herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Kampanye Hitam Perlu Dibudayakan di Indonesia

Leave a comment

 

14041182312115431746

Dunia selalu punya dua sisi. Cinta dan benci dua sisi mata uang. Sisi ketiga kita jarang kenal. (Sumber foto: http://i303.photobucket.com/albums/nn123/penebangloveperi/setan-kangen.jpg)

Kampanye hitam di Indonesia perlu dibudayakan untuk menyaring pemimpin masa depan sejak dini. Jika seseorang punya cita-cita jadi pemimpin akan tahu resikonya, bahwa latar belakang, sejarah hidup dan masa lalunya bakal diekspose ke orang banyak. Bahkan orang-orang di sekitarnya. Termasuk orangtua, anak, atau kakek neneknya baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Tidak saja yang baik-baik, tapi lebih yang menyingkap kekurangan, kelemahan, kecacatan dan kegelapan masa lalunya.

Dengan budaya kampanye hitam, maka yang benar-benar jadi pemimpin pilihan rakyat adalah orang yang benar-benar bersih, lurus moralnya, tanpa cela budi pekertinya dan dari lingkungan yang tanpa cela pula. Jika pemimpin telah tersaring sejak dini dari gencarnya kampanye hitam, bisa dimungkinkan Indonesia bakal maju dengan cepat. Tidak saja maju negaranya secara ekonomi, tapi juga punya moralitas yang mumpuni karena dipimpin oleh orang yang tanpa cela riwayat hidupnya.

Kampanye hitam perlu disosialisasikan sejak dini dalam keluarga. Lingkungan keluarga harus menjaga moralnya untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum atau perbuatan lain yang negatif jika ingin melahirkan seorang calon pemimpin. Keluarga dalam membesarkan anak-anaknya harus senantiasa memberi nasehat agar anak-anak harus baik moralnya bila kelak ingin menjadi seorang pemimpin di masa depan. Anak-anak sejak dini dinilai dengan kritis atas tindakan-tindakannya yang melenceng. Melatih mereka agar peka dan kritis terhadap fitnah dan omong kosong.

Di sekolah dasar, dalam pemilihan ketua kelas misalnya, para murid harus dilatih untuk menilai calon ketua kelasnya dengan menggali nilai-nilai gelap sang calon ketua dan siapapun yang dekat dengannya. Pak sopir yang ngantar atau pembantu rumah tangga yang menjemput. Tukang becak yang becaknya dinaiki si anak dan seterusnya.

Anak harus dilatih dengan kritis agar bisa melihat orang lain dari sudut pandang lain. Tidak hanya yang kelihatan dan nampak baik-baik saja. Murid dilatih bagaimana merekayasa sebuah fitnah dan kebohongan secara meyakinkan. Fitnah dan kebohongan tidak akan merugikan orang lain selama yang difitnah bisa membela diri dan membuktikan bahwa tuduhan yang diarahkan padanya tidak benar. Jika dasar dari orang yang difitnah memang baik, maka fitnah itu tak akan mempan dan tak berguna. Ketua kelas harus terbiasa dan tegar mendengar fitnah yang diarahkan padanya.

Pendidikan kita selama ini memang munafik. Pendidik selalu mengedepankan nilai-nilai baik tanpa menyentuh nilai yang berlawanan secara mendasar. Hal-hal gelap dibiarkan tetap berada di tempat gelap. Kita takut membongkar dan mengenalkan orang pada kegelapan. Membiarkan orang lain untuk tahu sendiri macam apakah kegelapan itu. Berada di kegelapan adalah masalah tanggung jawab pribadi.

Kita tidak dilatih dengan baik bagaimana cara mengatasi kegelapan dan keluar dari situ. Tidak banyak orang sadar bahwa dunia kegelapan punya hukum-hukumnya sendiri. Dalam dunia gelap, tidak ada nilai baik. Dalam dunia gelap kedudukan orang sama rata. Semua gelap. Senasib dan sepenanggungan. Nilai-nilai baik tak berlaku di dunia kegelapan. Bahkan bisa jadi tertawaan.

Selama ini kita dididik untuk memusuhi orang-orang yang berdunia gelap. Kita dididik dan dibiasakan seolah kita selalu berada di kerumunan orang baik-baik. Bahkan kita merasa sebagai orang yang paling baik. Tidak sadar dengan kegelapan yang ada di diri sendiri. Kegelapan tidak dikenalkan pada diri sejak usia dini. Kegelapan adalah hal yang perlu dijauhi. Sehingga banyak orang tidak bisa menyadari bahwa sebenarnya ia telah berada di dunia gelap karena tak pernah mengenalnya.

Begitu menghadapi orang lain yang dulunya baik ternyata punya dunia gelap, kita tidak tahu bagaimana menyiasati keadaan itu. Kita tidak punya acuan dan pegangan cukup. Referensi kita tentang dunia gelap amat miskin. Karena selama ini yang ditanamkan oleh lingkungan kita adalah hal yang baik-baik.

Generasi penerus harus dilatih bagaimana bersikap di dunia kegelapan. Agar mereka menjadi pemimpin yang tangguh dan tidak mudah diberdayakan oleh orang lain. Tidak mudah terkecoh oleh pihak-pihak serigala berbulu domba.

Dalam kondisi terkontrol generasi penerus dibenamkan dalam dunia fitnah, kejahatan, tipu daya, pelecehan dan seterusnya sehingga mereka tahu bagaimana sebenarnya dunia kegelapan itu. Nantinya mereka terbiasa dengan keadaan dan bisa dengan mudah mengenali kegelapan itu. Menganalisa dengan obyektif dan kepala dingin tanpa kehilangan penalaran. Dunia gelap akan dihadapi dengan tenang, penuh toleransi dan jauh dari sekedar apriori. Dunia tidak hanya ada hitam dan putih, tapi juga ada abu-abu. Salah besar bila kita merasa bahwa kita hanya perlu dididik untuk mengenal dunia yang serba putih. *** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s