herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Memusuhi Agama Itu yang Bagaimana?

Leave a comment

Definisi memusuhi agama itu yang gimana ya? Saya tak begitu paham tentang sikap yang dianggap memusuhi agama. Mungkin yang dimaksud bukan memusuhi agama tapi memusuhi lembaga atau individu yang mewakili agama? Memusuhi agama berarti dilakukan oleh agama lain? Atau memusuhi agama dari agama sejalan? Oleh individu seagama atau beda agama?

Agama kok dimusuhi? Yang dimusuhi apanya? Kalau yang dimusuhi orangnya atau lembaganya mungkin saja bisa. Tapi bukan memusuhi agamanya. Bisakah agama dimusuhi? Agama adalah masalah keyakinan. Agama adalah nilai-nilai. Masalah yang tidak kelihatan. Masalah nilai trancendental antara manusia dan tuhannya. Adakah ajaran agama yang buruk dan perlu dimusuhi?

Semua agama pastinya mengajarkan untuk berbuat kebaikan. Itulah fungsi utama agama. Jika orang berbuat jahat, bukan agamanya yang salah tapi orangnya. Kok dimusuhi agamanya? Ajaran baik kok dimusuhi? Apa ajaran baik itu dianggap ajaran buruk? Buruk dalam hal apanya? Hanya karena beda maka dianggap buruk? Jadinya yang begini ini diskusi masalah normatif dan bukan agama lagi. Ajaran-ajaran agama oleh pemeluknya diyakini diperintahkan oleh tuhannya. Apa hak manusia lain mencampuri perintah tuhan masing-masing pemeluk agama hanya karena beda agama, kepercayaan atau keyakinan?

Masalah agama adalah masalah yang mengatur hubungan manusia secara transendental (transcendence) dengan tuhannya masing-masing. Hubungan transendental ini hanya milik individu. Nilai agama terinternalisasi pada pribadi individu sejak usia belia. Maka masalah agama adalah masalah hubungan antara individu dan tuhannya. Hanya individu itu sendirilah yang tahu. Bisakah kita memusuhi hal-hal yang sifatnya transenden?

Agama hanyalah salah satu alat saja bagi individu untuk mencapai kedekatan dan pengalaman transendental. Pengalaman manusia untuk mencapai kedekatan nilai transendental bisa didapat dari banyak hal dan tidak harus lewat sistem kepercayaan yang terlembaga.

Seorang bisa saja nampak rajin, khusuk, taat, beriman dan sebagainya dalam hal agama yang diyakininya. Namun belum tentu semua itu mencerminkan nilai transendental sesungguhnya. Kita hanya melihat dari kulit luarnya. Bila menyangkut nilai transendental sesungguhnya, maka individu itu sendiri yang tahu. Sebab bisa saja ia hanya berpura-pura atau bisa juga ia tak peduli dengan penilaian orang lain. Karena ia lebih mementingkan dunia batinnya. Mementingkan hubungan dirinya dengan tuhannya daripada penilaian orang lain yang bisa saja tidak tepat.

Kadang kita mencoba mengimplementasikan nilai hubungan transendental pribadi itu pada orang lain. Seolah kita sendiri yang mengetahui bagaimana sebaiknya hubungan transendental itu dengan ukuran-ukuran, nilai-nilai dan pengalaman-pengalaman pribadi. Kita merasa lebih benar dan lebih baik daripada orang lain dalam masalah pemahaman nilai-nilai transenden. Kejiwaan mereka atau kepribadian orang lain dianggap tidak lebih baik dari kita sendiri.

Pemahaman transendental orang lain kita anggap kurang tepat atau salah. Kita pakai indikator pendidikan, status ekonomi, usia, tingkah laku sosial, ekspresi pribadi, afiliasi partai politiknya dan sebagainya sebagai ukuran nilai transendental mereka. Indikator-indikator tersebut bisa saja benar, tapi bisa menjebak dan salah kaprah.

Karena indikator itu hanya mengukur lapis luar dari pemahaman transendental sesungguhnya yang lebih subtil dan lebih cair. Kita telah menyederhanakan nilai transendental pada seorang pribadi. Nilai transendental telah kita personafikasikan. Jika nilai transendental telah dipersonafikasikan maka yang kita lihat adalah bentuk wadag, bentuk fisik, bentuk yang kelihatan yang mungkin bisa diukur. Nilai transendetal ditransformasikan menjadi sebuah obyek.

Kadang kita mempersonafikasikan nilai transendental pada diri sendiri. Karena kita mahluk sosial. Personafikasi nilai transendental mau tidak mau kita ekspresikan lewat tingkah laku sosial. Tapi nilai transendental terlalu rumit, abstrak dan cair untuk dipersonafikasikan lewat tingkah laku sosial. Apapun yang kita lakukan tidak bakal cukup untuk membuat nilai transendental itu teraba lewat tingkah laku sosial. Apa yang tersurat tidak selalu benar-benar mewakili apa yang tersirat.

Bahasa manusia punya keterbatasan. Nilai-nilai transendental pribadi tak bisa dikomunikasikan lewat bahasa dengan tepat, koheren dan komprehensif tanpa bias-bias interpretasi subyektif penerima. Setiap individu punya pengalaman pribadi transendental yang khas dan unik. Hanya individu itu sendirilah yang bisa memahaminya. Tidak mungkin bisa menyamakan nilai transendental satu manusia dengan lainnya. Mereka secara mendasar berbeda dan unik satu sama lainnya. Nilai transendental tidak bisa dipaksakan pada manusia lain. Dogma hanya sebatas pencerapan dan tidak akan secara langsung menambah atau merubah nilai transendental seorang individu. Tergantung keunikan pribadi individu masing-masing. Menyamakan nilai transendental pada semua orang adalah impian kosong.

Jika seorang individu punya kekentalan rasa transenden dengan tuhannya, maka tingkah lakunya akan mencerminkan sikap transenden itu. Sikap transenden yang penuh cinta kasih pada sesama, memperlakukan setiap individu sama dan setara, manusia dipandang sebagai mahluk hidup yang punya kepribadian dan keunikan khas, menghargai sesama manusia tanpa memandang kulit dan sistem kepercayaannya, menghargai nyawa manusia sebagai hak milik pribadi yang paling tinggi tak ternilai. Karena nyawa adalah hal milik paling dasar bagi manusia sebagai syarat untuk menemukan nilai transenden.

Nilai transenden adalah hak setiap pribadi. Setiap pribadi punya hak untuk mencari pengalaman dan kedekatan akan nilai transenden. Masing-masing pribadi berbeda dalam hal penghayatan nilai transendennya. Pribadi yang menghargai nilai-nilai baik secara universal itulah cermin kekentalan sikap transendennya paling tinggi yang mungkin bisa kita kenali pada diri seorang individu manusia. Tidak terkotak-kotak penilaiannya terbatas pada satu aliran, kepercayaan atau system nilai-nilai yang diyakini secara sepihak.

Manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang paling kesepian. Manusia lahir sendiri dan mati sendiri. Lewat cinta dan persahabatan seolah kita tidak sendiri. Namun begitu merasa tidak sendiri, manusia jadi congkak. Merasa paling penting, paling berharga, paling baik, paling dibutuhkan dan merasa berhak mengatur orang lain dan memperlakukan orang lain seperti obyek menurut kemauannya. Utopia dengan nilai transendental yang diyakini sendiri?

Manusia lupa bahwa apa yang membuatnya eksis dan berharga saat hidup di dunia adalah karena adanya manusia lain di sekitarnya yang mencintai dan memperlakukannya juga sebagai manusia. Tanpa pribadi lain di sekitarnya, manusia tak akan banyak nilainya. Sendiri, kesepian dan tidak punya arti. Manusia akan menyadari kecongkakannya ini saat mendekati mati.

Kematian akan dihadapi sendiri. Nilai transendental abadi akan dikunyahnya sendiri. Kematian adalah nilai kebenaran transendental yang sejati bagi seorang pribadi. Tak ada seorang manusiapun yang bisa mengelak atau minta dispensasi. Semua manusia akan mati dan membawa semua sistem nilai yang diyakini ke alam kesendirian yang sunyi. Menghadapi nilai kebenaran transenden yang diyakini seorang diri. Manusia lain hanya melihat dan kemudian berlalu pergi tak memikirkan lagi. Terbelenggu dan terpenjara oleh kulit diri sendiri. Terbawa kesadaran bahwa suatu saat iapun akan mati. Sendiri dan tak bisa kembali.

Lalu, apa perlunya memusuhi agama?*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s