herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Misi dan Visi Presiden Jokowi: Revolusi Mental Bangsa Indonesia

1 Comment

nenun, kerajinan tenun, bekerja di usia tua

Bekerja sampai renta. (Foto: Herry B Sancoko)

Menarik sekali ucapan Jokowi saat diwawancarai oleh Metro TV tentang visi dan misinya jika kelak jadi presiden. Gebrakan-gebrakan Jokowi ternyata tak berhenti cuma saat menjadi walikota dan gubernur, tapi akan diteruskan saat jika ia menjadi presiden RI kelak (sumber).

Dalam wawancara itu Jokowi bilang bahwa ia hendak merubah mentalitas rakyat Indonesia dari negatif ke positif. Visi dan misi Jokowi adalah ingin merevolusi mindset rakyat Indonesia agar lebih positif dalam melihat masa depan bangsa. Bangsa Indonesia punya semua potensi. Termasuk potensi sumber daya manusia dan alamnya. Negara Indonesia adalah negara besar. Rakyat Indonesia harus disiapkan mentalnya untuk menjadi bangsa yang besar di masa depan.

Jokowi mengatakan bahwa masalah pemilihan capres atau cawapres bukan masalah sepele, tapi masalah yang menyangkut 240 juta rakyat Indonesia. Jokowi akan menguraikan misi dan visinya pada saat tepat, jika ia memang terpilih jadi presiden. Jika Jokowi benar-benar menjadi presiden, rasanya sudah tidak sabar menanti gebrakan-gebrakan yang akan ia lakukan.

Membicarakan masalah masa depan bukan persoalan sederhana. Demikian juga dengan perubahan sikap negatif menjadi positif perlu kerja keras dan waktu panjang. Perombakan budaya menyeluruh mungkin diperlukan. Setiap aspek kehidupan perlu dibongkar dan dibolak-balik agar bisa ditemukan akar sebenarnya dari budaya kita.

Pada saat ini, banyak orang merasa bahwa masa depan adalah masa yang tak perlu dipikir terlalu serius. Mereka menjalani hari demi hari. Masa depan adalah sebuah konsep abstrak yang terlalu jauh untuk dipahami.

Budaya kita masih dekat dengan budaya agraris. Kita memandang waktu secara circular. Waktu pasti berputar kembali sebagaimana biasa. Beda dengan budaya barat, waktu dipandang sebagai garis linear. Sekali lewat tak akan kembali lagi. Perbedaan dalam menangkap masalah konsep waktu ini melahirkan sikap budaya beda.

Meskipun orang telah merencanakan masa depannya, ia perlu juga memperhitungkan masalah-masalah lain pendukungnya. Banyak faktor akan mempengaruhi untuk selalu mempertimbangkan masa depannya. Maka, membicarakan masa depan adalah bukan kerjaan gampang bagi setiap orang.

Banyak masyarakat kita masih berada di status sosial ekonomi rendah. Maka sebelum membicarakan masa depan, pemerintah harus bisa mengangkat status sosial dan ekonomi mereka. Membantu masyarakat tersebut keluar dari lingkaran kemiskinan. Alat sosial yang paling utama bagi mereka adalah adanya jaminan kesehatan dan pendidikan. Logikanya, bagaimana bisa merencanakan masa depan jika buruk kesehatannya serta rendah pendidikannya?

Masalah kesehatan dan pendidikan adalah dua hal penting yang memakan beaya cukup besar. Rakyat miskin selama ini bekerja hanya untuk cukup dimakan. Jika mereka sakit, maka beaya untuk berobat bakal sulit terjangkau. Demikian juga dalam hal pendidikan. Beaya pendidikan tinggi makin tak terjangkau bagi masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah tersebut. Selama beaya kesehatan dan pendidikan belum terjangkau oleh mereka, maka kemungkinan untuk memutus rantai kemiskinan makin sulit. Kemelaratan akan diturunkan ke generasi berikutnya.

Jika Jokowi berhasil mengenalkan kartu Jakarta Sehat dan Jakarta Pintar, mungkinkah ia bisa mengenalkan kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar? Sayangnya, Jokowi belum bersedia menjelaskan bagaimana ia akan merevolusi mental bangsa Indonesia – dari negatif-pesimis ke positif-optimis, jika kelak ia jadi presiden. Namun pada saatnya nanti, Jokowi berjanji akan menguraikannya dengan detail.

Negativisme dan Pesimisme

Bagaimana mungkin bisa menatap secara positif masa depan jika tak ada kepastian sistemnya? Apakah sistem memberi kesempatan sama rata bagi setiap warga negara yang berhak? Jika sistem yang tercipta saat ini tidak adil, pilih kasih, maka jangan diharap orang akan punya pandangan positif dengan masa depannya. Jika perubahan struktur menyempit bahkan tertutup, jangan harap orang bisa merubah keadaannya.

Rakyat Indonesia sejak jaman Belanda sudah dianggap punya keuletan dalam menjalani hidup. Mereka hidup tanpa campur tangan pemerintahnya secara langsung dalam mengais kehidupan. Pada jaman Soekarno orang bisa hidup dengan uang seringgit?  Pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997, rakyat juga tetap bisa tersenyum menjalani hidup meski pemerintahnya bangkrut. Tidak banyak angka statistik yang mengabarkan jumlah kematian rakyat karena kelaparan. Rakyat bagaimanapun keadaan ekonomi negara, mereka tetap bisa makan. Karena keuletan dan cara pandang tentang hidup yang positif dalam menatap masa depan?

Bagaimana mungkin masyarakat Indonesia dikatakan punya mentalitas kurang positif jika daya juang hidup mereka melebihi kemampuan negara untuk mengatasinya? Atau kalau menurut Jokowi mentalitas negatif dan pesimis. Jika kita mau lebih terbuka, berapa angka tingkat pengangguran di Indonesia? Coba tengok sekeliling orang-orang sekitar Anda di kampung. Berapa generasi muda yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan susah mendapatkan pekerjaan? Mereka hidup dari pekerjaan serabutan seadaanya dan hidup. Tidak ada gejolak sosial yang meresahkan kalau tidak diprovokasi. Kalau mereka tidak punya mentalitas positif tentunya mereka sudah putus asa dan angka kriminalitas bakal melambung.

Penulis kenal dengan seorang pemuda di kampung penulis. Pemuda tersebut setelah lulus SMA punya kemauan kuat untuk kuliah. Tapi karena terbentur masalah beaya, pemuda tersebut membatalkan mimpinya untuk kuliah dan bekerja seadaanya untuk membantu orangtuanya. Pekerjaan yang dipunyai serabutan. Segala macam dikerjakan. Penghasilannya tidak tetap tiap bulannya. Namun karena berhemat, ia bisa juga membantu orangtuanya dan beli sepeda motor.

Ketika penulis bertanya pada pemuda tersebut tentang rencana masa depannya, pemuda itu nampak kebingungan. Alasan penulis bertanya adalah bagaimana mungkin ia bisa bertahan hidup jika mengandalkan gaji yang tidak tetap dan serabutan itu? Apalagi jika kelak harus membina keluarga sendiri.

Bertanya tentang masa depan pada pemuda yang punya nasib seperti itu, pastilah sedikit banyak menyinggung perasaannya. Pertanyaan tentang masa depan bisa amat menakutkan. Karena memang tidak ada yang bisa diraba. Bisa menyambung hidup dari hari ke hari itu saja sudah disyukurinya.

Ketika disarankan untuk kuliah, ternyata umurnya sudah terlalu tua beberapa tahun dari syarat usia masuk yang dicanangkan. Padahal ia termasuk pemuda cerdas kalau dilihat dari cara ngomong dan pekerjaan yang telah diselesaikannya.  Otak cerdasnya itu amat disayangkan karena kemungkinan untuk ikut kuliah lagi benar-benar sudah tertutup baginya. Apa yang bisa ia lakukan adalah kursus-kursus ketrampilan non formal. Perubahan nasib lewat pendidikan formal sudah buntu. Untuk mendapatkan gaji memadai dengan demikian sudah tertutup pula. Syarat pelamar kerja untuk saat ini minim harus lulus D3. Untuk lulusan SMA dicari lulusan yang muda. Faktor umur juga selalu menjadi persyaratan lowongan kerja di Indonesia. Bahkan ada yang mencamtumkan syarat penampilan pelamarnya. Banyak lowongan kerja di Indonesia bersifat diskriminatif. Tidak terbuka secara luas berdasar pengalaman, ketrampilan dan lain-lain yang sifatnya formal dan terukur.

Jika Jokowi hendak merombak mentalitas yang dianggapnya negatif dan pesimis, sepertinya hal paling mendasar yang perlu dibenahi adalah pembenahan semua sistem dalam seluruh aspek kehidupan di Indonesia. Tanpa pembenahan sistem secara jelas, perombakan budaya negatif bakal jalan di tempat. Bahkan bisa mengundang ketidak-puasan sosial secara luas.

nyapu, tenaga muda, pekerja serabutan

Bekerja dengan mental positif dan penuh kebanggaan. (Foto: Herry B Sancoko)

Untuk saat ini sistem pendidikan kita tidak memberi peluang bagi orang-orang yang kelewatan umurnya. Di Australia, sistem pendidikannya lebih terbuka. Perguruan tinggi masih membuka peluang bagi masyarakat berapapun usianya untuk ikut kuliah lewat persyaratan khusus yang disebut adult entry atau mature student. Maka tidak asing bagi kita jika membaca di media massa ada seorang nenek-nenek lulus perguruan tinggi. Atau seorang doktor yang pendidikan dasarnya cuma lulus SD. Perguruan tinggi membuka peluang bagi masyarakat secara setara berdasar kebutuhan, pengalaman, keahlian dan ukuran rasionil lainnya. Jadi umur bukan sebuah halangan untuk masuk perguruan tinggi. Sehingga perubahan nasib lebih memungkinkan bagi semua orang secara adil dan merata.

Dengan sistem terbuka, memungkinkan pemuda dari keluarga kurang mampu untuk bekerja dulu mengumpulkan uang kemudian bisa diputuskan untuk meneruskan ke bangku kuliah jika sudah punya cukup uang. Di Australia, pelajar SMA kelas 2 bisa dinyatakan lulus dan bisa meneruskan untuk mencari pekerjaan atau kuliah D3 yang menyaratkan lulus kelas 2 SMA sebagai syarat masuknya. Jadi untuk lulus hingga kelas 3 adalah pilihan bagi mereka yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

Itu hanya salah contoh saja dari macetnya sebuah sistem. Perubahan mentalitas rakyat menuju positif akan terjadi dengan sendirinya jika semua sistem yang melibatkan kehidupan mereka dibenahi. Efektivitas berjalannya sebuah sistem harus terus menerus dimonitor agar terjamin kepuasan masyarakat dan terbina kepercayaan dari mereka. Kepercayaan pada sistem itulah yang pada akhirnya akan membangkitkan sikap optimis dan positif pada masyarakat luas. Sistem yang bekerja dengan baik dan adil mendorong masyarakat untuk menghargai pemerintahnya dan merasa terlibat dengan kehidupan bernegara. Masyarakat yang merasa dilibatkan dalam urusan kenegaraan selanjutnya akan membangkitkan rasa nasionalisme mereka. Jika rasa nasionalisme sudah tumbuh subur, maka masa depan Indonesia dijamin pasti cemerlang sebagai bangsa besar. Ibaratnya cuma makan ketela dan pakai baju selembar bekas karung pun tidak masalah demi Indonesia. Itulah yang telah dicontohkan oleh para pahlawan revolusi kita semua, bangsa Indonesia.*** (HBS)

One thought on “Misi dan Visi Presiden Jokowi: Revolusi Mental Bangsa Indonesia

  1. Pingback: Mental Bangsa yang Mana Perlu Direvolusi, Pak Jokowi? | herrybsancoko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s