herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Kehidupan Tidak Berhenti Begitu Kepala Negara Terpilih

Leave a comment

budget australia, pilpres, stasiun kereta di sydney

Pemandangan masyarakat Australia sepulang kerja di sebuah stasiun Parramatta, Sydney Barat. Semua kena dampak budget pemerintah. (Foto: Herry B Sancoko)

PERISTIWA nasional yang paling banyak menarik perhatian masyarakat salah satunya adalah pemilu. Peristiwa ini melibatkan hampir semua warga negara. Bisa dipastikan setiap orang dewasa yang punya hak memilih pasti sedikit banyak membicarakan masalah pemilu.

Demikian juga di Indonesia. Pemilu dan pilpress adalah dua peristiwa nasional yang menjadi perhatian hampir semua orang yang punya hak pilih. Sehabis pemilu legislatif bulan kemarin, kini kita sibuk membicarakan pilpress sebulan lagi. Informasi tentang pilpress menguasai pemberitaan segala media, termasuk media sosial. Kadang bikin pengap dan sumpek.

Jika pilpress lancar dengan terpilihnya presiden, masyarakat dalam waktu singkat akan tenang lagi. Melanjutkan kegiatan sehari-hari sambil berharap ada perbaikan dalam kehidupannya. Masalah-masalah pilpres yang gegap gempita seolah tenggelam. Masalah nasional sudah jarang-jarang disinggung kembali. Demikian menurut pengalaman penulis dulu.

Lain di Australia. Meski pemilu cukup mengisi berita nasional, namun tidak segemuruh di tanah air. Setelah pemilu dan perdana menteri baru telah tertunjuk, keadaan begitu tenang seolah tidak terjadi peristiwa penting nasional. Bahkan acara-acara natal atau tahun baru jauh lebih meriah.

Masyarakat berharap agar perdana menteri yang baru tidak membuat kebijaksanaan ekonomi yang merugikan masyarakat. Mereka menanti peristiwa nasional mereka berikutnya, yakni pengumuman budget nasional.

Kalau pemilu dibicarakan oleh warga negara Australia, maka pengumuman budget nasional menjadi perhatian warga negara Australia dan pemegang visa penduduk Australia atau semua orang dewasa yang tinggal di Australia. Budget Australia mencakup banyak hal, misalnya kebijaksanaan moneter tunjangan pengangguran, sosial, kesehatan, pendidikan, perpajakan, anggaran belanja & anggaran pendapatan negara, subsidi pemerintah dan sebagainya. Efeknya bakal melanda semua orang. Pengangguran, rumah tangga, pelaku bisnis kecil maupun besar, pekerja, setengah pengangguran, penitipan anak dan seterusnya. Semua orang nasib keuangannya bakal ditentukan oleh budget pemerintah ini. Betapa tidak. Tebal tipisnya dompet orang akan dipengaruhi oleh budget yang dicanangkan pemerintah ini.

Pengumuman tentang budget ini suasananya terkesan menegangkan. Seperti menanti vonis pengadilan. Sebab budget yang dicanangkan pemerintah baru akan punya efek langsung dalam kehidupan mereka. Pergantian pemimpin penting, tapi lebih penting adalah urusan budgetnya.

Sekitar delapan bulan setelah pemilu September 2013, budget nasional Australia 2014 akhirnya diumumkan tanggal 13 Mei lalu. Beberapa hari sebelum tanggal 13, beberapa teman sekerja sudah saling menggunjingkan selintas tentang perkiraan budget yang akan dibuat oleh pemerintahan Liberal.

Rata-rata memang isinya keluhan. Spekulasi tentang budget nasional memang sudah ramai dibicarakan di TV dan media massa. Jadi kira-kira ada gambaran budget mana saja yang bakal paling mempengaruhi uang di dompet.

Seorang teman bercerita tentang wawancara sebuah stasiun TV dengan seorang wanita muda ibu rumah tangga yang kerja paruh waktu yang semalam dilihatnya.

“Gaji $150 ribu per tahun kok masih mengeluh tentang bagaimana bisa nyicil rumahnya, mobilnya, baju anak-anaknya. Get alive,” begitu sungut teman sekerja yang aslinya Inggris.

Ia membandingkan beaya hidup di Inggris yang jauh lebih mahal. Gajinya juga nggak segede itu. Tapi ia nampak biasa dan selalu cerah wajahnya.

“She doesn’t know the hardship,” tambahnya lagi.

Budget pemerintah Australia kali ini memang mendapat kritikan pedas di sana-sini. Banyak kalangan bersifat pesimis dengan pemerintahan Tony Abbott. Yang paling tajam dikritik adalah pemotongan subsidi pendidikan di universitas dan besarnya angka pengangguran. Abbott berencana mengatur kembali tunjangan pengangguran yang saat ini sudah amat minim dan menyengsarakan para penganggur. Abbot melakukan pengikatan ikat pinggang sekerasnya untuk menekan budget pengeluaran pemerintah. Malah ada rencana untuk menaikkan usia pensiun menjadi 70 tahun yang mengundang kontroversi tajam.

Hidup di negara liberal sebenarnya tidaklah liberal betul. Negara yang katanya makmur dan sejahtera rakyatnya sebenarnya tidak juga. Jika orang menganggur bisa amat tergantung sekali dengan uluran bantuan pemerintah. Jika tak ada tunjangan dari pemerintah, seorang penganggur bisa mati di jalan atau jadi zombie. Tunjangan yang diberikan pemerintah kadang tak cukup meski untuk hidup miskin dan sub standar. Banyak penganggur jadi terisolasi dan teralienasi secara sosial. Bahkan ada yang terpaksa jadi pengemis di jalan. Menjadi penganggur di Australia memang amat memprihatinkan. Bisa stress berat karena harga diri makin tergoroti.

Lain halnya di Indonesia. Seorang penganggur masih bisa bergaul secara sosial dengan baik dan bisa makan layak karena sifat masyarakat kita lebih sosial. Masyarakat tidak tergantung pada pemerintahnya. Bahkan masyarakat seolah bisa hidup tanpa pemerintahnya. Masyarakat menikmati kebebasan pribadinya karena adanya jaringan sosial yang masih berfungsi dengan baik. Kalau dibanding dengan keadaan di Australia, sungguh amat beruntung sekali dengan keadaan di negara kita yang masih suka saling tolong itu. Masih bisa makan enak meski di warung kaki lima.

Masyarakat di negara makmur dan liberal sebenarnya tidak bisa seliberal sebagaimana kita bayangkan. Masyarakat amat tergantung sekali dengan kebijaksanaan pemerintah. Begitu pemerintah membuat aturan, masyarakat tak bisa berkutik banyak selain tetap bekerja dengan gaji yang naiknya tak seberapa bila dibanding tingkat inflasi tiap tahunnya. Selama bisa kerja, tingkat stress bisa dikurangi. Tapi sekali menganggur akibatnya bisa fatal. Bisa kehilangan rumah dan bahkan keluarga jadi berantakan. Jaringan sosial tak akan bisa menyelamatkan.

Untuk itulah, orang barat keranjingan kerja keras. Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk pensiun. Jaga-jaga bila suatu saat jadi penganggur. Masyarakat di negara maju seolah hidupnya memang dipaksa untuk bekerja. Fasilitas memang tersedia secara terbuka dan berjalan baik sistemnya. Tapi begitu masuk dunia kerja, orang bakal terjerat pada lingkaran tanpa henti ini. Seumur hidup waktunya secara monoton dan rutin untuk kerja dan kerja. Time is money, mate!

Makanya, di Australia gegap gempita politik tidak berhenti di pemilu dan terpilihnya kepala negara mereka. Masyarakat dengan was-was menanti datangnya pengumuman budget pemerintah terpilih. Budget pemerintah Australia kali ini dipandang sebagai masyarakat sebagai gelas kosong terisi separo. Dan tidak lagi gelas berisi penuh separo.

Rakyat tetap rakyat.  Kembali pada realitas kehidupan sehari-hari. Yang dulu pendukung musuhnya kini jadi bosnya di tempat kerja. Yang dulu berseberangan mendukung, kini perlu tenaganya untuk menjalankan usahanya agar uang tetap mengalir. Kita semua sesama rakyat tetap mengais rejeki dan perlu saling bantu. Rakyat pada akhirnya tetap tersita perhatiannya dan mikir tentang apa yang terhidang di meja makan untuk keluarganya dan berapa lembar uang tersisa di dompet.

Siapapun yang terpilih tetap akan memberlakukan kebijaksanaan pada semuanya sama rata dan yang penting menguntungkan kekuasaannya. Dimanapun pemerintah selalu begitu. Masih untung bila masih mau mendengarkan suara dan keluhan rakyatnya. Masih untung pemerintahnya mau menyediakan ruang-ruang umum, taman luas dan danau rekreasi hijau rimbun untuk hiburan rakyat sehabis kerja seharian. Untuk sekedar melepas penat dan kejenuhan bersama keluarga yang dicintainya tanpa mikir berapa pajak yang telah terbayarkan. Masih untung pemerintahnya mau mengucapkan terimakasih pada rakyat atas kerja kerasnya.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s