herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Baru Sadar Tidak Demokratisnya Pemerintah Kita Setelah Kalah Suara?

Leave a comment

KPU, quick count, SMRC, lembaga survey abal-abal

KPU punya kewenangan tunggal. (Sumber foto: http://www.rumahpemilu.com)

Memangnya selama ini pemerintahan kita bebas dari kecurangan? Memangnya pemilu selama empat dekade lalu itu benar-benar jujur? Memangnya kampanye pemilu yang katanya pesta demokrasi itu berlangsung jujur tanpa kecurangan?

Kalau menang pemilu, bilangnya pemilu telah berjalan secara demokratis, jujur dan adil. Kalau kalah kok malik grembyang berbalik arah 180 derajat? Nek dipikir ora jujur dan penuh kecurangan, siapa sih yang jujur selama ini? Elite politik kita memangnya jujur-jujur? Tidak ada korupsi dan penyalah-gunaan wewenang? Sistem pemerintahan kita selama ini demokratis dan transparan? Aku sik ora mudeng sing dimaksud demokratis, jujur dan adil itu yang gimana sih menurut elite politik di Indonesia?

Apa pihak yang menuntut untuk diperlakukan secara demokratis, jujur dan adil itu dulunya juga memperlakukan orang lain secara demokratis, jujur dan adil? Kok nggak melihat sejarah bangsa kita secara luas. Kok tidak melihat budaya politik kita selama ini secara lebih mendalam.

Kalau memang pemilu selalu dilakukan dengan jujur dan adil tidak mungkin orang bisa pegang kekuasaan selama 30 tahun lebih. Kalau memang kehidupan negara kita demokratis tentunya tidak perlu ada reformasi.

Budaya politik kita selama ini apakah kondusif untuk melakukan pemilu yang benar-benar demokratis, jujur dan adil? Kenapa tidak sedikit menengok ke belakang dan memahami dengan baik bagaimana budaya politik kita itu sesungguhnya. Bagaimana tingkat kadar demokrasi, jujur dan adil itu diterapkan. Jika kadar itu bisa diukur, barulah bisa ditentukan batas-batas demokrasi, jujur dan adil. Lalu bisa menuntutnya sebatas ukuran yang ada.

Agak aneh juga jika elite politik menuntut sebuah kehidupan demokrasi, kejujuran dan keadilan yang justru kita semua sebagai warga negara Indonesia lagi memperjuangkannya. Elite politik menuntut dijalankannya sistem demokratis yang jujur dan adil karena kepentingannya terlukai? Apakah kehidupan demokrasi, kejujuran dan keadilan itu hanya terjadi saat pemilu? Hanya terjadi untuk memperjuangkan kepentingan kelompok? Tidak bagi kepentingan negara dan rakyat banyak?

Apakah elite politik tersebut tutup mata selama ini bahwa kehidupan politik kita jauh dari kehidupan demokratis? Sistem pemerintahan dan birokrasi kita yang penuh dengan kecurangan dan ketidak-jujuran? Dimana mereka itu selama ini? Kok tiba-tiba kini menuntut lembaga negara untuk bersikap demokratis, jujur dan adil? Apakah mereka selama ini jatuh tertidur dan masa bodoh dengan keadaan? Baru terbangun saat ketidak-demokrasian, ketidak-jujuran, ketidak-adilan itu menimpanya. Baru tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak demokratis, jujur dan adil? Sementara rakyat banyak sudah puluhan tahun merasakan perlakuan tidak demokratis, jujur dan adil itu?

Jika elite politik itu benar-benar mau menegakkan kehidupan pemerintah yang demokratis, jujur dan adil yang digembar-gemborkan itu, tentunya bisa melihat keadaan lebih luas. Jika memang murni itu tujuannya, seharusnya perjuangan tidak hanya mengarah pada satu lembaga tapi pada sistem pemerintahan dan birokrasi secara luas. Tidak hanya demi kepentingan kelompok atau politiknya sendiri.

Jika mereka mengatakan bahwa perjuangan mereka adalah untuk menegakkan sistem demokrasi, lembaga yang jujur dan adil, seharusnya mengajak rakyat untuk ikut berjuang bersama-sama dalam skala yang lebih luas. Tidak hanya demi kepentingan politik atau kelompoknya. Apalagi hanya mengarah pada satu lembaga demi kursi kepresidenan.

Kita semua selama ini sebagian besar mungkin telah merasakan, melihat, mengamati dan menjalani kehidupan di bawah pemerintahan yang korup, tidak demokratis, jauh dari keadilan dan kejujuran. Kita mengharap bersama-sama akan sebuah pemerintahan yang bersih dan demokratis. Dengan pilpres kita semua berharap akan adanya seorang pemimpin yang bisa membawa negara kita pada kehidupan demokratis dan mengantarkan rakyat pada kesejahteraannya. Jika memang hal ini harapan kita semua, kenapa tidak kita perjuangkan bersama-sama? Apalagi jika mengatakan telah didukung lebih dari 50% suara rakyat?

Presiden dan pemimpin baru telah terpilih, seharusnya kita semua mendukungnya dan berjuang menurut cara kita dan kemampuan kita masing-masing agar pemerintahan yang bersih, demokratis, jujur dan adil itu benar-benar terwujud. Bagi partai politik bisa saja menjadi oposisi untuk mengawal, mengontrol dan mengawasi agar pemimpin baru tersebut benar-benar melaksanakan pemerintahan yang kita cita-citakan bersama. Tidak hanya sibuk sendiri memperjuangkan kemauannya dan menuntut kehidupan demokratis, jujur dan adil agar kepentingan kelompok atau politiknya terlindungi. Dan kemudian bersikap masa bodoh, tutup mata dan telinga setelah kemauannya terpenuhi seolah urusannya sudah selesai.

Ini dadaku, mana dadamu? Begitu kata negarawan kita, Ir Soekarno.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s