herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Earth Hour compare to Nyepi in Bali is nothing

Only happen in Denpasar, Bali: cerfew for all for 24 hours. Bali is in complete stillness. No traffic at all on the street. No one wondering on the street. Bali has been deserted by it people. No boat, no plane, no business, no TV, no light visible from outside. Bali is in complete darkness. I experienced this once before and I will have it again today. Amazingly very unique experience.

 

 


Leave a comment

Pilihlah Aku, Jangan Lainnya

Dulu waktu masih duduk di bangku SD, pulang sekolah kami anak sekampung sering main kejar-kejaran di tanah lapang dekat kuburan desa. Jumpritan, nama permainan anak kecil di daerahku. Yang kalah harus mengejar yang menang hingga ketangkap dan memegang tubuhnya.

Yang kepegang ganti jadi pihak yang kalah dan mengejar lainnya. Biasanya akan dipilih siapa yang larinya paling pelan sehingga mudah kepegang. Permainan ini disenangi anak-anak. Bisa berlangsung berjam-jam. Peluh mereka bercucuran. Olahraga sambil bermain.

Setelah cukup lama akhirnya semua kelelahan. Lalu duduk ngobrol cerita macam-macam di atas rumput di pinggir lapangan. Kadang saling meledek satu sama lain.

“Larimu kayak mbah Marto. Nyirik-nyirik,” kata Purwoko meledek cara lari anak lain.

Mbah Marto adalah juru kunci kuburan desa yang galak. Sambil menggembala lima kambingnya, mbah Marto yang usianya 70an tahun itu membersihkan kuburan. Kadang anak-anak menaiki kambing mbah Marto. Melihat perbuatan anak-anak itu, mbah Marto akan marah dan mencoba mengusir mereka. Karena sudah lanjut, larinya tak bisa kencang. Kadang seperti menyeret kaki kirinya. Anak-anak senang menggodanya. Sambil menaiki kambingnya malah teriak manggil mbah Marto. Biar dikejar.

“Lha kamu lari kayak menthok. Ibal ibul,” kata Budi tak kalah sengit.

Kami semua tertawa tergelak mendengar olok-olok itu. Tak ada yang dimasukkan hati. Anak kecil kalau berkelakar kadang keterlaluan juga.

“Meski ibal-ibul kamu apa bisa megang aku,” tantang Purwoko.

“Mau taruhan gimana?” balas tantang si Budi.

“Yakin? Coba kalau kau bisa pegang aku,” tantang Purwoko lagi sambil berdiri ambil ancang-ancang. Si Budi pun berdiri dan ambil ancang-ancang.

“Siap… Prit…” kata Purwoko. Budi dengan cepat menangkap tangan si Purwoko.

“Itu bukan aku, tapi tanganku” kata Purwoko. Budi pun melepaskan tangan Purwoko. Lalu megang pundaknya.

“Itu bukan aku, tapi pundakku,” kata Purwoko lagi. Budi nampak kesal.

“Terus yang mana?”

“Ya, terserah. Pokoknya pegang aku kalau bisa,” jawab Purwoko. Budi pun berjalan ke belakang si Purwoko dan menyentuh kaki belakang Purwoko dengan kakinya.

“Itu bukan aku, tapi kakiku,” kata Purwoko.

Budi tiba-tiba dengan keras menyepak pantat Purwoko membuatnya sempoyongan dan meringis memegang pantatnya. Anak-anak tertawa tergelak.

“Aku nggak nendang kamu lho. Yang kutendang bokongmu,” gelak si Budi sambil juga tergelak.

Betapa gurauan anak-anak itu sebenarnya menyiratkan pertanyaan yang fundamental bagi manusia. Pencarian jadi diri tentang “aku” tak akan pernah selesai bagi manusia. Usaha menemukan “Aku” mungkin akan terus menggelutinya hingga mati. Mungkin tak akan pernah diketemukan.

Hanya manusialah yang mempertanyakan dirinya. Hanya mahluk yang bisa berkomtemplasi mencoba mencari dirinya sendiri. Kesadaran tentang “Aku” bagi manusia memberi pertanyaan dan jawaban-jawaban abstrak yang mungkin manusia itu sendiri yang tahu lewat kedalaman, penghayatan dan pengalaman psikologisnya.

Kesadaran tentang “Aku” bagi manusia dewasa tak sesederhana sebagaimana anak kecil dalam bermain jumpritan di atas. Kesederhanaan berpikir anak-anak dalam mempertanyakan “Aku” diselipkan dalam sebuah permainan dan diselingi gelak tawa.

Manusia dewasa dalam waktu-waktu tertentu dengan kesadarannya mempertanyakan “Aku”-nya dan bergelut dengan refleksi dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan menukik ke kedalaman hati dan pikiran pribadi masing-masing. Jawaban yang diperoleh tergantung dari kesadaran dalam menjalani hidupnya sendiri.

Cogito ergo sum, kata Descartes. Aku berpikir, maka aku ada. Pernyataan yang nampak senderhana ini seperti menggulung hidup dalam sebuah lipatan kecil. Sejauh mana lipatan itu bisa dibuka tergantung masing-masing orang. Ada yang bisa membuka cuma beberapa lipatan hingga banyak lipatan yang terjabar lebih luas.

Kepanjangan Aku

Ketika si Budi memegang tangan si Purwoko, apa yang dipegang adalah kepanjangan dari “Aku”. Bagian bentuk fisik bagian kecil dari “Aku”. Meski hanya sebagian kecil saja dari “Aku” kadang manusia menafsirkan dengan salah bahwa itulah cerminan “Aku”-nya.

Demikian juga pundak, bahu, dada, kepala, kaki, pantat dan seterusnya. Tubuh adalah bagian kecil saja yang secara materi bisa diraba dari keseluruhan “Aku” yang luas tak terbatas dunia metafisiknya.

Namun dalam peradaban yang lebih menitik-beratkan dunia materi ini, kepanjangan “Aku” bermetamofosa seolah menjadi “Aku” itu sendiri. Orang pun menghiasi tangannya agar “Aku”-nya nampak indah. Karena materi lebih bisa diukur harganya, maka makin mahal harga seolah “Aku” juga makin baik. Orang pun sibuk mendadani kepanjangan “Aku” dengan segala asesoris gemerlap. Makin gemerlap seolah makin berarti, makin eksis, makin dihargai, makin percaya diri, hidup makin terasa berarti.

Ketika tubuh tak lagi memuaskan penampilan “Aku” maka meluas ke benda materi lainnya. Seolah dengan dunia materi lainnya itu simbol dari kepanjangan “Aku” juga. Mobil mewah, rumah mentereng, tanah berhektar-hektar, isteri lebih dari satu, jabatan terhormat dan seterusnya. Kalau kurang dana, bisa korupsi.

Pilihlah “Aku” ketika kampanye pemilu tiba. Partai politik pun jadi kepanjangan “Aku”. Karena berhubungan dengan masalah ekspresi “Aku”, maka tak segan-segan menempuh segala cara termasuk dengan main bual, main tipu, main ancam, main sogok dan seterusnya asal “Aku” terpilih.

Ketika semua kepanjangan dari “Aku” itu dipreteli dan masuk penjara, lalu tiba-tiba disadari bahwa kini tidak punya aku lagi. Keterlupaan datang terlambat. Aku yang sebenarnya adalah ada di dalam dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di luar. Ia kini merasa kosong. Materi kepanjangan akunya begitu gampang dirampas orang.

Ketika dihempaskan dan dihadapkan pada aku sebenarnya, pemahaman tidak diperolehnya. Akhirnya tidak diperoleh keseimbangan diri. Maka kesadaran waktu, tempat dan ruang tidak bisa dicerapnya. Akibat berikutnya adalah gila dan kesadaran tentang akunya menguap entah ke mana. Manusia tanpa kesadaran atas waktu, ruang dan tempat sama saja sekelas dengan binatang. Tidak punya lagi roh. Tidak lagi punya kesadaran.*** (HBS)


5 Comments

Senangnya Terima Undangan Nyoblos dari PPLN Sydney

1395717885869515543

Surat undangan nyoblos.

Minggu lalu, aku terima surat dari PPLN (Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri) dari Konjen RI di Sydney. Senang sekali menerima surat undangan untuk nyoblos di pemilu 2014 ini. Coblosan masih bulan April nanti. Untuk warga negara di sekitar Sydney, coblosan akan dilakukan pada hari Sabtu, 5 April 2014 bertempat di TPS POS, Maroubra. Lebih awal beberapa hari dari coblosan di Tanah Air.

Selama tinggal di Sydney hampir 30 tahun, cuma dua kali saya menerima surat undangan pencoblosan ini. Tahun kemarin tidak menerima. Senang juga pada tahun ini Konjen RI melayangkan surat undangan itu. Selain senang menerima surat undangannya, ada juga perasaan senang bahwa ternyata Konjen RI masih memperhatikan warganya di luar negeri. Sebab dibanding konjen negara lain, hubungan komunikasi antar konjen dan warganya jauh lebih bagus. Bahkan ada yang tiap bulan menerima buletin gratis dari konjen mereka. Sebenarnya kalau mau, Konjen RI sebenarnya bisa berbuat sama. Tidak perlu mahal. Mengirimkan surat seperti undangan coblosan itu saja sudah membuat saya senang dan merasa diperhatikan.

Saya belum memutuskan apakah saya akan datang ke TPS dan nyoblos atau jadi golput lagi seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sudah beberapa hari ini saya mikir tentang pemilu. Semakin memikirkannya, makin ragu-ragu untuk ikutan milih.

Dalam hati sudah ada pemikiran untuk nyoblos karena adanya seorang kandidat yang amat potensial. Ia punya karakter. Jujur dan dekat dengan rakyat. Ia amat populer di kalangan rakyat kecil. Bahkan juga di kalangan media asing. Ia seolah memberi harapan baru tentang perubahan di Indonesia. Karakternya menggelitik sikap kegolputan saya.

Tapi masalahnya, saya tak bisa memilih dia. Apa yang saya pilih di pemilu adalah para caleg partainya dia. Ini yang membuat saya ragu untuk nyoblos. Saya merasa tak kenal dengan para caleg ini. Apalagi karakter mereka. Yang saya baca lewat media tentang para caleg kok banyak negatifnya daripada positifnya. Tingkat korupsi partai-partai yang ada masih tinggi. (sumber).

Kalau saya mencoblos para caleg itu, lalu apa manfaatnya? Sementara tujuan saya mencoblos adalah agar tokoh pilihan capres itu jadi presiden. Para caleg separtai itu cuma numpang populer saja. Tak saya ketahui ketahui mutunya. Kalau yang saya pilih caleg yang moralnya busuk, mereka akan malah menjadi duri dalam daging bagi presiden tokoh pilihan saya. Jangan-jangan nantinya presiden itu malah dimusuhi karena sikapnya yang anti korupsi. Malah bisa-bisa presiden itu di-recall? Jadinya pilihan saya malah menambah runyam keadaan. Saya jadi ikut merasa bersalah jika negaraku jadi tambah bobrok.

Pada saat masa kampanye sekarang, sudah saya dapati berita-berita yang tidak mengenakkan. Ada beberapa teman-teman di facebook yang merasa antipati dengan kegiatan kampanye. Kampanye amat mengganggu ketenangannya. Suara knalpot sepeda motor berisik luar biasa. Belum lagi pemakaian jalan yang seenaknya tanpa menghargai pengguna jalan lain.

Pelanggaran kampanye terjadi di mana-mana. Mulai memakai anak-anak hingga dangdut seronok yang menggiurkan goyangannya. Semua untuk menarik masa tanpa mempertimbangkan kepatutan. Bahkan beberapa teman di facebook bilang bahwa masa kampanye saat ini amat mengerikan baginya. Ia bilang bahwa nasib bangsa ini sepertinya makin terancam. Benarkah #rapopo?

Menurut Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu DIY) tercatat sebanyak 5.000 hingga 6.000 kasus pelanggaran Alat Peraga Kampanye (APK) di DIY, meliputi spanduk, baliho maupun rontek. Jumlah pelanggaran itu merupakan jumlah akumulatif rata-rata kasus yang terjadi dalam setiap minggunya. Ketika diperingatkan, malah ngajak adu fisik. Termasuk dari partai calon presiden tokoh pilihan saya. (sumber).

Bayangkan, itu yang hanya terjadi di DIY belum daerah-daerah lainnya. Dan itu hanya dalam masa kampanye, belum lagi nanti saat penghitungan suara. Apa bisa dijamin tak terjadi pelanggaran? Lalu suara saya bakalan masuk ke mana?

Oleh karena itulah, selama ini lebih senang bersikap jadi golput biar nggak ikutan kecipratan dosanya. Karena siapapun presidennya, ternyata tak memberi perubahan apa-apa. Itu yang saya rasakan. Birokrasi tetap korup. Rakyat tetap miskin. Sumber alam dan kekayaan Indonesia tak dibenahi dengan baik. Rakyat belum juga bisa hidup damai dan sejahtera. Pertikaian masih ada di mana-mana. Wakil-wakil rakyat juga masih bersikap seenaknya. Bahkan saat ini makin menjadi-jadi arogansinya.

Apakah tokoh capres pilihan saya itu nanti bisa menghadapi semua masalah itu? Seorang diri? Hanya mengandalkan kepopuleran fenomena karakternya? Apa bisa mengalahkan beribu Dasamuka yang kini sudah tidak lagi punya kepedulian tentang sesama apalagi untuk kemajuan bersama berbangsa dan bertanah-air?

Masing-masing partai membela kebenarannya sendiri. Kebenaran umum demi kemajuan bangsa disepelekan. Adu kekuatan masih pakai show of force tanpa kualitas. Bahkan lawan politik dianggap sebagai lawan ideologi. Padahal masih sama-sama satu bangsa dan berideologi sama. Ah, partai politik dimana pun sama saja. Hanya memperjuangkan merebut kekuasaan.

Sampai saat ini, saya belum memutuskan apakah mau nyoblos apa tidak. Seperti biasa, selalu nunggu hingga waktunya sudah mepet baru ambil keputusan. Kebiasan jelek ini masih saja aku pelihara hingga kini.*** (HBS)


Leave a comment

Memecahkan Monopoli Kepopuleran Jokowi Ahok

Masyarakat kita sudah terbiasa dengan cara pikir klenik. Sejak kecil kita sudah kenal cara pikir ini. Bahkan beberapa orang tua kita masih menganut pola asuh yang menguatkan cara pikir klenik dan irasionil.

Kalau makan jangan di depan pintu, tidak baik. Gadis kalau bangunnya kesiangan dimakan betoro kolo dan susah jodoh. Kalau makan nggak dihabiskan, ayamnya mati. Bantal jangan diduduki nanti udunen. Dan lain-lain larangan yang tidak menjelaskan secara logis, masuk akal kenapa hal itu tidak boleh dilakukan.

Cara pikir itu hingga dewasa masih menyisakan jejaknya. Jika ada orang kaya, diisukan punya piaraan mahluk halus. Meski bila dianalisa, sebenarnya hasil kerja keras juga. Jampi-jampi yang diperoleh dari dukun sebenarnya secara psikologis mendorong orang untuk tidak malu bekerja keras dan berusaha. Oleh sang dukun tidak dijelaskan secara masuk akal kenapa perlu puasa, perlu berjalan mengengilingi tempat keramat bahkan hingga tiga kali. Perlu berendam di bak mandi orang lain malam hari. Dan lain-lain syarat dari si dukun.

Cara pikir itu ternyata kini juga terjadi di arena politik. Ketika Jokowi Ahok terpilih untuk duduk di gubernuran tanpa dana besar, masyarakat kita tak bisa menerima dengan akal sehat. Bahkan Jokowi Ahok mendapat sambutan positif dari masyarakat demikian luas. Menjadi media darling. Maka lahirlah klenik-klenik yang tidak rasionil. Misalnya, mereka didanai oleh pengusaha hitam. Didekte penguasa modal dari luar negeri. Disetir oleh penyandang dana. Dan banyak alasan lainnya yang mencoba mencari jawaban atas keadaan yang tidak bisa dicari alasan kepastiannya.

Juga beberapa calon legislatif yang mencoba mengadu nasib di pemilu melakukan hal yang lebih ekstrim lagi. Mereka berendam di kali tempuran yang dipercayai memberi berkah. Ketidak-pastian akan kemenangan di pemilu menggiring mereka untuk lari ke klenik dan pikiran irasionil.

Anehnya, kalangan yang percaya klenik dan mengkritik Jokowi-Ahok itu tidak bisa memberikan alternatif solusi yang dipandang lebih kena. Mereka mengajukan data-data yang bernuansa klenik lewat akun kloning atau tak jelas sumber asal muasalnya. Sikap ini bisa dipahami, karena apa yang diajukan secara klenik itu memang tidak diketahui kepastiannya. Ketidak-pastian itu memang sumber dari pemikiran ala klenik. Awalnya saja sudah klenik kok ditanyai kepastiannya. Kalau tahu kan nggak mungkin berpikiran cara klenik? Itulah kepandaian budaya kita. Menyembunyikan klenik lewat argumentasi-argumentasi yang seolah logis. Tapi pada dasar dan nyawanya tetap saja klenik.

Baiklah, katakan saja apa yang diajukan itu dari sumber terpercaya. Tapi kenapa hanya diarahkan pada Jokowi-Ahok? Kenapa tidak ke capres lainnya? Bisa dipastikan bahwa capres lainnya juga punya pendukung dana yang punya kepentingan strategis, didukung pengusaha hitam yang mencoba melindungi usahanya dan sebagainya. Bahkan secara empiris punya track record jelek. Pelanggaran HAM, perusak lingkungan hidup, koruptor dan lain-lainnya.

Kalau mau fair, seharusnya semua capres digali track recordnya. Siapa saja penyandang dananya? Siapa saja orang yang menaruh kepentingan di dalamnya? Dari mana saja dana didapat? Jika semua caleg digali track recordnya, maka akan memberikan pilihan-pilihan seimbang, rata dan adil sehingga rakyat bisa menilai jauh lebih baik terhadap masing-masing calon.

Monopoli Kepopuleran

Kita semua tentu sudah tahu bahwa banyak penilaian-penilain atau kritik-kritik negatif pada Jokowi Ahok di media sosial. Bahkan beberapa kalangan menuduh bahwa Jokowi Ahok menyebar tim maya atau tim sukses mereka untuk mendongkrak pencitraan Jokowi Ahok. Tim maya itu diisukan dibayar oleh pendukung dana kampanye Jokowi Ahok.

Media mainstream tidak lepas pula dari tuduhan negatif itu. Media mainstream telah disetir untuk mendongkrak popularitas Jokowi Ahok. Bahkan tuduhan melebar pada lembaga survey. Dikatakan bahwa survey mereka adalah survey bayaran yang diarahkan untuk mendongkrak popularitas Jokowi Ahok. Dan banyak lagi tuduhan-tuduhan miring tentang kepopuleran Jokowi Ahok.

Semua tuduhan itu mengarah hanya pada satu hal sama yakni mencoba menjatuhkan popularitas Jokowi Ahok. Mencoba mengerem laju Jokowi untuk jadi presiden.

Meski tuduhan mereka tidak sepenuhnya akurat namun perlu juga didengarkan. Mungkin ada latar belakang kebenarannya dalam tuduhan mereka. Yang perlu digaris-bawahi adalah semangat mereka dalam usahanya menggembosi kepopuleran Jokowi Ahok. Bahkan nampak terkesan revolusioner dan emosionil. Beberapa pengkritik bahkan sering bergerak di bawah tanah dengan menyembunyikan identitas mereka. Jika data yang mereka sertakan untuk menyerang kepopuleran Jokowi Ahok tidak diketahui sumber dan penulisnya, justru berefek bumerang pada mereka. Karena melahirkan kecurigaan-kecurigaan akan keaslian, kebenaran dan tujuan dasarnya.

Mereka seharusnya belajar dari fakta yang ada di lapangan. Jika mereka beranggapan bahwa Jokowi didukung oleh pengusaha hitam, koruptor, pemodal luar negeri dan sebagainya, tapi nyatanya gelindingan bola salju kepopuleran Jokowi Ahok tidak makin mengecil. Semakin dituduh, dikritik, diperkarakan, diancam, direndahkan, perlawanan dari pendukung Jokowi Ahok makin menguat. Jokowi Ahok makin mendapat legitimasi dari masyarakat.

Terlepas apakah Jokowi Ahok selama ini berusaha mendongkrak pencitraannya atau tidak, namun sangat jelas bahwa dukungan rakyat tidak menyurut. Jokowi dengan fenomena blusukannya menuai banyak pujian. Ahok dengan ceplas ceplos dan tranparansinya mengeruk dukungan.

Itulah kekuatan mereka. Dan sepertinya telah menjadi monopoli. Karena tidak ada elit politik lain melakukan hal sama. Monopoli itu makin meruncing manakala setiap blusukan Jokowi mendapat liputan dari media yang disaksikan oleh rakyat banyak. Rakyat merasa terlibat dan terinformasi. Inilah yang menguatkan dukungan buat Jokowi.

Sementara Ahok yang sering tinggal di kantor bersikap sama. Tidak diliput media mainstream namun menciptakan sebuah cara yang cerdas yakni, dengan mengupload kegiatannya di dalam kantor secara terbuka lewat youtube. Rakyat pun terinformasi dengan baik dan tahu bagaimana sosok Ahok itu. Tak kurang populernya dengan Jokowi yang dianggap sebagai media darling. Ahok juga melejit kepopulerannya.

Monopoli itulah kekuatan Jokowi Ahok dalam mendulang kepopuleran. Apakah hal ini tidak disadari oleh lawan politiknya? Apakah mereka tetap ngotot menggunakan strateginya dengan menyerang kepopuleran Jokowi Ahok dengan cara ala klenik?

Tidakkah mereka melihat fakta di lapangan? Tidakkah mereka mengkalkulasi kecenderungan ini? Tidakkah mereka mengevaluasi strategi mereka? Serangan mereka tidak melemahkan kepopuleran Jokowi Ahok, tapi malah sebaliknya. Serangan mereka makin menguatkan monopoli Jokowi Ahok. Makin gencar serangan mereka, makin menguatkan posisi Jokowi Ahok dalam monopoli kepopuleran.

Sedemikian populernya sehingga beberapa kalangan pendukung Jokowi Ahok sudah menganggap Jokowi Ahok bagai dewa tanpa salah? Tentu saja fenomena ini wajar. Lahir akibat keadaan yang diciptakan sendiri secara kondusif dari lawan politik Jokowi Ahok. Menyerang dari sisi salah. Ibaratnya memadamkan api dari sudut salah tanpa melihat arah angin. Kadang lebih parah pakai bahan pemadam salah, sehingga kobarannya malah makin menggila. Dewa api pun makin sulit dipadamkan. Seorang dewa tidak mungkin lagi diserang.

Senjata mereka telah tumpul. Mereka telah buntu pikiran dengan strateginya dan lari ke alam ala klenik? Membabi buta menyorongkan data-data hitam tentang Jokowi Ahok yang tidak jelas bisa ditelusuri kebenarannya? Akun-akun kloningan bertebaran di dunia maya dan ngotot memaparkan kejelekan Jokowi Ahok. Sementara informasi penyeimbang lainnya tidak disodorkan. Makin telaklah kesalahan mereka.

Dalam persaingan, memang tidak semua bisa bersaing dengan fair dan terbuka. Persaingan yang sehat adalah dengan menonjolkan kebaikan masing-masing dan tidak dengan menjelekkan pihak lain agar terlihat diri menonjol. Persaingan model gini banyak kita dapat dalam kehidupan sehari-hari. Dan inilah yang terjadi di kancah perpolitikan kita saat ini. Seolah dengan menjelekkan partai lain, bisa mengangkat image partainya sendiri. Apakah mereka sudah merasa kalah sebelum adu persaingan dengan menonjolkan kebaikan masing-masing? Atau memang tidak ada kebaikan yang ditawarkan? Yang penting adalah kemenangan, dapat posisi dan kelimpahan materi jika menang?

Menuju Kehidupan Politik Santun

Salah satu strategi untuk mengurangi kepopuleran Jokowi Ahok adalah dengan memecah-mecah monopolinya. Monopoli yang tidak dipecah akan menguatkan dukungan. Tidak saja dukungan dari Jokowi Ahok lover, namun juga aliran dana dari pengusaha hitam sebagaimana dituduhkan oleh lawan politik Jokowi. Monopoli yang meruncing ini makin menemukan daya tembusnya. Inilah yang tidak disadari oleh lawan politik Jokowi Ahok. Bahkan mereka tanpa sadar ikut meruncingkan monopoli itu.

Memecahkan monopoli kepopuleran itu dengan cara mengambil sebagian monopoli yang dikuasai Jokowi Ahok. Bisa sedikit, bisa juga banyak. Monopoli Jokowi misalnya dalam hal blusukan, keterpihakan pada rakyat, pengambilan keputusan cepat, perampingan birokrasi, manajemen kontrol dan kerendah-hatiannya. Monopoli Ahok dalam hal kelugasan, terus terang, patriotik, memegang teguh konstitusi, tidak takut berkata benar, lugas, logis, jujur, tidak korup dan sebagainya.

Monopoli mereka bisa digali lebih banyak. Monopoli itulah kekuatan mereka. Monopoli itulah aset mereka sehingga membuat mereka terkenal dan disanjung masyarakat banyak.

Jika pecahan aset Jokowi Ahok bisa diambil dan kemudian disesuaikan dengan agenda partai, maka dengan sendirinya masyarakat akan dihadapkan pada banyak alternatif. Aset yang diambil dari monopoli itu secara perlahan bisa diolah kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan partai secara perlahan. Jika monopoli itu diambil, masyarakat akan menilai lebih seimbang antar partai yang bertarung dan tidak lagi hitam putih. Selama ini masyarakat dihadapkan dua pilihan: baik atau jelek. Dan bukan pilihan: baik, lebih baik dan paling baik. Budaya politik kita sudah terbiasa main kotor dan saling menjatuhkan. Bukan adu kebaikan. Permainannya kasar dan tidak terkesan elegan. Permainan para preman. Main gertak dan ancaman. Jika Jokowi Ahok dianggap baik, maka yang lainnya pasti dianggap jelek.

Politik santun akan tercipta jika semua partai beradu tentang kebaikan. Masalahnya adalah siapkah partai lawan politik Jokowi Ahok memakai pecahan monopoli itu? Siapkah mereka melakukan sebagaimana yang dilakukan Jokowi Ahok? Siapkah mereka menghadapi keterbukaan? Siapkah mereka bekerja keras? Siapkah mereka jujur dan memihak rakyat?

Ternyata strategi yang nampak gampang ini tidak mudah dilakukan. Sementara menjelek-jelekkan Jokowi Ahok hanya akan menambah monopoli kepopuleran mereka. Mindset perlu dirombak kalau mau bertanding dengan seimbang. Bola fenomena Jokowi Ahok sudah terlanjur besar. Memanfaatkan kekuatan mereka dan mencoba memakainya sebagai senjata perlawanan adalah strategi masuk akal. Melawan kecenderungan arus umum hanya akan membuat makin terseret dan tenggelam.*** (HBS)

Mungkin Anda tertarik untuk membaca artikel sejenis:

  • Etika Itu Relatif dan Berstandar Ganda Buat Jokowi Ahok

  • Leave a comment

    Etika Itu Relatif dan Berstandar Ganda Buat Jokowi Ahok

    Jokowi disorot lewat masalah etika karena meninggalkan posisi gubernur. Jokowi juga dikatakan tidak gentleman (sumber) karena tak mau mundur dari gubernur saat mencalonkan jadi capres PDI, Jokowi juga dikritik ingkar janji karena meninggalkan pekerjaannya sebagai gubernur sebelum usia masa jabatannya. “Jakarta Cuma Diberakin” demikian tema seni seorang seniman yang memprotes pencapresan Jokowi (sumber). Bahkan ada yang menggugat Jokowi (sumber). Dan lain-lain pandangan negatif masalah etika.

    Sebenarnya kalau dipikir, banyak pemimpin yang etikanya jauh lebih negatif dari Jokowi. Gampangnya saja masalah korupsi. Etika sudah menjadi keranjang sampah. Dan banyak orang memilih diam dan membiarkan berlangsung hingga tahunan. Pekerjaannya pun tak beres. Mana ada janji yang dipenuhi? Tapi tak ada suara yang menagih janji.

    Kita menerapkan etika pada orang lain secara berbeda-beda. Ibaratnya, kalau seorang yang jahat, etikanya punya level beda dibanding dengan orang yang tidak jahat. Etika berstandar ganda sudah biasa kita lakukan. Kita merasa kepenak saja melakukannya.

    Dan anehnya, banyak celaan atau kritikan terhadap Jokowi muaranya cuma satu yakni, Jokowi mencalonkan diri jadi presiden di pemilu 2014.

    Celaan itu sebenarnya lebih banyak menyuarakan rasa ketakutan akan sebuah kehilangan. Celaan itu menyiratkan betapa pentingnya peranan Jokowi bagi Indonesia dan terutama bagi para pencela dan pengkritik di Jakarta. Ibarat orang yang tak minum air segar tahunan, dan tiba-tiba mencicipi setitik air segar. Tentu saja nggak rela bila air segar itu diberikan dan dibagi-bagikan pada orang lain. Sementara dahaga itu belum terpuaskan.

    Takut kehilangan itu demikian kuat sehingga orang berbuat semampunya untuk menghindarinya. Nah, di sinilah masalah etika berstandar ganda bertebaran. Beberapa celaan menyiratkan kejujuran akan sebuah rasa takut kehilangan. Namun banyak juga yang menyiratkan rasa ketakutan kehilangan dalam bentuk lain, yakni takut kehilangan kedudukan. Merasa keselamatan posisi atau jabatan yang diincar jadi terancam karena Jokowi ikut masuk dalam medan laga persaingan. Dan mereka merasa tak bakal menang.

    Batas keduanya jadi baur. Mana yang benar-benar takut kehilangan pemimpinnya yang penuh perhatian dan mana-mana yang takut kehilangan posisi. Karena produknya nampak sama, yakni berupa celaan dan kritikan. Oleh orang yang punya kepentingan, kebauran itu dipolitisir.

    Untuk membedakannya relatif cukup mudah sebenarnya. Kalau yang mengkritik punya kedudukan atau memperjuangkan perolehan kedudukan, pastilah tergolong yang ketakutan kehilangan kedudukannya. Kalau yang mencela tidak punya kedudukan, pastilah tergolong orang yang merasa takut kehilangan pemimpin yang dirasa bisa melindunginya.

    Kalau saat ini banyak kalangan nagih janji pada Jokowi dan kenapa tidak pada politisi lain yang dulu juga ngobral janji? Barangkali sikap masyarakat tersebut merupakan imbas balik dari sikap keterbukaan yang dirintis Jokowi-Ahok sendiri. Mereka berani menagih janji secara terbuka dan bahkan lewat jalur hukum karena sosialisasi keterbukaan dan transparansi birokrasi yang dikenalkan oleh Jokowi-Ahok. Jadi semacam buah simalakama bagi Jokowi-Ahok. Tapi dalam hal ini punya arti positif. Buah simalakama yang menunjang kehidupan demokrasi yang lebih sehat di masa depan.

    Kadang terasa aneh sekali cara orang dalam mencela Jokowi dengan menyerang aktivitas blusukannya sebagai pencitraan. Cara pandang kita memang sudah terbiasa melihat orang blusukan dengan maksud pencitraan. Maka tidak heran jika susah membedakan mana blusukan pencitraan dan mana yang bukan. Terbaca jelas sekali bahwa karakter Jokowi amat beda dengan politikus yang kita kenal selama ini. Terlepas apakah itu pencitraan atau bukan, dalam waktu singkat banyak daerah di DKI Jakarta sudah jelas-jelas terbenahi. Tidak mungkinlah kalau cuma pencitraan bisa menciptakan prestasi semacam itu.

    Masalah di Jakarta amat rumit. Meski Jokowi berada di Jakarta 10 tahun pun belum tentu Jakarta bisa dibenahi. Seiring dengan bertambahnya waktu dalam waktu 10 tahun, penduduk berkembang, mobil bertambah, teknologi makin canggih, pendangkalan sungai terus berlangsung, persaingan hidup makin keras, urbanisasi tentunya juga meningkat dan lain-lain faktor. Maka janji pun tinggal janji. Kenyataan pahit yang harus diterima.

    Fenomena Jokowi-Ahok perlu disosialisasikan dan diselamatkan. Bukan individunya tapi fenomenanya. Fenomena yang membawa kebaruan kehidupan bernegara, berpolitik dan mendobrak sistem birokrasi. Fenomena ini akan lebih efektif jika dicanangkan oleh pemimpin negara yakni presiden. Maka amat potensial sekali efeknya jika Jokowi bisa jadi presiden sebagai langkah awalnya. Fenomena itu bisa menasional. Untuk kemudian nantinya bisa diteruskan dan disebarkan oleh Jokowi-Jokowi dan Ahok-Ahok lain.

    Menyerang Jokowi-Ahok sebagai lawan politik tidak akan menggoyahkan kepopuleran mereka. Gelindingan bola salju itu sudah terlanjur jadi demikian besar. Jokowi dan Ahok amat beda. Mereka mencuat menawarkan dobrakan-dobrakan yang diharapkan rakyat banyak. Semakin dikritik makin terbukti bahwa karakter dan kepemimpinan Jokowi-Ahok makin amat dibutuhkan dan penting.

    Seharusnya lawan politik Jokowi-Ahok lebih memihak dan memuji fenomena Jokowi-Ahok. Mencoba bergabung dengan kecenderungan mayoritas kemudian menumpangkan agendanya. Lalu pelan-pelan secara halus dan berangsur membelokkan sesuai agendanya secara utuh. Ini lebih efektif daripada menyerang membabi buta main tembak sekenanya tanpa persediaan amunisi cukup. Selain efektif juga mendidik masyarakat untuk bisa bersikap lebih kritis. Pendidikan politik yang amat baik bagi masyarakat. Sehingga hasil akhirnya nanti bisa diserahkan sepenuhnya pada masyarakat untuk menilai dan memutuskan. Jika masyarakat dididik untuk berpikir kritis, tentunya mereka tak akan terlalu salah dalam menentukan pilihan.*** (HBS)