herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Kampanye Hitam Bukan Hal Aneh dalam Budaya Ngerti Dewe

1 Comment

139961045293545873

Rambu lalu lintas seharusnya standard. (Foto: Herry B Sancoko)

Setiap pulang kampung dari Sydney selalu dihadapkan pada filosofi “Ngerti Dewe” dalam banyak hal di tanah air. Masyarakat diharap “Ngerti Dewe” bila berhadapan dalam hukum, sosial, dialektik kebenaran, mencari nafkah dan lain-lain. Budaya ngerti dewe sudah menjadi tatanan sosial yang sulit diurai dan dimengerti. Begitu banyak lobang perangkapnya. Terkesan terjadi banyak pembiaran karena sulit dicari kejelasan masalahnya.

Kadang saya bertanya, Indonesia ini ada apa tidak sih? Kok semua semaunya sendiri? Kok kelihatannya tidak ada orang peduli? Rasa hidup bersama yang dulu saya kenal semasa kecil hingga remaja itu ke mana perginya?

Pagi-pagi sudah menerima sms minta uang dikirim ke sebuah nomer rekening. Terus ada orang nelpon katanya ditangkap polisi dan minta bantuan uang. Bahkan sambil nangis-nangis. Begitu membuka internet, ada berita tentang penutupan tempat ibadah. Lalu mencoba membuka facebook, masalah SARA diupload terang-terangan. Tautan-tautan berita kampanye hitam nongol di sana-sini. Itu masih di facebook. Belum lagi membuka halaman-halaman berita lainnya. Berita “hoax” bertebaran. Situs-situs internet yang selintas cukup profesional tersebut ternyata menyebarkan berita yang menelan akal sehat mentah-mentah. Telpon genggam saya tak habis-habisnya menerima SMS yang isinya promosi dan hal-hal lain yang tidak saya butuhkan dan inginkan. Orang seenaknya mengganggu kehidupan pribadi orang lain tanpa ewuh pakewuh. Tanpa risih, sungkan atau takut.

Barangkali bagi banyak orang, apa yang saya alami itu sudah asam garam. Sudah biasa dan tidak mengganggu. Karena setiap hari dihadapkan pada hal-hal serupa selama puluhan tahun. Mereka sudah kebal dengan gangguan-gangguan itu. Sehingga mereka ngerti dewe karena belajar dari keadaan. Mereka sudah hapal mana-mana yang perlu diperhatikan dan mana-mana yang bisa dianggap angin lalu.

Ketika saya mengendarai mobil di seputar kota di mana saya tinggal, sering kebingungan dengan tanda lalu lintas yang sepertinya asal pasang dan tempel. Dengan ukuran kecil-kecil, perintah lalu lintas itu sulit dibedakan mana yang resmi buatan DLLAJR dan mana buatan warga setempat. Tulisan peringatan di jalan-jalan kampung tidak banyak bedanya dengan tulisan peringatan di jalan-jalan besar.

Ukuran papan peringatan “Hati-hati banyak anak kecil” hampir sama dengan ukuran “Belok kiri ikuti lampu”, “Belok Kiri Terus”, “Lurus Terus” dan lain-lain tanda peringatan lainnya. Corak papan peringatan lalu lintas “resmi” juga tidak beda banyak dengan corak tanda peringatan di jalan-jalan kampung. Belum lagi penunjuk arah jalan yang ukurannya begitu kecil dan baru terbaca ketika berjarak beberapa meter. Penunjuk jalan ini sering membuat saya kebablasan karena tak sempat melihatnya dari kejauhan.

Saya seperti diharap untuk ngerti dewe dalam mengenali tanda lalu lintas. Logika penempatan, corak, ukuran dan lain-lain bukan faktor utama. Orang diharap untuk bisa belajar sendiri lewat kesalahan. Hingga pada akhirnya bisa mengerti sendiri.

Seharusnya tanda-tanda lalu lintas yang berkekuatan hukum tersebut dibuat oleh lembaga resmi pemerintah dengan ukuran, corak, bahan dan bentuk standard agar bisa dibedakan dari tanda-tanda lain yang tidak punya kekuatan hukum. Hal tersebut amat penting bagi ketertiban dan kepastian hukumnya. Jika tanda lalu lintas ala kadarnya, tentu saja untuk patuh juga ala kadarnya. Mungkinkah sikap ala kadarnya itu disengaja untuk menjebak orang?

Dan ini terjadi pada saya ketika ternyata belok kiri dilarang saat lampu merah. Saya tidak sempat membaca batasan jam saat kendaraan boleh langsung belok kiri tanpa mengikuti lampu. Rambu larangan itu demikian kecil dan ditempatkan begitu rendah. Jika ada mobil di depan saya, maka rambu itu tidak akan kelihatan karena penglihatan terhalang mobil.

Mobil saya dihentikan polisi dan ditawari apa mau sidang di pengadilan bayar Rp. 700.000 atau sidang di tempat bayar Rp. 50.000? Tentu saja saya pilih sidang di tempat. Saya lihat banyak mobil kena tilang karena masalah rambu itu. Hampir bisa dipastikan, setiap hari ada mobil yang melanggar rambu itu. Tinggal menunggu tanggal tua saja ketika peraturan di rambu itu ditegakkan sanksinya. Kalau toh mau sidang di pengadilan, bagaimana cara dan prosedurnya tidak jelas. Untuk bisa ngerti dewe pasti menyita waktu cukup lama.

Ini sekedar ilustrasi sederhana tentang budaya ngerti dewe itu. Dalam kehidupan bernegara, kita juga dihadapkan banyak hal yang kita tidak tahu duduk masalahnya. Tidak ada ketegasan dan garis jelas sisi-sisi hukumnya. Sampai kemudian kita melakukan kesalahan dan dipaksa untuk belajar darinya. Belajar untuk ngerti dewe.

Membaca kampanye hitam yang ditujukan pada Jokowi, awal-awalnya saya sempat terkecoh. Tapi lama-lama saya jadi ngerti dewe. Hingga akhirnya saya jadi kebal dengan kampanye-kampanye hitam itu. Apa istimewanya Jokowi sehingga diperlukan kampanye hitam yang sifatnya masive itu? Apa yang akan mereka peroleh dengan usaha itu? Apakah dengan usaha kampanye hitam itu, Jokowi bisa disingkirkan dari capres? Jika Jokowi gagal capres, apakah mereka puas dengan pilihannya? Meski dengan menyiarkan berita bohong pada masyarakat begitu luas? Apakah efek dari kampanye hitam itu tidak dipikirkan? Efek boomerangnya? Bagaimana jika Jokowi berhasil menang dan jadi presiden? Apakah mereka akan menggerogoti presidennya dengan fitnah dan kebohongan? Atau malah jadi malik grembyang jadi penjilat lalu menyerang balik lainnya? Indonesia ini mau dibawa kemana? Mana karakter yang kita punyai sebagai bangsa beradab?

Yang menjadi pertanyaan adalah di mana negara Indonesia itu kini? Adakah negara itu? Kok orang bisa seenaknya sendiri bikin fitnah, berbohong terang-terangan bahkan menyebarkan kebencian lewat isu SARA tanpa dikenai sanksi hukum? Dimana kesadaran bahwa kita semua ini adalah senegara, setanah air dan sebangsa?*** (HBS)

Barangkali tertarik dengan tulisan serupa: Budaya Ngerti Dewe

One thought on “Kampanye Hitam Bukan Hal Aneh dalam Budaya Ngerti Dewe

  1. Pingback: Budaya Ngerti Dewe | herrybsancoko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s