herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Asumsi Itu Bagai Rayap

ITU kata orang. Asumsi memang sebatas pendapat. Praduga tentang sesuatu yang belum tentu benar. Opini yang tidak berdasar fakta. Rekayasa sebuah kenyataan yang hanya ada dalam pikiran. Otak-atik sebuah hipotesa dan pembenaran hipotesa menurut selera pribadi. Asumsi yang tidak berdasar bisa secara pelan-pelan melapukkan mutu sebuah hubungan pribadi.

Kadang kita memang begitu susah membedakan antara opini dan fakta. Beberapa fakta belum tentu mendukung sebuah opini secara khas. Relevansi dan sudut pandang kita menentukan apakah sebuah fakta itu mendukung opini. Atau opini itu terbukti atau bersinggungan dengan kenyataan dan kebenaran sebuah masalah. Memilah-milahkan fakta bukan pekerjaan gampang bagi semua orang. Tergantung cara pikir, tingkat pendidikan, tingkat pergaulan dan pengalaman hidup. Asumsi dalam tulisan ini batasannya longgar. Bisa prasangka, opini, pendapat dan lain-lain yang pada dasarnya belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Ada seorang ibu menaruh rasa curiga pada suaminya yang baru saja naik pangkat menjadi pemimpin departemen. Si ibu menduga bahwa suaminya telah main mata dengan teman sekantornya. Suaminya sering menerima telpon dari seseorang sesuai jam kantor. Karena didorong rasa curiga, si isteri punya keinginan untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh suaminya lewat telpon di petang itu.

“Pa, kamu tahu di mana kartu tagihan listrik?” tanyanya pura-pura saat suaminya didengarnya menerima telpon di beranda.

“Di meja makan di dapur,” kata suaminya sambil memutus hubungan telpon dan menaruh hpnya ke saku celana.

Melihat tingkah laku suaminya, si isteri makin tambah curiga. Kenapa suaminya nampak tiba-tiba menghentikan obrolannya dan nampak tergesa-gesa memasukkan hpnya ke saku celananya? Adakah sesuatu yang berusaha dirahasiakan dan disembunyikan darinya?

Sang isteri makin curiga ketika suaminya makin sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan banyak pekerjaan di kantor. Kadang pada petang hari suaminya juga terima SMS.

Kecemburuan sang isteri makin menjadi-jadi karena berangkat dari asumsi yang belum tentu benar. Untuk bertanya pada suaminya ia merasa enggan. Ia merasa takut kalau asumsi itu benar dan sekaligus takut harga dirinya terlukai.

Padahal dari sisi suami, hubungan telpon itu karena posisinya yang baru saja menduduki kepala departemen. Banyak hal yang perlu dibenahi dan anak buahnya tak paham dengan kebijaksanaan yang telah ia gariskan sebagai pemimpin departemen yang baru. Bawahannya sering lembur dan ia berpesan kalau ada kesulitan, silahkan telpon atau kirim sms ke hp-nya.

Ia tidak memutuskan hubungan telpon saat si isteri bertanya, tapi karena memang sudah selesai percakapan yang dilakukan. Dan ia memasukkan hp itu ke celananya bukan karena ingin menyembunyikannya dari isteri. Ia segera memasukkan hp ke celana karena menyiapkan diri untuk membantu isterinya. Siapa tahu isterinya perlu pertolongan tangan?

Jika asumsi si isteri tidak segera diluruskan, asumsi itu bisa makin membesar dan secara pelan akan mempengaruhi pola komunikasi keduanya. Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa tahu?

Kadang kedekatan hubungan membuat kita lebih sering menggunakan asumsi daripada analisa obyektif. Kita merasa tahu pribadi orang yang dekat dengan kita. Tingkah laku dan reaksi psikologisnya kita merasa paling tahu dan hafal. Padahal bagaimanapun dekat hubungan pribadi seseorang dengan orang lain, mereka tetap sebagai pribadi unik. Keadaan psikologis atau dunia batin tak akan mudah tersurat. Hal-hal yang tersirat tidak begitu saja gampang diterka bagaimanapun dekatnya hubungan pribadi kita.

Asumsi tidak saja datang dari wanita, tapi juga dari sisi pria. Kadang hal-hal yang nampak biasa dalam keseharian menjadi sesuatu yang menyulut rasa cemburu dan kemarahan karena adanya asumsi yang sudah kita tanamkan dalam kepala. Pikiran negatif memang mudah tersulut oleh hal-hal yang kita asumsikan mendukung “kebenaran” asumsi kita. Kita memang gampang sekali terjebak pada pikiran negatif.

Cara pikir rasionil dan logis memang lebih banyak dilakukan oleh kaum pria. Kaum pria lebih piawai dalam memilah-milahkan mana logis, rasionil, obyektif dan mana-mana yang hanya berdasar asumsi dan pikiran negatif. Sementara wanita lebih banyak dipengaruhi oleh emosinya dibanding pria. Namun bukan berarti bahwa kaum pria tidak melakukan tindakan berdasar pada asumsi. Mungkin saja frekuensinya tidak sesering wanita. Kaum pria juga punya emosi. Logika, rasio dan nalar seorang pria bisa tumpul saat ia dihadapkan pada hal-hal yang sifatnya emosional. Karena cinta, kasih sayang, perhatian dan sebagainya adalah faktor-faktor emosionil yang bisa membuat daya nalar seorang pria menjadi tumpul. Cemburu itu buta. Demikian kata orang. Sama halnya dengan cinta. Cinta tidak punya mata.

Bagaimana dengan asumsi positif?

Asumsi positif tidak sama jeleknya dengan yang negatif. Keduanya tidak berdasar fakta. Tidak obyektif. Dan bisa salah. Berasumsi positif meski kedengarannya lebih bermanfaat daripada yang negatif, tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Asumsi positif bisa saja berlebihan dalam menilai sesuatu dan membuat kita luput memperhatikan yang kecil-kecil namun penting.

Kita sering berasumsi bahwa orang dekat kita punya kemampuan cukup untuk menyelesaikan sebuah masalah. Ia punya kepercayaan diri besar untuk mengatasi sebuah masalah. Karena asumsi positif tersebut, kita lupa bahwa tidak semua masalah bisa terselesaikan oleh kemampuan orang dengan menilai dari segi tertentu atau beberapa faktor yang kita asumsikan baik. Kita bisa kehilangan kepekaan jika terlalu berasumsi positif terhadap orang lain. Perlu ada keseimbangan. Kadang fakta berdasarkan pengamatan kita tidak selamanya menyatakan yang tersirat.

Pada dasarnya manusia itu unik. Setiap manusia unik. Manusia lahir, hidup dan mati unik pada masing-masing individu. Manusia pada dasarnya secara entity adalah terpilah dari manusia lain. Manusia merasa punya keterkaitan dengan manusia lain karena adanya ilusi tentang cinta dan persahabatan. Manusia terkoneksi karena adanya ilusi cinta dan persahabatan. Tanpa cinta dan persahabatan, pada hakekatnya manusia hidup dalam kesendirian. Lahir, hidup dan mati dihadapi sendiri.

Berasumsi positif boleh tapi bukan berarti membiarkan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang kita anggap ia mampu untuk mengatasinya sendiri. Mempertanyakan kemampuannya tidak akan merugikan orang lain. Mengorek kejelasan masalah adalah salah satu jalan membuka koneksi personal dengan orang lain. Bagaimanapun tinggi kemampuan seseorang, dalam hal tertentu ia masih butuh sapaan bahkan pertolongan. Bukan maksudnya hendak merendahkan kemampuannya. Kadang orang hanya enggan minta tolong secara terus terang. Kalau toh tidak minta tolong, perhatian pada hal-hal kecil kadang membuatnya bisa terkesan bahkan terharu. Kebenaran pada akhirnya akan muncul sebagai pemenang.*** (HBS)


Leave a comment

Jadikan Ahok Wakil Presiden, Prabowo Pasti Legowo

Urusan pilpres 2014 sepertinya bakal berlarut-larut. Persidangan MK tinggal menunggu beberapa hari lagi keputusannya. Banyak kalangan sudah menanti dengan was-was bagaimana berita kelanjutannya. Apakah begitu diumumkan, nantinya keadaan akan menjadi terang? Semua bisa menerima presiden terpilih?

Harapan itu mungkin hanya sekedar harapan. Karena belum lagi MK diputuskan, Prabowo sudah berorasi agar ibu-ibu siap-siap untuk mendirikan dapur umum. Untuk apa dapur umum itu? Itu pertanyaan banyak orang. Apakah Prabowo siap menuntut keadilan dengan cara bergerilya di perkotaan. Urban warfare? Masak sih?

Kemungkinan terjadi kekacauan menyusul pengumuman keputusan MK sepertinya tak main-main. Persiapan tenaga pengaman dalam mengantisipasi kerusuhan juga tak guyon. Polda Metrojaya mengerahkan pasukan Brimob dan bantuan personel dari berbagai daerah. Suasananya makin gerah.

Namun banyak juga kalangan yang tetap optimis dengan keadaan. Keamanan akan tetap terjaga dan kondusif. Pengumuman keputusan MK akan berjalan tertib dan damai. Mereka berpendapat bahwa rakyat sudah pinter. Tidak gampang disulut. Apalagi masalah pemilu sudah dianggap sudah selesai. Presiden telah terpilih. Urusan MK adalah urusan Prabowo dan simpatisan dekatnya yang tidak mau menerima keputusan hasil KPU dan bukan urusan rakyat secara nasional. Rakyat sudah terbiasa menerima kenyataan perihal kalah atau menang dalam pemilu.

Entah apa yang bisa menghentikan laju ketidak-puasan Prabowo. Apa yang bisa mengobati rasa kekalahannya dalam pilpres? Karena tindakan Prabowo untuk mempermasalahkan kekalahannya sepertinya tak akan berhenti dengan keputusan MK. Mungkin akan dilanjut dengan pansus pemilu. Mendorong masa perpanjangan jabatan presiden SBY. Impeach presiden dan lain seterusnya yang kita semua tidak tahu.

Beberapa hari lalu tersebar desas-desus bahwa JK sakit dan harus berobat ke Amerika. JK tidak kelihatan sosoknya ketika Jokowi meresmikan rumah transisi. Demikian parahkah sakit JK? Atau sebenarnya hanya alasan untuk mendesain sebuah skenario lebih besar lagi? Menyiapkan langkah-langkah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika terjadi pergolakan karena ketidak-puasan Prabowo tentang keputusan MK?

Jangan-jangan JK nantinya akan mengajukan pengunduran dirinya sebagai wakil presiden karena alasan kesehatan? Dan memaksa Jokowi untuk memilih wakilnya yang baru? Lalu siapa kira-kira yang tepat?

Siapa lagi wakil Jokowi yang pantas kalau tidak Ahok? Ahok sudah menjadi pasangan Jokowi di gubernuran. Pasangan ini terbukti saling melengkapi dan efektif kinerjanya. Dan yang paling signifikan efeknya adalah secara politik bisa menggembosi ketidak-puasan Prabowo.

Sebagaimana kita semua tahu, Ahok adalah titipan Prabowo dari partai Gerindra. Tidak ada alasan kuat bagi Prabowo untuk tidak menerima pemilihan Ahok sebagai wakil presidennya Jokowi. Jika Prabowo menolak pencalonan Ahok, partai Gerindra terancam rapuh. Dan Prabowo dipaksa untuk meredam kemauan politiknya demi partai yang dibidani kelahirannya. Pemilihan Ahok sebagai wakil presiden bakal mendongkrak moral simpatisan partai Gerindra.

Jadi Jokowi dapat untung, rakyat dapat untung dan Prabowo terpaksa menelan pil pahit demi keuntungan partainya. Gerindra dan PDIP sudah pernah berkoalisi. Bahkan Prabowo pernah mencalonkan diri menjadi wakil presidennya Megawati pada pemilu sebelumnya. Platform kedua partai dalam pilpres 2014 juga punya kemiripan. Jadi tidak ada rintangan besar yang bisa menghentikan kedua partai untuk berkoalisi.

Apakah rakyat akan terima? Lebih baik menerima keputusan Jokowi daripada keadaan makin berlarut-larut dan bikin resah. Rakyat sudah terbiasa bersikap demikian. Yang penting damai dan keadaan kembali normal. Mereka bisa hidup dan bekerja sebagaimana biasanya. Selebihnya untuk urusan pemerintah dan politik mereka tak begitu ambil pusing? Toh, pilihan keadaan yang tidak jelek-jelek amat?

Orang yang habis bertengkar mati-matian, biasanya kalau sudah saling akur bisa mesra sekali. Kira-kira begitu?*** (HBS)


Leave a comment

Indonesia Tidak Penting

Indonesia saat ini. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uGcDed4xVD4)

Indonesia saat ini. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uGcDed4xVD4)

Indonesia tidak penting? Sekitar 100 juta tahun lagi, Indonesia akan hilang. Menyatu dengan benua lain (Lihat Youtube). Tidak saja Indonesia, tapi seluruh daratan di bumi akan bergeser secara pelan-pelan. Proses yang sudah berlangsung jutaan tahun ini tak pernah kita sadari. Dan proses itu tetap berlangsung hingga detik ini. Dulu Australia dan Irian pernah menjadi satu tapi karena perubahan permukaan bumi, keduanya terpisah lautan. Benarkah analisa para ahli ini?

Sayang sekali bahwa kita semua yang hidup pada tahun ini tak akan bisa menyaksikan hilangnya Indonesia itu. Seratus juta tahun bukanlah bilangan kecil bagi umur manusia. Dalam masa seratus tahun saja bahkan kita tak akan tahu siapa nenek dan kakek buyut kita sendiri. Apalagi hingga jutaan tahun!

Umur manusia hanya seujung kuku dibanding umur alam semesta. Betapapun besar keinginan kita untuk menyaksikan Indonesia di masa 100 juta tahun lagi itu tak akan pernah kesampaian. Sebagai manusia wajarlah kita ingin menyaksikan perjalanan ke masa depan. Juga wajar jika manusia tidak menyadari bahwa umurnya demikian pendek dan mudah lupa. Masa depan datang dicicil sedikit demi sedikit. Dari jam ke jam dan hari ke hari tanpa kita rasa. Umur kitapun dikurangi sedikit demi sedikit. Dan tanpa sadar dari hari ke hari kita makin dekat dengan ketiadaan. Umur biologis manusia tak lama. Dari hari ke hari makin menua dan akhirnya rusak dan tak bisa dipakai lagi. Tak berguna dan akhirnya terburai jadi debu atau entah kemana.

Hidup manusia hanya sepanjang penggalah. Umur bumi sepanjang jalan. Mungkin itu peribahasanya. Peribahasa yang lahir dari dunia manusia yang umurnya amat pendek dan rapuh. Selain peribahasa kita lahirkan juga macam-macam fenomena simbol kepongahan kita. Simbol ketidak-sediaan kita untuk menerima kenyataan bahwa umur kita memang amat pendek dibanding alam semesta.

Jika seorang manusia diberi kekuasaan dan uang, ia akan lebih lagi menampakkan kegilaannya dalam menolak keterbatasan umurnya yang pendek. Membeli bukit dan menamai dengan namanya. Membangun piramida dan mengukir kekuasaannya. Bikin patung potret dirinya. Bikin makam megah di atas tanah berhekta-hektar luasnya. Seolah ingin menggelembungkan sosoknya yang kecil lewat bangunan atau benda-benda berukuran masif. Manusia ingin menjadi besar melewati fisik dan alam pikirnya. Seolah ingin menandingi kebesaran alam semesta. Membetoni dirinya agar tak lapuk termakan umur alam. Seolah ingin berada dalam keabadian.

Indonesia 1,8 juta tahun lalu. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uGcDed4xVD4)

Indonesia 1,8 juta tahun lalu. (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uGcDed4xVD4)

Beberapa tahun lalu, ahli di Cina menemukan mumi yang ditaksir berumur dua ribuan tahun (Baca di sini). Mumi berjenis kelamin wanita berumur sekitar 50an tahun itu ditemukan masih dalam keadaan segar. Sebuah teknik pengawetan jenasah yang bikin tercengang para ahli dunia. Banyak ahli tak percaya bahwa mumi wanita itu sudah ribuan tahun umurnya. Jasadnya masih demikian segar. Seolah baru meninggal beberapa bulanan. Bahkan di dalam perutnya masih ditemukan biji semangka yang masih utuh. Santapan terakhir yang dinikmati sebelum ajal merenggutnya.

Banyak kebudayaan manusia di dunia yang percaya akan keabadian. Percaya bahwa mereka akan dibangkitkan dari kematian suatu saat. Di Amerika ada tempat penyimpanan jenasah yang bisa awet untuk ratusan tahun (Baca di sini). Untuk bisa dikubur di situ beayanya tak akan bisa terpikirkan oleh manusia berkelas ekonomi biasa. Mereka yang disimpan dalam keranda pengawet itu percaya bahwa ilmu pengetahuan suatu saat akan mencapai pada titik tertinggi. Pada titik itu, mereka yakin bahwa jasad segar akan bisa dihidupkan kembali.

Setelah ribuan tahun mumi itu tertimbun tanah, nyatanya ketika ditemukan oleh manusia modern mereka tak bisa berbuat banyak. Tak bisa menghidupkan kembali manusia termumi itu. Jasadnya hanya sekedar jadi benda mati obyek penelitian ilmu pengetahuan. Tak bisa protes ketika tubuhnya dicincang-cincang untuk dilihat isi perut dan DNAnya. Jasadnya tak lebih baik dari biji semangka yang dimakannya. Bahkan kalau beruntung, biji semangka itu malah bisa disemaikan dan tumbuh hidup kembali. Namun tidak dengan jasad manusia.

Kuingin hidup seribu tahun lagi, kata puisi Chairil Anwar. Semangat hidup manusia boleh menggebu, tapi fisik tetaplah benda biologis yang gampang rusak dan tidak bisa lama-lama menjadi rumah sebuah nyawa. Hanya nyawalah yang abadi. Tapi tidak seorang manusia pun yang tahu dimana pastinya nyawa itu berada setelah meninggalkan rumah biologisnya. Manusia hanya tahu dari keyakinannya. Keyakinan untuk mengalihkan ketakutannya akan kependekan umurnya. Nyawa manusia mengembara hingga akhir dunia alam semesta? Untuk jutaan tahun mendatang?

Tapi kita tetap tak tahu dunia alam semesta seribu tahun lalu. Manusia yang mati tak pernah kembali dan bercerita tentang dunianya ketika masih hidup. Mumi wanita Cina yang ditemukan itu juga membisu. Tak peduli. Kita juga tidak mungkin tahu dunia alam semesta seribu tahun di masa depan. Apalagi jutaan tahun nanti. Kita tak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi dengan dunia yang kita cintai ini seribu tahun lagi dari kini. Meski jasad kita diawetkan dengan teknologi super tinggi, belum tentu kita nanti bisa dibangunkan dari mati. Karena kita tidak tahu dimana sebenarnya nyawa berada.

Kita yang hidup di abad ini, adalah manusia-manusia biasa. Jika kita mati hari ini, besuk atau lusa dibenamkan dalam tanah. Dari tanah kembali ke tanah. Dunia alam semesta tetap berputar sebagaimana biasa entah untuk berapa lama lagi. Bumi tidak peduli apakah kita ada atau tiada. Keberadaan kita tidaklah begitu penting. Kecuali kita memberi arti penting itu pada diri sendiri.

next 100 mil

Indonesia akan hilang 100 juta tahun lagi? (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uGcDed4xVD4)

Nasionalisme

Bagaimana nasionalisme keindonesiaan kita seribu tahun lagi di depan? Bagaimana nasionalisme kita 100 juta tahun lagi pada saat kepulauan Indonesia telah bergeser dan berubah tempat? Bahkan seluruh kepulauan Indonesia menghilang dan menyatu dengan benua di bagian utara? Mungkinkah generasi yang hidup pada saat itu akan berusaha menggali tentang negara Indonesia? Bagaimana bentuk fisik mereka ketika semua kepulauan Indonesia menyatu dengan benua di utara? Apakah masih terlihat ciri-ciri manusia Jawa, Madura, Batak, Minang, Sunda dan lain-lain suku di Indonesia saat ini? Bahasa apa yang bakal mereka pakai? Tahukah mereka siapa itu SBY? Soeharto? Ahmad Dhani? Megawati? Sentolo? Eyang Subur? Apa mereka akan kenal dengan Jokowi? Prabowo?

Pada saat ini banyak dari kita mengaku bahwa kita paling nasionalis. Paling setia membela Indonesia. Paling tahu apa yang diperlukan Indonesia. Paling demokratis. Paling pantas jadi pemimpin Indonesia. Dan paling-paling lainnya dan merendahkan nasionalisme orang lain yang sebangsa dan setanah air. Orang lain dianggapnya tak layak jadi pemimpin Indonesia.

Umur manusia terlalu pendek untuk sebuah negara bernama Indonesia. Tidak lebih seratus tahun. Itu kalau untung. Kalau tidak, bisa pendek lagi. Berapa tahun seorang manusia bisa memimpin Indonesia? Paling panjang 10 tahun untuk saat ini. Memang Soeharto pernah menjadi pemimpin selama 30an tahun. Tapi adakah bedanya? Dimana kesan-kesan tentang Soeharto saat ini? Tanyakan lagi kesan itu pada cucu anda sekalian atau anak-anak SD saat ini. Seberapapun besar kesan yang berusaha ditanamkan oleh Soeharto lambat laun pasti akan terkikis. Umur manusia tidak panjang. Ingatan manusia lebih pendek lagi. Orang-orang yang lebih besar dari Soeharto banyak. Namun kesan terhadap mereka tak kuasa menahan lajunya waktu. Semua akan terkikis. Tidak peduli apakah ia bernama Napoleon, Ming, Genghis Khan, Firaun, Gajah Mada dan sederet orang besar dunia lainnya.

Selama kita hidup saat ini dan tidak akan lama ada di bumi Indonesia, kenapa kita tak bersama-sama membangun Indonesia? Agar kita semua bisa menikmati kesejahteraan di Indonesia selama kita bisa? Kenapa harus berperang, berkelahi, bersengketa untuk sesuatu yang tidak begitu mendasar bagi Indonesia? Apalah arti kekuasaan yang tak seberapa umurnya itu? Ingatan kita pendek, umur kita pendek, tubuh biologis kita makin rapuh dan reyot. Sementara bumi Indonesia akan terus berputar untuk entah berapa ribu tahun lagi.

Apalah artinya kita yang cuma hidup dalam sepenggalan waktu itu jika tak memanfaatkan tanah Indonesia untuk kesejahteraan bersama? Untuk anak cucu kita di masa depan? Ingatan dan kesan mereka terhadap kita semua bisa pudar bersama waktu, tapi mereka akan tetap berpijak pada tanah dan bumi Indonesia hingga 100 juta tahun ke depan. Hingga bumi Indonesia lenyap dari peta dan menyatu dengan benua lain di utara.*** (HBS)


Leave a comment

Mengadili Pemimpin Siluman

Entah ada apa tidak sistem pengadilan di negara para siluman. Kalau tidak ada, lalu bagaimana bisa diciptakan rasa adil di negara para siluman itu. Pasti ada sistem yang mempertimbangkan bagaimana rasa keadilan itu akan diberlakukan di masyarakat sehingga kehidupan masyarakat siluman itu bisa berlangsung adil, tentram dan damai.

Kalau sistem pengadilan itu ada, maka pertanyaan berikutnya bagaimana cara mengadili seorang siluman? Bagaimana bisa meyakinkan bahwa siluman tertentu yang bakal diadili? Masalah terbesar dan terberat di negara para siluman tentunya mengindetifikasi bukti diri si siluman itu. Wong namanya saja siluman, bagaimana mungkin bisa diidentifikasi? Pagi dele sore tempe, begitu istilahnya.

Ternyata keadilan di negara siluman pun termasuk jenis keadilan siluman. Keadilan yang gampang berubah.

Perselisihan di negara siluman pun juga tak benar-benar terjadi. Perselisihan hanya bersifat siluman juga. Pagi berselisih, sorenya sudah membentuk kongsi. Dan banyak hal lagi yang sifatnya siluman. Hukum, pers, gaji, agama, status, kehormatan dan sebagainya. Kecurangan dan juga kejujuran termasuk di dalamnya. Para siluman akan kesulitan membuktikan mana yang dianggap kecurangan dan mana yang dianggap sebagai sesuatu yang jujur. Semua bisa berubah. Meski dalam mempertahankan pendapatnya nampak serius dan benar-benar saling adu mulut dan bahkan adu otot, tapi semua hanya siluman.

Lalu bagaimana para siluman itu bisa hidup tenang dan tentram di negara yang penuh siluman? Setelah berada di negara siluman, para siluman belajar tentang keadaan. Senjata yang paling sering mereka gunakan adalah dengan bersikap masa bodoh dan tidak percaya pada siapapun. Semua adalah kepura-puraan. Itulah yang paling dipercaya jika menghadapi masalah dalam banyak hal. Tidak ada yang benar-benar terjadi. Semua hanya pura-pura. Tujuan akhirnya tidak penting. Apa yang hendak dicapai dengan kepura-puraan itu juga tidak penting. Tidak ada tujuan atau ada tujuan, akhirnya sama saja. Tidak ada yang bisa dipegang omongannya. Tidak ada yang bisa dijadikan pegangan. Kalau ada yang bilang bahwa aturan x adalah pegangannya, pastilah pembohong atau mungkin hanya berpura-pura seolah ia yang paling benar.

Mereka hidup dan mengerjakan sesuatu yang hanya menyangkut kebutuhan sendiri. Seolah dunia telah terpilah-pilah secara alamiah buat mereka. Semua mencari jalan sendiri dan menyelesaikan segala sesuatunya yang terbaik menurut pendapat mereka sendiri. Thuyul hanya mikir bagaimana mencuri uang, si pocong hanya mikir bagaimana menakut-nakuti orang di tempat-tempat yang dekat hunian manusia, gendruwo juga menakuti-nakuti orang tapi di tempat-tempat yang kosong penuh pohon lebat jauh dari hunian manusia, glundung pecek menakuti-nakuti hanya boleh dengan kepalanya, dhemit tugasnya bikin sesuatu jadi jahat dan seterusnya.

Mereka punya kehidupan dan tugasnya sendiri-sendiri. Tidak tumpang tindih agar terjaga keselarasan dan perdamaian. Thuyul tidak boleh menakut-nakuti orang, karena hanya akan diterwakan. Pekerjaan itu bukan bidangnya. Demikian juga si pocong tidak mungkin bisa mencuri uang. Ia bukan akhlinya. Hanya ada satu aturan yang disepakai bersama. Mereka tahu di dunia mereka ada aturan, tapi mereka tak mau tahu lebih dalam lagi. Dan memang tidak penting untuk tahu. Aturan itu adalah mereka tahu bahwa semua aturan adalah siluman.

Demikianlah para siluman itu menjaga dunianya agar tetap berlangsung damai. Aturan dhemit hanya berlaku buat para dhemit, aturan pocongan hanya berlaku di dunianya para pocongan, aturan gendrowo hanya berlaku di dunianya gendruwo. Dan seterusnya. Jika aturan thuyul diterapkan pada gendruwo bakal tidak bisa jalan. Kalau nampak bisa jalan, itu hanya pura-pura. Pasti ada tujuan akhirnya. Pasti ada apa-apanya. Pasti ada conflict of interestnya. Pasti ada siluman lainnya.

Pemilu tidak hanya terjadi di dunianya manusia, tapi juga terjadi di dunia para siluman. Tapi pemilu kali ini agak beda. Biasanya pemilu selalu berlangsung tenang, tapi kini membuat gaduh di banyak tempat. Para thuyul ramai, para pocongan saling debat, dunia gendruwo saling caci. Pada pemilu-pemilu sebelumnya tidak pernah terjadi suasana kayak ini. Siapapun presidennya, para siluman itu cuek bebek. Presidennya bisa thuyul, gendruwo, banaspati atau ongklek-ongklek tidak ada yang menggubris.

Kali ini lain karena yang mencalonkan diri sama-sama tidak diketahui dari siluman mana. Dan ini membuat kisruh. Pada mulanya tidak masalah karena semua siluman mengabaikan. Tapi setelah masing-masing calon pemimpin itu berkampanye, barulah para siluman menaruh perhatian dan ikut terseret.

Calon pemimpin itu bersaing ketat berebut pengaruh. Saking ketatnya, kampanye hitam tanpa canggung dan risih digelontorkan demi merebut suara. Entah yang memulai siapa dan dari pihak mana. Pemilu yang biasanya tenang itu kini gaduh. Bagai benang ruwet. Beredar isu macam-macam yang nggak jelas mana kepala dan ekornya.

Bahwa calon-calon pemimpin itu bukan berasal dari dunia siluman. Pemimpin satunya menuduh bahwa saingannya itu setengah dhemit dan setengah thuyul. Kampanye hitam lalu dibalas oleh pemimpin satunya dengan balik menuduh bahwa saingannya adalah peranakan wewe gombel dan gendruwo. Jadi kedua-duanya sama-sama tidak jelas asal muasalnya. Para siluman kuatir, jika keduanya tidak jelas asal-usulnya bakal terjadi kekacauan. Kedua calon pemimpin tetap bersitegang bahwa merekalah yang paling siluman dan bukan cuma keturunan siluman. Kini semua sakit. Kampanye hitam dikira sebuah kebenaran. Isapan jempol benar-benar jadi jempol yang bisa diisap.

Para calon pemimpin dunia siluman itu saling tuduh merasa dicurangi. Mereka saling merasa bahwa tuduhan yang dilontarkan padanya tidak benar. Omong kosong dan kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif.

Tidak ada pihak yang bisa mengadili. Mana ada thuyul bisa mengadili wewe gombel? Mana ada gendruwo mengadili dhemit? Keduanya saling merasa benar. Yang tidak benar adalah kampanye hitam. Kampanye hitam itu dianggap sumber dari segalanya. Tapi menguak apakah yang kampanye-hitamkan itu benar atau tidak sangatlah mustahil. Wong namanya saja kampanye hitam. Mencari kebenaran kampanye hitam sama saja mencari siluman. Bukan sembarang siluman tapi raja dari segala raja siluman. Ketemu yang ini ternyata bukan. Ketemu yang itu ternyata bukan juga.

Para siluman pada resah. Karena semua jalan sepertinya sudah buntu. Dunia mereka yang gelap jadi tambah legam oleh kampanye hitam. Mereka berharap semua bisa menjadi terang benderang suatu saat. Tapi harapan itu kadang mereka tepis sendiri.

Mereka sudah terbiasa hidup di dunia gelap, mencari kebenaran di tempat terang bukan tabiat mereka. Amat tidak mungkin, ganjil dan di luar nalar pikiran sehat para siluman. Mana ada thuyul nyuri uang di supermarket saat siang? Mana ada gendruwo diterik matahari bergelantungan di pohon? Mana ada pocongan nakut-nakuti orang di siang bolong? Siluman mana yang mau kekonyolan itu? Bisa-bisa ditertawakan anak-anak. Dikasih nasi bungkus oleh orang desa karena dikira pengemis jalanan. Bisa hilanglah kewibawaan dunia siluman mereka yang terkenal menakutkan itu.

Mereka kini menantikan pemimpin yang benar-benar berani keluar dari dunia gelap mereka dan berdiri tegak di tempat terang. Tidak takut dicemoohkan. Tidak takut dilecehkan. Tidak takut dikira sinting. Tidak takut dianggap pahlawan kesiangan. Itulah pemimpin yang diharapkan oleh para siluman. Hanya pemimpin seperti itulah yang bisa mengurai benang kusut kehitaman mereka. Mengenalkan para siluman pada dunia terang.*** (HBS)