herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Penilaian Terlalu Kritis Pertanda Kalah Setingkat Kemampuan

Leave a comment

KETIKA mahasiswa dulu, saya pernah kost di rumah seorang bapak yang nyinyir. Senang sekali mengomentari hal-hal sepele pada anak-anak yang kost di rumahnya. Mulai cara naruh sandal di pintu masuk, cara menutup pintu gerbang, jam bertamu, cara memarkir sepeda motor, cara menerima tamu, cara nyetel musik dan jenis musiknya, cara menjemur cucian, dan banyak lagi. Seolah apa yang kami lakukan tidak ada yang benar.

Teman-teman kost banyak yang ngedumel di belakang karena kritiknya sudah keluar dari kewajaran tapi tak berani ngomong kekesalannya di muka pak kost. Mereka nurut saja apa yang diomongkan oleh pak kost. Cari selamat. Ada beberapa teman kost malah senang diperlakukan begitu oleh bapak kost. Untungnya pak kost itu tidak setiap hari ada di rumah karena kerjaannya di lain kota. Cuma seminggu atau dua minggu sekali bapak kost itu pulang. Jadi tidak begitu mengganggu.

Di tempat kerja, ada juga pemimpin yang terlalu nyinyir terhadap karyawannya. Ada teman mengeluh bahwa ia diperlakukan tidak fair oleh pimpinannya. Menurutnya, bosnya selalu mencari-cari kesalahannya. Kadang kesalahan yang ditunjukkan tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada dan dicari-cari. Hal-hal kecil dari cara menulis laporan, memasukkan arsip dalam map, kerapian meja kerja, omongannya pada bawahan, hasil kerja yang kurang optimal dan lain-lainnya. Padahal dulu bosnya itu sering memuji kerja keras dan prestasinya. Teman itu oleh perusahaan di mana ia bekerja memang pernah dianugerahi penghargaan sebagai manajer terbaik. Teman yang menjabat sebagai wakil pimpinan departemen di perusahaan itu tidak habis mengerti perubahan sikap atasan langsungnya itu.

Omongan bosnya itu lebih dipercaya oleh pimpinan perusahaan. Setiap laporan kesalahan atas wakilnya ditanggapi lebih serius dari pada pembelaan wakilnya. Akhirnya semua pimpinan departemen seolah bersatu menyalahkan teman tersebut. Termasuk kepala departemen Human Resources. Akhirnya teman itu diberi surat peringatan atas kondite prestasi kerjanya. Sebelum keadaan memburuk, teman itu akhirnya keluar dari perusahaan. Ia merasa sudah tak punya harapan untuk bisa survive di lingkungan yang tidak memihak padanya.

Kedua cerita tersebut di atas hanya beberapa saja contoh kasus tingkah laku sosial yang terlalu kritis dalam menilai orang lain. Banyak contoh kasus sejenis kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bersikap selalu sinis dan sarkastik pada orang lain. Seolah orang lain selalu salah dan dirinya selalu benar. Orang lain dianggap kemampuannya di bawah dirinya.

Sikap terlalu kritis dalam menilai orang lain kadang juga diimbangi dengan sikap terlalu kritis dalam menilai diri sendiri namun beda dalam titik tekanannya. Menilai positif diri sendiri secara tidak wajar. Sesuatu yang kecil sudah bisa membuatnya besar kepala seolah dialah yang paling mampu dan orang lain dianggapnya tidak akan bisa menyamai kemampuannya. Orang jenis begini menjadi pribadi yang terlalu percaya diri, over confident yang tidak wajar.

Sebaliknya, ada juga orang yang terlalu kritis menilai diri sendiri secara negatif. Apapun yang diperbuatnya selalu dinilai dengan kritis secara internal. Kesadaran akan diri sendiri terlalu berlebihan membuatnya tidak nyaman untuk bergaul secara sosial. Biasanya orangnya menjadi pribadi introvert dan kepercayaan dirinya jadi rendah. Karena pergaulan sosial adalah hutan belantara penilaian-penilaian negatif terhadap diri sendiri.

Seorang yang menilai terlalu kritis biasanya saat kecil dibesarkan dalam lingkungan yang selalu “mengkritik” pribadinya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya, memanjakannya atau terlalu dominan dan otoriter. Anak jadi besar dengan kemampuannya dalam menilai orang lain atau menilai diri sendiri terlalu kritis.

Dalam Ranah Sosial dan Politik

Orang yang terlalu percaya diri sulit menerima kritik orang lain. Tidak jarang mereka suka kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga salah satunya disebabkan oleh sikap over confident. Suka main tangan pada wanita pasangannya. Tidak jarang pula bahwa sikap over confident ini dibarengi sikap membenarkan segala cara demi kepentingannya. Dan akhirnya terdorong untuk mengikuti ideologi garis keras. Mungkin ini kesimpulan hantam kromo dan sembarangan. Diperlukan penelitian lebih dalam dalam masalah ini.

Sikap yang terlalu kritis dalam menilai diri sendiri bisa juga dilihat dari sikap kritisnya dalam memandang perubahan atau hal-hal yang berada di luar pemahamannya. Apa-apa yang datang dari luar dianggap sebagai sesuatu yang jelek dan negatif. Terlalu kritis dalam menilai secara internal sehingga orientasi keluar menjadi kurang. Bisa juga sikap terlalu kritis secara internal ini melahirkan sikap apatisme dan fatalisme. Sikap mengelu-elukan hal-hal internal kadang juga melahirkan sikap romantisme tanpa penalaran yang realistis.

Namun bisa juga bahwa sikap terlalu kritis itu untuk tujuan keamanan diri. Dalam contoh ke dua tersebut di atas, pimpinan merasa terancam dengan kemampuan wakilnya. Secara realistis performance kerja wakilnya jauh lebih baik darinya. Wakilnya dianugerahi perusahaan sebagai manajer terbaik. Wakilnya juga lebih baik dalam membina komunikasi dengan bawahan. Hal ini dibuktikan dengan kinerja bawahan yang meningkat kualitas kerjanya. Tingkat produktivitas kerja departemen juga meningkat bila diukur secara finansial.

Persaingan di tempat kerja atau di ranah sosial tidak selamanya bersifat fair dan terbuka. Persaingan yang sehat adalah dengan menunjukkan kebaikan atau prestasi masing-masing. Bukan menonjolkan keburukan atau kelemahan orang lain dan membesar-besarkan keunggulan diri. Atau menilai dengan kritis apapun yang dilakukan pihak lain dan membengkokkannya menjadi negatif. Mencari-cari kesalahan orang lain meski sekecil apapun dan mengabaikan hal-hal baik sebesar apapun. Model persaingan begini biasanya dilakukan oleh orang yang memang kemampuannya kalah setingkat dengan pesaingnya.

Jika orang yang dideskreditkan tersebut sebagaimana contoh di atas bisa bertahan di posisinya dan menujukkan integritas pribadinya, barangkali hasilnya akan lain. Mungkin atasan itulah yang akan dipaksa untuk mengundurkan diri. Karena apa yang dikritikan ternyata tidak benar dan menjadi senjata makan tuan. Namun sayangnya, pemimpin tertinggi perusahaan itu tidak bisa menilai secara obyektif keadaan dan terlanjur berpihak pada orang yang dianggap lebih punya wewenang. Kredibilitas diukur dari posisi kewenangannya dan bukan dari kebenaran yang ada di lapangan.

Seharusnya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan harus bisa menilai isu-isu secara obyektif. Perlu ditelaah apakah kritik tersebut obyektif, apa yang dikritik itu masuk akal, bagaimana kritik itu diekspresikan, adakah motif dibalik kritik tersebut, kredibel nggak kritikan tersebut, apakah kritik tersebut wajar atau mengada-ada, apakah kritik tersebut sifatnya konstruktif atau sekedar menyerang pribadi, bagaimana latar belakangnya sampai timbul kritik dan sebagainya.

Penilaian terlalu kritis pada orang lain bisa keluar dari konteksnya. Karena kritik tersebut sudah tercampur dengan unsur emosional dan tidak berdasar fakta. Kalau toh berdasar fakta, sifatnya hanya penggalan dan bukan keseluruhan. Kritik yang tidak substansial dan tanpa konsep penalaran yang benar.

Mungkin dalam dinamika pipres 2014 kali ini penilaian terlalu kritis pada saingan biasa disebut sebagai black capaign yang kini gejalanya tersebar di mana-mana. Rakyat pemilih sebenarnya bisa bersikap seperti pemimpin tertinggi dalam sebuah perusahaan. Harus bisa menilai secara obyektif sebuah kritik dan membandingkan apa yang ada di lapangan secara komprehensif. Karena bagaimanapun juga, rakyat adalah pihak yang memutuskan siapa yang bakal memang dalam persaingan tersebut lewat suara yang diberikan dalam kotak suara.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s