marit dalam masalah politik dan ekonomi nampaknya partai Demokrat mempercayakan kekuatan moralitas agama dalam mereda gejolak sosial dan politik di bawah kekuasaannya.

Padahal pada awal-awal pembentukan partai Demokrat pasca reformasi, rakyat menaruh harapan begitu besar akan terjadinya perubahan. Partai Demokrat dibayangkan sebagai partai yang dipimpin oleh golongan para cendekiawan yang bisa memberi angin segar pada kehidupan perpolitikan di Indonesia. Partai Demokrat menyarankan akan keunikan partainya dibanding dengan partai-partai tradisi lama yang ada di Indonesia sebelumnya.

Partai politik pada dasarnya sama saja. Pada intinya adalah perjuangan memperoleh kekuasaan. Pelabelan nama hanya dipakai sebagai alat atau wadah pembedaan para pendukungnya. Partai Demokrat memenangkan pemilu dua kali berturut-turut mungkin disebabkan hanya karena partai tersebut menawarkan keunikan yang membedakan dengan partai tradisi lainnya. Namun dalam kinerjanya selama memerintah, ternyata tidak menawarkan keunikan sebagaimana yang dibayangkan. Angka korupsi tetap tinggi, kehidupan rakyat tidak juga meningkat kesejahteraannya secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi juga masih kalah dengan negara-negara di Asia lainnya.

1391297946549160856

Sumber foto: Situs resmi Liberal Party

Saatnya Dibentuk Partai Politik Alternatif

Rasanya tidak berlebihan jika rakyat Indonesia sudah bosan dengan partai-partai politik yang itu-itu juga orangnya dan juga dalam tingkah laku politiknya. Meski partainya beda namun pengurusnya orangnya itu-itu juga. Bahkan dalam lebel kehidupan pribadi para pentolan partai saling berbesan mengawinkan anak-anak mereka. Semua pentolan dari partai berbeda namun dari akar sama yakni dari partai Golkar di bawah Orde Baru.

Fenomena Jokowi Ahok saat ini membawa kehidupan segar dalam medan perpolitikan di Indonesia. Tidak berlebihan jika fenomena Jokowi Ahok membawa angin segar dengan menawarkan kehidupan politik yang lebih liberal dan modern. Terobosan-terobosan birokrasi dan politik telah dilakukan secara beragam dan terbukti didukung oleh kalangan luas.

Sikap Jokowi dalam menghadapi kritik dan serangan dari kaum agama dalam kasus lurah Susan mengindikasikan bahwa Jokowi bersikap liberal. Jokowi tidak memandang faktor agama sebagai penghambat orang untuk menduduki posisi sebagai pemimpin.

Demikian juga Ahok yang sering menentang isu-isu moralitas dari agama dalam pemutusan kebijakan. Bahkan omongannya yang ceplas-ceplos dianggap tidak punya ukuran kepatutan moral agama. Ahok dengan enteng saja menyebut orang yang korupsi dan penjual aset bangsa sebagai bajingan. Ahok bukannya tidak menghargai kitab suci agama, tapi ia pernah menegaskan bahwa kehidupan beragama tidak seharusnya dimasukkan dalam kehidupan politik. Masalah agama adalah urusan masing-masing individu terhadap tuhannya. Begitu masuk ranah sosial, maka yang berlaku adalah konstitusi negara.

Pemikiran-pemikiran fenomena Jokowi Ahok tersebut di atas hanya sekedar contoh bahwa fenomena itu secara tersirat menempatkan urusan negara terpilah dengan urusan keagamaan. Dan inilah ciri khas kehidupan budaya dan politik modern. Pemikiran model fenomena Jokowi Ahok pantas dan pas sekali dimasukkan dalam aspirasi pemikiran politik liberal.

Masyarakat yang mendukung pemisahan antara kehidupan bernegara dan beragama diperkirakan cukup banyak. Terutama dari kalangan masyarakat golongan kelas menengah ke atas. Golongan masyarakat yang punya latar belakang pendidikan tinggi dan kehidupan ekonomi cukup mapan.

13912980751208338162

Sumber foto: Situs resmi partai liberal Inggris

Jika partai yang mendukung Jokowi dan Ahok tidak bisa lagi dipakai sebagai kendaraan politik menuju kursi presiden, sudah saatnya Jokowi dan Ahok mempertimbangkan untuk membentuk partai sendiri. Dan partai yang secara potensial mampu mendukungnya adalah partai baru yang punya label sebagai partai liberal. Sebuah partai baru yang menunjukkan keunikan tersendiri dibanding partai-partai lainnya. Keunikan itu bukan saja wacana, tapi sudah terbukti di lapangan selama Jokwo dan Ahok berpasangan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Partai Liberal sebagai wadah aspirasi pemikiran fenomena Jokowi Ahok beda dengan partai liberal di negara sekuler yang menempatkan agama secara steril di ranah sosial. Partai liberal pimpinan Jokowi Ahok adalah partai liberal ala Indonesia. Jokowi dan Ahok masih menghargai kehidupan agama. Jokowi sudah naik haji dan Ahok sebagai pembela yang kokoh terhadap kitab suci yang diyakininya.

Partai liberal plus ketuhanan yang maha esa itulah partai baru pimpinan Jokowi Ahok. Partai yang tidak sungkan-sungkan menerima ide baru dalam keilmuan dan teknologi. Partai yang tidak ragu-ragu mengesampingkan dogma-dogma agama yang sempit, demi kemajuan, kerukunan dan kesejahteraan bersama dalam bernegara dan berbangsa. Rela mati demi konstitusi, demikian pernah dikatakan oleh Ahok.

Semua partai politik di Indonesia saat ini tidak ada yang tidak korupsi. Kehidupan politik dan pemerintahan Indonesia saat ini sudah amburadul. Pengurus negara sibuk dengan partainya masing-masing dan melupakan tugasnya sebagai wakil rakyat. Maka momentum mendirikan partai tandingan saatnya sudah tiba dan tidak bisa ditunda lagi. Kendaraan politik yang dipakai Jokowi dan Ahok tidak bisa lagi mengakomodasi aspirasi fenomena Jokowi Ahok.

Dukungan fenomena Jokowi Ahok saat ini sudah mencapai puncaknya. Survey-survey yang dilakukan mengindikasikan bahwa Jokowi punya angka elektabilitas tinggi yang tidak akan bisa ditandingi oleh calon-calon lainnya termasuk calon dari partainya sendiri. Bahkan ada arus kuat bahwa Jokowi akan didaulat oleh rakyat untuk jadi presiden jika partai kendaraan Jokowi tidak mencalonkannya.

Sebelum kehidupan menjadi lebih tidak demokratis karena kepopuleran fenomena Jokowi Ahok, maka pembentukan partai yang menyalurkan aspirasi pendukung Jokowi Ahok amat urgent untuk segera dibentuk. Dan partai itu adalah partai liberal ala Indonesia.*** (HBS)