herrybsancoko

Kumpulan tulisan

Neror atau Ngeden-ngedeni

Leave a comment

Bloodbath DT 15Jan16

Ditanggapi serius? Beritanya dimuat di halaman depan, halaman 2 & 3.

Koran di Australia menanggapinya dengan serius. Tindakan terorisme itu dimuat di headline halaman depan. Tapi beda dengan yang terjadi di tanah air. Kok banyak yang menanggapinya dengan guyonan lucu-lucu dan konyol? Barangkali masyarakat kita menangkap ada kesalahan logika dalam aksi teror yang terjadi di Jakarta kemarin. Dan hanya orang Indonesia sendiri yang tahu persis letak kesalahan logika itu di mana. Logika khas orang Indonesia. Wong landa ora mudeng.

Seorang teman Australia (orang bule) mengomentari foto teroris – yang mengacung-acungkan pistol di hadapan banyak orang, di halaman surat kabar Sydney, The Daily Telegraph, begini: “Kalau ada orang kayak gini di Amerika, sudah selusin peluru bersarang di tubuhnya. Kalau di Australia begitu mengeluarkan senjata sudah sebutir peluru nyasar ke tubuhnya,” katanya.

Di tanah air, malah jadi tontonan. Bahkan beberapa polisi yang ada di tempat kejadian juga ikut jadi penonton.

Pada hari kejadian, surat kabar itu secara serius meliput beritanya (The Daily Telegraph 15Jan16). Di muat di halaman depan lalu disambung dengan halaman 2 dan 3. Subheadernya, terorisme ala Perancis. Tapi pada terbitan berikutnya, ditulis bahwa teroris itu tidak profesional (The Daily Telegraph, 16Jan16). Nampak dalam foto dua orang polisi ditembaki pelaku teror di hadapan begitu banyak orang bahkan ada beberapa polisi di situ.

homegrown DT 16Jan16

Tidak profesional.  Hasil kerja keras polisi dalam mencokok dedengkotnya.

Kenapa teroris itu tidak profesional? Koran ini memuji kerja intelejen polisi Indonesia yang hebat. Karena kerja keras intelejen, teroris amatiran itu tidak punya kontak dengan dedengkot teroris sebenarnya. Para dedengkot teroris profesional dan berkaliber internasional sudah dicohok atau dibatasi ruang geraknya lebih dulu oleh aparat intelejen. Tinggalah para teroris amatiran yang tidak punya petunjuk optimal dalam beroperasi atau mengeksekusi rencana teror mereka.

Ketidak-profesionalan para teroris itu oleh media barat tidak serta merta jadi bahan lelucon. Dianalisa dan dicari alasannya. Lain dengan yang terjadi di tanah air, mereka jadi banyolan-banyolan kreatif dan kadang terkesan konyol.

Sebentar lagi akan muncul definisi “Teror” di kitab gaul yang bakal diartikan secara nyleneh. Seperti kata fadli zon atau jonru yang diartikan macam-macam (lihat situs kitabgaul di https://kitabgaul.com).

“Kamu jangan suka bikin teror orangtua,” begitu kata seorang bapak pada anaknya yang terlambat pulang sekolah. Maksudnya bikin cemas orangtua.

“Sega pecele Yu Gebrot benar-benar bikin teror.” Arti teror adalah jos gandhos atau mak nyos.

“Ma, terorin gua dong,” kata suami pada isterinya. Maksudnya nyuruh si isteri berpakaian seksi supaya si suami deg-degan, kemot-kemot jantungnya dan koplok dengkulnya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s