herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

Neraka dan Surga

Eksistensinya ManusiaNeraka sering diilustrasikan dengan api. Namun dalam ilustrasi itu tidak digambarkan dari mana dan dari apa sumbernya api. Ujuk-ujuk ada api. Membakar liar begitu saja orang-orang yang dianggap punya dosa. Kok tidak ada gambar ban terbakar, mobil terbalik, pesawat kobong dan sebagainya. Api ada asalnya.

Ilustrasi tentang surga juga begitu. Sering digambarkan sebuah tempat yang damai. Pemandangan indah. Sungai, rumput, tanaman lengkap dengan buahnya, hewan-hewan yang lucu dan yang indah-indah lainnya. Tapi tidak ada gambar mobil, pesawat jet pribadi, mobil rolls royce, mercedes-Benz, bentley, toyota atau mitsubishi. Bahkan sepeda onthel atau yamaha bebek juga nggak digambarkan. Juga nggak ada ilustrasi segerombolan orang asyik ngobrol kemepul dengan santai ngudut gudang garam atau jisamsoe.

Sepertinya di alam sana, materi atau harta benda tidak bakal ada dan tidak bisa kita bawa. Kecuali mungkin jika harta bendanya berupa hewan piaraan. Karena diilustrasikan ada hewan-hewan. Peternak sapi sepertinya bisa pelihara sapi lagi di alam sana? Atau ketemu lagi dengan hewan ternaknya atau piaraannya?

Pertanyaan tentang neraka dan surga selalu abadi di benak manusia. Tidak ada yang bisa menjawab dengan meyakinkan. Saya membaca tiga buku yang ditulis oleh atheis (Dawkins), theolog dan filsuf (Ward). Setelah muter-muter, kesimpulan akhirnya ternyata sepele. Terserah pikiran dan pendapatku sendiri. Lho? Kok mayir.

Nek ngono sing penting ki ora nglarakke wong liya. Nek neraka apa surga itu memang ada, maka urusan masuk ke neraka atau surga biar sing “Nggawe Urip” sing nentukan. Itu hak prerogratif-Nya. Ora mungkin isa ngeyel kaya sidang MKD. Ia super maha tahu. Hingga ke sudut-sudut, lekuk-lekuk terpencil hati nurani manusia yang paling tersembunyi dan ndhepit sekalipun.***


Leave a comment

DISIPLIN

Tidak banyak orang yang suka kedisiplinan. Aku maklum. Karena disiplin itu banyak tidak enaknya.
Kemarin saat kerja, aku lupa bawa rokok. Kerja delapan jam tanpa udut benar-benar siksaan. Kalau diniati sih nggak apa. Karena aku pernah nggak merokok sehari. Meski gelisah tapi masih bisa aku atasi. Lha ini, tak terencana.
Gara-gara terlambat bangun dan tergesa-gesa berangkat, keliru kusahut bungkus rokok yang sudah habis, tak ada isinya alias kosong melompong. Tahunya ketika “break” habis makan, kuambil bungkus rokok dari saku celana. Pisuhku ndrindil ae ketika kubuka tak ada isinya. Masih nggak percaya. Semacam reflek aku kocak-kocak, aku rogohi pakai jari bungkus rokok itu dari sudut ke sudut. Tetep ae kothong isine. Aku clingukan, mataku jelalatan pingine nemu tegesane wong liyo sing sik dawa. Lumayan nggo nyambung nafas. Ora ana. Modar tenan. Menyesal sekali, kok tidak segera kubuang bungkus rokok kosong itu ke tempat sampah atau setidaknya aku untel-untel ben ora kliru karo sing sik wutuh.
Aku jadi teringat sama si Rahman, Prasojo, Sulis anak tetangga dekat kost-ku dulu saat kuliah. Mereka mau saja aku suruh untuk belikan rokok di warung pinggir jalan dekat kost dengan upah ala kadarnya. Baru kusadari kini, betapa berjasanya mereka itu buatku.
Toko yang jualan rokok tak ada yang dekat dengan tempat kerja. Jalan kaki pulang pergi perlu waktu sekitar 15 menit. Naik mobil bisa tambah lama, karena cari tempat parkir dan banyak jalan yang searah. Repot tenan. Aku termasuk orang yang sok suka disiplin. Kalau waktu “break” setengah jam ya setengah jam. Nggak pernah molor. Mau minta rokok sama teman sekerja, si perokok itu lagi nggak masuk kerja. Cuma segelintir orang perokok di tempat kerjaku. Salah sendiri, kenapa tak disiplin buang bungkus rokok kosong, nggak disiplin untuk bangun tepat waktu.
Di Sydney memang tidak semua warung boleh jualan rokok. Aturannya cukup keras. Kalau ijin bisnisnya jualan barang kelontong ya jualan barang kelontong. Kalau warungnya jualan nasi, ya jualan nasi. Kalau ijin bukanya dari jam 9 pagi hingga jam lima sore ya tidak boleh molor. Bisa kena sanksi kalau dilanggar. Didenda atau dicabut ijin bisnisnya. Tidak ada yang berani jualan rokok eceran di bawah meja. Kabeh disiplin. Aku sing kecut terus mbayangke ribuan warung kaki lima di tanah air.
Waktu liburan ke Newcastle, jalan tol sepanjang 171 km ya nggak ada lapak pinggir jalan. Padahal sepanjang jalur tol itu di pinggirnya banyak tanah kosong, luas dan datar. Kok nggak ada segelintir pun orang yang bukak lapak jualan degan, tahu taqwa, keripik, kacang, sega buntel kayak di tanah air. Apalagi warung kopi. Nggak ada. Jalan sepi dari lapak orang cari uang receh. Wong edan sing mlaku-mlaku siji wae yo ora ana. Kecut tenan.
Disiplin itu tidak enak. Enak sing isa sak karepe dewe. Sing isa sak kepenake dewe. Sing isa sak senenge dewe. Sing isa nggolek benere dewe. Budal mulih ora sah pamit. Pingin dolan ya mak blas dolan. Yen pingin dodolan yo dodolan. Mbuh apa sing didol. Pokokke dodolan.
Ketidak-teraturan itu kepenak. Banyak hal bisa dibengkak-bengkokkan. Tidak ada yang baku. Kalau ada pertanyaan juga gampang jawabnya karena nggak ada jawaban baku. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan. Kalau sudah dijawab nggak akan dikejar. Beres. Kalau dikejar, masih tersisa ribuan jawaban lainnya yang bisa dicomot dari ketidak-teraturan itu. Atau nggak usah dijawab. Didiamkan saja. Biar dicari sendiri jawabannya. Wong memang nggak ada aturannya. Bertanya pun jadinya percuma. Karena jawabannya pasti juga sekenanya.
Disiplin itu ketat aturannya. Melenceng dikit ketahuan. Menyimpang dikit jadi pertanyaan. Kalau ada pertanyaan dan asal dijawab pasti ketahuan belangnya. Karena jawaban yang asal-asalan itu gampang diraba. Pasti keluar dari pakem. Pokokke disiplin iku ora kepenak. Ora bebas blas. Aeng-aeng aturanne. Ora isa nggo slinthutan.
Karena kedisiplinan, aku jadi korban dari kedisiplinan itu. Cangkemku kecut sedino blek.***


Leave a comment

JAMAN KEPENAK

Dulu waktu usia belia, kalau mau baca berita kriminal tidak segampang saat ini. Apalagi yang ada foto-fotonya. Majalah kriminal satu-satunya yang saya baca cuma “Detektif dan Romantika”. Majalah yang harganya cukup mahal. Seringnya beli yang loakan di Pasar Sore atau di Pasar Sleko yang remang-remang.
Bacaan porno juga sudah didapat. Saat mahasiswa di Yogya, paling top kalau bisa menemukan novelnya Nick Carter yang isinya super porno itu. Novel ini juga susah didapat. Tidak banyak yang berani jual. Aku dapatkan di penjual buku loak di pinggir jalan Solo. Buku itu tak dijajakan terbuka. Ia simpan di balik gerai jualannya di dalam kardus tersendiri. Kalau novelnya Motinggo Busye meski juga porno, tapi tak seporno tulisan Nick Carter.
Nonton film porno tambah susah. Film-film yang diputar di gedung bioskop kalau sudah ada tanda 17 tahun ke atas nggak berani nonton. Pasti nggak diijinkan oleh penjaga pintu masuk, si tukang periksa karcis masuk dan sekaligus penjaga sensor. Film tujuh belas tahun yang kutonton pertama kali bintang filmnya Yatti Octavia yang diputar di gedung Lawu yang pintu masuknya berkerangkeng besi kayak penjara itu. Itupun sambil deg-degan. Kalau nggak diajak seorang teman, nggak bakalan aku berani nonton.
Film porno triple x dulu sering disebut BF atau blue film. Kalau orang sudah nyebut “Film BF” kedengarannya keren banget. Ia punya jaringan dengan yang gelap-gelap dan eksklusive. Kalau bisa kenal baik sama orang ini rasanya istimewa. Pertama ikut nonton film BF di rumah seorang teman. Kakaknya yang sudah menikah punya koleksi beberapa kaset. Film diputar sembunyi-sembunyi dan larut malam saat itu. Kaset VHS yang jalannya tersendat-sendat bisa bikin jengkel. Video player belum banyak orang punya.
Jaman sekarang kepenak banget. Lewat internet bisa didapat semua itu dengan mudah. Tidak cuma satu dua tapi ribuan jumlahnya. Tidak cuma gambar, tapi juga video yang jelas-jelas melukiskan kejadian senyatanya. Tidak saja hubungan seks tapi juga pemenggalan kepala. Sungguh kepenak sekali jaman sekarang. Tinggal klik-klik bisa lihat semuanya. Tinggal milih maunya apa.
Tapi meski begitu, masa keceriaan ketika belia rasanya tidak berbeda. Dulu tetap saja bisa ketemu seorang teman meski tanpa SMS, tanpa google map, tanpa mobile phone. Tidak mengeluh harus pergi naik sepeda ke tempat pertemuan dan nunggu kadang sampai berjam-jam. Muter-muter saling nyari posisinya dan tanya sana-sini. Tapi rasanya lebih menggairahkan. Sekarang, semua serba lebih kepenak. Tidak perlu tanya sana-sini. Tinggal pencet-pencet tombol di HP. Meski serba kepenak, tapi aku kok tetap merindukan masa seperti dulu. Masa culun dan lugu.**