herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Senangnya Melihat Persiapan Pemilu di Kampung

1396787294442813146

Suasana persiapan di TPS kampungku.

PAGI jam 8, pak Damat bekas lurah itu naik sepeda lewat depan rumah menuju ke tempatnya pak Jumadi, dimana besuk hari Rabu tanggal 9 April 2014 nanti akan dilangsungkan pemungutan suara Pemilu. Mbok Remi yang tahunan telah membantu untuk urusan rumah tangga orang tuaku kebetulan lagi menyapu pelataran menyapa ramah pak lurah.

Aku lagi duduk-duduk di beranda menikmati kopi panas ikutan mengangguk dan kasih salam pada bekas lurah yang tidak aku kenal itu. Sudah lama aku meninggalkan kampung dan tak pernah berurusan dengan kelurahan. Aku hanya kenal beberapa lurah saat masih SMA dan mahasiswa dulu. Beberapa lurah sudah berganti dan beberapa sudah meninggal. Aku tidak tahu berapa lurah yang telah menjabat setelah aku merantau. Aku tahu dia bekas lurah setelah dikasih tahu mbok Remi.

Beberapa anak muda kampung mondar-mandir di jalan depan rumah membawa papan tulis berukuran besar dari keluarahan. Kudengar mereka berdiskusi tentang teknis TPS. Aku tidak kenal mereka semua. Pasti pendatang baru di kampung kami. Atau anak dari penduduk kampung yang tidak pernah aku tahu.

13967874501933737827

Daftar pemilih dan buku panduan TPS

Rumah pak Jumadi hanya berjarak seratus meter dari rumah keluargaku. Ia punya ruangan besar dulunya pernah disewakan ke seorang pengusaha pembikin roti. Pingin juga pergi ke rumah pak Jumadi dan melihat kesibukan mereka mempersiapkan TPS itu.

Ternyata ada sekitar 7 orang di situ. Mereka semua adalah panitia TPS. Pak Damat sebagai Ketua dan enam lainnya sebagai anggota. Mereka berdiskusi tentang letak ruangan dan beberapa melihat ke buku panduan untuk meyakinkan tata letaknya sesuai yang digariskan dalam buku panduan resmi yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilu. Mereka mendapat uang lelah secukupnya untuk jerih payahnya.

Aku ikutan nimbrung dengan obrolan mereka. Tidak cuma masalah pemilu tapi masalah-masalah lainnya yang ada di kampung. Cerita orang-orang yang ada di kampung, ke mana perginya si anu, kerja apa, anaknya berapa dan seterusnya. Sesekali disela oleh pertanyaan-pertanyaan tentang tata letaknya.

“Lha kamu kok di pindah ke TPS 4 sini, pak Guru di TPS 3 siapa yang mbantu?” kata Jarot seorang pemuda kampung kami.

“Aku nggak minta kok. Itukan keputusan pak Ngali,” jawab pak Trisno pegawai bank yang nampaknya sebagai salah satu pemuda yang trampil dalam hal pengelolaan TPS karena pengalaman pemilu sebelumnya.

Di TPS 3 menurut pak Trisno, panitianya terdiri dari sesepuh kampung yang tidak begitu gesit. Sementara urusan di TPS perlu orang-orang yang bisa kerja keras dan cepat. Terutama dalam penulisan Berita Acara setelah penghitungan suara yang katanya bakal rangkap 17. Kertas resmi yang disediakan bentuknya folio dan harus ditulis tangan secara manual. Untuk menuliskan di komputer dan mencetaknya perlu fasilitas fotokopi untuk ukuran folio tidak ada fasilitasnya. Waktu terlama di TPS untuk menyelesaikannya adalah masalah penulisan Berita Acara.

13967875391563946104

Proses pemungutan suara menurut buku panduan resmi.

Menurut pendapat beberapa dari mereka, pemilu kali ini lebih tenang. Tidak ada musuhan antar pendukung partai. Kesadaran masyarakat sudah membaik dibanding tahun lalu. Masalah pemberian uang dari caleg hanya menjadi gurauan. Uang mereka tak mempengaruhi dalam menentukan sikap dalam memilih. Barangkali mbok Remi yang punya sikap beda.

“Belum terima uangnya, pak,” kata mbok Remi ketawa ketika sambil gurauan kutanya nanti di pemilu bakal milih siapa.

Secara selintas memang kutangkap keakraban para panitia TPS itu. Tidak kutangkap sikap permusuhan atau sikap negatif terhadap caleg atau partai tertentu. Sikap obyektif yang cukup menjanjikan di akar rumput perpolitikan tanah air.*** (HBS)


Leave a comment

Kampanye Pemilu untuk Proses Kaderisasi

Masa kampanye sebenarnya waktu amat baik bagi partai politik untuk mendidik masyarakat agar punya kesadaran politik yang santun. Dengan demikian dana kampanye yang menghabiskan milyaran rupiah itu tidak terbuang percuma hanya untuk memenangkan suara dan kursi legislatif.

Kampanye yang dilakukan serentak oleh semua partai politik mengikutkan jutaan masyarakat Indonesia dan menjangkau hingga pelosok desa jarang terjadi di luar masa itu. Sebuah kesempatan baik buat pendidikan politik masyarakat hingga paling bawah. Jika saja semua partai politik bersedia mengendalikan diri demi kemajuan bangsa di masa depan, pendidikan politik tersebut akan berjalan amat efektif. Tidak untuk memenuhi kebutuhan praktis dan sesaat yakni memenangkan pemilu.

Untuk memenangkan pemilu, partai politik cenderung mengambil jalan pintas dan sesaat. Secara serentak tujuan utamanya adalah berusaha memenangkan suara. Jalan apapun akan ditempuh. Kebutuhan singkat tersebut sebenarnya dalam jangka panjang tidak menguntungkan sebuah partai. Tidak ada fungsi kaderisasi dijalankan. Yang penting menarik perhatian masyarakat secara acak dengan harapan mereka memilih partai mereka. Kegiatan kampanye adalah kegiatan sporadis untuk menggaet suara rakyat sebanyak mungkin.

Maka begitu kegiatan kampanye selesai, rakyat kembali menjadi massa mengambang. Dan pada kegiatan kampanye berikutnya target penarikan suara itu berulang. Lebih banyak suara mengambang daripada suara yang telah terkaderisasi. Maka tidak heran jika kampanye partai politik terkesan sporadis tanpa terlihat jelas target audiencenya.

Kecenderungan untuk menggaet suara massa mengambang itu diperlukan usaha kampanye lebih keras dan dana lebih besar tiap tahunnya karena tidak ada antisipasi dalam jangka panjang. Mungkinkah sistem politik kita memang berusaha untuk menciptakan massa mengambang? Masyarakat dibiarkan sebagai massa mengambang sehingga tidak ada kekuatan politik solid yang bisa menciptakan partai politik revolusioner. Karena tujuan pemilu memang sederhana, yakni pesta demokrasi dan memilih anggota legislatif serta presiden. Karena siapapun yang menang, dari partai politik manapun, toh bisa dimusyarahkan. Semua kecipratan bagian. Semua bisa dibolak-balik dan dirubah. Dan hal ini hanya mungkin jika keanggotaan sebuah partai politik tidak punya ikatan solid dengan partainya.

Dikuatirkan jika terjadi penggumpalan solid pengikut partai bisa menciptakan kader-kader militan dan pada akhirnya mengalihkan kegiatan kepartaian mereka untuk perjuangan sebuah ideologi saingan. Dan skenario ini nampak mungkin terjadi. Jika sebuah partai politik menguasai secara mayoritas di legislatif, tentu saja progam-program partai akan lebih mulus untuk diloloskan. Kemungkinan untuk menjadi terlalu kuat bahkan cenderung bisa menjadi partai tunggal yang menguasai perpolitikan negara bisa menjadi kenyataan.

Kaderisasi partai politik memang tidak mudah. Kendala utamanya adalah ketakutan akan resikonya di masa depan. Pengalaman sejarah kita telah menorehkan luka dalam yang hingga saat ini belum sirna dari ingatan. Keterlibatan orang dalam sebuah partai politik bisa membawa resiko tidak ringan. Partai komunis yang pernah menjadi pemain utama dalam kancah politik Indonesia berakhir dengan tragis bagi para pengikutnya. Banyak dari anggota dan simpatisan partai komunis kehilangan nyawa mereka karena dituduh melakukan kegiatan makar.

Hal tersebut terjadi ketika perang dingin antar garis kapitalis Amerika dan komunis Rusia masih terjadi di dunia. Ideologi berdasar Pancasila belum diterima oleh semua partai. Namun ketika saat ini semua partai di Indonesia berdasar ideologi sama, yakni Pancasila sebenarnya resiko bagi sebuah partai untuk memperjuangkan ideologi saingan amat kecil karena bisa terdeteksi lebih dini. Kesadaran masyarakat untuk menerima Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara diperkirakan relatif sudah terbentuk di masyarakat luas. Memang tidak dipungkiri dengan adanya golongan-golongan yang punya aliran politik garis keras. Namun sifatnya masih sporadis dan diperlukan political will dari pemerintah untuk mengantisipasi dan mengeliminirnya. Untuk itulah peran militer sebagai pihak yang harus berada di luar partai amat penting.

Tapi nampaknya ketakutan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan politik itu sengaja diciptakan oleh hampir semua partai politik. Dalam kampanye mereka bersaing untuk saling menjatuhkan lawan politiknya dengan pamer kekuatan. Siapa yang kuat seolah yang benar. Seolah partai yang direstui negara. Dan partai lainnya adalah partai yang dimusuhi negara dan berkonotasi sebagai partai terlarang. Secara tidak langsung terjadi usaha-usaha menciptakan ketakutan pada masyarakat. Untuk sesaat masyarakat dipecah-pecah. Dan celakanya masyarakat yang minim kesadaran politik ini ikut arus saja. Bentrokan antar pendukung partai politik pun bisa terjadi hingga terjadi adu fisik. Inilah yang tidak mendidik masyarakat untuk punya kesadaran politik yang baik di masa datang.

Jika kegiatan kampanye partai politik diarahkan sebagai kesempatan untuk proses kaderisasi, maka kegiatan kampanye bisa dijalankan dengan lebih santun. Ruang-ruang untuk peran serta bagi masyarakat luas dalam berpolitik dibuka lebar. Diskusi-diskusi politik dibuka bersama untuk membicarakan kemungkinan berpartisipasi dalam politik. Pembentukan kantor-kantor perwakilan dan penerimaan anggota diluncurkan bersama. Program-program partai dijabarkan.

Kampanye lebih menitik beratkan pada segi kualitas. Meski dalam jangka pendek nampak tidak relevan dalam menggaet suara, namun dalam jangka panjang proses kaderisasi berjalan dan diharapkan dalam masa mendatang untuk menggaet suara akan jauh lebih mudah. Kampanye tidak perlu lagi dilakukan dengan pamer kekuatan namun cukup lewat komando terpusat dari partai lewat selebaran, surat keputusan dan terpaan media massa. Kegiatan kampanye lebih terarah, terlokasir dan lebih efektif.

Dengan proses kaderisasi yang terprogram tersebut, calon-calon yang akan duduk di legislatif akan lebih dikenal oleh masyarakat. Masyarakat lebih punya pilihan dalam menentukan wakilnya secara terukur. Calon legislatif telah terbukti kemampuannya di lapangan dan tidak asal comot karena terkenal di daerahnya. Kadang faktor asal terkenal ini tanpa memperdulikan track recordnya. Seorang residivis bisa saja terkenal di daerahnya. Dan ada kecenderungan partai politik untuk memakai orang-orang dengan track record negatif ini sebagai pendongkrak massa partai karena ditakuti masyarakat. Rasa ketakutan adalah ancaman paling menghancurkan bagi berjalannya proses demokrasi.

Pola kampanye kita tidak berubah dari tahun ke tahun. Kesadaran politik masyarakat kita seperti berjalan di tempat karena pola yang tidak mendidik ini. Masyarakat tetap dikondisikan secara politik sebagai masa mengambang. Maka dengan sendirinya akibat berikutnya adalah, para legislatif tidak punya misi dan visi kuat memperjuangkan kepentingan masyarakat yang diwakilinya.*** (HBS)