herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Suara Tanpa Arti Kuberi Buat Jokowi

Leave a comment

SUDAH puluhan tahun saya golput. Toh, suara yang saya berikan kurasa tak akan banyak gunanya. Apalah arti satu suara dariku di antara jutaan suara lain? Suaraku tak menentukan apa-apa. Itulah alasan utamanya. Dan ini terbukti. Tahun demi tahun berikutnya hingga 30 tahun, presidennya satu itu dan sama orangnya. Apa saya bisa yakin bahwa suara saya akan merubah keadaan? Tidak ada yang bisa mengubah pendirian saya untuk golput.

Ketika Orde baru tumbang dan diganti oleh masa reformasi, aku makin mantap untuk golput. Pada era reformasi terjadi empat kali pergantian presiden selama 15 tahun. Dua kali lipat jumlah presidennya dari masa sebelumnya. Pergantian presiden awalnya penuh keributan. Dua pemilu terakhir presidennya sama orangnya. Dan keadaan tak berubah. Malah nampak makin memburuk dengan menjamurnya kasus korupsi bahkan terang-terangan dan besar-besaran. Masih tak ada yang bisa meyakinkan saya bahwa suara saya bakal merubah keadaan. Saya tetap golput. Dan golput membuat hati tenang. Tidak stress. Hidup dijalani apa adanya. Ikut atau tidak untuk nyoblos, keadaan sama saja. Enakan golput. Tidak repot. Biar orang lain saja yang ribut. Aku bukan bagian dari mereka.

Tahun 2014 ini terjadi pemilihan presiden yang ke tujuh. Saya masih ragu-ragu untuk berubah pendirian. Belum ada yang bisa meyakinkan bahwa keadaan bakal berubah. Pemilihan presiden dari presiden berikutnya selama 45 tahun belakangan hasilnya sama saja. Apa yang bakal membedakan dengan tahun ini? Persetan dengan pemilihan presiden atau pemilihan legislatif. Tak akan merubah keadaanku. Senang atau tidak dengan hasil pemilu, keadaanku tak akan berubah. Kalau presiden pilihanku menang, apa ia akan datang ke rumah dan bilang terimakasih padaku? Dan kasih hadiah, ngajak ngopi bareng, ngobrol panjang lebar tentang kemenangannya sambil makan nasi pecel? Atau mengaspal jalan desaku? Omong kosong.

Kalau pilihanku kalah dan yang bukan pilihanku menjadi pemenang, apakah akan memperburuk keadaanku? Apakah yang kalah akan tetap memperjuangkan apa yang diniati untuk diperjuangkan saat kampanye? Saya kira semuanya akan sama. Setali tiga uang. Tak ada yang bisa merubah. Kemauan politik pemerintah untuk merubah keadaan sangat kecil. Semua berkutat pada hal-hal sama. Begitu terpilih, menjalani pekerjaannya sebagaimana biasa. Kadang omong sana-sini, rapat sana-sini, kunjungan sana-sini, membangun itu ini agar rakyat senang dan ia nampak bekerja keras. Biar rakyat menikmati bulan madu atas pilihannya. Lalu selebihnya ongkang-ongkang menikmati fasilitas dan memperkaya keluarganya. Jangan harap si pemenang akan bagi-bagi duwit atau rame-rame mengangkat rakyat banyak dari kemiskinan. Omong kosong.

Yu Parmi akan tetap jualan sayur. Pak Min Dogol akan tetap mengangkut sampah para tetangga di desa. Pak Kliwon tetap akan menggenjot becaknya hingga petang. Si Panjul sepulang sekolah akan tetap pergi mencari rumput untuk makan kambing-kambingnya. Mbah Marto akan tetap nggak bisa jalan entah untuk berapa lama lagi karena bubul yang terus tumbuh di kakinya.

Persetan dengan pemilu. Kejadian yang bikin hubungan tak enak antar tetangga dan teman. Peristiwa yang bikin berisik dan tak nyaman. Gembar-gembor tak ada habisnya. Seolah hidup cuma untuk satu tujuan. Menangkan jagonya. Kalau bisa, kalahkan dengan telak. Kalau perlu yang kalah diinjak-injak dan diludahi sekalian biar rame dan marem. Biar kemenangan bisa setinggi mungkin bisa dinikmati. Puncak kepuasan bisa dijilati hingga ludas dan kering.

Sejak dulu, hidup kujalani dengan datar saja. Apa adanya kuterima. Nrimo ing pandum. Berambisi jadi orang kaya atau pejabat kadang melintas juga. Tapi ambisi itu reda dengan sendirinya bersama jalannya waktu dan terbatasnya kesempatan. Aku tak punya saudara yang jadi pejabat, punya pengaruh atau punya kedudukan penting. Lewat perjuangan keras dan pendidikan tinggi, akhirnya kusadari bahwa ambisiku itu impian kosong. Usaha keras dan dedikasi tanpa koneksi hanya akan melelahkan diri. Terlalu menguras emosi memahami keadaan yang tidak bisa dimengerti. Apa itu demokrasi? Kesamaan hak dan kesempatan. Tanpa koneksi? Bullshit!

Bagi rakyat biasa tanpa koneksi dan family, jalan hidup harus dicari sendiri. Mencari celah-celah kesempatan yang tersisa dan yang jadi perebutan orang-orang senasib. Tidak ada anugerah. Tidak ada uluran tangan. Nasib baik harus diperjuangkan. Tidak ada leha-leha, thenguk-thenguk nemu gethuk. Tidak ada jalan yang dibukakan. Jalan harus diciptakan. Tidak bisa hanya dengan minta.

Bagi orang lain, naik tangga merupakan pekerjaan biasa. Bagiku rakyat biasa, harus berpikir keras bagaimana agar tidak jatuh. Berhati-hati mulai saat langkah kaki pertama diayunkan bahkan ketika masih dalam pikiran. Kekritisan harus dibuka. Mengamati segala kemungkinan yang ada. Perjuangan tidak tanpa mata. Sekali lena, tertimbun injakan beribu kaki lainnya yang merangsak mau menggantikan.

Tidak ada prestasi secuilpun yang dicapai tanpa perjuangan. Berpeluh keringat. Setiap kenikmatan adalah hasil dari usaha keringat yang jatuh tak percuma. Setitik kenikmatan adalah hasil setitik keringat yang diteteskan. Setiap kenikmatan adalah rasa syukur yang tertempa keras dan padat.

Dalam pilpres kali ini sedikit banyak kulihat potret diri pada Jokowi. Prestasi dicapai karena usaha diri tanpa koneksi. Kau buktikan bahwa kemampuan diri bisa mengantar pada puncak prestasi. Mulai hidup dari pinggir kali dan digusur oleh persaingan tanpa henti. Kau tapaki prestasi dengan hati-hati dan selalu mawas diri.

Kau hargai kompetensi, aspirasi, dedikasi diri tanpa koneksi atau basa-basi. Kau membuka jalan bagi orang lain yang mau bekerja keras secara terbuka tanpa upeti. Kau nilai orang berdasar prestasi. Bukan karena penampakan diri dan pandai menjilat ludah sendiri.

Akankah kuberikan suaraku yang mungkin tanpa arti ini?

Suaraku tak akan membantumu memperoleh kesempatan lebih baik dan kemenangan diri. Aku sadar suaraku hanya setitik tanpa arti. Maka suaraku akan kuberikan sepenuh hati. Aku akan mencobanya untuk memberi arti. Karena begitu kecilnya, nilainya amat tinggi bagi diri.

Aku tidak peduli apakah nanti kau bisa rubah keadaan menjadi lebih baik menuju Indonesia mandiri, berdikari dan berjati diri. Aku hanya tahu bahwa kini ada orang yang mewakili dan pantas kuberi. Aku merasa dekat dan terwakili. Tidak membuatkku takut untuk menyapa dan mengajakmu ngomong dari hati ke hati.

Aku yakin kau mengerti keputusanku ini. Aku yakin akan kau hargai. Karena kau juga pernah menjadi orang tanpa arti. Hidup di pinggir kali, jauh dari kekuasan, miskin materi dan koneksi. Prestasi hidup dan anugerah adalah hasil dari usaha tempaan diri. Jatuh bangun lagi. Hancur bangun lagi. Digembleng tanpa henti. Kau pasti tak sia-siakan kesempatan untuk membangun negeri. Karena kuyakin kau tahu betul bagaimana rasanya hidup tanpa peranan berarti di negeri sendiri.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s