herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Surat Terbuka Buat Teman Sekampung tentang Pilpres 2014

Leave a comment

Surat Suara pilpres2014 dari PPLN Sydney (Sumber foto: Dokumen pribadi).

Surat Suara pilpres2014 dari PPLN Sydney (Sumber foto: Dokumen pribadi).

Hallo apa kabar teman? Semoga baik saja.

Maaf baru kali ini saya nulis surat panjang ke inbox kamu. Setelah lama kupertimbangkan, aku putuskan untuk nulis surat ini. Aku cuma tak ingin masalah ini akan berlarut-larut dan berakhir tidak baik.

Aku mengerti sekali bahwa setiap orang berhak dengan keputusannya. Sejak kecil kita bersahabat. Mulai dari sekolah di TK sampai di SMA kita selalu satu sekolah. Meski tidak selalu sekelas. Dan kita selalu menghargai satu sama lain. Persahabatan kita memang unik. Tak ada dua bersahabat seperti kita. Kita tidak menunjukkan keakraban kita secara terbuka di depan semua orang. Kita pun tidak seperti orang lain dalam menyikapi persahabatan. Tidak kemana-mana berdua seperti gunung sama didaki, lembah sama dituruni. Kita tak selalu terlihat runtang-runtung. Persahabatan kita ada di hati.

Sejak kecil kita sering bermain bersama. Hubungan kita paling akrab saat kita duduk di kelas dua SD. Kemana-mana kita selalu bersama-sama. Cari jangkrik di sawah, cari tebu, cari burung, atau cari kepiting di sungai pinggir desa. Kau sering tidur di rumahku dan aku juga sering tidur di rumahmu. Itulah kenangan terbaik bersamamu. Tapi setelah kelas tiga, kau mulai sibuk dan jarang main karena kau punya adik baru, dik Indah. Dan aku sering ke rumah bulikku di lain desa untuk mengantar adikku keponakan yang sekolah di SD kita. Masih ingatkan sama si Prasojo? Eh, bagaimana kabarnya dik Indah sekarang? Lama nggak dengar kabarnya.

Sejak pertama kali kita punya hak suara dalam pemilu saat kita masih SMA, kita selalu nyoblos partai Golkar. Apa pilihan kita waktu itu kita omongkan tanpa rahasia. Bahkan kita ke TPS sama-sama. Tidak ada yang kita pertentangkan. Kita tak milih partai lainnya. Kita pilih Golkar karena guru-guru kita adalah Golkar. Yang kita tahu cuma Golkar. Kita juga merasa aman bila memilih Golkar. Tak mikir lagi setelah coblosan. Perkara menang atau kalah bukan masalah kita lagi. Kita tak punya kuasa untuk itu. Tapi toh, akhirnya Golkar selalu menang.

Aku ingat meski mas Dodik, kakakmu ikutan kampanye PDI dan aktif di organisasi. Kak Dodik sering sekali cerita tentang kampanye yang ia lakukan. Ramai-ramai ke lapangan desa atau naik truk ke desa tetangga kadang ke luar kota. Kak Dodik juga aktif di GMNI di universitasnya. Kita sering berdebat dengan kak Dodik tentang pilihan partai kita dan pilihan kak Dodik. Tapi akhirnya kita berdua tetap saja pilih Golkar.

Sejak SMA hingga kita menikah, kita tahunya cuma Golkar. Kita cuma tahu satu presiden, Pak Soeharto. Dan setelah Pak Harto tak jadi presiden, aku tidak tahu apa partai idiolamu lagi. Dan aku sendiri juga sudah lama tak peduli dengan politik. Aku sudah golput sejak lulus SMA. Tak satu pemilu pun aku ikutan nyoblos. Karena sudah tahu, tanpa suaraku pun Golkar akan memang telak. Seperti menggarami air laut.

Tapi rasanya untuk tahun ini aku tak akan golput lagi. Aku akan pilih Jokowi dan Jusuf Kalla. Aku melihat mereka beda dengan tokoh-tokoh elite politik lain selama ini. Mereka amat dekat dengan rakyat. Gerakan kebaruan mereka menawanku. Karakter mereka beda, terutama Jokowi. Aku sudah mengikuti sepak terjangnya saat ia masih menjabat walikota di Solo. Ia jujur, rendah hati, apa adanya dan pekerja keras. Ia mau blusukan mendengarkan masalah-masalah yang dialami rakyat kecil. Itulah pemimpin yang dibutuhkan untuk Indonesia saat ini, menurutku. Merubah haluan budaya politik dan birokrasi Indonesia yang dari itu ke itu juga. Baik orangnya, sistemnya atau budaya birokrasinya.

Itulah sebabnya di facebook aku pakai nomer 2 di foto profilku dengan tulisan “I stand on the right side”, karena aku berpengharapan besar pada kepemimpinannya. Untuk menjelaskan sikapku dan menghalangi diriku untuk posting negatif atau ditanggapi negatif oleh teman fb lain. Jika aku posting sesuatu yang membicarakan capres lain, teman di fb akan langsung mengerti sikapku. Pada saat aku posting bernada miring tentang capres lain mereka akan mengerti karena aku memang pendukung Jokowi. Jadi mereka bisa menanggapi dengan kritis atau tidak perlu ditanggapi sama sekali.

Aku dapat informasi banyak pertemanan di fb retak hanya karena beda preferensi politiknya. Sesuatu yang kupikir amat aneh. Dulu, kita tak pernah seperti itu. Pilihan politik adalah biasa dan wajar. Pemilu kali ini memang rusuh. Banyak fitnah dan berita-berita bohong. Banyak isinya saling menjelekkan dan bikin orang lain jadi tersinggung. Menanggapi posting di fb jadinya terlalu personal dan emosional. Tapi aku tak menyalahkan mereka.

Aku lihat posting-postingmu nampaknya selalu membela capres lain. Kita ternyata beda dalam pilihan politik ya?

Sebenarnya pingin sekali aku menanggapi posting kamu dan tautan-tautan yang kau update si statusmu. Tapi aku urungkan, takut kau tersinggung. Dan sepertinya kau bersikap sama, jarang menanggapi update statusku lagi. AKu maklum. Karena banyak pemilik akun tersinggung jika update statusnya dikritik dan dibandingkan dengan capres yang bukan pilihannya. Apalagi jika dipostkan juga tautan berita pembanding.

Saya kira tautan berita pembanding itulah yang memperburuk keadaan. Karena isinya amat berseberangan. Bahkan merendahkan dan menghina capres satu sama lainnya. Tidak banyak yang punya waktu untuk meneliti apakah tautan itu reliabel dan kredibel atau hanya abal-abal. Makanya, kadang posting tautan itu secara tidak langsung bisa ditanggapi sebagai hinaan bagi yang punya status di fb. Hinaan dalam banyak hal tergantung orang dalam menanggapinya. Bisa dalam cara berpikir, keturunan, stigma negatif PKI, kafir, dan seterusnya yang memang bisa bikin panas telinga.

Kita tidak sadar bahwa kita menjadi korban dari kampanye hitam. Masing-masing bersikeras dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Dan kadang amat emosional. Yah, karena kampanye hitam itu memang mengaduk-aduk dunia emosi kita. Dunia nalar entah sudah menguap kemana. Banyak orang sudah kehilangan kepala dinginnya. Hatinya panas terus. Banyak orang mengalami kesulitan memilah-milah mana berita benar dan mana berita isapan jempol. Banyak orang dalam kebingungan. Mengalami disonansi karena berjubelnya informasi. Itulah politik. Membikin orang bingung dan akhirnya kehilangan daya kritis untuk menentukan pilihan. Sehingga bisa dengan mudah untuk digiring.

Baru kali ini aku mengalami kampanye pemilu sedemikian buruknya. Seolah menghalalkan segala cara demi memenangkan pilihan presidennya. Entah sampai kapan hal ini akan berakhir. Mudah-mudahan setelah terpilih presidennya nanti, semua yang bikin sumpek ini akan tak meninggalkan sisa. Kembali normal sebagaimana biasanya.

Aku hanya tidak ingin masalah ini menjadi pengganjal pertemanan kita. Karena tidak ada gunanya. Siapapun yang terpilih sebagai presiden, kita tetap saja jadi rakyat biasa. Presiden pilihanmu adalah presidenku. Presiden pilihanku akhirnya juga menjadi presidenmu. Kita sebagai rakyat biasa tidak ada pilihan lain selain taat dan patuh pada peraturan yang dihasilkan oleh presiden dan kabinetnya. Apapun peraturan itu. Dan kita kembali menjalani hidup seperti biasanya. Tidak ada yang bakal ada kasih hadiah atau memuji kita jika presiden pilihan kita terpilih.

Kita semua punya keinginan tentang bagaimana seharusnya negara dikelola. Mungkin kita semua sepakat bahwa negara kita terlalu banyak korupsinya. Mudah-mudahan siapapun presidennya kelak, mau menangani masalah korupsi ini lebih serius. Banyak hal tentang Indonesia yang perlu dibenahi. Semoga saja ada perubahan yang bisa kita rasakan dalam kehidupan bernegara kita secepatnya. Tidak dari dulu yang itu-itu saja. Negara kita sudah banyak ketinggalan dengan negara lain. Apalagi kini batas antar negara sudah makin kabur. Globalisasi perlu sikap mental dan pemerintahan yang beda kalau ingin bersaing secara kompetitif dengan bangsa lain. Kita semua perlu menyadari keadaan ini.

Mudah-mudahan dengan maraknya kampanye hitam ini bisa membuat kita semua belajar tentang demokrasi. Bahwa demokrasi itu ada koridor-koridor kepantasannya. Demokrasi bukan demokrasi lagi kalau kita tidak sadar dengan batas-batasnya. Demokrasi tidak bisa ditanggapi dengan cari menangnya sendiri.

Sebentar lagi akan aku kembalikan foto profilku seperti dulu begitu pemilu selesai. Tidak memihak pada siapapun kecuali pada rasa cintaku pada tanah air, dan tentu saja pada persahabatan kita.

Salam hangat dari sahabatmu.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s