herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Si Ratu Adil, Si Satria Piningit dan Si Kerempeng

1 Comment

Paman gembul

Tokoh Paman Gembul di majalah Bobo. Tokoh yang tidak asing di dunia anak-anak. Tokoh yang rakus dan mendapatkan kesulitan karena sifat rakusnya. (Sumber gambar: http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/kidnesia/cerita-kita/cergam/penemuan-istimewa/halaman-2/10049152-1-ind-ID/Halaman-2.jpg)

BAGI masyarakat Indonesia, sebutan-sebutan tersebut memang sudah biasa dilakukan. Penulis hapal benar dengan kebiasaan ini. Sejak duduk di SD hingga SMA penulis tak pernah lepas dari sebutan-sebutan ini. Dan semua itu tak jadi masalah. Malah terkesan akrab. Selama nama sebutan yang diberikan tidak mengacu pada hal-hal yang negatif. Sebutannya masih terasa netral.

Nama sebutan konotasinya memang bisa bertingkat. Mulai netral, agak nakal dan nylekit. Darso Keceng, Didik Ceking, Rudi Kribo, atau Edi Kalur adalah yang tergolong netral. Marno Kopok, Wahyu Peang, Sugeng Ngompol, Gendut Corong, Karto Bethet adalah yang tergolong agak nakal. Agus Ledeng, Hari Kecrek, Samsu Pekok, Harjo Reden adalah julukan yang agak nylekit.

Saat duduk di bangku SD, teman-teman sepermainan kadang saling berolok menyebut orangtua temannya dengan julukan-julukan. Kadang bisa membuat seorang anak marah-marah. Karena tersinggung perasaannya bila orang tua yang dihormatinya dijuluki secara tidak senonoh.

Tingkah laku anak-anak SD itu barangkali meniru orangtua mereka di kampung. Di kebudayaan Jawa, penyebutan nama seseorang dengan julukan tambahan memang sudah biasa. Ada penduduk kampung bernama pak Parto. Karena kerjanya sebagai juru pengairan di desa, pak Parto dijuluki Uceng. Maka nama terkenalnya di kampung menjadi Parto Uceng.

Sebenarnya nama tambahan itu mengacu pada jenis pekerjaan yang dipunyainya. Tapi kemudian berkembang julukan-julukan yang tidak cuma mengacu pada pekerjaan tapi juga pada hal-hal khusus pada orangnya. Misalnya Parmin Dogol, Redjo Bruwes, Kliwon Sangklir, Slamet Bejok, Simo Kebo, Sardi Penthol, Darmo Gandhul dan sebagainya. Nama julukan lebih banyak diberikan pada kaum lelaki. Namun tidak jarang juga diberikan pada seorang perempuan. Misalnya Yu mBotho, Yu Cempluk, Yu Darmi Tempe dan sebagainya.

Beberapa teman SMA menerima sebutan nama yang sebenarnya mengacu pada tindakan tidak senonoh. Sebutan itu diberikan karena orangnya suka bicara hal-hal yang tidak senonoh. Maka sebutan itu akhirnya serasa pas dan diterima oleh anak lainnya. Kadang anak lain malah tidak tahu nama asli selain julukannya. Namun ketika menjadi seorang bapak, sebutan itu sudah tidak pas lagi. Tapi karena terlanjur akrab dengan sebutan itu, pada saat reuni beberapa teman masih memanggilnya dengan sebutan saat SMA. Beberapa teman punya kesadaran dengan memanggil nama aslinya. Tapi susah merubah kebiasaan teman-teman yang sudah terlanjur akrab memanggilnya dengan nama sebutan. Barangkali nama sebutan itu tidak bisa lepas darinya. Bagaimanapun tidak sukanya dia.

Tidak Pantas

Terkejut sekali ketika membaca berita tentang sebutan Jokowi yang dilontarkan oleh Megawati di Rakernas NasDem dihadapan para tamu dan undangan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Selasa, 27/5/2014 (Sumber).

Meski nadanya candaan, sebenarnya kurang etis diucapkan. Apalagi Jokowi secara resmi telah ditunjuknya sebagai capres yang kemungkinan nantinya bila terpilih bisa menjadi Presiden RI.

Sebutan buat Jokowi yang dilontarkan oleh Megawati itu memang tak sekali terjadi. Banyak orang mengkritik tubuh Jokowi yang kurus. Dan akhirnya Megawati ikutan menyebutnya si kerempeng.

“Yang kalian minta sudah saya kasih. Saya kasih si kerempeng ini (Jokowi). Biar kerempeng, dia adalah banteng,” kata Megawati disambut sorak-sorai simpatisan PDI-P saat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan itu menyampaikan pidato politiknya dalam kampanye terbuka menjelang Pemilu Legislatif 2014 di Lapangan Thor, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 17/3/2014 (Sumber).

Julukan dengan nada canda itu seharusnya tidak dilontarkan oleh Megawati untuk seorang sekaliber dia. Seorang bekas Presiden dan Ketua Umum PDIP. Memang, implikasi dari julukan itu tidak terasa untuk saat ini. Entah nanti ketika Jokowi benar-benar jadi seorang presiden. Mudah-mudahan tidak dijuluki sebagai Jokowi Kerempeng, Presiden RI. Presiden dari partai PDIP dengan Ketua Umumnya, Megawati Gembrot. Sebuah guyonan yang amat tidak lucu.

Melanggar Hukum

Di Australia, menjuluki orang dari penampilan fisiknya harus hati-hati bila tidak ingin terjerat hukum.

Orang sudah bisa amat tersinggung kalau dibilang gendut atau gemuk. Dianggap tidak punya etika sopan santun. Orang tersinggung bukan karena kesadaran tentang bentuk tubuh saja, tapi juga bisa dianggap bersikap diskriminatif. Bentuk badan tidak hubungannya dengan kemampuan seseorang. Sikap stereotype sejauh mungkin dihindari atau tidak diekspresikan secara terbuka.

Dalam identifikasi fisik pelaku kriminal pun, tidak bisa dilakukan seenaknya. Dianggap melawan hukum bila menggunakan istilah: “orang Asia”, orang Selandia Baru, orang Lebanon, orang Arab dan lain-lain sebutan yang mengarah pada stereotype. Bahasa di koran dalam menggambarkan ciri-ciri seorang kriminal biasanya disebut dengan “Asian appearance”, atau Inlander appearance, atau hyspanic appearance. Sebutan inipun sebenarnya sudah amat sensitif untuk dipakai karena bisa menggiring sikap stereotype pada golongan etnis atau kebangsaan tertentu.

Lain ladang lain belalang. Di Indonesia, kita bisa dengan ringan menyebut orang lain dengan nama-nama julukan yang belum tentu si penerima julukan itu bisa menerimanya dengan senang hati. Tapi kadang kita tak peduli karena secara umum hal itu dianggap lumrah dan tidak melanggar hukum. Kita dengan ringan saja menyebut orang lain karena ciri fisiknya bahkan keturunan etnisnya. Hingga saat ini faktor penyebutan etnis ini masih terbiasa dilakukan di Indonesia. Sebagai keturunan Cina, Batak, Madura dan lain-lain etnis. Dan parahnya dihubungkan dengan stereotype etnisnya dan bukan kualitas pribadi orangnya. Sikap stereotype memang masih subur di tanah air. Entah kapan orang bisa punya tenggang rasa dan secara berangsur punya kesadaran untuk berpikir lebih rasionil, realistis dan menghargai dalam melihat orang lain tanpa sikap stereotype sempit.*** (HBS)

One thought on “Si Ratu Adil, Si Satria Piningit dan Si Kerempeng

  1. berarti ratu adil itu secara tdk langsung adalah yg berkedudukan wali kutub ghoust hadzazaman zaman ini ditambahi dengan ciri ciri yg terdapat dlm ramalan joyoboyo spt berparas spt krisna [ wisnu/ prabu rama] spt satriya gatot kaca wali ghoust adalah ya kyai semar bodronoyo sejata tisula yg tajam melambangkan udah sempurna iman islam dan ikhsannya sakti mandra guna berati orang yg mempunyai karomah yg tinggi pandai meramal yg berarti orang yg makrifat lulus weda jawa sesuai dengan torekot ilmu kuwi kanti laku lakon lan tekon bakal tekan inilah yg dimaksut weda jawa senang menggoda dan minta minta bagi wali ghous ini bisa diartikan sering minta ghonimah untuk perjuangan dakwahnya tunjung putuh pudak kasungsang berhati suci satu satunya manusia yg diberi alloh mempunyai sifat ini sesudah nabi dan rosul ya ghoust hadzazaman dan kaum sidikin lahir dimekah bisa diartikan sbg pengganti rosulluloh saw bergelar ratu amisan bernasab wali alloh dan raja raja islam jawa dll berkedudukan di jawa dan mekah artinya orang jawa yg meneruskan risalah nabi muhamad siapa lagi kalo bukan wali ghoust letaknya sebelah barat sungai dan sebelah barat tempuran berarti bisa di telusur sungai yg paling keramat di tanah jawa yg hulunya sungai di puncak gunung merapi berarti sungai opok sebelah barat tempuran sedangkan sungai opok ada 3 tempuran pang hulu sungai kuning tengah sungai gawe ujung sungai oyo berati tinggal mencari orang yg berkedudkan wali kutub ghoust hadzazaman yg dekat sungai opok diantara tempuran sungai sungai tadi orangnya tampan dan senyumnya manis sekali berarti sesuai dengan sifat rosululoh sinuyungan dewo wolu berarti pengikutnya wali ghoust tadi yg mendampingi muruit muritnya selalu berjumlah 8 orang kesukaanya berzikir udah menjadi karakternya hari kamis sbg hari besarnya berati selalu bermujahadah pd hari kamis malam jumat ini sesuai kebiasaan umat islam di indonesa kususnya orang jawa melakukan yasinan mujahadah berzikir dan istiqhosah barjanji solawatan sebelah barat gunung perahu sungai opok letaknya sebelah barat gunung perahu bayat klaten rumahnya terbuat dari batu sungai dan pintu gerbangnya ada pohon ondongnya bisa di artikan orang yg dididik oleh wali ghoust yg berasal dari gunung andong gunung melambangkan keteguhan hati dan orang yg istikomah dan berkedudukan di bojonegara berati orang yg bisa menata negara sbg budak ongon ing di engon bukan harimau kerbau sapi atau kambing tapi orang yg senang mengumpulkan ranting ranting dan cabang cabang pohon yg kering dan ajaran ajaran torekot ternyata bisa di terima oleh umat islam suni ahli sunah waljamaah dan siah dansedikit wahabi tetapi wahabi bertolak belakang dg suni siah dan satu satunya islam yg tdk pernah putus kekalifahan dan baeat sedangkan islam sekarang sudah putus kira kira 100 th tingal kita mencari ciri ciri dan letak geografis orang tersebut mana yg lebih banyak mendekati itulah orangnya tinggal kita mau mendukung atau tdk sebab tergantung masarakat sbg manifestasi kehendak Alloh swt selamat berpetualang dan ini juga terdapat dlm manakib sehk abi hasan ali as sadzali umat islam akhir zaman akan bersatu dlm panji panji torekot sadzaliyah dan teryata muhaman samsujen itu murit torekot sadzaliyah guru joyo boyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s