herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Kampanye Hitam Perlu Dibudayakan di Indonesia

 

14041182312115431746

Dunia selalu punya dua sisi. Cinta dan benci dua sisi mata uang. Sisi ketiga kita jarang kenal. (Sumber foto: http://i303.photobucket.com/albums/nn123/penebangloveperi/setan-kangen.jpg)

Kampanye hitam di Indonesia perlu dibudayakan untuk menyaring pemimpin masa depan sejak dini. Jika seseorang punya cita-cita jadi pemimpin akan tahu resikonya, bahwa latar belakang, sejarah hidup dan masa lalunya bakal diekspose ke orang banyak. Bahkan orang-orang di sekitarnya. Termasuk orangtua, anak, atau kakek neneknya baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Tidak saja yang baik-baik, tapi lebih yang menyingkap kekurangan, kelemahan, kecacatan dan kegelapan masa lalunya.

Dengan budaya kampanye hitam, maka yang benar-benar jadi pemimpin pilihan rakyat adalah orang yang benar-benar bersih, lurus moralnya, tanpa cela budi pekertinya dan dari lingkungan yang tanpa cela pula. Jika pemimpin telah tersaring sejak dini dari gencarnya kampanye hitam, bisa dimungkinkan Indonesia bakal maju dengan cepat. Tidak saja maju negaranya secara ekonomi, tapi juga punya moralitas yang mumpuni karena dipimpin oleh orang yang tanpa cela riwayat hidupnya.

Kampanye hitam perlu disosialisasikan sejak dini dalam keluarga. Lingkungan keluarga harus menjaga moralnya untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum atau perbuatan lain yang negatif jika ingin melahirkan seorang calon pemimpin. Keluarga dalam membesarkan anak-anaknya harus senantiasa memberi nasehat agar anak-anak harus baik moralnya bila kelak ingin menjadi seorang pemimpin di masa depan. Anak-anak sejak dini dinilai dengan kritis atas tindakan-tindakannya yang melenceng. Melatih mereka agar peka dan kritis terhadap fitnah dan omong kosong.

Di sekolah dasar, dalam pemilihan ketua kelas misalnya, para murid harus dilatih untuk menilai calon ketua kelasnya dengan menggali nilai-nilai gelap sang calon ketua dan siapapun yang dekat dengannya. Pak sopir yang ngantar atau pembantu rumah tangga yang menjemput. Tukang becak yang becaknya dinaiki si anak dan seterusnya.

Anak harus dilatih dengan kritis agar bisa melihat orang lain dari sudut pandang lain. Tidak hanya yang kelihatan dan nampak baik-baik saja. Murid dilatih bagaimana merekayasa sebuah fitnah dan kebohongan secara meyakinkan. Fitnah dan kebohongan tidak akan merugikan orang lain selama yang difitnah bisa membela diri dan membuktikan bahwa tuduhan yang diarahkan padanya tidak benar. Jika dasar dari orang yang difitnah memang baik, maka fitnah itu tak akan mempan dan tak berguna. Ketua kelas harus terbiasa dan tegar mendengar fitnah yang diarahkan padanya.

Pendidikan kita selama ini memang munafik. Pendidik selalu mengedepankan nilai-nilai baik tanpa menyentuh nilai yang berlawanan secara mendasar. Hal-hal gelap dibiarkan tetap berada di tempat gelap. Kita takut membongkar dan mengenalkan orang pada kegelapan. Membiarkan orang lain untuk tahu sendiri macam apakah kegelapan itu. Berada di kegelapan adalah masalah tanggung jawab pribadi.

Kita tidak dilatih dengan baik bagaimana cara mengatasi kegelapan dan keluar dari situ. Tidak banyak orang sadar bahwa dunia kegelapan punya hukum-hukumnya sendiri. Dalam dunia gelap, tidak ada nilai baik. Dalam dunia gelap kedudukan orang sama rata. Semua gelap. Senasib dan sepenanggungan. Nilai-nilai baik tak berlaku di dunia kegelapan. Bahkan bisa jadi tertawaan.

Selama ini kita dididik untuk memusuhi orang-orang yang berdunia gelap. Kita dididik dan dibiasakan seolah kita selalu berada di kerumunan orang baik-baik. Bahkan kita merasa sebagai orang yang paling baik. Tidak sadar dengan kegelapan yang ada di diri sendiri. Kegelapan tidak dikenalkan pada diri sejak usia dini. Kegelapan adalah hal yang perlu dijauhi. Sehingga banyak orang tidak bisa menyadari bahwa sebenarnya ia telah berada di dunia gelap karena tak pernah mengenalnya.

Begitu menghadapi orang lain yang dulunya baik ternyata punya dunia gelap, kita tidak tahu bagaimana menyiasati keadaan itu. Kita tidak punya acuan dan pegangan cukup. Referensi kita tentang dunia gelap amat miskin. Karena selama ini yang ditanamkan oleh lingkungan kita adalah hal yang baik-baik.

Generasi penerus harus dilatih bagaimana bersikap di dunia kegelapan. Agar mereka menjadi pemimpin yang tangguh dan tidak mudah diberdayakan oleh orang lain. Tidak mudah terkecoh oleh pihak-pihak serigala berbulu domba.

Dalam kondisi terkontrol generasi penerus dibenamkan dalam dunia fitnah, kejahatan, tipu daya, pelecehan dan seterusnya sehingga mereka tahu bagaimana sebenarnya dunia kegelapan itu. Nantinya mereka terbiasa dengan keadaan dan bisa dengan mudah mengenali kegelapan itu. Menganalisa dengan obyektif dan kepala dingin tanpa kehilangan penalaran. Dunia gelap akan dihadapi dengan tenang, penuh toleransi dan jauh dari sekedar apriori. Dunia tidak hanya ada hitam dan putih, tapi juga ada abu-abu. Salah besar bila kita merasa bahwa kita hanya perlu dididik untuk mengenal dunia yang serba putih. *** (HBS)


Leave a comment

Menjadi Satpam di Australia

14039988871982696186

Lembaga training menjadi satpam banyak terdapat di Australia. (sumber foto: http://www.universalacademy.com.au/uta_blog/wp-content/uploads/2013/10/securityguard5.jpg)

Menjadi polisi, tentara atau satpam di Australia sepertinya tidak perlu berbadan penuh otot. Syarat-syarat penerimaan untuk menjadi polisi atau tentara dalam websites mereka, penulis tidak menemukan persyaratan tentang badan berotot ini. Di tentara cuma disebut bahwa pendaftar harus punya BMI (body mass index) antara 18.5 hingga 30. Bisa push up 15 kali.

Untuk polisi perihal BMI tidak disebutkan. Tapi harus bisa renang sepanjang 100 m tanpa alat bantuan atau dibantu. Hal yang menurut pengetahuan penulis paling diutamakan adalah kesehatan psikologis dan catatan kriminal. Terutama untuk catatan kriminal, hampir dipastikan bahwa jika orang pernah tercatat melakukan tindak kriminal bakal tidak akan lolos dan tidak bisa menghindar. Hukum-hukum untuk menutupi catatan kriminal punya sanksi cukup berat.

Syarat umum lainnya untuk menjadi polisi di Australia adalah: punya motivasi tinggi, integritas pribadi, kesadaran budaya dan kemauan untuk bekerja sama dengan komunitas di masyarakat. Kenapa syarat umum ini disebutkan sebagai dasar barangkali karena masyarakat Australia yang multikultural. Terdiri dari imigran berbagai kebangsaan dengan kebudayaan beda.

Untuk menjadi tenaga satpam jauh lebih mudah lagi. Setiap orang bisa jadi satpam. Tinggal kursus tentang teori satpam sesuai jenis keamanan yang dikehendaki. Kalau cuma untuk keamanan di supermarket, gudang dan tempat-tempat yang tak tinggi resikonya sertifikat tenaga satpam bisa dengan mudah didapat. Tidak perlu badan kekar atau menguasa seni beladiri. Ketrampilan fisik dalam bela diri dinomer-duakan. Diserahkan pada masing-masing individu. Jika satpam untuk resiko tinggi barulah ketrampilan penguasaan diri perlu dilatih secara khusus.

Penulis mengenal beberapa tenaga satpam baik wanita dan pria. Mereka bekerja di supermarket dan perusahaan bisnis sipil. Dan mereka buta sama sekali dengan ilmu bela diri. Menjadi satpam adalah pilihan pekerjaan. Tidak banyak orang senang bekerja menjadi satpam. Meski secara fisik tidak terlalu keras, tapi waktu kerjanya sepertinya lebih panjang. Gaji seorang satpam memang tidak seberapa beda dengan gaji pegawai atau pekerja di kantoran.

Pekerja satpam tidak harus berseragam sama. Tergantung dimana perusahaan atau tempat bekerjanya. Satpam tak lebih dari tenaga kerja biasa yang punya ijasah atau sertifikat menangani keamanan. Banyak hukum yang perlu diketahui oleh seorang satpam. Hak-hak dan kewajibannya. Mereka harus sadar bahwa mereka bukan tenaga penegak hukum formal. Mereka ditraining terutama dalam peraturan-peraturan bagaimana menghadapi masalah dengan orang lain.

Banyak aturan yang bisa menjerat seorang satpam jika tidak hati-hati memperlakukan orang lain. Kontak fisik amat dibatasi. Privacy perseorangan amat dihargai. Tidak boleh asal memegang, menjamah, menarik dan sebagainya. Menggeledah dengan menggerayangi badan sudah diluar kewenangan seorang satpam. Tergantung tingkat sertifikat satpam yang dipunyai. Menggeledah tubuh adalah kewenangan polisi atau penegak hukum formal. Orang bisa menuntut balik si satpam kalau penanganannya tidak memenuhi aturan.

Bagi negara yang masyarakatnya patuh hukum, menjadi tenaga satpam sepertinya lebih mudah. Karena mayoritas masyarakat akan mematuhi orang-orang yang punya kewenangan dalam hal peraturan. Jadi meski orangnya kecil, kerempeng dan nampak klemar-klemer kalau ia punya kewenangan dalam peraturan orang lain pasti mengikuti perintahnya. Tidak peduli siapapun mereka. Berbadan besar dan berotot bukan alasan untuk tidak taat aturan.

Orang yang berwenang secara resmi bersertifikat dalam menegakkan peraturan berarti ia punya kwalitas di atas orang-orang kebanyakan. Orang berwenang tersebut sudah dianggap sebagai perpanjangan hukum formal. Memandang fisik, ras, etnis, gender dan seterusnya sudah tidak relevan. Tidak peduli apakah ia orang kulit putih tinggi besar atau orang Asia yang kecil, pendek dan kerempeng. Jika ia punya kewenangan atas peraturan, orang akan mikir dua kali untuk menentangnya.

Dua pihak berada di koridor hukum sama. Masing-masing tahu batas hak-hak hukumnya. Satpam tahu batas kewenangannya dan tidak bisa bertindak di luar batas kewenangan hukumnya. Selama satpam tersebut berada di koridor hukum, tidak ada alasan bagi orang lain untuk tidak tunduk pada perintahnya. Dan selama satpam tersebut bertindak dalam batas kewenangannya, hukum formal akan melindungi dirinya sebagai tenaga resmi penegak peraturan sesuai bersertifikat yang dimiliki.

Jika seorang satpam berada di daerah abu-abu, pada saat itulah ia akan panggil polisi. Bantuan polisi akan datang dalam hitungan beberpa menit. Polisi akan mengevaluasi keadaan. Lebih besar kemungkinan bahwa polisi akan memihak pada tenaga satpam ini. Karena satpam dianggap sebagai pihak yang tahu peraturan.

Hukum-hukum formal di Australia begitu banyak cakupannya. Menebang pohon di rumah sendiri ada aturannya. Menebang pohon tetangga yang merambah ke halaman ada aturannya. Menangani pencuri yang masuk rumah ada aturannya. Begitu ke luar dari halaman rumah, aturan formal sudah menjaring siapa saja. Hanya orang yang belajar tentang hukum dan terspesialisasi yang tahu jabarannya.

Jika terjadi perselisihan, pihak yang berperkara akan mengadunya di muka pengadilan. Pengacara yang tahu dengan detail tentang peraturan punya kemungkinan lebih besar untuk memenangkan perkara. Oleh karena keadaan inilah, orang yang berprofesi pengacara menduduki tempat terhormat dengan gaji besar di masyarakat Australia. Di universitas, jurusan hukum menduduki ranking tertinggi untuk syarat masuknya melebihi jurusan lain-lainnya. Bisa diterima di universitas jurusan hukum jadi amat bergengsi. Hasil nilai test masuknya mendekati sempurna.

Ketegasan seseorang dalam menegakkan peraturan bukan dilihat dari bentuk fisik, kulit, etnis, wajah, seragam dan lain-lainnya, tapi dari penguasaan materi aturannya. Karena penegakan hukum atau peraturan akan berjalan efektif jika masing-masing pihak tahu koridor hukum masing-masing.

Jika masyarakat awam tidak tahu aturan, maka pihak yang berusaha menegakkan peraturan akan kewalahan. Demikian juga sebaliknya, jika penegak hukum salah dalam menempatkan peraturan masyarakat secara kritis bisa menilai dan tinggal menyerahkan ke lembaga hukum untuk diadili. Maka masalah akan selesai dan tidak berkepanjangan. Penegak aturan tersebut tak bisa bersikeras bahwa dirinya tak melawan hukum lagi. Apalagi sampai mengundang protes masyarakat untuk menjungkalkannya secara legal.

Tidak jarang penegakan peraturan dilakukan dengan paksaan karena lemahnya kesadaran hukum di masyarakat. Jika skala aturan itu menyangkut isu nasional, tidak berlebihan jika kekuatan militer akan digunakan. Kebenaran aturan berdasar kedekatan dengan kekuasaan. Fitnah, bohong, menyebarkan kebencian dan pencemaran nama baik tak apa dilakukan asal punya pendukung di kekuasaan.

Dalam budaya demokrasi, penegakkan hukum secara paksa sudah bukan modelnya. Peraturan harus disosialisasikan. Kesadaran hukum masyarakat harus dibangkitkan. Peraturan akan berjalan dengan baik bahkan terkesan otomatis karena budaya patuh hukum sudah tercipta. Tidak perlu lagi dipaksakan. Apalagi dengan ancaman penampilan fisik dengan memekarkan otot-otot lengan dan kepalan tangan. Kesannya kok tidak elegan dan kurang beradab. Lebih mengandalkan okol daripada akal. Kalau sudah begini, kesempatan bagi orang untuk menjadi satpam akan diskriminatif. Hanya yang kekar dan pandai silat saja yang bisa jadi satpam. Dan bukan masalah isi kepalanya dalam hal pengetahuan tentang hukum dan peraturan.*** (HBS)


Leave a comment

Kecenderungan untuk Asal Berlawanan dan Anti Kemapanan

Benarkah ciri khas masyarakat Indonesia itu adalah selalu bersikap asal berlawanan dan anti kemapanan? Benarkah kita tidak punya rasa saling percaya dan inginnya menang sendiri? Tak ada etos gotong royong dan kerjasama?

Selama ini Indonesia tak pernah menemukan bentuk kehidupan sistem sosial dan politik yang mengarah pada terjaminnya tertib hukum dan kemapanan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Jika terjadi tertib hukum dan kemapanan kehidupan sosial, maka umurnya tidak bisa panjang. Lebih parah lagi, semangat tertib hukum dan kehidupan keharnomisan sosial itu tidak berusaha dibina atau diteruskan untuk generasi berikutnya.

Pepatah terkenal yang sering kita dengungkan yakni “Yang baik diteruskan dan yang jelek dibuang”, ternyata tidak berlaku di kenyataan. Kita senang merusak hal-hal yang sudah berlangsung baik dan menggantinya dengan yang benar-benar baru dan memulai kembali semuanya dari nol. Keruntutan, kesinambungan, kestabilan, kerukunan, kemapanan, ketertiban, kepastian dan lain-lain yang mengacu pada kerjasama untuk mencapai keadaan lebih baik bersama adalah musuh terbesar bangsa kita?

Setiap ganti pimpinan ganti kebijaksanaan, ganti aturan, ganti metoda dan tatacaranya. Sikap pimpinan yang ingin merombak banyak hal itu terjadi di hampir seluruh jenjang pemerintahan. Lurah, Camat, Bupati hingga presiden. Ganti menteri ganti kebijaksanaan. Setiap ganti menteri pendidikan hampir bisa dipastikan bakal disusul ganti kurikulum. Ganti presiden, ganti pula keadaan dan kehidupan di negara kita. Seolah setiap pemimpin ingin menunjukkan jati dirinya. Ingin meninggalkan jejaknya sebagai seorang penguasa. Dan ini dilakukan dengan membuat kontras dari penguasa sebelumnya. Semakin beda semakin mencolok. Sebagai jaminan bahwa penguasa tersebut bakal dikenang dan meninggalkan jejaknya dengan kuat di masyarakat.

Dalam masa krisis dan perombakan sosial, mungkin saja pemimpin sebelum dan sesudahnya bisa kontras berbeda. Namun jika keadaan tidak dianggap krisis atau jika kehidupan bermasyarakat berlangsung relatif baik kenapa mesti diadakan perombakan secara total? Memulai semuanya dari nol?

Perbedaan gaya dan karakter syah saja dalam sebuah kepemimpinan asal dalam lingkup kewenangan dan tanggung jawabnya sebagai individu yang ditunjuk untuk mewakili rakyat. Kepentingan rakyat didahulukan melebihi ambisi pribadi untuk mempertahankan kepentingan dan kekuasaan. Jika tujuan utama memperoleh kekuasaan selalu diiringi dengan misi dan visi demi kepentingan rakyat, maka sebenarnya kemapanan, ketertiban, kenyamanan, etos kerjasama relatif bisa diteruskan secara berkesinambung demi kepentingan generasi penerus.

Namun dalam sejarah kita, setiap pergantian pemimpin lebih sering diiringi pergolakan. Pemimpin baru berusaha menanamkan bahkan merombak tatanan yang sudah ada. Tidak jarang bahkan masyarakat digiring untuk memusuhi atau merendahkan pemimpin sebelumnya. Tidak ingin mewarisi apa saja yang ditinggalkan oleh pemimpin lama. Semua harus dimulai dari nol.

Karena setiap pemimpin cenderung untuk memulai semuanya dari nol, secara tidak langsung mendidik masyarakat untuk tidak gampang percaya dengan pemerintah yang sedang berkuasa. Karena mereka merasa bahwa pemimpin berikutnya bakal menafikkan apa yang ada. Bahkan bisa amat berbeda. Karena alasan inikah kenapa rakyat tidak peduli terhadap pemerintah yang berkuasa? Rakyat tidak ingin terjebak pada ketidak-tentuan. Sekarang boleh, tapi jangan-jangan pada pemerintah berikutnya menjadi terlarang?

Bahkan masyarakat menyaksikan sendiri pergolakan anti kemapanan itu selalu terjadi di setiap pemerintahan. Dari jaman orla, orba, reformasi dan hingga saat ini. Dan dalam setiap pergantian pemerintahan tersebut tidak terdapat kesinambungan mendasar antar penerusnya.

Jika pilpres kali ini dimenangkan oleh pasangan Prabowo, membuka kemungkinan bahwa era reformasi juga akan mengalami perubahan mendasar. Semua dimulai lagi dari nol. Entah bagaimana itu bentuknya nanti. Namun jika dilihat dari latar belakang Prabowo dan kedekatannya dengan orba dan latar belakang militernya, mungkinkah pemerintahan Prabowo akan kembali ke masa Orba? Dan dengan demikian sejarah akan terulang kembali. Reformasi dipertentangkan dengan Orba. Atau Orba dalam bentuknya yang lain?

Jika pilpres dimenangkan oleh Jokowi, reformasi untuk diteruskan ke dalam kehidupan demokrasi yang lebih stabil lebih mungkin. Jokowi membawa kebaruan dalam birokrasi dan politik. Jokowi sebagai wakil dari kalangan sipil menghargai potensi perseorangan dan bukan karena kedekatan, kesamaan kepercayaan, hierarki atau nepotisme. Koalisi partai yang dibentuk juga tidak berdasar pada transaksi. Lelang jabatan, dialog dengan masyarakat untuk mencari penyelesaian masalah, kedekatannya dengan rakyat adalah track record nyata yang mengarah pada kehidupan demokrasi lebih baik di masa depan.

Hasil pilpres setelah era reformasi yang telah berjalan hampir 1.5 dekade ini punya dua kemungkinan. Kita tambah matang dalam berdemokrasi atau makin runyam kehidupan demokrasi kita. Kecenderungan untuk selalu berlawanan dan anti kemapanan kita rasakan dalam kampanye hitam yang dilakukan oleh kontestan terhadap satu sama lain. Kita punya kecenderungan untuk merusak demokrasi yang selama ini berusaha kita bangun dan diperjuangkan oleh para reforman. Kita berkencerungan untuk kembali lagi ke titik nol. Jika salah satu kontestan terpilih menjadi presiden, adakah jaminan bahwa kampanye hitam yang merusak demokrasi itu akan berhenti? Saling hujat, fitnah, hina dan sebagainya yang mengatas-namakan demokrasi itu bisakah kita sudahi nantinya?

Siapapun yang menjadi pemenang dan jadi presiden nantinya, perlu menyadari keadaan yang ada di masyarakat Indonesia ini, bahwa kita cenderung untuk bersikap anti kemapanan dan tidak menghargai ketersinambungan antar pergantian era kepemimpinan. Rekonsiliasi nasional amat dibutuhkan untuk meluruskan sejarah agar didapat kesepakatan bersama. Sejarah kita selalu terpenggal-penggal dan meninggalkan dendam satu sama lain tanpa kejelasan duduk perkaranya.

Rekonsiliasi nasional itu perlu untuk menarik garis merah kesinambungannya. Tidak saja meluruskan sejarah sejak perang kemerdekaan, bahkan kita perlu rekonsiliasi setiap saat kita melakukan pergantian era kepemimpinan. Mentalitas kita yang cenderung selalu mengobrak-abrik kemapanan dan buta melihat kebaikan di tiap kepemimpinan perlu direkonsiliasikan juga.

Kemenangan pilpres adalah kemenangan milik kita bersama. Siapapun pemimpinnya pantaslah kita dukung dengan jalan damai dan rembugan bersama. Kita satukan langkah untuk merintis tujuan yang lebih besar di masa depan yakni rekonsiliasi nasional agar kita makin cinta kesinambungan, kemapanan, ketertiban dan terwujudnya alam demokrasi yang mendamaikan rakyat. Jangan sampai dengan terpilihnya presiden baru nanti malah menambahi sejarah bangsa kita yang sudah terpenggal-penggal itu lagi.*** (HBS)


Leave a comment

Memusuhi Agama Itu yang Bagaimana?

Definisi memusuhi agama itu yang gimana ya? Saya tak begitu paham tentang sikap yang dianggap memusuhi agama. Mungkin yang dimaksud bukan memusuhi agama tapi memusuhi lembaga atau individu yang mewakili agama? Memusuhi agama berarti dilakukan oleh agama lain? Atau memusuhi agama dari agama sejalan? Oleh individu seagama atau beda agama?

Agama kok dimusuhi? Yang dimusuhi apanya? Kalau yang dimusuhi orangnya atau lembaganya mungkin saja bisa. Tapi bukan memusuhi agamanya. Bisakah agama dimusuhi? Agama adalah masalah keyakinan. Agama adalah nilai-nilai. Masalah yang tidak kelihatan. Masalah nilai trancendental antara manusia dan tuhannya. Adakah ajaran agama yang buruk dan perlu dimusuhi?

Semua agama pastinya mengajarkan untuk berbuat kebaikan. Itulah fungsi utama agama. Jika orang berbuat jahat, bukan agamanya yang salah tapi orangnya. Kok dimusuhi agamanya? Ajaran baik kok dimusuhi? Apa ajaran baik itu dianggap ajaran buruk? Buruk dalam hal apanya? Hanya karena beda maka dianggap buruk? Jadinya yang begini ini diskusi masalah normatif dan bukan agama lagi. Ajaran-ajaran agama oleh pemeluknya diyakini diperintahkan oleh tuhannya. Apa hak manusia lain mencampuri perintah tuhan masing-masing pemeluk agama hanya karena beda agama, kepercayaan atau keyakinan?

Masalah agama adalah masalah yang mengatur hubungan manusia secara transendental (transcendence) dengan tuhannya masing-masing. Hubungan transendental ini hanya milik individu. Nilai agama terinternalisasi pada pribadi individu sejak usia belia. Maka masalah agama adalah masalah hubungan antara individu dan tuhannya. Hanya individu itu sendirilah yang tahu. Bisakah kita memusuhi hal-hal yang sifatnya transenden?

Agama hanyalah salah satu alat saja bagi individu untuk mencapai kedekatan dan pengalaman transendental. Pengalaman manusia untuk mencapai kedekatan nilai transendental bisa didapat dari banyak hal dan tidak harus lewat sistem kepercayaan yang terlembaga.

Seorang bisa saja nampak rajin, khusuk, taat, beriman dan sebagainya dalam hal agama yang diyakininya. Namun belum tentu semua itu mencerminkan nilai transendental sesungguhnya. Kita hanya melihat dari kulit luarnya. Bila menyangkut nilai transendental sesungguhnya, maka individu itu sendiri yang tahu. Sebab bisa saja ia hanya berpura-pura atau bisa juga ia tak peduli dengan penilaian orang lain. Karena ia lebih mementingkan dunia batinnya. Mementingkan hubungan dirinya dengan tuhannya daripada penilaian orang lain yang bisa saja tidak tepat.

Kadang kita mencoba mengimplementasikan nilai hubungan transendental pribadi itu pada orang lain. Seolah kita sendiri yang mengetahui bagaimana sebaiknya hubungan transendental itu dengan ukuran-ukuran, nilai-nilai dan pengalaman-pengalaman pribadi. Kita merasa lebih benar dan lebih baik daripada orang lain dalam masalah pemahaman nilai-nilai transenden. Kejiwaan mereka atau kepribadian orang lain dianggap tidak lebih baik dari kita sendiri.

Pemahaman transendental orang lain kita anggap kurang tepat atau salah. Kita pakai indikator pendidikan, status ekonomi, usia, tingkah laku sosial, ekspresi pribadi, afiliasi partai politiknya dan sebagainya sebagai ukuran nilai transendental mereka. Indikator-indikator tersebut bisa saja benar, tapi bisa menjebak dan salah kaprah.

Karena indikator itu hanya mengukur lapis luar dari pemahaman transendental sesungguhnya yang lebih subtil dan lebih cair. Kita telah menyederhanakan nilai transendental pada seorang pribadi. Nilai transendental telah kita personafikasikan. Jika nilai transendental telah dipersonafikasikan maka yang kita lihat adalah bentuk wadag, bentuk fisik, bentuk yang kelihatan yang mungkin bisa diukur. Nilai transendetal ditransformasikan menjadi sebuah obyek.

Kadang kita mempersonafikasikan nilai transendental pada diri sendiri. Karena kita mahluk sosial. Personafikasi nilai transendental mau tidak mau kita ekspresikan lewat tingkah laku sosial. Tapi nilai transendental terlalu rumit, abstrak dan cair untuk dipersonafikasikan lewat tingkah laku sosial. Apapun yang kita lakukan tidak bakal cukup untuk membuat nilai transendental itu teraba lewat tingkah laku sosial. Apa yang tersurat tidak selalu benar-benar mewakili apa yang tersirat.

Bahasa manusia punya keterbatasan. Nilai-nilai transendental pribadi tak bisa dikomunikasikan lewat bahasa dengan tepat, koheren dan komprehensif tanpa bias-bias interpretasi subyektif penerima. Setiap individu punya pengalaman pribadi transendental yang khas dan unik. Hanya individu itu sendirilah yang bisa memahaminya. Tidak mungkin bisa menyamakan nilai transendental satu manusia dengan lainnya. Mereka secara mendasar berbeda dan unik satu sama lainnya. Nilai transendental tidak bisa dipaksakan pada manusia lain. Dogma hanya sebatas pencerapan dan tidak akan secara langsung menambah atau merubah nilai transendental seorang individu. Tergantung keunikan pribadi individu masing-masing. Menyamakan nilai transendental pada semua orang adalah impian kosong.

Jika seorang individu punya kekentalan rasa transenden dengan tuhannya, maka tingkah lakunya akan mencerminkan sikap transenden itu. Sikap transenden yang penuh cinta kasih pada sesama, memperlakukan setiap individu sama dan setara, manusia dipandang sebagai mahluk hidup yang punya kepribadian dan keunikan khas, menghargai sesama manusia tanpa memandang kulit dan sistem kepercayaannya, menghargai nyawa manusia sebagai hak milik pribadi yang paling tinggi tak ternilai. Karena nyawa adalah hal milik paling dasar bagi manusia sebagai syarat untuk menemukan nilai transenden.

Nilai transenden adalah hak setiap pribadi. Setiap pribadi punya hak untuk mencari pengalaman dan kedekatan akan nilai transenden. Masing-masing pribadi berbeda dalam hal penghayatan nilai transendennya. Pribadi yang menghargai nilai-nilai baik secara universal itulah cermin kekentalan sikap transendennya paling tinggi yang mungkin bisa kita kenali pada diri seorang individu manusia. Tidak terkotak-kotak penilaiannya terbatas pada satu aliran, kepercayaan atau system nilai-nilai yang diyakini secara sepihak.

Manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang paling kesepian. Manusia lahir sendiri dan mati sendiri. Lewat cinta dan persahabatan seolah kita tidak sendiri. Namun begitu merasa tidak sendiri, manusia jadi congkak. Merasa paling penting, paling berharga, paling baik, paling dibutuhkan dan merasa berhak mengatur orang lain dan memperlakukan orang lain seperti obyek menurut kemauannya. Utopia dengan nilai transendental yang diyakini sendiri?

Manusia lupa bahwa apa yang membuatnya eksis dan berharga saat hidup di dunia adalah karena adanya manusia lain di sekitarnya yang mencintai dan memperlakukannya juga sebagai manusia. Tanpa pribadi lain di sekitarnya, manusia tak akan banyak nilainya. Sendiri, kesepian dan tidak punya arti. Manusia akan menyadari kecongkakannya ini saat mendekati mati.

Kematian akan dihadapi sendiri. Nilai transendental abadi akan dikunyahnya sendiri. Kematian adalah nilai kebenaran transendental yang sejati bagi seorang pribadi. Tak ada seorang manusiapun yang bisa mengelak atau minta dispensasi. Semua manusia akan mati dan membawa semua sistem nilai yang diyakini ke alam kesendirian yang sunyi. Menghadapi nilai kebenaran transenden yang diyakini seorang diri. Manusia lain hanya melihat dan kemudian berlalu pergi tak memikirkan lagi. Terbelenggu dan terpenjara oleh kulit diri sendiri. Terbawa kesadaran bahwa suatu saat iapun akan mati. Sendiri dan tak bisa kembali.

Lalu, apa perlunya memusuhi agama?*** (HBS)


Leave a comment

Debat Pilpres 2014: Be Yourself, Pak Jokowi

MELIHAT penampilan Jokowi pada debat pilpres seminggu lalu (15 Juni 2014) rasanya ada yang kurang pas dengan Jokowi. Ia tidak sebagaimana biasanya yang terkesan santai, guyon dan meluber dengan orang-orang yang mengerumuni. Dalam debat itu Jokowi nampak tegang, stres, banyak mikir, kaku dan seperti terasing dengan dirinya sendiri. Lain sekali ketika melihat Jokowi ketika bicara di depan wartawan, di depan masyarakat, di forum diskuksi atau di panggung kampanye. Jokowi nampak jauh berpenampilan natural dan alamiah.

Mungkin karena dia berada di panggung sendirian berhadapan langsung dengan rival politiknya. Atau mungkin ia demikian konsentrasinya memikirkan pertanyaan, jawaban dan penampilannya di depan puluhan orang di studio dan jutaan rakyat Indonesia yang menonton debatnya.

Setting panggung pun nampak lengang. Jarak fisik mimbar kedua capres begitu jauh. Demikian jarak mereka dengan mimbar moderator. Kelengangan itu membuat Jokowi berada di tempat asing. Jokowi sebagai orang lapangan terbiasa di berada kerumunan banyak orang. Di tempat yang lapang itu ia merasa sendirian.

Setting panggung juga terasa aneh. Susah menentukan di mana sebenarnya pegangan anglenya. Di mana kamera secara alamiah mewakili alur mata pemirsa. Moderator membelakangi penonton dan letaknya sejajar dengan kontestan. Membelakangi penonton tak masalah, sebagaimana di acara Indonesian Idol. Tapi letak panggung membedakan titik tekan sudut pandang kamera. Ada kerancuan dalam menentukan angle dari mana mata pemirsa secara alamiah bisa menikmati shoot-shoot yang diambil sehingga terasa ada kedekatan, keterlibatan, personalisasi, nyaman dan mengalir. Singkatnya, mata kamera adalah wakil mata penonton.

Apakah setting panggung membuat kontrol panggung Jokowi melemah? Tidak terasa nyaman? Atau ada hal-hal teknis lain yang membuatnya seperti kaku dalam penampilan? Saya curiga jangan-jangan Jokowi terlalu serius dengan titipan teknis pemenangan debat dari penasehat tim suksesnya dan kurang konsentrasi dengan dirinya sendiri?

Mungkin saja tim sukses Jokowi meniru pola-pola kampanye partai politik di negara barat dan mungkin tidak cocok dengan budaya Indonesia. Kampanye diolah sedemikian rupa dengan melibatkan banyak ahli dan terdiri dari berbagai tim khusus strategi kampanye. Bagaimana mengeksploitasi simbol, logo, penampilan, image, karakter dan lain-lain agar menang kampanye? Kampanye politik didesain sedemikian rupa memakai jasa orang-orang yang dianggap kompeten dalam menciptakan image. Ahli-ahli iklan dan image building digaji tidak sedikit untuk menciptakan image yang disukai masyarakat. Jika Jokowi terjebak dalam masalah teknis ini karena titipan tim suksesnya, maka tidak heran Jokowi nampak begitu tegang, pikiran terpecah dan konsentrasi yang terbagi. Karena settingan itu berlawanan dengan sifat dasar Jokowi yang mengedepankan sikap apa adanya dan punya latar belakang budaya Jawa yang lembah manah dan andap asor. Budaya Indonesia jauh lebih kontemplatif dan pintar dalam mengutak-atik apa-apa yang tersirat daripada yang tersurat.

Be Yourself Pak Jokowi

Kekuatan Jokowi adalah dalam ekspresi kejujuran karakternya. Jokowi juga terkenal selalu berada di lapangan melakukan blusukan. Jokowi adalah pekerja lapangan dan bukan orang yang suka duduk-duduk di kantor. Jokowi juga bukan orang yang tergolong lincah untuk mengolah kata-kata pidato. Kenapa hal-hal yang menjadi keistimewaan dan karakter khas milik Jokowi ini tak ditonjolkan dalam memenangkan simpati rakyat saat berdebat? Dan untuk ini tidak perlu beaya mahal untuk menyewa ahli image building atau tips-tips yang dirumuskan oleh tim penasehat Jokowi. Tapi cukup dengan membiarkan Jokowi untuk menjadi dirinya sendiri.

Dari pengalaman menonton debat pilpres kemarin, rasanya kok ingin sekali menyumbangkan saran buat pak Jokowi. Saran itu menyangkut dalam beberapa point berikut ini:

1. Bahasa kita termasuk bahasa high context
2. Perkuat data sebagai orang lapangan untuk menyajikan fakta
3. Utarakan dengan jelas pertanyaan
4. Jauhkan usaha-usaha mendeskreditkan masalah pribadi
5. Lemparkan ide baru dan orisinil

Sebagaimana kita semua ketahui, bahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa adalah termasuk bahasa high context (baca keterangan singkat dalam hal ini di sini). Artinya perlu penggunaan kata-kata lebih banyak untuk menjelaskan pesan atau isi komunikasi yang hendak kita sampaikan. Bahasa kita sering muter-muter untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya cukup sederhana. Jika tidak, maka kemungkinan untuk diinterpretasikan lain lebih terbuka. Belum lagi kalau menyertakan unsur emosi pada penerimanya.

Maka sebaiknya dihindarkan penggunaan kata-kata yang perlu penjelasan panjang. Hindarkan pula pesan-pesan yang perlu penafsiran sendiri. Menyindir dengan halus adalah contoh penyampaian pesan terselubung. Gunakan strategi untuk memakai kata-kata direct atau langsung sebagaimana bahasa dalam kontrak atau perjanjian hukum. Ringkas, padat dan jelas. Strategi ini amat bagus untuk melawan jenis komunikasi yang mengarah pada retorika yang memang diarahkan untuk memotivasi atau membangkitkan hati dengan penggunaan kata-kata yang sarat kandungan emosinya. Kata-kata yang terbuka untuk dijelajahi dan diresapi secara subyektif dan personal.

Sebagai orang lapangan, Jokowi lebih kenal dengan data-data lapangan. Penyampaian data-data lapangan ini tidak saja bagus untuk mengeliminir keraguan tapi juga untuk menegaskan fakta dan membuktikan kompetensi diri. Penonton digiring untuk melihat fakta daripada retorika. Kenyataan daripada rencana. Kerja nyata dan bukan sekedar wacana.

Jika bertanya, rumuskan pertanyaan sejelas-jelasnya. Pastikan bahwa orang yang ditanyai mengerti apa yang ditanyakan. Hindarkan pertanyaan yang sloganistis karena akan mengundang jawaban yang sloganistis juga. Hindarkan pertanyaan yang bersifat prerogatif atau pertanyaan yang berandai-andai. Pertanyaan yang mengundang jawaban terbuka dan berandai-andai pula.

Pertanyaan sebaiknya menukik pada masalah sehingga didapat jawaban yang terperinci dan tepat sasaran. Tidak perlu pertanyaan yang berat-berat seolah makin berat makin membuktikan bahwa pikiran kita berbobot. Karena pertanyaan yang berat kadang punya efek bumerang. Seolah kita tak tahu masalah dan tak tahu bagaimana merumuskan pertanyaan. Pertanyaan lebih penting daripada jawaban. Kata pepatah pertanyaan adalah bingkai jawaban. Orang yang bertanya sebenarnya lebih tahu dari yang ditanya. Pertimbangkan juga masalah alokasi waktunya untuk menjawab.

Dan jangan bertanya terlalu sederhana yang berkesan melecehkan intelektual yang ditanya. Karena pertanyaan yang terlalu sederhana juga punya efek bumerang. Pertanyaan Jokowi tentang DAO, DAK dan TPID adalah jenis pertanyaan bermata dua yang bisa diartikan terlalu sederhana. JIka tahu singkatannya, maka pertanyaan bisa diklasifikasikan pertanyaan bagus. Tapi kalau tujuannya untuk menjebak kelemahan lawan lewat singkatan, maka pertanyaan menjadi amat sederhana dan kekanak-kanakan. Ketidak-tahuan atas jawaban bukan berarti kelemahan atau keterbatasan pengetahuan akan masalah. Tentu saja hal ini bukan sasaran dari debat. Debat adalah mencari tahu kebenaran dari masing-masing orang. To seek the truth of the matters. Bukan usaha untuk membungkam lawan lewat kepongahannya. Ini lebih dikenal dalam debat kusir. Yang dicari kemenangan dan bukan kebenaran.

Jokowi terkesan lebih elegan dan intelektual jika saja ia menjelaskan singkatan dan alasan kenapa hal itu ditanyakan. Pastikan pertanyaan yang dilemparkan dimengerti oleh yang ditanya. Ulangi pertanyaan jika memang perlu untuk meyakinkan. Bukankah tujuan bertanya adalah usaha menggali kebenaran? Bila pertanyaannya nggak jelas bagaimana kita memperoleh jawaban yang mengarah pencarian kebenaran? Biarkan yang ditanya menjawab pertanyaan yang sudah jelas. Pertanyaan jelas seharusnya jawabannya juga jelas. Selanjutnya biarkan penonton menilai dari jawaban yang diberikan.

Jauhkan usaha-usaha baik secara langsung atau tak langsung untuk mendiskreditkan masalah pribadi lawan. Tidak berkeluarga, duda, janda, gemuk, kurus, kerempeng dan lain-lain yang mengarah pada pribadi, sterotyping dan labelling. Masalah seperti ini berada di ranah pribadi dan tidak pantas dimunculkan dalam debat publik. Tidak ada nilai positifnya menjatuhkan orang lain karena penilaian ranah pribadi ini. Malah terkesan gosip dan murahan.

Jika Jokowi harus menyatakan ekspresi rasa cintanya pada isterinya, lakukan dengan kesungguhan dan menghargai perasaan orang lain. Duda atau janda bukan syarat kualifikasi untuk menjadi seorang presiden dan sebaiknya tidak dipandang sebagai sebuah kekurangan. Masalah kepemimpinan adalah masalah kualitas personal dan bukan yang lainnya.

Debat presiden kali ini menurut saya yang perlu ditekankan adalah masalah keikhlasan lawan ambisi, kejujuran lawan kecurangan, kesungguhan lawan polesan, kebenaran lawan kebohongan dan seterusnya. Itulah isu-isu yang aktual tersebar di masyarakat. Yang perlu dilakukan adalah penekanan nilai-nilai positif tanpa harus menjatuhkan penilaian negatif.

Jika Jokowi ikhlas dan tidak jadi masalah jika ia tak terpilih jadi presiden, maka hal ini perlu diaksentuasikan pula. Jokowi pernah bilang di berbagai kesempatan bahwa ketika ia diangkat jadi walikota adalah faktor kecelakaan. Demikian pula saat menjadi gubernur DKI. Dan juga untuk menjadi capres. Jokowi juga pernah menyatakan bahwa kerjasamanya dengan Ahok bisa lancar karena tidak adanya unsur kepentingan pribadi. Nilai-nilai positif khas Jokowi ini perlu digarap melawan perjuangan kekuasaan melulu demi kedudukan dan uang.

Dalam alam demokrasi dan budaya global, jenis pemerintahan yang diperlukan kini dan masa depan adalah pemerintahan yang melayani masyarakat. Jika Jokowi memang ikhlas sebaiknya tekanan dalam persaingan capres kali ini adalah mengajak pemerintah di bawah pimpinan siapapun untuk melayani masyarakat. Mengajak untuk bersama-sama berbuat positif buat masyarakat. Saingan merebutkan kursi presiden adalah persaingan sama-sama menggali hal positif dengan tawaran program-program unggulan masing-masing dan tidak saling menjatuhkan. Persaingan semacam inilah yang cocok dengan budaya kita.

Barangkali pertanyaan menarik yang perlu diajukan Jokowi pada pihak lawan adalah program pengangkatan kemiskinan masyarakat di luar Jawa. Program dan strategi Jokowi dalam hal toll laut amat bagus untuk dilemparkan dalam ajang debat meski sudah ditanyakan lawan. Berikutnya adalah balik bertanya sehingga penonton bisa membandingkan. Juga program JK untuk menjadikan kawasan luar Jawa sebagai tujuan pariwisata. Bahkan JK pernah bilang bahwa ia tidak keberatan digelari Bapak Komodo ketika kampanye di NTT. Dua isu ini jarang digarap selama ini padahal amat penting dan potensial. Jika Jokowi sudah punya konsep dan strateginya, amat menarik untuk dilemparkan ke arena debat karena keaktualan dan orisionilannya. Jangan lupa untuk berterimakasih pada tim yang telah membantu merumuskan. Jadi tidak terkesan dikangkangi sendiri sebagai ide pribadi.

Selamat berdebat, pak Jokowi. Be yourself.*** (HBS)