herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Debat Mengasingkan Masyarakat

Leave a comment

Melihat debat presiden semalam, rasanya kok masih ada yang mengganjal. Tidak puas. Tidak seramai yang saya bayangkan bila kita lihat bersliwerannya puluhan kampanye hitam yang saling menghujat, menghina, merendahkan bahkan menelanjangi pribadi perseorangan. Mana jawaban atas semua itu?

Debat itu terasa datar dan amat sopan. Bahkan untuk tepuk tangan pun harus dipersilahkan. Namun memang ada juga letupan-letupan kecilnya. Ketika masalah HAM dicuatkan. Namun segera meredup oleh isu lainnya. Atau ditutup oleh Prabowo dengan ucapannya yang menggunakan penggada besar yakni “Tanya pada atasan” dan “Pentingnya pendidikan”. Sekali diayun, menyelesaikan banyak masalah.

Nampaknya elite politik kita masih suka menyembunyikan masalah sebenarnya dibawah tikar. Tidak mendiskusikannya secara terbuka sehingga rakyat bisa menilai dengan baik berdasar argumen yang dikemukakan. Debat berlangsung dalam bingkai struktur yang tertata. Dengan struktur ketat begitu, sebenarnya bukan sebuah debat yang kita dapat, tapi omongan bisik-bisik di atas bantal sebelum tidur.

Karena menuruti struktur yang digiring untuk menemuhi tata cara kesopanan, tidak heran kemudian yang dinilai oleh beberapa kalangan adalah tidak jauhnya penilaian dari ukuran-ukuran psikologi kesopanan ini. Ekspresi tubuh, muka, gesture tubuh, tekanan suara, dan lain-lain hal yang nampak dan bukan substansi debatnya. Karena substansi debat tidak mengurai hal-hal yang mendasar dan menjadi isu-isu yang beredar di masyarakat.  Masyarakat tetap dibiarkan berada di pihak luar. Dianggap tidak perlu tahu atau diharap untuk mengerti sendiri atau disarankan untuk mencari jawab sendiri.

Secara umum, dari debat tersebut bisa saya tarik dua kesimpulan utama. Mungkin saja penilaian saya ini salah. Gambaran umum pertama yang saya dapat dari debat tersebut adalah terwakilinya dua budaya politik. Budaya politik gaya lama dan budaya politik yang mewakili kebaruan.  Gambaran umum kedua adalah, dua kubu tersebut mewakili dua cara pikir. Yang satu cara pikir praktis dan cara pikir konseptual.

Budaya politik gaya lama sering mengarahkan jawaban pada aturan-aturan, norma-norma, moralitas umum, filosofi, dasar negara, kaedah-kaedah umum dan sebagainya yang bersifat multi interpretasi. Sementara budaya politik yang menawarkan kebaruan, sering mereferensi hal-hal kekinian untuk memberi jawaban yang cukup faktual.

Cara berpikir praktis mungkin didasarkan pada pengalaman-pengalaman praktis dan menawarkan penyelesaian masalah secara cara pikir linear praktis. Untuk mengurangi korupsi, gaji dinaikkan untuk mengurangi godaan korupsi. Pelanggaran HAM karena kurangnya pendidikan tentang kesadaran tentang HAM dan seterusnya. Ini beberapa contoh saja dari cara pikir praktis. Cara pikir praktis sering tidak memakai atau jauh dari landasan teori-teori keilmuan. Karena teori keilmuan kadang jauh dari kenyataan. Sebuah kenyataan amat sulit dinilai dari pandangan sekedar berteori. Cara pikir praktis kurang melihat masalah secara multidimensi lain yang mungkin tak secara langsung mempengaruhi sebuah kenyataan namun cukup relevan.

Sedangkan cara pikir konseptual, setiap masalah dinilai secara mendasar berdasar teori ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan. Meski tidak ketat disiplin keilmuannya, namun bisa ditarik benang merah nyawa akademisnya. Mungkin saja jawaban atas sebuah kenyataan nampak dinilai tidak memberi jawaban langsung, namun secara konseptual akan menjawab masalah serupa dalam jangka panjang secara mendasar.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s