herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Asumsi Itu Bagai Rayap

Leave a comment

ITU kata orang. Asumsi memang sebatas pendapat. Praduga tentang sesuatu yang belum tentu benar. Opini yang tidak berdasar fakta. Rekayasa sebuah kenyataan yang hanya ada dalam pikiran. Otak-atik sebuah hipotesa dan pembenaran hipotesa menurut selera pribadi. Asumsi yang tidak berdasar bisa secara pelan-pelan melapukkan mutu sebuah hubungan pribadi.

Kadang kita memang begitu susah membedakan antara opini dan fakta. Beberapa fakta belum tentu mendukung sebuah opini secara khas. Relevansi dan sudut pandang kita menentukan apakah sebuah fakta itu mendukung opini. Atau opini itu terbukti atau bersinggungan dengan kenyataan dan kebenaran sebuah masalah. Memilah-milahkan fakta bukan pekerjaan gampang bagi semua orang. Tergantung cara pikir, tingkat pendidikan, tingkat pergaulan dan pengalaman hidup. Asumsi dalam tulisan ini batasannya longgar. Bisa prasangka, opini, pendapat dan lain-lain yang pada dasarnya belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Ada seorang ibu menaruh rasa curiga pada suaminya yang baru saja naik pangkat menjadi pemimpin departemen. Si ibu menduga bahwa suaminya telah main mata dengan teman sekantornya. Suaminya sering menerima telpon dari seseorang sesuai jam kantor. Karena didorong rasa curiga, si isteri punya keinginan untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh suaminya lewat telpon di petang itu.

“Pa, kamu tahu di mana kartu tagihan listrik?” tanyanya pura-pura saat suaminya didengarnya menerima telpon di beranda.

“Di meja makan di dapur,” kata suaminya sambil memutus hubungan telpon dan menaruh hpnya ke saku celana.

Melihat tingkah laku suaminya, si isteri makin tambah curiga. Kenapa suaminya nampak tiba-tiba menghentikan obrolannya dan nampak tergesa-gesa memasukkan hpnya ke saku celananya? Adakah sesuatu yang berusaha dirahasiakan dan disembunyikan darinya?

Sang isteri makin curiga ketika suaminya makin sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan banyak pekerjaan di kantor. Kadang pada petang hari suaminya juga terima SMS.

Kecemburuan sang isteri makin menjadi-jadi karena berangkat dari asumsi yang belum tentu benar. Untuk bertanya pada suaminya ia merasa enggan. Ia merasa takut kalau asumsi itu benar dan sekaligus takut harga dirinya terlukai.

Padahal dari sisi suami, hubungan telpon itu karena posisinya yang baru saja menduduki kepala departemen. Banyak hal yang perlu dibenahi dan anak buahnya tak paham dengan kebijaksanaan yang telah ia gariskan sebagai pemimpin departemen yang baru. Bawahannya sering lembur dan ia berpesan kalau ada kesulitan, silahkan telpon atau kirim sms ke hp-nya.

Ia tidak memutuskan hubungan telpon saat si isteri bertanya, tapi karena memang sudah selesai percakapan yang dilakukan. Dan ia memasukkan hp itu ke celananya bukan karena ingin menyembunyikannya dari isteri. Ia segera memasukkan hp ke celana karena menyiapkan diri untuk membantu isterinya. Siapa tahu isterinya perlu pertolongan tangan?

Jika asumsi si isteri tidak segera diluruskan, asumsi itu bisa makin membesar dan secara pelan akan mempengaruhi pola komunikasi keduanya. Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa tahu?

Kadang kedekatan hubungan membuat kita lebih sering menggunakan asumsi daripada analisa obyektif. Kita merasa tahu pribadi orang yang dekat dengan kita. Tingkah laku dan reaksi psikologisnya kita merasa paling tahu dan hafal. Padahal bagaimanapun dekat hubungan pribadi seseorang dengan orang lain, mereka tetap sebagai pribadi unik. Keadaan psikologis atau dunia batin tak akan mudah tersurat. Hal-hal yang tersirat tidak begitu saja gampang diterka bagaimanapun dekatnya hubungan pribadi kita.

Asumsi tidak saja datang dari wanita, tapi juga dari sisi pria. Kadang hal-hal yang nampak biasa dalam keseharian menjadi sesuatu yang menyulut rasa cemburu dan kemarahan karena adanya asumsi yang sudah kita tanamkan dalam kepala. Pikiran negatif memang mudah tersulut oleh hal-hal yang kita asumsikan mendukung “kebenaran” asumsi kita. Kita memang gampang sekali terjebak pada pikiran negatif.

Cara pikir rasionil dan logis memang lebih banyak dilakukan oleh kaum pria. Kaum pria lebih piawai dalam memilah-milahkan mana logis, rasionil, obyektif dan mana-mana yang hanya berdasar asumsi dan pikiran negatif. Sementara wanita lebih banyak dipengaruhi oleh emosinya dibanding pria. Namun bukan berarti bahwa kaum pria tidak melakukan tindakan berdasar pada asumsi. Mungkin saja frekuensinya tidak sesering wanita. Kaum pria juga punya emosi. Logika, rasio dan nalar seorang pria bisa tumpul saat ia dihadapkan pada hal-hal yang sifatnya emosional. Karena cinta, kasih sayang, perhatian dan sebagainya adalah faktor-faktor emosionil yang bisa membuat daya nalar seorang pria menjadi tumpul. Cemburu itu buta. Demikian kata orang. Sama halnya dengan cinta. Cinta tidak punya mata.

Bagaimana dengan asumsi positif?

Asumsi positif tidak sama jeleknya dengan yang negatif. Keduanya tidak berdasar fakta. Tidak obyektif. Dan bisa salah. Berasumsi positif meski kedengarannya lebih bermanfaat daripada yang negatif, tapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Asumsi positif bisa saja berlebihan dalam menilai sesuatu dan membuat kita luput memperhatikan yang kecil-kecil namun penting.

Kita sering berasumsi bahwa orang dekat kita punya kemampuan cukup untuk menyelesaikan sebuah masalah. Ia punya kepercayaan diri besar untuk mengatasi sebuah masalah. Karena asumsi positif tersebut, kita lupa bahwa tidak semua masalah bisa terselesaikan oleh kemampuan orang dengan menilai dari segi tertentu atau beberapa faktor yang kita asumsikan baik. Kita bisa kehilangan kepekaan jika terlalu berasumsi positif terhadap orang lain. Perlu ada keseimbangan. Kadang fakta berdasarkan pengamatan kita tidak selamanya menyatakan yang tersirat.

Pada dasarnya manusia itu unik. Setiap manusia unik. Manusia lahir, hidup dan mati unik pada masing-masing individu. Manusia pada dasarnya secara entity adalah terpilah dari manusia lain. Manusia merasa punya keterkaitan dengan manusia lain karena adanya ilusi tentang cinta dan persahabatan. Manusia terkoneksi karena adanya ilusi cinta dan persahabatan. Tanpa cinta dan persahabatan, pada hakekatnya manusia hidup dalam kesendirian. Lahir, hidup dan mati dihadapi sendiri.

Berasumsi positif boleh tapi bukan berarti membiarkan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang kita anggap ia mampu untuk mengatasinya sendiri. Mempertanyakan kemampuannya tidak akan merugikan orang lain. Mengorek kejelasan masalah adalah salah satu jalan membuka koneksi personal dengan orang lain. Bagaimanapun tinggi kemampuan seseorang, dalam hal tertentu ia masih butuh sapaan bahkan pertolongan. Bukan maksudnya hendak merendahkan kemampuannya. Kadang orang hanya enggan minta tolong secara terus terang. Kalau toh tidak minta tolong, perhatian pada hal-hal kecil kadang membuatnya bisa terkesan bahkan terharu. Kebenaran pada akhirnya akan muncul sebagai pemenang.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s