herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Pindah Kubu Tanpa Malu

Leave a comment

Sebagai negarawan, Jokowi harus menerima pihak manapun yang hendak bergabung dengan kubu atau koalisinya. Tidak peduli meski tawaran untuk bergabung itu datang dari para opportunis sejati sekalipun. Tidak peduli meski orang tersebut sempat membelot dan berkhianat. Jokowi harus bisa merangkul semua pihak yang berseberangan bila ingin bergerak ke depan.

Akhir-akhir ini keadaan mulai menunjukkan kecenderungan beberapa pihak yang dulu berseberangan kini ingin bergabung ke kubu Jokowi dengan berbagai alasan. Bahkan sempat menimbulkan kontroversi dan perpecahan internal partainya.

Bagi banyak kalangan tingkah beberapa kaum opportunis memang amat memuakkan. Bagaimana tidak, setelah demikian keras dan lama mengecam Jokowi tiba-tiba mereka bergabung ke Jokowi dan berbalik memujanya setelah ada kecenderungan bahwa Jokowi bakal memenangkan kontes presiden. Bagaimana mungkin seorang bisa berubah sikap demikian drastis 180 derajat? Menelan semua air liurnya sendiri hingga tandas. Bagaimanapun nggak masuk akalnya, tapi toh itu kenyataan dan menjadi kecenderungan saat ini?

Nampaknya pindah kubu atau partai bukan hal aneh di tanah air. Loyalitas pada partai dan ideologi politik bukan suatu harga mati. Kita menganggap politik adalah hanya semacam permainan game. Orang bebas berganti-ganti peran untuk memenangkan atau melindungi kepentingannya. Cari selamat.

Pada saat korupsi dan money politik telah menggejala di tanah air, nilai politik tak lebih dari nilai beberapa lembaran rupiah. Nilai uang masih berada di atas nilai loyalitas politik. Bahkan di atas nilai-nilai kebersamaan sosial dan ideologi keagamaan. Yang ada bagi mereka adalah ideologi keselamatan dan kelimpahan uang.

Bagi masyarakat awam, money politik atau sembako politik adalah masalah rejeki. Dalam coblosan, mereka bukan mengekspresikan pilihan politiknya, tapi menawarkan suara mereka dengan hukum dagang.

Perkara untung dan rugi adalah masalah pribadi. Belum tentu yang kasih uang banyak bakal dicoblos. Kadang malah memilih partai yang kasih uang dikit demi keluarga atau teman. Rugi uang tak apa asal menyenangkan tetangga atau teman. Atau mungkin mereka percaya dan melihat sendiri keunggulan pilihannya. Atau lainnya. Orang lain tidak bakal tahu.

Siapa tahu yang gembar-gembor mengkampanyekan partai politik tertentu, tapi pada saat coblosan justru mencoblos partai yang tidak dikampanyekannya? Alasannya karena hanya partai yang digembar-gemborkan itulah yang bersedia menggaji orang dan jumlahnya relatif banyak. Kenapa harus ditolak sebuah pekerjaan yang punya gaji lumayan besar? Kampanye adalah profesi dan coblosan adalah masalah pribadi. Dua hal yang berbeda dan terpilah.

Budaya politik kita sepertinya masih cair. Selama partai politik tersebut tidak terlarang, maka bebas saja orang untuk pindah-pindah partai. Nampaknya pengalaman sejarah politik kita belum juga terhapus dari ingatan banyak orang. Menempatkan secara ekstrim berseberangan kutub budaya berpolitik. Antara yang terlarang dan tidak terlarang. Boleh berlarian kesana-kemari asal tidak menginjak gari pembatas. Boleh pindah-pindah blok atau kamar asal tahu batasnya atau nggak ketangkap sama penjaga garis batas. Persis seperti mainan gobak sodor (go back to door) saat kita masih kecil dulu.

Dalam budaya politik macam demikian, jangan harap partai politik akan memperjuangkan amat rakyat dengan konsisten dan konsekwen. Itulah yang selama ini terjadi menurut pengalaman kita.

Partai politik hanya dijadikan tunggangan untuk mencapai kedudukan, status dan kelimpahan uang. Kalau perlu rame-rame bikin aturan untuk mempertahankan kenikmatan itu selagi masih punya kuasa. Itulah sikap elite politik yang kita tangkap selama ini. Perubahan UU MD3 yang memuat perubahan tata cara pemilihan Ketua DPR dan yang telah disahkan lewat rapat paripurna dipimpin Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso adalah satu contoh saja. Salah satu alasannya adalah agar DPR dihormati. Mereka lupa bahwa kehormatan itu tidak didapat dari berapa banyaknya peraturan, tapi dari tindakan. Kehormatan itu tidak bisa diminta. Respect must be earned. Kehormatan didapat dari hasil tidakan-tindakan yang ditanam.

Suara Tuhan

Memang tidak semua pihak yang menyeberang kubu adalah kaum oportunis. Ada yang pindah kubu karena secara struktural atau aturan organisasi memaksa mereka untuk pindah berseberangan. Kepindahan kubu mereka masuk akal, realistis dan legal. Ada juga pihak yang pindah kubu karena masalah integritas pribadi dan partai yang menaunginya dipandang tidak lagi bisa menampung aspirasi politiknya. Kepindahan kubu macam ini terasa syah-syah saja.

Jika KPU mengumumkan kemenangan Jokowi, mungkin bisa dipastikan bahwa makin banyak pihak yang akan pindah ke kubu Jokowi. Bagi pihak yang tak pindah dan yang telah terlanjur berkoar-koar menjelekkan Jokowi mungkin akan meneruskan praktek-praktek lamanya. Bikin berlapis-lapis aturan dan nyebar kampanye hitam level berikutnya. Jokowi akan berhadapan dengan garis keras pertahanan pihak seperti ini.

Apa yang perlu dilakukan kubu JOkowi adalah untuk tetap konsisten dengan fenomena pembaruan yang ditawarkannya. Transparansi birokrasi, memihak rakyat, konsisten dan punya integritas. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih prosesnya perlu waktu. Perubahan mentalitas budaya politik dan birokrasi tidak bisa terjadi seketika.

Tapi jika Jokowi tidak berubah karakternya meski telah menjadi presiden, perubahan bisa dipercepat waktunya. Jokowi – JK akan menciptakan situasi kondusif untuk perubahan. SUara rakyat akan tetap berada di belakangnya. Kekuatan suara rakyat di belakang Jokowi inilah yang perlu diperhitungkan oleh lawan politik Jokowi. Potensi gulungan ombaknya amat mematikan. Suara rakyat bisa mendobrak segala kemacetan dan ketidak-benaran.

Jika Jokowi ingin perubahan, ia harus tetap konsisten dengan keterpihakannya pada suara rakyat. Tidak ada jalan lain. Jokowi dan kubunya harus berpihak pada rakyat. Ini harga mati! Karena inilah senjata pamungkas Jokowi yang bisa diandalkan. Bukan uang, bukan popularitas, bukan koalisi partai, bukan banyaknya kubu yang menyeberang dan juga bukan deretan pangkat jendral.

Kita semua tahu, bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Tapi elite politik kita telah lama menutup mata dan telinganya. Tak mau melihat dan mendengarkan. Sudah saatnya mereka disadarkan. Dan ini tidak bisa dilakukan dengan kebencian dan penghukuman. Tapi lewat kerendahan hati, penerimaan dan ketulusan untuk berbuat baik. Itulah hakekat dari suara tuhan yang benar. Tidak lewat fitnah dan kampanye hitam.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s