herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Monopoli Kebenaran dan Hukum yang Disopankan

Leave a comment

quick count, pilpres2014

Kebenaran hasil rekayasa. Yang benar, Jerman menang atas Argentina. (Sumber foto: Dari berbagai sumber di facebook)

Banyak kalangan mencemoohkan kredibilitas TVONE akibat penyiarannya yang tidak seimbang. Kasus yang paling kontroversial adalah penyiaran yang berkaitan dengan partai terlarang PKI dan quick count. Untuk urusan partai terlarang sepertinya sudah dianggap selesai. Untuk urusan quick count masih menunggu tanggal 22 Juli nanti untuk membuktikan kebenarannya.

Sebenarnya masalah perbedaan dalam interpretasi fakta dan kebenaran sudah punya sejarah panjang di tanah air. Cuma saja selama ini, perbedaan itu tidak diungkapkan terang-terangan. Kita selama ini tutup mata dan melakukan pembiaran-pembiaran penerjemaahan realitas yang melenceng. Terutama jika interpretasi itu dilakukan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga yang dianggap punya kewenangan secara resmi sebagai lembaga negara.

Namun menjadi lain ketika perbedaan interpretasi fakta itu dilakukan oleh pihak swasta. Apalagi dipandang sebagai pendukung partai politik dan dianggap ada keterpihakan. Beritanya dicurigai dan secara terang-terangan jadi bahan ledekan.

Pilpres kali ini benar-benar lain dari yang lain. Dimana semua tatanan yang sebelumnya menikmati status legitimasi, kini dipertanyakan keabsyahannya. Semua diobrak-abrik. Legitimasi dipertanyakan. Dunia akademis, intelektual, lembaga ilmiah, sikap obyektif, dunia keilmuan dan metodologi ilmiah yang selama ini punya posisi di menara gading seolah selalu menyiarkan keobyektifan kini digoyang dan diragukan. Bila bidang-bidang yang seharusnya menyiarkan keobyektifan utama dalam kemajuan kemanusiaan itu diragukan, lalu apa yang tersisa buat kita?

Mungkin kasus ini sebagai kasus yang terisolir dan tidak secara general. Kelembagaan keilmuan diragukan hanya pada kasus quick count dan tidak pada kasus-kasus lain. Dunia keilmuan masih tetap diakui sebagai lembaga ilmiah dan obyektif.

Tapi menjadi pertanyaan yang menggelitik jika dunia keilmuan bisa dibelokkan demi sebuah kemenangan. Dunia keilmuan dilacurkan demi sebuah tujuan jangka pendek. Bisa dibayangkan efek berikutnya jika hal ini mengalami pembiaran. Bukankah dunia keilmuan senantiasa, seharusnya, sewajibnya untuk selalu mempertahankan keobyektifannya? Kapanpun, dimanapun, siapapun dan apapun keadaan dan situasinya. Karena dengan sikap begitulah dunia keilmuan mendapatkan legitimasi dalam memajukan dan memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan?

Sikap TVONE barangkali lahir dari interpretasi keadaan di tanah air selama ini. Kebenaran adalah milik penguasa. Sejarah bangsa kita setelah kemerdekaan kebenarannya juga masih dipertanyakan oleh banyak kalangan. Masih banyak pro dan kontra. Sejarah kita penuh dengan interpretasi-interpretasi yang tidak selamanya berpihak pada kebenaran.

Kasus penculikan tahun 1998 hingga kini masih jadi perdebatan hangat yang bakal tak kunjung selesai dalam waktu dekat. Sebab silang sengkarutnya perdebatan yang perlu digaris-bawahi adalah sinyalemen yang mengatakan karena adanya hubungan dengan presiden terhadap tokoh yang diadili. Tidak dimahmilkan karena masih menantu pak presiden, begitu alasan beberapa pelaku persidangan DKP. Dasar pertimbangan kesopanan yang nampak sederhana ini, betapa pada akhirnya menciptakan blunder berkepanjangan. Hukum yang disopankan bagaimana mungkin bisa memenuhi rasa keadilan dan kebenaran?

TVONE adalah lembaga swasta publik pertama yang menyadarkan kita bahwa kebenaran itu bisa dibelokkan. Kesadaran itu datang pada saat kita dalam keadaan terlibat dan berpihak pada satu keadaan. Pada saat kita punya kepentingan dan bisa berpikir dengan baik karena keterpihakan kita. Kebetulan pada saat itu keterpihakan yang ada pada partai politik. Kita langsung terlibat di dalamnya. Sehingga kebenaran yang diselewengkan itu bisa segera diluruskan.

Kenapa kita harus merasa terlibat dulu untuk bisa meluruskan sebuah penyelewengan kebenaran? Seharusnya, terlibat atau tidak kebenaran adalah tetap kebenaran. Dimanapun harus dijaga untuk tidak diselewengkan. Bagaimana dengan kasus-kasus yang lebih besar yang berhubungan dengan pemerintah dan kenegaraan yang kebenarannya diragukan? Kita merasa tak terlibat dan melakukan pembiaran-pembiaran. Kadang kita malah termakan oleh retorika-retorika yang menggebu.

Bukan Monopoli

Penyelewengan kebenaran bukan monopoli TVONE. Bisa dipastikan bahwa penyelewengan-penyelewengan juga dilakukan oleh banyak lembaga lain. Kita tak bisa melihatnya karena ketidak-pedulian kita. Kita pura-pura tidak tahu dan melakukan pembiaran. Dan secara tidak sadar kita malah mendukung penyelewengan-penyelewengan itu. Bahkan tidak jarang banyak kalangan ikut secara aktif menyebarkan penyelewengan kebenaran menurut caranya sendiri. Dan berkedok sebagai ilmuwan atau sosok yang punya kompetensi atau seolah mewakili lembaga yang punya kredibilitas dalam keilmuan. Sungguh, integritas menjadi sesuatu yang makin langka didapat di tanah air.

Bagaimana masa depan kehidupan berbangsa kita jika warganya bisa seenaknya melecehkan sebuah kebenaran yang diakui bersama? Kebenaran universal menjadi ledekan kita semua? Disinformasi kita sebarkan? Kewenangan lembaga keilmuan kita goyang? Dunia keobyektifan kita keduakan?

Bagaimana kita berpijak pada kebenaran bersama jika semua dikaburkan? Bagaimana kita belajar dari kesalahan bila semua ternyata bisa dibelokkan dan dibenarkan? Apakah semua itu tak penting, asal kemenangan ada di tangan? Untuk berapa lama kemenangan itu? Kemenangan yang didasarkan oleh landasan yang goyah tak akan bertahan kokoh untuk waktu lama. Kita kembali akan mengais-ngais tak pernah beranjak setapakpun untuk maju bersama sebagai bangsa. Kita semua kehilangan pegangan. Kita semua kehilangan panutan. Bangsa kita ada dan hidup untuk hari ini tapi tidak untuk masa depan!

Aturan yang baku dan fair harus ditetapkan oleh kita semua. Selama ini kita bikin aturan yang membolehkan satu pihak tapi melarang pihak lainnya. Apakah kita masih mencari aturan baku itu? Sampai kapan bisa kita temukan? Sementara bangsa lain sudah melaju di depan kita dan kita masih sibuk mencari hal-hal yang begitu dasar? Apa yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Jika dalam pertandingan olah raga ada pelarangan penggunaan obat perangsang, aturan itu harus diikuti oleh semua pelaga. Meski begitu tak terelakkan juga bahwa kecurangan tetap terjadi karena sulit terdeteksi. Maka kita kembalikan pada diri sendiri. Mana lebih bernilai kemenangan karena pengaruh obat perangsang atau kemenangan alamiah dan nyata-nyata hasil dari usaha kerja keras? Apakah demi aturan yang fair dan adil, kita perbolehkan saja semua pakai obat perangsang? Hingga akhirnya pembuluh darah kita pecah karena ambisi kemenangan?*** (HBS)

petisi, metro tv, tv one

Dua petisi yang isinya sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s