herrybsancoko

Kumpulan tulisan


1 Comment

Si Ratu Adil, Si Satria Piningit dan Si Kerempeng

Paman gembul

Tokoh Paman Gembul di majalah Bobo. Tokoh yang tidak asing di dunia anak-anak. Tokoh yang rakus dan mendapatkan kesulitan karena sifat rakusnya. (Sumber gambar: http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/kidnesia/cerita-kita/cergam/penemuan-istimewa/halaman-2/10049152-1-ind-ID/Halaman-2.jpg)

BAGI masyarakat Indonesia, sebutan-sebutan tersebut memang sudah biasa dilakukan. Penulis hapal benar dengan kebiasaan ini. Sejak duduk di SD hingga SMA penulis tak pernah lepas dari sebutan-sebutan ini. Dan semua itu tak jadi masalah. Malah terkesan akrab. Selama nama sebutan yang diberikan tidak mengacu pada hal-hal yang negatif. Sebutannya masih terasa netral.

Nama sebutan konotasinya memang bisa bertingkat. Mulai netral, agak nakal dan nylekit. Darso Keceng, Didik Ceking, Rudi Kribo, atau Edi Kalur adalah yang tergolong netral. Marno Kopok, Wahyu Peang, Sugeng Ngompol, Gendut Corong, Karto Bethet adalah yang tergolong agak nakal. Agus Ledeng, Hari Kecrek, Samsu Pekok, Harjo Reden adalah julukan yang agak nylekit.

Saat duduk di bangku SD, teman-teman sepermainan kadang saling berolok menyebut orangtua temannya dengan julukan-julukan. Kadang bisa membuat seorang anak marah-marah. Karena tersinggung perasaannya bila orang tua yang dihormatinya dijuluki secara tidak senonoh.

Tingkah laku anak-anak SD itu barangkali meniru orangtua mereka di kampung. Di kebudayaan Jawa, penyebutan nama seseorang dengan julukan tambahan memang sudah biasa. Ada penduduk kampung bernama pak Parto. Karena kerjanya sebagai juru pengairan di desa, pak Parto dijuluki Uceng. Maka nama terkenalnya di kampung menjadi Parto Uceng.

Sebenarnya nama tambahan itu mengacu pada jenis pekerjaan yang dipunyainya. Tapi kemudian berkembang julukan-julukan yang tidak cuma mengacu pada pekerjaan tapi juga pada hal-hal khusus pada orangnya. Misalnya Parmin Dogol, Redjo Bruwes, Kliwon Sangklir, Slamet Bejok, Simo Kebo, Sardi Penthol, Darmo Gandhul dan sebagainya. Nama julukan lebih banyak diberikan pada kaum lelaki. Namun tidak jarang juga diberikan pada seorang perempuan. Misalnya Yu mBotho, Yu Cempluk, Yu Darmi Tempe dan sebagainya.

Beberapa teman SMA menerima sebutan nama yang sebenarnya mengacu pada tindakan tidak senonoh. Sebutan itu diberikan karena orangnya suka bicara hal-hal yang tidak senonoh. Maka sebutan itu akhirnya serasa pas dan diterima oleh anak lainnya. Kadang anak lain malah tidak tahu nama asli selain julukannya. Namun ketika menjadi seorang bapak, sebutan itu sudah tidak pas lagi. Tapi karena terlanjur akrab dengan sebutan itu, pada saat reuni beberapa teman masih memanggilnya dengan sebutan saat SMA. Beberapa teman punya kesadaran dengan memanggil nama aslinya. Tapi susah merubah kebiasaan teman-teman yang sudah terlanjur akrab memanggilnya dengan nama sebutan. Barangkali nama sebutan itu tidak bisa lepas darinya. Bagaimanapun tidak sukanya dia.

Tidak Pantas

Terkejut sekali ketika membaca berita tentang sebutan Jokowi yang dilontarkan oleh Megawati di Rakernas NasDem dihadapan para tamu dan undangan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Selasa, 27/5/2014 (Sumber).

Meski nadanya candaan, sebenarnya kurang etis diucapkan. Apalagi Jokowi secara resmi telah ditunjuknya sebagai capres yang kemungkinan nantinya bila terpilih bisa menjadi Presiden RI.

Sebutan buat Jokowi yang dilontarkan oleh Megawati itu memang tak sekali terjadi. Banyak orang mengkritik tubuh Jokowi yang kurus. Dan akhirnya Megawati ikutan menyebutnya si kerempeng.

“Yang kalian minta sudah saya kasih. Saya kasih si kerempeng ini (Jokowi). Biar kerempeng, dia adalah banteng,” kata Megawati disambut sorak-sorai simpatisan PDI-P saat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu menyampaikan pidato politiknya dalam kampanye terbuka menjelang Pemilu Legislatif 2014 di Lapangan Thor, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 17/3/2014 (Sumber).

Julukan dengan nada canda itu seharusnya tidak dilontarkan oleh Megawati untuk seorang sekaliber dia. Seorang bekas Presiden dan Ketua Umum PDIP. Memang, implikasi dari julukan itu tidak terasa untuk saat ini. Entah nanti ketika Jokowi benar-benar jadi seorang presiden. Mudah-mudahan tidak dijuluki sebagai Jokowi Kerempeng, Presiden RI. Presiden dari partai PDIP dengan Ketua Umumnya, Megawati Gembrot. Sebuah guyonan yang amat tidak lucu.

Melanggar Hukum

Di Australia, menjuluki orang dari penampilan fisiknya harus hati-hati bila tidak ingin terjerat hukum.

Orang sudah bisa amat tersinggung kalau dibilang gendut atau gemuk. Dianggap tidak punya etika sopan santun. Orang tersinggung bukan karena kesadaran tentang bentuk tubuh saja, tapi juga bisa dianggap bersikap diskriminatif. Bentuk badan tidak hubungannya dengan kemampuan seseorang. Sikap stereotype sejauh mungkin dihindari atau tidak diekspresikan secara terbuka.

Dalam identifikasi fisik pelaku kriminal pun, tidak bisa dilakukan seenaknya. Dianggap melawan hukum bila menggunakan istilah: “orang Asia”, orang Selandia Baru, orang Lebanon, orang Arab dan lain-lain sebutan yang mengarah pada stereotype. Bahasa di koran dalam menggambarkan ciri-ciri seorang kriminal biasanya disebut dengan “Asian appearance”, atau Inlander appearance, atau hyspanic appearance. Sebutan inipun sebenarnya sudah amat sensitif untuk dipakai karena bisa menggiring sikap stereotype pada golongan etnis atau kebangsaan tertentu.

Lain ladang lain belalang. Di Indonesia, kita bisa dengan ringan menyebut orang lain dengan nama-nama julukan yang belum tentu si penerima julukan itu bisa menerimanya dengan senang hati. Tapi kadang kita tak peduli karena secara umum hal itu dianggap lumrah dan tidak melanggar hukum. Kita dengan ringan saja menyebut orang lain karena ciri fisiknya bahkan keturunan etnisnya. Hingga saat ini faktor penyebutan etnis ini masih terbiasa dilakukan di Indonesia. Sebagai keturunan Cina, Batak, Madura dan lain-lain etnis. Dan parahnya dihubungkan dengan stereotype etnisnya dan bukan kualitas pribadi orangnya. Sikap stereotype memang masih subur di tanah air. Entah kapan orang bisa punya tenggang rasa dan secara berangsur punya kesadaran untuk berpikir lebih rasionil, realistis dan menghargai dalam melihat orang lain tanpa sikap stereotype sempit.*** (HBS)


Leave a comment

Kehidupan Tidak Berhenti Begitu Kepala Negara Terpilih

budget australia, pilpres, stasiun kereta di sydney

Pemandangan masyarakat Australia sepulang kerja di sebuah stasiun Parramatta, Sydney Barat. Semua kena dampak budget pemerintah. (Foto: Herry B Sancoko)

PERISTIWA nasional yang paling banyak menarik perhatian masyarakat salah satunya adalah pemilu. Peristiwa ini melibatkan hampir semua warga negara. Bisa dipastikan setiap orang dewasa yang punya hak memilih pasti sedikit banyak membicarakan masalah pemilu.

Demikian juga di Indonesia. Pemilu dan pilpress adalah dua peristiwa nasional yang menjadi perhatian hampir semua orang yang punya hak pilih. Sehabis pemilu legislatif bulan kemarin, kini kita sibuk membicarakan pilpress sebulan lagi. Informasi tentang pilpress menguasai pemberitaan segala media, termasuk media sosial. Kadang bikin pengap dan sumpek.

Jika pilpress lancar dengan terpilihnya presiden, masyarakat dalam waktu singkat akan tenang lagi. Melanjutkan kegiatan sehari-hari sambil berharap ada perbaikan dalam kehidupannya. Masalah-masalah pilpres yang gegap gempita seolah tenggelam. Masalah nasional sudah jarang-jarang disinggung kembali. Demikian menurut pengalaman penulis dulu.

Lain di Australia. Meski pemilu cukup mengisi berita nasional, namun tidak segemuruh di tanah air. Setelah pemilu dan perdana menteri baru telah tertunjuk, keadaan begitu tenang seolah tidak terjadi peristiwa penting nasional. Bahkan acara-acara natal atau tahun baru jauh lebih meriah.

Masyarakat berharap agar perdana menteri yang baru tidak membuat kebijaksanaan ekonomi yang merugikan masyarakat. Mereka menanti peristiwa nasional mereka berikutnya, yakni pengumuman budget nasional.

Kalau pemilu dibicarakan oleh warga negara Australia, maka pengumuman budget nasional menjadi perhatian warga negara Australia dan pemegang visa penduduk Australia atau semua orang dewasa yang tinggal di Australia. Budget Australia mencakup banyak hal, misalnya kebijaksanaan moneter tunjangan pengangguran, sosial, kesehatan, pendidikan, perpajakan, anggaran belanja & anggaran pendapatan negara, subsidi pemerintah dan sebagainya. Efeknya bakal melanda semua orang. Pengangguran, rumah tangga, pelaku bisnis kecil maupun besar, pekerja, setengah pengangguran, penitipan anak dan seterusnya. Semua orang nasib keuangannya bakal ditentukan oleh budget pemerintah ini. Betapa tidak. Tebal tipisnya dompet orang akan dipengaruhi oleh budget yang dicanangkan pemerintah ini.

Pengumuman tentang budget ini suasananya terkesan menegangkan. Seperti menanti vonis pengadilan. Sebab budget yang dicanangkan pemerintah baru akan punya efek langsung dalam kehidupan mereka. Pergantian pemimpin penting, tapi lebih penting adalah urusan budgetnya.

Sekitar delapan bulan setelah pemilu September 2013, budget nasional Australia 2014 akhirnya diumumkan tanggal 13 Mei lalu. Beberapa hari sebelum tanggal 13, beberapa teman sekerja sudah saling menggunjingkan selintas tentang perkiraan budget yang akan dibuat oleh pemerintahan Liberal.

Rata-rata memang isinya keluhan. Spekulasi tentang budget nasional memang sudah ramai dibicarakan di TV dan media massa. Jadi kira-kira ada gambaran budget mana saja yang bakal paling mempengaruhi uang di dompet.

Seorang teman bercerita tentang wawancara sebuah stasiun TV dengan seorang wanita muda ibu rumah tangga yang kerja paruh waktu yang semalam dilihatnya.

“Gaji $150 ribu per tahun kok masih mengeluh tentang bagaimana bisa nyicil rumahnya, mobilnya, baju anak-anaknya. Get alive,” begitu sungut teman sekerja yang aslinya Inggris.

Ia membandingkan beaya hidup di Inggris yang jauh lebih mahal. Gajinya juga nggak segede itu. Tapi ia nampak biasa dan selalu cerah wajahnya.

“She doesn’t know the hardship,” tambahnya lagi.

Budget pemerintah Australia kali ini memang mendapat kritikan pedas di sana-sini. Banyak kalangan bersifat pesimis dengan pemerintahan Tony Abbott. Yang paling tajam dikritik adalah pemotongan subsidi pendidikan di universitas dan besarnya angka pengangguran. Abbott berencana mengatur kembali tunjangan pengangguran yang saat ini sudah amat minim dan menyengsarakan para penganggur. Abbot melakukan pengikatan ikat pinggang sekerasnya untuk menekan budget pengeluaran pemerintah. Malah ada rencana untuk menaikkan usia pensiun menjadi 70 tahun yang mengundang kontroversi tajam.

Hidup di negara liberal sebenarnya tidaklah liberal betul. Negara yang katanya makmur dan sejahtera rakyatnya sebenarnya tidak juga. Jika orang menganggur bisa amat tergantung sekali dengan uluran bantuan pemerintah. Jika tak ada tunjangan dari pemerintah, seorang penganggur bisa mati di jalan atau jadi zombie. Tunjangan yang diberikan pemerintah kadang tak cukup meski untuk hidup miskin dan sub standar. Banyak penganggur jadi terisolasi dan teralienasi secara sosial. Bahkan ada yang terpaksa jadi pengemis di jalan. Menjadi penganggur di Australia memang amat memprihatinkan. Bisa stress berat karena harga diri makin tergoroti.

Lain halnya di Indonesia. Seorang penganggur masih bisa bergaul secara sosial dengan baik dan bisa makan layak karena sifat masyarakat kita lebih sosial. Masyarakat tidak tergantung pada pemerintahnya. Bahkan masyarakat seolah bisa hidup tanpa pemerintahnya. Masyarakat menikmati kebebasan pribadinya karena adanya jaringan sosial yang masih berfungsi dengan baik. Kalau dibanding dengan keadaan di Australia, sungguh amat beruntung sekali dengan keadaan di negara kita yang masih suka saling tolong itu. Masih bisa makan enak meski di warung kaki lima.

Masyarakat di negara makmur dan liberal sebenarnya tidak bisa seliberal sebagaimana kita bayangkan. Masyarakat amat tergantung sekali dengan kebijaksanaan pemerintah. Begitu pemerintah membuat aturan, masyarakat tak bisa berkutik banyak selain tetap bekerja dengan gaji yang naiknya tak seberapa bila dibanding tingkat inflasi tiap tahunnya. Selama bisa kerja, tingkat stress bisa dikurangi. Tapi sekali menganggur akibatnya bisa fatal. Bisa kehilangan rumah dan bahkan keluarga jadi berantakan. Jaringan sosial tak akan bisa menyelamatkan.

Untuk itulah, orang barat keranjingan kerja keras. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk pensiun. Jaga-jaga bila suatu saat jadi penganggur. Masyarakat di negara maju seolah hidupnya memang dipaksa untuk bekerja. Fasilitas memang tersedia secara terbuka dan berjalan baik sistemnya. Tapi begitu masuk dunia kerja, orang bakal terjerat pada lingkaran tanpa henti ini. Seumur hidup waktunya secara monoton dan rutin untuk kerja dan kerja. Time is money, mate!

Makanya, di Australia gegap gempita politik tidak berhenti di pemilu dan terpilihnya kepala negara mereka. Masyarakat dengan was-was menanti datangnya pengumuman budget pemerintah terpilih. Budget pemerintah Australia kali ini dipandang sebagai masyarakat sebagai gelas kosong terisi separo. Dan tidak lagi gelas berisi penuh separo.

Rakyat tetap rakyat.  Kembali pada realitas kehidupan sehari-hari. Yang dulu pendukung musuhnya kini jadi bosnya di tempat kerja. Yang dulu berseberangan mendukung, kini perlu tenaganya untuk menjalankan usahanya agar uang tetap mengalir. Kita semua sesama rakyat tetap mengais rejeki dan perlu saling bantu. Rakyat pada akhirnya tetap tersita perhatiannya dan mikir tentang apa yang terhidang di meja makan untuk keluarganya dan berapa lembar uang tersisa di dompet.

Siapapun yang terpilih tetap akan memberlakukan kebijaksanaan pada semuanya sama rata dan yang penting menguntungkan kekuasaannya. Dimanapun pemerintah selalu begitu. Masih untung bila masih mau mendengarkan suara dan keluhan rakyatnya. Masih untung pemerintahnya mau menyediakan ruang-ruang umum, taman luas dan danau rekreasi hijau rimbun untuk hiburan rakyat sehabis kerja seharian. Untuk sekedar melepas penat dan kejenuhan bersama keluarga yang dicintainya tanpa mikir berapa pajak yang telah terbayarkan. Masih untung pemerintahnya mau mengucapkan terimakasih pada rakyat atas kerja kerasnya.*** (HBS)


Leave a comment

Arti Pilpres bagi Warga Indonesia di Luar Negeri

BARU pada pemilu tahun 2014 inilah saya merasa begitu optimis dengan kehidupan politik Indonesia. Selama puluhan tahun tinggal di luar negeri, kehidupan politik di tanah air tidak semeriah ini. Masyarakat di luar negeri tidak begitu dengan seksama memperhatikan kehidupan politik jika tidak ada gejolak penting dan disiarkan oleh media lokal di luar negeri. Begitu menurut pengamatan penulis.

Di Australia, ada tv lokal yang menyiarkan warta berita TVRI setiap hari. Tv SBS memang menyiarkan warta berita untuk berbagai komunitas yang ada di Australia dan salah satunya untuk komunitas Indonesia. Tayangan cuma berdurasi selama 30 menit untuk masing-masing komunitas memang terkesan amat singkat. Saya pernah rajin mengikutinya. Tapi ketika berita lebih banyak diisi oleh kunjungan pejabat atau peresmian proyek, berita itu jadi membosankan. Radio komunitas yang berbahasa Indonesia juga ada. Bahkan siaran radio ini lebih menarik. Karena tidak melulu menyiarkan acaranya para pejabat di Indonesia.

Dulu belum ada internet atau mobile phone. Berita-berita tentang tanah air tidak bisa diikuti seperti beberapa tahun terakhir. Sebelum adanya internet, untuk mengikuti berita tanah air harus beli koran atau majalah Indonesia di toko Indonesia yang jauhnya minta ampun dari rumah. Tapi dengan senang hati hampir setiap minggu melakukan perjalanan hampir satu setengah jam pulang pergi untuk membeli majalah berita Tempo atau Gatra dan sisa-sisa koran lama yang belum terjual. Koran bekas beberapa hari masih seharga dengan yang baru, karena lamanya jangka waktu pengiriman dan langkanya ketersediaan koran.

Ketika presiden Soeharto digulingkan, berita dari tanah air cukup ramai. Koran dan majalah harus berebut. Sering bikin kecele karena persediaan koran sudah habis. Majalah berita yang biasanya selalu tersisa satu atau dua setelah seminggu terbit, kini sudah ludas begitu datang. Pada waktu itu saya menaruh harapan besar akan terjadi perubahan politik dan kenegaraan di Indonesia. Dan saya kira hal ini juga menjadi harapan warga Indonesia lainnya.

Pemilu tahun ini, karena sudah ada internet broadband untuk mengikuti berita tanah air tidak harus bersusah payah berkendara ke toko Indonesia untuk beli koran atau majalah yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer itu. Kini tinggal menghidupkan komputer dan tekan tombol sana-sini bisa dapat berita lengkap yang dicari. Betapa bermanfaatnya internet dan kabel broadband ini. Salah satu teknologi yang benar-benar membawa kenyamanan dan kwalitas bagi hidup kemanusiaan.

Meski sudah ada internet broadband, tidak sendirinya orang senang mengikuti berita-berita tanah air. Karena banyak hal bisa ditemukan di internet. Dan lagi, menurut teori komunikasi tentang berita yang menarik adalah karena adanya unsur kedekatan. Ketika berada di rantau, kejadian di tanah air terasa begitu jauh. Tak perlulah mengikutinya. Karena dampak dari berita itu juga tak akan dirasakan. Bersilancar di dunia internet hanya untuk mengikuti berita lokal di Australia. Karena setelah presiden Soeharto dilengserkan, ternyata keadaan makin amburadul dan bikin stress sendiri kalau mengikuti beritanya.

Lain halnya dengan berita pilpress tahun ini. Penulis begitu rajin mengikuti berita tanah air. Jadi teringat saat dulu harus bersusah payah berangkat sepagi mungkin pada saat hari libur kerja untuk nyetir puluhan kilometer hanya untuk beli koran dan majalah berita.

Ketika beli koran atau majalah, berita seperti sudah dipaket oleh redaksi. Tidak bisa keluar dari apa yang tertulis di koran atau majalah. Kalau baca berita lain sejenis harus beli koran atau majalah lain. Begitu koran atau majalah terbaca habis, rasa ingin tahu itu secara otomatis berhenti. Tak bisa diteruskan. Terasa sudah lega. Paling tidak untuk hari itu. Kemudian bisa meneruskan aktivitas berikutnya tanpa terganggu.

Setelah ada broadband internet, berita itu tidak dipaket lagi. Sebuah berita diikuti oleh tautan berita-berita lainnya. Tak ada habisnya kalau mau mengikuti. Tidak hanya yang tertulis, tapi juga yang visual. Banyak berita juga bisa diikuti lewat internet TV dan video youtube. Kadang bisa seharian baca berita dan nonton youtube tentang Indonesia.

Rasa penasaran tak pernah habis. Harapan besar ada di depan dengan pilpress tahun ini. Hampir di semua lapis kehidupan di Indonesia sepertinya menunjang untuk sebuah perubahan menuju Indonesia masuk tahapan baru. Semua saling melengkapi untuk menggiring Indonesia menuju sebuah tatanan yang diharapkan oleh banyak warga Indonesia.

Tidak berlebihan jika gegap gempitanya perubahan itu dipercikkan oleh figur Jokowi dan Ahok. Fenomena yang dibawa Jokowi dan Ahok adalah fenomena baru yang harus lahir oleh keadaan di Indonesia. Era reformasi selama satu dekade sudah cukup masak untuk dipetik dan disemaikan bijih yang baru.

Yang paling membuat terusiknya pemikiran penulis adalah terciptanya keadaan-keadaan yang sepertinya secara alamiah menggiring pada terciptanya tatanan baru bagi Indonesia. Sebuah kekuatan alam – yang secara pelan tanpa disadari banyak orang, mengarahkan masyarakat Indonesia ke era baru kehidupan bernegara bangsa Indonesia. Segala sesuatu yang terjadi secara bersama-sama seolah mengikuti skenario alam yang memang diciptakan bagi perubahan di Indonesia. Begitu menurut pemikiran penulis.

Ada tiga hal yang menurut penulis cukup mengesankan dengan apa yang terjadi di Indonesia dan mungkin akan menentukan jalannya kehidupan bernegara dan berpolitik di Indonesia di masa depan. Yakni reformasi yang mematangkan wacana masyarakat, perubahan corak koalisi politik dan cairnya dukungan militer dalam politik.

Reformasi

Dalam era reformasi telah kita kenyam kebebasan dalam bentuknya yang mendekati keliaran tanpa pagar. Kita sudah mengalami bebasnya perdagangan film porno yang waktu itu pernah dipasarkan secara terbuka di pinggir-pinggir jalan. Tak ada negara di manapun yang menjual dvd dan vcd porno demikian terbuka di depan umum sebagaimana terjadi di Indonesia. Diikuti oleh kasus-kasus video porno menyeruak yang dilakukan bintang film, pejabat dan mahasiswa. Hingga anak SMP juga bikin video porno. Anak SMP jadi mucikari. Penelitian yang menyebut bahwa banyak pelajar SMP sudah tak perawan dan seterusnya. Moralitas seks seolah tak terbendung dan liar.

Kebebasan mengemukakan pendapat sudah sampai sedemikian rupa hingga batas-batas yang tidak masuk akal bagi negara-negara liberal sekalipun. Kebebasan ekspresi keagamaan demikian juga. Kerusuhan sosial berbasis agama terjadi di banyak tempat. Ekspresi yang bersifat SARA meski dilarang, tapi demikian bebas berkeliaran di internet. Korupsi sudah pada level hingga orang sudah tidak merasa malu lagi melakukan dengan terbuka.

Dan banyak lagi aspek kehidupan yang semuanya telah mengerucut dalam pemahaman kehidupan berdemokrasi. Masyarakat Indonesia sudah mengecap dan merasakan bagaimana kehidupan demokrasi dalam bentuknya yang paling liar. Budaya masyarakat sudah mengarah pada budaya ngerti dewe tanpa campur tangan pemerintah. Dan kini saatnya untuk direm lajunya. Keadaan yang sudah matang ini harus segera dimanfaatkan sebelum membusuk. Dan pilpres tahun ini adalah saatnya untuk memetik buah demokrasi yang matang itu. Tidak bisa dielakkan bahwa pemerintahan yang akan datang harus berterimakasih pada pemerintahan SBY yang telah mematangkan keadaan selama ini.

Koalisi Politik

Dalam sejarah perpolitikan modern di Indonesia, belum pernah terjadi koalisi politik berjalan demikian cair. Partai politik meluber karena dukungan masing-masing simpatisan politik berbeda karena alasan masing-masing pribadi. Pada masa Orba, simpatisan politik lebih banyak berdasar pada keterpaksaan. Aspirasi politik menyelaraskan dengan korps kerja dan bukan melulu atas pilihan pribadi. Pegawai negeri harus ikut Golkar untuk sekedar contoh.

Koalisi politik yang dimotori PDIP kini lebih cair dan menyerahkan pada masing-masing individu untuk mengikuti aspirasi politiknya. Koalisi ramping lawan koalisi gendut, itu istilah yang kini populer. Suatu koalisi yang tidak pakai iming-iming bagi-bagi kursi jabatan. Koalisi berdasar pada profesionalisme, kualitas dan aspirasi. Koalisi yang memungkinkan relatif lebih mudah dibina untuk menemukan kesepakatan. Ramping dan punya daya tembus yang meruncing.

Koalisi tanpa syarat yang ditawarkan PDIP ini membawa angin segar pada kehidupuan politik dan bernegara di Indonesia. Sebuah terobosan baru yang patut dicatat dalam sejarah politik Indonesia. Koalisi yang mendorong orang untuk keluar dari tradisi lama yang sudah melembaga mengungkungnya. Koalisi yang memberi kesempatan orang untuk mengekspresikan aspirasi politik pribadinya dengan lebih leluasa.

Dengan terpecah-pecahnya partai Golkar – partai yang selama tiga puluh tahun mendominasi kehidupan politik di Indonesia, mengisyaratkan akan terjadinya kebebasan individu dalam mengekspresikan aspirasi politiknya dalam memilih sebuah partai politik yang dianggap bisa menampungnya. Tidak saja Golkar, tapi juga partai-partai politik lainnya mengalami perpecahan pendukungnya. Primordialisme kepartaian mulai terkikis pelan-pelan.

Jika aspirasi politik individu menemukan pilihan wadahnya yang tepat, dengan sendirinya kualitas partai politik akan meningkat mutunya. Dedikasi dan loyalitas pendukungnya lebih tertata. Perjuangan ideologi dan identitas kepartaian bisa lebih menukik dan solid. Aspirasi rakyat lebih memungkinkan untuk diaktualisasikan oleh partai politik yang menjadi saluran pilihannya.

Dukungan Militer

Hal ketiga yang cukup penting menurut penulis adalah cairnya dukungan militer pada partai politik. Meski hal ini masih perlu diamati lebih jauh, namun perbedaan pendapat dari pihak militer dalam mendukung capres mensinyalkan cairnya dukungan ini.

Militer memang seharusnya netral dan tidak terlibat dalam politik. Karena hanya militerlah yang punya kekuatan dan peralatan persenjataan. Jika militer berpihak, maka kekuatan partai politik menjadi tidak berimbang dan bisa mengancam kehidupan demokrasi. Civil supremacy harus dihargai agar kehidupan demokrasi kenegaraan bisa sehat. Sehingga artikulasi kepentingan dan aspirasi rakyat bisa tersalurkan dengan baik.

Cairnya dukungan militer pada partai politik membawa angin segar pada dunia perpolitikan Indonesia. Diharapkan dalam pemerintahan mendatang peranan militer termasuk peranan purnawirawan dalam politik secara berangsur bisa ditiadakan. Militer kembali ke barak dan lebih fokus pada pertahanan negara. Dan para purnawirawan kembali menjadi rakyat sipil menikmati masa pensiun dengan tenang tanpa terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Harapan

Sebagai warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, tidak banyak berharap akan terjadi perubahan kehidupan politik dan bernegara di Indonesia. Karena apapun perubahannya, tidak bisa dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Siapapun presiden terpilih, tidak merubah nasib warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri secara langsung. Bisa amat beda dengan apa yang dirasakan oleh warga negara yang tinggal di Indonesia.

Karena tinggal berjarak ribuan kilometer dari Indonesia, warga negara di luar negeri bisa mengamati Indonesia lebih obyektif. Mengamati kehidupan politik Indonesia sambil berharap para politisi dan masyarakat tidak melakukan kesalahan. Kesalahan yang berulang-ulang dilakukan hanya karena tujuan jangka pendek, ambisi pribadi atau kepentingan kelompoknya. Melupakan tujuan jangka panjang dan dan pemikiran yang lebih meluas. Bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kita semua. Harus ada usaha kerjasama dalam hal ini. Tidak memberi angin inspirasi yang membawa keterpecahan. Harus ada usaha dan kesadaran bersama sebagai satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air.

Kadang amat menyayangkan ketika mendapati pemerintah tidak bersungguh-sungguh memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Indonesia amat kaya dengan sumber alam dan sumber daya manusia. Jika pemerintah bekerja keras dan ada political will untuk merendahkan dirinya di hadapan rakyat, Indonesia bisa menjadi bangsa yang hebat di dunia. Kesejahteraan rakyat bisa dijamin untuk jangka teramat panjang. Indonesia tidak akan bangkrut dalam mensejahterakan rakyatnya. Karena tonggak dan batu pun jadi tanaman. Lautan pun bisa jadi kolam susu. Itu lagunya Koesplus yang tidak mengada-ada. Itulah faktanya.*** (HBS)


Leave a comment

Gumaman Politik Orang Pinggir Jalan

Dari dulu saya tidak pernah tertarik pada politik. Politik kuanggap main politik. Main politik berarti main sandiwara. Kadang cenderung main tipu. Belum lagi peringatan sesepuh desaku. Jangan main politik-politikan. Dapat manfaat apa? Ora melu opo-opo iso kena tlutuhe. Kuliah wae sing bener. Politik ora marai warek. Begitu kata sesepuh di kampungku.

Tapi aku kuliah di fakultas politik. Sebuah keputusan yang tidak aku rencanakan. Pada saat kuliah itulah aku kenal sedikit gerakan politik mahasiswa. Sempat mondar-mandir sebagai pengamat. Senang lihat diskusinya. Senang bergaul dengan mahasiswa aktivis politik di luar kampusku. Tapi tidak tertarik ikut nimbrung masuk kader. Tawaran kaderisasi selalu kuabaikan. Karena ingat pesan sesepuh kampungku untuk hati-hati bila terjun ke politik.

Setelah mengamati para mahasiswa aktivis politik itu, makin aku yakin bahwa politik memang kerjaan orang yang suka molitiki orang lain. Tidak kudapat gambaran konsistensi kebenaran dari tingkah laku politik mereka. Yang ada malah debat berkepanjangan dan jarang menemukan titik temu. Apalagi diwejawantahkan dalam tindakan. Semua hanya di udara. Main intrik, main tikai, main kata-kata.

Tapi ada yang bisa aku petik dari keterlibatanku itu. Mengamati cara berdiskusi dan mengemukakan pendapat. Sumber-sumber bacaan yang bisa bikin dada bergetar. Sitiran-sitiran ahli sosial dan politik orang ternama. Sikap-sikap nasionalisme yang seolah tak kehabisan sumber. Politik praktis pada tataran adu teori inilah yang membuatku tertarik dengan ritme kehidupan politik. Selebihnya tak tertarik. Apalagi jika paham itu dikontak-kontakkan dalam sebuah organisasi aliran politik berdasar ideologinya. Aku lebih tertarik mempelajari politik dari segi teori secara umum. Tidak tertarik pada aplikasinya. Aku tak mau terjerumus dalam dunia pengkotak-kotakkan itu.

Akhirnya dunia politik mahasiswa itu aku tinggalkan. Lebih tertarik mengikuti kegiatan di luar kampus yang bersinggungan dengan kebudayaan dan kesenian. Di sinilah aku menemukan dunia keindahan. Kebudayaan dan kesenian lebih menyentuh kejiwaan manusia. Inilah dasar dari segala tingkah laku manusia berasal. Termasuk politik. Kebudayaan memberiku gambaran lebih utuh dalam mengamati kehidupan. Juga kehidupan politik. Politik hanya lapis kulit luar saja dari sebuah kebudayaan. Dengan memahami kebudayaan bisa lebih terang dalam memahami tingkah laku politik di kehidupan sosial.

“Bacalah banyak-banyak buku kebudayaan agar kau makin beradab,” begitu kata salah seorang dosen di kampusku. Kata-katanya itu aku ingat betul. Kata-kata yang diucapkan dengan nada sinis oleh dosenku saat kuliah Komunikasi Politik. Saat itu ia membicarakan perilaku politisi di Indonesia.

Mungkin perkataan dosen itu ditertawakan oleh mahasiswanya. Tidak mengerti maksudnya. Termasuk aku.

Ketika makin terlibat dalam kegiatan kebudayaan dan kesenian, aku makin mengerti apa maksud perkataan dosen itu. Mempelajari kebudayaan memang bisa membuat manusia makin beradab. Kesenian memperindahnya. Manusia yang tahu kebudayaan dan kesenian akan bisa lebih baik dalam memahami kehidupan dunia praktis keseharian. Memandang manusia lebih egaliter. Memahami manusia lebih manusia. Tidak berlebihan jika aku simpulkan bahwa kebudayaan dan kesenian bisa memanusiakan manusia.

Lain sekali dengan politik. Politik bagiku menghewankan manusia. Tujuan praktis mencapai kekuasaan kadang dicapai dengan menuruti naluri terendah dari manusia itu sendiri. Apapun latar belakang ideologi politiknya. Politik memandang manusia lain dari jubahnya. Dari kulit luarnya. Dari kotaknya. Dari benderanya. Menutup mata dengan hakekat sebenarnya dibalik semua itu. Bahwa kita sama-sama manusia. Politik memandang manusia lain sebagai obyek yang perlu dikuasai. Jarang dipandang secara egaliter. Karena akan meniadakan dan memandulkan politik itu sendiri.

Memperebutkan kekuasaan memang sudah tua sejarahnya di kehidupan manusia. Manusia tak bisa mengelak dari hal ini. Karena dengan pegang kekuasaan, “kekacauan” sistem sosial bisa dibenahi agar “lebih baik”. Yang salah diluruskan. Yang benar dilanjutkan. Yang tertindas dimerdekakan. Yang miskin disejahterakan. Yang korup dikucilkan. Meski harga dari perebutan kekuasaan itu melebihi dari harga yang diperjuangkan. Bahkan manusia mengorbankan milik pribadi satu-satunya yang paling berharga. Nyawanya.

“Berpolitiklah yang santun,” itu kata orang-orang yang berdiri di pinggiran jalan. Kata-kata itu tidak diumpatkan atau diteriakkan. Lebih pas sebagai gumaman.

Bagi orang pinggir jalan, kebenaran tak perlu diteriakkan. Kebenaran akan tetap sebagai kebenaran meski orang lain tak bisa melihat atau mendengarnya. Kesalahan tak mungkin menjelma menjadi kebenaran hanya karena dicangkokkan pada kebenaran-kebenaran lain. Kebenaran meski hanya digumamkan, tapi tetap akan mengalir dalam keabadian. Jika orang berkata benar, ia tak perlu mengingatnya kembali. Sampai kemudian ada orang lain yang menemukannya. Kebenaran itu akan tetap dalam wujudnya yang utuh.*** (HBS)


Leave a comment

Dibuka Lowongan Kerja Presiden RI

jokowi presiden, attitude positif, karakter presiden

Lowongan kerja dibutuhkan tenaga yang punya attitude dan karakter positif.

MENYELEKSI kandidat pekerja untuk lowongan kerja baru bisa amat pelik penuh liku. Pelamarnya bisa lebih dari sepuluh hanya untuk satu posisi kerja yang ditawarkan. Pilihan kandidat pada tahab awal disaring dari resume yang dikirim tentang latar belakang pengalaman kerjanya. Pada tahab ini relatif mudah. Tinggal mencoret pelamar yang tidak mempunyai pengalaman kerja cukup. Alasannya sederhana, tanpa pengalaman cukup akan sulit bisa diharapkan bisa bekerja sesuai standard. Waktu untuk mentraining guna mempersiapkan pekerjaan yang akan dilakukan bisa makan waktu cukup lama. Makin tinggi posisi makin mustahil untuk menerima pelamar dengan minim pengalaman. Makin tinggi posisi, makin diperlukan pengalaman matang.

Tapi kadang kalau terlalu pengalaman, kita juga ragu untuk tidak mencoretnya. Pekerja yang punya pengalaman melebihi dari posisi yang ditawarkan secara teori berpotensial untuk tidak bisa tahan lama. Atau kadang malah mempersulit atasannya karena merasa punya pengalaman lebih. Bahkan pelamar dengan kualifikasi pengalaman lebih biasanya rewel. Mengkritik sana-sini membuat tempat kerja jadi tidak nyaman. Ibaratnya seperti naik kapal. Pekerja baru itu akan menggoyang kapal terlalu keras. Bisa-bisa membuat kapalnya tenggelem. “Don’t shake the boat too hard,” begitu orang Australia akan memperingatkan jika ada seorang pekerja yang suka bikin ulah.

Maka pilihan terbaik adalah mencari seorang yang punya pengalaman “cukup” dan sesuai dengan posisi pekerjaan yang ditawarkan. Definisi “cukup” itu kadang diterjemahkan secara subyektif. Kadang bisa setahun pengalaman, kadang bisa juga cukup beberapa bulan. Atau bahkan cuma sekedar pernah mengecamnya tanpa ukuran waktu yang pasti. Tergantung posisi yang ditawarkan. Untuk posisi pekerja di garis bawah, pengalaman kerja tidaklah begitu dituntut yang tinggi-tinggi.

Jika kandidat sudah ditentukan, tahab berikutnya adalah wawancara. Banyak teknik dikembangkan dalam melakukan wawancara ini guna menyaring kandidat yang pas. Pengalaman dan penguasaan teknik wawancara amat diperlukan dan penting bagi seorang pewawancara untuk menghindari salah pilih karena adanya kebenaran yang disembunyikan atau dipalsukan dalam resume kandidat yang diwawancarai. Untuk itulah, biasanya dilakukan oleh orang yang kompeten dari departemen human resourse. Dan wawancara biasanya didampingi oleh orang lain. Biasanya kepala departemen yang membuka lowongan kerja agar ia bisa ikut menentukan calon pas karyawan barunya.

Jika kandidat yang melamar punya kualifikasi merata, makin sulitlah untuk memutuskan kandidat-kandidat mana yang cocok sesuai apa yang dibutuhkan perusahaan. Biasanya wawancara akan dilakukan lebih dari sekali untuk memastikan ketepatan penilaian kandidat.

Dalam posisi kritis inilah, kadang penilaian bisa amat subyektif. Karena semua syarat administrasi sudah terpenuhi, maka penilaian berikutnya bisa saja “hanya” berdasar selera pribadi si pewawancara. Penilaian pribadi ini tergantung dari orangnya. Jika pewawancara bisa berpikir rasional, maka ukuran-ukuran penilaian sedikit banyak bisa lebih logis.

Tapi bisa juga pewawancara memutuskan untuk memilih seorang kandidat karena alasan-alasan sederhana. Misalnya karena suka cara berdandannya, suka bentuk fisiknya, suka keramahannya, suka dengan obrolannya, suka cara duduknya, suka kesopanannya, suka karena terkesan ia gampang diatur, suka ketegasannya dan sebagainya. Kadang seorang kandidat gagal mendapatkan posisi hanya karena ia terkesan arogan. Atau sebaliknya terkesan tidak menunjukkan kemauan kerasnya, tidak tegas, tidak bisa memutuskan dengan cepat, lamban cara berpikirnya dan seterusnya. Penilaian lebih mengarah pada kualitas psikologi atau kepribadian kandidat.

Pengetahuan tentang pribadi para kandidat disimpulkan dalam waktu singkat saat wawancara muka ke muka. Tidak mungkin bisa mengenal pribadi para kandidat dalam sekali atau dua kali wawancara saja. Sementara keputusan harus diambil secepatnya.

Karena pendeknya waktu yang diperoleh, bisa mengakibatkan salah kesimpulan jika tidak hati-hati. Kandidat yang nampak kurang tegas, mungkin saja karena cara berpikirnya lebih dalam. Penuh pertimbangan dan hati-hati dalam memutuskan. Orang yang nampak tegas dalam wawancara belum tentu bisa tegas jika dihadapkan pada persoalan nyata di depannya. Karena berbagai aspek perlu dipertimbangkan sebelum melahirkan keputusan yang efektif, adil dan memuaskan banyak pihak. Kalau asal tegas, semua orang hampir pasti bisa melakukannya. Tapi masalahnya adalah, ketegasan yang membabi buta tidak cocok lagi dalam budaya kerja yang demokratis dan egaliter.

Pentingnya Attitude

Setuju sekali dengan kata-kata mutiara ini: “For success, attitude is equally as important as ability.” – Walter Scott. Pengalaman kerja atau kualitas formal lainnya sama pentingnya dengan attitude atau sikap mental seseorang. Pengalaman kerja atau kemampuannya bisa saja amat mengesankan, tapi tanpa sikap mental pas, kualitas itu tidak banyak faedahnya. Karena pengalaman kerjanya yang prima, orang bisa gegabah, besar kepala, congkak, main kritik dan seterusnya. Perusahaan akan kesulitan mengatur orang-orang yang tidak punya sikap mental pas. Perusahaan memerlukan karyawan yang bisa bekerja sama dan saling melengkapi untuk mengejar target yang ditentukan perusahaan. Diperlukan karyawan yang bisa bekerja sebagai team. Kualitas formal individu bisa tak ada harganya jika tidak didukung oleh teamnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita pernah mendengar keluhan orang di sekitar kita tentang saudara mereka sendiri jika diserahi sebuah tanggung jawab. Karena tabiat, sikap mental atau karakter dari orang lain itu melebihi saudaranya sendiri. Aliran darah bukan ukuran untuk menyerah-terimakan sebuah tanggung jawab. Hubungan sedarah bisa saja jauh lebih menjengkelkan dibanding dengan hubungan dengan orang lain yang telah membuktikan bahwa ia punya attitude atau sikap yang baik dalam menghadapi sebuah masalah.

“Kadang tetangga atau teman malah lebih baik dari keluarga sendiri,” itu kata beberapa orang karena merasa kecewa dengan saudaranya sendiri dalam masalah tertentu dalam keluarga. Pada saat inilah seseorang menilai orang lain berdasar pada hal-hal yang tidak formal. Pendidikan, pengalaman kerja atau ketrampilan menjadi tidak relevan.

Attitude yang benar akan membuka pintu-pintu kesempatan dimana pendidikan tinggi gagal menembusnya. Itu kata pepatah. Kesuksesan lebih banyak disebabkan oleh masalah sederhana ini yakni attitude. Sikap mental positif menentukan cara pandang orang dalam menghadapi problema di depannya. Problem sama akan dihadapi beda dan menghasilkan keputusan beda karena selisih sedikit saja dalam perbedaan attitudenya.

Jika dua orang pelamar punya pengalaman kerja sama dan tingkat pendidikan setara, kita akan cenderung memilih orang yang punya sikap baik. Attitudenya dalam menghadapi persoalan dilakukan secara positif. Karena attitude sifatnya lebih psikologis – menyangkut perasaan, kepercayaan akan sikapnya, prinsip hidup, tingkah laku dan sebagainya, maka tidak bisa dipelajari atau ditiru dengan mudah oleh orang lain. Sebuah pandangan dan sikap hidup yang sudah terinternalisasi dalam kepribadian seseorang.

Pengalaman kerja, pendidikan, ketrampilan kerja dan sebagainya yang bersifat formal bisa dipelajari. Bisa saja butuh waktu untuk menguasainya, tapi setiap orang bisa mempelajari sebuah pengalaman kerja, pendidikan, ketrampilan yang sifatnya formal asal diberi kesempatan dan ada kemauan untuk belajar. Jadi bukan harga mati dan tertutup kemungkinannya bagi seseorang. Lain halnya dengan attitude yang tidak bisa didapat dari bangku sekolah atau pendidikan formal, tapi dari bangku kehidupan. Attitude seseorang relatif stabil dalam jangka panjang. Apalagi jika attitude itu telah teruji dan terbukti di lapangan. Karena untuk menilai attitude seseorang sebenarnya tidak diperlukan waktu lama kalau orangnya jeli dalam melakukan penilaian. Cukup diamati tindakan, sikap, pendapat dan perasaannya selintas saja dalam beberapa masalah sosial terdekat. Seseorang yang punya attitude positif biasanya punya karakter positif pula. Dan cenderung punya integritas cukup baik.

Seorang teman di tempat kerja bilang, “Saya tak keberatan menerima karyawan tanpa pengalaman kerja sekalipun asal dia menunjukkan sikap positif dan ada kemauan untuk belajar. Bahkan saya lebih suka yang jenis begini. Karena saya bisa mentrainingnya sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan. Ibaratnya, karena dia masih berupa tanah liat lunak yang belum berbentuk, saya bisa mencetaknya sesuai dengan budaya perusahaan. Ia bisa menjadi aset positif bagi perusahaan nantinya.”*** (HBS)