herrybsancoko

Kumpulan tulisan


Leave a comment

REJEKI

Ketika aku berdoa meminta rejeki, dalam hati kecil aku mbatin, “Rejeki darimana lagi? Rejeki yang mana lagi?”.

Pertanyaan kecil yang terselip dalam batin itu sempat kuutik-utik. Lha wong aku ini seorang buruh dengan gaji yang itu-itu saja setiap hari, bulan dan tahunnya, kok minta rejeki tambahan? Masukan tambahan tidak mungkin kudapat jika tak mempunyai pekerjaan sampingan. Rejeki tak bakal datang tanpa kerja. Itu yang kupikir kenyataan yang ada padaku.

Menjadi buruh di Australia yang masyarakatnya rasionil dan individualistik, mengharap rejeki selain dengan kerja adalah hal yang amat kecil kemungkinannnya untuk didapat. Dengan pendapatan tetap dan cuma disesuaikan dengan tingkat inflasi setiap tahunnya yang nilainya amat kecil itu, rasanya sudah bisa dipastikan jumlah tabunganku untuk sekian tahun mendatang. Hitungannya hampir pasti.

Rejeki satu-satunya yang bisa kuharapkan adalah dengan beli lotre. Kalau dapat lotre, itu benar-benar dapat rejeki.

Kata “rejeki” rasanya tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris. Paling dekat adalah “luck” yang terjemahannya “untung”. Dapat lotre berarti dapat keberuntungan (lucky), dapat nasib baik (good luck). Arti beruntung dan rejeki amat jauh bedanya. Beruntung itu rasanya masih ada usaha. Sedang rejeki sepertinya bisa tanpa usaha nyata yang berhubungan dengan tindakan menghasilkan uang.

Di tanah air bisa dapat rejeki macam-macam bentuknya. Tiba-tiba diundang slametan dan dapat berkat. Itu rejeki. Tiba-tiba dikasih uang oleh orang lain karena merasa kasihan atau merasa berterimakasih. Dapat uang sogokan, dapat uang tali asih, dapat uang andum rejeki, nemu dompet, dan lain-lain.

Di Australia? Tak ada slametan, tak ada tali asih, tak ada andum duwit gratis, nyogok ora usum, nek nemu dompet isine kredit card (cashless society).

Selama di Australia, seingatku cuma sekali aku dapat rejeki. Lima belas tahun lalu, ketika mau ambil uang di ATM, kok ada uang $150.00 cash di mesinnya. Rupanya ada orang yang makai ATM tapi lupa ngambil uang cashnya. Seribu satu kejadian ini bisa terulang. Orang teledor dan goblok banget. Pergi ke ATM kok lupa uangnya. Yo wis, rejekiku. Tak setut ae.

Tak pikir uripku ki kok kaya uripe kewan kolomonggo. Kalau nggak bikin rumah, ya nggak bakal ada serangga yang nyangkut. Nek omahe rusak yo ndang kudu didandani ben laler, nyamuk, dodok-erok ora mbrosot. Yen ora nggawe omah, yo bakal ora mangan. Yen wis nggawe omah kok ora ana serangga yang nyangkut, berarti salah letak omahe. Kudu pindah. Nggawe omah meneh. Utawa omahe digedekke ben kemungkinan sing nyangkut luwih okeh.

Kabeh nduwe rejeki dewe-dewe. Ora mungkin kolomonggo duwe omah loro. Utawa ngrusuhi omahe kolomonggo liyane. Ora perlu iri karo kolomonggo liyane. Apa sing nyantol neng omahe, yo kuwi rejekine. Rejeki teka merga kerja keras membuat dan menjaga sarangnya. Tak ada pilihan atau kemungkinan lainnya. Nek apes, malah manuk nabrak omahe. Ketoke ketiban rejeki nomplok, tapi nek dudu ukurane malah ora oleh apa-apa. Ora kepangan, malah kukutan. Ora kuat nyangga.***


Leave a comment

Neror atau Ngeden-ngedeni

Bloodbath DT 15Jan16

Ditanggapi serius? Beritanya dimuat di halaman depan, halaman 2 & 3.

Koran di Australia menanggapinya dengan serius. Tindakan terorisme itu dimuat di headline halaman depan. Tapi beda dengan yang terjadi di tanah air. Kok banyak yang menanggapinya dengan guyonan lucu-lucu dan konyol? Barangkali masyarakat kita menangkap ada kesalahan logika dalam aksi teror yang terjadi di Jakarta kemarin. Dan hanya orang Indonesia sendiri yang tahu persis letak kesalahan logika itu di mana. Logika khas orang Indonesia. Wong landa ora mudeng.

Seorang teman Australia (orang bule) mengomentari foto teroris – yang mengacung-acungkan pistol di hadapan banyak orang, di halaman surat kabar Sydney, The Daily Telegraph, begini: “Kalau ada orang kayak gini di Amerika, sudah selusin peluru bersarang di tubuhnya. Kalau di Australia begitu mengeluarkan senjata sudah sebutir peluru nyasar ke tubuhnya,” katanya.

Di tanah air, malah jadi tontonan. Bahkan beberapa polisi yang ada di tempat kejadian juga ikut jadi penonton.

Pada hari kejadian, surat kabar itu secara serius meliput beritanya (The Daily Telegraph 15Jan16). Di muat di halaman depan lalu disambung dengan halaman 2 dan 3. Subheadernya, terorisme ala Perancis. Tapi pada terbitan berikutnya, ditulis bahwa teroris itu tidak profesional (The Daily Telegraph, 16Jan16). Nampak dalam foto dua orang polisi ditembaki pelaku teror di hadapan begitu banyak orang bahkan ada beberapa polisi di situ.

homegrown DT 16Jan16

Tidak profesional.  Hasil kerja keras polisi dalam mencokok dedengkotnya.

Kenapa teroris itu tidak profesional? Koran ini memuji kerja intelejen polisi Indonesia yang hebat. Karena kerja keras intelejen, teroris amatiran itu tidak punya kontak dengan dedengkot teroris sebenarnya. Para dedengkot teroris profesional dan berkaliber internasional sudah dicohok atau dibatasi ruang geraknya lebih dulu oleh aparat intelejen. Tinggalah para teroris amatiran yang tidak punya petunjuk optimal dalam beroperasi atau mengeksekusi rencana teror mereka.

Ketidak-profesionalan para teroris itu oleh media barat tidak serta merta jadi bahan lelucon. Dianalisa dan dicari alasannya. Lain dengan yang terjadi di tanah air, mereka jadi banyolan-banyolan kreatif dan kadang terkesan konyol.

Sebentar lagi akan muncul definisi “Teror” di kitab gaul yang bakal diartikan secara nyleneh. Seperti kata fadli zon atau jonru yang diartikan macam-macam (lihat situs kitabgaul di https://kitabgaul.com).

“Kamu jangan suka bikin teror orangtua,” begitu kata seorang bapak pada anaknya yang terlambat pulang sekolah. Maksudnya bikin cemas orangtua.

“Sega pecele Yu Gebrot benar-benar bikin teror.” Arti teror adalah jos gandhos atau mak nyos.

“Ma, terorin gua dong,” kata suami pada isterinya. Maksudnya nyuruh si isteri berpakaian seksi supaya si suami deg-degan, kemot-kemot jantungnya dan koplok dengkulnya. ***


2 Comments

Kebanggaan

Akhirnya bisa kusimpulkan setelah sekian tahun menjalani hidup.  Ternyata aku tidak punya apapun yang bisa aku banggakan selama ini. Entah kenapa aku kok baru sekarang bisa menyimpulkannya.  Mungkin kebanggaan itu berkembang. Kebanggaan waktu kecil beda dengan kebanggaan saat dewasa.  Kebanggaan saat masih sendiri beda dengan kebanggaan saat berumah tangga.  Kebanggaan saat muda beda dengan kebanggaan saat tua.  Barangkali karena mendekati usia uzur dan merasa kesempatan untuk berbuat lebih banyak makin terbatas, maka kebanggaan itu akhirnya mandeg. Dan kini kusadari bahwa aku tak punya apa-apa yang bisa kubanggakan.

Waktu kecil aku bangga bisa melempar batu lebih jauh dari teman-teman sebaya. Juga titis jika mbalangi peleme tonggo.  Aku juga bangga dengan kemampuanku main ketapel. Lumayan akurat.  Tapi kebanggaan itu ternyata tidak lama. Karena begitu menginjak dewasa tidak lagi main lempar-lemparan atau main ketapel.

Saat remaja aku juga tak punya kebanggaan apa-apa. Sekolah biasa saja.  Prestasi biasa saja. Kalau toh sempat naksir cewek, sifatnya hanya untung-untungan.  Tak ada yang jadi modal kebanggaan dan bisa dijadikan senjata andalan  untuk menang dalam persaingan merebut hati cewek yang kutaksir itu.  Dari modal perawakan saja sudah tak memenuhi syarat untuk menang. Tak bisa dibanggakan.  Kalau kalah bersaing, ya biasa saja.

Aku tak pernah menggantungkan kebanggaan diri pada fisik atau materi. Rasanya kok mengada-ada kalau kebanggaan digantungkan pada bentuk fisik atau materi.  Namun kuakui, materi kadang amat membantu mendongkrak kebanggaan diri.  Itu yang sering kulihat jika orang melihat orang lain yang bergelimpangan materi.  Orang menaruh hormat pada orang yang punya materi lebih.  Dan orang tersebut nampak begitu bangga. Bahkan selalu mengupdate materi yang dipunyainya.  Karena kebanggaan memang berkembang bersama waktu. Punya satu mobil sudah cukup untuk dibanggakan.  Tapi tahun berikutnya mungkin sudah tak memadai lagi untuk jadi kebanggaan. Maka perlu dua atau tiga mobil.  Tahun berikutnya rumah mewah, lalu apartemen mewah, lalu isteri simpanan dan seterusnya tanpa batas jelas.

Entah bagaimana perjalanan kebanggaan bagi mereka yang bangga dengan penampilan fisiknya. Mungkin jadi tua-tua keladi, makin tua makin menjadi? Kalau orang jawa sering menamainya dengan julukan “ora nyebut”. Tidak sadar ketuaannya.  Merasa muda terus sehingga perbandingan antara kelakuan dan umur terdapat kesenjangan.

Setelah tua, kusadari bahwa kebanggaan ada benang merahnya. Beruntunglah bagi orang-orang yang punya kebanggaan dari kecil hingga tua. Tapi aku tak punya apa-apa yang bisa kubanggakan. Tak ada benang merah yang menghubungkan. Karena tak ada yang bisa dihubungkan. Berhenti pada kebanggaan bisa main ketapel saja.  Setelah itu tak ada.

Banyak orang bangga karena orang lain bangga padanya. Banyak orang bangga karena bisa membanggakan orang lain. Aku tak pernah berhasil membanggakan orang lain atau membuat mereka merasa bangga pada diriku.  Bukan karena aku tak mencobanya atau berusaha sekuatnya.  Tapi memang sebegitu sajalah kemampuanku. Aku hiraukan saja orang tak punya kebanggaan apa-apa terhadap diriku. Aku tak bisa memaksanya. Bila mereka kecewa itu urusannya.

Namun bagiku, kebanggaan itu seharusnya bukan untuk orang lain. Kebanggaan bukan karena orang lain menilai kita seolah “wah”. Jika kebanggaan didasarkan pada penilaian orang lain, maka kebanggaan itu akan gampang untuk terlepas dan bisa menjadi usaha yang amat melelahkan mengikuti penilaian orang lain. Apalagi jika kebanggaan itu berdasar pada materi, lebih gampang lagi untuk hilang.  Rumah bisa terbakar. Mobil bisa dicuri.

Jika kebanggaan itu buat diriku sendiri, maka ada yang bisa sedikit aku banggakan. Aku bangga bisa konsisten dengan apa yang aku pikirkan.  Jika suka sesuatu aku berusaha konsisten untuk mewujudkannya.  Aku konsisten dengan apa yang ada di hati. Aku konsisten dengan apa yang aku putuskan.  Aku konsisten dengan pilihan yang aku jatuhkan. Aku bangga bisa konsisten bersikap apa adanya.  Mungkin grafiknya naik turun atau melenceng sana-sini, namun bagiku kunilai cukup konsisten.  Kurasa ada benang merahnya. Aku tidak peduli jika orang lain menilai beda.

Setelah mendekati usia tua, kebanggaan ini berusaha untuk aku pupuk. Kebanggaan-kebanggaan yang sifatnya sederhana.  Berusaha untuk bangga dengan diri sendiri untuk hal-hal kecil. Bangga aku masih bisa menikmati hidup dengan baik.  Bangga aku dikarunia kesehatan yang lumayan baik dan tak pernah sakit serius.  Bangga aku bisa nanam pohon jeruk dari biji hingga berbuah dengan subur.  Bangga aku bisa menguasai hidupku sendiri.

Toh, pada akhirnya cepat atau lambat kita bakal melepas kebanggaan-kebanggaan yang didasarkan pada hal-hal yang ada di luar diri kita sendiri?  Kita lahir ke dunia sendiri. Maka kebanggaan atau kekecewaan itu pada akhirnya juga kita telan sendiri.  Kita sendiri yang tahu dan merasakan.  Tinggal kita memilihnya.  Kita telan kebanggaan atau kegetiran hidup kita sendiri? Hidup kita memang hanya kita sendiri yang bisa memberi nilai dan arti.  Kita hanya bagai sebuah titik saja dalam alam semesta.  Terserah kita bagaimana kita memberi arti sebuah titik bahkan seukuran debu hidup kita itu.*** (HBS)


Leave a comment

Neraka dan Surga

Eksistensinya ManusiaNeraka sering diilustrasikan dengan api. Namun dalam ilustrasi itu tidak digambarkan dari mana dan dari apa sumbernya api. Ujuk-ujuk ada api. Membakar liar begitu saja orang-orang yang dianggap punya dosa. Kok tidak ada gambar ban terbakar, mobil terbalik, pesawat kobong dan sebagainya. Api ada asalnya.

Ilustrasi tentang surga juga begitu. Sering digambarkan sebuah tempat yang damai. Pemandangan indah. Sungai, rumput, tanaman lengkap dengan buahnya, hewan-hewan yang lucu dan yang indah-indah lainnya. Tapi tidak ada gambar mobil, pesawat jet pribadi, mobil rolls royce, mercedes-Benz, bentley, toyota atau mitsubishi. Bahkan sepeda onthel atau yamaha bebek juga nggak digambarkan. Juga nggak ada ilustrasi segerombolan orang asyik ngobrol kemepul dengan santai ngudut gudang garam atau jisamsoe.

Sepertinya di alam sana, materi atau harta benda tidak bakal ada dan tidak bisa kita bawa. Kecuali mungkin jika harta bendanya berupa hewan piaraan. Karena diilustrasikan ada hewan-hewan. Peternak sapi sepertinya bisa pelihara sapi lagi di alam sana? Atau ketemu lagi dengan hewan ternaknya atau piaraannya?

Pertanyaan tentang neraka dan surga selalu abadi di benak manusia. Tidak ada yang bisa menjawab dengan meyakinkan. Saya membaca tiga buku yang ditulis oleh atheis (Dawkins), theolog dan filsuf (Ward). Setelah muter-muter, kesimpulan akhirnya ternyata sepele. Terserah pikiran dan pendapatku sendiri. Lho? Kok mayir.

Nek ngono sing penting ki ora nglarakke wong liya. Nek neraka apa surga itu memang ada, maka urusan masuk ke neraka atau surga biar sing “Nggawe Urip” sing nentukan. Itu hak prerogratif-Nya. Ora mungkin isa ngeyel kaya sidang MKD. Ia super maha tahu. Hingga ke sudut-sudut, lekuk-lekuk terpencil hati nurani manusia yang paling tersembunyi dan ndhepit sekalipun.***


Leave a comment

DISIPLIN

Tidak banyak orang yang suka kedisiplinan. Aku maklum. Karena disiplin itu banyak tidak enaknya.
Kemarin saat kerja, aku lupa bawa rokok. Kerja delapan jam tanpa udut benar-benar siksaan. Kalau diniati sih nggak apa. Karena aku pernah nggak merokok sehari. Meski gelisah tapi masih bisa aku atasi. Lha ini, tak terencana.
Gara-gara terlambat bangun dan tergesa-gesa berangkat, keliru kusahut bungkus rokok yang sudah habis, tak ada isinya alias kosong melompong. Tahunya ketika “break” habis makan, kuambil bungkus rokok dari saku celana. Pisuhku ndrindil ae ketika kubuka tak ada isinya. Masih nggak percaya. Semacam reflek aku kocak-kocak, aku rogohi pakai jari bungkus rokok itu dari sudut ke sudut. Tetep ae kothong isine. Aku clingukan, mataku jelalatan pingine nemu tegesane wong liyo sing sik dawa. Lumayan nggo nyambung nafas. Ora ana. Modar tenan. Menyesal sekali, kok tidak segera kubuang bungkus rokok kosong itu ke tempat sampah atau setidaknya aku untel-untel ben ora kliru karo sing sik wutuh.
Aku jadi teringat sama si Rahman, Prasojo, Sulis anak tetangga dekat kost-ku dulu saat kuliah. Mereka mau saja aku suruh untuk belikan rokok di warung pinggir jalan dekat kost dengan upah ala kadarnya. Baru kusadari kini, betapa berjasanya mereka itu buatku.
Toko yang jualan rokok tak ada yang dekat dengan tempat kerja. Jalan kaki pulang pergi perlu waktu sekitar 15 menit. Naik mobil bisa tambah lama, karena cari tempat parkir dan banyak jalan yang searah. Repot tenan. Aku termasuk orang yang sok suka disiplin. Kalau waktu “break” setengah jam ya setengah jam. Nggak pernah molor. Mau minta rokok sama teman sekerja, si perokok itu lagi nggak masuk kerja. Cuma segelintir orang perokok di tempat kerjaku. Salah sendiri, kenapa tak disiplin buang bungkus rokok kosong, nggak disiplin untuk bangun tepat waktu.
Di Sydney memang tidak semua warung boleh jualan rokok. Aturannya cukup keras. Kalau ijin bisnisnya jualan barang kelontong ya jualan barang kelontong. Kalau warungnya jualan nasi, ya jualan nasi. Kalau ijin bukanya dari jam 9 pagi hingga jam lima sore ya tidak boleh molor. Bisa kena sanksi kalau dilanggar. Didenda atau dicabut ijin bisnisnya. Tidak ada yang berani jualan rokok eceran di bawah meja. Kabeh disiplin. Aku sing kecut terus mbayangke ribuan warung kaki lima di tanah air.
Waktu liburan ke Newcastle, jalan tol sepanjang 171 km ya nggak ada lapak pinggir jalan. Padahal sepanjang jalur tol itu di pinggirnya banyak tanah kosong, luas dan datar. Kok nggak ada segelintir pun orang yang bukak lapak jualan degan, tahu taqwa, keripik, kacang, sega buntel kayak di tanah air. Apalagi warung kopi. Nggak ada. Jalan sepi dari lapak orang cari uang receh. Wong edan sing mlaku-mlaku siji wae yo ora ana. Kecut tenan.
Disiplin itu tidak enak. Enak sing isa sak karepe dewe. Sing isa sak kepenake dewe. Sing isa sak senenge dewe. Sing isa nggolek benere dewe. Budal mulih ora sah pamit. Pingin dolan ya mak blas dolan. Yen pingin dodolan yo dodolan. Mbuh apa sing didol. Pokokke dodolan.
Ketidak-teraturan itu kepenak. Banyak hal bisa dibengkak-bengkokkan. Tidak ada yang baku. Kalau ada pertanyaan juga gampang jawabnya karena nggak ada jawaban baku. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan. Kalau sudah dijawab nggak akan dikejar. Beres. Kalau dikejar, masih tersisa ribuan jawaban lainnya yang bisa dicomot dari ketidak-teraturan itu. Atau nggak usah dijawab. Didiamkan saja. Biar dicari sendiri jawabannya. Wong memang nggak ada aturannya. Bertanya pun jadinya percuma. Karena jawabannya pasti juga sekenanya.
Disiplin itu ketat aturannya. Melenceng dikit ketahuan. Menyimpang dikit jadi pertanyaan. Kalau ada pertanyaan dan asal dijawab pasti ketahuan belangnya. Karena jawaban yang asal-asalan itu gampang diraba. Pasti keluar dari pakem. Pokokke disiplin iku ora kepenak. Ora bebas blas. Aeng-aeng aturanne. Ora isa nggo slinthutan.
Karena kedisiplinan, aku jadi korban dari kedisiplinan itu. Cangkemku kecut sedino blek.***