herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Jokowi, New Kid on the Block

Leave a comment

BAGI penulis, Jokowi itu new kid on the block. Kenapa? Karena ia jauh dari kekuasaan selama ini. Tapi kariernya dalam politik melejit luar biasa pesat. Tidak tanggung-tanggung hanya dalam beberapa tahun Jokowi bisa langsung menuju puncak kekuasaan. Sebuah fenomena cukup aneh. Orang jauh dari kekuasaan kok bisa melejit kariernya begitu cepat? Ada apa? Inilah pertanyaan yang sering diajukan karena terasa ganjil. Kita kenal selama ini adalah kemapanan sebuah budaya birokrasi dan politik. Orang bisa berkarier hingga puncak – apalagi sampai di Jakarta, tidak mudah dan tidak semua orang bisa kecuali dekat dengan kekuasaan.

Kita lihat balik selama hampir 4,5 dekade kemarin. Presiden, para menteri, MPR dan jabatan bergengsi lain banyak yang punya hubungan kedekatan. Bahkan ada pertalian kekeluargaan. Anaknya, mertuanya, besannya, adik iparnya, keponakannya dan seterusnya. Posisi-posisi penting dijabat oleh orang-orang yang punya hubungan keluarga. Kalau sudah punya hubungan – keluarga atau kenalan, karier bisa naik begitu cepat. Banyak orang tidak ambil pusing atau berani mempertanyakan. Karena jawabannya sudah diketahui, yakni karena adanya kedekatan dengan kekuasaan. Dalam hanya beberapa tahun naik pangkat jabatannya menyalip lain-lainnya. Sementara yang lain dalam lima tahun sekalipun belum bisa naik pangkat. Itulah kewajaran yang selama ini masuk bawah sadar kita. Dan banyak orang ingin berdekat-dekat dengan kekuasaan. Karena di situlah kariernya bergantung. Itulah jalan utamanya, kecuali prestasi pribadinya benar-benar cemerlang.

Pada jaman orba, karier lain yang menjanjikan adalah di bidang kemiliteran. Pejabat mulai dari gubernur hingga lurah, bahkan RT hampir secara mayoritas diduduki oleh orang-orang yang pernah bersinggungan dengan militer. Pada saat kaum sipil belum tinggi kesadarannya dalam berorganisasi, penempatan militer pada posisi-posisi birokrasi memang efektif. Karena kedisiplinan ala militerlah yang bisa menjamin perintah dari hierarki teratas bisa mengalir hingga akar rumput paling bawah. Jika punya hubungan kekeluargaan, karier di militer jauh lebih menjanjikan karena bisa menduduki posisi baik di bidang militer maupun di lembaga-lembaga sipil bila sudah pensiun atau tidak aktif lagi di militer.

Hubungan kekeluargaan itu bisa dikatakan hampir merata di pemerintahan di seluruh Indonesia. Mulai dari presiden, gubernur, wali kota dan bupati. Lihat saja kasus Ratu Atut. Hampir semua keluarganya ada di pemerintahan. Kalau saja ia tidak terlalu serakah, mungkin banyak orang yang tidak akan peduli. Sudah dianggap kewajaran. Kalau keluarganya atau orang yang dekat dengan Walikota pasti kaya dan terhormat. Jadi pejabat. Seolah kedudukan sebagai pejabat itu hanya milik keturunan.

Jokowi lahir sekitar tahun 60an. Jadi dari kecil hingga menjelang umur setengah tua, ia hanya kenal satu presiden. Ia tidak berkarier di politik atau di birokrasi, tapi sebagai pedagang. Sebuah profesi yang relatif jauh dari kekuasaan. Sudah jamak lumrah, untuk suksesnya urusan dagang harus dekat dengan kekuasaan agar usaha dagangnya lancar. Dan ini tidak gratis. Pasti perlu bayar upeti untuk ijin, relasi, rekomendasi, kredibilitas, fasilitas dan kemudahan lainnya. Tidak banyak pedagang yang bisa mengelak dari fenomena ini.

Jokowi juga bukan dari keluarga militer. Saat kecil Jokowi bahkan tinggal di rumah pinggir kali. Sebuah tempat yang oleh orang akademik dan kaum birokrat disebutnya sebagai kawasan kumuh. Tempat tinggal bagi masyarakat yang terpinggirkan.

Karier politik Jokowi tidak panjang. Bahkan ia mengaku tidak tahu politik. Apa yang dia lakukan adalah pendekatan yang berbeda dengan budaya birokrasi dan politik yang telah menguasai Indonesia beberapa dekade belakangan hingga saat ini.

Blusukan

Salah satu metode pendekatan yang dikenalkan Jokowi sebagai pejabat adalah dengan apa yang dikenal sebagai fenomena blusukan. Fenomena yang oleh beberapa kalangan dianggapnya sebagai pencitraan. Dianggap pencitraan mungkin karena terbiasa pada budaya birokrasi, bahwa pejabat tak pantas untuk blusukan.

Dalam fenomena blusukan yang nampak sederhana itu sebenarnya banyak aspek dan konsep yang terkandung di dalamnya. Kontrol managemen, kontrol lapangan, kontrol komando, tinjauan masalah nyata, transparansi, respons feedback langsung, komunikasi tatap muka, perencanaan lapangan, negoisasi, rembugan dan sebagainya yang mengacu pada efisiensi dan efektivitas birokrasi modern dan bukan pendekatan paternalistik yang sering dilakukan oleh pejabat pada umumnya selama ini.

Mungkin oleh kalangan yang tidak begitu mengenal budaya Jawa, arti blusukan disalah-mengertikan dengan peninjauan. Pada jaman orba, pejabat sering melakukan peninjauan sebuah proyek kemudian dilanjutkan dengan upacara peresmian pengguntingan pita. Itulah fenomena umum pejabat kita yang selama beberapa dekade kita kenal.

Peninjauan hanya mengarah pada satu daerah, kawasan, proyek atau sasaran. Jalan yang dilewati lurus dan yang hanya mengarah ke arah yang jadi obyek peninjauan. Dilakukan dengan sopan, dipersiapkan jalannya, upacara penyambutannya dan dipilih siapa-siapa yang pantas menemani pejabat.

Lain dengan blusukan. Meski tujuan utamanya bisa sama, yakni ke satu daerah, kawasan atau proyek tapi jalan yang dilalui tidak sama. Jalan yang dilalui saat blusukan kadang merambah pada tempat-tempat yang seharusnya tidak dilalui atau dimasuki. Karena bisa bikin malu dan terkesan tidak sopan. Blusukan bisa juga memasuki daerah tertentu tanpa ijin. Bludas-bludus tanpa kulonuwun. Jadi jalan yang dilalui oleh pelaku blusukan tidak bisa diduga. Itulah blusukan.

Beberapa pejabat mengaku sudah puluhan tahun melakukan blusukan tapi tak diliput media. Begitu Jokowi melakukan blusukan dan diliput media secara luas dianggapnya sebagai akal-akalan untuk menggaet kedudukan lewat pencitraan. Kalangan pejabat inilah yang tidak tahu apa arti sebenarnya kata blusukan itu. Apa yang dilakukan sebenarnya bukan blusukan, tapi lebih tepat disebut peninjauan bahkan mungkin sekedar kunjungan.

Pendatang Baru

Fenomena Jokowi mengundang arus perhatian banyak kalangan tanpa bisa dibendung. Hal yang sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh pejabat selayaknya sebagai pengemban amanah rakyat, ternyata mengundang kontroversi. Fenomena Jokowi melenceng dari pakem para pejabat selama ini kita kenal. Masuk gorong-gorong, makan bersama dengan rakyat pinggir kali, bersentuhan dengan rakyat miskin, makan di warung kaki lima, ngobrol bersama rakyat kecil sambil duduk-duduk di bangku pinggir pasar dan lain-lainnya. Itu hanya sebagian kecil contoh fenomena yang dibawa Jokowi.

Fenomena yang dibawa Jokowi adalah fenomena baru dalam budaya birokrasi dan politik kita saat ini. Fenomena yang sebenarnya telah lama diharapkan oleh rakyat. Fenomena yang selama ini terpendam dalam bawah sadar karena budaya birokrasi dan politik paternalistik yang telah berlangsung beberapa dekade. Fenomena yang secara tiba-tiba mengangkat status masyarakat kecil yang selama ini terasing dari sentuhan birokrasi kepemerintahan. Rakyat kecil baru kali ini tiba-tiba merasa punya arti dan dihargai hak dan suaranya.

14022067582002985457

Slogan kampanye kreatif di media sosial facebook.

Barangkali itulah sebabnya Jokowi menang di Solo dan di DKI Jakarta tanpa usaha relatif keras. Dan barangkali pula oleh sebab sama, Jokowi memberanikan diri menerima perintah organisasinya untuk dicalonkan sebagai presiden.

Kecepatan karier Jokowi ternyata mengundang tanya banyak kalangan. Maka lahirlah teori-teori tentang karier politik Jokowi yang bernada negatif. Hal itu masuk akal karena memang terasa tidak wajar. Benar-benar melawan pakem budaya birokrasi dan politik selama ini. Dimanapun, pendatang baru yang membawa perubahan tatanan selalu dianggap sebagai ancaman dan lalu jadi cibiran.

Kesanggupan Jokowi untuk menuju ke posisi presiden sudah tak terbendung lagi. Meski ia baru beberapa tahun menekuni politik, Jokowi yakin saja untuk bergerak. Jokowi sebagai new kid on the block begitu percaya diri untuk berlaga melawan arus. Pengalamannya sebagai pemenang pemilihan walikota dan gubernur telah memberinya pelajaran dan semangat juang.

Sepertinya Jokowi tidak peduli dengan derasnya kritik, hujatan, cibiran dan pandangan-pandangan negatif lainnya. Jokowi hanya berpedoman pada satu sikap yang ia percaya bakal menuai sukses, yakni ia akan bekerja keras. Kerja dan kerja. Jokowi yakin bahwa untuk meraih sukses banyak jalannya. Salah satunya adalah dengan bekerja keras. Tidak hanya lewat kenalan, kekeluargaan, lobbying atau bagi-bagi proyek.

Dengan bekal blusukan dan kerja kerasnya, Jokowi melenggang berkampanye menawarkan diri pada rakyat untuk menjadi pemimpin mereka. Dan Jokowi sepertinya merasa pasti bakal sukses hanya dengan berbekal apa yang dipunyainya itu. Pengalamannya selama ini telah membuktikannya. Untuk mau bekerja keras ia merasa tidak punya banyak saingan.*** (HBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s